Mahasiswa dan Nasionalisme

Ketika berbicara mengenai nasionalisme dalam konteks Indonesia pada saat ini, tentunya tidak terlepas dari sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia dan perkembangan kontemporer kita saat ini. Kedua hal ini masih terus mempengaruhi nasionalisme, baik itu dari aspek definisi atau aspek praktikal, dan tidak hanya saling mempengaruhi, namun juga akan memunculkan silang pendapat antara golongan yang berusaha menghidupkan kembali romantisme masa lalu dan golongan yang berusaha memahami realitas pada saat ini.

Perdebatan antara sejarah dan perkembangan saat ini dan kemudian muncul pro-kontra antara golongan yang satu dengan yang lain akan selalu memunculkan sebuah pertanyaan besar, yaitu: masih relevankah nasionalisme untuk Indonesia? Pertanyaan yang sebenarnya hanya membutuhkan kalimat selanjutnya yang cukup panjang ini, seakan tidak pernah tenggelam di antara isu-isu lain yang berkembang, karena pada akhirnya isu-isu tersebut bisa dikaitkan dengan nasionalisme.

Nasionalisme adalah suatu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (nation) dengan mewujudkan suatu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia (Wikipedia, 2006). Dalam konteks Indonesia, pengertian ini dapat kita cocokkan dengan sejarah Indonesia ketika tahun 1945, yang pada saat itu para pendiri bangsa berusaha membuat sebuah nasionalisme yang dapat mempersatukan seluruh masyarakat yang berada dalam wilayah jajahan Belanda. Nasionalisme yang kemudian dihasilkan adalah sebuah nasionalisme yang berdasarkan kepada kesamaan nasib. Konsep yang dihasilkan para pendiri bangsa tersebut, berhasil untuk mempersatukan wilayah yang kita kenal sebagai Indonesia pada saat ini.

Nasionalisme akan mudah untuk dimengerti dan diimplementasikan jika ada musuh bersama. Jika musuh ini hilang, maka ikatan nasionalisme akan mengendur dengan sendirinya. Preseden yang muncul di Indonesia mempertegas pendapat ini. Jika kita melihat ke tahun 1940-an, ketika Belanda masih berusaha menguasai Indonesia melalui Agresi Militer I dan II, nasionalisme di kalangan masyarakat masih kuat, sehingga perjuangan Indonesia di Konferensi Meja Bundar 1949 membuahkan hasil diakuinya kedaulatan Indonesia sebagai sebuah negara. Namun pasca-KMB 1949, Indonesia kehilangan musuh bersama dan golongan-golongan dalam masyarakat lebih mengutamakan kepentingan kelompok yang ditandai dengan jatuh bangunnya kabinet selama masa tersebut. Nasionalisme sempat muncul meski sebentar, ketika Indonesia mengeluarkan sikap politik luar negeri terhadap Malaysia dengan Dwikora. Namun hal ini tidak berlangsung lama, karena kondisi internal dalam Indonesia memang sedang rapuh. Setelah itu, nasionalisme dapat dimunculkan kembali ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) dijadikan sebagai musuh bersama karena dianggap sebagai biang keladi Gerakan 30 September. Lebih dari 30 tahun kemudian, Indonesia memperoleh kembali sebuah musuh bersama, yaitu Orde Baru, sehingga gerakan nasionalisme dapat menghasilkan reformasi dan demokrasi yang selama 30 tahun dikebiri. Namun ketika musuh bersama tersebut telah berhasil dilumpuhkan, kepentingan kelompok kembali muncul mengesampingkan nasionalsime itu sendiri.

Kejadian-kejadian historis di Indonesia tersebut mempertegas bahwa nasionalisme dapat secara efektif diimplementasikan apabila masyarakat dalam sebuah negara memiliki musuh bersama.

Nasionalisme kini dan gerakan mahasiswa
Dari preseden yang ada mengenai nasionalisme, musuh bersama menjadi sebuah kebutuhan jika nasionalsime ingin mempunyai tempat dalam kehidupan Indonesia. Namun pencarian terhadap musuh bersama ini tidaklah sekadar mencari subyek ataupun obyek yang sekadar dijadikan tumbal caci maki oleh civil society (yang di dalamnya terdapat juga gerakan mahasiswa), melainkan juga harus mencari subyek atau obyek yang memang harus dijadikan musuh bersama karena pengaruhnya yang buruk bagi masyarakat. Nasionalisme akan selalu berkaitan erat dengan masalah kedaulatan sebuah negara. Kedaulatan adalah sebuah hal yang mutlak dimiliki oleh sebuah negara dan tidak bisa diganggu gugat oleh negara atau pihak manapun. Pada perkembangan saat ini, kedaulatan negara tidaklah lagi menjadi hal yang mutlak untuk dipraktekkan. Karena dengan munculnya berbagai macam organisasi internasional (OI) dan semakin kuatnya posisi tawar negara-negara maju di dalam OI tersebut, kedaulatan negara menjadi semakin kabur. Prinsip koordinatif yang dikembangkan ketika awal Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) muncul menggantikan Liga Bangsa-bangsa (LBB) tidak lagi tegas jika sudah berhadapan dengan kepentingan negara-negara besar. Nasionalisme telah digantikan oleh globalisasi sedikit demi sedikit. Globalisasi yang lahir dari budaya sebuah bangsa, dan dijadikan budaya tunggal dunia. Indonesia terkena dampak dari globalisasi ini. Hukum positif Indonesia tidak lagi menjadi kewenangan legislatif, melainkan harus mematuhi regulasi internasional yang dihasilkan oleh OI yang dikontrol oleh negara-negara maju.

Nasionalisme sebuah bangsa menentukan arah pergerakan bangsa tersebut kepada pilihan yang lebih buruk atau baik. Negara-negara maju pada saat ini menekankan pentingnya nasionalisme ketika mereka sedang berada dalam posisi sebagai negara sedang berkembang. Ketika posisi mereka berubah, nasionalisme mereka tidak ikut berubah dan justru berusaha menyebarkan nasionalisme mereka ke negara lain. Jadi, ketika muncul pertanyaan: masih relevankah nasionalisme untuk Indonesia, hal ini harus dijawab dengan mudah jika melihat preseden dan memiliki visi yang tegas mengenai bangsa ini. Bangsa yang tidak memiliki kedaulatan penuh atas wilayahnya, akan selalu menjadi bangsa kelas dua di lingkungan internasional, akan selalu menjadi bangsa konsumtif yang dependen terhadap negara lain. Kedaulatan penuh dapat diwujudkan jika masyarakat dalam suatu bangsa memiliki visi yang kuat untuk mengarahkan bangsanya menjadi lebih baik. Sebuah visi yang kuat dapat lahir jika dilandaskan dengan nasionalisme. Tanpa adanya nasionalisme, tidak akan ada visi, tidak akan ada kedaulatan, dan tidak akan ada perubahan bagi bangsa ini.

Lalu bagaimana mahasiswa Indonesia (baca: mahasiswa UKSW) mewujudkan nasionalisme yang erat kaitannya dengan musuh bersama? Tindakan apa yang harus dilakukan oleh mahasiswa Indonesia? Berbagai cara diwujudkan oleh civil society dalam mencari musuh pada saat ini untuk menunjukkan nasionalisme mereka, terlepas dari kepentingan yang mereka usung. Ada yang melalui tindakan elitis, persuasif, underground, sampai pada taraf anarkis. Isu yang muncul pun semakin beragam seperti program peningkatan kualitas pendidikan, penghapusan utang luar negeri, nasionalisasi perusahaan multinasional, anti OI, dan lainnya. Tindakan mewujudkan nasionalisme melalui metode-metode dan isu-isu tersebut terjadi dengan mendasar pada kondisi yang berkembang pada saat ini. Mahasiswa Indonesia tidak harus terikat dengan metode-metode dan isu-isu yang ada. Kajian ilmiah menjadi sebuah keharusan bagi mahasiswa Indonesia yang merupakan civil society berbasis kaum intelektual untuk dapat mengidentifikasi musuh bersama yang ingin dikedepankan. Tanpa adanya kajian ilmiah yang mendalam, aksi dalam mengedepankan musuh bersama untuk membangkitkan kembali nasionalisme hanya akan menjadi aksi taktis yang tak ada kontinuitasnya. Kajian ini juga tidak hanya sekadar bergerak dalam isu-isu terkini saja, namun juga harus mampu mengantisipasi kemungkinan yang terjadi pada masa yang akan datang, sehingga mahasiswa Indonesia tidak tergagap-gagap untuk menghadapi perubahan masyarakat yang drastis.

Mahasiswa dan nasionalisme
Kajian ilmiah yang menjadi suatu keharusan bagi mahasiswa Indonesia dalam membangkitkan kembali nasionalisme, harus mampu diwujudkan jika mahasiswa Indonesia tidak ingin terjebak dalam romantisme masa lalu. Mahasiswa Indonesia harus sungguh-sungguh dalam mempersiapkan dan meningkatkan kualitas dirinya agar mampu membangkitkan kembali nasionalisme Indonesia. Ketika kualitas diri mahasiswa Indonesia meningkat dan kajian ilmiah semakin menguat, mahasiswa Indonesia (termasuk mahasiswa UKSW) akan mampu menjadi think tank bagi pergerakan nasionalisme di Indonesia. Semoga.

Wilson Therik, mahasiswa doktoral Program Pascasarjana Studi Pembangunan

15 komentar pada Mahasiswa dan Nasionalisme

  1. Opha 18 Januari 2008 pukul 18:51

    Kajian ini relevan dengan kondisi kekinian. Salut buat bung Wilson.

  2. Nozio 2 Februari 2008 pukul 19:40

    “Setelah itu, nasionalisme dapat dimunculkan kembali ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) dijadikan sebagai musuh bersama karena dianggap sebagai biang keladi Gerakan 30 September.”

    “Kejadian-kejadian historis di Indonesia tersebut mempertegas bahwa nasionalisme dapat secara efektif diimplementasikan apabila masyarakat dalam sebuah negara memiliki musuh bersama”

    kalo nasionalisme sekarang udah pada luntur, butuh PKIB (B=Baru) gak ya?

  3. STR 2 Februari 2008 pukul 20:06

    Wah, mungkin butuh. Mungkin.

  4. realita-cinta-dan-huruhara 9 Februari 2008 pukul 15:50

    Kenapa kita butuh nasionalisme?
    Apakah dengan nasionalisme perut kita akan kenyang?

    Apakah dengan nasionalisme semua akan menjadi lebih baik?

    Jika ada PKI(B)…
    Apakah akan ada ppembantaian kemanusiaan kembali?
    jika iya..

    lalu buat apa nasionalisme…

    kalau cuma nambah musuh…

    lalu akhirnya perang…

    yang paling depan rakyat kecil…

    yang perut gendut duduk di belakang atur strategi sambil onani…

  5. Saam Fredy 18 Februari 2008 pukul 8:13

    Apapun yang terjadi di republik ini, entah itu KKN, kemiskinan, dll, namun tetap rasa nasionalisme harus disematkan di di dalam dada setiap pemuda Indonesia yang cinta tanah air ini. Karena rasa itu ada bukan untuk para pemimpin atau pemerintah, tapi bagi rakyat dan tanah air yang ini.

  6. kakanda 22 Februari 2008 pukul 17:57

    “Nasionalisme adalah suatu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (nation) dengan mewujudkan suatu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia (Wikipedia, 2006″….identitas macam apa yang akan dibentuk?identitas TKI..identitas penguasa..atau identitas yang bagaimana?apakah kita akan serta merta mempertahankan kedaulatan ketika para pembuat kebijakan tidak pernah berdaulat?nasionalisme merupakan tujuan atau alat?kurasa..tidak akan ada lagi teriakan ganyang malaysia (apakah ini merupakan contoh nasionalisme?)..atau “bersih lingkungan” (ala korban PKI..kurasa..nasionalisme tidak lagi kita perlukan,,tapi kita masih sedikit membutuhkannya…kita butuh untuk memboyong umat memenuhi SENAYAN mendukung TIMNAS PSSI berlaga!!come on the trully football…yach..kurasa,

  7. Wilson 8 April 2008 pukul 12:34

    TERIMA KASIH ATAS BERBAGAI APRESIASI ATAS TULISAN SAYA, SANGAT MEMACU SAYA UNTUK MELAHIRKAN TULISAN-TULISAN LAINNYA. UNTUK SCIENTIARUM. SEKALI WAKTU ADAKANLAH DISKUSI KECIL-KECILAN TENTANG PERS DAN JURNALISTIK MAHASISWA, APALAGI SUDAH ADA SIRAMAN JURNALISTIK DARI ANDREAS HARSONO. SALAM

  8. Dimas S. Aditya 9 April 2008 pukul 12:32

    Rakyat dan pemerintah bagaikan air dan wadahnya. Rakyat adalah air, dan pemerintah adalah wadahnya.
    Kalau saat ini, nasionalisme mulai luntur, karena rakyat melihat bahwa pemerintah sudah tidak ada yang memerintah dengan waras dan untuk kepentingan rakyat banyak. Yang ada, pemerintah sekarang ini, hanya memikirkan kepentingan golongannya saja.
    Menurut saya, semiskin apapun, semenderita apapun rakyatnya, asalkan pemerintahnya selalu berpikir untuk kepentingan rakyat dan negara, maka nasionalisme akan selalu mambara.
    Kalo sekarang ya pantes aja, ga ada nasionalisme. Lha wong pemerintahnya cuman mikir buat memperkaya diri sendiri. Rakyatnya, terutama mahasiswa, juga males mikirin negara, lebih2 nasionalismenya. Mending mikir gimana cepet lulus, en cepet kaya. Kalo bisa, kaya terus pindah ke negara lain yg lebih makmur, hehehe…

  9. Puspita Sari 13 Januari 2009 pukul 17:33

    saya suka artikel.. very good. thanks

  10. bustamin_nanda 9 Februari 2009 pukul 23:18

    pemikiran nasionalisme sangat perlu kita kembangkan, uantuk membebaskan rakyat tertindas dari eksploitasi kapitalis internasional, dan menuju sosialisme yang memebebaskan rakyat, dan itu akan terwujud bukan hanya ideologi nasionalisme, tetapi sosialismepun yang menjadikan rakyat pekerja sebagai pengambil kebijakan untuk rakyat tertindas, bukan nasionalisme bourjuis yang sekarang yang menggunakan itu. menyatukan perlawanan kita bukan untuk kaum PKI, yang harus kita lawan adalah sistem kapitalisme

  11. Khosiatul Fitri 7 Januari 2010 pukul 7:27

    sekarang kalo mw bahas nasionalisme emg kudu pake pendekatan yg agresif kpd manusianya .

  12. andrie 29 Mei 2010 pukul 21:24

    wah bagus baget…
    pas buat melengkapi tugasku…
    makasie banyak yah mas…

  13. kiena 16 Agustus 2010 pukul 10:22

    sempat bingung juga waktu dapet tugas tentang nasionalisme,, tapi dengn adanya tulisan mas nie bisa untuk dijdiin refrensi tugasku… n tuk lbih menambah pengetahuanku tntang nasionalisme…

  14. rebel 21 September 2010 pukul 16:24

    alternatifnya……..,kita provokasi rakyat,bahwa suda saatnya mereka tidak lagi menaati aturan yg ada,kalau pemerintah aj g becus…..,mau tunggu perubahan 5 tahun lagi.bagi rakyat miskin itu sangat lama skali,tp bagi penjabat yg menjabat itu sangatlah tidak lama untuk memerintah,sy rasa nasionalitas kita bisa timbul kembali…kalau kita provokasi mereka..

  15. Pingback: Mahasiswa dan Nasionalisme « Lumozza Cakes

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Masukkan alamat surel anda untuk berlangganan situs web ini. Cek kotak masuk atau spam surel anda untuk mengonfirmasi langganan.

Bergabung dengan 2 pelanggan lain

Pendaftaran Wartawan Baru


Scientiarum membuka pendaftaran wartawan tulis dan foto. Formulir dapat diambil di kantor SA pada jam berapa saja, atau unduh pada tautan berikut:
Formulir SA