Kampus Sendiri

Browse By

Tepat pada hari kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 2007 lalu, UKSW kedatangan tamu dari mancanegara. Tamu tersebut, terdiri dari empat orang mahasiswa, dua laki-laki dan dua perempuan. Mereka datang ke kampus ini dalam rangka mengikuti program pertukaran mahasiswa. Mahasiswa yang berasal dari Universitas Passau, Jerman, ini akan tinggal sementara waktu untuk mengikuti perkuliahan khusus.

Saat ditemui di Kafe Rindang, Rabu (6/10), Sebastian Fleischer (22), menuturkan, “Kami semua satu kampus, kami kuliah di Jerman, di Universitas Passau. Passau ini nama kota saja, tidak ada nama khusus mengenai universitas kami. Kami mengikuti program pertukaran mahasiswa dengan UKSW. Karena itu kami datang ke sini.”

Ketika ditanya mengenai kampus UKSW, Sebastian mengatakan, “Saya merasa seperti di kampus sendiri. Saya suka ada banyak pohon, ya saya rasa indah dan enak.” Sedangkan tanggapan mereka terhadap sikap dosen dan mahasiswa, ia mengaku, “Kami tidak begitu kenal banyak dosen, tapi yang kami kenal sangat baik, sangat sabar, dan suka membantu kami. Kami di sini dibantu Bu Lusi yang bekerja di pusat administrasi. Dialah yang bertanggungjawab terhadap mahasiswa dari luar negeri,” ungkap Sebastian dan kawan-kawannya.

Selain Sebastian, ada lagi tiga temannya, yaitu Daniel Johe (23), Sabrina Reichard (24), dan Katharina Werner (21). Menyinggung proses belajar mengajar (PBM) yang diaplikasikan di universitas tempatnya dan di kampus ini, mereka mengaku sangat berbeda. “Di sini mata kuliah terbatas, yakni antara yang umum dan khusus. Artinya, sedikit umumnya.” Lanjutnya, “Dan ini berbeda dengan di Jerman, di sana kami bisa ikut mata kuliah orang lain, jadi lebih umum.”

Lebih lanjut, Sebastian mengungkapkan bahwa di Jerman sangat berbeda dengan sistem pembelajaran di UKSW, misalnya cara dosen dalam menyampaikan mata kuliah. “Rata-rata universitas di sana, pola yang dipakai oleh seorang dosen hanya memberikan pokok permasalahannya saja. Selanjutnya, mahasiswa mencari tahu sendiri. Sedangkan di kampus sini, seorang dosen lebih banyak mendikte. Contohnya, saat di ruang kuliah, dosen menjelaskan materi kuliah dan mahasiswanya mencatat sampai kalimat lengkap,” beber Katharina.

Pemandangan ini sangat lain dengan di Jerman, tidak ada yang namanya dosen mendikte. Perlu diketahui, meskipun dosen bicara banyak atau bercerita tentang berbagai hal, mahasiswanya cukup mencatat kata kuncinya saja.

Kendati demikian, mereka sedikit banyak juga mengetahui sistem perkuliahan yang ada di UKSW saat ini. Mereka sempat bingung adanya dua sistem dalam satu universitas. “Ini bagi kami sangat membingungkan, di universitas kami memakai semester, yakni semester musim dingin dan musim panas. Sistem perkuliahan ini juga dipakai di universitas lainnya di Jerman”

Terkait soal hubungan mahasiswa dengan dosen yang terjadi di kampus, dari pengamatan mereka selama ini, nampak bahwa hubungan mahasiswa dengan dosen kelihatan lebih akrab, dibanding di kampus mereka. “Di sini tampak akrab daripada di Jerman. Di sana banyak mahasiswa, jadi lebih susah untuk akrab. Kalau banyak mahasiswa dalam satu matakuliah, tidak ada hubungan pribadi. Seperti ketika seorang dosen berbicara banyak tentang suatu hal yang dibahas dalam satu matakuliah ada 500-an mahasiswa, biasanya dosen menyampaikannya melalui mikrofon. Maka, hanya ada dua atau satu mahasiswa yang dikenalnya, barangkali lain dengan yang di sini, saya tidak tahu,” tukas Sebastian.

One thought on “Kampus Sendiri”

  1. Pingback: Scientiarum.com » Mahasiswa Passau Kunjungi UKSW
  2. Trackback: Scientiarum.com » Mahasiswa Passau Kunjungi UKSW

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *