Wartawan beri tips menghadapi wartawan

Telah dilihat 158 kali sejak 29 March 2008

SALATIGA — Saat mengikuti diskusi tentang kasus BLBI, yang diselenggarakan Fakultas Hukum UKSW, saya mendapat pesan singkat melalui selembar kertas dari Saam Fredy Marpaung, staf BPHL UKSW.

“Nanti jam 11 mau ikut nggak? Ada wartawan dari Solo Pos, Suara Merdeka, Wawasan, Jawa Pos, Kompas, Sindo. Mereka ada sharing dengan Program Studi Public Relation,” ujar Saam.

“Oke, Bang,” jawab saya.

27 Maret 2008, Progdi Public Relation Program Profesional mengadakan kegiatan bertajuk “Menjalin Hubungan yang Baik dengan Wartawan” di ruang Cargo, Gedung G, UKSW.

Antony Lee, Wartawan Kompas, memberi masukan tentang sikap PR terhadap wartawan. “Ada PR yang begini, ‘Mas, beritanya dimuat nggak?’ Ada juga yang begini, ‘Beritanya dimuat ya, Mas?’ ‘Minta korannya dong ….’ Ini menunjukkan PR tidak perhatian terhadap media yang mereka jalin.”

“Terus, PR juga sebaiknya memberi informasi yang benar, agar kredibilitasnya bisa dipercaya wartawan. Nah, ini berkaitan dengan ‘off the record.’ Sebaiknya diceritakan saja ini untuk membangun kepercayaan dari wartawan,” papar Antony Lee.

Sebelumnya, Antony Lee juga memaparkan bahwa ada wartawan tanpa media, namun sering datang dan meminta uang. Ada lagi wartawan yang punya media, dan berprinsip kalau dikasih “amplop” diterima, kalau tidak pun tidak masalah. Kategori terakhir adalah wartawan yang memang tidak menerima “amplop.”

“Perlakukan wartawan sebagai manusia, walaupun ia wartawan bodrex,” kata Surya, Wartawan Suara Merdeka.

“Mas, saya dan teman-teman dari (progdi) Public Relation pernah buat undangan meliput ke wartawan untuk liputan. Tapi kok tidak ada yang datang?” tanya Stella, mahasiswi Progdi PR.

“Kirimnya ke siapa, Mbak?” tanya Bison, Wartawan Solo Pos.

“Waktu itu kami kirim lewat email ke redaksi.”

“Oh, sebaiknya kirim langsung ke wartawannya saja, karena belum tentu redaksi sempat memberi kabar ke wartawan,” jawab Bison.

Mashuri, Wartawan Wawasan, menambahkan bahwa ia tidak langsung mempercayai pengirim berita. “Begini, Mbak. Misalnya ada informasi dari mahasiswa STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri — Red), trus saya tidak kenal, maka saya kontak mahasiswa STAIN yang saya kenal. Ada nggak kegiatan ini? Ada yang bernama ini? Kalo benar, baru saya ke sana,” katanya.

“Sekarang kan sudah kenal, Mbak,” timpal Bison, menggoda.

“Huuuuuuuuuuuuuuu ….” teriak para peserta. Mayoritas peserta adalah perempuan.

Rini Darmastuti, staf pengajar Progdi Public Relation, memberi keterangan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah Media dan Press Relation. “Yah … biar mahasiswa tidak kaget kalo ketemu wartawan. Selain itu, ini juga merupakan cara kami membangun citra sambil promosi. Karena kami baru dua periode, jadi banyak yang belum mengenal. Ini juga kan strategi promosi yang murah,” ucapnya sambil tersenyum.

Tag: , , ,

4 komentar telah masuk. Apa pendapat anda?

  1. Komentar ke-1

    Aku juga pingin belajar lebih banyak lagi.

  2. Komentar ke-2

    Kemarin sebenarnya aku mau ngomong, tapi ngak kesampaian. Sebenarnya mau sedikit menrangkan tentang hak jawab. Hal itu penting, karena bagian dari UU Pers, yag kurang dipahami oleh Wartawan, media, pembaca/sumber berita.

  3. Komentar ke-3

    @ Saam: Yo wis, terangkan di sini ae to? Atau kamu bikin satu artikel tentang itu? Ntar dimuat di Scientiarum. :D

  4. Komentar ke-4

    akan aku pikirkan, sat. thx.

Berikan pendapat anda. Bergabung dalam diskusi.

PERHATIAN. Setiap komentar akan melewati proses moderasi sebelum tampil. Silakan berkomentar dengan sopan dan bertanggungjawab. Komentar anonim atau alias tetap diperbolehkan, namun kami mengimbau agar anda sudi menunjukkan identitas asli. Komentar yang menyinggung isu SARA atau melanggar etika kesopanan tidak akan ditampilkan.

SPONSOR LINK