Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Kelas Tabrakan, Fasilitas Kurang, Mahasiswa di Mana-mana. So What?

Rubrik Kampus oleh

“Katanya ntar mau ada open forum ya?” “Iya … di BU.” Beberapa waktu lalu, Fakultas Teknologi Informasi (FTI) mengadakan sebuah “ritual” sharing atau sering disebut dengan istilah “open forum” antara mahasiswa dengan dosen berkaitan dengan kejelasan sistem perkuliahan di FTI, yang masih memberikan tanda tanya bagi beberapa mahasiswa. Dalam open forum ini pula, setiap mahasiswa yang memiliki uneg-uneg tentang kegiatan perkuliahan juga dapat disampaikan dan akan langsung diberikan jawaban dari pihak fakultas.

Ada beberapa keluhan yang dilontarkan mahasiswa FTI kepada pihak fakultas, antara lain adalah Elly dari angkatan 2004 yang menanyakan tentang jadwal kuliah yang masih kacau dan jumlah kapasitas kelas yang tidak sesuai dengan yang tertera pada jadwal SIASAT (misalkan di SIASAT tertulis kapasitas maksimum 40 orang, tetapi di kelas ternyata ada lebih dari 40 mahasiswa).

“Mana bisa konsen kalo orangnya kebanyakan?” keluh salah seorang mahasiswa. Keluhan ini dijawab oleh Dekan FTI, Ir. Danny Manongga M.Sc, Ph.D. Beliau menuturkan bahwa FTI akan mencoba untuk membuka pendaftaran kelas baru sebelum trimester berakhir. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi overload-nya jumlah mahasiswa dalam sebuah kelas. Selain itu, jumlah mahasiswa yang tidak sesuai dengan yang tertera pada SIASAT juga disebabkan oleh ketidaksinkronan informasi antara FTI dengan pihak administrasi pusat.

Keluhan lain juga disampakan oleh Arif, mahasiswa FTI Program Studi Teknik Informatika angkatan 2003. Arif mengeluhkan masalah kurikulum di FTI yang belum sesuai dengan tuntutan dunia kerja, sehingga sedikit menyulitkan bagi mahasiswa yang akan melaksanakan KP (kerja praktek — Red). Selain itu, Arif juga memberi masukan bagi FTI, jika FTI belum bisa memenuhi fasilitas bagi jumlah mahasiswa yang ada (saat ini jumlah mahasiswa FTI kurang lebih 2.000 orang), hendaknya untuk tahun mendatang, bisa mengurangi jumlah mahasiswa yang akan masuk ke FTI. Menurut beberapa mahasiswa FTI sendiri, untuk meningkatkan kualitas FTI, tidak hanya bergantung pada jumlah mahasiswa yang besar, tetapi lebih pada peningkatan kualitas di dalam FTI itu sendiri, mulai dari kualitas pengajaran dosen, transparansi nilai, pemenuhan fasilitas bagi mahasiswa, maupun materi perkuliahan.

Berbeda dengan Arif, salah seorang mahasiswa FTI dari angkatan 2006, Raymond, mencoba mengklarifikasi kembali tentang penerapan sistem trimester di FTI. Yang menjadi pertanyaan Raymond adalah, “Pantaskah sistem trimester diterapkan pada fakultas teknik, mengingat ada juga mahasiswa yang merasa ‘dikejar’ oleh materi, karena dalam waktu yang relatif singkat, setiap mahasiswa harus ‘menelan’ sedemikian banyak materi. Padahal kualitas ‘telan materi’ setiap mahasiswa jelas berbeda. Ada yang memang dilahirkan dengan kemampuan yang ujubile pinter banget, tapi juga ada yang merasa pas-pasan.” Selain itu, Raymond juga mempertanyakan tentang pernyataan dari Dikti, agar mengubah sistem trimester menjadi dwimester, “Yang ditakutkan, bagaimana dengan nasib lulusan FTI nantinya?”

Pertanyaan Raymond, dijawab dengan mantap oleh Dekan FTI, bahwa Dikti tidak mempermasalahkan hal tersebut, tetapi malah meminta untuk membuat studi tentang sistem ini. Sebagai informasi tambahan, sistem trimester juga telah diadopsi oleh pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Dekan FTI juga menjamin, bahwa lulusan FTI tidak akan dicekal.

Yang menarik dari open forum ini adalah kebanyakan mahasiswa FTI mengeluhkan tentang kurang memadainya fasilitas bagi setiap mahasiswa FTI, mulai dari jadwal yang bertabrakan, sampai penggunaan laboratorium yang pernah sampai satu komputer dengan terpaksa harus digunakan oleh lebih dari satu mahasiswa. Dalam open forum FTI ini segala keluh kesah tentang hal tersebut, justru diutarakan dengan pertanyaan singkat oleh Christia Putra, mahasiswa Program Studi Teknik Informatika angkatan 2004. “Jika perbandingan fasilitas yang ada dengan jumlah mahasiswa FTI tidak sebanding, sebenarnya kemana uang fakultas?” Pertanyaan ini disambut dengan tepuk tangan riuh seluruh peserta open forum, mungkin beberapa merasa terwakili pertanyaannya. Menanggapi pertanyaan Christia, Dekan menjawab bahwa saat ini FTI sedang menyusun satgas untuk pembangunan laboratorium baru.

Beberapa waktu lalu, SA juga sempat mewawancarai beberapa mahasiswa FTI yang terlambat datang pada ritual open forum. Seorang mahasiswa angkatan 2005 sangat mengeluhkan jadwal sebuah mata kuliah yang tabrakan dengan mata kuliah lain (sebut saja mata kuliah A). Belum lagi, mata kuliah ini sudah beberapa kali kosong. “Wah … Ini sih buang-buang duit saja,” keluh mahasiswa tersebut. “Nampaknya pengaturan jadwal untuk kelas ini sangat tidak matang karena kelas ini sudah pindah jadwal lebih dari sekali, dan ternyata masih bertabrakan dengan mata kuliah lain, sehingga ada mahasiswa yang terpaksa melakukan ‘kuliah fleksibel’ dalam artian: karena ada mata kuliah lain (sebut saja mata kuliah B) yang bertabrakan dengan kelas A ini, sehingga mahasiswa tersebut hanya mengikuti kuliah A, jika kuliah B kosong. Tetapi jika keduanya tidak kosong, tentu saja mahasiswa ini harus memilih salah satu,” beber mahasiswa tersebut. Dan tidak hanya satu mahasiswa saja yang mengalami hal ini.

Ada sebuah usulan yang dilontarkan oleh salah seorang mahasiswa yang sempat ditulis oleh SA, โ€Wah … Kalau begini, seharusnya jika kelas ini dibuka lagi, kita boleh ikut dengan biaya gratis dong!” Akankah usul ini terwujud? Kita lihat saja nanti. Dan semoga dengan adanya open forum yang hanya dihadiri tidak lebih dari seperempat jumlah mahasiswa FTI ini dapat menyuarakan aspirasi dari seluruh mahasiswa FTI yang “haus” akan kecukupannya fasilitas bagi mereka.

Tags:

156 Comments

  1. anda kok napsu banget, ini mental ketua redaksi yang tidak bisa nahan emosi,

    yang benar aja mas, kalau mau tanya kualitas mahasiswa FTI, ya anda sendiri juga harus berkaca, apakah anda sudah berkualitas, atau punya otak yang pas-pas, malahan dungu mungkin ya.

    anda bertanya tentang kualitas mahasiswa FTI, disisi lain dalam redaksi anda juga ada mahasiswa FTI, berarti dia tidak berkualitas dong.

    btw, kesimpulan saya kualitas redaksi scientiarum juga patut di pertanyakan. anda minta identitas saya??? lucu banget… kayak mau perang dunia ke-3 aja mas…

    wakaka…sungguh orang yang aneh….sangat…sangat aneh

  2. ealah dudut.. malah kepotong.. ni yg komplet..

    Duh2.. pada ribut..

    Dah tau ini bukan forum masi pake istilah forum.. ck ck ck..
    dah jelas logonya dibawah W = blog
    buka cpanel .. install phpbb ato apa kek gitu..
    trus buat forum:
    – Lounge
    Tempat perkenalan diri, omongan santai sambil ngopi,dll..
    – Kritis
    Tempat buat ngasi kritikan pedas, kritis, n tukar pendapat.. kl bisa solusi sekalian..
    – Kloset
    Tempat ngumpat, maki2, ribut, senggol2an, kl perlu kopi darat di ring tinju skalian ^^
    – dll..

    Gitu kan lebih enak..

    Skali lagi ni saran aja buat pengelola web..
    dr pada udah nulis cape2 truz dihapus sendiri kan rugi..

    mending forum.. mo nuntut pake KUHP juga ga bakal jelas juntrungannya..
    paling juga berakhir dengan salam2an.. ๐Ÿ™‚ wkwkwkwkwk..

    lagian juga apa ga ada yg mratiin c.. comment2 disini udah pada meleset dari dari topic.. “Kelas Tabrakan, Fasilitas Kurang, Mahasiswa di Mana-mana. So What?”

    lah disini pembicaraan mulai kemana2.. topiknya kan fti.. yg notabene uksw juga.. kcuali udah pada ga concern ma uksw ya udah kelaut aja..

    debat kusir sih debat kusir.. tp juga pake topik yg sesuai dong..

    kl masalah unjuk diri asli siapa, sory gw orang penting di uksw.. jadi malu kl harus bicara disini.. hahahahaha…
    kl mau korespondensi send me mail to speechlessminds@gmail.com

    fair enough?

    err.. sedikit masukan buat penulis.. utamakan fakta bukan apa yang di”katakan” orang.. itupun kl masi mau pake etika apa tadi diatas.. etika jurnalisme.. bukannya jd goshow..

  3. @ john iskandar: Lho? Kan tadi kamu minta SA untuk nyeponsori demo FTI … Jadi wajar kan kalo aku minta ketemuan untuk bahas hal itu lebih lanjut dan intens? Aku ngajak kamu ngobrol baik-baik. Lalu, di bagian mana kamu akan menilai kalo aku lagi emosi? Hehe … Tolong buktikan supaya kamu ndak dianggap asal bunyi di sini. ๐Ÿ™‚

    Aku sudah berkualitas? Jelas sudah dong. Liat aja, aku ndak pernah pakai komen anonim (menyembunyikan identitas) dan komenku selalu pada konteks pembicaraan (ndak pernah OOT apalagi ad hominem kayak kamu).

    Aku tau betul kualitas para mahasiswa FTI yang ada di SA dan aku pikir mereka bisa dikenakan perkecualian. Tentu saja, argumen ini ada dasarnya. Paling tidak, gaya pikir mereka tidak seperti kamu yang aneh tapi mengatai orang lain sebagai orang aneh. ๐Ÿ™‚

    Inilah bukti nyata bahwa kualitas otakmu sangat di bawah rata-rata, John (atau siapapun namamu sebenarnya). Masak minta identitas aja dibilang mau perang dunia ke-3? Bukankah wajar kalau seseorang menanyakan identitas lawan bicaranya? Ibarat sedang berkomunikasi lewat telepon, di sini aku seperti sedang berkata, “Halo. Dengan siapa saya bicara?”

    Anehkah itu? ๐Ÿ™‚

  4. simple..aja yg kualitas otaknya rendah sapa?

    “…mikir belakangan. Nah, nyari orang yang mau mikir itu susah, karena banyak yang โ€œgak iso opo-opoโ€ tadi.

    Mbok scientiarum mensponsori demo FTI, wani gak?”

    kalimat retorik gini aja bisa ngga ngerti… duh kacau..

    lgian siapa jg yg mau berkoalisi sama anda..

    as simple as that..

  5. @ SpeakYourMind: Forum itu bukan masalah platform-nya, Om. Tapi tempat yang bisa ditimbrungi juga udah bisa disebut forum, kayak blog ini.

    Semua sudah diperhitungkan oleh SA, termasuk komentar-komentar OOT di atas. Jadi memang mekanisme diskusi sedang kami biarkan seperti ini untuk beberapa waktu. Segala pertimbangannya tentu adalah privasi kami sebagai redaksi. ๐Ÿ™‚

    Ya tetep aja ndak fair kalo gitu … Wong saya di sini sudah buka identitas kok anda cuma kasih alamat email …

    Lha yang ditulis sama wartawan SA di atas itu kan udah fakta, Om. Mana yang bukan fakta? Coba anda beri verifikasinya lewat fasilitas komentar ini. Trims.

  6. @ john iskandar: Wah, istilah baru nih: “retorik.” Sayangnya, saya di sini sedang tidak beretorika, Bung. Semua kata-kata yang saya ucapkan di sini bukan sekadar retorika.

    Lain kali, kalo anda cuma mau beretorika tanpa tindakan nyata, mending direm dulu aja kata-katanya. Ini cuma saran. Karena saya ndak pernah main-main, bahkan di forum komentar seperti ini. Karena ini bukan tempat iseng. Ini tempat orang bertanggungjawab.

    Kalo ndak mau berkoalisi, ya ndak usah ngajak-ngajak … Kalo “ya,” ya. “Ndak,” ndak. Jangan yang “ndak-ndak” itu “iya-iya.”

    Saya pamit dulu dari forum ini. Mau ngopi dulu. Atau kita kopdar sekalian? ๐Ÿ™‚

    Selamat berkomentar!

  7. @ SpeakYourMind: Lha itu dari komen-komen yang masuk kan udah bisa keliatan kalo sebagian besar orang yang nimbrung di sini pada ndak tau netiket. Netiket itu urusan nanti lah … Yang penting temen-temen semua di sini belajar nulis dulu, nulis komen, mengutarakan pendapat, pake logika, dan sebagainya.

  8. Aku Alumni SA,yang (maaf) namaku terlalu panjang dan silahkan liat aja diatas dan sesuaikan dengan inisial (huruf depan).
    @ STR vs John Iskandar : mending kalian buat forum sendiri aja.Biar bisa terselesaikan dengan klimaks,tanpa melibatkan orang lain bahkan membawa nama institusi.
    Buat demo koq minta disponsori??Inikah cermin mahasiswa kita saat ini.
    Aku jadi ingat kejadian beberapa tahun yang lalu.Ketika saat itu (kurang-lebih) 300 mahasiswa FTI melakukan “aksi damai solidaritas untuk FTI”.Apakah ketika itu juga ada sponsornya atau memang bener2 menuntut keadilan untuk fakultas anda.Layak dipertanyakan????
    Aku pikir undangan SA kepada Bung John Iskandar merupakan itikad baik dari redaksi SA untuk menjembatani perbedaan pendapat Bung John dengan STR.Jadi bukan berarti “menantang” apa lagi bergaya sok preman.
    Budaya kami di SA dari dulu hingga sekarang adalah senantiasa memberikan ruang bagi perbedaan pendapat dan mencoba mencari titik temu terhadap perbedaan pendapat tersebut dengan cara dewasa,elegan,dan intelek.
    Dan meminta kejelasan identitas anda merupakan tanggung-jawab redaksi,bukannya menantang “3rd WorldWar”.Jika permasalahannya anda tidak berani mengungkapkan identitas anda,maka redaksipun juga akan menyembunyikan identitas anda atas permintaan anda,artinya anda layak mendapat perlindungan dari redaksi.Itu etika jurnalistik.Nah kalo anda di awal sudah tidak berani mengungkapkan identitas anda maka redaksi layak menganggap anda sebagai PENGECUT.

    @SpeakYourMind : Kembali ke topik awal,aku berpendapat bahwa apa yang di”kata”kan orang tersebut,ketika sudah dilakukan klarifikasi ke orang tersebut dan kemudian dicarikan pembanding (kontra argumen),atau sisi proporsionalitasnya sudah terpenuhi maka hal tersebut merupakan fakta dan bukan seperti yang anda katakan sebagai “goshow”.Mungkin anda sendiri yang terlalu banyak melihat acara gosip sehingga anda susah membedakan mana yang gosip mana yang fakta.Hal tersebut bisa anda lihat lagi dari proses penulisan pemberitaan di atas.Apakah SA sepihak mengakomodir apa yang dikatakan mahasiswa saja???Lalu bagaimana dengan pendapat DM selaku Dekan FTI yang juga tertulis di berita tersebut??Apakah DM juga sedang bergosip-ria mengenai fakultas-nya??
    Pesan aku : Tolong anda baca secara teliti!!!Sekali Lagi : Baca Dengan Teliti !!!!
    Masalah netiket,anda juga seharusnya menggunakannya (berkaitan dengan kekurang-telitian anda).
    Suwun.

  9. saya adalah alumni elktro+pimred imbas.
    wah kasihan teman teman SA pusing mikirin FTI. fakultas SAKIT HATI ja dipikirin.
    dah bubarin ja FTI dak da gunany7a.

  10. Lha wong dosennya pada diem sadar klo FTI tidak bisa memfasilitasi mahasiswa luber, kok mahasiswa pada belain udah disogok piknik apa jilat dosen biar nilai.

  11. @lintang: mari kita belajar profesional aja ketika penulis menulis artikel ini, posisikan dia sebagai jurnalis. bukan sebagai mahasiswa FTI!
    kemudian, bila anda berada di posisi pemred dan anak buah anda mendapatkan sebuah intimidasi, apakah anda akan bergaya ‘preman’ seperti yang anda katakan? bila demikian, anda tidak pantas untuk menjadi pemimpin, bahkan pemimpin rumah tangga-pun tidak pantas.
    @Ketua SEMA FTI, coba anda melihat di papan pengumuman FTI, apakah ada pengumuman dari dosen yang kata-katanya bisa dianggap “membungkam” mahasiswa sendiri?(silakan nilai sendiri bagaimana kondisi fakultas anda)–> saya dapat info dari anak FTI sendiri ๐Ÿ˜€ Kemudian, bila SA harus meminta ijin kepada FTI, maka ini bisa kembali ke masa orde baru di mana tidak ada KEBEBASAN dalam mengungkapkan sebuah kejadian. mungkin anda bisa meminta kepada dosen untuk memberikan komen di sini? yach untuk meluruskan masalah tabrakan kelas ini. saya dengar, FTI Raker di BALI, apa aja yang dibahas? apakah FTI hanya foya2 dan tidak mempedulikan mahasiswa tuch? rasa ingin tahu saya muncul, kenapa harus di BALI? berapa biaya untuk raker? pasti besar! bisakah dana untuk ke BALI tersebut di berikan untuk fasilitas mahasiswa? RASA INGIN TAHU MODE : ON
    mari kita intropeksi diri kita masing2. bila memang FTI kesulitan meng-handle mahasiswa yang begitu banyak, tahun depan, kurangi porsinya… oya, untuk ketua SEMA, saya dengar FTI mau buka progdi baru yach??? SELAMAT aja deh… buat mahasiswa, siap2 protes ke dosen atau minta tolong BPMF kalau kejadian kelas tabrakan, dosen tidak ada…, ato mungkin bisa2 dosen ‘teman sendiri’.

    ” kepada siapa lagi kita harus bertanya? Apakah kepada RUMPUT yang bergoyang? “

  12. @ODI : Jelas Asiklah, wong udah diajak konsolidasi(“piknik”).
    @Codoc : Saya seh ga setuju klo dibubarin FTI. Klo di reformasi setuju banget.
    @STR : Tidak usah ladeni SpeakYourMind.. dia itu orang sok penting aja..!! apalagi John Iskandar…. ๐Ÿ™‚
    @john iskandar : kamu itu emang “cerdas” or emang hampir cerdas… kok ngomongya mutar2 nggak jelas gitu????? dari Fakultas apa seh..?

  13. Wah masih ramai rupanya….
    Ternyata banyak yang perduli terhadap FTI dan SA. Saya semakin cinta pada kampus ini ^_^

    Dosennya ada lagi gak yang mw kasih comment???? Pimpinan Fak kalau ada lebih baik lagi. Semakin banyak semakin baguuuus. Biar yg disini pada dingin kepalanya,gak berantem lg karena kinerja kalian yang dirasa emang kurang itu.

    Yang menarik saat ini adalah “Para DOsen FTI pergi berbulan madu ke BALI”. Ganti obrolannya ke topik diatas saja. SETUJU ? ya atau ya? ^_^

    1.Kalau boleh tahu sebenarnya pimpinan mhs “tahu dan menolak” atau “tahu dan menyetujui” ?

    2.Dapat biaya dari mana saja itu?dana mahasiswa semua kah? “wah bahaya itu,perlu diboikot kalau begitu caranya”, tp dah terlambat deng ๐Ÿ™ padahal 2000 mhs FTI kan juga kepingin ikut hahahahahahahahahahahahahaha.

    3.Kenapa tidak ke luar negeri saja sekalian? ajak juga semua mhs FTI,kan pake uang mereka jadi mereka juga berhak ikut donk! iya kan,? Termasuk saya juga diajak!

    HIDUP FTI,SA,UKSW !!!!! HIDUP me-Q hahaha,sory ganteng dobel ak salah tulis ^_^

    GBU ALL

  14. Hai all, thx ya buat kritik dan sarannya…..

    besok jumat, 29 februari 2008 datang semua ke lapangan basket…

    ada KKR tuh…..semua yang kasi dah kasih komen dataang ya…

    gbu all

  15. dungleng dungleng…….
    ikut nimbrung…
    “apa guna punya ilmu tinggi kalau hanya untuk mengibuli, apa guna banyak baca buku kalau mulut kau bungkam melulu” sepenggal lagu dari JAKER ini sebagai bahan interupeksi kita.
    to: ketum SEMA FTI .> jika anda mengaku sebagi Ketum SEMA FTI, apakah anda mengetahui semua jeritan masalah mahasiswa FTI ? saya percaya anda punya hikmat untuk melihat mana yang baik dan mana yang salah.apalagi anda seorang KETUM SEMA yang idealnya menyuarakan suara mahasiswa bukan menyuarakan ketidak adilan.
    untuk SA : baiknya ada forum diskusi(di web ini) sendiri agar koment nya tidak membias atau sebagai ajang caci maki.

    untuk semua salam pembebasan

  16. Hahaha..lucu

    Buat orangmuda..santai aja bung..otot2mu ga usah ditunjukin..habis2in energi..hehehe. Tpi jangan2 SA juga anti kritik..

    Buat penulisnya..sip..sip..dah berani..banyak belajar say

    Buat whs…S.Si??cuit..cuit..

    Buat om Y.R. SE,MM..ke Bali kok ga bilang2..hehe, padahal aku mo minta traktiran. Kasih komen dong…

    Buat MQ..sok ganteng lu!!

    Buat mb3nk..puisi2mu top abislah, tiada tara..

    Buat DR.DM (mantan dosenku nih).. Siap Ndan!! yang tabah..memang sudah harus seperti itu..

  17. Hai salam kenal aja, gue mhs FTI 2004. Gue cuma pengen FTI mau berbenah diri aja n mo ningkatin kualitasnya. Ada beberapa yg pgn gue komentarin.
    Pertama, soal Raker di Bali,penting kah sampai sejauh itu,apakah berpengaruh terhadap peningkatan kualitas pelayanan fakultas?atao sekedar “piknik+rapat” bersama?
    Kedua, kok bisa sih mahasiswa yg belum lulus menjadi pengajar di kelas menggantikan peran dosen di kelas(katanya sih team teaching?)Lha trus apa kriteria dosen FYI?berhak kah mahasiswa lain memberi nilai kepada mhs lain. (kejadian di Progdi TI utk matkul Sistem Informasi

  18. @Aspirasi Mahasiswa FTI : Memang itulah gambaran FTI saat ini,terkadang mereka sering menyatakan bahwa mereka itu benar adanya dengan mengatas namakan mahasiswa tetapi kenyataannya kebijakan-kebijakan yang dibuat belum sepenuhnya untuk mahasiswa FTI secara menyeluruh.

    sebagai contoh : RAKER BALI, coba mereka gunakan dana tersebut untuk memperbaiki komputer-komputer lab yang rusak ataukah mencari dosen-dosen baru yang berkualitas, kan lebih baik !!

    Saya sich cuman bisa berharap dan berdoa biar pintu hati mereka terbuka lebar… Caileh ๐Ÿ™‚

  19. hahahahaha….
    Buat semuanya… ternyata memang waktu yang membuktikan….

    Ingat ngga waktu FTI sibuk demo menolak hasil Pooling, sekitar tahun ajaran 2005-2006…? Yang melibatkan banyak mahasiswa untuk berdemo. dengan rumor di absen.. ck..ck..ck..!! Yah ternyata sekarang terjawawab kualitas FTI yang banyak kekurangan.

    Marilah kita Dukung agar FTI Lebih Maju…
    Oleh karena itu kritikan dan saran akan sangat bermanfaat

  20. @ iB3Rt : Ngiri niii yyee, gak dapet traktiran waktu di Bali. Btw SA ga anti kritik koq, cuma gerah aja kalo ada krtik yang ga berdasar. itu aja.
    @ Ferdi : Kalo mo ngebahas rakernya FTI bikin dong liputan khusus-nya, coz di groups uksw di friendster juga rame tu. kan u udah jago bikin berita.gmn?

  21. #Aspirasi Mahasiswa FTI : Klo lo memang benar membawa aspirasi mahasiswa FTI 2004 tunjukin identitas lo:ga usah pake nickname segala..klo lo mau kita bisa ngobrol bareng…jangan cuma ngomong di belakang..tanggapan gw tentang peryataan lo ini:tapi ingat tanggapan ini bukan untuk membela salah satu pihak baik mahasiswa ataupun Fakultas..tapi gw mau menceritakan keadaan yang sebenarnya…
    kalo mahasiswa belom lulus trus disuruh ngajar menggantikan dosen, itu wajar-wajar saja dan memang bisa dilakukan oleh fakultas manapun di Universitas ini,itu namanya assiten kontrak sama halnya dengan assiten yang mengajari kita baik praktikum maupun kelas dosen (gw juga pernah koq jadi assiten kontrak di STIBA,nilai mahasiswa pun gw yang kasih,lulus dengan tidak lulus pun keputusan ada di tangan gw,bahkan gw pernah tidak meluluskan 8 orang mahasiswa STIBA untuk matakulisah tersebut)…kejadian seperti ini memang pernah terjadi di FTI pada saat itu memang FTI sangat membutuhkan pengajar untuk matakuliah tertentu…yang jadi pertanyaan sekarang adalah apakah yang jadi “assiten” kontrak itu benar-benar berkompeten untuk matakuliah tersebut..?

    Semoga bisa dijadikan Referensi
    Terima Kasih

  22. moga aja FTI belajar dari kejadian trimester kemaren (kelas tabrakan, dosen ga ada dll)….

    so…trimester depan ga ada kejadian kaya gitu lagi….!!!!!!!

    amien….

    cayoooo!!!!!!!!!

    -GBU-

  23. kalau FTI blum punya lab yang memadai gimana kalo kuliahnya dipadatkan aja 7 hari full biar ada yang bisa meringankan tugas jaga satpam… hehehehehe trus kalo kepenuhan juga FTI-kan fakultas besar ya.. paling tidak dananya banyak, sewa Warnet aja… hehehehehe.

  24. to all please study before give comment.hehe…..
    ibert>>>>ditunggu posting beritanya
    Penulis>>>>salut….
    str>>>>>>grow up men…

  25. kok yang disorot cuman fti, emang di satya cuma ada fti doang……?
    kalau kritik untuk membangun ya harus liput s’mua fakultas donk…..

  26. @B R E : kalau berpendapat bok yach liat-liat dulu lah isi berita keseluruhan dari Scientiarum edisi kemaren,. Kamu pasti belum baca semua kan? nanti keliatan bgt kalau km asal ngomong sj. “Kalau usul jangan asal, kalau asal boleh usul”.

  27. Mas Satria aku anak 2006 FSM. Bagus banget nech scientiarum buat kritik n saran. Moga dengan adanya scientirum UKSW tambah maju n jalan di jalane Gusti Yesus. Tak dukung Mas Sukses 4 Us yo Mas……

  28. hehee..wah,,,namanya aja KETUA SEMA!!!tapi kenapa arogan? mungkin anda adalh ketua,,tapi ternyata anda bukan PEMIMPIN!!!
    selamat berada di menara gading…
    mempertahankan “harga diri” memang harus dilakukan,,,tapi jangan chauvinis lah…emang dapat rumah dinas ya?kok sampe segitunya..
    dan buat pak pemred SA,,biarkan “sumber berita” menggunakan “hak jawabnya”…tanggapilah dengan senang hati,,,,

  29. untuk menjadi fakultas yang besar dan tangguh
    memang harus tahan kritik, dan cemooh
    diambil positifnya saja semuanya

    yang penting tetep memberikan yang terbaik untuk semua bentuk masukan

  30. @ojhon :

    Wah.. Klo asisten sih aq setuju. Tapi ngajar aq ngga setuju. kecuali kasus khusus.

    (Waktu siasat tertera dosen pengampu mas Ron FE. Sekarang malah diajar mahasiswa……….. tidak boleh protes pula, Arogansi FTI)

    Menurut anak FTI yg cerita sama aq.

    Dia itu di ajar full satu semester di
    FTI.
    Ingat bayar kuliah itu biar diajar oleh dosen.

    FTI-kan banyak duit, masak-kan bayar dosen yg kompeten saja tidak mampu??

  31. Waduh banyak duit sich FTI…tapi dinikmati semua orang…terima kasih telah membantu FTI untuk berkembang. dengan saran dan kritik teman2 semua akan membangun kami lebih baik lagi….THX n’ GBU ALL

  32. @ Febri : nah itulah masalahnya,…sepengetahuan saya sich,waktu itu memang tertulis nama mas Ron-FE tapi karena keterlambatan konfirmasi administrasi antara pejabat FTI dengan Pejabat FE- Ekonomi (dalam hal ini Mas Ron)oleh karena itu jadilah keputusannya yang ngajar mahasiswa..(katanya begitu–maklum saya tdk punya bukti otentik)sedangkan untuk komentar yang diatas..itu untuk kasus laen mas..berarti kalo saya hitung2 ada 2 kasus yang sama di FTI…apik…!!!!!
    dan ada lagi komentar saya, klo memang mahasiswa tersebut “lebih berkompeten” dari dosennya kenapa ga?
    berarti semua kelas praktikum dan assitensi langsung ditangani oleh dosen yang bersangkutan..trus assisten diangkat hanya untuk bawa laptop,LCD,perbnyak Materi dosen, kemudian dibawa ke kelas..apik maneh qui…!!!!

  33. WHS = Wawan Heru Suyatmiko,,,,???= kenthirrr,,,,???
    Thanx tir, baru kali ini aku buka scientiarum,,(sorry baru sempet walo udah lama denger nek bocah siji iki wartawan kampus)
    hmmm,,,asyik juga baca komen2 ala mahasiswa…enak-enak,sak kenane, bahasane sak enak udele dewe, tapi langsung nuncep jleb pas sasarane,,,tulisan beritane yo enak diwoco…hmmm,,,
    Sory ga bisa kasih komen qq FTI,, lha fak anyaran seh,,,mending ora melu mbacot wae ah,,lha aku wae rak ngerti gedunge FTI neng sebelah ndi…koq meh komentari..hehehe
    sukses bwt jurnalistik kampus,,,,

    salam kanggo WHS=chilik tapi tuo…:))

    nyuwun ngapunten nek ora berkenen,,,cuman nderek langkung, numpang lewat,,,

    matursuwun,mauliate – sai diramoti Tuhanta ma hita saluhutna – AMIEN

    Silalahi

  34. to febri, aku lucu juga sama kamu, bisanya kritik dan trus kritik, kawan tidak ada yang sempurna, kalau FTI banyak uang dan di kelola oleh FTI, pasti tidak dapat disangsikan lagi, pasti yang terbaik dapat diberikan pada mahasiswa, tapi kalau uang yang banyak digunakan untuk hajat hidup UKSW, itu baru namanya hidup bersama.
    feb, gimana dengan pertanian, dan lain-lain???? mahasiswa sudah hampir ndak ada, tapi status dosennya sudah bergolongan tinggi, untuk bayar mereka dari mana???
    saran saya pada anda, janganlah menjadi pahlawan, terlalu lucu jadinya. kenapa?? anda tidak tau realita yang sebenarnya. anda adalah outsider, jadi koreksi diri anda dulu??? apa lagi anda sebagai redaksi…. wah…wah sungguh mengherankan, kalau kualitas redaksi seperti anda… mungkin scientiarum perlu mencari redaksi yang lebih berkompeten lagi… itu saran saya bro….belajarlah untuk menjadi orang yang tidak hanya mengkritik….

  35. @ John Iskandar : Melihat komentar anda, saya rasa anda berusaha menjadi pahlawan di FTI. hahahahaha….

    Kalau anda rasa kualitas saya rendah, saya akui. Oleh karena itu saya berproses disini sebagai salah satu media.

    Oh ya… saya selalu belajar kok.. termasuk untuk mengkritik dan dikritik..
    trims untuk perhatiannya.

    (Feb, gimana dengan pertanian, dan lain-lain???? mahasiswa sudah hampir ndak ada, tapi status dosennya sudah bergolongan tinggi, untuk bayar mereka dari mana???)
    Saya kira anda tahu juga bahwa di UKSW ada mekanisme subsidi silang, sebagai bentuk hidup bersama di UKSW.

    Itulah hebatnya fakultas seperti pertanian dan biologi, dll. dengan dana yang sangat minim tetap berusaha memberikan mutu yang terjaga dengan dosen yang kompeten.

    Pertanyaan saya realitanya bagaimana ? ceritalah yang jujur biar semua tahu…

  36. feb, bisa jadi parasit ya…. kalau bicara subsidi silang, yang berbenah dong, jangan cuma mau jadi parasit trus…. UKSW ada bukan untuk menghidup orang pemalas …..

  37. @john Iskandar : Sekarang kualitas anda terlihat. hahahahahaha…

    Beranikah anda bilang Ferry Karwur pemalas? atau Prof Sony Heru Priyanto Pemalas, Atau Prof Liek Wilardjo Pemalas, hanya karena fakultas mereka defisit

    Ini tidak saya lanjutkan, karena membosankan berdebat dgn anda.. Mungkin di forum lain saja.

    Pertanyaan saya realitanya bagaimana ? ceritalah yang jujur biar semua tahuโ€ฆ (ini belum terjawab, dari komen sebelumnya).

  38. @ john iskandar: Tampaknya anda adalah orang yang pengecut sekali. Dari dulu buang komen di sini dengan identitas anonim yang tak dapat dipertanggungjawabkan. Sudah begitu, komentar tak ada yang bermutu semua. ๐Ÿ™

    Ingin hati membela FTI, apa daya berani saja tak mampu.

    Komentar anonim = PENGECUT. ๐Ÿ˜€

  39. @JohnIskandar : Saya tidak sependapat dengan kamu, FTI kekinian tidak butuh uang yang banyak., uang yang ada sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur FTI saat ini tinggal bagaimana memenej-nya saja. Yang paling penting dibutuhkan oleh FTI hanya pada ‘Reformasi’ di tingkat managerialnya saja, saya mengambil contoh : @ojhon, mengapa bisa sampai terjadi miss pada pemilihan dosen yg akan mengajar sehingga mahasiswa yg harus mengajar kepada mahasiswa (diluar konteks asistensi)? “pada tingkatan managerialnya yang salah menurutku”. Mengapa bisa terjadi miss pada saat pengambilan kelas praktikum (3 minggu setelah perkuliahan br kelas prak dimulai),(pengalaman pribadi)? “kembali ke tingkatan managerial”. Dan masih banyak sebenarnya contoh yang lain.

    Andaikata persiapan lebih matang dan terencana, semua hal itu tidak akan terjadi. Dan aku harap kamu jangan membela “ketidakberesan” tersebut.
    Saya lebih setuju bila mhw FTI dan pimp Fak bisa duduk bareng untuk membicarakan hal ini dan saya sangat bersedia bila diundang untuk menghadiri pertemuan tersebut. Penting gak ya kalau sy ikut nongol disitu ๐Ÿ™‚

    Ada satu hal menarik yg saya alami beberapa hari yang lalu. Saya sempat ngobrol dengan salah seorang dosen FTI, dia berkata persis seperti apa yang kamu pikirkan saat ini. Tapi yang jadi permasalahan disini bagaimana mungkin FTI menggunakan dananya sendiri tanpa harus melalui subsidi silang? bila biologi, pertanian dan fak yg lain tidak memiliki dana, apa FTI sanggup berdiri terus (UKSW ‘keyos’)? Kita ada disini karena UKSW dan UKSW ada karena semua civitas akademika yg ada saat ini.

    Pernahkah fakultas mapan seperti Ekonomi, Hukum, Elektro, FBS mempersoalkan keuangan yang mereka dapatkan dari Universitas? Hilangkan rasa iri dari pikiran kita masing-masing.

    Disini saya tidak menyalahkan siapapun juga. Tapi saya hanya berharap komunikasi yang baik bisa terjalin antara Fakultas dan Mahasiswa agar tidak terjadi salah persepsi di kemudian hari yang hanya akan menimbulkan opini-opini pribadi yang simpang siur. Untuk bapak dosen ku tercinta yg kemarin telah berbaik hati mengajak aku ngobrol, janganlah dirimu terlalu menyimpan dendam kesumat dan iri hati kepada pihak manapun di UKSW ini, jadilah seorang KRISTIANI yang selalu menebarkan Kasih dan lihatlah kondisi yang terjadi secara “arif dan budiman”.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas