Merti Desa Nggaras

Browse By

Sebuah pesan singkat dari seorang kawan masuk ke ponsel, Minggu (17/2). Bunyi pesan singkat tersebut: “Acara Merti Desa Nggaras. Dekat rumah bapak ibu. Besok ritual sesaji. Mulai pagi sampai sore. Selasa kirab kesenian lokal, pentas seni dari siang. Datang ya. Merdeka!!” Ketika Scientiarum (SA) tiba di sana, juga sudah ada salah satu stasiun TV swasta yang ternyata sudah sejak kemarin terus mengikuti proses acara ini. Inilah sebuah resistensi budaya lokal melawan hegemoni budaya populer yang terus menghantui masyarakat.

Selasa (19/2), Merti Desa adalah sebuah fenomena umum yang terjadi dalam kultur masyarakat agraris. Merti Desa merupakan warisan dari nilai-nilai luhur lama budaya kita, yang menunjukkan bahwa manusia jadi satu dengan alam. Ritual ini juga dimaksudkan sebagai bentuk penghargaan masyarakat terhadap alam yang menghidupi mereka.

Desa Nggaras terletak di Kelurahan Randuacir, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga. Acara ritual Merti Desa Nggaras berlangsung setiap bulan Sapar dan hari Selasa Legi (mengikuti penanggalan Jawa). Ritual ini berlangsung satu kali dalam setahun. Acara ini sendiri berlangsung selama dua hari, 18-19 Februari 2008. Hari pertama dikhususkan untuk ritual sesaji dan persiapan-persiapan segala hal untuk hari berikutnya. Sesaji ditaruh di 80 titik yang meliputi pusat-pusat desa, tempat-tempat keramat, tempat-tempat yang berkaitan dengan air (sumur, sungai, mata air), batas-batas desa (utara, selatan, timur, barat), setiap perempatan, dan setiap pertigaan di wilayah tersebut.

Hari kedua, acara dimulai kurang lebih pukul 15.00 WIB. Pada hari ini, acara berisikan kesenian-kesenian budaya lokal. Acara-acara seperti warok, kuda lumping, dan tari-tarian mendominasi. Di hari ini pula ada acara makan bersama, dimana setiap warga memasak makanan masing-masing, lalu dibawa ke rumah Ketua RW, tempat berlangsungnya acara kesenian, dan makan bersama-sama.

Untuk berlangsungnya acara Merti Desa ini, setiap kepala keluarga memberi iuran sebesar 15 ribu rupiah. Menurut salah seorang warga yang sempat SA wawancarai, inti dari acara Merti Desa ini adalah untuk kelancaran rejeki, keselamatan desa, harapan akan tanah yang subur, dan untuk persatuan warga setempat.

SA juga sempat bertanya apakah sejak dulu memang sudah ada acara seperti ini. Ia menjawab, “Iya, Mas. Ini udah dari jaman dulu. Kalau dulu malah ada Tayubnya. Tapi pas jaman-jaman komunis dilarang. Acara Tayub juga dilarang. Tapi, Mas, di beberapa desa masih ada kok yang pake kesenian Tayub.” Di desa ini juga terdapat slogan yang menarik: “Kami kalau diikuti silakan. Tapi kalau disuruh mengikuti, nanti dulu.” Menurut salah seorang warga, karenanya di desa ini persatuan dan kesatuan warga terjaga baik.

Mendekati akhir acara, SA juga mewawancarai Didot Klasta dari Lembaga Media Aksi Komunitas “Kalangan.” Menurut Didot, Merti Desa adalah pernyataan dengan penuh percaya diri akan identitas, akar budaya, dan idealisme melalui pengalaman otentik orisinal komunitas, dimana komunitas menjadi pencipta budayanya sendiri, bukan hanya obyek yang dicekoki oleh rezim kebudayaan yang menghegemoni, seperti globalisasi budaya kapitalistik ataupun totalitarianisme budaya.

12 thoughts on “Merti Desa Nggaras”

  1. STR says:

    Acarane eksotis ngene ketoke …

  2. bintangraya says:

    pertahankan budaya leluhur!! walah opo maneh ki…he..he…siips

  3. STR says:

    Oya, aku habis cari-cari info di Google mengenai Merti Desa ini. Ternyata, beberapa waktu yang lalu (September 2006) juga ada kegiatan serupa di daerah Kauman sana (beritanya bisa dibaca di sini).

    Apa Merti Desa ini dilakukan secara serentak di beberapa daerah di Salatiga pas tanggal kemaren itu?

  4. saam fredy says:

    Salut buat Pak De Didot, long time no see, hope everything ok. Sorry Pak, sudah lama ngak main ke sana.

  5. whs says:

    Salut buat Merti Desa…
    Salut buat wartawan SA, akhirnya ada liputan luar kampusnya..
    Maju Terus SA !!
    (Boleh mundur ding, asal jangan jauh-jauh, nanti ga kelihatan.)

  6. whs says:

    Pada tgl 7-10 Feb 2007 (berbarengan dengan even Indonesian Idol) aku juga sempat menghadiri “Festival Merti Bumi” di Sendang Coyo,Grobogan.Acaranya hampir sama,yakni pentas budaya lokal ditambah dengan sajian penanaman bibit pohon jati di lahan kritis.
    Pada intinya acara2 seperti “Tegas Desa” atau “Merti Bumi” mengingatkan kita kembali kepada keselarasan antara manusia dengan alam.
    Oh ya di dekat kita juga ada acara yang menarik yang hampir serupa, yakni “Sedekah Rawa” di Rawa Pening. Coba SA cari infonya.
    Nuwun.

  7. STR says:

    @ whs: Kira-kira kapan event-nya, Bos? Trims infonya.

  8. whs says:

    @ STR : waduh, aku dah lama ga ngikutin je..aku terakhir mengikuti tahun 2005,,3 taun yang lalu,,bulannya aku lupa,,coba STR tanya ke Sunny dia dulu pernah ngeliput untuk LSKaR.

  9. bluewin says:

    akhirnya aku bisa baca tulisannya gus fery
    wah ngak nyangka, boleh juga
    motretnya masih pakai 400d ya…
    kapan2 sharing bro…
    untuk tulisan nyi roro kidul kapan????

  10. wit says:

    Merti desa?
    ya dianggap sebagai ritual syukur dan minta berkah pada Yang Kuasa,
    sayangnya Yang Kuasa itu juga diwakili dengan pemujaan pada para dhanyang desa, dengan memberikannya sesaji-sesaji beraneka macam.

    Atraksi yang ditampilkan di merti desa-pun atraksi yang menunjukkan “kebesaran” setan dengan menampilkan kuda lumping yang kesurupan, atau atraksi-atraksi kanuragan lainnya…

    Itukah “budaya luhur” nenek moyang kita?

  11. meQ says:

    @ mas wid :

    Faktanya itulah bentuk kesenian budaya leluhur kita..

  12. sis says:

    Thanks telah di publikasikan kesenian nggaras,ak orang nggaras yang udah mending tahu tehknologi minta bantuan untuk trus membantu pendidikan di desaku yang nyata nyata kurang.to salatiga jagan anak tirikan desa suguhwaras.buat maju dunk..hidup NGGARAS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *