Merti Desa Nggaras: Sebuah Eksistensi Budaya Lokal di Tengah Hegemoni Budaya Populer

Telah dilihat 989 kali sejak 20 February 2008

Atraksi kuda lumping Merti Desa Nggaras
SCIENTIARUM/BAGUS F. PERMANA
Atraksi kuda lumping di Merti Desa Nggaras.

Sebuah pesan singkat dari seorang kawan masuk ke ponsel, Minggu (17/2). Bunyi pesan singkat tersebut: “Acara Merti Desa Nggaras. Dekat rumah bapak ibu. Besok ritual sesaji. Mulai pagi sampai sore. Selasa kirab kesenian lokal, pentas seni dari siang. Datang ya. Merdeka!!” Ketika Scientiarum (SA) tiba di sana, juga sudah ada salah satu stasiun TV swasta yang ternyata sudah sejak kemarin terus mengikuti proses acara ini. Inilah sebuah resistensi budaya lokal melawan hegemoni budaya populer yang terus menghantui masyarakat.

Selasa (19/2), Merti Desa adalah sebuah fenomena umum yang terjadi dalam kultur masyarakat agraris. Merti Desa merupakan warisan dari nilai-nilai luhur lama budaya kita, yang menunjukkan bahwa manusia jadi satu dengan alam. Ritual ini juga dimaksudkan sebagai bentuk penghargaan masyarakat terhadap alam yang menghidupi mereka.

Desa Nggaras terletak di Kelurahan Randuacir, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga. Acara ritual Merti Desa Nggaras berlangsung setiap bulan Sapar dan hari Selasa Legi (mengikuti penanggalan Jawa). Ritual ini berlangsung satu kali dalam setahun. Acara ini sendiri berlangsung selama dua hari, 18-19 Februari 2008. Hari pertama dikhususkan untuk ritual sesaji dan persiapan-persiapan segala hal untuk hari berikutnya. Sesaji ditaruh di 80 titik yang meliputi pusat-pusat desa, tempat-tempat keramat, tempat-tempat yang berkaitan dengan air (sumur, sungai, mata air), batas-batas desa (utara, selatan, timur, barat), setiap perempatan, dan setiap pertigaan di wilayah tersebut.

Hari kedua, acara dimulai kurang lebih pukul 15.00 WIB. Pada hari ini, acara berisikan kesenian-kesenian budaya lokal. Acara-acara seperti warok, kuda lumping, dan tari-tarian mendominasi. Di hari ini pula ada acara makan bersama, dimana setiap warga memasak makanan masing-masing, lalu dibawa ke rumah Ketua RW, tempat berlangsungnya acara kesenian, dan makan bersama-sama.

Untuk berlangsungnya acara Merti Desa ini, setiap kepala keluarga memberi iuran sebesar 15 ribu rupiah. Menurut salah seorang warga yang sempat SA wawancarai, inti dari acara Merti Desa ini adalah untuk kelancaran rejeki, keselamatan desa, harapan akan tanah yang subur, dan untuk persatuan warga setempat.

SA juga sempat bertanya apakah sejak dulu memang sudah ada acara seperti ini. Ia menjawab, “Iya, Mas. Ini udah dari jaman dulu. Kalau dulu malah ada Tayubnya. Tapi pas jaman-jaman komunis dilarang. Acara Tayub juga dilarang. Tapi, Mas, di beberapa desa masih ada kok yang pake kesenian Tayub.” Di desa ini juga terdapat slogan yang menarik: “Kami kalau diikuti silakan. Tapi kalau disuruh mengikuti, nanti dulu.” Menurut salah seorang warga, karenanya di desa ini persatuan dan kesatuan warga terjaga baik.

Mendekati akhir acara, SA juga mewawancarai Didot Klasta dari Lembaga Media Aksi Komunitas “Kalangan.” Menurut Didot, Merti Desa adalah pernyataan dengan penuh percaya diri akan identitas, akar budaya, dan idealisme melalui pengalaman otentik orisinal komunitas, dimana komunitas menjadi pencipta budayanya sendiri, bukan hanya obyek yang dicekoki oleh rezim kebudayaan yang menghegemoni, seperti globalisasi budaya kapitalistik ataupun totalitarianisme budaya.

Penonton ikut kesambet
SCIENTIARUM/BAGUS F. PERMANA
Salah satu penonton kesambet (kerasukan — Red) saat mencoba menolong para pemain kuda lumping.

Tarian tradisional Merti Desa Nggaras
SCIENTIARUM/BAGUS F. PERMANA
Salah satu tarian tradisional yang ditampilkan pada Merti Desa Nggaras.

Tag: , , ,

12 komentar telah masuk. Apa pendapat anda?

Halaman: [2] 1 » Lihat Semua

  1. Komentar ke-12

    Thanks telah di publikasikan kesenian nggaras,ak orang nggaras yang udah mending tahu tehknologi minta bantuan untuk trus membantu pendidikan di desaku yang nyata nyata kurang.to salatiga jagan anak tirikan desa suguhwaras.buat maju dunk..hidup NGGARAS

  2. Komentar ke-11

    @ mas wid :

    Faktanya itulah bentuk kesenian budaya leluhur kita..

Halaman: [2] 1 » Lihat Semua

Berikan pendapat anda. Bergabung dalam diskusi.

PERHATIAN. Setiap komentar akan melewati proses moderasi sebelum tampil. Silakan berkomentar dengan sopan dan bertanggungjawab. Komentar anonim atau alias tetap diperbolehkan, namun kami mengimbau agar anda sudi menunjukkan identitas asli. Komentar yang menyinggung isu SARA atau melanggar etika kesopanan tidak akan ditampilkan.

SPONSOR LINK