Sistem Kredit Poin di UKSW

Browse By

Mulai tahun akademik 2007/2008, sistem kredit poin atau Point Card mulai diberlakukan bagi seluruh mahasiswa UKSW angkatan 2007. Pemberlakuan Point Card ini mempunyai tujuan dan harapan agar kelak mahasiswa UKSW bisa menjadi profil lulusan yang bercirikan creative minority. Oleh sebab itu, kita perlu mengetahui sejarah diadakannya Point Card dan siapakah yang menjadi pelopor diberlakukannya Point Card ini.

Cerita di Balik Point Card
Berawal dari keprihatinan terhadap mahasiswa UKSW yang kurang berminat akan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan, maka beberapa alumni lembaga kemahasiswaan (LK), khususnya Fakultas Ekonomi (FE), angkatan 1998 berpikir keras tentang cara mengajak mahasiswa untuk ikut terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler. Selain itu, dengan dinamika yang ada, dimana mahasiswa yang hanya datang, duduk, dengar, dan pulang pada proses perkuliahan, membuat mahasiswa tidak berkembang dengan baik, sehingga para alumni LK FE ini pun mulai mencari alternatif yang baik. Studi banding yang dilakukan ke Universitas Kristen Petra (Surabaya) Jurusan Akuntansi yang waktu itu menerapkan point star, dianggap bagus.

Belajar dari Universitas Kristen Petra yang menerapkan point star, alumni LK FE pun mulai menerapkan sistem tersebut di kalangan mahasiswa FE sendiri dengan nama “Point Card.” Point Card merupakan sebuah sistem dimana mahasiswa diwajibkan mengumpulkan poin sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Pengumpulan poin ini merupakan salah satu syarat untuk mengikuti ujian skripsi. Bagi mahasiswa yang mengumpulkan poin tidak sesuai dengan standar yang telah disepakati, maka tidak berhak mengikuti ujian skripsi. Poin yang harus dikumpulkan minimal 250.

Menurut Eko Suseno, salah satu pelopor Point Card yang saat ini aktif mengajar di Fakultas Ekonomi mengatakan, “Tujuan kami waktu itu sangat sederhana, yakni kami ingin mengajak mahasiswa tidak hanya aktif di kelas perkuliahan, tetapi mereka juga bisa aktif di kegiatan-kegiatan ekstra yang membentuk mahasiswa bercirikan creative minority. Memang kesannya agak sedikit memaksa. Tapi pada akhirnya, akan memberi dampak yang positif juga buat mahasiswa.”

Kredit Keaktifan Mahasiswa (KKM)
Menurut buku Pedoman Kredit Keaktifan Mahasiswa, tujuan umum dari diberlakukannya sistem Point Card ini antara lain: (1) meningkatkan motivasi dan keaktifan mahasiswa dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan. (2) membentuk profil lulusan dan karakter mahasiswa sesuai dengan profil lulusan UKSW, yaitu creative minority. (3) menghargai peran aktif mahasiswa dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan. (4) membantu mahasiswa untuk mempunyai kompetensi khusus (soft skill) dalam memasuki dunia kerja. Sedangkan tujuan khusus dari diberlakukannya sistem ini adalah: (1) meningkatkan jiwa kepemimpinan mahasiswa. (2) membentuk kepribadian mahasiswa yang utuh. (3) meningkatkan kemampuan dan keterampilan mahasiswa dalam mengaplikasikan ilmunya kepada masyarakat. (4) membentuk jiwa yang memiliki solidaritas sosial yang tinggi serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungannya.

Bentuk dari kegiatan yang harus dijalani terdiri dari kegiatan wajib dan kegiatan sukarela. Kegiatan wajib yaitu kegiatan yang terstruktur dan dilaksanakan secara periodik dengan pola tertentu yang diprakarsai oleh universitas atau fakultas. Sedangkan kegiatan sukarela yaitu kegiatan yang dapat dipilih dan dilaksanakan oleh mahasiswa secara sukarela pada berbagai aras yang disepakati.

Wakil Rektor III, Umbu Rauta SH., MHum., ketika diwawancarai oleh SA menyatakan bahwa alasan diberlakukannya Point Card dikarenakan semangat dan minat mahasiswa untuk berorganisasi saat ini lemah, walaupun beliau tidak mau memberikan komentar ketika ditanyakan apakah minat yang rendah ini dikarenakan sistem perkuliahan yang cukup padat. Menurut beliau, justru pada awalnya salah satu kelebihan sistem trimester adalah dimaksudkan agar kegiatan mahasiswa lebih dinamis, namun faktanya justru tidak terjadi, walaupun secara jumlah kegiatan tidak berubah. Selain itu juga dengan pertimbangan bahwa perusahaan-perusahaan menekankan ingin para mahasiswa dibekali oleh soft skill.

Ketika ditanya mengenai pilihan sistem Point Card yang dipakai untuk mengatasi masalah sepinya kegiatan mahasiswa, menurut WR III sampai saat ini hanya sistem Point Card-lah yang bisa menjadi alternatif. Namun beliau juga menuturkan bahwa tidak menutup kemungkinan untuk ada perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik.

Yang menyisakan sedikit pertanyaan adalah apakah dengan diberlakukannya sistem Point Card, maka mahasiswa akan menjadi aktif berorganisasi, dalam artian aktif karena kesadaran atau justru hanya sekadar ingin memenuhi standar poin yang telah ditentukan oleh universitas. Untuk hal tersebut, WR III mengatakan kemungkinan motivasi seperti itu akan tetap ada, jadi tergantung dari individu masing-masing. Sedangkan menurut Shinta, Ketua Senat Mahasiswa Universitas, untuk mengatasi hal-hal tersebut bisa dengan cara memperketat pada saat seleksi wawancara dan dilihat juga dari pengalaman kepanitiaan mereka.

Laporan ini dikerjakan bersama Bagus F. Permana.

10 thoughts on “Sistem Kredit Poin di UKSW”

  1. STR says:

    Sistem ini sekarang cuma dijadikan ajang jual beli poin aja kok. 😆

  2. orang_merdeka says:

    orang merdeka berkomentar kenapa dalam penerapan SKP ini malah membuat monopoli orang per orang yang aktif saja,atau kadang-kadang dalam penerapan ini ada manipulasi dari pihak dalam(kemungkinan yang akan bisa terjadi).MEnurut saya SKR sekarang ini sudah sedikit usang untuk sekarang>saya mempunyai solusi apabila sema masing fakultas 6 bulan mengajukan angket/ataupun Quesioner dalam membuat acara(pencetus ide kemudian bisa).ex>mengajukan beberapa acara ke sema kemudian sema menyorting acara yang idenya baru dan mengambil pencetus ide acara tersebut menjadi panitia.ini sih cuma ide aja mohon maaf bila terdapat kesalahan

    merdeka….merdeka….tetap merdeka

  3. g4nt3ng says:

    Kredit Point adalah sebuah cara pemerkosaan scr tidak langsung terhadap mahasiswa.
    Pemerkosaan terhadap KEUANGAN mhsw
    Pemerkosaan terhadap KEBEBASAN BEREKSPRESI mhsw
    Pemerkosaan terhadap KEBEBASAN MEMILIH mhsw

    Pokoke ak gak suka banget sama yang namanya kredit point ini ^_^

  4. Johanes Merhantine says:

    Seharusnya berorganisasi itu tumbuh dari kesadaran dari para mahasiswa itu sendiri..harus dibentuk suatu sistem yang membuat seluruh mahasiswa bergairah untuk diskusi dan berorganisasi..itu baru mantap!

  5. MCT says:

    Yup!!!bener bangettt kebanyakan para mahasiswa berdasarkan untuk mengumpulkan kredit point saja tanpa kesadaran dari diri sendiri!!!lagian untuk masuk dalam sebuah organisasi / kepanitiaan kadang ada KKN dari salah satu pihak jadi tidak murni!!!apa gunanya!!!

  6. andre says:

    terkadang dari sesuatu yang dipaksa bru muncul potensinya…kayak sari jeruk…jeruknya harus diperes dulu biar sarinya keluar. emang gak 100% bener tapi paling gak ada usaha dari atas untuk mengaktifkan mahasiswa. Supaya cap jelek di Kita(mahasiswa) juga ilang…maksude terkadang kita disebut malas lah..atau apa gitu…GBU ALL.:)

  7. Ik4n9 says:

    Point card? Hanya Suatu kewajiban ato suatu kebuthan?
    Meliht praktek d lapgn tentg point card, tujuan point card sih bgus, ingn mengembangkan pribdi mhsw, tapi? Bgmn d lapgn? Apkh point card brjln sesuai dg rnc? Sya setuju dg kmentar dri teman2 sblmny, klo point card, hny sbtas kewajiban unt d penuhi.. Mtvasi mhsw unt ikt smnar, acr2 fklts, hny unt mdpt point, bkn mlht isi dri acr yg d laksnakan? Kmbali kpd tujuan point card, apa tujuan point card sdh t’cpai?
    Apakah dgan adny point card, bsa menjamin tujuan2 yg di usung bsa t’laksana? Tks

  8. Pingback: satria.anandita.net » Poin, Apatisme, Kegiatan
  9. Trackback: satria.anandita.net » Poin, Apatisme, Kegiatan
  10. Pingback: Scientiarum » Wacana Kritis-Analitis-Prinsipil Sivitas Akademika UKSW » Opini » Poin, Apatisme, Kegiatan
  11. Trackback: Scientiarum » Wacana Kritis-Analitis-Prinsipil Sivitas Akademika UKSW » Opini » Poin, Apatisme, Kegiatan
  12. c4nt1k says:

    setuju banget sama comment si g4nt3ng
    prikitiew banget gak sihhh kredit point itu!!
    paling males kalau di paksa-paksa, lagian dengan di paksa, mahasiswa cm akan ikut kegiatan itu tanpa mendengarkan, gmn mau mendapatkan dampak positifnya kalau mahasiswanya ikut dengan tidak tidak senang hati ?????? tks

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *