31 Maret: “Hari Kesia-siaan UKSW”

Browse By

Ketika tahun akademik 2007/2008 di UKSW dimulai, ada dua orang yang berbeda pendapat didamaikan. Mulanya, orang pertama ingin berjalan di jalan A. Sedangkan orang kedua lebih memilih jalan B. Akhirnya ditempuh jalan perdamaian yang cukup lebar untuk mengatasi jarak antara jalan A dan B. Sebut saja jalan itu dengan nama “AB.” Dengan jalan AB, orang pertama boleh tetap menempuh jalan A. Begitu pula dengan orang kedua, tidak dilarang untuk menjalani jalan B. Tidak masalah, karena masih satu tujuan.

Tapi pada 31 Maret 2008, kedua orang tersebut tiba-tiba menjadi bodoh. Mereka kembali berdebat, jalan mana yang paling baik dan benar. Mereka menafikan begitu saja kesepakatan dan perdamaian yang mereka capai di awal tadi. Mengherankan bukan?

Sarasehan bertajuk “Ada Apa dengan Sistem Perkuliahan UKSW?” yang diselenggarakan BPMU (Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas) tiga hari lalu terjadi bersamaan dengan kebodohan dua orang tersebut. Atau mungkin, akan lebih tepat jika dikatakan bahwa sarasehan itu memicu kebodohan mereka.

Sarasehan tersebut mengangkat pembahasan tentang sistem kalender akademik yang berlaku di UKSW. Narasumber yang dihadirkan adalah Daniel Kameo, Harijono, dan John Titaley. Kameo dan Harijono diminta berbicara dengan kapasitas sebagai wakil rektor. Sedangkan Titaley sebagai mantan Rektor UKSW, sekaligus sebagai pencetus trimester.

Pada sesi pertama, Kameo, yang WR I (urusan akademik) itu, berbicara panjang lebar tentang penyelenggaraan sistem kalender akademik UKSW yang mampu “mengakomodir” dua sistem sekaligus, yakni sistem yang dalam setahun menggunakan tiga periode untuk kegiatan kurikuler (lazim disebut “trimester”) dan yang dalam setahun hanya menggunakan dua periode untuk kegiatan kurikuler (lazim disebut “semester”).

Sistem yang digunakan UKSW sejak 2007/2008 memang mampu ber-“Bhinneka Tunggal Ika.” Namun sebelum tahun akademik tersebut, trimester memang yang jadi sistem tunggal. Sebagai referensi tambahan, baca juga berita berjudul “Semester atau Trimester: Kado 51 Tahun UKSW” yang diturunkan Scientiarum, 10 Desember 2007.

Harijono diberikan kesempatan berbicara pada sesi kedua. Dalam kapasitas sebagai WR II (urusan keuangan), ia menjelaskan bagaimana dampak perubahan sistem kalender akademik 2007/2008 terhadap sistem pembayaran kewajiban keuangan mahasiswa. Sebagai catatan, perubahan hanya terjadi untuk fakultas yang beralih dari sistem tiga periode kurikuler menuju dua periode kurikuler.

Jika sebelumnya (pada sistem trimester/tiga periode kurikuler) besar SPP setahun adalah tiga kali Rp 200 ribu (tiap periode sebesar Rp 200 ribu), maka kini besar SPP per periode adalah tiga kali Rp 200 ribu lalu dibagi dua, sehingga menjadi Rp 300 ribu. Memang jadi lebih mahal, tapi totalnya dalam setahun tetap sama. Hal ini berlaku pula untuk uang layanan mahasiswa. Sedangkan uang SKS tetap dibayar sesuai dengan jumlah SKS yang diambil.

Sampai pada titik ini, sarasehan bersifat memberi pemahaman. Mahasiswa jadi tahu sistem apa yang mereka hadapi dan bagaimana cara menghadapinya. Dualisme (kalau masih mau disebut demikian) sistem tidak dipermasalahkan. Tapi sesi ketiga yang argumentatif dari John Titaley malah membuat provokasi.

Dengan kapasitasnya sebagai mantan rektor yang mencetuskan trimester di UKSW, Titaley kemudian membeberkan apa yang disebutnya sebagai “keunggulan trimester dibanding semester.” Trimester memang diprakarsai dan mulai diterapkan ketika Titaley menjabat sebagai Rektor UKSW kelima, tahun 2001-2005.

Jumlah syarat SKS minimal yang harus diselesaikan mahasiswa untuk mencapai S1 adalah 144. Ketentuan Dikti (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi) menyatakan bahwa dalam satu tahun, mahasiswa hanya diperbolehkan mengambil jumlah SKS maksimum sebanyak 48. Dengan ketentuan ini, seorang mahasiswa yang cerdas dapat mencapai gelar sarjananya dalam waktu paling cepat 3 tahun. Sedangkan yang tingkat kecerdasannya “normal” dapat mencapainya dalam waktu 4 tahun (setahun mengambil 36 SKS).

Apabila beban setahun mahasiswa “normal” ini diselenggarakan dengan dua periode dalam setahun (semester), maka beban untuk masing-masing periode adalah 18 SKS. Sedangkan 1 SKS bernilai 3 jam (1 jam tatap muka, 1 jam terstruktur, dan 1 jam mandiri), berarti 18 SKS setara dengan 54 jam dalam seminggu. Jika jumlah ini dibagi 5 (jumlah hari efektif perkuliahan), mahasiswa harus belajar 10,8 jam dalam sehari.

Berbeda dengan semester, trimester membagi beban 36 SKS menjadi tiga. Tiap periode mendapat jatah 12 SKS. Dengan 12 SKS, mahasiswa akan menghabiskan 36 jam waktu belajar seminggu, dan 7,2 jam sehari (setelah dibagi 5 hari efektif). Titaley berpendapat, dengan beban belajar yang lebih sedikit, mahasiswa dapat lebih mudah menguasai materi kuliah. Mahasiswa juga jadi punya lebih banyak waktu untuk mengembangkan keterampilan lain (soft skill).

“Di atas kertas, trimester lebih baik daripada semester,” klaim Titaley, “Dan saya belum pernah diyakinkan dengan alasan-alasan akademis maupun pedagogis untuk kembali ke sistem semester.”

Selain alasan pedagogis, Titaley juga merujuk kepada Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 pasal 8 ayat 2 yang menetapkan jumlah minimal periode dalam satu tahun akademik adalah 2, dengan durasi minimal 16 minggu. Ini berarti sistem trimester tidak menyalahi aturan legal-formal.

Sudah filosofisnya bagus, legal pula. Kurang apa lagi?

Harijono rupanya gerah dengan rasionalitas Titaley. Kendati demikian, ia nampak tak mampu mematahkan argumen Titaley, sehingga ia bermaksud melemparkan wacana tandingan sebelum ia keluar dari forum dengan alasan “ada rapat.”

“Kalau memang trimester lebih baik dari semester, kenapa (satu tahun akademik) tidak sekalian dibagi 4, 5, 6, dan seterusnya?” tanya Harijono. Suaranya lantang. Forum sarasehan pun dipenuhi tepuk tangan.

Harijono sedikit sial. Titaley keburu menjawab pertanyaan itu sebelum ia sempat bangkit dari kursi pembicara.

“Permasalahannya bukan pada pembagian menjadi 4, 5, 6, dan seterusnya,” jawab Titaley, “Tapi logikanya ada pada jumlah 12 SKS.” Titaley menganggap jumlah ini adalah ideal untuk beban kuliah mahasiswa “normal.”

***

Pihak pertama yang layak disebut “sia-sia” adalah BPMU, karena telah meminta Titaley berbicara dalam kapasitas sebagai mantan rektor, untuk “mempertanggungjawabkan” (baca: menjelaskan ulang) gagasannya mengenai trimester. Menjelaskan ulang konsep trimester bisa diartikan “mengusik” sistem semester yang sedang dijalankan. Inilah kesia-siaan itu!

Keputusan untuk berganti sistem baru saja diambil beberapa bulan yang lalu (belum ada setahun). Sistem yang baru juga belum sepenuhnya diterapkan (WR I mengatakan bahwa tahun ini masih merupakan tahun transisi. Implementasi secara penuh baru akan dilakukan pada tahun akademik 2008/2009 — Red). Singkat kata, aliran manajemen belum sampai pada tahap evaluasi. Padahal, tanpa hasil evaluasi yang meyakinkan, bagaimana mungkin sebuah keputusan/kebijakan akan diubah/direvisi?

Hasil sarasehan itu pun jadi mentah, tidak memberikan efek apa-apa terhadap kebijakan yang tengah berjalan. Sarasehan ini memang adalah “the right man” (sebagai wadah komunikasi dan aspirasi), tapi ia berada pada tempat dan waktu yang salah (wrong place and wrong time).

Jika BPMU benar-benar ingin memberikan kontribusi yang riil untuk penyusunan kebijakan universitas yang lebih baik di masa depan, mestinya BPMU menunggu waktu dan melihat proses, sambil mengumpulkan data untuk evaluasi. Dan selagi menunggu, bukankah masih ada masalah lain yang lebih relevan untuk dikaji (seperti nafas pembelajaran elektronik yang masih tersengal-sengal, akibat rendahnya penguasaan teknologi di UKSW)? Pelayanan internet mahasiswa di Posnet juga masih banyak masalah!

Namun, jika BPMU memang hanya ingin mencari sensasi dan apresiasi yang timbul dari hal-hal retorik, maka saya ingin mengucapkan selamat atas keberhasilannya!

Titaley, walau tampil “menawan” dengan segala rasionalitasnya, tetap saja dapat disebut “sia-sia,” karena telah memenuhi undangan “sia-sia” BPMU. Kenapa Titaley mau meladeni kesia-siaan macam itu? Jika seandainya waktu itu trimester memang terbukti lebih baik di atas kertas, lantas perubahan apa yang akan timbul?

Sebenarnya, trimester tidak lebih baik daripada semester, demikian pula sebaliknya, bahkan di atas kertas! Dengan beban yang lebih sedikit, bukankah pelaksanaan trimester dalam setahun hanya menyebarkan selang-seling dalam komposisi waktu belajar dan istirahat? Pada konsep trimester, waktu belajar mahasiswa akan “bercampur” dengan waktu istirahat secara lebih sering.

Sedangkan pada semester, dengan beban yang lebih tinggi, selang-seling tersebut tidak ditemui, karena blok-blok waktunya yang lebih ketat. Mahasiswa harus berkonsentrasi penuh pada periode belajar yang panjang, lantas diberi kesempatan istirahat pula dengan waktu libur yang tidak kalah panjang. Itu sebabnya libur antarperiode pada semester lebih panjang daripada trimester.

Perbedaan antara semester dan trimester ini tak ubahnya dengan dua orang yang mengonsumsi sepiring nasi goreng dan segelas es jeruk, masing-masing dengan cara berbeda. Yang satu memilih untuk meneguk minumannya setiap kali selesai dengan sesuap nasi. Sedangkan yang satu lagi memilih menghabiskan makanannya lebih dulu, sebelum akhirnya menandaskan minumannya.

Begitu pula dengan perkuliahan. Ada mahasiswa yang lebih bisa memahami materi dengan durasi waktu belajar yang panjang dan penuh, tapi menuntut satu waktu istirahat khusus yang panjang dan penuh pula. Ada juga mahasiswa yang lebih bisa menyerap materi dengan durasi waktu belajar yang pendek-pendek dengan waktu istirahat yang pendek-pendek, tapi sering. Ini cuma masalah selera saja, bukan sesuatu yang prinsipil untuk dipermasalahkan!

Setiap sistem pasti datang dengan membawa kelebihan dan kekurangan. Yang terpenting bukan sistem mana yang paling benar, tapi bagaimana cara yang tepat untuk mengelola kelebihan dan kekurangan masing-masing sistem.

Selama ini, praktek trimester masih belum sesuai dengan idealismenya. Batas maksimum SKS yang 16 per periode itu masih sering dilanggar dengan fakta bahwa ada mahasiswa yang bisa mengambil SKS hingga lebih dari 20! Dengan kenyataan ini, konsep dan idealisme trimester tidak bisa begitu saja dicap jelek, karena masalah ada pada implementasinya.

Begitu pula dengan semester. Ia tidak bisa dengan seenaknya dianggap lebih buruk dari trimester, karena ada fakta historis yang menunjukkan bahwa Satya Wacana pernah mengalami masa kejayaan dengan sistem ini.

Harijono ternyata juga tidak lebih pintar dari BPMU dan Titaley. Ia juga sama “sia-sia”-nya, karena masih mau terpancing menanggapi argumen Titaley yang tidak “bergigi.” Jika Titaley berbicara sesukanya waktu itu, apa semester akan langsung berganti dengan trimester lagi? Harijono mestinya diam saja. Itu sudah cukup. Tapi sikap Harijono ketika sarasehan reaktif sekali.

Pihak lain yang dapat pula dikatakan “sia-sia” (selain BPMU, Titaley, dan Harijono), karena ikut andil dalam sarasehan tersebut, adalah Kris Timotius (Rektor), Daniel Kameo (WR I), dan Rini Darmastuti (Kaprogdi Public Relation Program Profesional). Timotius adalah orang yang menyampaikan sambutan, sekaligus nada dasar. Kameo adalah salah satu pembicara. Sedangkan Darmastuti adalah moderator. Mereka semua membuang waktu untuk kegiatan sia-sia macam sarasehan ini (sia-sia karena tidak memberi kontribusi nyata, tapi hanya bersifat retorik). Wong isinya ya cuma retorika-retorika aja!

Sedangkan saya sendiri? Saya memang membuang waktu dengan mengomentari sarasehan yang “sia-sia” tersebut. Ini saya lakukan agar Satya Wacana bisa belajar dari kesia-siaan yang telah dibuatnya. Saya tidak ingin Satya Wacana terus melakukan kesia-siaan seperti ini.

***

Vonis bahwa sivitas akademika Satya Wacana tidak sehati dan kompak, hanya karena ada dua sistem dalam satu kampus, adalah vonis yang mentah. Setiap disiplin ilmu punya pendekatannya masing-masing. Tidak bisa dipaksakan untuk sama satu dengan yang lain. Akan lebih baik jika sistem kalender akademik Satya Wacana dapat mengakomodir perbedaan-perbedaan tersebut.

Fakultas yang merasa lebih cocok dengan tiga periode (trimester), silakan berjalan dengan sistemnya. Begitu pula dengan yang hanya dua periode. Selama perbedaan ini masih pada tujuan yang sama (yakni demi kepentingan ilmu pengetahuan), seharusnya tidak perlu ada masalah. Yang harus diingat adalah setiap fakultas wajib bertanggungjawab atas pilihannya masing-masing.

Satria Anandita, mahasiswa Fakultas Ekonomi

CATATAN

Opini ini baru mengalami penyuntingan pada 4 April 2008 (sehari setelah publikasi). Sebelumnya, opini ini tampil dengan melanggar prosedur publikasi. Dokumen asli masih dapat dibaca di sini.

Aqirana Adjani Tarupay, editor

96 thoughts on “31 Maret: “Hari Kesia-siaan UKSW””

  1. Neil Rupidara says:

    Maaf, tadi saya salah menekan dan terposting pendapat yang belum selesai.

    Karena itu, saya dengan terang2an mau menantang pimpinan UKSW untuk menjalankan sistem SKS dengan benar! Mengapa harus begitu, untuk menaikkan mutu pembelajaran! Mahasiswa tidak bisa cuma belajar hanya dari datang di kelas untuk mendengar suara manis dosennya. Harus ada aktivitas belajar di luar kelas sebagai komplementer. Jika sudah jalankan itu dengan benar dan menemukan bahwa sama saja baru saya bisa menerima pandangan bahwa keduanya sama saja.

    Sudah ada sejumlah pandangan, termasuk yang terpublikasi di Kompas yang mengatakan bahwa beban kredit di Indonesia tergolong terlalu berat. Di situlah rasional Titaley kena-mengena. Dalam kasus Indonesia, SKS sesungguhnya tidak bisa jalan karena beban kredit yang terlalu tinggi. Mengapa dulu bisa? Ingat kita menjalankan semester dari rezim kuliah 5 tahun untuk mendapat sarjana yang turun dari model Belanda dulu, yang berjenjang sarjana muda dan kemudian sarjana. Dengan mengadopsi model Belanda, beban SKS 160, kemudian turun 155, 150, lalu 144, adalah warisan pendidikan berjenjang master. Mahasiswa di Belanda dalam periode yang sama 4-5 keluar dengan gelar Drs yang setara s2 atau di sistem seperti Australia dikenal dengan polah Honours Degree (3 tahun Bachelor + 1 tahun riset). Dengan gelar Honours, mahasiswa bisa langsung mengikuti jenjang S3 atau PhD, tanpa master karena telah digembleng dengan baik. Jadi, pilihan mana yang baik: turunkan kredit yang kebablasan atau memungkinkan sistem fleksibel seperti trimester, quarter, atau mau block system untuk mengurangi beban tidak rasional dalam semester ber-sks 144? Pemerintah tampaknya tidak mau kehilangan muka untuk turunkan sks. Lalu, bagaimana kita sebagai pelaku? Jawabnya: bermanuver dalam sistem legal yang ada. Trimester mungkin!

    Karena itu, adalah sebuah tindakan yang bisa dimengerti dari seorang Titaley untuk berani melepas status sebagai dosen senior dan bekas rektor untuk ‘turun jalanan’. Sebuah kegoblokan? Rasanya keliru, ketika keputusan2 internal UKSW yang lebih tinggi pun dikangkani kekuasaan. Bagi saya tindakan Titaley sebuah contoh yang sangat baik dan berani melepas segala status dan bahkan siap terima klaim kegoblokan dari anda untuk maksud mengoreksi kekuasaan dan berdampak pada pembangunan sebuah komunitas yang berdialog/berdebat untuk apa yang dipandang baik dan benar. Itulah Satya Wacana.

    Bagi BPMU, silahkan klaim kegoblokan itu anda kenakan. Saya sudah challenge BPMU sebelum keputusan final sistem aneh di UKSW diberlakukan (mengatakan membolehkan trimester, tetapi makin menggiring semua elemen untuk masuk sistem semester). Tapi, anyway, mereka kembali berani menyandang tuduhan anda untuk melaksanakan sesuatu yang jadi hutang mereka: menjadi tempat mahasiswa menyuarakan aspirasinya.

    Semoga masih ada ruang bagi kita untuk masih mau menghargai sesuatu apapun yang dilakukan orang lain sekalipun orang seperti anda menilainya GOBLOK.

  2. Neil Rupidara says:

    Ternyata, postingan sebelumnya tidak masuk ya… Kira2 di bagian depan itu saya katakan begini:

    Saya tidak setuju pandangan yang menyamakan semester dengan trimester. Sama bedanya dengan model organisasi perkuliahan tahunan/tingkatan dari sks, walau tentu antara semester dan trimester sama-sama bersistem SKS. Mengapa tidak sama? Argumen pak John Titaley (selanjutnya Titaley) semoga diikuti dengan baik. Pandangan saya: jika dengan 144 sks, kita jalan dengan pola SKS yang benar, sebagai mahasiswa anda semua bisa kencing berdiri karena tidak sempat ke toilet. Apa arti brer-SKS dengan benar, silahkan baca buku peraturan akademik. Saya sebagai dosen juga sama, kecuali UKSW berani menambah dosen secara signifikan. Mengapa? Beban ideal kerja seorang dosen adalah mengajar 8-9 sks dan total 12 sks. Dengan semester, pengalaman di FE, bisa mencapai belasan atas hingga 20an sks. Di sisi lain, saya pernah berkuliah dengan hanya 4 mata kuliah/semester tetapi menuntut aktivitas dalam dan luar kelas yang proporsional dengan pola SKS dan semester berikutnya, “3 saja sudah cukup aahh”. Dengan sistem semester, mahasiswa normal akan mengambil 6 mata kuliah (setara 18 sks atau lebih, kalau lebih banyak mata kuliah 2 sks di dalamnya). Mahasiswa pandai, barangkali bisa 8-10 mata kuliah. Super kah kita? Jawaban dari pengalaman selama ini: kita seolah-olah super, tapi ternyata rapuh dari segi pengetahuan dan pemahaman (knowledge and understanding), dua kompetensi penting dalam pendidikan tinggi. Yang dihasilkan akhirnya para penghafal yang pintar di tes untuk ber-IPK bagus. Tentu masih ada anak yang tetap bagus karena superioritas kemampuannya. Tapi, saya bicara mahasiswa in general. Akhirnya kita menjadi tidak lebih dari sebuah pasar jual-beli gelar. UKSW memberi, mahasiswa membeli. Bukan sebuah komunitas elit masyarakat yang siap memertanggungjawabkan intelektualitasnya, sama seperti tuntutan pak Noto pada kita. Artinya selama ini kita sudah men-down-grade-kan kemanusiaan kita sebagai yang punya potensi untuk lebih baik karena korupsi sistem pembelajaran yang sistematis.

    Ini mah sudah nambah dari teks asli yang salah posting tadi!

  3. Opha says:

    Terlepas dari substansi berita, jujur saja saya agak miris dengan tulisanmu.
    Kata “goblok” mungkin terlalu keras menurut saya. Kalaupun memang yang terjadi hanya bisa diungkapkan dengan kata-kata seperti itu, apakah tidak mungkin mencari ungkapan yang lebih mengena dan tidak mengurangi makna dari “goblok” itu.

  4. JT says:

    Yup…. ini berita yang ditunggu karena di website UKSW tidak berani menurunkan hasil Sarasehan tersebut.

    Hanya saja saran buat penulis, penggunaan kata “Goblok” mungkin bisa dicari padanannya kah? Seperti pendapat Opha diatas, penggunaan kata “Goblok” kok rasanya kurang pantas bagi kaum akademis, apalagi tulisan ini bisa dibaca/diakses oleh siapapun yang bukan tidak mungkin tidak menganalisa lagi kata “Goblok” seperti yang dimaksudkan penulis.

    Tapi yang ingin saya ulas disini bukan persoalan siapa yang “Goblok”. Yang ingin saya tanyakan disini, apakah rencana perubahan sistem ini melulu urusannya ke kegiatan akademik dan karena kepentingan mahasiswa saja? Ataukah justru kepentingan dosen yang lebih besar disini? Coba cermati penjelasan kak Neil berikut ini (ini salah satu dosen yang mengalami bagaimana proses Semester dan Trimester, termasuk juga dosen yang mantan mahasiswa UKSW jadi penjelasannya masuk akal):

    ========================================================================
    Saya sebagai dosen juga sama, kecuali UKSW berani menambah dosen secara signifikan. Mengapa? Beban ideal kerja seorang dosen adalah mengajar 8-9 sks dan total 12 sks. Dengan semester, pengalaman di FE, bisa mencapai belasan atas hingga 20an sks.
    =======================================================================

    Pernahkah teman2 (khususnya mahasiswa) menganalisa hal ini? Bahkan skenario pembayaran kepada dosen pun sudah berubah kan dengan adanya perubahan sistem ini? Pernahkah kita menganalisa beban mengajar dosen tersebut (bukan melulu dosennya banyak mengajar…tapi uang Kelebihan Mengajar pun akan BERLEBIHAN dengan sistem Dua Semester ini) Pernahkah kita menganalisa keberadaan semester pengayaan yang rancu itu? Ketika mahasiswa yang lain kuliah selama 16 kali, maka mahasiswa yang lain bisa dengan ‘enak’ kuliah hanya 8-10 kali untuk mata kuliah yang sama dan parahnya… nilai yang keluar pun sama! Dan mau tau…? Tunjangan untuk dosen yang mengajar pada periode semester pendek ini lebih besar! Kalau yang dipersoalkan adalah pertemuan sebanyak 14 kali dan 16 kali, tolong teman2 mahasiswa melakukan penelitian apakah betul dosen Anda mengajar tepat 16 kali? Terus bagaimana dengan kedalaman materi yang diberikan?

    Kalau tidak salah dulu sempat dibentuk Satgas untuk mengevaluasi pelaksanaan Trimester, tapi mana hasilnya? Kemana hasil evaluasi tersebut? Kok malah terjadi perubahan sistem?

    Ini bukan persoalan menang-kalah atau siapa yang “Goblok” (kok kayak mo perang aja di kampus…hehehe..), tapi inilah wajah UKSW yang selalu tidak pernah belajar dari masa lalu.

  5. JT says:

    Sekedar tambahan, JT diatas bukan John Titaley atau pendukungnya, tapi inisial diatas adalah Johan Tambotoh (dosen yang prihatin ketika semua energi kampus ini habis memikirkan Trimester/Dwimester). Coba kalau kekuatan bisa dipadukan, seharusnya UKSW sudah bisa menciptakan sebuah inovasi baru. Hampir 4 tahun kepemimpinan yang ada sekarang ini, tapi persoalannya berputar2 pada hal itu saja…….

    Sayang sekali energi habis untuk hal-hal yang tidak berguna…!!!! Kapan kita bisa bicara untuk mengembalikan masa keemasan UKSW itu (yang semuanya tinggal…katanya dulu UKSW begini/begitu)?

  6. Theo Litaay says:

    Saya pikir dik Satria, ungkapan “goblok” akan mengaburkan pemaknaan pembaca atas tulisan dik Satria. Nggak tahu ya, mungkin saya ini orang bodoh karena saya pasti tidak berani menyebut diri dik Satria sebagai orang “goblok.” Semoga sukses selalu.

  7. STR says:

    @ Theo Litaay: Jadi sekarang pemaknaan anda terhadap tulisan saya sudah terlanjur kabur? Saya perjelas ya ….

    SAYA BOSAN MIKIRIN SISTEM SEMESTER/TRIMESTER LAGI! YANG SAYA INGINKAN ADALAH UKSW BERHENTI BERPOLEMIK SOAL ITU, DAN KEMBALI MENATAP LURUS KE DEPAN! SARASEHAN KEMARIN CUMA MEMBUAT SIVITAS AKADEMIKA KEMBALI MENOLEH, MENOLEH, DAN MENOLEH LAGI KE BELAKANG. IYA KALO YANG DITOLEH MEMANG MASIH ADA YANG MENGGANJAL (ALIAS BELOM SELESAI), TAPI KALO NGGAK? NGGAK ADA GUNANYA!!!

    😀

  8. wit says:

    apapun sistemnya asal dilakukan dengan konsekuen, dapat diharapkan menghasilkan output yang bagus, masalahnya bagaimana kita semua setia dengan sistem yang sudah dicanangkan,
    seperti pendapat Neil, ayo kita selenggarakan sistem SKS dengan benar
    apa benar kalau ambil 3 sks mahasiswa akan belajar mandiri 3×50 menit, akan 3×50 menit mengerjakan tugas? juga dosennya apa benar kuliahnya 3×50 menit, tanpa absen dengan berbagai alasan?

    dengan alasannya masing-masing, trimester baik, semester juga baik, banyak sistem yang baik, tapi bagaimana kita setia pada sistem yang kita pilih,

    (jadi ingat kata-kata Amsal 20:6 Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya? — bingung nggak ada hubungannya? Kata-kata itu versi Kitab Suci Indonesian Literal Translation Amsal 20:6 “Banyak orang akan memberitahukan kebaikannya sendiri, tetapi orang yang setia, siapakah dapat menemukannya?)

    trimester baik, menurut penggagasnya, semester juga baik menurut penggagasnya

    ya STR, itu kata “goblok” nya diganti “kesia-siaan” supaya lebih pas dengan kata Pengkhotbah 1:14 Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.

    maaf semua, saya kutib Kitab Suci, soalnya itu referensi yang paling gampang nyarinya, sudah ada di hardisk, nggak perlu googling di internet, atau buka-buka jurnal….

  9. Neil Rupidara says:

    Untuk STR: He he he… lalu apa yang dimaksud dengan melihat ke depan? Bukankah kembali ke semester adalah sebuah bentuk melihat ke belakang, bahkan jalan mundur atau kemunduran? Jadi, yang mana yang melihat/jalan ke belakang, mana yang ke depan?

    Keputusan yang keliru harus dikoreksi, termasuk harus (terpaksa) membuang energi untuk step back and evaluate. Jika kembali ke semester dipandang sebagai sebuah koreksi terhadap trimester yang gagal, maka mestinya ditunjukkan di mana gagalnya. Sebuah perjalanan perubahan sistemik membutuhkan waktu untuk berbuah. Dan, keputusan balik kembali semester tidak memuat argumen pedagogis yang cukup. Beberapa yang terdengar adalah soal legalitas dan kebiasaan. Legalitas paling tidak bisa dikatakan solved ketika Tim UKSW bertemu pihak Dikti. Alasan biasa hidup dengan semester hanya menunjuk pada resistensi atau sikap anti perubahan.

    Ada yang mengatakan minggu belajar yang pendek (14 minggu) berakibat pada berkurangnya mutu. Kini mereka pun membenarkan kuliah boleh 8 minggu! Betapa sebuah kebodohan (maaf)! Ada cukup banyak praktik berkuliah terentang dari 8-10 minggu yang tetap berkualitas. Katanya lagi, oh fakultas ini tidak cocok untuk pendek, misalnya pertanian. Please cek universitas wageningen di belanda yang isinya pertanian, biologi dan sejenis yang berkuliah gaya 5 kali blok dalam setahun. Apakah mutu mereka jelek, silahkan cek saja. Pertanyaannya, kok bisa? Isunya adalah filosofi dan metode belajarnya! Kita belum pernah menyentuh wilayah itu dalam debat semester vs. trimester. Isu lainnya apakah beban belajar manageable atau tidak.

    Trend pendidikan tinggi menunjukkan orientasi ke arah metode2 student-centered learning (termasuk research-based) di bawah filasat pedagogis konstruksionis (sosial) di mana aktivitas belajar dari, oleh, dan untuk mahasiswa itu sendiri menjadi penting, dosen menempati peran sebagai fasilitator, mitra. Karena itu, kegiatan belajar luar kelas adalah yang akan dominan. Dengan begitu pressures akan ada pada mahasiswa to manage their own learning. Pertanyaan saya, bisakah mahasiswa handle so many subjects in one term? Seperti di comment sebelumnya, minimal 6 hingga belasan subjects (dalam pola sks)? Dalam pengalaman trimester, seorang mahasiswa yang pandai sedikit mengeluh karena too many assignments, padahal dari 6 mata kuliah yang diambil paling 3-4 yang aktif memberi tugas. Di sisi lain, sebagai dosen, tidak jarang saya sedikit mengelus dada ketika mendapati tugas dari mahasiswa hanya copy and paste. Lack of time?

    Keberanian merombak kurikulum untuk fit in ke dalam sistem belajar seperti itu juga diperlukan, dengan salah satu tujuan to reduce number of subjects. Jadi, kalau bisa kuliah 3-4 subjects in one term akan sangat ideal (silahkan konversi jumlah sks dan sks/mata kuliahnya). Kalau di rasa kurang ya 5 tidak apa-apa lah, tapi untuk mereka yang memang sanggap berada dalam kondisi under high pressures.

    Meributkan kembali trimester semester ada dalam wacana besar untuk men-dekonstruksi/merekonstruksi filsafat/praktik belajar mengajar kita. Tapi, kalau Anda menganggap sebagai buang-buang energi, saya kira sayang sekali.

    Akhirnya, keep questioning things around you all the time and hopefully you’ll find better anwers. Mengekalkan praktik lama yang boleh dikata mulai bangkrut hanya menunjukkan pada kita bahwa betapa kita justru tidak tahu di mana masa atau arah ke depan.

  10. wit says:

    Di sisi lain, sebagai dosen, tidak jarang saya sedikit mengelus dada ketika mendapati tugas dari mahasiswa hanya copy and paste.

    sama SEM (Neil Rupidara).., untung dada saya rata…he he .

    maksud saya setia dengan sistem SKS, begini lho..:
    mahasiswa mengambil 20 SKS
    berarti tiap minggu perlu 20 jam tatap muka + 20 jam terstruktur + 20 jam mandiri; total 60 jam seminggu
    dibagi 5 hari = 12 jam sehari BELAJAR….(ok kalau dibagi 6 hari = 10 jam/hari BELAJAR…)
    kapan MAIN-nya? kapan PACARAN-nya? kapan JALAN-JALAN-nya? kapan ikut kegiatan SENAT MAHASISWA-nya?

    nah mungkin itu salah satu alasan lebih baik trimester dengan beban maksimum SKS yang lebih rasional.

    Nah. bayangkan dosen yang beban tugasnya sampai 25 SKS/SBS? Mbuh ngetunge jam kerjane piye, nyatane ya ana kok…apa di-mistik- kaya yen pasang buntutan?

    Bagaimana para mahasiswa? Anda (mau) setia dengan sistem SKS? – terserah mau semester apa trimester, itu hanya pengelompokan “blok/waktu kuliah” saja, tidak merubah sistem SKS-nya.
    so.., apapun sistemnya apa tetap mau pakai SKS? atau bahkan mungkin kita perlu mencoba menggagas sistem lain selain SKS, karena sekarang jamannya TI sudah sangat membantu proses pembelajaran.

    kalau orientasi OUTPUT, yang penting mahasiswa MENGUASAI MATERI, bagaimanapun cara belajar/berapapun waktu belajarnya.
    kalau orientasi PROSES, yang penting proses belajarnya,
    tetapi sangat mungkin kita tidak terjebak dalam ekstrim OUTPUT dan PROSES, sebab keduanya penting dalam proses pembelajaran, tetapi bagaimanapun akan ada kecenderungan ke kutub yang mana…

    ya misalnya perlu digagas sistem belajar (istilah saya) SMT (Sistem Mandiri Terstruktur) berbasis TI (e-learning), dimana para mahasiswa diberitahu kompetensi yang perlu dimiliki setelah lulus mata kuliah tertentu, dosen memberi guidelines, kuliah tatap muka hanya JIKA DIPERLUKAN, jika tidak perlu tatap muka, ya email-email-an antara dosen dan mahasiswa atau chatting, (chatting sekarang sudah canggih, bisa audio visual juga) atau diskusi via buletin board.
    tinggal jadwalkan waktu tes dan sistem penilaiannya.

    wah.. kalau bisa gitu, saya diskusi dengan mahasiswa dari mana saja, asal ada akses internet
    tuh contohnya Pak SEM, dari Australia komentar disini saja bisa, dari rumah apa dari kampus SEM?

    mungkin akan dianggap kurang “sentuhan personal”, kalau itu tergantung bagaimana komunikasi yang kita lakukan, beberapa teman saya di internet, cukup “akrab” sekalipun belum pernah bertemu, jauh lebih akrab daripada dengan beberapa mahasiswa yang setiap minggu ketemu di kelas.

    yang penting, apapun cara/siatemnya, jangan membuat kita menjadi ‘goblok’ maaf ya saya ikut-ikutan gunakan kata ‘goblok’

  11. bintang says:

    bagi saya sarasehan yang kemaren tidak sia2, walau kadang dilihat dari segi kepedulian mahasiswa apalagi khususbnya LK itu sangat terlambat. tapi dari acaar itu ada beberapa mahasiswa yang paham mengenai sistem pengayaan ini. entah dari segi pembayaran dan pengambilan SKS. jadi tidak ada yang sia2, dan ini bukan hal yang GOBLOK. orang – oramg yang hadir pun bukan orang GOBLOK.

    untuk PIMRED nya kata GOBLOK sangatlah tidak layak untuk dipakai dalam berita2 apalagi untuk tingkatan akademik dan kalangan kaum intelektual. kata GOBLOK dangatlah kasar dan tidak sopan, apalagi ini dibaca oleh civitas, dan diakses oleh umum. tidakkkah kita juga yang mengatakan GOBLOk adalah bagian dari civitas ini??
    masukan saja untuk scientiarum, berita2 yang dimuat dalam web seperti ini dilihat dari segi bahasa dan kenyamanan orang yang membaca.
    sem,oga sukses dengan KESINISAN Mu.

    KITA HARUS TENANG SEBELUM BISA MENDENGAR, KITA HARUS MENDENGAR SEBELUM KITA BELAJAR, KITA HARUS BELAJAR SEBELUM BERSIAP DIRI, KITA HARUS BERSIAP DIRI SEBELUM MELAYANI, KITA HARSU MELAYANI SEBELUM SEBELUM MEMIMPIN (PUJANGGA ARTHUR WARD)HIDUP SATYA WACANA…………

  12. ones says:

    kalo penulis mengatakan baik pimpinan universitas, BPMU, mantan rektor bahkan moderator itu goblok;lebih-lebih judul tulisannya “HARI KEGOBLOKAN UKSW”, mungkin dia benar. tapi pertanyaan saya sederhana siapa yang lebih goblok mereka yang disebutkan ataukah dirinya sendiri? sudah tau institusi ini goblok ko mau-maunya berkuliah dan menuntut ilmu di institut yang goblok itu (baca UKSW)???

  13. JT says:

    Saya sepakat dengan mas WIT, jadi bukan Trimester (baca: MODEL) yang bermasalah, tapi memang dari sononya SISTEM SECARA KESELURUHAN di kampus kita ini yang bermasalah. Maka saya mengatakan diatas bahwa sebetulnya persoalan ini tidak melulu persoalan mahasiswa, tapi dosennya juga, bisa gak dosen itu menjadi seorang fasilitator, sifatnya mengarahkan dan bukan hanya tergantung dari pertemuan di kelas. Apa betul misalnya 2 sks trus pertemuannya berlangsung selama 2×50 menit?.

    Saya sepakat dengan usul mas WIT berikut ini:
    ==========================================================================
    Ya misalnya perlu digagas sistem belajar (istilah saya) SMT (Sistem Mandiri Terstruktur) berbasis TI (e-learning), dimana para mahasiswa diberitahu kompetensi yang perlu dimiliki setelah lulus mata kuliah tertentu, dosen memberi guidelines, kuliah tatap muka hanya JIKA DIPERLUKAN, jika tidak perlu tatap muka, ya email-email-an antara dosen dan mahasiswa atau chatting, (chatting sekarang sudah canggih, bisa audio visual juga) atau diskusi via buletin board.
    tinggal jadwalkan waktu tes dan sistem penilaiannya.
    ===========================================================================

    Kalau tidak salah seorang Willi Toisuta yang mantan Rektor UKSW dan juga pakar pendidikan pernah mengemukakan konsep ini. Diawal perkuliahan mahasiswa telah diberitahu kompetensi yang harus dicapainya dalam proses perkuliahan, kemudian dalam proses perkuliahan sang dosen harus mampu berinovasi dalam mengembangkan materi termasuk metode perkuliahan. Perkuliahan tidak melulu dosen berdiri di depan kelas dan ngomong ngalor ngidul (hehehe jangan2 banyak ‘kewel’nya hehehe). Ada internet… ada mbah Google.. ada berbagai sumber.. =The World is Flat= kata Thomas L. Friedman… so apa yang salah? Kalau kemudian ada mahasiswa yang menjadi lebih tahu tentang sesuatu kan lebih bagus? Semua sumber kuliah ada di internet, tinggal masukkan frase tertentu di mesin pencari maka keluar semua sumber perkuliahan tersebut. Trus masih menjadikan DOSEN sebagai PUSAT PENGETAHUAN? Salah besar..!!! Dosen itu ibaratnya fasilitator saja, partner belajar dan terutama DISKUSI mahasiswa. Makanya DOSEN pun harus MELEK INTERNET, sudah diberi subsidi (ini duit mahasiswa lho) beli laptop malah gak pernah pake laptop karena sudah diberikan kepada orang lain (mungkin). Ada akses point atau hotspot di beberapa titik di area kampus (sayangnya di dekat Gedung G agak sulit aksesnya karena pengaruh Tower Penguat Sinyal IM3 yang ada diatasnya – perlu diteliti lagi sebelum divonis apakah karena pengaruh tower itu sepenuhnya), tapi masih minim sekali (bisa dihitung dengan jari) dosen2 yang memanfaatkan fasilitas ini.

    Coba kalau energi yang dibuang selama ini dalam proses perubahan sistem dari Trimester ke Dwisemester kita alihkan pada pengembangan sistem Flexible Learning yang betul2 menjadi budaya akademik kita? Bagus sekali kan? Kalau selama ini sering dipermasalahkan soal koneksi internet di kampus, ya mari kita perbaiki bersama, dan kalau tidak salah BTSI melalui HIBAH INHERENT kan sudah berupaya mengatasi persoalan ini.

    Pernahkah kuliah kita dilakukan melalui jaringan teleconference (kalau tidak salah dulu tahun 80-an pak Willi sudah memeloporinya). Dan ini sangat dimungkinkan untuk dilakukan oleh UKSW, bahkan BTSI sudah melaksanakan video conference (senin depan 7/4 juga ada).

    Jadi, bukan Trimester or Dwimester…tapi mau gak kita berubah menuju kondisi perkuliahan yang lebih baik dan berkualitas? Supaya gak “Goblok”..ups (sorry terlalu kasar kali..) .Supaya tidak tertinggal dari teknologi (informasi) yang semakin melaju kencang.!

  14. Opha says:

    Tiga hal yang ingin saya komentari di sini :
    pertama, Saya mendapatkan banyak hal ketika sekian lama mengikuti perkembangan “polemik” sistem pendidikan UKSW. Salah satunya dan yang paling menyentuh saya adalah bahwa ternyata pedagogi pendidikan harus kita pahami betul hingga menyentuh kesadaran (awareness) kita. Kalo tidak, kita akan berhadapan dengan sistem pendidikan yang penuh dengan manipulasi. Kesemuanya menawarkan teknis pelaksanaan pendidikan yang ideal (sesuai pemikiran dan pendekatannya masing-masing). Persoalannya, adakah itikad baik untuk menarik konsep pendidikan UKSW lepas dari berbagai kepentingan/nilai yang membelenggu konsep pendidikan itu sendiri? tapi kelihatannya tidak mungkin melihat kondisi sekarang ini!!! Skeptis juga ternyata saya.

    Kedua, saya tidak begitu tertarik ketika perdebatan yang ada dikaitkan dengan aturan-aturan /kebijakan-kebijakan yang ditelurkan oleh pemerintah. Bukannya saya anti dengan pemerintah dan tidak mau mentaati hukum yang ada, tetapi jika memang konsep yang dibuat memiliki landasan filosif yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan, kenapa tidak? Malahan menurut saya, inilah yang harus dipikirkan. Saya tidak yakin, kalau aturan pemerintah relevan untuk masa yang akan datang? Saya lebih sepakat jika hukum dibuat untuk mengatur & menciptakan ketertiban umum dan tidak semata-mata untuk “melarang”.

    Ketiga, untuk tulisan Satria, sekali lagi saya miris dengan gaya penulisanmu. Saya tahu kekritisan, keberanian dan kapabilitasmu, tapi yang saya takutkan ini menjadi bumerang dan preseden buruk buat penulis.
    Terlepas dari itu, saya ingin mengutip dari kode etik jurnalis – nya AJI, bahwa “jurnalis menghindari kebencian, prasangka, sikap merendahkan, diskriminasi, dalam masalah suku, ras, bangsa, jenis kelamin, orientasi seksual, bahasa, agama, pandangan politik, cacat/sakit jasmani, cacat/sakit mental, atau latar belakang sosial lainnya”.
    Saya bukan anggota AJI, tetapi sedikit banyak ada beberapa hal yang mendasar harus kita junjung tinggi dan kedepankan dalam membuat suatu karya jurnalistik. Maaf sebelumnya, saya juga tidak mahir dalam membuat karya jurnalistik dan masih terus belajar.

  15. Redaksi says:

    Komentar ini adalah pembatas antara komentar sebelum dan setelah penyuntingan 4 April 2008 dilakukan.

    Terima kasih.

  16. Pingback: Orangmuda.com »  Untuk Scientiarum dan UKSW
  17. Trackback: Orangmuda.com »  Untuk Scientiarum dan UKSW
  18. Jonathan says:

    Bro, menurut ku salah besar kalau kamu bilang “sia – sia” tentang sarasehan yang dibuat oleh BPMU. Dengan adanya sarasehan tersebut banyak mahasiswa yang tadinya tidak tau apa yang namanya semester, pengayaan,dll sekarang jadi tau. Pergantian sistem bukanlah hal yang maen – maen. Banyak mahasiswa yang bingung tentang sistem yang sekarang kita jalani, apalagi mahasiswa baru. Yang terakhir selaku Pemred rasanya kurang “pas” kalau kamu pake bahasa yang sebenarnya tidak layak ditulis (GOBLOK.red, apalagi pihak rektorat dikatain begitu. Ingat, gunakan kebebasan pers pada tempatnya, ok…….. Viva UKSW

  19. Neil Rupidara says:

    Menanggapi JT(ambs)… please untuk juga hati-hati, bukan soal semester vs trimester per se.. tetapi, seperti saya katakan, ada soal load yang manageable dan soal kedua sebagaimana yang diharapkan terjadi karena ICT sebagai alat bantu tersedia, ya soal filsafat pedagogisnya.. Di atas 2 indikator evaluasi itulah mengapa semester ‘ditolak’.

    Soal load, Titaley sudah banyak uraikan. Di forum ini WIT juga. Di tulisan2 saya menolak pemberlakuan kembali semester untuk rapat2 di FE juga sudah banyak memuat itu. Karena itu, saya fokus ke soal filsafat pedagogis. Dan, di situ, harus dikatakan bahwa tidak ada yang bersih nilai/kepentingan, seperti harapan Opha. Semua ada kepentingannya, tetapi apa yang harus diuji adalah kepentingan2 itu sendiri.

    Tentang ini, saya khawatir kebanyakan dosen alergi dengan soal filsafat pedagogis. Filsafat kan suka bikin pusing, begitulah alasan umum. Tapi, sering kita lupa kita bertindak karena ada acuan nilai tertentu dan di situlah kita berfilsafat. Jadi, dosen merasa bahwa kalau dosen tidak menceramahi, maka mahasiswa ntar tidak tahu apa2 atau salah. Di sini ia berfilsafat liberal yang menempatkan dosen sebagai pusat pembelajaran, yang ‘berkuasa’ dalam bidang ilmu, aktor utama, dan mahasiswa hanyalah seorang yang baru belajar dan peran atau tugasnya cukup dengar atau ikuti apa yang diinginkan/katakan/lakukan dosen. Bertolak belakang dengan itu adalah mereka yang memandang mahasiswa sebagai yang pelaku utama dan karenanya aktif dalam pembentukan pengetahuan. Mahasiswa dinilai bisa konstruksikan pengetahuan oleh atau dari pengalaman2 belajar mereka. Dosen dalam hal ini harus merelakan perannya berkurang, bahkan kadang harus menerima bahwa mahasiswanya berpandangan lain dari dirinya (karena itu dosen juga bisa belajar dari mahasiswa). Kalaupun dosen (dengan kerangka pengetahuan dan pemahamannya) mau menolak pandangan mahasiswa, maka itu ada dalam ruang kesederajatan. Dua contoh ini menunjukkan filsafat yang berbeda turun dalam praktik yang juga beda.

    Karena itu, seperti pandangan JT, mengharapkan perubahan praktik tanpa perubahan filsafatnya, maka metode mengajar yang dipakai akan berposisi sebagai sampingan atau periferal. Bagaimana dosen mau merelakan posisi otoritatifnya atas bidang ilmu ke mahasiswa? Bisa jadi ia berpikir, jangan2 mahasiswa memandang rendah saya karena seolah2 saya tidak memberi jawaban mana benar, mana salah. Inipun mungkin, karena filsafat belajar dalam diri mahasiswa ya podo wae, ya dosen harus jadi sumber pengetahuan.

    Karena itu, sebelum masuk ke metode2 belajar mengajar yang ragam, saya merasa perlu ada debat pedagogis di kampus. Di FE pernah kita lakukan, cuma sayang peminatnya tidak banyak. Saya datangkan teman Qaryah Thayyibah yang menggunakan filsafat konstruksi sosial dalam skenario belajar mahasiswa. Guru bagi mereka ya fasilitator atau teman. Jika belajar ada dalam ranah filsafat ini, maka ruang kelas menjadi sangat terbatas perannya, bahkan bisa digantikan.

    Berdiri di atas filsafat seperti QT, saya termasuk yang alergi dengan penerapan aturan wajib 80% hadir di kelas (dosen maupun mahasiswa). Saya cuma sering mengimbau mahasiswa agar sedapat mungkin memenuhinya. Dan, dalam memenuhi itu, motivasi utamanya adalah di kelas akan terjadi pertukaran pengetahuan, karena itu saya akan rugi kalau tidak datang. Kalau cuma datang untuk dengar dosen, ya buku teks kan ada, silahkan baca. Karena itu, saya juga tolak syarat 16 minggu tatap muka oleh dikti. Silahkan lah yang mau memenuhi itu. Cuma, ketika saya tolak syarat2 administratif akademik itu semua, bukan lalu berarti dosen dan mahasiswa bisa seenaknya. Bagi saya kultur akademiklah yang perlu dominan dan itu dibentuk lewat proses2 yang ketat nilai. Misalnya, saya banyak memberi tugas kepada mahasiswa. Bagi saya itulah yang membentuk kita sebagai komunitas akademik. Curahan waktu dan perhatian harus memadai untuk menjadi bagian yang bertanggung jawab dari komunitas ini. Cuma, ketika handle 3 atau lebih kelas dengan gaya begini, ya klenger juga. Satu saja sudah time consuming.

    Cuma, saya senang dengan adanya pergeseran filosafat pedagogis kita melalui pandangan dan praktik seperti pada rekan2 Tambs, Wit, etc yang tidak tersebutkan di sini. Dengan begitu, belajar menjadi tidak berbatas, kapan saja, di mana saja, oleh siapa saja, dari siapa saja, termasuk variasi perspektif yang dipakai. Dengan mengatakan begitu, bukan berarti terjadi superioritas filsafat tertentu atas filsafat lain. Cuma, baiklah kita buka ruang2 regulasi kita terhadap praktik2 yang variatif, yang dugaan saya justru akan menaikkan efektivitas pembelajaran, dan tentu saja enjoyability of learning processes. Mahasiswa harus terbiasa dengan ragam pola pikir, pola tindak, tapi satu fenomena yaitu semangat dan keaktifan belajar yang tinggi.

    Kalau kita berterima bahwa belajar ada dalam fenomena seperti itu, maka model SKS lama akan bangkrut dan muncul model2 baru. Jika saja trimester tetap berjalan baik dan punya legitimasi pedagogis, termasuk berkinerja baik, saya kira pemerintah (dhi. DIKTI) akan ada dalam pressure untuk adjust aturan, bahkan tinjau ulang beban sks untuk memungkinkan pola semester bisa compete dengan trimester.

    Semoga. Tapi sayang seribu sayang, UKSW sudah ‘anulir’ trimester hanya karena tidak hati2 memandang wacana-wacana besar di belakangnya dan cuma gunakan one-sided perspective, positivistik-legalistik!

  20. Theo Litaay says:

    Dik Satria Yth;
    Saya kira “memandang ke belakang” adalah memandang masa pada waktu Sistem DwiSemester dilaksanakan secara dipaksakan pada masa lalu, sehingga saya sewaktu kuliah pernah mengambil 26 SKS per semester (yang memang ternyata tidak bermakna). Dengan merasionalisasikannya menjadi Tiga Semester maka makna sistem kredit semester menjadi lebih tepat, inilah yang disebut “memandang ke depan.” Jika perdebatan ini dianggap harus selesai sekarang, saya kira justru tidak pernah akan selesai selama alasan-alasan pedagogik tidak menjadi dasar argumentasi.
    Dalam rapat di fakultas hukum, seorang rekan dosen bertanya “mengapa kita harus tunduk-tunduk pada pemerintah?”. Saya juga bingung, pemerintah yang gagal membangun mutu pendidikan di Indonesia sehingga terpuruk bahkan untuk Asia Tenggara lalu kita seperti menjadi “pahlawan kesia-siaan” mau membela pemerintah. Padahal kenyataannya pemerintah itu butuh masukan contoh inovasi dari berbagai perguruan tinggi supaya dia juga bisa memperbaiki diri, ini kalau mau “Memandang ke depan.”
    Salam hormat.

  21. uksw says:

    wahhhh ternyata topiknya diganti lagi yach. saya ,alah lebih setuju kalo pakai kata GOBLOK, kenapa harus diganti?? apa jangan2 sekarang SCIENTIARUM takut sama REKTORAT atau sama BPMU???? majulah terus SCIENTIARUM, jangan sampai ide2 yang luar biasa terpenjara oleh birokrasi2 yang ada dikampus yang GOBLOK ini. SEMANGATTTTTTTTTT SCIENTIARUM.HIDUP PIMRED, hidup anggota SCIENTIARUM. NABI MUHAMAD, YESUS KRISTUS, SANG BUDHA, SANG WIDHI menyertai MU dan 12.000 mahasisswa berada pada pihka dan dibelakangmu. wuuuuuu yoooooooo. HIDUP MAHASISWA

  22. ant says:

    Hari kesia-sian UKSW ?? goblok ??
    MENURUTKU NGGAK !!!!!!
    Merasa sia-sia itu mungkin bagi orang yang “MERASA PALING PINTAR N PALING KRITIS + PALING TAHU ” terhadap masalah yang terjadi.
    Saat orang merasa paling pintar, maka dia akan membuat image orang-orang disekilingnya adalah orang yang “bodoh’ yang harus di ajari dan kalo melihat seperti ini.. maka dia sangat susah menerima opini dari orang lain.
    Sarasehan 31 Maret : Bagi saya pribadi, itu penting, itu bagus walaupun kita melihat “sedikitnya animo” yang mau datang atau yang mau mendengar.
    Ngaak ada hasilnya ??? nggak juga… ada kok, walaupun kecil.. tapi kita harus belajar menghargai dan YANG PALING PENTING adalah BELAJAR MENDENGARKAN !!! apakah Bapak, Ibu dan Saudara yang berdiri didepan menjelaskan sesuatu itu tanpa persiapan ??? NGGAK kan ? mereka pasti juga memikirkan apa yang yang mereka utarakan agar kita mengerti minimal ada titik terang disitu , baik mengenai SEMESTER atau TRISEMESTER. Dan menurutku mereka bukan orang “GOBLOK ” yang berani bicara didepan.( kalo seorang PROFESOR dibilang GOBLOK ?? gimana saya yang ‘hanya” seorang SARJANA S1 ” ???
    Ada sesuatu kata mutiara yang indah dari seorang Mother Theresa :
    “saat kita mulai menghakimi orang lain, maka kita tidak punya waktu untuk menyayangi mereka.”

    just saran : kalo mau nulis “sesuatu” mungkin banyak-banyak melihat kamus “anonim” sebuah kata, agar tidak “jusnalistiknya ” lebih baik dan lebih kelihatan “intelektual”.

  23. Dimas S. Aditya says:

    Hi, teman2…Saya alumni FH 2001. Saya biasa dipanggil Aditya / Adit. Skrg, saya sedang bersiap2 untuk S2 di FISIP UI (kalo keterima, hehehe…).
    Saya ga mau mempermasalahkan mengenai Trimester, Semester, ato apalah namanya itu. Jujur, miris saya kalo ngeliat kampus tercinta ini sekarang keadaannya seperti ini.
    Saya ingin, Bapak / Ibu dosen dan Pimpinan2 di aras fakultas dan universitas, itu satu suara. Sudahlah, jangan ada lagi yang namanya ribut2 soal trimester, semester, ato yg lainnya. Saya tidak memihak siapa2. Yang saya pikir hanyalah kepentingan mahasiswa2 yang masih berkuliah.Kasihan mereka, kalo mereka seperti diombang – ambingkan seperti ini. Apakah kalian itu tidak berpikir bahwa mahasiswa saat ini sedang bingung dengan sistem perkuliahan yang bermacam2 di UKSW ini? Menurut saya, sistem apapun itu, asalkan dikerjakan dengan sepenuh hati dan dengan dukungan penuh dari semua pihak, pasti hasilnya akan sangat memuaskan.
    Sekali lagi, saya tidak memihak kepada salah satu pihak. Saya hanya berpikir mengenai kepentingan mahasiswa saja. Tolong, kalian semua melihat ke bawah, ke mahasiswa2 UKSW yang kebingungan itu.
    Saya bangga dengan kampus saya (maksudnya UKSW, lho…Bukannya yg akan saya masukin nanti). Oleh karena itu, yang saya inginkan adalah, kampus UKSW ini semakin maju. Sekali lagi, tolong, anda semua berpikir mengenai kepentingan mahasiswa, dan bukan tentang kepentingan anda masing2.
    Maju terus UKSW, Sang Garba Ilmiah Kita.
    Best regards,

    Dimas S. Aditya (FH 2001 / 312001125)

  24. Febri says:

    @buat kak Neil

    comment-nya panjang ya… 🙂
    Usul bagaimana kalau buat artikel akademis/opini dikirim ke Scientiarum

    Salam Pembebasan !

    Geritz

  25. andre says:

    aku panggil Bang satria aja yach. Wah waktu itu aku liat di satpam namamu bang. waktu itu sekitar jam 10 malem,tak liat kamu baru ambil kunci…Luar Biasa Bgt.btw,tentang sistem akdemik…kalo namanya UNIVERSITAS gak ada dong masing2 Fak beda sistem…kalau aku setuju semester coz sesuai dengan DIKTI. perlu temen2 tau aja baru beberapa menit lalu aku dapet surat bekas dari dikti yang isinya ditujukan ke UKSW tertanggal 26 februari. kurang lebih isinya bahwa dimohon UKSW gak pake trimester tapi Semester….Kamu kritis banget Bang Satria….Semangat Terus yach Bang….. Anak2 Muda yang Takut akan Tuhan Harus memimpin Bangsa ini keluar dari keterpurukan.Salam Nasionalis…….

  26. one of the "SATGAS" says:

    Keren Bah…belum 2 minggu berjalan setelah hari-H banyak juga pergunjingannya!!!

    Artikel yang cukup bikin bingung juga ya mas…(atau mungkin karena saya terlalu “GOBLOK” untuk mencerna apa yang anda tulis)

    Setidaknya saya melihat apa yang anda tulis lebih sebagai “KEKECEWAAN SEORANG SATRIA” terhadap apa yang terjadi di kampus “SEKEDAR WACANA” kita ini

    Saya adalah salah satu anggota satgas, anggota BPMU juga yang tentunya perlu memberi pendapat (atau mungkin anda akan lebih melihat sebagai pembelaan)
    Kita sendiri para satgas sudah pasti berpikir resiko apa saja yang akan terjadi di hari-H (bayangkan saja jika tiba-tiba banyak lemparan batu atau pecahan kaca yang mengarah kepada kami…lebih ngeri daripada cemoohan-cemoohan saja). Asal tahu saja, kamilah yang bertanggung jawab penuh atas jalannya acara tersebut (entah…diproposal penanggung jawabnya BPMU, tapi pada akhirnya karena “ketakutan” ato gimana ya…tidak perlu dibahas lagi). Jadi seharusnya, jangan ditulis BPMU yang sia-sia…kalo perlu SATGASNYA lebih sia-sia.
    Setidaknya kami sudah siap menanggung segala resiko…masalah follow up acaranya??? sabar mas ato mbak…ini sifatnya tidak bisa instant…jangan jadi orang yang hanya lihat pada satu sisi…kerjaan kami juga belum selesai
    Jika anda berkata kami membuat sensasi ya terserah…bagi kami ini adalah sebuah KEPEDULIAN kami terhadap kampus. Well, setidaknya setelah selesai acara kita bisa melihat dengan jelas “Apa yang sedang terjadi di Kampus kita”…tentunya kita punya mata kan untuk melihat semua itu??? hanya otak kita saja yang berbeda untuk menginterpersepsikan…ato apalah namanya…and untuk masalah itu saya tidak mau berkomentar

    Kalo perlu mas ditambah juga pihak yang sia-sianya…tambah YAYASAN, dan para MAHASISWA yang datang!!!
    Yayasan yang dengan PDnya tampil bak pahlawan malah memberi “kekacauan” pada acara…
    Mahasiswa yang dengan kerennya “berteriak-teriak tidak karauan” malah bertindak layaknya tidak mahasiswa saja (tidak puas!!! langsung keluar sambil memaki-maki)
    tapi saya salut untuk mahasiswa yang mau datang (ke acara yang sia-sia), bagi saya merekalah PAHLAWANNYA UKSW.
    salut juga buat teman-teman SATGAS (kalian benar-benar berani mati ya???)
    salut juga buat mas Satria yang sudah mau datang ke acara kami yang sia-sia ini

    Buat BPMU
    mungkin kita perlu berlatih yang namanya tanggung jawab ya 🙂

    At the last,
    nice Work

  27. Neil Rupidara says:

    Geritz… iya ya.. ha ha ha… Boleh tuh untuk menerima tantangan menulis hal ini untuk scientiarum. Kalau redaksi bersetuju, saya akan menyiapkan. Tapi, mohon waktu agar bisa disiapkan dengan baik. Bagaimana STR?

  28. wit says:

    @Dimas,
    Saya ingin, Bapak / Ibu dosen dan Pimpinan2 di aras fakultas dan universitas, itu satu suara.
    wah.. jadi nggak merdu dong dik…

    @ Neil,
    filsafat pedagogis?
    itulah yang sulit dimengerti (atau malas untuk me-mengerti) karena sudah terbelenggu oleh kebiasaan yang “sudah berjalan baik” selama ini.
    Mungkin Neil bisa menjelaskan lebih lanjut tentang filsafat pedagogis yang lebih patut dipakai sebagai acuan agar “sistem baru” tidak langsung menjadi penyebab alergi.

    (saya jadi ingat ada yang mengatakan bahwa belajar filsafat itu seperti memakai kacamata hitam, mencari kucing hitam yang berada dalam ruangan yang gelap, dan sesungguhnya kucingnya tidak ada)

    jadi pingin bertanya pada mahasiswa (khususnya mahasiswa FE-UKSW) yang mengambil matakuliah filsafat, dapat apa dari kuliah itu? kegelapan? atau pencerahan?

  29. GERITZ says:

    @one of “SATGAS” : Pake nama asli saja, ngga perlu sembunyi pake samaran begitu. Jangan2 kamu bukan SATGAS..

    @Buat SATGAS & BPMU : Saya hargai usaha kalian… Tapi, ingat Banyak masalah luar kampus yang butuh Advokasi. Sekelas kalian kok hanya didalam kampus aja beraninya…?? Mana aksi kalian terhadap Kebijakan Pemerintah ?? Dalam kampus juga banyak yg bisa dilakukan. mis : Evaluasi PBM dan Dosen. Ajak sekalian BPMU khususnya bidang IV yang katanya kayak Menteri Luar Negeri.

    Atau Kalian mau duduk2 saja kayak Anggota DPR.

    Ayo maju BPMU Dan SMU

    Salam

    Geritz

  30. STR says:

    @ one of the “SATGAS” : Jadi kapan kalian mau adakan follow up? Apa itu udah jadi sebuah planning yang kelihatan dan bukan hanya sebatas omongan doang? Itu coba diperhatikan kata-kata Geritz. Kalian selama ini cuma jadi (maaf) jago kandang. Itu di depan kampus, PKL terus-terusan diusik sama Dinas Pasar. Persatuan Sais Dokar juga makin lama makin kabur eksistensinya (padahal mereka salah satu cagar budaya di Salatiga). Jangan cuma jadi katak dalam tempurung.

    @ Neil: Pada prinsipnya, Scientiarum selalu terbuka untuk semua artikel berita/opini yang masuk dari sivitas akademika. Soal batasan waktu, Mas Sem ndak perlu terburu-buru. Toh, media Scientiarum ini lebih berorientasi ke penulis (dalam hal ini wartawan kami sendiri, staf redaksi, dan juga kontributor/sivitas akademika). Silakan sesuaikan dengan mood, waktu, dan kebutuhan Mas Sem sendiri. Kami tunggu. 😀

    Terima kasih.

  31. ALKA says:

    kalau bukan goblok bisa di ganti dengan kata PEKOK ae atau mau yang lebih bagus SOntoLOyo… hahahahaha

  32. Titus Yurial says:

    ketika sebuah lembaga pendidikan bermain-main dengan sistem, tidak ubahnya seperti anak kecil yang bermain-main dengan robot-robotan. ini memang sebuah pengandaian yang mencerminkan keadaan kampus UKSW yang punya JULUKAN BARU, yaitu: Universitas Kami SEKEDAR WACANA. kalau seorang anak kecil memiliki robot-robatan, pasti ia akan membongkar mainan yang sudah bagus itu, kemudian dibuka semua komponennya, dan tidak dikembalikan ke asal. dan itulah yang sedang dilakukan oleh universitas ini, yang meng-‘oprak-oprak’ sebuah sistem, padahal sistem yang berjalan itu belum mencapai kata hasil maksimal. memang menggelikan. titel profesor, doktor, atau apapun itu namanya, tidak mencerminkan gelar yang sudah dipakai. menggelikan sekaligus memalukan. katanya orang pintar, tapi main berdebat saja di hari KEGOBLOKAN UKSW, dan mahasiswa malah menonton perdebatan mereka. kalau Anda ingat, Celebrity Death Match di MTV, seperti itulah mereka. kemudian, satu kata untuk lembaga ini: Inkonsistensi. atau mungkin dua kata. selanjutnya adalah: Politisasi Pendidikan. bahkan, tiga kata, selanjutnya: Konspirasi. saya sependapat dengan Headline di depan, hari kegoblokan uksw sudah dilakukan dengan SEMPURNA. UKSW ini bermain pada aras Konsisten, dalam artian konsisten dalam menjalankan fleksibelitas. intinya, sama dengan INKONSISTENSI. dan satu hal, main lempar tanggung jawab, itulah HOBBY UKSW. menyenangkan dalam tanda kutip. dan membuat saya tertawa juga dalam tanda kutip. semoga UKSW ini tidak berisi orang-orang yang waras juga, tapi dalam tanda kutip. salam…

  33. Titus Yurial says:

    btw, saya nimpali kata jonathan soal pemakaian kata2 pers…sah2 saja…KEBENARAN MEMANG MENYAKITKAN…dan jangan takut membahas kebenaran yang memang menyakitkan…

  34. Dimas S. Aditya says:

    @wit : Sekali – sekali tidak merdu juga ga apa2, kok. Yg penting, kepentingan mahasiswa terpenuhi. Kepentingan yg paling penting disini adalah kepentingan mahasiswa untuk berkuliah, dan bukan kepentingan trimester, semester, ato apalah namanya.

  35. w. mahendradatta says:

    Sepengetahuan saya, padanan kata “goblok” adalah “bodoh”, “dungu” dan “tolol”. Kata “sia-sia” tidak dapat dipakai sebagai pengganti kata “goblok”, apapun alasannya, kecuali bila opini yang ditulis adalah sebuah tulisan dagelan. Menggambarkan lemahnya integritas dan lembeknya tulang punggung manusia, 0rang jawa punya peribahasa, isuk kedele sore tempe. Terjemahan : hari ini goblok, besuk pagi sia-sia. Dalam bahasa kromo inggil : mencla-mencle !

    Semua bisa diatur, kata almarhum Adam Malik. Opini di koran kampus uksw juga bisa diatur, aku terpukau ….

  36. Opha says:

    @Dimas S Aditya : saya terkejut dengan komentar dari Adit. Ketika mahasiswa bicara masalah kepentingannya, semua unsur-unsur yang ada di perguruan tinggi akan bicara masalah kepentingannya. Disinilah akan terus terjadi tarik-menarik kepentingan. Jika ini dibiarkan akan muncul pemikiran superioritas kelompok/unsur terhadap unsur yang lain. Padahal kita tahu, UKSW adalah Universitas Scientiarum dan magistrorum et scholarium. “Persekutuan” ilmiah /pengetahuan tingkat tinggi.

    Mahasiswa memang adalah salah komponen penting dari sebuah institusi pendidikan tinggi. Tapi ingat! masih ada komponen-komponen yang lain, yang menjadi konstruksi ideal sebuah sistem pendidikan. Jika salah satu diabaikan, bangunan besar itu menyimpan sisi rapuh, selanjutnya, jika hal itu dipaksakan maka satu saat akan menimbulkan bencana dan menciderai siapa saja yang bernaung dibawahnya. Artinya, kita tidak bisa terjebak pada pragmatisme bahwa pendidikan tingkat tinggi hanya memikirkan penyelenggaraan perkuliahan bagi mahasiswa saja, bagaimana dengan tridharma pendidikan yang lain? Trus bagaimana dengan pembentukkan kemampuan humaniora mahasiswa? atau bagaimana pengelolaan supporting system yang mendukung PBM.
    Bagaimana perkuliahan bagi mahasiswa akan berjalan dengan optimal jika dosen sebagai fasilitator dalam kelas tidak pernah meng update pengetahuannya (melalui riset ataupun kegiatan lain misalnya)? Apakah mahasiswa tidak dirugikan dalam hal ini?
    Rumit dan kompleks, butuh kehati-hatian dan konsentrasi yang tinggi untuk mengelola kampus yang mas adit cintai ini, semua komponen institusi tidak bisa diabaikan salah satunya.

    Jika Mahasiswa merasa kepentingannya terganggu, maka ada baiknya mahasiswa secara “elegan” mempertanyakan hal itu? Mainkan peran mahasiswa di institusi ini. Jangan mau hanya jadi “objek” saja. Fungsikan LK menjadi wadah yang representatif bagi eksistensi mahasiswa.

  37. STR says:

    @ w. mahendradatta: Ijinkan saya menambah pengetahuan anda.

    Dalam pemahaman saya, melakukan sebuah kesia-siaan adalah hal yang bodoh. Memang, “sia-sia” bukan padanan kata yang tepat persis untuk “goblok.” Tapi setidaknya, kedua kata ini masih punya relasi yang kuat. Maka saya pilih kata “sia-sia” untuk mengganti “goblok.”

    Silakan anda terpukau. Saya telah yakin berada di jalur yang tepat. Saya hanya ingin mengkritik, bukan menghina (ini dua hal yang berbeda).

    Terima kasih.

  38. angel says:

    perdebatan di sarasehan sistem di UKSW ternyata terjadi juga anatara wakuil rakyat yang dudk di DPR VS Group Band SLANK. karena dari segi liriknya yang dikritik. UUD (ujung2nya duit). sama halnya dengan kita UKSW segala hal, semua mata, semua pikiran dihabiskan untuk membahas sistem. habisin waktu. sudah ada keputusan malah di bahas.

  39. Neil Rupidara says:

    @Dimas dll… lalu apa sih kepentingannya mahasiswa? pernyataanmu dan pertanyaan ini bisa dijawab sangat simple, tetapi bisa jadi tidak ketemu jawaban yang pas… sama dengan bertanya, hai manusia untuk apa hidupmu? yang pasti, anda punya suara dan akan menjawab itu.. tapi, mungkin orang lain akan menyanggah, apakah (cuma) itu?, misalnya.. bagi saya, mahasiswa pantas mendapat dan menuntut high quality education dan dalam wacana yang holistik, maka itu akan berirama sama dengan tuntutan2/kepentingan2 aspek pendidikan tinggi yang lain yang dikomentari Opha.. Dengan begitu, ada tuntuan yang sangat besar bagi UKSW untuk membumikan pikiran pak Noto.

    @STR dan Wit: terima kasih STR, saya akan cari waktu yang pas untuk menulis. mudah2an bisa posisikan aspek filsafat pedagogisnya dan menarik implikasi ke pilihan2 operasional, termasuk masuk wilayah penggunaan ICT dan akhirnya mendelegitimasi pilihan kembali ke semester di UKSW (karena di situ salah satu pokok kampanye saya bagi perubahan kembali di UKSW). yang paling utama, mudah2an tulisan itu sendiri bisa diselesaikan, karena saya juga sementara dibombardir dengan tuntutan bacaan2 studi yang banyak.. harapannya kalau jadi dan naik di sini, ada yang mau mendebatnya secara konstruktif konseptual pula.. tidak dengan prinsip pokok’e tanggapan, walaupun saya tetap terbuka untuk apapun tanggapan..

  40. STR says:

    @ Neil: Roger, diterima! Saya akan sangat senang sekali jika Mas Sem membahas wilayah ICT dengan bernas. Saya pikir ini isu urgen buat kampus kita. Selamat bekerja! 😀

  41. Neil Rupidara says:

    @Wit: salah satu buku filsafat yang enak dibaca karena dikemas sebagai novel adalah Dunia Sofie, karya Jostein Gardner.. Lainnya yang saya suka baca adalah buku filsafat eksistensial-nya Soren Kierkegaard yang ditulis oleh seorang pengajar filsafat dari Jakarta, kalau tidak salah. Saya juga kagum dengan beberapa tulisan mahasiswa Teologi di seputar dunia filsafat, misalnya yang pernah diterbitkan di Jurnal Bina Darma. Jika teman2 teologia itu bisa dengan baik mengartikulasikan pikiran2 para filsuf yang sering njelimet dengan sangat baik, maka saya kira jawabannya: tercerahkan, bukan ‘au ah, gelaap.. agak sulit meminta respon mahasiswa FE, khawatir keterlibatannya di mk filsafat sekedar memenuhi tuntutan wajib.. tapi, who knows ya..

  42. kenthang says:

    saya kira sistem apapun yang akan berlakukan di UKSW akan menjadi sia2 atau tidak tergantung pelaku2 di dalamnya. Lihatlah faktanya :

    1.Seberapa banyak mahasiswa UKSW yang mau datang ke acara2 ilmiah yang di adakan di bandingkan dengan acara hiburan(dugem,dll…)

    2.Seberapa banyak dosen atau staff pengajar yang mau duduk diskusi dikafe kampus atau di manapun diluar aktivitas belajar-mengajar dibandingkan dengan dosen yang sok sibuk dengan proyek diluar atas nama “peningkatan” mutu pendidikan atau apaun namanya…

    3.seberapa banyak mahasiswa yang mau antri di posnet untuk sekedar browsing mencari data,tugas kuliah dll, dibandingkan dengan yang menggunakan fasilitas posnet untuk sekedar chatting,games….

    4…………..
    5…………..
    6……………

    barangkali fakta ini terlalu sepele dan terkesan naif….
    apa korelasinya dengan sistem yang di berlakukan di uksw…
    mari kita perdebatkan…..

  43. w mahendradatta says:

    John Titaley mendapat ilham dari salah satu universitas di Australia, dan menerapkan sistem trimester. Sayang sekali, beliau tidak menyebutkan universitas yang mana. Sepengetahuan saya, uni of sydney, uni of melbourne, UTS (NSW), UNSW, RMIT (Victoria) tidak menerapkan sistem trimester. Bond University (Goldcoast, Queensland) menerapkan sistem trimester ini, dan kuliah dimulai pada bulan Januari, Mei dan September. Bond University adalah universitas swasta, seperti UKSW. Di dunia kapitalis, orang menanam modal di dunia pendidikan untuk mencari keuntungan material. Sepengetahuan saya, universitas ini masih muda, didirikan di tahun 1980-an, didukung oleh Bond Corporations (bossnya bernama Alan Bond yang sudah bangkrut, karena krisis moneter tahun 1988), dan sampai saat ini bukan merupakan universitas yang disegani di Australia. Sistem kuliah trimester ini cocok untuk mereka – mungkin sekali – karena “packaging” matakuliah, dan peng-optimal-an kerja dosen.

  44. Dimas S. Aditya says:

    @Opha : Memang, seorang mahasiswa itu, tidak hanya berkuliah saja. Memang, ada yang dinamakan sebagai Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tapi, bagaimana seorang mahasiswa akan berpikir mengenai Tri Dharma Perguruan Tinggi, kalau untuk berpikir tentang kuliah saja, mereka sudah kebingungan. Dengan adanya beberapa sistem perkuliahan, maka mereka akan kebingungan sendiri, tho. Kalau sudah demikian, apa mereka sempat untuk melakukan apa yang tercantum di dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi itu? Yg ada, mereka malah semakin bersikap masa bodoh saja.
    @Neil Rupidara : Menurut saya, kepentingan mahasiswa itu adalah “belajar”. Belajar itu, tidak hanya dari perkuliahan saja. Dari ikut kegiatan LK, magang, bahkan, dari ngobrol2 di kafe juga termasuk belajar. Bukan begitu, Bung Neil? Jadi, tolong agar kampus menyediakan suasana yang nyaman demi kepentingan mahasiswa itu.

  45. Neil Rupidara says:

    @Dimas: Kamu sudah nyatakan itu, perjuangkan.. tentu perlu diklarifikasi lebih jauh suasana yang nyaman itu yang bagaimana. Tapi prinsipnya, UKSW pantas untuk menyediakan apa yang baik bagi pembelajaran mahasiswa, sekalipun tidak dibuat dalam 1 malam.

    Sama, transformasi sikap2 ber-kampus kita (kultur akademik), bukan cuma mahasiswa, memerlukan waktu dan pendekatan yang tepat. Karena itu, coba kembali lagi ke pemikiran Notohamidjojo, Rektor 1 UKSW, tentang bagaimana baiknya UKSW sebagai sebuah universitas. Kemudian jelajahi dunia kampus di manapun untuk membuka wawasan dan perspektif lalu modelkan suasana kampus yang ideal. Lalu, mari kita berjuang untuk mencapai konsep ber-universitas yang baik itu.

    @Pak Wasi (w.mahendradatta): Kurang tepat jika model trimester diadopsi dari Bond. Model itu saya kira dipergumulkan dari banyak sumber. Saya kira J. Titaley lebih diinspirasikan oleh pengalamannya selama berstudi di US. Kenapa Bond yang kemudian distudi-bandingkan di awal 2001? Dugaan saya, karena dia universitas dengan pola trimester yg terdekat yang bisa dijangkau oleh rombongan UKSW untuk belajar apa dan bagaimana trimester.

    Tulisan internal saya untuk FE argues bahwa di Australia, Amerika, Eropa, semester banyak dipilih karena beban studi dan beban mengajar yang masih manageable (tidak beda signifikan dengan trimester, 3 banding 4 mata kuliah/term, di samping faktor2 lain yang dipertimbangkan), tetapi tidak bagi Indonesia! Dengan semester, mahasiswa Indonesia ambil jumlah mata kuliah dua kali lebih banyak dibanding mahasiswa di mana pun!!! Luar biasa!!!

    @kenthang: Karena itu, wajar saja fenomena yang diklaim mas KENTHANG jadi seperti itu. Kalau mereka rajin belajar dengan beban yang luar biasa itu, saya kira banyak yang barangkali ada di rumah sakit atau bisa jadi di RSJ (di samping kultur akademik kita yang memang rapuh).

  46. Dimas S. Aditya says:

    @Neil Rupidara : Sangat senang apabila ada yang mengajak saya untuk memperjuangkan bagaimana kampus yang ideal itu. Mungkin, karena masalah jarak, saya hanya bisa memperjuangkan itu lewat tulisan saja. Pada saat saya menulis komentar inipun, saya sedang memperjuangkan itu. Saya ikut memikirkan, bagaimana kampus yang ideal itu. Saya bukan pegawai UKSW (walaupun dulu pernah bekerja di fakultas saya), saya hanya alumni yang prihatin dengan suasanan kampus saja. Mari, kita berdiskusi bagaimana baiknya kampus kita ini. Tidak ada maksud apa2, kalau saya mengajak ini. Tho, apa sich yang saya incar? Kedudukan? Jabatan? Uang? Semuanya itu tidak saya incar. Yg saya cari adalah agar mutu UKSW (terutama mahasiswanya) semakin baik. Itu saja, kok. Jadi, bagaimana Bung Neil? Apakah anda juga siap memperjuangkan UKSW menjadi kampus yang ideal? Mungkin kita bisa saling “berbicara” lewat e-mail dulu. E-maill saya di : dimas_seti_aditya@yahoo.co.id
    Viva Academica
    Viva UKSW!!!
    Semoga tetap menjadi Garba Ilmiah Kita!!!

  47. Neil Rupidara says:

    @Dimas: Kalau membaca tanggapan2 saya sejak awal, maka tersirat maupun tersurat, pertanyaan Anda sudah saya jawab sebagian. Namun, tentu saja tidak/belum final dikerjakan. Kadang capek juga ya terus ‘menggonggong’ tetapi ‘kafilahnya tetap berlalu’. Panggilan atau tantangan itu saya kira bukan hanya untuk saya yang kebetulan menjadi bagian langsung dari UKSW.. konsep komunitas akademik yang dipahami UKSW (paling tidak kami gunakan dalam wacana saat ber-LK di masa kami) adalah kemitraan Dosen-Mahasiswa-Alumni. Jadi, Anda dari para alumni lain juga merupakan bagian dalam pembentukan UKSW sebagai sebuah never ending process. Karena itu, ada wakil alumni dalam kepengurusan Pembina Yayasan PTKSW untuk menyalurkan concerns para alumni. Namun, terima kasih sudah ikut urun rembug secara personal di sini, saya kira masih mahasiswa, makanya saya tantang perjuangannya he he he.. Email saya: nsrupidara@yahoo.com.

  48. Opha says:

    @Dimas : Saya juga pernah mendengar keluhan mahasiswa, “Bagaimana saya bisa berpikir kuliah, kalau saya masih harus berpikir uang kebutuhan untuk makan sehari-hari saya?”. Trus ada juga yang mengeluh, “Bagaimana saya bisa berpikir untuk kebutuhan sehari-hari, kalau setiap hari saya harus berhadapan dengan tugas kuliah yang banyak dan harus belajar?”. Seolah-olah hidup ini berada pada keadaan yang ruang gerak yang sempit dan kita hanya bisa memainkan satu peran saja. Apa iya kita berada pada kehidupan yang seperti itu dramatisnya?
    saya kuatir, mahasiswa yang memiliki pola-pola berpikir seperti ini memungkinkan dia hanya menjadi objek saja dalam wahana pendidikan tingkat tinggi. Ke-apatis-an mahasiswa terhadap lingkungannya, dibungkus dengan “dalih/alasan” suasana kampus yang membinungkan. Waduh…runyam nih, kita kehilangan satu lagi “komunitas intektual” di masyarakat.

  49. obed pemberontak says:

    weh…. sampe tuir ni topik ga kelar juga…
    fuih sayang sekali berbagai evaluasi ataupun penelitian tentang trimester hampir tidak pernah di jajakan di publik…. yah inilah jadi nya selalu saja perang konsep… eyel eyelan…puih… kita coba dulu liat empiris trimester… terutama dalam peningkatan kualitas output. karena ni yang penting, kalo hanya fokus pada efisiensi proses sama aja boong…. kita lihat setelah di uji cobakan, trimester selama 4 tahun lebih apa sudah terbukti mendongkrak kualitas lulusan? kalo ya lanjutkan saja, kalau tidak hentikan atau perbaiki….

  50. @ says:

    wah…wah…wah..
    kalo omongin 3mester, semester,spp 2x..3x, jalur studi yg rumit and titaley..
    mmm…jadi inget beberapa taun lalu..kok ya hebatnya masalah ini ga kelar2 ya…huih!
    Hebring bgt!
    Kok ya ga capek ya dr LK sampe Rektorat ngeributin masalah ini mulu.
    Ya wajar sie kalo UKSW dah semakin memudar huahahahhahahahaha.

  51. @ says:

    oya satu lagi…
    kutip dari opha:
    “Jika Mahasiswa merasa kepentingannya terganggu, maka ada baiknya mahasiswa secara “elegan” mempertanyakan hal itu? Mainkan peran mahasiswa di institusi ini. Jangan mau hanya jadi “objek” saja. Fungsikan LK menjadi wadah yang representatif bagi eksistensi mahasiswa.”

    means:
    ELEGAN: Demo yg Elegan sampai tuntas! 🙂
    Objek: cuma bayar doank tp ga bisa ngapa2in ??? jadi GOBLOK hue..he..he..he

    salam,
    anto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *