Berpakaian Sopan atau Berkelakuan Sopan?

Browse By

“Maaf, Mas. Dilarang masuk ke sini kalau pakaiannya tidak sopan,” kata seorang satpam di bagian depan GAP, seraya menghadang seorang mahasiswa yang hendak masuk untuk mengambil tagihan pembayaran. “Saya sopan kok, Pak!” bela mahasiswa tersebut. “Maaf, Mas. Kalau pakai celana pendek tetap tidak diperbolehkan.”

Keesokan harinya, wartawan Scientiarum (SA) menyamar untuk memasuki area GAP dengan menggunakan celana pendek. Kebetulan ingin mengambil tagihan yang sempat tertunda kemarin. Tetapi SA memasuki GAP melewati pintu belakang yang tidak dijaga ketat. Hanya saja, ketika keluar SA melewati pos satpam yang terletak di pintu depan GAP. Seorang satpam langsung menghampiri. “Mas, kan sudah diingatkan. Kalau masuk sini tidak boleh bercelana pendek.” SA kemudian langsung menjawab, “Saya mau keluar kok, Pak. Tadi habis ambil tagihan.” Walaupun sempat sedikit terjadi adu argumen, satpam akhirnya memperlihatkan nota dinas yang dikeluarkan oleh WR III mengenai peraturan tersebut.

Sempat terpikir membayangkan Mahatma Gandhi pasti diusir dari kantor GAP karena pakaiannya tidak memenuhi norma-norma yang berlaku di lingkungan UKSW. Tapi mungkin analogi tersebut terlalu jauh bagi orang-orang yang pikirannya berorientasi pada norma-norma.

Mungkin mayoritas mahasiswa di kampus ini memakai celana panjang. Memang celana pendek hanya minoritas, dan masih seperti “lagu lama” mayoritas pasti menang, minoritas pasti kalah. Dan itulah kehebatan si mayoritas, kehebatan “creative majority,” bukan lagi “creative minority.”

Berbekal pengalaman di atas, SA mencoba mewawancarai WR III, Umbu Rauta, perihal peraturan yang dibuatnya tersebut. Dengan sambutan hangat namun tatapan sinis (karena salah satu dari wartawan SA masih tetap memakai celana pendek), SA akhirnya berhasil mewawancarai WR III.

Menurut WR III, diberlakukannya area berpakaian rapi dan sopan ketika masuk di GAP adalah bahwa UKSW berusaha memberikan pelajaran yang bersifat komprehensif, artinya selain mendidik mahasiswa dari sisi kognitif, maka pendidikan di bidang afektif juga mutlak diberikan UKSW selaku lembaga pendidikan, yang nantinya akan menciptakan profil lulusan yang selain cerdas juga berakhlak baik. Himbauan tentang berpakaian bebas tapi rapi dan sopan ini diberlakukan sesuai dengan KUKM dan Statuta yang ada di lingkungan UKSW, jadi bukan mengikuti tren yang saat ini berkembang, seperti di salah satu PTS di Semarang yang juga melarang mahasiswanya berpakaian jins.

Dalam masalah kerapian dan kesopanan, Umbu mengungkapkan standar yang dipakai adalah norma yang ada di masyarakat. “Sebagai misal, ketika kita masuk ke kampus untuk belajar, apa ya mungkin akan kita samakan ketika kita akan masuk ke kamar tidur? Wong anak SMA saja tau kalo mereka akan berangkat sekolah mereka juga memakai celana panjang,” tuturnya.

Umbu juga menjelaskan bahwa sampai saat ini, dalam menegakkan himbauan ini, pihaknya dibantu oleh seksi K3 (satpam — Red) dalam membantu memperingatkan bila ada pihak mahasiswa yang kurang rapi ketika masuk ke GAP. Dia menjelaskan, “Jadi pendekatan yang kami gunakan adalah pendekatan yang sifatnya persuasif. Kami hanya akan menegur saja, tidak akan mengusir atau bahkan memberikan sanksi.” Himbauan ini sementara hanya berlaku di GAP. Namun tidak menutup kemungkinan akan dilaksanakan juga di kantor-kantor fakultas, bahkan di ruang kuliah. Jadi bagi mahasiswa, siap-siap saja mengeluarkan uang tambahan untuk membeli celana panjang untuk dapat berkuliah di UKSW.

Laporan ini dikerjakan bersama Wawan H. Suyatmiko.

15 thoughts on “Berpakaian Sopan atau Berkelakuan Sopan?”

  1. STR says:

    Maunyo apo??? Akhlak dinilai dari pakaian??? Huh!!!

  2. People shit says:

    Duit uda abis buat bayar kuliah yg ‘murah’ bgt
    Jadi g bs bli celana panjang n sandal or spatu yg bagus,jdna brgkt kuliah seadanya bos

  3. Wirobumi says:

    Perubahan yg bagus kok dicela. Coba yg pada komentar itu jalan2 ke kampus negeri yg bonafit semisal ITB apa UI. Mana ada liat sendal jepit celana pendek ke kelas apa atau ke kantor adminstrasi. Ini namanya mental profesional, membentuk sikap disiplin. Pakaian rapi gak harus BAGUS, gak harus MAHAL.

  4. meQ says:

    @wirobumi : Apakah hal tersebut bisa dikategorikan idkatir perubahan bagus? itu gedung-gedung di jakarta juga bagus-bagus? tapi apa iya jakarta sebagus gedung-gedung nya?
    apakah tampilan luar sepenting itu? apakah itu bisa dijadikan indikator sebuah profesionalitas? buat saya pandangan anda terlalu sempit. lihat dunia lebih luas mas wirobumi..

    peubahan yang ke arah yang lebih baik itu tidak bisa dilihat dari apa yang kita kenakan…

    meQ
    piss without pistol

  5. andre says:

    Mas2e saat kita liat orang pasti yang pertama adalah pakaian kan bukan yang laen. Nah ada baeknya kita berkelakuan sopan, bukan berarti yang celana pendek trus ugal2 n gak tau norma. bukan gitu, tapi UKSW kan juga menyiapkan temen2 yang nantinya bisa diterima dimasyarakat gtu. yaa kalo diluar GAP masih gak papa lah pake celana pendek,aku aja juga pake koq kalo kul tapi kadang2. Kita sebagai anak2 berpendidikan paling tidak tau lah untuk menempatkan diri gitu…GBU All

  6. Edhi says:

    Wah… gak ada matinya masalah pakaian ini… sudah lebih dari 15 tahun sejak sandal jepit di usir dari lt.5 gedung F, kok ya sampai sekarang masih saja jadi persoalan… Apa nggak ada masalah lain yang lebih penting ?? Jadi ingat penampilan pak WR III sewaktu jadi mahasiswa… waktu keluar aturan di Lt.5, beliau di Lt.IV pro sendal jepit apa sepatu ya ??
    Anyway, salut buat scientiarum, tetap semangat sebagai media kampus yang kritis & independent.

  7. john iskandar says:

    mas….mas……… namanya juga kampus dagelan, yang dipimpin oleh rektor petruk, wr 1 gareng, wr 2 bagong, wr 3 joko parkiran, dan wr 4 ucup sanusi

  8. meQ says:

    @ Andre : Kalau anada masih menilai orang pertama kali dari pakaian..anda masih harus banyak belajar mengenai menilai orang. Menilai orang ya seharusnya dari pemikirannya, bukan pakaiannya. Lagipula apa bedanya memakai celana pendek di dalam GAP atau diluar GAP. Apakah di GAP itu tempat istana para raja penguasa??

  9. wit says:

    jadi ingat sama Ki Ageng Suryomentaram, yang “kesukaannya” memakai celana pendek, bahkan tidak berbaju, berkalung sarung.
    sewaktu menghadap Presiden Soekarno, di Istana Merdeka, juga tetap bercelana pendek.

    Prinsip dia, manusia dihargai karena esensi kemanusiaannya, bukan karena atribut yang melekat padanya (gelar, jabatan, dll., juga pakaian adalah atribut),
    namun sekarang, pandangan mayoritas: atribut lebih penting dari pada esensi, sampai-sampai pedagang keliling-pun di-harus-kan pakai dasi.

    tetapi seperti pepatah Jawa supaya kita bisa “empan papan”, nampaknya kita juga perlu menghargai/menurut pada “aturan”, sekalipun aturan itu kadang “wagu”.

    (jadi ingat stiker2 yang ditempel di gedun-gedung UKSW “orang beriman taat aturan” — saya bergumam dalam hati “ya tergantung aturan siapa dulu” — jika saya beriman kepada Tuhan, nggak mau dong taat aturan yang tidak selaras dengan kehendak Tuhan.)

  10. Edhi says:

    Mas Wit, bertahun2 tidak ketemu, terasa sampeyan lebih bijak dengan ujawan2 yang menyejukkan hati… :)) Saya jadi ingat cerita orang bijak yang di sampaikan Anthony de Mello yg kira2 begini :

    Seorang pertapa mendapat wangsit bahwa air sungai di mana dia tinggal telah tercemar, dan barangsiapa minum air dari sungai itu akan menjadi gila. Karena mempercayai wangsit itu, sang pertapa mengungsi ke sebuah gunung yang tinggi dan dia hanya minum dari mata air di gunung itu.
    Seminggu berlalu sang pertapa turun, dan mendapati semua orang di desanya telah menjadi gila. Sebagai satu2nya orang yang waras sang pertapa ingin menyadarkan orang2 di dea itu, tapi justru sang pertapa itulah yang di anggap gila oleh orang banyak. akhirnya setelah mencoba berhari-hari tiada hasil, dan karena rasa sedihnya tak punya teman dan malah di anggap gila akhirnya sang pertapa memilih untuk ikut minum air sungai, dan menjadi gila sama dengan yang lainnya.

    Kadang menyampaikan kebenaran yang bertentangan dengan arus kebenaran orang banyak, justru menjadikan kebenaran yang kita yakini itu menjadi suatu “kegilaan” Ada banyak orang yang memilih ikut arus mainstream daripada di anggap gila. Tapi tentu ada banyak contoh perkecualian, semisal seperti Stefanus yang membawa mati iman-nya kepada Yesus, demi mempertahankan kebenaran yang tidak di yakini sebagai kebenaran oleh banyak orang.

    Jadi ingat Ronggowarsito ” di jaman edan ini, orang yang tidak ikut edan tidak akan keduman, tapi sak bejo-bejane sing lalu, luwih bejo sing kelingan & waspodo (CMIIW)…

    Lho, masalah pakaian aja kok sampai kemana-mana sih ? Bukan begitu, tapi saya tertarik statement WIT yang menyoroti beda atribut dan esensi. Arus utama memang atribut yang lebih di hargai, karena di sini, kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda. Ada norma umum yang menjadi standar yang menjadikan orang lain tidak nyaman bila kita tidak berjalan pada norma itu. Hanya masalah salah kostum saja mungkin dapat menjadikan orang memandang kita tidak menaruh hormat pada suatu event yang kita hadiri.. Jadi saya kira, tidak mudah menyuarakan bahwa yang terpenting adalah esensinya, dan atribut itu tidak penting.

    Dalam lingkungan pekerjaan saya, walaupun mungkin saya merindukan kostum & posisi ternyaman saya : jeans belel yang sudah 1 bulan tidak di cuci, kaos oblong, sandal jepit & rambut gondrong, yang penting kan IPK saya 3 koma, yang penting kan saya kuliah dengan baik, yang penting kan saya tidak bikin ribut dan mengganggu di kelas, yang penting kan niat dan harkat saya sebagai manusia yang menghargai dosen juga dalam kemanusiaannya dengan tanpa melihat bagaimana dia tampil… dst…dst…. Saya telah melihat sungai-nya, dan sadar harus memilih, meminum airnya atau di anggap gila. Dalam hal ini, saya pun ikut minum air sungai : bercukur rapi, bercelana panjang, bebaju lengan panjang & berdasi, tak lupa sepatu kulit warna hitam yang bersemir mengkilap tiap hari senin… Lha wong masalahnya cuman pakaian saja lho, kok repot amat sih.

  11. STR says:

    Jadi tukang fesyen aja sana ….

  12. STR says:

    Oya, ada artikel bagus dari situs web E-Time, pers mahasiswa di Fakultas Ekonomi. Artikelnya bisa dibaca di sini. Saya baru tahu, rupanya ada dua pemimpin kita yang punya bakat jadi tukang fesyen: Umbu Rauta dan Hari Sunarto.

    Selamat membaca.

  13. DQ says:

    Ngurus sekolahan koq kayak perusahaan. Ono2 wae…

  14. guruh says:

    bung… kemaren aku udah kirim tulisan tapi mungkin ya belum di muat… tapi ga papa memang belum jelas juga nota dinasnya kayak apa tentang berpakaian sopan ini… ya memang begitu kalo sosialisasinya mandul…. jadi ga keliatan.. soal pakaian aja diurusi… celana pendek ga papa yang penting otak ama moralnya ga pendek-pendek amat… nah menurutku hampir-hampir ga ada korelasinya tu pakaian ama prestasi akademik… la kalo nyamannya pake celana pendek mo gimana lagi……… hari-hari kayak gini ga usah deh ngurusin cara berpakaian… mending keluarin nota dinas untuk mengeluarkan dosen-dosen yang otaknya pendek-pendek…

  15. yoyo says:

    sopan itu relatif Bung…………………
    kok cm liat orang dari luarnya????
    belum tentu bung orang yang pakek celana pendek otaknya pendek……..
    lagian ngapain ngurus orang berpakiaan segala…… bila orang itu nyamaman menggunakan celana pendek mau gimana lg???? “orang mereka beli sendiri” mereka nyaman mengunakan pakaian seperti itu dan beragapan sopan, mereka nyaman juga untuk mengikuti perkuliahaan,,,,,,, mereka bisa lebih leluasa, nyaman, dll………………. kaya anak SMA,SMP,SD aja, pakek seragam berangkat ke sekolah….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *