Kelas Tabrakan, Fasilitas Kurang, Mahasiswa di Mana-mana. So What?

Telah dilihat 1,534 kali sejak 10 December 2007

“Katanya ntar mau ada open forum ya?” “Iya … di BU.” Beberapa waktu lalu, Fakultas Teknologi Informasi (FTI) mengadakan sebuah “ritual” sharing atau sering disebut dengan istilah “open forum” antara mahasiswa dengan dosen berkaitan dengan kejelasan sistem perkuliahan di FTI, yang masih memberikan tanda tanya bagi beberapa mahasiswa. Dalam open forum ini pula, setiap mahasiswa yang memiliki uneg-uneg tentang kegiatan perkuliahan juga dapat disampaikan dan akan langsung diberikan jawaban dari pihak fakultas.

Ada beberapa keluhan yang dilontarkan mahasiswa FTI kepada pihak fakultas, antara lain adalah Elly dari angkatan 2004 yang menanyakan tentang jadwal kuliah yang masih kacau dan jumlah kapasitas kelas yang tidak sesuai dengan yang tertera pada jadwal SIASAT (misalkan di SIASAT tertulis kapasitas maksimum 40 orang, tetapi di kelas ternyata ada lebih dari 40 mahasiswa).

“Mana bisa konsen kalo orangnya kebanyakan?” keluh salah seorang mahasiswa. Keluhan ini dijawab oleh Dekan FTI, Ir. Danny Manongga M.Sc, Ph.D. Beliau menuturkan bahwa FTI akan mencoba untuk membuka pendaftaran kelas baru sebelum trimester berakhir. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi overload-nya jumlah mahasiswa dalam sebuah kelas. Selain itu, jumlah mahasiswa yang tidak sesuai dengan yang tertera pada SIASAT juga disebabkan oleh ketidaksinkronan informasi antara FTI dengan pihak administrasi pusat.

Keluhan lain juga disampakan oleh Arif, mahasiswa FTI Program Studi Teknik Informatika angkatan 2003. Arif mengeluhkan masalah kurikulum di FTI yang belum sesuai dengan tuntutan dunia kerja, sehingga sedikit menyulitkan bagi mahasiswa yang akan melaksanakan KP (kerja praktek — Red). Selain itu, Arif juga memberi masukan bagi FTI, jika FTI belum bisa memenuhi fasilitas bagi jumlah mahasiswa yang ada (saat ini jumlah mahasiswa FTI kurang lebih 2.000 orang), hendaknya untuk tahun mendatang, bisa mengurangi jumlah mahasiswa yang akan masuk ke FTI. Menurut beberapa mahasiswa FTI sendiri, untuk meningkatkan kualitas FTI, tidak hanya bergantung pada jumlah mahasiswa yang besar, tetapi lebih pada peningkatan kualitas di dalam FTI itu sendiri, mulai dari kualitas pengajaran dosen, transparansi nilai, pemenuhan fasilitas bagi mahasiswa, maupun materi perkuliahan.

Berbeda dengan Arif, salah seorang mahasiswa FTI dari angkatan 2006, Raymond, mencoba mengklarifikasi kembali tentang penerapan sistem trimester di FTI. Yang menjadi pertanyaan Raymond adalah, “Pantaskah sistem trimester diterapkan pada fakultas teknik, mengingat ada juga mahasiswa yang merasa ‘dikejar’ oleh materi, karena dalam waktu yang relatif singkat, setiap mahasiswa harus ‘menelan’ sedemikian banyak materi. Padahal kualitas ‘telan materi’ setiap mahasiswa jelas berbeda. Ada yang memang dilahirkan dengan kemampuan yang ujubile pinter banget, tapi juga ada yang merasa pas-pasan.” Selain itu, Raymond juga mempertanyakan tentang pernyataan dari Dikti, agar mengubah sistem trimester menjadi dwimester, “Yang ditakutkan, bagaimana dengan nasib lulusan FTI nantinya?”

Pertanyaan Raymond, dijawab dengan mantap oleh Dekan FTI, bahwa Dikti tidak mempermasalahkan hal tersebut, tetapi malah meminta untuk membuat studi tentang sistem ini. Sebagai informasi tambahan, sistem trimester juga telah diadopsi oleh pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Dekan FTI juga menjamin, bahwa lulusan FTI tidak akan dicekal.

Yang menarik dari open forum ini adalah kebanyakan mahasiswa FTI mengeluhkan tentang kurang memadainya fasilitas bagi setiap mahasiswa FTI, mulai dari jadwal yang bertabrakan, sampai penggunaan laboratorium yang pernah sampai satu komputer dengan terpaksa harus digunakan oleh lebih dari satu mahasiswa. Dalam open forum FTI ini segala keluh kesah tentang hal tersebut, justru diutarakan dengan pertanyaan singkat oleh Christia Putra, mahasiswa Program Studi Teknik Informatika angkatan 2004. “Jika perbandingan fasilitas yang ada dengan jumlah mahasiswa FTI tidak sebanding, sebenarnya kemana uang fakultas?” Pertanyaan ini disambut dengan tepuk tangan riuh seluruh peserta open forum, mungkin beberapa merasa terwakili pertanyaannya. Menanggapi pertanyaan Christia, Dekan menjawab bahwa saat ini FTI sedang menyusun satgas untuk pembangunan laboratorium baru.

Beberapa waktu lalu, SA juga sempat mewawancarai beberapa mahasiswa FTI yang terlambat datang pada ritual open forum. Seorang mahasiswa angkatan 2005 sangat mengeluhkan jadwal sebuah mata kuliah yang tabrakan dengan mata kuliah lain (sebut saja mata kuliah A). Belum lagi, mata kuliah ini sudah beberapa kali kosong. “Wah … Ini sih buang-buang duit saja,” keluh mahasiswa tersebut. “Nampaknya pengaturan jadwal untuk kelas ini sangat tidak matang karena kelas ini sudah pindah jadwal lebih dari sekali, dan ternyata masih bertabrakan dengan mata kuliah lain, sehingga ada mahasiswa yang terpaksa melakukan ‘kuliah fleksibel’ dalam artian: karena ada mata kuliah lain (sebut saja mata kuliah B) yang bertabrakan dengan kelas A ini, sehingga mahasiswa tersebut hanya mengikuti kuliah A, jika kuliah B kosong. Tetapi jika keduanya tidak kosong, tentu saja mahasiswa ini harus memilih salah satu,” beber mahasiswa tersebut. Dan tidak hanya satu mahasiswa saja yang mengalami hal ini.

Ada sebuah usulan yang dilontarkan oleh salah seorang mahasiswa yang sempat ditulis oleh SA, ”Wah … Kalau begini, seharusnya jika kelas ini dibuka lagi, kita boleh ikut dengan biaya gratis dong!” Akankah usul ini terwujud? Kita lihat saja nanti. Dan semoga dengan adanya open forum yang hanya dihadiri tidak lebih dari seperempat jumlah mahasiswa FTI ini dapat menyuarakan aspirasi dari seluruh mahasiswa FTI yang “haus” akan kecukupannya fasilitas bagi mereka.

Tag: ,

139 komentar telah masuk. Apa pendapat anda?

Halaman: [14] 13 12 11 10 9 8 7 6 5 41 » Lihat Semua

  1. Komentar ke-139

    wah…blum tau apa2 di FTI aku,maklum anak baru…tp bkal ngikuti prkmbanganya d…

  2. Komentar ke-138

    Setiap fakultas memiliki masalahnya masing2, termasuk FTI yang merupakan fakultas yang belum lama berdiri tetapi sudah memiliki banyak mahasiswa dan hal ini menimbulkan kecemburuan sosial.

    Yah… Semakin tinggi pohon maka semakin kencang pula angin bertiup, pepatah ini cocok untuk FTI. Anggap saja semua protes2 yang terus berdatangan sebagai acuan agar FTI terus dan terus menjadi lebih baik lagi.
    Ayo FTI……

  3. Komentar ke-137

    gila bgt ya !!!!!!!!!
    katanya uksw kampus yg ngetop, eh ternyata punya byk masalah yg sangat memalukan seperti jumlah kelas yg tdk sebanding dengan mahasiswanya, pdhl gue br aja msk angkatan 2008 ini, gue jd kecewa bgt ma kenyataan ini…
    sma, smp dan sd aja gak pernah sampai separah gitu, kog universitas malah lebih ancur,,,,,,,,,,
    nyesel bgd gue……………..
    payah !!!!!!!!!!

  4. Komentar ke-136

    hmm..permasalahan klasik di FTI..kritik dan saran sudah diberikan..anggap aja sebagai point of improvement sehingga FTI kita senantiasa menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.. salam. Ayo semangat cah FTI!

  5. Komentar ke-135

    Hmmmm……..
    FTI ya????

    Yah……
    Silakan Dibelah eh silakan dicermati aja deh…….

    Setiap Fakultas di UKSW pasti punya masalah, apalagi dengan banyaknya mahasiswanya,
    Kita sekarang sedang melihat suatu Fakultas dengan mahasiswa yang banyak,
    Ada yang iri, tetapi ada juga yang prihatin……
    Tolong jangan menekan,
    Biarlah berjalan sendiri, kita hanya bisa memberitahu untuk membimbing…

    Kalo ancur ya ancurlah…..
    Wkk…kk…kk

  6. Komentar ke-134

    erman bilang:
    Menurut pendapat saya pribadi, kualitas seorang dosen dapat dilihat (mungkin diukur???) dari beberapa parameter:
    1. Tingkat Pendidikan, Ada 3 tingkatan (Sajana(S1), Master (S2), Doktor(S3))
    2. Tingkat Fungsional, Ada 4 tingkatan (Asisten Ahli, Lektor, Lektor Kepala, Guru Besar atau Professor)
    3. Pengalaman Mengajar atau sudah berapa lama kerja sebagai dosen/pengajar? (misalnya 5 tahun, 10 t ahun, 15 tahun) - hal ini cukup menentukan seorang dosen dalam pemahaman teori
    4. Khusus untuk bidang Teknik/Sains, Pengalaman Praktis penerapan ilmu di dunia nyata (dalam dunia kerja, dsb)
    @erman
    maaf saya Kurang sependapat dg anda,melihat kualitas seorang dosen memang sulit tetapi,ada beberapa hal yang memang anda tulis itu benar.
    sekarang kita lihat kedalam kasus FTI,jika kita mengacu pada parameter yg anda berikan supaya tidak jauh melenceng dr topik aslinya :

    1. Y*R SE,MM — seorang yg berpendidikan tingkat 2 (master/s2) memang memenuhi parameter yg anda sebutkan diatas,tetapi apa yg salah??? GELARNYA. seorang dengan gelar yg notabene jauh dari teknologi informasi memegang satu jabatan penting FTI. ironis bukan?? Bagain mana jika seorang mahasiswanya memilih beliau sebagai pembimbing dalam menulis skripsi?? apa yg dia bimbing??membuat sebuah neraca atau laporan keuangan?? berbeda jika gelarnya SE,M.Kom. contoh kongkrit DR.kutut suwondo. seorang yg pernah memimpin fakultas fisipol.percayakah anda bahwa pak doktor punya gelar S1(sarjana) dari sebuah fakultas PERTANIAN??? akan tetapi saat beliau mengambil jenjang pendidikan berikutnya (S2 /master) beliau mengambil jurusan sosial politik,begitu juga ketika beliau meraih gelar doktor (S3) dibelanda,sosial dan politik.
    2. banyak asisten dosen yg kadang atau malah sering lebih pandai “menyampaikan” bahan2 kuliah lebih baik dr pd dosen pengampu itu sendiri(bukan lebih pinter dr dosen itu).apanya yg salah???gelar mereka???TIDAK krn tidak/belum punya gelar. tp kemampuan sosial sang asisten yg benar2 tau cara menyampaikan bahan2 kuliah sehingga lebih mudah diterima para rekan2nya sesama mahasiswa.karena dosen2 jaman sekarang memberi jurang antara dosen–>mahasiswa,walau kadang dosen itu teman atau kakak angkatan mahasiswa itu sendiri.dalam bahasa “gaul”nya BELAGU.
    3.pengalaman mengajar???hmm… asisten2 seperti dipoint 2 sepertinya kurang dlm hal pengalaman tetapi knp mrk lebih bisa dipahami oleh mahasiswa??nah lho..
    “4. Khusus untuk bidang Teknik/Sains, Pengalaman Praktis penerapan ilmu di dunia nyata (dalam dunia kerja, dsb)” nah lho kalo ini kita sangkut pautkan dgn point 1. saya nggak berani komentar deh, takut salah hahaha :lol:
    brb. ngakak!

    @ody
    pak ketua tolong saya diingatkan lagi tentang posisi/kedudukannya SEMA dalam fakultas… dibuku biru yg dibagi pertama masuk kuliah itu kayaknya. kalau jaman saya kuliah dulu,se ingat saya “posisi sema sejajar dalam garis putus2 dengan seorang dekan fakultas” bukan dibawah seorang dosen,kalau sekarang sudah berubah,berarti SEMA sama dgn OSIS di SMP dan SMA dunk.gw jd tertarik dgn koment “Antara Ada dan Tiada: Peran LK dalam Penentuan Kebijakan Kampus”
    setahu saya dulu, perannya besar.. entah kalau sekarang sudah berubah. tapi jgn kecil hati ya di,seorang pemimpin yg baik adalah pemimpin yg mendengarkan apa masukan dr para rakyatnya.

    @yg sering perang tulisan dgn Ody
    setau saya ody gak gitu dech….tp kita juga gak boleh lupa kalo ody hanya seorang manusia.yg bisa sakit ati kalau kata2 kalian menyinggung perasaan dia.yg harus qta lakukan adalah membantu dia jgn hanya bisa menyalahkan..beban yg dia panggul itu berat menjadi jembatan antara mahasiswa dan fakultas.mungkin dia hanya bermaksud menjadi penengah agar tidak ada perpecahan dalam tubuh FTI…

    kesimpulan
    DEMOKRASI… kata2 yg sering kita dengar…musyawarah untuk mufakat..tp gmn kalo kata demokrasi menjadi bumerang? seperti kasus FTI.minoritas berkuasa…. sulit.. para pucuk pimpinan sibuk memikirkan bagaimana mencari uang sebanyak banyaknya… padahal rakyat berontak!karena mereka korban pertama dr kebijakan2 yg mereka ambil,dan sepertinya mereka tutup mata dan telinga(the first casualities of war is civilian “gw lupa sapa yg nulis”)… turun kejalan??? udah gak jaman .. orang2 yg terjepit diantara kedua belah pihak lah org yg paling sengsara… ody contohnya (gw bukan mbela ody,gw juga gak suka sama ody koq,item sih :P)
    akhir kata ini hanya tulisan perbedaan pendapat antara 2 org bukan membela salah 1 golongan,hanya tergugah dengan mutu pendidikan UKSW yg kian terpuruk.. seharusnya kita bahu membahu mengankat kembali kejayaan UKSW,bukan nya saling mencaci…kembalikan UKSW seperti dulu Education minded bukan pofit oriented!!!yg kebetulan topiknya saat ini FTI..mungkin difakultas lain juga ada hal2 smacam ini.
    saya minta maaf kalo ada beberapa pihak yg merasa telah terusik dgn adanya tulisan saya ini.. sekali lagi saya tegaskan saya tidak bermaksud mendeskriditkan seseorang atau golongan,keinginan saya sederhana… menjadikan UKSW sebuah CIVITAS AKADEMIKA YG berkualitas. Amin

    salam
    TUHAN M’BERKATI

  7. Komentar ke-133

    @nero
    misal: suatu matakuliah di ajar oleh dosen yang “sangar”, tapi dia pandai dalam mengajar, pasti peminatnya juga banyak…
    kalo yang ini saya setuju….
    Siapa sich yang mau mengambil matakuliah yang diajar dosen “sangar” dan cara mengajarnya membingungkan????
    kalo pengajar cuma satu ya pasti ikut kuliahnya…atau kalo pengajarnya ada 5 trus punya karakter yang kira2 sama..ya tinggal pilih aja salah satu.

    @erman
    bener bos…banyak yang bilang JAVA itu matakuliah yang paling bikin pusing (salah satunya saya..he he he he he he) kenapa? karena ASD tidak mudeng..kenapa ASD tidak mudeng?Karena DDP juga tidak mudeng…nah..padahal kurikulum sudah dibuat sedemikian rupa..masih aja ada yang bilang kurikulum harus diganti……
    jadi FTI ini kaya film WARKOP DKI “Maju kena Mundur Kena”..
    beginilah kalo banyak yang perhatian sama FTI…..
    banyak pemasukan..eh salah denk..banyak masukan!!!!!

    he he he he he,

  8. Komentar ke-132

    ya…..FTI rame ya, matap…….itu baru fakultas yang mau maju. tapi ketua semanya kayak gitu. berpihak pada mahasiswa atau fakultas ni? mahasiswa FTI harus berani dong jangan tunggu ada open forumsaja .banyak cara untuk kelauarkan asprasi. kalau ga ada open forum gimana?. bapak/ibu dosen juga harus melihat keluhan mahasiswanya. jangan di metahkan saja dengan jawaban yang menimnulkan kebingungan yang berdampak kerugian mahasisiwa.
    media scientiarum kayak media gosip aja. sampai-sampai ada kata ga enak di baca n bahkan saling nantang .tolong kita jungjung etika yang berlaku. memang kebesan berbicara/kebebasan press ada, tapi ada norma yang mengatur kita.buat ketua sema FTI sekarang bukan jamannya lagi seorang pemimpin berkata begitu.sederhana saja anda jadi ketua sema karna mahasisiwa, uang yang dipake untuk jalankan program adalah uang mahasiswa. jadi posisikan diri anda. secara garis struktur yang berlaku di LK UKSW, hubungan LK dengan fakultas(dosen) sudah jelas. bukan jamannya lagi LK di doktrin oleh kepentingan.

  9. Komentar ke-131

    Kembali mengenai kualitas dosen. Kalo pada posting sebelumnya saya mengatakan KUALITAS DOSEN sangat tergantung pada pendapat pribadi mahasiswa itu dalah KUALITAS DOSEN MENURUT PANDANGAN MAHASISWA…

    Menurut pendapat saya pribadi, kualitas seorang dosen dapat dilihat (mungkin diukur???) dari beberapa parameter:
    1. Tingkat Pendidikan, Ada 3 tingkatan (Sajana(S1), Master (S2), Doktor(S3))
    2. Tingkat Fungsional, Ada 4 tingkatan (Asisten Ahli, Lektor, Lektor Kepala, Guru Besar atau Professor)
    3. Pengalaman Mengajar atau sudah berapa lama kerja sebagai dosen/pengajar? (misalnya 5 tahun, 10 t ahun, 15 tahun) - hal ini cukup menentukan seorang dosen dalam pemahaman teori
    4. Khusus untuk bidang Teknik/Sains, Pengalaman Praktis penerapan ilmu di dunia nyata (dalam dunia kerja, dsb)

    Cheers…

Halaman: [14] 13 12 11 10 9 8 7 6 5 41 » Lihat Semua

Berikan pendapat anda. Bergabung dalam diskusi.

PERHATIAN. Setiap komentar akan melewati proses moderasi sebelum tampil. Silakan berkomentar dengan sopan dan bertanggungjawab. Komentar anonim atau alias tetap diperbolehkan, namun kami mengimbau agar anda sudi menunjukkan identitas asli. Komentar yang menyinggung isu SARA atau melanggar etika kesopanan tidak akan ditampilkan.

SPONSOR LINK