Yunantyo Adi Setyawan: Saya Orang Paling Beruntung

Oleh Muhammad Y. F. Nasution | 10 December 2007 | Sosok

Yunantyo Adi Setyawan, seorang mantan mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Elektro UKSW yang sekarang bekerja sebagai wartawan Suara Merdeka dan sebagai pembicara berbagai seminar tentang korupsi. Sewaktu masih menjadi mahasiswa, dia lebih dikenal dengan nama Adi “Demo,” sebuah julukan yang ia dapat karena hobi berdemo. Pada suatu siang di kafe depan Posnet, tempat biasa dulu dipakai nongkrong anak-anak SMU dan BPMU yang dia sebut keduanya sebagai “Penjilat Rektorat,” Adi berkisah masa-masa kuliahnya. “Saya itu lolos kuliah tapi tidak lulus.” Walaupun sudah menginjak semester ke-14, dia belum di-DO (drop out). Bahkan ketika dosen-dosen elektro menawarkan untuk membiayai kuliahnya, dia tetap urung untuk menyelesaikan kuliah. “Saya itu anti trimester, dari pada ikut trimester mending saya keluar saja,” sahutnya sambil tertawa.

“Udah susah-susah dikuliahkan sampai menjual motor dan kebun kok malah sibuk ngurusin kegiatan di luar kampus,” demikian kata Adi sambil menirukan protes orang tuanya. Meski hancur dalam hal perkuliahan, dia memiliki alasan lebih mementingkan kampanye Marxisme dan demo dengan teman-teman pergerakan di STAIN dan UKSW. Di awal-awal kuliah sebagai mahasiswa Fakultas Teknik, dia merasa memiliki minat dan bakat. Kendati demikian, masa itu bertepatan dengan gerakan reformasi menggulingkan kekuasaan Soeharto. Keterlibatannya dalam aksi bersama-sama dengan mahasiswa STAIN dan UKSW mengubah hobi di bidang elektro ke sosial dan politik.

Walaupun masih buta di dunia jurnalistik, atas ajakan Agung Nugroho (Elektro 1994), seorang pengusaha lokal yang berkeinginan mendirikan sebuah koran lokal Salatiga, Adi dipercaya sebagai pemimpin redaksi Salatiga Pos. Karena keterbatasan biaya dan tidak adanya investor yang datang, koran ini hanya bertahan selama beberapa bulan sampai September 2004. Meskipun bulan November 2004 sempat ada investor yang mau masuk, seluruh awak Salatiga Pos sudah pada pergi.

Pascakematian Salatiga Pos, bersama teman-teman elektro yang lain Adi berniat untuk menghidupkan kembali jurnalisme di kampus, yakni melalui Imbas yang sudah “mati suri” selama lima tahun. Untuk mendapatkan modal guna mencetak Imbas, mereka minta sumbangan ke beberapa dosen seluruh fakultas di UKSW. “Ternyata Imbas dicintai oleh para dosen. Mereka rela menyumbangkan uang Rp 20 ribu sampai Rp 50 ribu,” kenang Adi.

Setelah berhasil menghidupkan kembali Imbas, ia diajak oleh Hilda, salah satu mahasiswi Fakultas Psikologi (sekarang bekerja sebagai reporter Trans7 — Red), untuk menghidupkan kembali Scientiarum yang tidak terbit hampir tiga tahun lamanya. Ketika di Scientiarum kala itu, teman redaksinya adalah Iwan “Singo Jenaka” dan Rudi “Opha” Latuperissa, yang saat ini menjadi dosen di salah satu fakultas UKSW. Bersama-sama merekalah Adi dapat menerbitkan kembali Scientiarum meski hanya sekali terbit.

Setelah beberapa bulan tidak aktif lagi di dunia pers kampus, dia mencari-cari lowongan pekerjaan. Jarak beberapa hari, Adi mendapat informasi kalau di Suara Merdeka tersedia lowongan pekerjaan. Rupanya dia sangat menginginkan pekerjaan tersebut, tetapi salah satu syaratnya harus lulus S1. Karena tidak memiliki ijasah S1, dia tetap memberanikan diri melamar sambil membawa beberapa contoh tulisannya di Scientiarum maupun Imbas. Dengan modal kenekatan dan rekomendasi dari beberapa temannya, dia berhasil menemui pemimpin redaksi Suara Merdeka. “Pak, saya butuh pekerjaan,” keluhnya kepada Pemred Suara Merdeka. Kemudian sejak 1 Februari 2005, dia diterima sebagai wartawan magang selama satu tahun. “Saya itu orang paling beruntung,” sahutnya, dia satu-satunya yang diterima di harian umum tersebut. Padahal teman-teman UKSW yang lain cukup banyak yang ikut seleksi dengan memiliki ijasah S1, tetapi mereka tidak ada satupun yang diterima.

Pada bulan kedua magang, tulisan-tulisannya tentang permasalahan korupsi menjadi headline, sehingga Pemimpin Redaksi Suara Merdeka mempercayainya berada di bidang hukum yang menangani kasus-kasus korupsi. Secara tidak sadar, mungkin kita sering membaca berita yang dia tulis di koran pagi ini, hampir seluruh pemberitaan tentang korupsi di Jawa Tengah adalah hasil karyanya. “Saya sangat senang ‘menggerahkan’ pejabat, bahkan sebelum di pers juga,” tambahnya. Karena hal inilah dia pernah ditawari pekerjaan oleh ICW (Indonesian Corruption Watch) dan dipercaya sebagai narasumber pada berbagai seminar tentang korupsi.

Di balik keamburadulan studinya, berkat pergaulan semasa di kampus yang memberikan banyak kontribusi terhadap dirinya sekarang, pendidikan nonformal yang ia dapat ini, walaupun tanpa ijasah telah menghantarkan dirinya ke suatu pekerjaan yang sangat ia cintai. Hal inilah yang membuat dirinya masih merasa memiliki UKSW dan sangat bangga kuliah di Fakultas Teknik Jurusan Elektro dengan segala dinamika kehidupan kampus yang sudah tidak terlihat lagi, karena terbelenggu oleh trisemester. “Kondisi ini adalah warisan dari kondisi sebelumnya,” ujarnya saat menutup perbincangan kami.


16 Komentar

  1. Agung Nugroho

    Adi Demo / Adi Kriting what ever……. Saya pesan pertahankan terus idealisme dan apa yang kamu yakini benar, seperti pertama kali aku merekomendasikan kamu ke Mas Sulis(redpel,SM) dan ke Pimpinan Suara Merdeka(surat resmi Salatiga Pos). Ada pertanyaan yang sampai sekarang terus aku ingat dalam bahasa jawa “Gung bocahe doyan duwit rak ?”(anaknya suka terima uang sogok ?). Langsung saja aku jawab “Ora ! , ora koyo kowe mas ! he he he…..(tidak !, tidak sepertikamu mas) jawabku, tentu mas Sulis jadi berang dia ngumpat “Kurang ajar kowe ngomong sembarangan !” sorry mas aku cuma menandaskan dan guyon he he he….jawabku ke mas Sulis. Karena aku tahu betul sifat adi dan gaya militannya karena saat itu terkendala keterbatasan dana.

    Oke pertahankan apa yang kamu yakini benar. GBU
    oya ralat tulisanmu aku elektro angkatan 93. (bosse ora trima salah ketik he he he)

  2. fren

    Bosen ah dia melulu! gantian to, sing (meh) dadi tokoh turah2 koq.

  3. meski saya tahu cerita sebenarnya NOT EXACTLY seperti yang diceritakan,tapi….SELAMAT ADI.
    orang yang baca tulisan ttg anda pasti tak sedikit yang apriori dengan konsistensi anda.butuh waktu panjang untuk membuktikannya,tapi mungkin yang paling mudah,yang saat ini anda bisa lakukan adalah berTERIMAKASIH kepada orang2 yang membantu anda untuk bisa sampai pada titik ini….(HAVE YOU?)
    btw….dosen mana yang yang nawarin untuk membiayai kuliah anda?mention (a) name dong,mau tau deh!!
    gile,baru tau dosen satya tajir juga yaa….
    Di,satu jari menunjuk ke orang,empat jari menunjuk ke diri sendiri.so….ARE YOU HONEST,DI?

  4. [...] Kasus BLBI dan Kinerja Penegak Hukum.” Selain Yudi Kristiadi, narasumber lainnya adalah Yunantyo Adi Setyawan (Wartawan Suara Merdeka), dan Arie Siswanto (Wakil Dekan FH [...]

  5. Yan

    Adi ayo diskusi lagi tentang mesin waktu (elektro gaib), ttg korupsi di tempatku.

  6. Vampire

    Mosok tenan kowe bruntung Di ?? Sing biasa wae tho!!!

    BTW, maju terus bro…
    Seperti istilah jaman dulu: “Tuhan Beserta Orang Pemberani”

Kami Menerima Pandangan Anda

© 2009 Scientiarum. Hak cipta dilindungi Undang-Undang. Situs ini menggunakan mesin WordPress bertema Advanced Newspaper.