Kurcaci Jangan Investigasi

Oleh Geritz F. R. Bataragoa | 14 March 2008 | Kampus

Kamis, 13 Februari 2008, siang, saya datang ke GAP UKSW untuk mengambil kunci kantor Scientiarum (SA) dari bagian keamanan. Di sana saya bertemu Saam Fredy Marpaung, staf humas BPHL.

“Bagaimana pelatihannya?” tanya Saam.

”Ini baru aja selesai, Bang,” jawab saya.

Sejak Senin, 10 Maret 2008, Scientiarum bekerjasama dengan Imbas, lembaga pers mahasiswa Fakultas Teknik UKSW, mengadakan pelatihan jurnalistik. Instrukturnya Andreas Harsono, jurnalis dari Pantau, Jakarta.

Andreas adalah alumnus Fakultas Teknik UKSW. Ketika masih mahasiswa, ia pernah menulis untuk majalah Imbas. Ia juga pernah mendapat Nieman Fellowship on Journalism dari Universitas Harvard. Kini, selain bekerja untuk Pantau, ia juga bekerja untuk harian The Nation (Bangkok) dan The Star (Kuala Lumpur).

Hari terakhir diisi dengan diskusi mengenai materi-materi yang telah diberikan. Sembilan elemen jurnalisme, riset, wawancara, deskripsi, monolog, piramida terbalik, feature, dan analisis. Diskusi berakhir pukul 10.30.

Sebelum pulang, Andreas menekankan bahwa investigasi tidak dianjurkan untuk wartawan kurcaci (pemula). Penekanan ini diberikan ketika Andreas menunjukkan bagaimana A Lobbying Bonanza, berita investigasi yang ditulisnya, diverifikasi oleh sebuah media di Amerika Serikat.

“Oke. Saya harus jalan sekarang, karena pesawat saya (berangkat) pukul 13.30. Saya juga masih harus beli oleh-oleh untuk Norman,” pamit Andreas. Norman adalah nama anak semata wayangnya.

CATATAN
Berita ini mengalami beberapa kali penyuntingan, bahkan setelah publikasi dilakukan. Ini karena ada komentar kritik dari Wawan H. Suyatmiko (menggunakan inisial “whs”) mengenai subjektivitas.

Satria A. Nonoputra
Editor


37 Komentar

Kami Menerima Pandangan Anda