Creative minority
Berita ini telah dilihat 393 kali sejak 10 December 2007SALATIGA — Pada hari Jumat (16/11/07) di Fakultas Bahasa dan Sastra, SA sempat menanyakan perspektif Willi Toisuta, PhD. (mantan Rektor UKSW ketiga — Red), mengenai relevansi visi dan misi UKSW, yang salah satunya adalah creative minority, di era sekarang.
Willi mengungkapkan bahwa creative minority itu dibutuhkan sekarang, namun bukan dalam arti minoritas dan mayoritas. Dari temuan konsep Arnold J. Toynbee maupun konsep Notohamidjojo (Rektor UKSW pertama — Red), creative minority adalah masyarakat yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi. Bahkan kalau perlu, membenarkan konsepsi yang salah menjadi sesuatu yang benar. “Jadi, luar biasa peranan dari konsep creative minority. Dan kita menganggap cukup kerja keras untuk itu. Kita harus lihat di mana-mana, harus lihat di Timor Leste, itu anak-anak Satya Wacana yang menjadi pimpinan, dalam negara baru. That’s creating creative minority. Tidak perlu harus seratus orang, hanya 10 orang yang cukup jadi leader di situ,” ujar Willi.
Willi juga mengungkapkan bahwa visi dan misi UKSW memang harus ditinjau kembali, tetapi tidak berarti harus diubah-ubah terus. Landasan-landasan dasar yang berdasar kepada norma dan etika harus ditinjau, yang penting untuk saat ini apakah relevan atau tidak relevan. Bukan membangun insinyur atau membangun ahli politik, karena itu implikasi dari gagasan dasar.
“Misalkan begini, kita ingin universitas ini supaya pro kepada yang miskin. Itu sebabnya ada Fakultas Hukum, itu supaya bisa membela orang miskin. Harus ada Fakultas Ekonomi supaya bisa meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Harus ada Fakultas Pendidikan supaya bisa mendidik orang untuk terbebas dari keterbelakangan. Harus ada Fakultas Teologi, itu mengapa agar bisa memberikan pemikiran tentang landasan-landasan etis dan pemikiran teologi tentang kasih Tuhan. Lebih lanjut, kalau mau dipikirkan visi dan misi kembali, ini tadi yang seharusnya dicek. Apakah memang Fakultas Ekonomi masih setia memikirkan pemberantasan kemiskinan? Apakah Fakultas Pendidikan masih memikirkan persoalan pentingnya guru, kualitas sekolah? Apakah Fakultas Hukum masih membela mereka yang tertindas? Tapi kalau visi dan misi universitas ini yang setia kepada Tuhan, kalian mau ubah apa itu? Itu berarti tidak setia lagi kepada Tuhan. Tinjauan-tinjauan macam begitu yang menurut saya relevan,” jelas Willi.
Sebagai salah satu alumni yang pernah mendapat kesempatan memimpin universitas ini, ketika ditanya apa harapan beliau terhadap UKSW ke depan, dengan nada pesimis Willi mengatakan, “Sekali lagi apakah disampaikan ke kampus apa tidak itu tidak terlalu penting, tapi saya orang yang tamat dari universitas ini, lalu saya pernah mendapat kesempatan memimpin kampus ini, lalu saya menjadi ahli yang mempunyai peranan penting di Asia dan Indonesia. Tentunya, saya sebagai orang pertama yang menginginkan kampus ini menjadi yang terbaik, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia.”
Willi punya dua pertanyaan untuk kampus ini. Pertama, apakah ada komitmen dan rencana, kemudian merealisasi? Kedua, sampai seberapa jauh kampus ini mempunyai suatu kemampuan merancang skenario masa depan seperti itu?

Komentar no. 12
30 May 2008 23:12
Perambah
@Wilson: Bung Wil, Pimpinan UKSW harus jelas agendanya mau apa dari alumni, dan itu harus nampak dalam tindakan-tindakan organisasi. Saya kira dari sudut PP IKASATYA itu akan menjadi satu agenda yang dibahas oleh Kongres IKASATYA.
Pada waktu lalu di milis IKASATYA pernah ada diskusi yang sangat seru (bahkan sampai melahirkan berbagai pokok diskusi baru) tentang peranan alumni mendukung almamater. Secara sederhananya apakah para alumni bisa membantu pembiayaan untuk pengembangan UKSW.
Pada waktu itu respons saya adalah ada berbagai cara yang sudah dan masih bisa dilakukan para Alumni untuk gagasan tersebut, tapi itu tidak bisa satu arah. Harus dua arah dan membutuhkan inisiatif dari kedua belah pihak, termasuk dari kepemimpinan UKSW.
Pada waktu lalu kita pernah melihat rektor pada masa lalu melakukan road show kepada daerah-daerah kantung alumni. Membangun relasi dan komunikasi dengan para alumni dan orang tua mahasiswa. Kita berharap pendekatan seperti itu bisa dihidupkan kembali. Karena konstituen itu kan harus dirawat dan dikembangkan, harus menciptakan sense of community.
Komentar no. 11
30 May 2008 23:02
Perambah
@Wilson: Sebetulnya dialog alumni - pimpinan - mantan pimpinan UKSW pada Hut Emas UKSW 2006 yang lalu dibawa dalam terang kebangkitan UKSW, dengan meretas kembali jalan sejarah dan membangun kembali fondasi komitmen UKSW. Messages dari para tua2 jelas, mengembalikan UKSW pada cita-cita dasarnya: menjadi universitas kristen di Indonesia (berciri kekristenan dalam menjawab pergumulan ke-Indonesiaan). Rumusan itu sederhana, tetapi menurut saya jika direnungkan dan ditarik garis konsekuensinya, maka berat dan dalam. Pak Willi suka bicara konsep “christian presence”. Di liputan ini beliau juga mengingatkan ide-ide yang lahir karena konteks pergumulan Indonesia (sejak PTPGKI). Jadi selalu ketemu dengan panggilan eksistensial yand dibangun para pendiri, “Apa arti menjadi sebuah universitas Kristen di Indonesia?!” Saya kira kita bisa diskusi banyak di situ.
Jika di 2006 Ikasatya sudah memulai jalan itu, maka mestinya Kongres 2008 sebagai momen dibukanya pintu bagi kepengurusan baru harus dibekali dan membekali diri dengan komitmen2 dasar itu. Ditanya mungkin, jawabnya pasti mungkin. Tinggal PP aktif dan pengurus cabang Jabodetabek sebagai penyelenggara yang bisa membuat yang mungkin jadi kenyataan. Setuju, mohon dijadikan satu agenda penting: “Alumni memandang UKSW masa depan dan memulai mewujudkannya sejak di hari ini.”