Kelas Tabrakan, Fasilitas Kurang, Mahasiswa di Mana-mana. So What?

Oleh Aqirana A. Tarupay | 10 December 2007 | Kampus

“Katanya ntar mau ada open forum ya?” “Iya … di BU.” Beberapa waktu lalu, Fakultas Teknologi Informasi (FTI) mengadakan sebuah “ritual” sharing atau sering disebut dengan istilah “open forum” antara mahasiswa dengan dosen berkaitan dengan kejelasan sistem perkuliahan di FTI, yang masih memberikan tanda tanya bagi beberapa mahasiswa. Dalam open forum ini pula, setiap mahasiswa yang memiliki uneg-uneg tentang kegiatan perkuliahan juga dapat disampaikan dan akan langsung diberikan jawaban dari pihak fakultas.

Ada beberapa keluhan yang dilontarkan mahasiswa FTI kepada pihak fakultas, antara lain adalah Elly dari angkatan 2004 yang menanyakan tentang jadwal kuliah yang masih kacau dan jumlah kapasitas kelas yang tidak sesuai dengan yang tertera pada jadwal SIASAT (misalkan di SIASAT tertulis kapasitas maksimum 40 orang, tetapi di kelas ternyata ada lebih dari 40 mahasiswa).

“Mana bisa konsen kalo orangnya kebanyakan?” keluh salah seorang mahasiswa. Keluhan ini dijawab oleh Dekan FTI, Ir. Danny Manongga M.Sc, Ph.D. Beliau menuturkan bahwa FTI akan mencoba untuk membuka pendaftaran kelas baru sebelum trimester berakhir. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi overload-nya jumlah mahasiswa dalam sebuah kelas. Selain itu, jumlah mahasiswa yang tidak sesuai dengan yang tertera pada SIASAT juga disebabkan oleh ketidaksinkronan informasi antara FTI dengan pihak administrasi pusat.

Keluhan lain juga disampakan oleh Arif, mahasiswa FTI Program Studi Teknik Informatika angkatan 2003. Arif mengeluhkan masalah kurikulum di FTI yang belum sesuai dengan tuntutan dunia kerja, sehingga sedikit menyulitkan bagi mahasiswa yang akan melaksanakan KP (kerja praktek — Red). Selain itu, Arif juga memberi masukan bagi FTI, jika FTI belum bisa memenuhi fasilitas bagi jumlah mahasiswa yang ada (saat ini jumlah mahasiswa FTI kurang lebih 2.000 orang), hendaknya untuk tahun mendatang, bisa mengurangi jumlah mahasiswa yang akan masuk ke FTI. Menurut beberapa mahasiswa FTI sendiri, untuk meningkatkan kualitas FTI, tidak hanya bergantung pada jumlah mahasiswa yang besar, tetapi lebih pada peningkatan kualitas di dalam FTI itu sendiri, mulai dari kualitas pengajaran dosen, transparansi nilai, pemenuhan fasilitas bagi mahasiswa, maupun materi perkuliahan.

Berbeda dengan Arif, salah seorang mahasiswa FTI dari angkatan 2006, Raymond, mencoba mengklarifikasi kembali tentang penerapan sistem trimester di FTI. Yang menjadi pertanyaan Raymond adalah, “Pantaskah sistem trimester diterapkan pada fakultas teknik, mengingat ada juga mahasiswa yang merasa ‘dikejar’ oleh materi, karena dalam waktu yang relatif singkat, setiap mahasiswa harus ‘menelan’ sedemikian banyak materi. Padahal kualitas ‘telan materi’ setiap mahasiswa jelas berbeda. Ada yang memang dilahirkan dengan kemampuan yang ujubile pinter banget, tapi juga ada yang merasa pas-pasan.” Selain itu, Raymond juga mempertanyakan tentang pernyataan dari Dikti, agar mengubah sistem trimester menjadi dwimester, “Yang ditakutkan, bagaimana dengan nasib lulusan FTI nantinya?”

Pertanyaan Raymond, dijawab dengan mantap oleh Dekan FTI, bahwa Dikti tidak mempermasalahkan hal tersebut, tetapi malah meminta untuk membuat studi tentang sistem ini. Sebagai informasi tambahan, sistem trimester juga telah diadopsi oleh pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Dekan FTI juga menjamin, bahwa lulusan FTI tidak akan dicekal.

Yang menarik dari open forum ini adalah kebanyakan mahasiswa FTI mengeluhkan tentang kurang memadainya fasilitas bagi setiap mahasiswa FTI, mulai dari jadwal yang bertabrakan, sampai penggunaan laboratorium yang pernah sampai satu komputer dengan terpaksa harus digunakan oleh lebih dari satu mahasiswa. Dalam open forum FTI ini segala keluh kesah tentang hal tersebut, justru diutarakan dengan pertanyaan singkat oleh Christia Putra, mahasiswa Program Studi Teknik Informatika angkatan 2004. “Jika perbandingan fasilitas yang ada dengan jumlah mahasiswa FTI tidak sebanding, sebenarnya kemana uang fakultas?” Pertanyaan ini disambut dengan tepuk tangan riuh seluruh peserta open forum, mungkin beberapa merasa terwakili pertanyaannya. Menanggapi pertanyaan Christia, Dekan menjawab bahwa saat ini FTI sedang menyusun satgas untuk pembangunan laboratorium baru.

Beberapa waktu lalu, SA juga sempat mewawancarai beberapa mahasiswa FTI yang terlambat datang pada ritual open forum. Seorang mahasiswa angkatan 2005 sangat mengeluhkan jadwal sebuah mata kuliah yang tabrakan dengan mata kuliah lain (sebut saja mata kuliah A). Belum lagi, mata kuliah ini sudah beberapa kali kosong. “Wah … Ini sih buang-buang duit saja,” keluh mahasiswa tersebut. “Nampaknya pengaturan jadwal untuk kelas ini sangat tidak matang karena kelas ini sudah pindah jadwal lebih dari sekali, dan ternyata masih bertabrakan dengan mata kuliah lain, sehingga ada mahasiswa yang terpaksa melakukan ‘kuliah fleksibel’ dalam artian: karena ada mata kuliah lain (sebut saja mata kuliah B) yang bertabrakan dengan kelas A ini, sehingga mahasiswa tersebut hanya mengikuti kuliah A, jika kuliah B kosong. Tetapi jika keduanya tidak kosong, tentu saja mahasiswa ini harus memilih salah satu,” beber mahasiswa tersebut. Dan tidak hanya satu mahasiswa saja yang mengalami hal ini.

Ada sebuah usulan yang dilontarkan oleh salah seorang mahasiswa yang sempat ditulis oleh SA, ”Wah … Kalau begini, seharusnya jika kelas ini dibuka lagi, kita boleh ikut dengan biaya gratis dong!” Akankah usul ini terwujud? Kita lihat saja nanti. Dan semoga dengan adanya open forum yang hanya dihadiri tidak lebih dari seperempat jumlah mahasiswa FTI ini dapat menyuarakan aspirasi dari seluruh mahasiswa FTI yang “haus” akan kecukupannya fasilitas bagi mereka.


156 Komentar

  1. elektro fosill

    FTI perlu belajar dari FTJE saya rasa, tenan kuwi. Wong Fakultas Teknik kok gak mau jadi satu atap saja ” TANYA KENAPA”

  2. gracious

    sepakat sama -evangs-… mengapa belakangan ini gelagat open forum kok mengarah ke kritik yang menjatuhkan yah…
    sedih deh ngelihat mahasiswa2 satya yang tidak mencintai almamater-nya sendiri… kalo bukan kita siapa lagi… masa mau minta anak kampus lain yang mengusung nama UKSW…

    kritik itu memang perlu… kalo seseorang gak dikritik gimana dia bisa memperbaiki dirinya… tapi mengapa yah… membaca komen2 di atas memberikan kesan anarkis… sungguh bukan gambaran yang menyenangkan dari seorang mahasiswa (yang berpendidikan tinggi) di kampus Kristen (yang mengusung kasih)… tegurlah sesorang dalam kasih… termasuk kampus kita sendiri… dosen2 yang kadang pemikirannya kita tidak mengerti…. gimana seseorang berkembang kalo gak dapet support dari orang2 terdekatnya… bagi sebuah fakultas… mahasiswalah orang2 terdekatnya…

    @ketua SEMA… dia masih menjabat gak sih?… sebenernya gw cukup salut sama dia… karena dia bisa melihat sisi posiif dibalik kelam-nya kondisi FTI yang dilihat oleh teman2 yang lain… tapi memang ada beberapa statement-nya yang perlu di-redaksional ulang kata2nya… gw rasa maksud aslinya dia adalah mengajak temen2 FTI untuk tetap mencintai FTI ditengah2 keburukannya… kinda’ uncondotional love gitu…

    antek2 fakultas? hahahahaha istilah yang aneh… seakan2 fakultas merupakan sebuah rezim dan kekuasaan yang memperbudak, dan mahasiswalah yang diperbudak… apakah kita merasa seperti budak fakultas? seorang budak tidak boleh menyampaikan pendapatnya lho… so if we’re still able to communicate things that bothering our mind… i don’t think that we’re one of their slaves!

    jagalah mulut mu, sebab apa yang kelaur dari mulut mencerminkan hati. (^^)V

    regards,

  3. Erman

    Hi all, ni hao…

    @Kenakalan Remaja di Era Informatika (Komentar 150)…

    “@Erman: pertanyaan besar memang. sekarang yang bodoh itu siapa??? saya kira semuanya bodoh… jangan cuma menyalahkan mahasiswa, karena hanya orang bodoh yang suka menyalahkan pihak lain untuk menutupi kebodohannya. kalau sekarang anda-anda semua saling tuding, itu tidak beradab. katanya kaprogdi???kok kata2nya tidak menentramkan masyarakat FTI, tapi justru membunuh anak-anaknya sendiri. hahahaha. saya tidak kuasa untuk menahan tawa.”

    Dari kata2 anda…anda memang terlihat “bodoh”… Duibuchi (means sorry in Chinese).

    Saya sedang kuliah di Electronic Engineering di salah satu univ di Taiwan. Di lab research saya, anak S1 seperti anda (kalo anda kuliah S1…tapi saya rasa anda adalah salah satu mhsw FTI)….kuliah itu hanya diberikan paper2 dari Professornya…terus mereka mendesain hardwarenya…dan mempublikasinya bahkan ke luar Taiwan…Mereka sekarang sedang berada di Korea…..CATAT INI: MEREKA ITU MAHASISWA S1

    Satu hal yang perlu anda tahu saya sudah tidak menjadi kaprogdi sejak Mei 2008. Saya sama sekali tidak mengeluarkan kata2 untuk membuat mahasiswa FTI tidak tentram. Saya tidak pernah mengatakan mhsw FTI bodoh. CATAT ITU !!!!. Buktinya saya kuliah di Taiwan, saya ketemu dengan 2 orang alumni FTI yang lagi kuliah S2 di Taiwan. Mhsw FTI itu kebanyakan hanya malas dan manja. Salah satunya mungkin anda

    Peace, xiexie

  4. Yoyok 2003

    Wew.. kok scientiarum.com jadi kaya ring tinju ya?

    Usul deh..buat mahasiswa dan FTI , mari lah kita senantiasa terapkan continous improvement. Saran dan kritik yang kita terima (walaupun pedas dan memancing emosi) kita ubah saja formatnya menjadi input yang membangun. Yang penting dari kita sendiri (baik personal / organisasi) mau untuk menjadi lebih baik. Saya rasa apabila mahasiswa dan fakultas sama2 bersikap seperti ini tentunya forum ini akan menjadi lebih “tenteram” bukan seperti ajang maki2an seperti saat ini. (semoga para komentator di forum ini tidak saling benci dan dendam hingga ke hubungan personal..kalau Anda merasakan hal itu berarti Anda belum siap “nge-junk” di kancah perforuman. Silakan anda close scientiarum.com dan buka Facebook.com :D )

    Buat temen-temen mahasiswa silakan baca pendapat-pendapat menarik mengenai continous improvement di :

    http://prastowo.staff.ugm.ac.id/?modul=baca&dir=artikel&artikel=Continuous-improvement

    atau (cocoknya buat pejabat sema atau manajemen fakultas sih ni…)

    http://www.slideshare.net/weeargh/six-sigma-short-introduction

    Salam,

    Hargyo T. Nugroho

  5. anisti

    @ hargyo..

    wah yok… nemu kamu di fesbuk.. nemu kamu juga di forum ini…
    it feels great reading your comment. especially with your continuous improvement. since great improvement starts from ourselves. those who learns many things, know how – to – do something better , and they are improving. we cannot stop to learn something, right?
    Critics as well as suggestion will lead into something better, something great..

    sukses studinya ya yok.. miss ya!

    God bless

    anisti riris

  6. anisti

    @ yoyok : (cont)tapi yok…
    aku kok ga bisa buka ya.. yang CI… isinya cuman komen mulu…. wkwkwkwk…. piye carane yok??? ;p

Kami Menerima Pandangan Anda

© 2009 Lembaga Pers Mahasiswa Scientiarum UKSW