Diskusi Modal Intelektual PSKTI

Browse By

Kamis (21/2) sore, Pusat Studi Kawasan Timur Indonesia (PSKTI) mengadakan diskusi dengan topik “Modal Intelektual bagi Masyarakat.” Diskusi ini merupakan diskusi awal dalam rangka penelitian modal intelektual di bagian timur Indonesia.

Diskusi dimulai pukul 16.20 WIB atau terlambat sekitar 20 menit dari jadwal yang direncanakan. Diskusi yang di pandu oleh Theo Litaay ini dimulai dengan doa oleh Direktur PSKTI, Marthen nDoen. Hadir pula perwakilan LSM (lembaga swadaya masyarakat), kelompok etnis mahasiswa, individu, dan calon mahasiswa doktoral dari Ambon.

Proses diskusi diawali oleh rangsangan materi dari Neil Semuel Rupidara dengan makalah berjudul “Modal Intelektual dan Strategi Pengembangan Organisasi dan Sumber Daya Manusia,” dan kemudian dilanjutkan dengan diskusi. Dalam presentasi dan diskusi ditegaskan bahwa modal intelektual sangat penting baik pada level organisasi maupun nasional karena membawa implikasi pada upaya untuk lebih memahami kondisi, perkembangan, hambatan, dan berbagai persoalan terkait dengan isu modal intelektual. Namun agar dapat berhasil, maka riset ataupun rencana tindakan untuk meningkatkan pemahaman akan kondisi kualitas modal intelektual perlu dilakukan dan dikembangkan.

Diskusi ini berkembang dengan menarik, namun dianggap masih perlu penguatan dari landasan filosofis maupun kesadaran pribadi. Marthen juga menegaskan bahwa PSKTI akan menggali modal intelektual dari masyarakat, dan untuk berbagai masukan PSKTI akan mengadakan diskusi-diskusi untuk memperkuat landasan penelitian dan berencana mendatangkan Daniel Dhakidae, penulis buku “Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru,” pada 8 Agustus 2008.

12 thoughts on “Diskusi Modal Intelektual PSKTI”

  1. STR says:

    Kemarin nyinggung-nyinggung knowledge management juga nggak?

  2. Saam Fredy says:

    Basic dari Intellectual Capital (IC) adalah knowledge yang dipunyai oleh institusi ataupun negara. Adalah lebih baik jika negara kita mengali aspek dalam IC, dan basis yang digunakan adalah knowledge of culture. Kita kaya akan budaya (hingga malaysia mencoba merampoknya). Namun sayang, apresiasi terhadap budaya sangat rendah sekali.

    Kenapa budaya? Inilah competitive advantage kita di mata dunia. lihat Bali, they preserved their culture very well, dan itu mendatangkan tidak hanya devisa tapi juga pengakuan dari dunia luar. Coba tanya mereka, pernah dengan tentang Bali? Pasti berbeda jawabannya kalau mereka ditanya, Pernah dengar tentang Indonesia.

    Kesadaran akan budaya dan pengembangan terhadapnya, akan menguatkan posisi negara ini. Kita tidak bisa bersaing melalui teknologi ataupun pendidikan. Tapi, kita punya banyak budaya yang LUAR BIASA. Pembangunan2 yang dilakukan, sewajibnya mempertimbangkan budaya lokal yang ada. Saya pikir kita sudah mengenal istilah think local act global dan lainnya, lalu kenapa kita harus mencari yang lain.

    Amerika dan Jepang bukanlah negara yang harus ditiru dalam kerangkan IC. Sejarah telah mencatat “kebrutalan” ke-2 negara ketika mereka membajak habis-habisan pengetahuan dari eropa. Saya lebih condong melihat Cina, dengan kekuatan budaya mereka yang hebat.

    Sehingga suatu saat negara ini akan terkenal dengan Negara Berbudaya, bukan negara miskin ataupun negara korup.

    Semoga.

  3. STR says:

    Budaya sebagai sumber keunggulan kompetitif? Baru ini saya dengar. Jadi contoh konkretnya seperti apa, Saam?

  4. whs says:

    Inti dari diskusi awalan tersebut apa??
    Koq lebih mirip seminar proposal penelitian ya??
    But, untuk PSKTI terima kasih atas rangsangan diskusi-nya..
    Acara seperti ini layak diliput oleh SA, seperti dulu ketika Diskusi Kemisan di Gd.G lt 5 yang telah tiada…

  5. Saam Fredy says:

    To STR,

    Sederhana saja, seperti telah saya contohkan Bali dengan segenap aspek kebudayaannya (dari adat dan aspek2nya, pakaian daerah, dan potensi yang ada dalam daerah itu), mampu menjaga keunggulan dengan daerah2 lain dalam hal pariwisata. Ini bisa dijadikan keunggulan kompetitif kita. Melawan Amerika dan Jepang dalam hal pendidikan ataupun teknologi, kita tidak mampu sampai kapanpun. Kita ini negara dengan beragam budaya, lalu kenapa pengembangan/pembangunan kita selama ini diarahkan ke industrialisasi?

    Kita sudah mislead terhadap pembangunan. Pengetahuan dalam kebudayaan kita sangat berharga dalam proses pengembangan negara ini.

    Salam,

  6. JT says:

    KM sempat saya singgung sedikit pada saat diskusi tsb (sayang banget telat dateng), krn KM dan IC itu saling terkait satu dengan yang lainnya. Untuk bisa mengelola IC diperlukan KM dan saat ini IT merupakan salah satu tools yang ampuh dalam mengelola IC tersebut. Contohnya sharing of knowledge melalui blog ini.

    Btw, agak OOT dikit…. gimana kalo kita bikin komunitas Knowledge Management di kampus ini melalui forum2 diskusi ilmiah?

  7. STR says:

    @ JT: Tunggu artikel saya berikutnya di PFPM. Ada itu. 😀

  8. Neil Rupidara says:

    Diskusi tersebut dilakukan berdasarkan telaah terhadap literatur2 intellectual capital, untuk mengidentifikasi wacana apa saja yang berkembang di wilayah tersebut. Pikiran saya yang diminta menjadi penelaah adalah mengarahkan pembahasan untuk memunculkan ide2 penelitian dan/atau policy recommendations, paling tidak ini untuk kepentingan program internal pskti. Tapi, cukup surprise saya dengan realitas forum ketika banyak teman yang hadir dan datang ekspektasi yang juga tertangkap (paling tidak di kepala saya) beragam.

    Soal budaya, silahkan search dan baca misalnya literatur culture and performance (konsep intellectual capital juga memuat wacana budaya sebagai salah satu komponennya). Lalu, jika berpikir tidak mungkin mengejar Amerika dan developed countries, ya bakalan begitu. Tentu kita tidak mimpi untuk tiba-tiba jadi seperti mereka, tetapi secara konsisten dan telaten berupaya berjalan ke arah mereka. Belajarlah dari pengalaman Jepang, Korea, Taiwan etc (pada tataran perusahaan maupun makro), mereka juga berangkat dari kelas seperti kita. Dalam kasus mereka, saya sepakat ada juga kontribusi budaya, yakni adanya high performing culture, dan bukan menjual budaya sebagai produk. Yang terakhir (budaya sebagai produk) hanya memberi nilai biasa-biasa saja karena orang lain juga punya budaya dan hanya bangsa yang tahu how to add value, pada aspek yang tidak terlihat orang lain atau unggul dalam proses dan teknologilah yang bakal mendapat lebih.

    KM adalah juga komponen IC, yakni pada dimensi organizational capital, yang akan terkait ke komponen lain yakni relational dan human capital. Cuma, bagi saya, the essential component to stimulate KM is learning and sharing culture. Karena itu, media ini dan partisipasi di dalamnya sangat bagus dan harus dikembangkan.

    Salam

  9. whs says:

    @ Neil Rupidara : Apakah hal ini berarti inti daripada diskusi IC dan SDM adalah melakukan plan research sekaligus action researh bagi PSKTI (scr internal) dan wilayah dampingan PSKTI sebagai subyek implementasi penelitian,dengan cara menggali potensi lokal (termasuk kearifan lokal) yang ada pada setiap lokalitas-lokalitas di Indonesia ini,untuk kemudian dikembangkan sebagai suatu gagasan pembangunan wilayah yang lebih komprehensif dan sustainable,yang tentunya pembangunan berorientasi kepada demokratisasi masyarakat lokal dan tata kelola pemerintaha lokal yang lebih baik..Apakah ini yang anda maksud ?? Mohon di respon….
    Dalam unsur budaya,mungkin contoh2 yang yang ditawarkan oleh Bung Saam dan Bung Neil merupakan kongkritisasi sebuah contoh gemilang suatu negara dalam pengelolaan pembangunannya yang bersandar pada pilar budaya lokal (selain pilar pendidikan).Namun yang perlu diingat adalah,negara2 spt:Taiwan,Cina,Jepang atau salah satu contoh:Bali,dalam hal kebudayaan cenderung bersifat monokultur,Sedangkan Indonesia sendiri sudah terkenal dengan multikulturalnya.Sehingga diharapkan ada sebuah formula khusus yang bisa digali lagi lebih dalam mengenai rumus-rumus pembangunan di Indonesia agar tidak hanya menjadi sebuah pembanguan yang retorik.Artinya hanya sekedar membangun(mainsteram ideologi Pembangunan di kebanyakan Negara Dunia Ketiga,termasuk Indonesia adalah Pembangunanisme ala produk donatur/funding/lembaga internasional).
    mungkin kita perlu belajar dari Cina mengenai program Revolusi Kebudayaan-nya era MAo Tse Tung.Namun sekali lagi bukan menirunya apalai mengadopsi,melainkan hanya belajar tentang bagaimana budaya bisa menjadi pilar pendudkung utama dalam Pembangunan ala Indonesia sendiri (-semoga-).
    @ Saam : Benar adanya negara kita kaya akan khazanah budaya lokal-nya namun orientasi pengelolaan budaya (dan periwisata) di negara ini berkiblat pada pasar.Jadi kalo dibilang “Kita ini negara dengan beragam budaya, lalu kenapa pengembangan/pembangunan kita selama ini diarahkan ke industrialisasi” pada dasarnya pengembangan/pembangunan kita sekarang sdudah industrialisasi kebudayaan dan pariwisata.Namun hal ini bukan merupakan masalah yang krusial bagi aku.Yang lebih penting adalah,walaupun terjadi industrialisasi di ranah budaya akan tetapi management of culture-nya tidak meninggalkan entitas akar budaya-nya.Artinya dalam bahasa Bung Neil adalah adanya high performing culture, sedangkan budaya sebagai produk hanya memberi nilai biasa-biasa saja karena orang lain juga punya budaya dan hanya bangsa yang tahu how to add value.
    Suwun.

  10. Neil Rupidara says:

    bung WHS,

    in fact, personil pskti yakni bung Theo Litaay sedang terlibat dalam sebuah kolaborasi riset internasional tentang local wisdom and knowledge dalam rangka membangun ketahanan hayati. PSKTI baru semester ini memulai seri diskusi dua mingguannya dan diharapkan diskusi menjadi wahana sharing pengetahuan pra-riset maupun hasil riset (termasuk preliminary) yang bisa terus mendorong akumulasi pengetahuan yang bisa mengorientasikan tindakan pembangunan (organisasi, masyarakat, wilayah, dsb). Dalam konteks seperti itu, pendapat bung WHS yang diwujudkan dengan bertanya pendapat saya adalah benar. Knowledge-based development (jika boleh menggunakan istilah ini) mudah2an merupakan sebuah approach yang holistic, berbasis pemahaman yang solid tentang realitas dan fenomena empiris yang dijumpai di setiap konteks pembangunan. Karena itu, riset (cara belajar dan proses mengakumulasi pengetahuan) harus menjadi basis untuk mendorong policy dan program pembangunan. Dan, baik proses membangun pengetahuan dan pengetahuan sebagai produk ya harus dikelola dengan sistem yang baik. Terminologi macam knowledge management, learning organization, atau intellectual capital karena itu fit in ke dalam wacana seperti itu.

    Sebetulnya dalam paper dan diskusi yang lalu, saya juga membahas tentang strategi pengembangannya, melalui perspektif resource-based, namun tidak dapat saya penuhi karena alasan waktu (biasa, klasik).

    Saya setuju untuk kita terbuka belajar dari siapa saja. Budaya juga bukan sesuatu yang statis. Budaya adalah pemolaan pengalaman hidup manusia berhadapan dengan lingkungannya. Karena lingkungan kita makin terbuka, maka pengalaman kita juga terbuka luas berinteraksi dengan realitas2 baru. Di situ, adopsi hal2 baik hendaknya juga tidak ditabukan. Dalam studi organisasi2, organisasi yang budayanya sangat kuat tetapi tertutup, bukan tidak mungkin menjadi dinosaurus: punah. Karena itu, budaya perlu terbuka terhadap perubahan dan karenanya fit dengan lingkungan yang dinamis.

    SALAM,
    Neil

  11. Pingback: PSKTI-UKSW » Blog Archive » Diskusi PSKTI: Modal Intelektual Masyarakat
  12. Trackback: PSKTI-UKSW » Blog Archive » Diskusi PSKTI: Modal Intelektual Masyarakat
  13. Pingback: CEIS-SWCU » Blog Archive » Diskusi PSKTI: Modal Intelektual Masyarakat
  14. Trackback: CEIS-SWCU » Blog Archive » Diskusi PSKTI: Modal Intelektual Masyarakat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *