Menguatkan Lembaga Pers Mahasiswa di UKSW

Browse By

Untuk mengelola kedinamisan suatu lembaga pers mahasiswa (LPM), terutama di era sekarang, tidaklah mudah. Tidak hanya Scientiarum (SA) yang mengalami jatuh bangun, tapi nasib serupa juga pernah dialami LPM-LPM lain, seperti Imbas, dan sebagainya.

Sebagai upaya menjaga eksistensi dan kesinambungan LPM di lingkungan UKSW, maka tak ada salahnya bila SA mencari tahu para pendahulunya. Kebetulan Ferry Roen, seorang mantan redaksi SA yang saat ini menjabat sebagai anggota DPRD Kupang, sedang menyambangi kampus di kaki gunung Merbabu ini. Dari pertemuan dengan mantan redaksi tersebut, SA berupaya menggali sejarah awal mula berdirinya LPM Scientiarum, yang boleh dikatakan selalu mengalami pasang surut.

Saat ditemui di kafe depan, Selasa (26/2), Ferry menceritakan bagaimana Scientiarum itu terbentuk hingga akhirnya terbit. Tidak hanya niat saja yang mereka tumbuhkan, tapi juga ditopang komitmen dan rasa kecintaannya terhadap Satya Wacana. “Pada tahun 1998, kami berlima mulai merencanakan kegiatan membuat media mahasiswa. Hal ini secara praktis atas dasar pemikiran matinya Gita Kampus (LPM sebelumnya — Red), internet sedikit, dan belum adanya media di Salatiga,” tuturnya.

“Dulu itu di senat (Senat Mahasiswa Universitas — Red) ada namanya, tetapi lembaganya tidak ada. Sedangkan secara idealisme, merunut visi misi Satya Wacana, yang mau dikembangkan adalah aspek kognitifnya. Dengan begitu para kadernya digodok di SA. Pada tahun itu pula kami merumuskan nama Scientiarum (persekutuan ilmiah), yang diambil dari salah satu visi misi UKSW. Dan saya rasa nama ini popular sekali di kampus sampai saat ini,” imbuhnya.

Baru menginjak tahun 1999, tepatnya bulan November, Scientiarum terbit perdana. Ferry bersama anggota redaksi SA lainnya merasa bangga sekali dengan hasil yang mereka peroleh. “Kala itu terbit aja sudah syukur, dan kelihatannya PR (sekarang WR — Red) III juga begitu senang,” kenangnya.

“Eksistensi Scientiarum kala itu, dari sepengetahuan saya, hanya tiga kali terbit saja. Habis itu mati karena periodesasi. Melihat Scientiarum saat ini di luar dugaan kami. Ke depan SA lebih dikuatkan lagi. Kalau perlu mulai mengupayakan independensinya, agar tidak ada intervensi baik dari dalam maupun luar kampus.”

Ditanya bagaimana sikap sivitas akademika ketika pertama kali SA terbit, ia menjawab bahwa respon mahasiswa dingin. “Respon mahasiswa dingin ketika ada SA. Namun bagi kalangan tertentu senang, karena otak tersalurkan,” pungkasnya.

17 thoughts on “Menguatkan Lembaga Pers Mahasiswa di UKSW”

  1. STR says:

    Makasih traktirannya, Kak. 😀

  2. Saam Fredy says:

    Mohon dipikirkan untuk Reposisioning Scientiarum.

  3. STR says:

    @ Saam: Ada masukan lebih riil?

  4. whs says:

    Pasang iklan niiii yeee….
    udah ga diurus ma SMU dan WR III ya..
    heheheheheee

  5. whs says:

    Pasang iklan adalah salah satu wujud riil dari menguatkan lembaga pers mahasiswa di UKSW….
    :-p

  6. inka says:

    LUAR BIASA.. kalo inget dulu waktu pertama2 persiapan untuk memulai lagi, minta ampuuuuunnn milih nama aja sampe meeting berapa kali, dari nama2 aneh yang lain sampe ke nama ini.. Dari nentuin berapa halaman, berapa kolom, lay out kayak apa….. kenyang di omel2in sama kakak2, SMU, BPMU.. semua maunya harus jadi, harus bagus, harus terbit.. dari kertas biasa, kertas glossy, sampe balik lagi ke kertas koran biasa.. bener2..

    Sekarang, melihat SA semaju ini.. BANGGA banget.. TWO THUMBS UP.. KEEP UP THE GOOD WORK.. jadilah SA yang sesuai dengan arti dari SCIENTIARUM itu..

  7. as says:

    toek : mas bambang
    “Dulu itu di senat (Senat Mahasiswa Universitas — Red) ada namanya, tetapi lembaganya tidak ada” saya mau tanya apa sih arti kalimat ini?
    ok

  8. bambang says:

    Buat as: Anda bisa konfirmasi langsung pada nara sumber yang bersangkutan melalui: email nec_timore@yahoo.co.id

    terima kasih buat atensinya.

    salam, bambang

  9. Theo Litaay says:

    Nostalgia, lucu juga ingat SA yang pernah tampil glossy. Sementara itu saat ini dengan student body di atas 11000 orang maka SA terasa makin “tenggelam” karena dengan frekuensi terbit yang terlalu jarang. Mungkin perlu revitalisasi?

  10. isdiyanto says:

    tentang pers mahasiswa baca juga:
    http://simpanglima.wordpress.com/2008/03/04/bangunlah-pers-mahasiswa/
    salam kenal buat semuanya dari (mantan) pengelola LPM MANUNGGAL UNDIP

  11. Pongky Bassa says:

    I ya juga ya…., Norak banget pas SA tampil Gloosy, Pengennya sih biar eye catching, hahahahaha, padahal gak sama sekali , malah ongkos produksinya tinggi, diomelin Bu Tri, hihihihihihihihihi

  12. JULIUS says:

    iseng-iseng buka SA, wah….kemajuannya cukup pesat. Salut !

  13. Geritz says:

    Pongky Bassa aadalah Ex-Pemred Scientiarum sebelum sapa ya? Sepertinya sebelum Hilda Anastasya. Katanya sekarang jadi Akuntan, Kerjanya banyak banget jadi Duit-nya juga banyak.. hehehehehe
    Mahasiswa FE Angkatan 96.
    Dengar2 dia mau sumbang Scientiarum

    Betul ngga?

    Salam,
    Geritz

  14. isdiyanto says:

    tentang pers mahasiswa, klik juga:
    http://simpanglima.wordpress.com/2008/03/04/bangunlah-pers-mahasiswa/

    salam kenal buat semuanya…

  15. irwan lalegit says:

    salam kenal buat semua dari manado (LPM INOVASI) Universitas Sam Ratulangi Manado.
    GBU

  16. obed says:

    @whs: Pasang iklan niiii yeee….
    udah ga diurus ma SMU dan WR III ya..
    heheheheheee
    >>> hati2 pernyataan di atas merupakan black campaign…
    banyak kali namamu… dah capek jadi yang mahaesa…
    salam
    muaaahhh
    jaya SA…

    P/S: salamin buat kronis, hiks!

  17. Neil Rupidara says:

    Gita Kampus (dulu Gita Mahasiswa?) memang sempat timbul tenggelam. Teman-teman seperti Ferry Roen, Tony Umbu Sunga, Rolly Umbu Dongu, Mas Untung (siapa lagi) memang pernah menjadi pasukan pembawa tongkat estafet hidupnya Gita Kampus (bermitra bung Ferry Revino di kantor Humas) di UKSW pada periode LK 1993, namun malang tak dapat dihadang GK berhenti ketika konflik meradang di UKSW. Mereka sempat pula menangani buletin LK di bawah SMU kala itu (apa namanya ya? lupa) yang juga terhenti ketika krisis internal LK sulit dihadang. Namun, jika suatu ketika (1998) karena pergumulan Ferry dan sejumlah rekan lain (Inka, Pong cs) lalu nafas pers mahasiswa di aras universitas ditiupkan kembali melalui hadirnya SA, maka saya kira itu sebuah bukti komitmen yang pantas dihargai. Sebagai yang termasuk orang yang selalu menanti terbitnya SA, maka selamat dan salut untuk pengelola SA, dari Ferry cs. sampai hari ini!!! Great job!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *