Creative Minority

Browse By

Pada hari Jumat (16/11/07) di Fakultas Bahasa dan Sastra, SA sempat menanyakan perspektif Willi Toisuta, PhD. (mantan Rektor UKSW ketiga — Red), mengenai relevansi visi dan misi UKSW, yang salah satunya adalah creative minority, di era sekarang.

Willi mengungkapkan bahwa creative minority itu dibutuhkan sekarang, namun bukan dalam arti minoritas dan mayoritas. Dari temuan konsep Arnold J. Toynbee maupun konsep Notohamidjojo (Rektor UKSW pertama — Red), creative minority adalah masyarakat yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi. Bahkan kalau perlu, membenarkan konsepsi yang salah menjadi sesuatu yang benar. “Jadi, luar biasa peranan dari konsep creative minority. Dan kita menganggap cukup kerja keras untuk itu. Kita harus lihat di mana-mana, harus lihat di Timor Leste, itu anak-anak Satya Wacana yang menjadi pimpinan, dalam negara baru. That’s creating creative minority. Tidak perlu harus seratus orang, hanya 10 orang yang cukup jadi leader di situ,” ujar Willi.

Willi juga mengungkapkan bahwa visi dan misi UKSW memang harus ditinjau kembali, tetapi tidak berarti harus diubah-ubah terus. Landasan-landasan dasar yang berdasar kepada norma dan etika harus ditinjau, yang penting untuk saat ini apakah relevan atau tidak relevan. Bukan membangun insinyur atau membangun ahli politik, karena itu implikasi dari gagasan dasar.

“Misalkan begini, kita ingin universitas ini supaya pro kepada yang miskin. Itu sebabnya ada Fakultas Hukum, itu supaya bisa membela orang miskin. Harus ada Fakultas Ekonomi supaya bisa meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Harus ada Fakultas Pendidikan supaya bisa mendidik orang untuk terbebas dari keterbelakangan. Harus ada Fakultas Teologi, itu mengapa agar bisa memberikan pemikiran tentang landasan-landasan etis dan pemikiran teologi tentang kasih Tuhan. Lebih lanjut, kalau mau dipikirkan visi dan misi kembali, ini tadi yang seharusnya dicek. Apakah memang Fakultas Ekonomi masih setia memikirkan pemberantasan kemiskinan? Apakah Fakultas Pendidikan masih memikirkan persoalan pentingnya guru, kualitas sekolah? Apakah Fakultas Hukum masih membela mereka yang tertindas? Tapi kalau visi dan misi universitas ini yang setia kepada Tuhan, kalian mau ubah apa itu? Itu berarti tidak setia lagi kepada Tuhan. Tinjauan-tinjauan macam begitu yang menurut saya relevan,” jelas Willi.

Sebagai salah satu alumni yang pernah mendapat kesempatan memimpin universitas ini, ketika ditanya apa harapan beliau terhadap UKSW ke depan, dengan nada pesimis Willi mengatakan, “Sekali lagi apakah disampaikan ke kampus apa tidak itu tidak terlalu penting, tapi saya orang yang tamat dari universitas ini, lalu saya pernah mendapat kesempatan memimpin kampus ini, lalu saya menjadi ahli yang mempunyai peranan penting di Asia dan Indonesia. Tentunya, saya sebagai orang pertama yang menginginkan kampus ini menjadi yang terbaik, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia.”

Willi punya dua pertanyaan untuk kampus ini. Pertama, apakah ada komitmen dan rencana, kemudian merealisasi? Kedua, sampai seberapa jauh kampus ini mempunyai suatu kemampuan merancang skenario masa depan seperti itu?

12 thoughts on “Creative Minority”

  1. STR says:

    Dipimpin rektor inilah UKSW pernah jaya. *halah, romantisme* :mrgreen:

  2. Neil Rupidara says:

    @STR dan Bambang: Baru sempat baca liputan ini. Luar biasa!!! Pendek, tapi menggigit. Sayangnya yang digigit (warga UKSW) dagingnya sudah pada mati rasa.

  3. Theofransus Litaay says:

    Saya kira dua pertanyaan pak Willi itu tidak mampu dijawab saat ini. Harus menjadi introspeksi diri dan memunculkan rasa tanggung jawab pada yang memegang tampuk.

  4. Opha says:

    Suatu Iklan Layanan Televisi mengatakan :

    – Bangkit itu Susah,……..Susah melihat orang susah, senang melihat orang senang.
    – Bangkit itu Mencuri,……..Mencuri perhatian dunia dengan segudang prestasi.
    – Bangkit itu Marah,……Marah jika martabat bangsa dilecehkan.
    – Bangkit itu Tidak ada, ……. Tidak ada kata menyerah dan putus asa.
    – Bangkit itu Aku,…….Untuk Indonesia (UKSW) ku.

    Bagus juga ya kalo direnungkan untuk UKSW.

  5. Ferdi says:

    Opha, Saya suka sekali dengan kata-kata yang ada di advertisement layanan masyarakat itu !!

    🙂 🙂

    Hidup UKSW !! MERDEKA !! MERDEKA !! MERDEKA !!

  6. Theofransus Litaay says:

    @Rudy: Yang dilakukan Rudy dkk melalui BTC itu sudah satu bentuk “kebangkitan” karena membawa UKSW kedalam ranah teknologi baru. Rud, tiga minggu lagi saya balik ke Salatiga kita perlu ketemu, banyak hal yang bisa kita diskusikan.

  7. Neil Rupidara says:

    @all: dalam masa menua-nya (baca: makin tua) organisasi, yang diperlukan adalah langkah kreatif membongkar kebiasaan2 lama. Merujuk siklus hidup organisasi, saya menilai UKSW sudah mengalami pertumbuhan cepat di periode 70an dan khususnya 80an dan mencapai kematangan sistem di 80an hingga 90an. Akhir 90an menunjukkan efek2 kekompleksan organisasi dan masuk masa stagnan dan cenderung menurun pada sejumlah segmen. Secara teoritis, karena itu, yang sangat diperlukan untuk bangkit di masa2 ini adalah terobosan2 baru (segila apapun ide Anda, silahkan). Pemimpin harus menyedian ‘lahan’ untuk munculnya creative ideas yang menantang inersia organisasi. Dari ide2 unggul itulah baru kemudian beberapa tahun ke depan diperlukan fase institusionalisasi untuk kembali membangun kemantapan.

    Namun, sayangnya kita justru takut terhadap gerakan kreatif. Kita bisa lihat di sektor2 mana di UKSW yang saat ini menunjukkan fenomena entrepreneurial, dan bukan sebaliknya terjadi birokratisasi atau ‘gerakan konstan’.

    Karena itu, setuju @Theo bahwa BTC sudah memainkan peran penting menjadi salah satu motor inovasi. Cuma, perlu dorong ide2 liarnya untuk take off sekencang2nya dulu baru kemudian ditata secara perlahan. The rule#1 at any creative firm is breaking the rule. Jadi, jangan takut menabrak aturan di masa2 stagnan atau declining-nya organisasi.

  8. Opha says:

    @Kak Theo : Ok….! saya menunggu kedatangannya!!!

  9. Neil Rupidara says:

    Mengutip Paulo Freire (Pedagogy of the City, dikutip Darder (Reinventing Paulo Freire)):

    “The future is something that is constantly taking place, and this constant “taking place” means that the future only exists to the extent that we change the present. It is by changing the present that we build the future, therefore history is possibility, not determinism.”

  10. Wilson says:

    Soal “Kebangkitan” UKSW, mungkinkah di sharing oleh para alumni dalam Kongres Ikasatya mendatang? Bagaimana Om Theo dan Om Neil yang kebetulan adalah jajaran PP Ikasatya saat ini? …

  11. Neil Rupidara says:

    @Wilson: Sebetulnya dialog alumni – pimpinan – mantan pimpinan UKSW pada Hut Emas UKSW 2006 yang lalu dibawa dalam terang kebangkitan UKSW, dengan meretas kembali jalan sejarah dan membangun kembali fondasi komitmen UKSW. Messages dari para tua2 jelas, mengembalikan UKSW pada cita-cita dasarnya: menjadi universitas kristen di Indonesia (berciri kekristenan dalam menjawab pergumulan ke-Indonesiaan). Rumusan itu sederhana, tetapi menurut saya jika direnungkan dan ditarik garis konsekuensinya, maka berat dan dalam. Pak Willi suka bicara konsep “christian presence”. Di liputan ini beliau juga mengingatkan ide-ide yang lahir karena konteks pergumulan Indonesia (sejak PTPGKI). Jadi selalu ketemu dengan panggilan eksistensial yand dibangun para pendiri, “Apa arti menjadi sebuah universitas Kristen di Indonesia?!” Saya kira kita bisa diskusi banyak di situ.

    Jika di 2006 Ikasatya sudah memulai jalan itu, maka mestinya Kongres 2008 sebagai momen dibukanya pintu bagi kepengurusan baru harus dibekali dan membekali diri dengan komitmen2 dasar itu. Ditanya mungkin, jawabnya pasti mungkin. Tinggal PP aktif dan pengurus cabang Jabodetabek sebagai penyelenggara yang bisa membuat yang mungkin jadi kenyataan. Setuju, mohon dijadikan satu agenda penting: “Alumni memandang UKSW masa depan dan memulai mewujudkannya sejak di hari ini.”

  12. Theofransus Litaay says:

    @Wilson: Bung Wil, Pimpinan UKSW harus jelas agendanya mau apa dari alumni, dan itu harus nampak dalam tindakan-tindakan organisasi. Saya kira dari sudut PP IKASATYA itu akan menjadi satu agenda yang dibahas oleh Kongres IKASATYA.
    Pada waktu lalu di milis IKASATYA pernah ada diskusi yang sangat seru (bahkan sampai melahirkan berbagai pokok diskusi baru) tentang peranan alumni mendukung almamater. Secara sederhananya apakah para alumni bisa membantu pembiayaan untuk pengembangan UKSW.
    Pada waktu itu respons saya adalah ada berbagai cara yang sudah dan masih bisa dilakukan para Alumni untuk gagasan tersebut, tapi itu tidak bisa satu arah. Harus dua arah dan membutuhkan inisiatif dari kedua belah pihak, termasuk dari kepemimpinan UKSW.
    Pada waktu lalu kita pernah melihat rektor pada masa lalu melakukan road show kepada daerah-daerah kantung alumni. Membangun relasi dan komunikasi dengan para alumni dan orang tua mahasiswa. Kita berharap pendekatan seperti itu bisa dihidupkan kembali. Karena konstituen itu kan harus dirawat dan dikembangkan, harus menciptakan sense of community.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *