Semester atau Trimester: Kado 51 Tahun UKSW

Browse By

Mulai tahun akademik 2007/2008 muncul istilah baru pada kalender akademik UKSW. Istilah trisemester/trimester yang sebelumnya dipakai, kini diganti menjadi semester. Adapun satu tahun akademik terdiri dari tiga semester, yakni semester ganjil, semester genap, dan semester pengayaan.

Alternatif model kalender akademik yang baru “mekar” menjadi tiga, yakni Model Biru untuk fakultas yang menyelenggarakan dua semester penuh 16 minggu ditambah semester pengayaan pada semester ketiga, Model Hijau untuk fakultas yang menjalankan tiga semester penuh 14 minggu (sama dengan sistem trimester sekarang), dan Model Kuning untuk fakultas yang menjalankan sistem paket dalam dua semester penuh 16 minggu ditambah semester pengayaan pada semester ketiga (hampir sama dengan model yang pertama).

Wakil Rektor I UKSW, sewaktu ditemui SA di kantornya pada tanggal 12 November 2007, menjelaskan bahwa dengan sistem kalender akademik yang baru ini, tiap-tiap fakultas bebas untuk menentukan waktu yang akan dipakai dalam kegiatan kurikuler masing-masing, apakah itu menggunakan dua semester ataupun tiga semester.

Masing-masing semester mendapatkan alokasi waktu selama 16 minggu. “Ini tidak menyalahi aturan dari Dikti karena rentang waktu yang diperbolehkan Dikti, untuk menyelenggarakan kegiatan kurikuler dalam satu semester, adalah 16 sampai 19 minggu. Nah, Satya Wacana mengambil batas minimumnya,” ujar Prof. Daniel Kameo, WR I UKSW.

Meski sudah mendapatkan persetujuan dari Dikti, UKSW masih belum boleh “bilang-bilang” ke universitas lain karena yang ditakutkan Dikti adalah universitas-universitas lain akan berbondong-bondong mengikuti jejak UKSW sebelum paham benar konsep dan filosofi dari sistem semester yang baru ini.

Dalam pelaksanaannya, semester genap dan ganjil akan dipakai penuh untuk penyelenggaraan kegiatan kurikuler, 14 minggu untuk tatap muka dan dua minggu untuk evaluasi, sedangkan penggunaan waktu pada semester pengayaan diserahkan kepada masing-masing fakultas. Fakultas yang memakai Model Biru/Kuning dapat memanfaatkan semester pengayaan untuk mengadakan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler, yang dirasa dapat menunjang kemampuan akademik mahasiswa, seperti pelatihan-pelatihan soft skill, pertukaran mahasiswa, dan sebagainya, sedangkan fakultas yang ingin memakai Model Hijau dapat memakai semester pengayaan untuk tetap menyelenggarakan kegiatan kurikuler.

Penggunaan semester pengayaan pada Model Biru/Kuning dapat kurang dari 16 minggu, disesuaikan dengan kebutuhan dari kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan, tapi penggunaan semester pengayaan pada Model Hijau waktunya harus disetarakan dengan semester genap dan semester ganjil, yakni 16 minggu. Semester pengayaan juga wajib ditawarkan/diprogramkan oleh setiap fakultas, namun mahasiswa bebas memilih untuk mengikuti atau tidak mengikuti program yang ditawarkan dalam semester pengayaan.

Hal ini berimplikasi pada sistem registrasi (SIASAT) yang berlaku di UKSW. Registrasi dan adjustment matakuliah untuk Model Biru/Kuning dilakukan dua kali pada semester genap dan ganjil, sedangkan pada semester pengayaan, akan digunakan aplikasi SIASAT khusus (tanpa adjustment). Lain lagi dengan Model Hijau, yang registrasi dan adjustment-nya dilakukan tiga kali pada ketiga semester.

Untuk pelaporan hasil kegiatan kurikuler ke Dikti, agar format laporan dari UKSW bisa sinkron dengan format kewajiban pelaporan EPSBED, yang hanya mengenal format pelaporan dua semester dalam satu tahun akademik dengan jumlah SKS maksimum 24 SKS per semester, maka laporan hasil kegiatan kurikuler dari fakultas-fakultas Model Hijau sedikit “diotak-atik.” Caranya adalah dengan mengalokasikan sebagian dari jumlah SKS, yang diambil pada semester pengayaan, ke semester ganjil dan genap, tetap dengan patokan maksimum 24 SKS per semester atau 48 SKS per tahun. Menurut WR I, adanya patokan SKS maksimum ini membuat waktu kelulusan antara fakultas-fakultas Model Biru/Kuning dan fakultas-fakultas Model Hijau menjadi relatif sama. Dijelaskan pula oleh WR I bahwa sistem yang baru ini dimaksudkan untuk mendukung penjaminan mutu akademik yang dijalankan oleh PPMA (Pusat Penjaminan Mutu Akademik) UKSW, sebuah unit yang bertugas untuk menjalankan sistem manajemen mutu di UKSW. “Kita ingin lulusan-lulusan kita tidak hanya memiliki kemampuan akademik yang baik, tapi juga soft skill. Dan tiap-tiap fakultas bebas memilih, apakah kegiatan-kegiatan soft skill tersebut akan dilakukan secara intensif dalam satu semester, ataukah dipecah-pecah untuk disisipkan ke dalam setiap semester,” jelasnya.

Ketika hal ini dikonfirmasi SA ke Direktur PPMA, beliau mengatakan bahwa perubahan sistem ini hanyalah salah satu dari sekian banyak komponen dalam proses penjaminan mutu akademik. “Janganlah kita langsung men-judge bahwa proses penjaminan mutu akan dapat menjadi lebih baik hanya karena ada perubahan sistem,” kata Dr. Ferdy Rondonuwu, Direktur PPMA. Berbicara soal penjaminan mutu akademik di UKSW, PPMA sendiri lebih bertumpu pada aspek tabiat atau kebiasaan dari para akademisinya. “Sistem mau berubah seperti apapun, tapi kalau orangnya tidak terbiasa menghadapi perubahan, ya sama saja,” tambah Ferdy.

Kemudian Ferdy memaparkan pandangannya tentang penjaminan mutu yang berdasarkan pada proses. Menurutnya, asalkan proses pembelajaran benar-benar diperhatikan dengan baik, maka mutu akademik lulusan yang dihasilkan juga dapat ditingkatkan. “Kita treat mereka (mahasiswa — Red), beri bimbingan, dan lain sebagainya sesuai dengan kemampuan kita,” tuturnya.

PPMA pun mengaku sudah menyiapkan langkah-langkah konkret untuk tiga tahun ke depan perihal proses tadi. “Kita adalah salah satu dari sedikit universitas di Indonesia yang tahun ini terpilih sebagai pemenang Program Hibah Kompetisi Berbasis Institusi,” terang Ferdy. Program ini akan diturunkan ke dalam dua program utama dengan rancangan aktivitas membangun sistem manajemen mutu akademik berbasis teknologi informasi dan mengembangkan model pembelajaran berbasis e-learning (pembelajaran elektronik — Red).

Rencananya, dalam tahun pertama implementasi program ini, seluruh kegiatan PPMA akan difokuskan pada pembangunan sistem dan basis data utama tata kelola perguruan tinggi, yang meliputi administrasi, keuangan, kemahasiswaan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. “Database di UKSW ini masih terpencar-pencar. Yang administrasi ada sendiri. Yang keuangan ada sendiri. Yang kemahasiswaan juga. Perlu diintegrasikan dulu supaya bisa sinkron satu sama lain. Saya aja punya nomor induk dosen dobel kok!” tukas Ferdy. Dalam tahun kedua, selain terus mengembangkan sistem utama yang telah berjalan, PPMA juga akan mulai mengembangkan sistem pendukung bagi sistem utama tersebut. Di sini, penguatan dari sisi sumber daya manusia akan menjadi agenda utama. Sedangkan dalam tahun ketiga, PPMA akan mencoba mengembangkan kerjasama strategis antara Satya Wacana dengan universitas-universitas lain dan para pemangku kepentingan untuk mendapatkan umpan balik atau masukan yang dapat dijadikan evaluasi dan bahan refleksi dalam implementasi program ini.

Bagaimana Tanggapan dari Masing-masing Fakultas?
FSP (Fakultas Seni Pertunjukan) adalah salah satu contoh fakultas yang adem ayem menghadapi perdebatan antara sistem trimester dan dwimester. Mas Kelik, Dekan FSP, menjelaskan bahwa bagi fakultasnya, apapun keputusannya, yang terpenting itu harus dijalani dan dievaluasi. Dan demi kenyamanan mahasiswa, sistem jangan terlalu sering berubah. Untuk urusan fasilitas, FSP sendiri masih merasa kurang, terutama pada lab media dan perpustakaan. Pernyataan sang dekan ini kemudian diamini oleh Kefas, mahasiswa FSP angkatan 2006.

Hal senada disampaikan oleh John R. Lahade, Dekan FISIPOL (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik). Beliau menyatakan bahwa bagi fakultasnya, ini persoalan manajemen, jadi yang terpenting adalah manajemennya.

FT (Fakultas Teknik) dan FBS (Fakultas Bahasa dan Sastra) nampaknya satu haluan. Mereka berencana untuk “pulang” ke sistem dua semester. Alasannya, menurut mereka, sistem trimester saat ini belum dapat dilihat keunggulannya. Selain itu, dengan sistem ini, mereka berharap baik mahasiswa maupun dosen dapat sama-sama memiliki waktu lebih untuk belajar, melakukan penelitian, dan meningkatkan kualitas materi pembelajaran.

Lain lagi dengan FTI (Fakultas Teknologi Informasi). Fakultas yang disebut-sebut sebagai “tren baru” di UKSW ini telah mantap meminang trimester. Namun, FTI juga masih harus berkutat dengan kacaunya sistem administrasi registrasi dan kurang memadainya fasilitas, dalam hal ini kelas dan lab. Dalam open forum internal yang dilakukan oleh FTI beberapa waktu yang lalu, terungkap bahwa di FTI sering ada jadwal kuliah yang saling bertabrakan serta jumlah mahasiswa yang overloaded dalam satu kelas kuliah. “Jika perbandingan fasilitas yang ada tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa FTI, maka kemana sebenarnya uang fakultas?” tanya Christia, mahasiswa FTI angkatan 2004. Pertanyaan ini dijawab Dekan FTI, Danny Manongga, dengan pernyataan bahwa saat ini FTI sedang menyusun satgas untuk pembangunan laboratorium baru.

Laporan ini dikerjakan bersama Yosia Nugrahaningsih, Aqirana A. Tarupay, dan Wawan H. Suyatmiko.

5 thoughts on “Semester atau Trimester: Kado 51 Tahun UKSW”

  1. STR says:

    Pilih semester atau trimester?

  2. Pingback: Scientiarum.com » 31 Maret: Hari Kegoblokan UKSW
  3. Trackback: Scientiarum.com » 31 Maret: Hari Kegoblokan UKSW
  4. Pingback: satria.anandita.net - 31 Maret: Hari Kegoblokan UKSW
  5. Trackback: satria.anandita.net - 31 Maret: Hari Kegoblokan UKSW
  6. masjonly says:

    Yth.
    Seluruh keluarga besar UKSW, Istilah trisemester/trimester yang sebelumnya dipakai, kini diganti menjadi semester, Hanyalah salah satu permainan politik kampus. seharusnya kalau satu fakultas dengan fakultas yanglainnya tidak boleh adanya perbedaan antar sistem perkuliahan. semua harus dirata samakan yakni Semesteran. ngak ada lagi Fakultas ini trisemester dan fakultas yang itu semesteran karena menurut saya itu tdk baik dan tidak sehat. selain tidak baik dan tidak sehat juga tidak akan menurunkan pamor UKSW di mata masyarakat dan orang tua murid yang sebenarnya menjadi calon mahasiswa UKSW.
    kalau satu atau lebih fakultas yg semesteran yang lainnya juga harus semesteran ngak boleh ada yang trimester.

    Sekian dan terima kasih.

    salam

    Masjonly

  7. Lupica says:

    SEMESTER ANTARA UKSW MENDAHULUI PERMENDIKNAS RI

    Berikut ini adalah isi dari PP no 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan Dan Penyelenggaraan Pendidikan, khususnya yang berkaitan dengan semester antara, yakni pada paragraph 4 : Sistem Kredit Semester, Pasal 87, ayat 1 – 4 (sumber : http://www.djpp.depkumham.go.id ).

    Paragraf 4
    Sistem Kredit Semester
    Pasal 87
    (1) Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan menerapkan sistem kredit semester yang bobot belajarnya dinyatakan dalam satuan kredit semester.
    (2) Tahun akademik dibagi dalam 2 (dua) semester yaitu semester gasal dan semester genap yang masing-masing terdiri atas 14 (empat belas) sampai dengan 16 (enam belas) minggu.
    (3) Di antara semester genap dan semester gasal, perguruan tinggi dapat menyelenggarakan semester antara untuk remediasi, pengayaan, atau percepatan.
    (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai semester antara sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri.

    Jadi menurut pasal 87, satu tahun akademik dibagi ke dalam 2 (dua) semester, bukan lagi minimal 2 (dua) semester, sebagaimana yang dipahami oleh beberapa orang. Dua semester tersebut adalah semester gasal dan semester genap, yang masing-masing terdiri atas 14 (empat belas) sampai dengan 16 (enam belas) minggu. Sampai di sini sistem yang dipakai oleh UKSW tidak masalah sebab UKSW mengambil jumlah minimal, yakni 14 minggu efektif (sudah termasuk di dalamnya pertemuan awal/pembagian silabus, TTS, TAS, dan libur nasional atau cuti bersama, seperti tanggal 2 – 4 Juni yang akan datang). Sedangkan apakah 14 minggu efektif tersebut berjalan sesuai dengan isi penjelasan dari pasal 87, kita kembalikan evaluasinya kepada pihak fakultas, dosen dan mahasiswa, yang menjalaninya. Adapun penjelasan tentang isi pasal 87 dari PP 17 tersebut dapat dibaca secara lengkap di bawah ini :
    Penjelasan Pasal 87
    Ayat (1)
    Yang dimaksud dengan “satuan kredit semester” dalam ketentuan ini adalah beban belajar mahasiswa dan beban kerja dosen dalam sistem kredit semester (SKS). Banyaknya SKS yang diberikan untuk mata kuliah atau
    proses pembelajaran lainnya merupakan pengakuan atas keberhasilan usaha untuk menyelesaikan kegiatan
    akademik bersangkutan. Dalam setiap semester, 1 (satu) sks sama atau setara dengan 3 (tiga) jam beban belajar yang mencakup kegiatan tatap muka, kegiatan terstruktur, dan kegiatan mandiri untuk kurun waktu 16 (enam belas) minggu efektif.
    Ayat (2)
    Dalam setiap semester, 1 (satu) satuan kredit semester sama dengan beban studi setiap minggu berupa 1 (satu)
    jam tatap muka, 1 (satu) jam kegiatan terstruktur, dan 1 (satu) jam kegiatan mandiri untuk kurun waktu 16 (enam belas) minggu efektif dengan 16 (enam belas) kali pertemuan. Satu mata kuliah berbobot 3 (tiga) satuan
    kredit semester berarti sama dengan kegiatan studi 3 (tiga) jam tatap muka, 3 (tiga) jam kegiatan terstruktur, dan 3 (tiga) jam kegiatan mandiri selama 16 (enam belas) minggu.
    Ayat (3)
    Cukup jelas.
    Ayat (4)
    Cukup jelas.

    Dari ayat 3, pasal 87 di atas, maka muncullah istilah ”semester antara”, yang sejak tahun akademik 2010/2011 dipakai oleh UKSW, pasca dikeluarkannya PP 17 tersebut. Istilah ini secara resmi mengantikan istilah ”semester pengayaan” yang digunakan pada kepemimpinan KHT sebagai Rektor (atau yang pada tahun 80-an dan 90-an dikenal dengan nama ”semester pendek”). Istilah baru ini seharusnya juga telah menggantikan istilah ”trisemester 1, 2, dan 3”, yang hingga kini masih digunakan oleh FTI UKSW, dengan menerbitkan ”kalender akademik sendiri” versi FTI, dan masih mengunakan istilah – istilah sejenis di dalam praktek perkuliahan dan praktek administrasi kantor. Tetapi, ”apakahlah arti sebuah nama?” kata William Shakespeare.

    Kalau nama atau perdebatan istilah kita abaikan, dan mencoba masuk ke dalam substansi dari ”semester antara”, maka dengan mudah kita bisa menemukan kelemahan atau ketidakjelasan dari PP 17, pasal 87, khususnya pada ayat 3, sekalipun di dalam penjelasannya dikatakan “cukup jelas”. Ketidakjelasannya adalah ayat 3 tidak menyebut berapa jumlah minggu efektif dari sebuah semester antara. Celah hukum ini, kalau boleh dikatakan demikian, sekali lagi berhasil dimanfaatkan oleh UKSW, dengan menentukan sendiri (versi UKSW) jumlah minggu efektif dari semester antara, yang sama persis dengan jumlah minggu efektif dari semester gasal dan semester genap, yakni sebanyak 14 minggu. Dalam hal ini UKSW tidak bisa disalahkan! Dan bukan hanya UKSW, sebab sepengetahuan penulis, sudah ada beberapa perguruan tinggi, khususnya PTS di Jawa, mulai mengikuti jejak langkah kaki dari UKSW, dalam hal pembagian secara adil merata jumlah minggu efektif perkuliahan antara semester gasal, semester genap dan semester antara, yakni sama – sama sebanyak 14 minggu efektif untuk setiap semester perkuliahan. Dengan demikian, UKSW patut diancungkan jempol atas keberhasilannya sebagai pelopor sistem 14 minggu efektif dalam satu semester perkuliahan, sehingga dengan sistem ini, maka dalam satu tahun akademik akan ada 14 minggu efektif dikali 3 (jenis) semester perkuliahan. Proficiat buat UKSW!!!

    Namun, ada persoalan prinsip berkaitan dengan fungsi dan peran dari semester antara, apabila kita mencermati ayat 3 secara utuh/lengkap, yang berbunyi : ” Di antara semester genap dan semester gasal, perguruan tinggi dapat menyelenggarakan semester antara untuk remediasi, pengayaan, atau percepatan”. Pertanyaannya kini adalah untuk tujuan apakah UKSW menyelenggarakan semester antara, sebagaimana yang sekarang sedang dijalani? Apakah untuk remidiasi? Apakah untuk pengayaan? Apakah untuk percepatan (akselerasi)? Di dalam PP 17 tidak dijelaskan arti kata remidiasi (pengulangan). Tetapi untuk kata ”pengayaan” dan kata ”percepatan” dijelaskan dengan cukup gamblang. Berikut, kutipannya, sebagaimana yang ada di dalam penjelasan atas pasal 135, ayat 2 A dan 2 B di bawah ini :
    Penjelasan Pasal 135
    Ayat (1)
    Cukup jelas.
    Ayat (2)
    Huruf a
    Program percepatan adalah program pembelajaran yang dirancang untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik mencapai standar isi dan standar kompetensi lulusan dalam waktu yang lebih singkat dari waktu belajar yang ditetapkan. Misalnya, lama belajar 3 (tiga) tahun pada SMA dapat diselesaikan kurang dari 3 (tiga) tahun.
    Huruf b
    Program pengayaan adalah program pembelajaran yang dirancang untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik guna mencapai kompetensi lebih luas dan/atau lebih dalam dari pada standar isi dan standar kompetensi lulusan. Misalnya, cakupan dan urutan mata pelajaran tertentu diperluas atau diperdalam dengan menambahkan aspek lain seperti moral, etika, aplikasi, dan saling keterkaitan dengan materi lain yang memperluas dan/atau memperdalam bidang ilmu yang menaungi mata pelajaran tersebut.
    Ayat (3)
    Cukup jelas.
    Ayat (4)
    Cukup jelas.
    Ayat (5)
    Cukup jelas

    Jadi, apakah UKSW telah menyimpang dari tujuan mulia pelaksanaan sebuah semester antara? Kita tunggu saja penilaian dari Pemerintah Pusat, lewat Kementerian Pendidikan-nya. Namun rasanya, apabila melihat gaya kepemimpin SBY yang melempem, maka sampai pergantian presiden tahun 2014-pun dapat dijamin tidak akan ada ketegasan dari pemerintah menyikapi hal di atas. Asli,,, dijamin, tidak akan ada sikap tegas dari pemerintah! Dan inilah kejelian dari UKSW dalam memanfaatkan kelemahan dari pemerintah RI.

    Di samping itu, masalah yang lebih besar bisa saja muncul, apabila diterbitkan Peraturan Menteri untuk mengatur perihal semester antara, sebagaimana yang diamanatkan oleh pasal 87, ayatnya yang ke-4, dan Peraturan Menteri tersebut tidak mengakomodir sistem 14 minggu efektif pada semester antara, yang kini sudah dipraktekkan di UKSW (dan beberapa PTS yang lain). Sebagai contoh apabila PerMen ternyata menetapkan bahwa jumlah minggu efektif perkuliahan pada semester antara hanya 1 ½ bulan, atau 6 – 8 minggu efektif, atau sama dengan jumlah minggu efektif pada sistem ”semester pendek” yang selama ini telah lama dikenal di kalangan PTN dan PTS se-Indonesia, maka UKSW akan gagal sebagai pelopor sistem 14 minggu efektif dalam satu semester perkuliahan, dan mau tidak mau, suka tidak suka, UKSW harus kembali kepada sistem yang lama, kalau UKSW tidak mau dikatakan sebagai lembaga yang tidak taat hukum.

    Maka keluarga besar UKSW (yang pro sistem 14 minggu x 3 model semester dalam 1 tahun akademik) haruslah banyak berdoa agar PerMen dimaksud tidak jadi diterbitkan. Ataupun kalau diterbitkan, biarlah sistem yang ada di UKSW sekarang ini bisa diakomodir di dalam PerMen tersebut. Tentu berdoa saja tidak cukup! Maka sebagai bentuk ora et labora, sudah menjadi tugas bagi petinggi – petinggi di UKSW dan di YPTKSW untuk melakukan lobi – lobi tingkat tinggi ke pihak – pihak terkait di Kementerian Pendidikan agar apa yang telah dirintis oleh UKSW tidak mubazir, dan segera dapat diakomodir di dalam sebuah PerMen. Kiranya Tuhan memberkati perjuangan UKSW.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *