Eksistensi Moot Court di FH UKSW

Browse By

Mahasiswa Fakultas Hukum (FH) UKSW pasti tidak asing dengan Program Studi (Progdi) Ilmu Hukum, karena ini satu-satunya program studi yang ada. Progdi ini memberikan peluang bagi para mahasiswa untuk mempelajari apa saja yang berkaitan dengan hukum di Indonesia dan dunia. Setidaknya, itulah pandangan sebagian mahasiswa FH UKSW saat ini.

Pencanangan studi hukum bisnis di FH UKSW nampaknya perlu ditinjau kembali, karena materi yang didapat dirasa belum cukup memenuhi kompetensi studi hukum bisnis. Oleh karena itu, penting juga meninjau ulang materi perkuliahan dan muatan teorinya, yang beberapa di antaranya bahkan sangat penting untuk menunjang keberlangsungan kegiatan belajar mengajar di FH UKSW.

Selain belajar mengenai teori hukum, praktek penerapannya juga tak kalah penting untuk dilatih demi mendapatkan karakter lulusan yang berkualitas. Mempelajari dan mencermati kasus hukum penting untuk membiasakan dan melatih mahasiswa beradaptasi dengan kultur peradilan di Indonesia. Persiapan dini hendaknya dilakukan sejak masa studi di kampus, sehingga ketika lulus, dapat sesuai dengan kebutuhan dunia peradilan Indonesia.

Salah satu upaya tersebut adalah memperdalam materi kuliah Pendidikan Latihan dan Keterampilan Hukum (PLKH) melalui praktek-praktek pengadilan. Beberapa tahun belakangan, mata kuliah PLKH menjadi satu-satunya media praktek beracara dan mengembangkan keterampilan hukum bagi mahasiswa. Namun perkembangan terakhir, PLKH bukan lagi menjadi satu-satunya.

Lahirnya kembali Komunitas Studi Peradilan Semu di FH UKSW adalah satu jawaban yang mencoba mengakomodir kepentingan mahasiswa untuk lebih mengembangkan diri. Komunitas tersebut, yang lebih dikenal dengan sebutan “Moot Court Community (MCC),” memiliki peran penting sebagai penunjang sarana belajar. Didukung dengan keberadaan fasilitas seperti Laboratorium Hukum, MCC diharapkan dapat berkembang. Hal ini pula yang membuktikan bahwa mahasiswa FH tidak hanya berkutat dengan menghapal isi undang-undang, tetapi juga memahami makna, serta perlakuan hukum di dunia nyata.

Oleh karena praktek magang, atau Kuliah Kerja Nyata (KKN) di FH UKSW sudah tidak diselenggarakan lagi, MCC mencoba menjembatani keinginan mahasiswa untuk tampil dan berkarya sebagai bentuk peningkatan kemampuan akademis. Moot court dapat pula menjadi manifestasi kepentingan keadilan hukum serta aparatnya. Minimal, idealisme hukum dibentuk melalui proses peradilan yang diciptakan dalam sebuah ruang kecil, dan ditampilkan sebagai suatu apresiasi seni.

Dengan adanya moot court, mahasiswa FH akan terbiasa dengan situasi kondisi ruang pengadilan, agar nanti mahasiswa tidak kebingungan lagi. Laboratorium Hukum juga merupakan tempat mahasiswa FH melakukan simulasi pengadilan yang serupa dengan ruang dan atmosfir pengadilan sebenarnya. Tidak hanya mengenai tata letak tempat duduk hakim, jaksa, pembela, terdakwa, saksi, dan pengunjung sidang, tetapi juga mengenai cara bersikap unsur penegak hukum, dinamika konflik di dalam ruang persidangan, serta sejauh mana kemampuan mahasiswa memerankan tokoh.

Di universitas lain di Indonesia, moot court menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam rangka menunjang kegiatan perkuliahan. Bahkan, moot court merupakan prestige tersendiri.

Moot court dapat pula dimanfaatkan sebagai tempat mendiskusikan kasus hukum yang sedang dipelajari. Untuk studi kasus, menggunakan kasus yang nyata. Persepsi yang demikianlah yang terungkap dari hasil bertukar pendapat antara Tim Delegasi MCC FH UKSW dengan tim delegasi dari universitas-universitas lain saat mengikuti kegiatan National Moot Court Competition Piala Prof. Sudarto Universitas Diponegoro, pada akhir November 2007.

Hal inilah yang menjadi perbedaan mendasar di FH UKSW dengan fakultas hukum lain di Indonesia. Ketertinggalan FH UKSW dalam menyikapi perkembangan moot court, menyebabkan karakter lulusannya belum dapat memiliki keterampilan praktek pada proses peradilan, serta tidak dapat bersaing dengan lulusan fakultas hukum lain di Indonesia. Padahal, dewasa ini soft skill diajukan sebagai salah satu syarat masuk dunia kerja.

Namun, terlambat bukan berarti tidak sama sekali.

Setidaknya, ada tiga masalah penting yang menjadi hambatan bagi keberlangsungan moot court di FH UKSW. Pertama, mahasiswa FH UKSW kurang menyadari pentingnya peran moot court sebagai salah satu sarana penunjang demi memperoleh keterampilan. Demikian juga dengan pola pelatihan moot court yang dapat mengikuti jaman dan dilakukan secara mandiri oleh mahasiswa. Kesadaran tersebut hendaknya ditimbulkan dengan upaya pengenalan moot court oleh sivitas akademika yang pernah ambil bagian, baik dosen, mahasiswa senior. Bisa juga melalui “kampanye kecil” pada saat kegiatan kuliah, mading, dan sebagainya.

Kedua, kesatuan pemahaman moot court yang tidak tercipta dengan baik antara dosen, staf pengajar, dan mahasiswa. Pemahaman moot court bukan sekadar fokus pada penampilan saat pengadilan berlangsung. Tapi juga lebih luas kepada suatu proses dari sistem hukum yang dijalankan dalam peradilan Indonesia, yaitu dari mengadakan riset kasus, pola penyelidikan, penyidikan, pembuatan berkas acara perkara dan berkas acara peradilan, dan sebagainya. Serta mengarah pada hukum mana yang diterapkan pada kasus tersebut. Dengan demikian, praktek beracara, atau muh-trial, dalam moot court “hanya” menjadi salah satu bagian saja. Di sini, pentingnya koordinasi dan komunikasi yang baik antara staf pengajar, pimpinan fakultas, mahasiswa, serta MCC adalah upaya terbaik demi mencapai satu tujuan yang tepat.

Ketiga, kurikulum FH UKSW belum sepenuhnya akrab dengan proses peradilan, baik dalam tataran teoretis, tapi juga pada praktek matakuliah yang belum ditingkatkan secara optimal. Kurikulum pula, yang patut dipertimbangkan untuk diubah, sehingga senada dengan kepentingan dunia peradilan di Indonesia dan dunia kerja setelah lulus. Relevansi masih tidaknya hukum bisnis menjadi fokus karakter lulusan FH UKSW harus mendapat perhatian.

Dengan berbagai masalah di atas, maka moot court bukan lagi menjadi asing bagi mahasiswa, tapi dapat menjadi sarana belajar yang terpenting dalam melatih diri, sehingga lulusan tidak mengalami kebimbangan dalam melamar pekerjaan atau profesi aparat penegak hukum di Indonesia.

Perhatian khusus kepada komunitas studi juga layak diperhitungkan, mengingat komunitas studi muncul dan berkembang tidak hanya bergantung pada satu pihak saja. Ingat, hukum ada karena manusia ingin mengatur kehidupannya. Demikian juga MCC ada karena mahasiswa membutuhkannya untuk masa depan kehidupan.

Ave Iustitia!

Setyo Pamungkas, koordinator Moot Court Community Fakultas Hukum

12 thoughts on “Eksistensi Moot Court di FH UKSW”

  1. STR says:

    Maju terus MCC FH UKSW! Mahasiswa kudu bisa praktek, ndak cuma teori!

    VIVA JUSTICIA! <== tulisannya bener khan? 🙄 😀

  2. Saam Fredy says:

    Fakultas Hukum Kita Jaya di Satya Wacana
    Ave iustitia
    Fakultas Hukum Kita Membina Kita Bersama
    Ave iustitia

    Tempat Kita Belajar Menuju Keadilan
    Demi Nusa dan Gerejaku
    Marilah Bersama
    Ave Ave Iustitia

  3. MFS says:

    Sayang seribu sayang,
    jaman saya ga ada kayak begitu2an (MCC-red),,,lab hukum cuman buat pajangan aja (dulu hampir gw ’embat’ tuh palu/kursi hakim)
    tapi sekarang salut deh walo terlambat,,,,

    ave justitia,,,,,

  4. Theo Litaay says:

    Yok,
    praktek moot court perlu dibangun dalam struktur kurikulum yang jelas. Jadi tidak cukup jika berbentuk kelompok minat yang dikelola mahasiswa. Di berbagai negara maju, konsep kurikulumnya disebut “clinical legal education”. Konsep ini sangat terkenal dan didalami oleh berbagai sekolah hukum di luar negeri. Di Indonesia, konsep ini sudah dilaksanakan secara baik oleh Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (Yogya), Universitas Pasundan (Bandung), Universitas Indonesia, Universitas Sumatera Utara, Universita Parahyangan, Universitas Atma Jaya Jakarta, dll. Saya pernah memberi presentasi masalah ini di fh uksw, tapi belum berlanjut. Rencananya akan saya usulkan kembali kepada raker fh uksw 2008 ini. Sebaiknya kita duduk lagi bersama membahas ide ini. Yang perlu diingat bahwa clinical legal education itu tidak hanya mengenai moot court, tapi juga mock trial, debating, legal drafting, legal languages, alternative dispute resolution, public advocacy dan legal aid.

  5. Dimas S. Aditya says:

    Maju terus, Set. Tuhan dan yang lain2nya memberkati kalian semua (maksudnya memberkati MCC, lho. Bukan cuman si Setyo doank…).
    Kasi kabar ya, kalo kalian udah nyampe UI. Kali aja ketemu di Kampus Kuning.

  6. schape says:

    @Theo Litaay:
    thanks om…iya saya juga sudah coba sampaikan kemaren pada rapat MCC terakhir dengan Bu Rini, dan P. Marihot. Saya juga sudah sampaikan bahwa moot court bukan sekedar yang kita jalanin belakangan ini. Harapan saya semua dosen bisa ikut serta ambil bagian dalam menyambung dan mengembangkan komunitas studi.
    Lebih baik lagi klo kami beserta staf pengajar dapat melakukan studi banding ke universitas-universitas tersebut di atas. Kami masih kurang mengenai gambaran moot court dan “clinical legal educations” itu…
    masih berharap juga fakultas memberikan perhatian lebih…
    bukan masalah dana yang terutama, akan tetapi lebih kepada pengertian bahwa moot court merupakan “darah” civitas akademika FH UKSW

    thx alot

  7. Theo Litaay says:

    Yok; berikut ini adalah salah satu draft Back to office report-nya aku. Aku share di sini aja ya, biar kawan2 lain juga bisa ikut baca.

    =============================================================================

    Back to office report:
    Tim Mock Trial Valparaiso University School of Law (VUSL).
    Oleh: Theofransus Litaay, S.H., LL.M.

    Kunjungan ke tim Mock Trial Valparaiso University School of Law (VUSL) dilakukan pada tanggal 16 april 2008.

    Tim Mock Trial VUSL adalah salah satu kegiatan tertua mahasiswa VUSL. Saat ini keanggotaannya terdiri dari 20 orang mahasiswa tahun kedua dan ketiga VUSL. Prestasi tertinggi dicapai tahun 2007 dengan menduduki 16 besar tingkat nasional dalam kompetisi Kompetisi Advokasi Peradilan Mahasiswa Tahunan.

    Bagaimana menjadi Anggota?
    – Keanggotaan diperoleh berdasarkan proses seleksi melalui uji coba / tryout.
    – Partisipasi ini diberikan angka kredit yang berguna bagi penyelesaian studi.

    Bagaimana Uji coba / tryout?
    – Tryout utama dilakukan pada semester musim semi (ada empat semester dalam satu tahun akademik di VUSL) dan dibuka bagi angkatan pertama dan kedua.
    – Dalam proses tryout, pelamar harus mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan untuk pemeriksaan silang, pernyataan pembukaan, dan pernyataan penutupan. Berkas-berkas ini disusun berdasarkan skenario kasus dari panitia.

    Bagaimana bentuk Kompetisi?
    – Kompetisi internal.
    o Setiap tahun diadakan kompetisi internal baik untuk kasus pidana maupun perdata.
    o Dalam kompetisi internal, peserta saling berhadapan dalam kelompok-kelompok beranggotakan setiapnya 4 orang dan bergantian dalam posisi berlawanan.
    o Kompetisi internal dilakukan di hadapan para juri yaitu para pengacara wilayah setempat.
    o Babak final kompetisi internal mempertemukan kelompok penggugat / penuntut terbaik melawan kelompok pembela terbaik.
    o Kompetisi babak final dilakukan di hadapan juri yaitu para hakim pengadilan negeri dan pengadilan tinggi serta masyarakat undangan.
    o Hadiah akan diberikan kepada setiap individu, bukan kelompok.
    – Kompetisi eksternal.
    o Kompetisi-kompetisi di tingkat regional dan nasional.

    Bagaimana kegiatan dan komitmen tim?
    – Kegiatan yang dilakukan tim mock trial antara lain kuliah tentang aspek-aspek advokasi peradilan, latihan kasus, praktek, penyelesaian masalah, dan rapat.
    – Komitmen para anggota sangat tinggi, bahkan melebihi yang dituntut dari mereka.

    Apa Manfaat yang diperoleh?
    – Ketrampilan berbicara / berargumentasi secara lisan.
    – Ketrampilan membangun kasus dan memahami hukum acara.
    – Nilai perkuliahan terkait.

    =============================================================================

    Jadi Yok,
    Kegiatan semacam ini harus terstruktur di fakultas. Gagasan semacam itu yang pernah saya presentasikan waktu kembali dari Manila dulu. Mungkin karena dilihat idenya dari Filipina (kagak jauh beda ama Indo pikirnya jadi kagak diseriusin, padahal udah beda banget mutu pendidikannya).

    Salam,
    Theo

  8. STR says:

    Om Theo dan Setyo yang baik,

    Pembicaraan kalian membuat saya resah dan miris. Komunitas seperti MCC harusnya mendapat perhatian serius, bukan main-mainan. Saya heran setengah mati kenapa para petinggi FH ndak sampe pada pemikiran seperti ini. Ini bikin emosi saja.

    Kemarin (lewat obrolan santai) saya sempat menawarkan kolom publikasi di Scientiarum untuk MCC (via Setyo). Setyo bilang kalo MCC latihan setiap hari. Saya pikir bagus juga kalo hasil latihan itu dipublikasi di Scientiarum supaya orang-orang UKSW dan masyarakat umum bisa kenal MCC FH UKSW. Bukankah tak kenal, maka tak sayang? Ini juga bisa memacu MCC untuk lebih serius berlatih. Karena hasil latihannya dipublikasi, maka mau tak mau mereka harus siapkan latihan dengan baik.

    POKOKNYA, saya ingin bantu MCC.

    Terima kasih.

  9. schape says:

    @Theo Litaay:
    weitz… trimakasih banyak… ide2 tersebut sedang saya susun dan dirumuskan untuk menjadi bahan usulan untuk raker fakultas, uda browsing en nyari2 bahan serupa di univ2 laen di indonesia en dunia..
    sayang ada beberapa poin yang masih belum paham benar.
    ‘misalnya bagaimana menyusun ide tersebut dalam bentuk satu program terstruktur selama periode tertentu..
    bahkan saya berkeinginan untuk bisa presentasi di depan pimpinan fakultas bersama dengan teman2, ntapi entah bisa apa tidak.
    ini masih kesulitan dengan persiapan lomba di UI, belum tahu bisa apa tidak berangkatnya, masih belum ada dana cukup..

    @STR
    tengkyuuuu….
    semangat 45 dijamin slalu ada di komunitas ini, segala sesuatu memang slalu pantas untuk diperjuangkan!!!
    syaaaadddaaaaappppp………..

  10. Dimas S. Aditya says:

    @ All MCC : Sudah ada alumni yang menghubungi kalian belum? Masalah kalian membutuhkan dana untuk lomba, sudah saya sampaikan di millis alumni FH UKSW. Juga sudah saya beritahukan mengenai profil MCC di Scientiarum.

  11. Pingback: Eksistensi Moot Court di FH UKSW « SetyoPamungkas’s Weblog
  12. Trackback: Eksistensi Moot Court di FH UKSW « SetyoPamungkas’s Weblog
  13. Pingback: Eksistensi Moot Court di FH UKSW « Moot Court Community FH-UKSW Salatiga
  14. Trackback: Eksistensi Moot Court di FH UKSW « Moot Court Community FH-UKSW Salatiga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *