Antonio Gramsci dan Penaklukan Perempuan

Browse By

Pada mulanya, hanya ada seorang dewi yang bernama Tiamat, sedangkan laki-laki belum diciptakan. Dari Tiamat inilah laki-laki diciptakan. Ironisnya, laki-laki tersebut kemudian membuat Tiamat tunduk di bawah kekuasaannya.

Cerita penaklukan perempuan oleh laki-laki dalam deskripsi penciptaan versi Babilonia tersebut, yang lebih tua dari deskripsi penciptaan versi Perjanjian Lama, terus berlanjut dan lestari hingga kini. United Nations Population Fund (UNFPA) dalam Lives Together, Worlds Apart: State of World Population 2000 mengatakan bahwa paling sedikit 1 dari 3 perempuan pernah jadi korban kekerasan fisik. Lebih dari 2 juta perempuan dijadikan sex slave. Juga, 5 ribu perempuan mengalami honor killing atas nama membela martabat keluarga. Belum lagi, banyaknya perempuan korban perdagangan manusia.

Ketika sedang memperbincangkan pembagian kerja secara seksual pada masyarakat, seorang sahabat berkomentar, “Sebenarnya pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin bukan masalah. Bahwa perempuan harus menjadi ibu rumah tangga dan bapak menjadi provider dalam keluarga bukanlah sebuah permasalahan, jika keduanya enjoy dan tidak merasa itu sebagai ketidakadilan.” Pendapat ini mungkin saja merepresentasikan pendapat umum masyarakat. Benarkah demikian? Sebelum kita menjawab, ada baiknya jika teori hegemoni Antonio Gramsci ditelaah terlebih dahulu.

Gramsci membedakan “dominasi” dan “hegemoni.” Keduanya adalah cara yang biasa dipakai untuk menciptakan dan menopang kekuasaan penguasa. Dominasi menopang kekuasaan melalui paksaan dengan menggunakan kekuatan fisik (koersi). Artinya, seseorang atau kelompok terpaksa (dipaksa) tunduk terhadap kepentingan penguasa. Sedangkan dalam hegemoni, kelompok yang dikuasai tidak dipaksa dengan kekuatan koersi, melainkan mereka secara sukarela menyetujui penerapan kuasa penguasa atas dirinya (hegemoni sebagai konsensus). Untuk itu, langkah pertama yang dilakukan oleh penguasa adalah memastikan bahwa ide-ide yang sarat kepentingan diinternalisasi oleh pihak yang dikuasai. Internalisasi ide tersebut diperlukan agar ide dan kepentingan dari penguasa tidak ditentang, sehingga penguasaan terhadap mereka menjadi sesuatu yang “legitimated” dan nampak wajar.

Meskipun dominasi juga merupakan salah satu sumber kekerasan terhadap perempuan, namun dominasi bukan penyebab utama lestarinya hal itu. Hegemoni adalah penyebab utamanya; bahwa lestarinya kekerasan terhadap perempuan terjadi atas dasar kesepakatan bersama antara laki-laki dan perempuan itu sendiri. Kekerasan terhadap perempuan menjadi sesuatu yang “wajar,” sehingga tidak perlu dipermasalahkan.

Ada internalisasi nilai hasil konstruksi masyarakat mengenai “normalitas” tentang perempuan dan laki-laki. Kita biasa menyebutnya “gender.” Laki-laki adalah makhluk yang kuat, smart, dan rasional. Sedangkan perempuan itu lemah dan sentimentil. Nampaknya, proses internalisasi itu sangat berhasil, Buktinya, gender itu sendiri bahkan dipandang sebagai kodrat (yang sudah ditentukan Tuhan). Akibat internalisasi tersebut, perempuan memahami dirinya sendiri sebagai makhluk yang lemah, emosional, sehingga butuh perlindungan. Sedangkan laki-laki itu kuat dan smart, sehingga harus melindungi. Sebagai makhluk yang lemah, perempuan hanya mengurusi dapur, kasur, dan sumur (ranah domestik) yang tidak berbahaya. Sedangkan laki-laki mengurus ranah publik. Ada semacam pemutlakan terhadap pembagian kerja tersebut, karena masyarakat menganggap tidak wajar jika suami mengurus rumah (memasak dan lain-lain), sedangkan istri bekerja di luar rumah. Dengan demikian, domestifikasi perempuan (perempuan hanya pantas dalam ranah domestik) menjadi sesuatu yang legitimated dan wajar.

Jelas bahwa pemutlakan pembagian kerja secara seksual yang demikian merugikan perempuan. Pertama, proses pengembangan diri perempuan menjadi terhambat. Yang ia kuasai hanya urusan dapur, kasur, dan sumur tadi. Akibatnya, perempuan tidak memiliki pendidikan dan keterampilan yang memadai untuk dikedepankan dalam kompetisi bursa tenaga kerja.

Kedua, perempuan menjadi sangat tergantung pada laki-laki atau suaminya. Tidak jarang ketergantungan ini diterjemahkan oleh suami untuk berkuasa penuh terhadap istri. Dan istri pun, karena sangat bergantung pada suami, memilih untuk tidak menentang keinginan suami, sekalipun keinginan tersebut diterjemahkan dalam bentuk kekerasan terhadap dirinya.

Untuk itu, dibutuhkan perubahan gender masyarakat yang lebih baik, sehingga akan tercipta pula pembagian kerja berdasarkan seksual dalam masyarakat yang lebih adil terhadap perempuan.

Indra Robinson, mahasiswa magister Program Pascasarjana Sosiologi Agama

6 thoughts on “Antonio Gramsci dan Penaklukan Perempuan”

  1. wit says:

    “…mengatakan bahwa paling sedikit 1 dari 3 perempuan pernah jadi korban kekerasan fisik

    jangan lupa, perempuan juga perlu menikmati kekerasan fisik lho Mas.., ya khan perempuan?!

  2. wit says:

    Untuk itu, dibutuhkan perubahan gender masyarakat yang lebih baik, sehingga akan tercipta pula pembagian kerja berdasarkan seksual dalam masyarakat yang lebih adil terhadap perempuan.

    setuju…
    emansipasi wanita eh.. perempuan tidak berarti semua hal yang dapat dilakukan oleh pria harus juga dilakukan wanita,

    pembagian kerja secara seksual tetap perlu dilakukan, tetapi jangan dengan menindas (kesempatan) perempuan atau menindas (kesempatan) laki-laki,

    banyak pekerjaan yang lebih bagus dilakukan perempuan, banyak pekerjaan lainnya yang lebih bagus dilakukan oleh laki-laki.

    jelas pekerjaan “mengandung dan melahirkan anak” HARUS dilakukan oleh perempuan, ini sudah ‘kodrat’ perempuan.

    CS (customer service) yang cantik jelita lebih menarik daripada yang gagah perkasa…) — paling tidak buat saya yang laki-laki…

    Sopir trailer tentu lebih bagus dilakukan oleh laki-laki, jadi walau ada juga sopir trailer yang perempuan, apakah itu bentuk “kesetaraan” gender?
    atau justru menunjukkan kurang terbukanya kesempatan perempuan untuk bekerja di tempat lain, yang lebih “cocok” buat kaum perempuan.

  3. tyas says:

    Saya kira anda perlu mawas diri karena justru orang-orang seperti anda lah yang membuat sekelompok orang terdesak ke marjin. Sudah tidak mau mikir menyediakan lapangan kerja dan memberdayakan sesama, malah menghujat sesama. Pemikiran sempit seperti ini lah yang membuat dunia penuh ketidakadilan. Semoga Anda paham. Kalau mau belajar, silakan mendaftar di jurnalperempuan@yahoogroups.com.

  4. Febri says:

    Saya rasa dalam hak dan kesempatan sama saja.

    Memang ada hal yang membedakan seperti sifat fisik.
    Namun itu tidak harus membuat salah satunya (P/W) menjadi marjinal.

    Justru seharusnya terjadi saling memberdayakan, bukan saling memperdaya.

    @wit : Saya rasa anda sudah melakukan hegemoni penindasan.

  5. wit says:

    @Febri
    @wit : Saya rasa anda sudah melakukan hegemoni penindasan.

    yang mana? yang ini: CS (customer service) yang cantik jelita lebih menarik daripada yang gagah perkasa…) — paling tidak buat saya yang laki-laki…

    lho bukan berarti CS nggak boleh laki-laki…
    tapi saya lebih suka dihadapi/menghadapi CS yang perempuan cantik, itu khan sudah kodrat saya (yang laki-laki) yang lebih mudah tertarik pada “appearance”, (itu yang saya baca dari beberapa buku tentang perempuan dan laki-laki)
    jangan tinggal kalimat saya paling tidak buat saya yang laki-laki itu khan preferensi saya pribadi…apa nggak boleh?

    atau yang ini: jangan lupa, perempuan juga perlu menikmati kekerasan fisik lho Mas.., ya khan perempuan?!

    ah… itu khan saya bercanda, apa perempuan akan pilih fisik yang tidak (bisa) keras

  6. Izak "Chaken" Lattu says:

    Tulisan Robi ini cukup menarik, Hegemoni memang terjadi di semua jejang dan field of life. Menarik untuk melihat hegemoni penguasa. Salah satu penguasa yang perlu dikritisi adalah media, who control the opinion, control the world. Media merupakan penguasa lain yang setiap hari memasukan opini kedalam pikiran kita, termasuk image tentang hubungan laki-laki dan perempuan. Sayangnya, Robi tidak memasukan referensi apapun dalam tulisannya. Menurut saya kejujuran intelektual penting kalau tidak justru kita melakukan hegemoni terhadap pembaca karena tidak menulis darimana rujukan kita. Over all, tulisan ini cukup menarik. Thanks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *