Pemasangan kain ungu dan mahkota duri, simbol kesengsaraan Yesus
Telah dilihat 327 kali sejak 25 February 2008
SCIENTIARUM/MARIA D. J. NUNES
Kris H. Timotius, Rektor UKSW, sedang memasangkan kain ungu dan mahkota duri pada salib.
SALATIGA — Suasana halaman depan pintu masuk Universitas Kristen Satya Wacana hari ini tampak berbeda. Halaman yang biasanya hanya dihiasi beberapa baliho, kini terdapat pula sebuah salib berukuran besar yang dipasangi kain ungu dan mahkota duri, tepatnya di belakang papan nama UKSW.
Pemasangan kain ungu dan mahkota duri ini dilakukan oleh Rektor UKSW, Kris H. Timotius, dan disaksikan oleh sivitas akademika, Senin (25/2). Pada saat yang bersamaan, rektor juga memberikan sambutan, yakni menekankan bahwa saling mengasihi merupakan ciri khas UKSW.
Pemandangan ini tidak hanya terdapat di halaman depan kampus saja. Namun simbol salib lain dengan ukuran dan bentuk sama juga tampak berdiri kokoh di beberapa titik strategis, seperti di samping kiri kantor PSKTI, di taman bukit dekat Kafe Rindang, dan di depan Fakultas Psikologi.
Bagi mereka yang beragama Kristen, tentu ini bukan hal yang asing. Kain ungu yang melambangkan keagungan serta mahkota duri yang dipasangkan di atas kepala Yesus merupakan suatu simbol untuk memaknai tentang penderitaan dan kesengsaraan Yesus.
Melalui agenda ini, tentunya penyelenggara memiliki maksud dan tujuan. “Pemasangan simbol kekristenan tersebut merupakan salah satu bentuk ajakan kepada seluruh sivitas akademika UKSW supaya mengingat kembali penderitaan dan kesengsaraan Yesus,” terang Felda M. Syaranamual, Sekretaris Panitia Paskah Bersama 2008.
Sebelum mengawali pemasangan simbol kekristenan itu, terlebih dahulu dilakukan ibadah bersama di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Salatiga. Ibadah bersama serta pemasangan simbol kekristenan merupakan awal dari segenap rangkaian kegiatan Paskah Bersama UKSW 2008.
Perlu diketahui, eksistensi suatu lembaga Kristen selalu terlihat dengan adanya simbol-simbol, kegiatan-kegiatan, serta pola perilaku yang mengandung unsur kekristenan. Barangkali ini tidak terkecuali bagi kampus UKSW. Apabila menjelang hari-hari besar Kristen seperti Paskah dan Natal, maka akan terlihat dan tercium suasana perayaannya, sehingga seluruh sivitas akademika dapat menghayati arti dari momen ini.
Semoga kegiatan dan simbol tidak hanya menjadi formalitas belaka, tetapi ditunjukan pula dengan sikap dan perilaku, yakni saling mengasihi seperti yang diungkapkan oleh rektor.

Komentar ke-1
25 February 2008 19:20
Perambah
UKSW kok dibilang Kristen???
Komentar ke-2
27 February 2008 10:39
Perambah
nek ora kristen trus opo jal?
kere-sten ka?ha ha ha ha ha ha
Komentar ke-3
27 February 2008 15:27
Perambah
UKSW tetap Kristen, lihat misi dan visi kita, lihat logo, dan segenap atribut yang ada. Hanya orang-orang di dalamnya kadang tidak memperlihatkan ke-Kritenan mereka. Berikut ada satu liputan yang menarik disimak (diambil dari http://www.uksw.edu, tanggal 29 Januari 2008):
(SALATIGA, http://www.uksw.edu) Tepat hari ini, tanggal 29 Januari 2008, Ibu Sujariah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ibu Notohamidjojo, istri dari mendiang Rektor I Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Almarhum Bapak O. Notohamidjojo, S,H., berulang tahun ke-83. Beliau, terlahir dari pasangan Raden Sastrowardoyo dan Raden Roro Sastrowardoyo di daerah Banjaran, Salatiga. Dengan kondisi tubuh dan wajah yang masih kelihatan segar, Humas UKSW berkesempatan menemui beliau di rumah kediamannya. Eyang, demikian keluarga besar Notohamidjojo menyebutnya, sangat antusias bercerita, sehingga tidak terasa obrolan 1 jam terlewati. Banyak hal beliau ceritakan, namun ada beberapa poin yang patut kita simak dan pelajari bersama.
Kecintaan beliau terhadap Satya Wacana tidak bisa diragukan, selama 1 jam berbicara dengan Eyang, Satya Wacana selalu beliau sebutkan dengan ucapan bangga. Hal tersebut pasti dapat kita maklumi, karena beliau banyak membantu Almarhum Bapak Noto membangun Satya Wacana mulai dari awal. “Satya Wacana selalu dekat di hati Saya, Saya merasa bahagia dan terharu dapat menikmati Satya Wacana hingga hari ini,” ungkap beliau dengan nada lirih. “Kalau Saya punya kesempatan jalan-jalan ke kampus, Saya sangat senang karena masih banyak yang mengenal Saya,” tutur beliau lebih lanjut.
Satya Wacana Milik Tuhan
Menurut Eyang, Satya Wacana yang dibangun dari segala kekurangan, penderitaan dan kesusahan, tidaklah sia-sia. “Bapak, beserta pendiri yang lain, selalu menyandarkan semua kepada Tuhan, beliau sadar bahwa kita adalah orang Kristen,” ujar Eyang. Mereka yang bekerja di Satya Wacana haruslah bekerja seperti dia bekerja untuk Tuhan, layanilah dengan sebaik-baiknya. “Karena dengan pimpinan Tuhan, Satya Wacana dapat menjadi besar”, ujar Eyang.
Eyang sempat sedih dan merasa susah hatinya, ketika konflik tahun 94/95 yang beliau sebut sebagai pertikaian antara kakak dan adik terjadi. “Saya katakan kepada mereka semua, bahwa mereka itu kakak dan adik. Kakak dan adik haruslah saling menyayangi, jangan saling menyalahkan. Kakak dan adik bersekutulah dalam ke-Kristenan,” ungkap Eyang.
Alumnus Pimpin UKSW
“Kemauan Bapak sebelum beliau meninggal, agar Satya Wacana selanjutnya dipimpin oleh alumnus sendiri,” ujar Eyang. Menurut Eyang, lulusan Satya Wacana lebih mengerti seperti apa Satya Wacana. Pernah memang Satya Wacana dipimpin oleh Dr. Sutarno, yang bukan alumnus Satya Wacana. Pada saat itu, Almarhum Bapak Noto menginginkan agar penerusnya seorang muda dan doktor, namun Satya Wacana belum memilikinya. Sutarno yang kebetulan waktu itu seorang pendeta di Semarang, diminta oleh Almarhum Bapak Noto untuk mengajar di Satya Wacana. Melihat Sutarno yang masih muda dan tahan banting, beliau akhirnya disekolahkan ke Belanda, hingga dapat mencapai gelar doktornya.
“Namun, setelah Dr. Sutarno, Satya Wacana selalu di pimpin oleh alumnus sendiri, Wily, Ihalauw, John, dan sekarang Kris,” ujar Eyang. Bagi siapa saja yang memimpin Satya Wacana, Eyang berpesan untuk memperhatikan bawahan mereka. (sf_BPHL).
Komentar ke-4
27 February 2008 20:31
Perambah
Ngeri beritanya. Kamu mau jadi wartawan SA juga ndak, Sam?
Komentar ke-5
28 February 2008 9:00
Perambah
to str:
Terima kasih atas permintaannya, saya hargai. namun saya masih menghormati lembaga kemahasiswaan. sayakan sudah alumni, jadi presenden buruk kalau aku iyakan. Saya yakin masih banyak mahasiswa kita yang punya banyak kualitas menulis, yang masih aku pegang selama ini adalah: Seorang wartawan dilahirkan bukan dipelajari, maknanya dalam, mohon digali lagi.
Terus terang, saya masih banyak belajar juga, istilah Bang Eka itu belajar “Tacit Knowledge” as journalist, butuh jam terbang. Kalau istilah saya itu “taste inside as journalist” rasa di dalam hati sebagai jurnalis.
Jurnalisme sastra, jurnalisme informatif, dan jurnalisme advokasi, baru ke-3 itu yang saya gunakan. kedepan jurnalisme analisis, butuh banyak data untuk menulisnya.
Komentar ke-6
3 March 2008 14:18
Perambah
sangat luar biasa kampus kita. untuk civitas slamat merayakan PASKAH.
Komentar ke-7
4 March 2008 16:42
Perambah
Dicari!!!
Universitas Kristen di Indonesia, dengan persyaratan :
1. Mengasihi Tuhan dan sesama.
2. memiliki visi dan misi yang jelas dan mencirikan kekristenan
3. memiliki civitas akademika yang beragama kisten, sekurang-kurangnya masih beragama kristen 5 tahun lagi.
4. memiliki perjalanan sejarah panjang dan mampu menunjukkan pertolongan-pertolongan Tuhan.
5. pernah menjadi saksi dan dapat menjadi teladan yang baik bagi orang disekelilingnya.
6. memiliki civitas akademika yang berkualitas dan tidak gemar pada feodalism
7. memiliki civitas akademika yang senang berdiskusi dan menjauhi tindakan-tindakan yang tercela.
8. Berani berkata ya diatas ya dan tidak diatas tidak
9. menomorsatukan Tuhan dan Bukan Materi duniawi
10. memiliki master plan yang jelas untuk 10 tahun - 20 tahun kedepan.
Jika Anda memenuhi persyaratan, segera hubungi Lembaga Pendidikan dan Gereja terdekat. Tuhan akan memberkati anda.
UKSW masih kristen!!!
cuman pelaku-pelakunya ga tau masih mencirikan kekristenan atau tidak?.
yah…sekurang-kurangnya masih beragama kristen 2 tahun lagi.
Komentar ke-8
6 March 2008 13:04
Perambah
Jadikanlah perayaan PASKAH tahun ini untuk merefleksikan segala tindak-tanduk kita yang jauh dari iman kristen…
GBU ALL
Komentar ke-9
17 March 2008 0:41
Perambah
kain ungu dipasang di salib?
he he he….
ada teman saya berkomentar (teman saya lho…)
Ngapain njemur selendang di musim hujan?????
Jadi ingat waktu ibu saya menjahit “stola” (selendang) ungu untuk para majelis di gerejanya, yang akan dipakai untuk Paskah-an
saya komentari, “orang kok bisanya tiru-tiru, tapi tidak tahu apa yang ditirunya. Saya sampaikan pada ibu saya, gini lho bu…. kalau imam-imam Yahudi berkalung “selendang”, selendangnya itu namanya TALIT, dan talit tidak sekedar selendang putih yang dikalungkan di leher,
TALIT dibuat dengan teliti, ada rumbai-rumbai (ikatan-ikatan) tertentu yang jumlah ikatannya disesuaikan dengan “nilai” huruf-huruf Ibrani, dan akan “berbunyi” YHWH, jadi tidak asal “selendang”
Saya lanjutkan ‘komentar’ pada ibu saya yang mempersiapkan selendang ungu. Apa benar Yesus mati hari Jumat?, lha kok merayakannya setiap Jumat Agung? (silakan lihat tulisan terjemahan saya bahwa Yesus tidak mati hari Jumat di http://www.gkmin.net — yang menyebabkan saya di”bunyi-bunyikan” via SMS oleh pendeta dari Kalimantan “Anda jangan mengajarkan kebohongan, uraian Anda logis tetapi tidak dapat dipertanggungjawabkan!!!!!”
Saya jawab, ” Tidak dapat dipertanggungjawabkan pada siapa? pada Tuhan apa pada doktrin gereja? Saya bertanggungjawab pada Tuhan atas tulisan itu kok.. Kalau Bapak dapat mempercayai (beriman) pada sesuatu yang tidak logis, mengapa ini uraian logis seperti itu Bapak tidak dapat percaya?
Akhir dari SMS-SMS-an, Bapak Pendeta mengucapkan “Selamat Melayani” buat saya.
Oh ya, dulu di taman Getsemani (Ungaran) ada patung salib besar dengan ’selendang’ ungu, sekarang nampaknya sudah tidak ada lagi.
Silakan merayakan Paskah,jika merasa dengan simbol-simbol Paskah dapat membuat lebih menghayati, ya silakan gunakan simbol-simbol, tetapi jangan memaksakan simbol itu dipahami orang lain seperti pemahaman Anda.
Selendang ungu Anda maknai sebagai “tanda berkabung”,bagi teman saya sebagai “kain jemuran”. Bagi saya, yang penting pengakuan bahwa Yesus berkorban untuk manusia. Kain ungu adalah “perintah manusia” bukan perintah Tuhan,
Untuk siapa kain ungu itu? Untuk Tuhan-kah?
Agar Tuhan tahu bahwa kita mengingatNya, atau agar orang yang lewat tahu bahwa kita sedang menyambut perayaan Paskah?
Ingat firman Tuhan:
Yohanes 12:43 Sebab mereka lebih suka akan kehormatan manusia dari pada kehormatan Tuhan.
Satu lagi:
Roma 10:2-3 Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Tuhan, tetapi tanpa pengertian yang benar.Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Tuhan dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Tuhan
Ya.., jangan sampai seperti beberapa gereja GKJ dan GKI yang sekarang menyambut Paskah dengan Rabu Abu - Kamis Putih - Jumat Agung - Minggu Paskah, dengan ‘tiru-tiru’ pakai memberikan tanda abu bakaran daun palem pada dahi jemaat. (ikut gereja Katholik)
Lha kalau pakai Rabu Abu segala, ya mestinya pakai puasa 40 hari, karena Rabu Abu itu hubungannya dengan puasa 40 hari, kalau tidak pakai puasa 40 hari, ya itu namanya “tiru-tiru tapi ra nggenah”,
trus daun palem yang dibakar mestinya khan daun palem yang digunakan untuk “minggu palem” tahun sebelumnya,yang selama satu tahun ‘disimpan’ dirumah, bukan ambil daun palem baru, trus dibakar, ambil abunya, dioleskan ke dahi.
Ingat: sembahlah Tuhan dengan roh dan kebenaran….(bukan dengan ritual-ritual dan simbol-simbol)
Yohanes 4:23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
Komentar ke-10
3 July 2008 23:56
Perambah
@opa : Susah carinya….