Freedom Writers

Browse By

Judul: Freedom Writers
Sutradara: Richard LaGravenese
Pemain: Hilary Swank, Patrick Dempsey et al.
Produksi: Paramount Pictures
Rilis: 5 Januari 2007, Amerika Serikat
Genre: drama, kriminal

Freedom WritersKisah ini sangat menakjubkan dan mengritik para tenaga pengajar yang kebanyakan melakukan generalisasi pada anak didik. Erin Gruwell telah melakukan pendidikan yang humanis, membebaskan, dan beralaskan kasih. Ini adalah kisah nyata tentang kelas 203, dimana Erin Gruwell melakukan pendidikan yang benar-benar menakjubkan. Gruwell telah mendobrak paradigma pendidikan dan memberi pandangan baru sebagai solusi.

Kelas 203. Ia masih lengang meskipun bel tanda masuk telah berdering. Meja para murid penuh coretan. Beberapa halaman buku pelajaran hilang bekas sobekan. Papan tulis penuh dengan kotoran debu. Penutup jendela kelas rusak. Kelas 203 lebih mirip sebuah bui daripada ruang pendidikan. Mayoritas guru melihat kelas itu sebagai ruang gelap tanpa harapan. Rapor akademik kelas itu merah. Kata “pendidikan” absen dari ruang itu. Yang ada cuma “pendisiplinan.” Satu per satu murid memasuki kelas karena digiring petugas piket sekolah. Mereka harus dipaksa belajar karena mereka tidak memiliki hasrat sedikit pun akan pendidikan. Para guru mengibarkan bendera putih. Para murid akan menghilang satu per satu dari ruang kelas untuk selamanya.

Kelas 203 kontras dengan kelas di seberangnya. Para guru sudah hadir di kelas sebelum jam tatap muka mulai. Ia sudah menuliskan materi pelajaran di papan tulis. Hanya guru dengan predikat teladan mendapatkan izin mengajar di kelas itu. Meja para murid tertata rapi dan bersih dari coretan. Tahun ajaran baru ditandai dengan buku pelajaran baru. Para murid bergegas memasuki kelas begitu bel masuk berbunyi. Ruang kelas itu hanya terbuka bagi para murid dengan rapor akademik istimewa. Mayoritas murid berkulit putih dengan perkecualian segelintir murid dari ras lain. Mereka tak pernah menginjakkan kaki mereka di kelas seberang karena terbentang sekat pemisah di antara keduanya.

Para murid kelas 203 melihat Erin Gruwell, guru baru mereka, dengan tatapan kebencian pada hari-hari pertama tahun ajaran. Mereka memandangnya sebagai sipir bui yang berdiri di depan kelas untuk mendisiplinkan para narapidana sekolah. Ia menjadi bagian dari struktur sekolah yang melihat para murid sebagai barang antik. Ia dianggap sama saja dengan para guru sebelumnya yang selalu mengeluarkan kartu merah untuk mendisiplinkan perilaku mereka. Ia terlibat dalam institusi pendidikan yang terperosok dalam dosa. Profesi guru telah lama hilang dari ruang kelas itu. Gruwell mencita-citakan sebuah rumah pendidikan bagi para muridnya. Rumah pendidikan di atas pondasi guru, murid, administrasi, dan dunia sekitarnya.

Gruwell tidak mulai dengan pelajaran tata bahasa, melainkan tata bangsa Amerika. Sekat pembatas antarmanusia itu tercipta antarruang kelas dan bahkan dalam satu ruang kelas. Para muridnya berasal dari latar belakang imigran, manusia perahu, korban penggusuran, pengedar obat terlarang, pernikahan dini, dan mereka yang terpinggirkan dari komunitasnya. Kelas didesain berdasar sekat-sekat pembatas. Menyeberang sekat menimbulkan ancaman kehidupan bagi penghuni sekat lain. Gruwell mencabut jerat-jerat penyekat itu dari ruang kelas. Ia mendesain ulang kelas itu menjadi jaring-jaring perjumpaan. Ia membuka mata terhadap konteks hidup para muridnya. Ia mendambakan kelas itu berubah dari penjara menjadi rumah. Jika Holocaust adalah nama sebuah sekat masa lalu dalam sejarah dunia, rasialisme adalah sekat modern dalam masyarakat Amerika. Pendidikan tak akan berlangsung selama rasialisme menjadi salah satu pilarnya.

Gruwell mengalami reorientasi atas profesinya sebagai pendidik saat ia membaca fragmen kehidupan para muridnya. Fragmen hidup dalam buku harian itu bergenang air mata. Ketulusan Gruwell dalam mendampingi mereka mengembalikan identitasnya sebagai guru. Drama pendidikan mencapai klimaks ketika Gruwell dan para murid membongkar model pendidikan lama yang deformatif dan mendesain model pendidikan baru yang transformatif. Para guru lain dan dewan sekolah mencecar Gruwell dengan tanggapan pedas, “Kelas 203 adalah kasus khusus yang sulit diterapkan di tingkat pendidikan yang setara. Metode pendidikanmu sangat tidak praktis.” “Saya ingin menyalakan lilin di ruang gelap pendidikan. Saya berani mengambil risiko menerapkan metode pendidikan yang didakwa tidak praktis ini, karena hidup para murid berharga di mata saya sebagai seorang guru,” demikian Gruwell menuliskan dalam buku hariannya.

Simak dan tonton filmnya!

9 thoughts on “Freedom Writers”

  1. STR says:

    Apa ini film wajib buat para pengajar???

  2. Geritz Febrianto says:

    @STR : menurutku sich film ini perlu ditonton oleh seluruh dosen UKSW. tapi tidak wajib artinya ini pilihan. namun saya menginginkan agar film ini diputar… di UKSW. semoga ada yang bisa mengakomodasi

  3. GodboY says:

    Setuju!! Biar dosen gak asal pinter aja!! Dosen tu jngn cm ngajar, mendidik juga donk!

  4. Sebleng says:

    Film wajib tonton buat dosen UKSW.

  5. temennya MeQ says:

    Ya ayo…cari film-nya..dan kita bikin acara pemutarannya, mungkin berseri gitu, Goodwill Hunting, Monalisa’s Smile, Dead Poet Society, dan satu lagi aku lupa judulnya, tapi yang maen Matthew sumthin yang maen di serial Friends, ceritanya intinya tentang munculnya 50 Rules yang berlaku di kelas, keren juga. Tapi paling pol emang (sejauh ini, film yang diresensi Prof. Geritz ini belum nonton) Dead Poet Society!!!

    Wajib tonton buat semua dosen juga keren…biar tercerahkan semua…

  6. Geritz says:

    @teman-nya MeQ : klo ngga salah judulnya “50 Rules”. Hehe…
    sepertinya harus tindak lanjut neh…

    Ada yg mau fasilitasi ??
    Nanti saya siapkan Film-nya

    -geritz-

  7. endah_alumni says:

    sisi basi yg kalian semua tau……………

    mengajar dan mendidik merupakan 2 sisi mata uang, saling melekat. inspirasi untuk melakukannya bisa didapat dari mana saja. namun sebagai pengajar (yg juga pendidik) banyak dilema yg hrs dihadapi.

    saya adalah alumni FKIP yg skrg udah ngajar di salah satu skul swasta di Tangerang.
    mungkin saat mjd mahasiswa kita punya gudang idealisme yg nunggu buat dimuntahkan di berbagai kesempatan. dan sangat jarang sekali idealisme pendidikan tetap bertahan ditengah kondisi riil yg dihadapi di skul. menghadapi siswa yg beraneka ragam karakternya, hubungan dgn rekan kerja yg ‘pamrih oriented’, atasan yg otoriter, sampai menghadapi sikap ortu siswa yg seringkali sulit menerima keadaan anaknya yg ‘kurang’. bener2 jadi tantangan yg beratmya ujubileh…krn kan kita menghadapi manusia..

    maunya siy emang berjalan sesuai dgn idealisme pendidikan yg kita lahap selama kuliah…saya udah ngerasain gimana ditertawakan dan mdpt tekanan langsung oleh atasan saya juga ortu siswa karna mereka bilang saya idealis. dalam hati saya tertawa lebih keras …. saya merasa ngga idealis, saya cuman ngerasa bahwa apa yg saya lakukan benar (krn sebenernya mrk sendiri mengakui di depan saya kalo mrk melakukan hal ngga benar). tapi itulah kenyataan yg saya hadapi..meski akhirnya saya terjebak di situasi yg sangat tdk saya inginkan…i am a single fighter…saya mengkhianati hati nurani saya sendiri dgn mengikuti kesepakatan mereka (bukan saya)…kalo ngga kalian pasti udah baca namaku di koran bulan Februari wakaka!!! pada saat itu ada bbrp hal yg hrs saya pertimbangkan dan prioritaskan.

    ruang pendidikan adalah ruang yg membebaskan dan memerdekakan pikiran (seharusnya… >itu idealisme saya hehehe :P)…. memanusiakan manusia…anda-anda semua sudah menyediakan diri untuk ‘dimanusiakan’ dalam institusi pendidikan. dibuat menjadi manusia yg utuh dengan segala sifat kemanusiaan yg sudah disepakati bersama.

    saat menjadi siswa kita bebas ngomong apapun (apalagi mahasiswa ya hehehe), kritik pengajar dan cara ngajarnya..mungkin pengajar (apapun itu baik guru/dosen) saya yakin punya hati nurani yg ngga bisa dibohongi kalo pengen ngajar dgn sempurna.
    oopz tunggu dulu…pengajar menghadapi lebih dari 1 orang yg karakternya berlainan (bayangin kuliah yg kelasnya lebih dari 30 orang), siapa yg hrs menyesuaikan? dosennya ato mhswanya? dua2nya dong..tapi lebih efektif efisien yg mana?
    krn tiap org tu punya karakter beda2 perlakuan yg diberikan juga beda. tau lahh…yg lemot ngga bisa disamain ma yg jenius kan. bayangin aja 100 mhsw yg hrs dipahami karakternya. bisa bikin pengajar pusing berguling-guling…

    saya suka banget nonton film2 yg inspiratif misal Coach Carter dan buku2 misal Toto-chan.pengen jg nonton Freedom Writers.tapi perlu diketahui semuanya itu situasional. ngga bisa dipaksakan. mhswa sndiri ngga mau dipaksa2 kan..
    sekarang makin banyak siswa yg ogah diajak sedikit berdisiplin dan bekerja lebih keras dan cerdas.maunya males mulu…padahal ada target yg hrs diselesaikan.ngajar jg jd ngga utuh.
    saat nilai jeblok pengajarnya yg disalahin….aneh…padahal tugas ngga kumpul/terlambat, tes jg nyontek. dikasih soal analisis dikit jawab seenaknya..ya tho…

    naaa…si Gruwell ndiri blg kalo dia pengen nyalain lilin. sebenernya idealisme Gruwell bukan hal yg baru ato dikatakan mendobrak paradigma pendidikan. setiap pengajar dibekali dengan sesuatu yg jg diyakini si Gruwell itu. namun nampak ato tidak tergantung situasi yg dihadapi. rekan kerja Gruwell pasti udah kasih image yg jelek untuk kelas 203 jd under estimate gitu…knp bgtu…ya Gruwell tu guru baru..yg lama kali aja udah eneg dgn perilaku anak kelas 203.jd Gruwell msh punya ide yg fresh, tenaga maksimum, kesabaran level tinggi buat menghadapi anak2 dgn latar belakang yg beda…palagi kalo dia msh single kaaan…
    berjuang demi idealisme sangat mungkin dilakuin oleh siapa aja…

    termasuk anda. …

  8. Ellen K Naryono says:

    bukan hanya dosen dan pengajar yang perlu belajar dari kisah Gruwell, tapi kita semua yang masih mau berjalan dengan hati nuraninya. menyaksikan kisah ini, pastinya kebanyakan dari kita pernah mengalami walau berbeda konteksnya. Tapi di sini kita harus menyadari bahwa di manapun kita ditempatkan entah sebagai pengajar, mahasiswa, professional, karyawan, pengusaha dll, kita harus bisa membawa perubahan tentunya bukan hanya dari perspektif mikro tetapi makro. seperti yang dilakukan Gruwell baginya dia sedang tidak memperjuangkan idealisme personal, tetapi sebagai warga negara Amerika dengan skill dan hatinya dia sedang memberikan kontribusi buat pembentukan character building sebuah bangsa. Walaupun tantangan dan tekanan itu ada tetapi harapan itu pasti untuk sesuatu perubahan, apalagi buat kita yang hidup di negara berkembang, dengan berbagai masalah sosial, politik dan ekonomi, apakah kita tidak terpanggil untuk melakukan yang terbaik ibaratnya mutiara sekalipun didalam lumpur atau diterjang ombak laut pasti dia tetaplah mutiara yang berharga dan waktulah yang akan mengujinya. So, do the best whoever you are, bad or good time…..

  9. Satkar says:

    Amazing1
    What a great movie!
    I like this movie..
    Hilary Swank acting-nya natural bgt!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *