Jejak Generasi Pahlawan yang Hilang

Browse By

“Berilah aku seratus orang tua. Dengan seratus orang tua ini, aku akan memindahkan Gunung Semeru. Tetapi beri aku sepuluh pemuda, karena dengan mereka aku akan mengguncangkan dunia.”
~ Soekarno

Seruan “Bung Karno” saat berorasi di depan Kongres II PNI itu, jika dicermati secara mendalam, merupakan sebuah penghormatan terhadap generasi muda. Arti “sepuluh pemuda dapat mengguncangkan dunia” menggambarkan betapa hebat kaum muda yang tidak takluk di bawah kekuatan jaman. Dari sini nampak bahwa sikap penghargaan sang Proklamator tidak lepas dari fakta dan pengalaman bangsa Indonesia, yang selalu ditandai dengan presensi kaum muda sebagai pendobrak sejati dalam menancapkan panji perjuangan di bumi khatulistiwa.

Gagasan ini mengungkapkan bahwa generasi muda adalah pilar penting perjuangan demi keutuhan dan kelestarian bangsa Indonesia. Penegasan Soekarno ini mengarahkan pemikiran kita pada berbagai peristiwa yang terjadi saat itu, seperti 20 Mei 1908, 28 Oktober 1929, 16 Agustus 1945 (Rengasdengklok), hingga Proklamasi 17 Agustus 1945.

Keseluruhan peristiwa tersebut menempatkan kaum muda sebagai aktor utama sejarah perjuangan bangsa. Dari sekian peristiwa tersebut, peristiwa 10 November 1945 yang dikenal sebagai Hari Pahlawan memiliki nilai tersendiri. Dimana ada kerelaan pemuda untuk masuk dalam perspektif nasional dan menanggalkan kepentingan budaya, agama, dan suku, maka di sana akan melahirkan satu kekuatan yang dahsyat guna meneruskan garis perjuangan bangsa, dan mempertahankan negara secara penuh. Itulah dasar pengenangan peristiwa tahun 1945. Dasar ini merefleksikan dua sikap. Pertama, sebagai wujud pengenangan semangat patriotisme kaum muda di masa lalu. Kedua, sebagai kritik. Apakah semangat itu masih dimiliki oleh generasi kaum muda sekarang ini?

Kedua sikap ini berbicara tentang relevansi. Apakah perjuangan kaum muda masa lalu esensinya masih relevan dengan keberadaan kaum muda saat ini, yang memiliki tantangan jaman tersendiri? Inilah yang harus kita telusuri untuk menuju pada persepsi yang lebih baik.

Dewasa ini banyak pembicaraan seputar kaum muda. Interpretasi yang dihasilkan justru menempatkan kaum muda pada posisi yang mendesak, yang sering dicap sebagai pemalas, kurang bertanggungjawab, mudah terpengaruh, kurang berpikir kritis, dan lebih tragis lagi, dianggap tidak berbudaya. Beberapa fenomena seperti seks bebas, narkoba, hingga kriminalitas dengan aktor kaum muda memang tidak terbantahkan. Semua gejolak yang melibatkan kaum muda, harus diakui, turut mengikis semangat perjuangan yang sama di masa lalu.

Kalau dikatakan bahwa globalisasi, modernisasi, dan western-isasi adalah penyebab merosotnya eksistensi dan peran generasi muda, maka realitasnya, semua komponen mengalami pergeseran nilai. Hanya saja, lebih dititikberatkan pada generasi muda sebagai tempat melekatnya gagasan, sekaligus pewaris masa depan bangsa.

Persepsi lain mengatakan bahwa peran generasi muda terus mengalami degradasi, khususnya yang berhubungan dengan kepentingan nasional. Agaknya hal ini kurang logis. Kita tentu masih ingat, bagaimana generasi muda menjadi ujung tombak saat bendera reformasi berkibar. Saat harga BBM naik, lagi-lagi kaum muda beraksi sebagai penentang.

Perihal tidak berbudaya, sungguh tidak layak, sebab yang seharusnya didengungkan adalah bagaimana bangsa ini menghargai jiwa nasional yang Pancasilais, yang sanggup tersalur pada tingkat implementasi.

Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa generasi muda masa lalu dan sekarang tetap memiliki kesamaan dalam mengembangkan sikap nasionalisme, demi membela NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia — Red). Mereka masih memiliki semangat dinamis, patriotis, solidaritas, dan keberanian dalam memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Paradigma ini mengungkapkan sebuah pemikiran bahwa perbedaan persepsi untuk setiap jaman tetap akan mengarah kepada suatu sikap yang sama. Generasi muda selalu siap menghadapi tantangan jaman yang bernuansa transformatif. Itulah kebanggaan yang harusnya disyukuri. Jadikan generasi muda sebagai orientasi! Bukan sekadar sasaran empuk pembicara handal.

Sampai detik ini, pemahaman kita seharusnya berada dalam satu ruang dengan melihat relevansi perjuangannya. Bukan karena itu masa lalu dan ini masa sekarang. Hari Pahlawan memang selalu ditemukan dalam derap langkah generasi muda. Itulah pemuda yang diakui Soekarno. Semangat patriotik senantiasa ada dalam sanubari manakala negara ini terusik dengan berbagai aksi, tanpa kecuali kebijakan otoriter negara yang menyimpang dari cita-cita Proklamasi.

Dalam konteks ini, generasi muda seharusnya diberi peran, khususnya oleh pemimpin bangsa. Jangan hanya dipandang sebagai hajatan seremonial saja.

Ingatlah satu hal: kaum muda membawa jejak kepahlawanan, karena kaum muda merupakan pahlawan masa kini yang akan datang!

Donals Sanda Magawe, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

5 thoughts on “Jejak Generasi Pahlawan yang Hilang”

  1. Saam Fredy says:

    Merdeka!

    Gelora Bung Karno, tidak hilang ditelan masa. Cinta dan jiwanya, dialaskan dengan semangat kebangsaan yang tinggi, bagi bangsa, negara, dan kaum marhaen. Kami kobarkan terus semangat itu.

    Hidup Rakyat!

    saam fredy
    Sekertaris GMNI Salatiga 2004-2005
    (Pemikir Pejuang-Pejuang Pemikir)

  2. Febri says:

    Bangkitlah Pemuda !
    Khususnya mahasiswa UKSW

    M E R D E K A !!

  3. Yodie Hardiyan says:

    Wah Bung Karno…

    dengan balance political Nasakom…

    du bi du bi du bae… ^^

    eh, mas Donals Sanda Magawe…

    aku tuh pemuda pemalas, kurang bertanggungjawab, mudah terpengaruh, kurang berpikir kritis, dan lebih tragis lagi dianggap tidak berbudaya

    gimana duonk duonk duonk?? ada solusi tak??
    aku gak bisa menjejakkan jejak kepahlawanan donk donk…
    keburu tua,,,,

    La la la la la/////

    Hidup Bahagia!

    Yodie Hardiyan
    Siswa Progdi Manajemen FE UKSW
    2006- entah sampai kapan
    (Pemakan Penongkrong-Penongkrong Pemakan)

  4. meQ says:

    aku gak suka bung karno ah…

    Dijamannya dia koes ploes bolak-balik masuk penjara..gara-gara nyanyiin lagu beatles yang berbau luar negri..hahahahah

    🙂

  5. Opha says:

    Bagus juga ulasan di atas. Tetapi saya melihat sosok “pemuda” yang di maksudkan bukan dari sisi fisik/kekuatan semata. Tetapi lebih mendasar dari itu. pertanyaannya, bagaimana dinamika pemuda sekarang? Meski waktu telah diberikan, sayang terlalu banyak pemuda yang mensia-siakannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *