Ketika tahun akademik 2007/2008 di UKSW dimulai, ada dua orang yang berbeda pendapat didamaikan. Mulanya, orang pertama ingin berjalan di jalan A. Sedangkan orang kedua lebih memilih jalan B. Akhirnya ditempuh jalan perdamaian yang cukup lebar untuk mengatasi jarak antara jalan A dan B. Sebut saja jalan itu dengan nama “AB.” Dengan jalan AB, orang pertama boleh tetap menempuh jalan A. Begitu pula dengan orang kedua, tidak dilarang untuk menjalani jalan B. Tidak masalah, karena masih satu tujuan.
Tapi pada 31 Maret 2008, kedua orang tersebut tiba-tiba menjadi bodoh. Mereka kembali berdebat, jalan mana yang paling baik dan benar. Mereka menafikan begitu saja kesepakatan dan perdamaian yang mereka capai di awal tadi. Mengherankan bukan?
Sarasehan bertajuk “Ada Apa dengan Sistem Perkuliahan UKSW?” yang diselenggarakan BPMU (Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas) tiga hari lalu terjadi bersamaan dengan kebodohan dua orang tersebut. Atau mungkin, akan lebih tepat jika dikatakan bahwa sarasehan itu memicu kebodohan mereka.
Sarasehan tersebut mengangkat pembahasan tentang sistem kalender akademik yang berlaku di UKSW. Narasumber yang dihadirkan adalah Daniel Kameo, Harijono, dan John Titaley. Kameo dan Harijono diminta berbicara dengan kapasitas sebagai wakil rektor. Sedangkan Titaley sebagai mantan Rektor UKSW, sekaligus sebagai pencetus trimester.
Pada sesi pertama, Kameo, yang WR I (urusan akademik) itu, berbicara panjang lebar tentang penyelenggaraan sistem kalender akademik UKSW yang mampu “mengakomodir” dua sistem sekaligus, yakni sistem yang dalam setahun menggunakan tiga periode untuk kegiatan kurikuler (lazim disebut “trimester”) dan yang dalam setahun hanya menggunakan dua periode untuk kegiatan kurikuler (lazim disebut “semester”).
Sistem yang digunakan UKSW sejak 2007/2008 memang mampu ber-“Bhinneka Tunggal Ika.” Namun sebelum tahun akademik tersebut, trimester memang yang jadi sistem tunggal. Sebagai referensi tambahan, baca juga berita berjudul “Semester atau Trimester: Kado 51 Tahun UKSW” yang diturunkan Scientiarum, 10 Desember 2007.
Harijono diberikan kesempatan berbicara pada sesi kedua. Dalam kapasitas sebagai WR II (urusan keuangan), ia menjelaskan bagaimana dampak perubahan sistem kalender akademik 2007/2008 terhadap sistem pembayaran kewajiban keuangan mahasiswa. Sebagai catatan, perubahan hanya terjadi untuk fakultas yang beralih dari sistem tiga periode kurikuler menuju dua periode kurikuler.
Jika sebelumnya (pada sistem trimester/tiga periode kurikuler) besar SPP setahun adalah tiga kali Rp 200 ribu (tiap periode sebesar Rp 200 ribu), maka kini besar SPP per periode adalah tiga kali Rp 200 ribu lalu dibagi dua, sehingga menjadi Rp 300 ribu. Memang jadi lebih mahal, tapi totalnya dalam setahun tetap sama. Hal ini berlaku pula untuk uang layanan mahasiswa. Sedangkan uang SKS tetap dibayar sesuai dengan jumlah SKS yang diambil.
Sampai pada titik ini, sarasehan bersifat memberi pemahaman. Mahasiswa jadi tahu sistem apa yang mereka hadapi dan bagaimana cara menghadapinya. Dualisme (kalau masih mau disebut demikian) sistem tidak dipermasalahkan. Tapi sesi ketiga yang argumentatif dari John Titaley malah membuat provokasi.
Dengan kapasitasnya sebagai mantan rektor yang mencetuskan trimester di UKSW, Titaley kemudian membeberkan apa yang disebutnya sebagai “keunggulan trimester dibanding semester.” Trimester memang diprakarsai dan mulai diterapkan ketika Titaley menjabat sebagai Rektor UKSW kelima, tahun 2001-2005.
Jumlah syarat SKS minimal yang harus diselesaikan mahasiswa untuk mencapai S1 adalah 144. Ketentuan Dikti (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi) menyatakan bahwa dalam satu tahun, mahasiswa hanya diperbolehkan mengambil jumlah SKS maksimum sebanyak 48. Dengan ketentuan ini, seorang mahasiswa yang cerdas dapat mencapai gelar sarjananya dalam waktu paling cepat 3 tahun. Sedangkan yang tingkat kecerdasannya “normal” dapat mencapainya dalam waktu 4 tahun (setahun mengambil 36 SKS).
Apabila beban setahun mahasiswa “normal” ini diselenggarakan dengan dua periode dalam setahun (semester), maka beban untuk masing-masing periode adalah 18 SKS. Sedangkan 1 SKS bernilai 3 jam (1 jam tatap muka, 1 jam terstruktur, dan 1 jam mandiri), berarti 18 SKS setara dengan 54 jam dalam seminggu. Jika jumlah ini dibagi 5 (jumlah hari efektif perkuliahan), mahasiswa harus belajar 10,8 jam dalam sehari.
Berbeda dengan semester, trimester membagi beban 36 SKS menjadi tiga. Tiap periode mendapat jatah 12 SKS. Dengan 12 SKS, mahasiswa akan menghabiskan 36 jam waktu belajar seminggu, dan 7,2 jam sehari (setelah dibagi 5 hari efektif). Titaley berpendapat, dengan beban belajar yang lebih sedikit, mahasiswa dapat lebih mudah menguasai materi kuliah. Mahasiswa juga jadi punya lebih banyak waktu untuk mengembangkan keterampilan lain (soft skill).
“Di atas kertas, trimester lebih baik daripada semester,” klaim Titaley, “Dan saya belum pernah diyakinkan dengan alasan-alasan akademis maupun pedagogis untuk kembali ke sistem semester.”
Selain alasan pedagogis, Titaley juga merujuk kepada Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 pasal 8 ayat 2 yang menetapkan jumlah minimal periode dalam satu tahun akademik adalah 2, dengan durasi minimal 16 minggu. Ini berarti sistem trimester tidak menyalahi aturan legal-formal.
Sudah filosofisnya bagus, legal pula. Kurang apa lagi?
Harijono rupanya gerah dengan rasionalitas Titaley. Kendati demikian, ia nampak tak mampu mematahkan argumen Titaley, sehingga ia bermaksud melemparkan wacana tandingan sebelum ia keluar dari forum dengan alasan “ada rapat.”
“Kalau memang trimester lebih baik dari semester, kenapa (satu tahun akademik) tidak sekalian dibagi 4, 5, 6, dan seterusnya?” tanya Harijono. Suaranya lantang. Forum sarasehan pun dipenuhi tepuk tangan.
Harijono sedikit sial. Titaley keburu menjawab pertanyaan itu sebelum ia sempat bangkit dari kursi pembicara.
“Permasalahannya bukan pada pembagian menjadi 4, 5, 6, dan seterusnya,” jawab Titaley, “Tapi logikanya ada pada jumlah 12 SKS.” Titaley menganggap jumlah ini adalah ideal untuk beban kuliah mahasiswa “normal.”
***
Pihak pertama yang layak disebut “sia-sia” adalah BPMU, karena telah meminta Titaley berbicara dalam kapasitas sebagai mantan rektor, untuk “mempertanggungjawabkan” (baca: menjelaskan ulang) gagasannya mengenai trimester. Menjelaskan ulang konsep trimester bisa diartikan “mengusik” sistem semester yang sedang dijalankan. Inilah kesia-siaan itu!
Keputusan untuk berganti sistem baru saja diambil beberapa bulan yang lalu (belum ada setahun). Sistem yang baru juga belum sepenuhnya diterapkan (WR I mengatakan bahwa tahun ini masih merupakan tahun transisi. Implementasi secara penuh baru akan dilakukan pada tahun akademik 2008/2009 — Red). Singkat kata, aliran manajemen belum sampai pada tahap evaluasi. Padahal, tanpa hasil evaluasi yang meyakinkan, bagaimana mungkin sebuah keputusan/kebijakan akan diubah/direvisi?
Hasil sarasehan itu pun jadi mentah, tidak memberikan efek apa-apa terhadap kebijakan yang tengah berjalan. Sarasehan ini memang adalah “the right man” (sebagai wadah komunikasi dan aspirasi), tapi ia berada pada tempat dan waktu yang salah (wrong place and wrong time).
Jika BPMU benar-benar ingin memberikan kontribusi yang riil untuk penyusunan kebijakan universitas yang lebih baik di masa depan, mestinya BPMU menunggu waktu dan melihat proses, sambil mengumpulkan data untuk evaluasi. Dan selagi menunggu, bukankah masih ada masalah lain yang lebih relevan untuk dikaji (seperti nafas pembelajaran elektronik yang masih tersengal-sengal, akibat rendahnya penguasaan teknologi di UKSW)? Pelayanan internet mahasiswa di Posnet juga masih banyak masalah!
Namun, jika BPMU memang hanya ingin mencari sensasi dan apresiasi yang timbul dari hal-hal retorik, maka saya ingin mengucapkan selamat atas keberhasilannya!
Titaley, walau tampil “menawan” dengan segala rasionalitasnya, tetap saja dapat disebut “sia-sia,” karena telah memenuhi undangan “sia-sia” BPMU. Kenapa Titaley mau meladeni kesia-siaan macam itu? Jika seandainya waktu itu trimester memang terbukti lebih baik di atas kertas, lantas perubahan apa yang akan timbul?
Sebenarnya, trimester tidak lebih baik daripada semester, demikian pula sebaliknya, bahkan di atas kertas! Dengan beban yang lebih sedikit, bukankah pelaksanaan trimester dalam setahun hanya menyebarkan selang-seling dalam komposisi waktu belajar dan istirahat? Pada konsep trimester, waktu belajar mahasiswa akan “bercampur” dengan waktu istirahat secara lebih sering.
Sedangkan pada semester, dengan beban yang lebih tinggi, selang-seling tersebut tidak ditemui, karena blok-blok waktunya yang lebih ketat. Mahasiswa harus berkonsentrasi penuh pada periode belajar yang panjang, lantas diberi kesempatan istirahat pula dengan waktu libur yang tidak kalah panjang. Itu sebabnya libur antarperiode pada semester lebih panjang daripada trimester.
Perbedaan antara semester dan trimester ini tak ubahnya dengan dua orang yang mengonsumsi sepiring nasi goreng dan segelas es jeruk, masing-masing dengan cara berbeda. Yang satu memilih untuk meneguk minumannya setiap kali selesai dengan sesuap nasi. Sedangkan yang satu lagi memilih menghabiskan makanannya lebih dulu, sebelum akhirnya menandaskan minumannya.
Begitu pula dengan perkuliahan. Ada mahasiswa yang lebih bisa memahami materi dengan durasi waktu belajar yang panjang dan penuh, tapi menuntut satu waktu istirahat khusus yang panjang dan penuh pula. Ada juga mahasiswa yang lebih bisa menyerap materi dengan durasi waktu belajar yang pendek-pendek dengan waktu istirahat yang pendek-pendek, tapi sering. Ini cuma masalah selera saja, bukan sesuatu yang prinsipil untuk dipermasalahkan!
Setiap sistem pasti datang dengan membawa kelebihan dan kekurangan. Yang terpenting bukan sistem mana yang paling benar, tapi bagaimana cara yang tepat untuk mengelola kelebihan dan kekurangan masing-masing sistem.
Selama ini, praktek trimester masih belum sesuai dengan idealismenya. Batas maksimum SKS yang 16 per periode itu masih sering dilanggar dengan fakta bahwa ada mahasiswa yang bisa mengambil SKS hingga lebih dari 20! Dengan kenyataan ini, konsep dan idealisme trimester tidak bisa begitu saja dicap jelek, karena masalah ada pada implementasinya.
Begitu pula dengan semester. Ia tidak bisa dengan seenaknya dianggap lebih buruk dari trimester, karena ada fakta historis yang menunjukkan bahwa Satya Wacana pernah mengalami masa kejayaan dengan sistem ini.
Harijono ternyata juga tidak lebih pintar dari BPMU dan Titaley. Ia juga sama “sia-sia”-nya, karena masih mau terpancing menanggapi argumen Titaley yang tidak “bergigi.” Jika Titaley berbicara sesukanya waktu itu, apa semester akan langsung berganti dengan trimester lagi? Harijono mestinya diam saja. Itu sudah cukup. Tapi sikap Harijono ketika sarasehan reaktif sekali.
Pihak lain yang dapat pula dikatakan “sia-sia” (selain BPMU, Titaley, dan Harijono), karena ikut andil dalam sarasehan tersebut, adalah Kris Timotius (Rektor), Daniel Kameo (WR I), dan Rini Darmastuti (Kaprogdi Public Relation Program Profesional). Timotius adalah orang yang menyampaikan sambutan, sekaligus nada dasar. Kameo adalah salah satu pembicara. Sedangkan Darmastuti adalah moderator. Mereka semua membuang waktu untuk kegiatan sia-sia macam sarasehan ini (sia-sia karena tidak memberi kontribusi nyata, tapi hanya bersifat retorik). Wong isinya ya cuma retorika-retorika aja!
Sedangkan saya sendiri? Saya memang membuang waktu dengan mengomentari sarasehan yang “sia-sia” tersebut. Ini saya lakukan agar Satya Wacana bisa belajar dari kesia-siaan yang telah dibuatnya. Saya tidak ingin Satya Wacana terus melakukan kesia-siaan seperti ini.
***
Vonis bahwa sivitas akademika Satya Wacana tidak sehati dan kompak, hanya karena ada dua sistem dalam satu kampus, adalah vonis yang mentah. Setiap disiplin ilmu punya pendekatannya masing-masing. Tidak bisa dipaksakan untuk sama satu dengan yang lain. Akan lebih baik jika sistem kalender akademik Satya Wacana dapat mengakomodir perbedaan-perbedaan tersebut.
Fakultas yang merasa lebih cocok dengan tiga periode (trimester), silakan berjalan dengan sistemnya. Begitu pula dengan yang hanya dua periode. Selama perbedaan ini masih pada tujuan yang sama (yakni demi kepentingan ilmu pengetahuan), seharusnya tidak perlu ada masalah. Yang harus diingat adalah setiap fakultas wajib bertanggungjawab atas pilihannya masing-masing.
SATRIA A. NONOPUTRA
Wartawan Scientiarum
CATATAN
Opini ini baru mengalami penyuntingan pada 4 April 2008 (sehari setelah publikasi). Sebelumnya, opini ini tampil dengan melanggar prosedur publikasi. Dokumen asli masih dapat dibaca di sini.
Aqirana A. Tarupay
Editor
Keren SAT……Tujuan sarasehan kemarin bukan sebagai ajang adu kekuatan antara 3 & 2. ide sarasehan itu muncul ketika saya dan teman2 fakultas lain berada di bandungan ( mungkin pak Umbu inget ) sedang leadership Tranning. Saya hanya memiliki pola pikir simple, jadi saya tuangkan kedalam ide acara..
“beberapa” mahasiswa contoh aja FE ingin berkuliah menggunakan sistem 3 namun FE sendiri menggunakan sistem 2…
“beberapa” mahasiswa contoh aja FB ingin berkuliah menggunakan sistem 2 namun FE sendiri menggunakan sistem 3…
So…Mereka bingung…jadi terciptalah ide sarasehan tersebut…..THX bgt to RISA..GBU Pren….
Rekan-rekan pernah perhatikan sistem siasat yang salah? Trimester bisa mengambil sks max adalah 18sks namun bisa sampai 20 !!! itu dosen kah, mahasiswa kah, fakultas kah yang salah….itu sistem yang salah…
IP 2.0 max 12 sks ( aturan mainnya ) tapi kok bisa ngambil sampai 16 sks……itu sistem yang salah….
sabaiknya liat aplikasi sisasatnya……masa menggunakan rumus IF ELSE aja ga bisa…..
Buat Dosen2 Fakultas manapun, janganlah terlalu berbaik hati kalo ada mahasiswa meminta tambahan beban sks….klo dosen memberikan tambahan sks kepada mahasiswa ujung-ujungnya sistem perkuliahan ini yang menjadi kambing hitam…..kasihan lah……
@BPMU : Peka-lah terhadap permasalah2an dalam dan luar kampus…..masa harus menunggu perintah dari mahasiswa…kalian perwakilan mahasiswa loh….UNGKAP AJA SEMUA…cotoh, posnet yang slow-nya bukan main… dulu kita bayar 120rb/thn dengan kecepatan WOOOW, sekarang 120rb/thn dengan kecepatan Slow….apa ga rugi tuh mahasiswa?
THX to Satria n’ Kiko…….Viva UKSW
udah bubarin aja ni kampus..kalo mo maju pake model “arena belajar dan bermain bebas” aja..udah di tulis tuch di site ini juga..ribet amat..amat aja ga ribet..
@obed: analisis saya dari data yang tersedia, pada level universitas, terjadi percepatan lulusan dan kecenderungan perbaikan IP antar tahun, walau ada slip di tahun tertentu (2006). wisuda yang lalu (2 semester lalu?), laporan registrar juga mengatakan makin banyak jumlah mereka yang lulus cepat dengan IPK tinggi. ini data empiris. memang, statistik beginian tidak boleh dipercaya begitu saja, perlu analisis lebih jauh. pada tataran mikro, pembelajaran di sejumlah (banyak?) mata kuliah menjadi lebih intensif dan interaktif. dalam kelas2 itu, diskusi2 berkembang cukup baik. memang belum semua perkuliahan kita berjalan seperti itu. tapi, ada trend pergerakan ke arah seperti itu.
jika demikian, dari sudut mikro proses belajar maupun hasil makro/agregatnya, ternyata trimester memberi efek positif. tapi, sayang sekali data seperti diabaikan dalam pengambilan keputusan.
supaya jujur, di tingkat program studi manajemen dan di FE, hasilnya ternyata tidak sejalan dengan trend universitas. baik kecepatan lulusan dan IPK cenderung stagnan. namun, penjelasan atas hal ini perlu dicari, mengapa di FE demikian? saya sendiri punya analisis, tetapi biarlah itu juga dilakukan yang lain.
satu hal yang belum selesai dari trimester adalah penyesuaian sistemiknya. ya itu seperti juga diklaim ody. hal lain yang belum tuntas adalah review kurikulum untuk fit in ke dalam model ini. juga, pengembangan2 pendekatan pedagogis yang lebih cocok. jadi, kalau dikatan hebat benar ngomong trimester tidak selesai2 memang faktanya belum selesai. karena hasil yang belum2 memuaskan bukan lalu mendorong kita untuk “bubar jalan”, tapi kritis menganalisis dan mengoreksi sistem ini.
Wah2.. Diskusi yang panjang dan sangat informatif..
Baru dua kali ini buka scientiarum.com , (kalo ngobrol sama awak kapal SC mah dah bosen…)
ternyata KEREN yah..
ikut ngobrol ya mas STR.. (=Strength ???)
@ant
jangan minder walau cuma S1.. karena antara S1 dan professor yang beda cuma tulisannya.. isi otak tidak tergantung gelarmu.. profesor juga manusia yang mampu menjadi “goblok”
@Neil
menurut saya pendekatan yang Kak Neil coba lakukan sudah cukup tepat, karena bagaimanapun mahasiswa pada umumnya sudah cukup dewasa (secara umur,>18tahun). Sehingga penerapan proses andragogi dalam kampus adalah suatu hal yang layak. Biarkan saja mahasiswa memilih yang terbaik bagi mereka. karena siapa yang paling tahu kebutuhan mahasiswa kalau bukan mahasiswa itu sendiri..?? Ya Thoo?
@Adit Jadul
wele2 calon S2….. ampun mas………
@STR
mbenx mana? kok tumben gak nimbrung? huhhuhhuhuu
sebelumnya ikutan nimbrung nih
trisemester dan semester…………..?
sebelumnya saya dari sebuah PTN di kota X
kalo diitung-itung semester dan trisemester sama aja tapi tri semester malah justru menguntungkan mahasiswa agar cepat lulus itu kalo yang memang pinter. Selain itu mahasiswa kalo nilai ujian jelek tidak perlu menunggu setahun untuk mengulang. Tidak seperti di PTN saya yang memberatkan adalah otoritas tiap dosen yang mengampu mata kuliah mempunyai kewenangan memberi nilai A-E walaupun pinter sekalipun jangan kaget dapat nilai E apalagi menunggu setahun dan lebih ngeri menunggu dosen tersebut pensiun ato ga mengampu itu lagi. Tapi bagaimanapun juga trisemester diujikan terhadap mahasiswa yang berkompeten malah justru menjadi lebih baik.Tapi ada kelemahannya ya…. merupakan tugas terberat bagi suatu administrasi kampus, ya hari -hari sibuk, selain itu pegawai admin ya harus kerja keras dunk……
duh….duh…. binun juga yaw… Pilih dwimester/trimester…….? Kalo dilihat dari segi administrasi, sebenarnya sama2 gedhe ya… Tapi, namanya juga pendidikan… Uang sich bisa dicari kapan aja.Tapi klo ilmu…? Terlanjur pikun kale…
Dengan otak pas-pasan, kayaknya saya lebih milih dwimester….. Soalnya kalo trimester, terlalu cepet…. Baru MAU mudeng materi yang diajarin, e…………….. kuliahnya uda kelar. Capede….. Ga dapet apa2 dech jadinya… ;)
mbak chacha, masa’ sih kalah sama anak2 universitas wageningen di belanda yang belajar ilmu2 eksakta tetapi 5 term dalam 1 tahun? yang bikin gak mudeng itu apanya? kalo cuma berharap bisa menghafal apa yang diajarkan dosen, memory otak manusia itu terbatas daya ingatnya. konsentrasi paling optimal bertahan cuma 45 menit, habis itu jatuh.. daya ingat kita juga sama saja, durasinya terbatas, kecuali orang yang dikarunia kemampuan lebih dalam hal itu.. kalau kuliah2 kita masih banyak subjects dalam satu term, ya susah. mau semester pun apa bedanya? yang membuat trimester mestinya lebih baik adalah berkurangnya subyek. pengurangan subjects akan makin signikan jika fakultas merombak kurikulumnya untuk merampingkan jumlah mata kuliah. akan lebih signifikan lagi kalau semua konsisten dalam satu term paling maks (IPK 4) cuma 16 sks. lalu, jika pola belajar mengajar dibuat agar mbak lebih banyak membaca dan mendiskusikan hasil belajar atau menulis sesuatu dan memresentasikan dan diuji pemahamannya oleh teman2 lain, maka itu akan lebih membekas. banyak metode untuk membantu membangun pemahaman, tapi bukan menghafal. yang dilatih adalah cara berpikir dan bukannya daya ingat/hafal suatu atas suatu bahan. pendidikan kita harus berubah, bukan cuma sistem besarnya (dari semester ke trimester). jika begitu, tadi, mau 5 term dalam 1 tahun pun, sanggup!!!
wah saya setuju sama kak neill.. memang salah satu cara memperbaiki trimester adalah dengan melakukan seperti yang kak neill tulis..
tapi.. (selalu akan ada tapi-haha) kita juga jangan melupakan kualitas pendidikan Indonesia secara keseluruhan (SD s/d SMA or SMK …).. dimana memang kebanyakan anak didik di jenjang dasar sampai atas di-”cekok”-i dengan metode hapal dan dikte.,,
memang paradigma hapalan dan dikte harus diubah ketika seseorang memasuki jenjang perguruan tinggi, tetapi metode2 hapal dan dikte telah melekat di dalam pola pikir kebanyakan manusia Indonesia lulusan SD-SMA/K saat ini (ndak tau kalau dulu kayak gimana), sehingga akan cukup sulit juga untuk merubahnya.
[...] opini berjudul “31 Maret: Hari Kegoblokan UKSW” (kini berganti judul menjadi “31 Maret: Hari Kesia-siaan UKSW” setelah disunting ulang). Opini tersebut saya tulis sendiri, sunting sendiri, lalu posting [...]
@andi: Itulah warisan dari masa lalu. Padahal, riset pedagogis sudah cukup lama menyimpulkan bahwa pembelajaran yang efektif tidak bisa model mencekoki bahan lagi. Seperti pendapat STR di diskusi forum sebelah (Arah pendidikan….), pembelajaran harus dimulai justru dari si mahasiswa (ada minat, ada tindakan). Bahasa kerennya ya student-centered. Dalam konteks itu, dosen berperan memfasilitasi, mendorong, “menjadi cermin” atau partner. Tapi, memang kita di Indonesia lambat sekali tune in dengan perkembangan itu. Bukan apa2 karena pendidik kita alergi atau jarang ngutak-ngatik aspek2 filosofis, hampir tidak pernah evaluasi secara kritis praktik PBMnya sendiri, misalnya bertanya kenapa setelah saya ceramahi dengan berapi-api dan memberi bahan paling mutakhir pun kalau saya tes, mahasiswa tetap tidak mudeng2 ya? Ini contoh, jangan diambil hati.
Nah, kawan2 kita di luar sana itu yang rajin utak-atik atas apa yang dilakukannya sendiri lalu menemukan sebab2 dan jawaban2 atas masalah kebuntuan pedagogi. Karena itu, di antaranya, mereka menyimpulkan, belajar akan jauh efektif ketika mahasiswa AKTIF mencari dan mengeluarkan (komunikasikan/share) pengetahuannya, baru distimulasi (oleh dosen) agar diisi lagi oleh yang bersangkutan sendiri. Sejalan dengan itu, ada studi lain yang menyimpulkan bahwa, belajar yang efektif adalah dengan cara mengajar (tentu kalau mau bertanggung jawab, karena di kelas2 saya ada juga pasukan berani mati: maju presentasi ke depan tanpa persiapan cukup).
Semoga dari situ semua belajar memerbaiki diri untuk sesuatu yang lebih, bagi diri kita, masa depan kita, dan hasil yang lebih baik yang bisa dirasakan siapa saja.
[...] “Hari Kesia-siaan UKSW” sengaja ditulis oleh Satria Anandita untuk tulisannya (sebelum dikritik, Satria pernah [...]
waduh? kesia2 an mengundang Titaley ? untuk menjelaskan trimester? how come? yang akan diganti ialah trimester menjadi semester. mustinya dengan sarasehan tersebut, opini dari penggagas mustinya di perhatikan dan dijadikan perbandingan. Kenapa sia-sia?
Tahun ini merupakan tahun transisi? karena belum ada evaluasi!
mahasiswa diperhatikankah kalau menjadi alat evaluasi???
okeylah kalau memang menghadapi perubahan,pasti ada pro kontra..
Tapi ini adalah sebuah Institusi pendidikan. bukan pabrik tempe!
obyek dari institusi pendidikan ini itu mahasiswa, yang diharuskan melewati sistem baru ini.
mahasiswa tidak bisa memilih!
contoh simplenya aja ya di trimester.
Yg saya alami tagihan awal 8 sks plus SPP
waktu trimester akhir2 yang saya ambil setiap trimester cuma sedikit karena kehabisan kelas dan alasan lain. Misal saya hanya tinggal mengambil 4 sks dan sisa 4 sks, Sks bisa ditransfer untuk bayar pelunasan atau semester depan.
Sekarang?
Wuow….! harus ngambil 12 SKS langsung plus SPP??(yg kalo di fak saya terhitung 1,2 juta lebih) padahal mata kuliah tinggal 1 karena mata kuliah hanya dibuka setahun 3 kali.. bukan karena ngulang tapi karena memang bertabrakan dengan mata kuliah yg lain (mahasiswa harus bisa memprioritaskan kan?)
Dan kemaren ada semester pengayaan yang kurang dari 3 bulan, yang pembayaran awal sama pelunasan jaraknya deket. Sudah harus membayar 12 SKS lagi??!
REsminya saya harus mengambil 5 sks aja, tapi harus membayar sisa 7 sks yang jumlahnya kurang 10rb lagi jadi 500 ribu?!!!
Ke kantong siapa sisa 7 sks tadi????
Sistem diubah, bisa nggak ngubah SDM nya juga????
untuk lebih berpikir kritis lagi?
mahasiswa bukan cuma sebagai konsumen di sini tapi juga sebagai produk.
Bagaimana Universitas bisa membentuk produk seperti itu tetapi memperlakukan konsumen sebagai kelinci percobaan. Di mana-mana kelinci percobaan juga dibayar bukan malah bayar profesornya.
waduh sistem baru nya kok kaya sistem baru bangun yah????????????
sejak kapan semester itu terhitung DUA SETENGAH BULAN?????
Saya bukan memprotes masalah tulisan kesia-siaan di atas. tapi masalah sistem baru bangun yang sama sekali tidak diperkuat apapun.
Masa awal perkuliahan 1 sept terus akhir perkulnya 19 Des???
dan batas penyerahan nilai terakhir itu 2 januari???? (enak bgt yah jadi dosen UKSW)
YA ampun tolong baca di kamus dong definisi semester, profesor2 sekalian!
bikin sistem mbok yang matang dan disesuaikan per fakultas supaya flow chart nya ga “kemrungsung”
Disesuaikan dengan jumlah SDM dan kemampuan SDM.
Perhatikan mahasiswa bukan hanya sebagai konsumen. tapi sebagai produk.
Mahasiswa mungkin belum punya otak. Karena itu tolong yg di atas menggunakan otak untuk membantu mahasiswanya.
Bung Nimbrung,
rasanya anda tidak baca tulisannya dengan baik, atau perlu pakai kacamata? masa trimester dibaca semester? memang, di tahun 2007 UKSW memerhalus penyebutan trimester menjadi 3 semester dalam satu tahun akademik. namun, ide dasarnya adalah trimester dan trimester beda maknanya dari semester.
silahkan ketik academic term di google dan click salah satu link yang disediakan dari hasil pencarianmu itu, yakni dari wikipedia. di sana anda akan diinformasikan bahwa saat ini ada berbagai pilihan pengelolaan satu tahun akademik menjadi 2 terms (semester), 3 terms (trimester), 4 terms (quarter system atau dimester). opsi sebetulnya lebih banyak dari itu.
zaman dulu sebelum semester dikenal, perkuliahan berlangsung dengan sistem tingkat yang berbasis 1 tahun penuh. baru tahun 60an semester diperkenalkan. dan, UKSW adalah pengguna sistem kredit semester pertama kali di Indonesia, di awal 1970an. di akhir 60an baru trimester diperkenalkan di barat untuk menjadi pengganti semester, namun tidak berhasil mengambil alih tempat semester.
pilihan lain adalah 5 term dalam satu tahun. ini barangkali menjawab sergahan pak Harijono, soal mengapa tidak dibagi menjadi 4, 5, 6.. kalau 4, di amerika juga sudah lazim. apa yang dikenal dengan quarter system di amerika ya membagi tahun akademik menjadi 4 term, 3 full term plus 1 summer school. 4 term dalam setahun juga menjadi pilihan pola sekolah2 dasar dan menengah di australia. jadi, 4 term, siapa takut? nah, yang 5 term, tentu mengagetkan. kok bisa? coba cek di websiet universitas wageningen di belanda. univ ini menyelenggarakan 5 term dalam setahun. ini juga menyanggah penulis artikel, mas Satria, yang mengatakan ada fakultas yang tidak cocok dengan trimester, atau lebih cocok semester. fakultas apa sih yang tidak cocok? yang saya dengar, teknik elektro dan pertanian. universitas teknik delft di belanda = fakultas teknik elektro kita dan mereka jalan dengan 4 term yang mereka istilahkan dimester. sedangkan universitas wageningen = fakultas pertanian (dan biologi) yang jalan dengan 5 term. lha kok bisa? catatan ini sudah saya kemukakan sebelumnya, tapi diulangi supaya yang belakangan gabung bisa mendapat informasi tersebut juga.
jika dilihat segala kemungkinan itu, dari 2 – 5 term dalam setahun, maka implikasinya lama minggu kuliah pun bervariasi. tapi, umumnya terentang dari 8 minggu hingga 15 minggu. saya kira akan lebih lazim dijumpai 10 minggu, atau maksimum 12 minggu. kita di Indonesia memang terbiasa dengan semester yang panjang2. kata Dikti, wajib minimum 16 minggu. pertanyaannya, apakah iya yang 16 minggu lebih efektif dari yang 10 – 12 minggu? sebuah penelitian menunjukkan bahwa dengan pengondisian tertentu, kadangkala kuliah intensif hasilnya lebih bagus dari kuliah dalam semester normal. pertanyaannya apa yang dimaksud dengan pengondisian itu?
bagi saya, paling tidak ada 2 isu penting, yakni 1) beban mata kuliah dalam satu term, 2) metode belajar mengajar. berapa banyak beban yang normal? jawabannya juga bervariasi, tergantung jumlah term dalam 1 tahun. namun, kalau rajin mencari, anda akan menemukan bahwa lazimnya dalam 1 term, mahasiswa di manapun hanya mengambil sekitar 3 – 5 mata kuliah. kalau yang semester rata-rata mengambil 4/term (jika ditambah 1 di summer school, maka total 9/tahun). sedikit univ/college yang menawarkan 5 mata kuliah. kalau yang trimester biasanya 3/term sehingga total 9/tahun. sekarang anda bandingkan dengan di Indonesia. berapa banyak yang anda ambil per term dan per tahun? bukankah itu angka yang fantastis?
saking fantastis-nya angka itu, maka bisa dimengerti jika proses dan metode belajar/mengajar (disingkat PBM) di Indonesia lebih suka menempatkan mahasiswa sebagai pendengar setia, sedikit tugas, dan evaluasi kebanyakan bertumpu pada tes tengah dan tes akhir. karena itu, anda (para mahasiswa) dan saya (para dosen) lalu merasa bahwa kita bisa handle banyak mata kuliah dalam satu term dan karena itu 2 semester cukup dan kita bisa punya waktu jeda/libur yang panjang antar semester sebelum ‘berperang’ lagi (jadi alangkah senangnya mengajar di sistem semester, sudah relatif santai, waktu jeda panjang, luar biasa enaknya).
tapi, sekarang coba anda buka buku peraturan akademik yang anda terima sejak menjadi mahasiswa baru. apakah benar perkuliahan anda sudah berjalan seperti tertulis dalam buku itu? jawabannya: sama sekali TIDAK. jadi, kita belum menjalankan PBM kita seperti yang seharusnya. bagaimana kalau menjalankan yang seharusnya? kalau anda mahasiswa pandai dan boleh ambil 24 sks dalam satu semester dan anda manfaatkan itu, itu membuka peluang bagi anda untuk ambil minimal 8 mata kuliah (kalau semua 3 sks di kebanyakan fakultas, atau kalau di fe bisa 6 mata kuliah kalau 4 sks semua tapi konsekuensinya ada 2 kali pertemuan @ 2 sks setiap minggu) hingga 12 mata kuliah (jika @2 sks semua). anda bisa bandingkan betapa super-nya anda dibandingkan mahasiswa lain di seluruh jagad raya ini? mereka 3-4 mata kuliah berbanding anda 8 – 12 mata kuliah. ruar biasa!!!
implikasi jam kuliah anda? 1 sks (kasarnya) 1 jam kuliah, 1 jam tugas, 1 jam belajar = total 3 jam SETIAP MINGGU. jadi kalau 24 sks (ambil yang maksimum) x 3 jam = 72 jam. kalau kuliah kita terhitung 5 hari dalam seminggu, maka dalam 1 hari kalau dibagi rata anda bisa 2 kali kuliah, plus ada 2 hari tertentu yang 3 mata kuliah (2 x 5 = 10 + 2 = 12). bayangkan, jika setiap mata kuliah memberi tugas dan meminta anda baca buku/bacaan pendamping sebelum masuk kelas. setiap hari anda harus persiapkan diri untuk kerjakan tugas dan baca untuk 2-3 mata kuliah/hari. luar biasa!!! saya berani yakin kalau rambut anda tidak cepat putih seperti saya yang mulai banyak uban ini, ya kemungkinan lain rontok dan botak. itulah mengapa 3 hingga 4 atau maksimal 5 mata kuliah adalah wajar atau masih wajar dalam 1 minggu.
bagaimana konsekuensi jam-nya? 72 jam/5 = 14,4 jam/hari setiap hari, hanya untuk kuliah, tugas, dan belajar. kalau anda tidur 8 jam (normal), maka sudah 22, 4 jam/hari. tinggal 1,6 jam per hari untuk lain-lain: mandi, makan, pacaran, olahraga, baca buku cerita, nonton film, berorganisasi, dll. apakah itu wajar? jawabannya: JELAS TIDAK!!! akibat, agar hidup anda selama berkuliah masih bisa wajar (masih ada waktu untuk kegiatan lain2) ya anda kemungkinan akan kurangi waktu tidur. celakanya, kalau dosennya tetap nekat beri tugas dan kasih bacaan setiap minggu dan anda tidak mau kurangi waktu tidur, maka pilihan anda adalah CHEATING: tunggu teman lain sudah buat tugas, anda todong mereka agar anda bisa contek tugas mereka. bagaimana dengan membaca? kalau sudah tidak sempat, dalam hati anda akan berkata, “mudah-mudahan dosenku tidak tanya saya, karena saya belum baca.” kalau tidak ya ndableg, ditanya ya enteng, “maaf, saya belum baca.” sekali mungkin masih bisa diterima. dua kali atau lebih, “anda sudah lari keluar lewat jendela, barangkali!”, saking marahnya dosen ‘edan’ itu.
karena itu, jelas model semester dengan menjalankan sistem kredit semester yang benar adalah tidak masuk di akal sehat kita. itu baru hitungan beban fisik waktu. belum stress karena beban tugas mata kuliah: baca buku/artikel tidak mudeng2; disuruh selesaikan persamaan matematika, otak tidak jalan2; disuruh buat percobaan laboratorium gagal dan gagal dan gagal lagi; disuruh baca karya sastra kok lebih nyantol komik bergambar yaa… lalu, waktu anda akan bertambah untuk pergi dokter, periksa, dapat obat, dan tidur karena sakit akibat kecapekan dan stress. kalau stress super berat, anda mengalami burn-out, mungkin anda perlu psikolog atau psikiater sekalian. inikah yang kita cari? JELAS TIDAK.
seorang teman saya sedang berkuliah di salah satu universitas di salah satu negara asing. dia mengambil 4 mata kuliah dalam 1 term. ia menggambarkan keadaannya kepada saya, waduh saya sudah tidak bisa buat apa-apa lagi, selain belajar dan menyelesaikan tugas-tugas mata kuliahnya itu. tentu, dia telah mencadangkan waktu untuk bisa istirahat dan refreshing, untuk menjaga life – work/study balance. bayangkan, cuma 4 mata kuliah komentarnya demikian. lalu, sanggupkah anda untuk handle 8 mata kuliah atau lebih, dalam sistem seperti itu (belajar dengan benar dan benar2 belajar)?
jadi, logika perhitungan operasional untuk semester di Indonesia = TIDAK NORMAL, TIDAK MASUK AKAL! kalau sekarang kita bisa jalankan ya karena kita semua korupsi sistem itu. saya sebagai dosen cuma mengajar, jarang beri tugas (saya menikmati sekali kondisi ini karena kalau beri tugas banyak2 toh saya sendiri yang susah, periksa-an-nya banyak, apalagi kalau ngampu banyak mata kuliah). sedangkan anda sebagai mahasiswa juga cuma datang duduk, dengar, dan catat (itupun masih banyak yang tidak punya catatan dan akan berburu catatan teman2nya ketika waktu tes datang). tugas ada tapi sangat jarang. baca buku teks atau bacaan lain jarang sekali atau bisa dikatakan tidak pernah (toh dosen akan menjelaskan di kelas) (anda juga kayaknya menikmati sekali, soalnya kalau banyak tugas waktu anda tidak bisa untuk jalan-jalan, main, etc). bukankah begitu kenyataan kita? tapi, itukah belajar di perguruan tinggi? saya yakin BUKAN!!!
jadi, itulah konsekuensi dari semester yang anda banggakan itu yang telah menggiring anda berkata: “YA ampun tolong baca di kamus dong definisi semester, profesor2 sekalian!” karena itu, kini, sebelum anda menuding para professor itu, rasanya anda yang perlu banyak baca lagi supaya paham dengan lebih baik lagi. biar bisa bedakan trimester dari semester. bisa pahami apa tuntutan setiap format academic term yang dipilih/pertimbangkan.
tentu realitas kita tidak akan sekeras gambaran atau hitung2 di atas karena kita bermain di dunia manusia, bukan dunia benda2 saja. ada pertimbangan apa yang masih tergolong wajar bagi manusia. cuma, paling tidak gambaran perhitungan di atas bisa menunjukkan bahwa pilihan yang diambil perlu juga lebih manusia, dalam tindakan yang tetap masih bertanggungjawab: tanggung jawab pada anda dan para mahasiswa lain, tanggung jawab pada orang tua, tanggung jawab pada pemerintah, masyarakat, dan Tuhan untuk sebuah pelayanan pendidikan yang benar-benar bermutu. bahwa masih ada banyak perbaikan yang harus dibuat oleh UKSW untuk membuktikan bahwa benar-benar bermutu, itu tidak dapat dipungkiri. tapi, mari mulai dari pilihan dasar kita: trimester masih lebih baik dari semester!!!
mas-mas ato mba-mba, saya mau tanya kenapa sistem perkuliahan di uksw jadi morat -marit seperti ini?
katanya uksw adalah salah satu dari sepuluh universitas swasta terbaik se-indonesia, tapi kenapa hal-hal seperti ini jadi masalah besar yang berlarut-larut.kami ga tau apa dengan peralihan NAMA dari trimester menjadi SEMESTER dalam randa kutip benar- benar akan menjamin kualiatas mahasiswanya karena setahu kami di uksw kata SEMESTER dan TRIMESTER memiliki arti yang sama, keduanya memiliki masa perkuliahan sekitar 2,5 – 3 bulan saja ( benarkah para pegawai/staf/dosen/petinggi-petinggi uksw tak tau berbahasa indonesia yang baik dan benar? dimanakah perbedaan kata SEMESTER dan TRIMESTER? ). JAWABNYA ada di pembayaran uang kuliah mahasiswa. dengan sistem semester+semester PENGAYAAN ( apa pula ini? semester kok ada pengayaan dan wajib pula alamak….ckckckckckck ) pembayaran spp jadi melunjak…( kami hanya mahasiswa yang tidak tau apa -apa dan hanya ingin mencari jawaban atas pertanyaan -pertanyaan kami )
kesulitan lain yang kami hadapi adalah dengan baban kuliah maksimum sekitar 26 sks yang diberikan / dapat dilihat pada saat kami SIASAT kami jadi bingung harus bagaimana, dengan uang kuliah yang MAHAL kami memang diperbolehkan mengambil mata kuliah dengan beban maksimum 26 sks ( hal ini sih sudah layaknya sebuah sistem semester yang sebenarnya ), tapi coba lihat waktu untuk perkuliahan yang hanya 2,5 – 3 bulan apa kami tidak akan MATI untuk belajar. dengan waktu 2,5 -3 bulan sangatlah tidak wajar kami bisa menyelesaikan perkuliahan 26 sks yang mungkin sekitar 8 -9 mata kuliah. ckckckckckck dimana pemikiran dan pertimbangan dari penentu kebijakan ini. akhirnya walau berat kami dengan perhitungan seperti diatas lebih memilih mengambil mata kuliah yang jauh dari beban maksimum sekitar 15 sks yang setara dengan 5 matakuliah ( kok kembali seperti trimester bayarnya aja lebih mahal spp jadi 1,8 juta setahun dari 1,2 juta pada trimester ). coba teman – teman mahasiswa berpikir apa kita sebagai mahasiswa tidak dirugikan dalam hal ini sudah bayar mahal dikejar-kejar waktu, kualitas tidak dapat…
usul saya sebaiknya hal ini segera dituntaskan jangan dibiarkan berlarut – larut kalau memang kita uksw mau menganut sistem semester buat apa pake semester pengayaan kenapa tidak seperti universitas – universitas lain aja yang menganut sistem yang benar -benar SEMESTER, terserah deh nanti pada waktu libur kalo ada mahasiswa yang ingin mengambil semester pendek, pengayaan kok WAJIB ckckckckckck aneh deh apa gak kelihatan kedok UANG dibelakangnya.
himbauan buat petinggi -petinggi yang duduk diatas sana jadilah petinggi – petinggi yang bijak.
selesaikan masalah yang tidak jelas ini sehingga kami mahasiswa bisa tenang berkuliah.
ini hanya masalah sepele lo bapak – bapak/ ibu- ibu.
kami rasa ada masalah yang lebih besar dari pada masalah ini contoh kasus MASALAH AKREDITASI. ada fakultas yang progdinya belum terakreditasi sebut saja progdi fisika, teman – teman mahasiswa dari progdi fisika yang kami tanyai akan menjawab wah itu sudah lagu lama sampai sekarang gak jelas mas statusnya, dari awal berdirinya sampai sekarang ga ada statusnya. apa masalah ini gak memprihatinkan buat bapak – bapak / ibu -ibu. dan sebagai anggota keluarga uksw saya lebih setuju jika para petinggi -petinggi lebih memberikan OTAK-nya untuk masalah ini dari pada sekedar masalah trimester/semester yang pada hakekatnya sama aja.
sekian dan terima kasih.
Bagaimana Universitas bisa membentuk produk seperti itu tetapi memperlakukan konsumen sebagai kelinci percobaan. peace.
sejak dulu UKSW Memang sulit ngatur dirinya sendiri kok..
Jika memang trimester lebih baik, mengapa mesti diperdebatkan ya? menurut saya trimester ok juga, biar uksw beda dari yang lain..
Aku aku sih pilih semester aja.. soale ada waktu untuk break alias liburan dikampung halaman. kalo trimester kayak kerja rodi aja…
@Agna: anda akan lebih dari pekerja paksa alias romusha kalau kuliah berjalan seperti yang dituntut buku ketentuan akademik. tuntut dosen2 jalankan sistem sks dengan benar, dan anda akan rasakah bahwa menjadi romusha di zaman jepang pun kalah kejam dari belajar dalam sistem semester. wong mahasiswa yang belajar cuma dengan 4 matakuliah di banyak negara lain saja bisa tercekik leher apalagi anda dan para mahasiswa uksw dan indonesia yang bisa 7-8 mata kuliah satu semester.. sekali lagi kalau jalankan sks dengan benar..
kalo memang trimester lebih oke, knapa sih kok unit 2 diuksw masih tidak bisa satu konsep, satu pendapat, dan satu langkah??
memangnya kapan orang2 uksw bisa sehati??
@agna, melakukan perubahan atas sesuatu yang sudah mapan tentu tidak mudah… orang merasa lebih aman berada di zona kenyamanannya.. lebih dari 30 tahun sistem kredit semester eksis dan ia sudah menjadi satu institusi yang begitu kuat untuk diganti begitu saja… lazimnya perubahan besar hanya bisa berjalan kalau yang “duduk di atas” mau menjadikannya program perubahannya… dan itu terjadi di UKSW tahun 2002… namun, tahun 2005, pimpinan UKSW yang berganti membawa orientasi yang berbeda dan itu artinya cukup mudah untuk mengembalikan ke sistem lama…
@lala, ini zaman di mana ada ragam rasionalitas untuk menjelaskan satu fenomena yang sama… perbedaan pendapat karenanya tidak terhindarkan… kita tidak bisa mengasumsikan sebuah rumah tangga tanpa perbedaan pendapat lagi di UKSW… yang harus terjadi adalah, komunitas ini membiasakan diri berdialog, berdebat, memertandingkan rasionalitas2nya sehingga paling tidak ada pendapat yang bisa dinilai lebih baik pada konteks waktu dan tempat tertentu… saksikanlah perdebatan hangat yang kadang terlalu tajam di masa kampanye pemilihan presiden Amerika… itu fenomena masyarakat yang (lebih) terbuka… jadi, pola ini akan membuat si pemimpin tidak menjadi semena-mena, mentang-mentang memimpin lalu bisa seenaknya… dia harus buka debat publik untuk testing ide-idenya, apakah bisa diterima atau tidak.. tentu tidak akan 100% diterima karena cara pandang yang beragam ada pada setiap orang.. tapi, paling tidak, orang yang masih cukup rasional bisa melihat di mana lebih rasionalnya suatu alternatif, dibanding alternatif lain… jika, si pemimpin yang mengusulkan perubahan terhadap rasionalitas (sistem) lama itu merasa ada yang kurang dari yang lama…
jadi, usul saya kepada Anda para mahasiswa adalah… proses belajar mengajar yang bermutu adalah yang menjalankan disiplin sistemnya dengan baik… kalau kita gunakan sistem kredit semester, maka ada disiplin 1 sks = 50 menit tatap muka, 60 menit tugas rutin, 60 menit belajar mandiri setiap minggu, setiap mahasiswa. kita tidak bisa mimpi bahwa cuma dengan mendengar kuliah, di-tes di tengah dan akhir semster, plus satu atau dua kali kuis, maka mahasiswa akan paham dan kuasai apa yang dipelajarinya.. itu artinya, tiap minggu ada tugas dari dosen… tiap minggu mahasiswa harus baca sendiri sebelum dan sesudah masuk kelas, agar ‘dong’ dengan apa yang dipelajari pada minggu itu… nah, jika disiplin sks seperti ini kita jalankan, saya percaya hanya 4 mata kuliah dalam satu term (semester kek, trimester kek, dimester kek) yang wajar untuk kita berkuliah, bagi mahasiswa… karena sistem semester memaksa kita harus berkuliah sekitar 8 mata kuliah, maka ia tidak masuk akal dalam sistem perkuliahan yang baik dan benar… salam
Kalo aku menilai, ide trimester memang ok, tapi lebih ok bila diimbangi dengan budaya yang mendukung trimester. Sudahkah para dosen, mahasiswa, serta karyawan UKSW siap dengan perubahan budaya kerja ???!!!
@neil, lha itu… bagaimana bisa UKSW membawa suatu perubahan … lha wong pimpinannya aja tidak kompak gitu… akhirnya sia-sia aja donk perjuangan pimpinan yang lama.. kesehatian dan kekompakan penting untuk sebuah perubahan lho…
Mau semesteran atau trimesteran .. terserah aje dech.. yang penting mahasiswa mendapat pelayanan yang profesional… setuju nggak??
Aku setuju ama agna, internal uksw harus kompak dan sehati dulu, baru ..adakan perubahan…
Sekarang ini sistem di uksw memang 100% nanggung alias nggak jelas… trimester bukan… semester juga bukan… capekkk dech !!!
UKSW itu memang suka yang aneh tur nyleneh kok.. tapi inovatif..
UKSW memang bisa jadi inovator bagi dunia pendidikan lho… saya jadi bangga jadi alumnus nya, tapi uksw harus konsisten lho..
Memang perubahan itu perlu perjuangan…. maju terus uksw… jangan goyah imanmu..
Trus kalo semester mbayarnya ginama tuh… aku rencana mau masuk uksw taun depan nich..
Jika mengikuti pandangan yang saya kemukakan, perubahan tidak dimulai dari kondisi di mana semua orang sepakat. Perubahan selalu datang dari segelintir orang yang ‘nyleneh’. Bahasa para institutionalists adalah dari orang2 yang disebut sebaga institutional/organizational entrepreneurs. Mereka inilah yang nantinya melalui mekanisme2 tertentu menantang rasionalitas lama dan mendorong cara pandang baru. Pertanyaannya, kenapa harus berubah? John Kotter dalam bukunya Leading Change memandang perubahan hanya bakal bergulir kalau ada urgency of change. Karean itu, para institutional entrepreneurs tadi akan argue untuk meyakinkan yang lain bahwa memang ada urgensi perubahan, yakni kenapa kita tidak bisa jalan lagi dengan cara pandang dan cara hidup yang lama. Kembali ke Kotter, Ia berkata, jika tidak berubah, krisis-lah yang bakal dihadapi. Karena itu, pertanyaan saya, akankah kita (UKSW dan perguruan tinggi di Indonesia) menghadapi krisis dan karenanya kita tidak bisa membiarkan diri kita hanya melakukan sesuatu dengan cara lama dan karena itu harus berubah?
Teman2 bisa menjawab pertanyaan saya itu menurut versi masing2. Namun, paling tidak sejumlah fenomena bisa dipertimbangkan. Misalnya, pertama, tidak ada satu perguruan tinggi Indonesia pun yang masih peringkat elit dalam berbagai hasil pemeringkatan. Ini mengindikasikan lemahnya sistem pendidikan tinggi di Indonesia. Kedua, perekonomian Indonesia yang tadinya disebut sebagai salah satu dari the new emerging economies mudah terpuruk dan sulit bangkit2. Tapi, apa hubungannya dengan pendidikan? Fakta penunjang menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia digerakkan oleh porsi angkatan kerja dengan latar pendidikan rendah yang lebih besar. Namun, ada juga indikasi bahwa pengangguran sarjana juga cukup tinggi (nanti kita cek datanya). Fenomena macam begini rasanya riskan untuk ‘bertarung’ dalam perekonomian yang berbasis pengetahuan dan kreativitas/inovasi. Padahal, Richard Florida misalnya menganalisis bahwa para pemenang dalam kompetisi ekonomi dunia adalah para inovator atau ia menyebutnya the creative class. Dan, negara2 atau bahkan kota2 termaju saat ini proporsi the creative class-nya terus meningkat. Karena itu, pendidikan penting. Salah sa tu negara dengan pendidikan yang baik adalah Finlandia. Lebih dari 50% penduduknya berlatar pendidikan tinggi (setara master). Dan, Finlandia adalah salah satu negara kaya. Tahu Nokia? Lalu bagaimana kita?
Kembali ke sistem pendidikan tinggi, kegiatan belajar mengajar dan kontribusinya pada perekonomian nantinya, mana mungkin kita melahirkan para analis kritis dan para inovator kalau kita berkuliah dalam sistem yang justru mematikan cara berpikir kritis dan kreatif? Sistem seperti apa yang saya katakan sebagai mematikan pemikiran kritis dan kreativitas? Satu jelas beban yang berlebihan (terlalu banyak mata kuliah dalam satu term, bagaimana mungkin semua bisa dipelajari secara mendalam?). Beban belajar jelas harus banyak dalam setiap mata kuliah, agar terjadi deep learning, bukan surface learning. Tapi, bagaimana mungkin itu dilakukan bersamaan dengan subyek/mata kuliah yang terlalu beragama? Kedua, proses belajar yang berpusat pada dosen dan mahasiswa cuma pasif. Ketiga, proses belajar mengajar tidak pernah menuntut kita untuk menantang ‘kebenaran2′ tetapi justru mengekalkan kebenaran yang cuma ada satu yakni, dosen-ku-lah yang benar. Mungkin masih ada ciri yang lain lagi… silahkan teman2 tambahkan…
Mungkin ada yang akan merespon saya, ada kok kuliah yang tidak seperti yang jelek itu… benar.. tetapi, seberapa banyak yang begitu? Sangat kecil proporsinya, dugaan saya. Betul? Jadi, karena itu, sistem-lah yang harus digerakkan untuk menciptakan proses dan iklim belajar yang baik, sudah tidak cukup lagi hanya digerakkan oleh segelintir individu2 kreatif dan nyleneh (walau dimulai dari situ). Jadi, seperti argumen saya di atas, kita butuh institutional entrepreneurs untuk keluar dari kebiasaan lama, tetapi kini sudah saatnya kita untuk menggeser pendekatannya agar berjalannya sistemik, bukan cuma individual lagi.. artinya harus merubah sistem lamanya…
Nah, rasanya cuma ada dua kemungkinan (dalam perhitungan saya saat ini) untuk merubah pada skala sistem atau skala besar agar bisa menghadirkan sistem pendidikan yang mendorong pemikiran kritis, pembelarajan yang mendalam, dan kreativitas, yakni: 1) Dikti mengurangi jumlah total sks untuk memeroleh gelar sarjana (dari minimum 144 sks ke rentang 100-120 sks), implikasi akan terjadi perubahan jumlah mata kuliah untuk ’satu paket’ pendidikan. Namun, materi belajar dalam setiap mata kuliah justru akan didorong untuk lebih mendalam… Cuma, kemungkinan ini bersifat out of our control… Juga, ia terlalu politis-birokratis dan butuh waktu… 2) Universitas menggunakan otonomi ilmiah-nya untuk merekayasa sistem pendidikan internalnya… misalnya, apa yang telah ditempuh UKSW sejak 2002, mencoba mengganti pola semester lama ke trimester… dengan berupaya memenuhi (berpotensi meningkatkan) jumlah jam belajar/mengajar efektif..
Pertanyaannya, adakah hasil baik dari perubahan ke sistem trimester? Terlepas dari di awal2 orang mengeluh, fakta2 jelas menunjukkan, di antaranya… secara universitas, IPK rata-rata mahasiswa yang lulus cenderung membaik…. kecepatan studi pun lebih baik, alias mendekati waktu normal (belum memenuhi asumsi persis 4 tahun, untuk program S1)… proporsi mahasiswa dengan IPK tinggi lebih besar… beban kerja dosen di dalam satu semester turun… sejumlah dosen berhasil melakukan inovasi pengajaran…
Nah, tanda2 itu semestinya bisa menggiring kita ke arah sehati, kompak, etc itu… tapi, dasar hati manusia susah ditebak ya… balik lagi ke semester… nah, saya ingin tunggu hasil2 analisis apa kontribusi lebih dari kembali ke semester… memang, seperti catatan Lala, kita masih terbentur budaya usang kita yang telah sangat terbiasa di semester (ada libur panjang, evaluasi cuma beberapa kali tes (termasuk 1 TTS dan 1 TAS, dll)… tetapi percaya deh, perubahan kultur itu akan datang… toh, sudah ada indikasi perubahan2 itu sedang berlangsung di saat UKSW jalan dengan trimester… dan, silahkan cek dalam berbagai literatur manajemen perubahan… merubah budaya adalah hal paling sulit dan butuh waktu… karena itulah John Kotter menempatkannya dalam urutan terakhir… tetapi, syaratnya, konsisten dan untuk konsisten ya komunikasi yang terbuka, evaluasi berkelanjutan, dan terus mengoreksi kelemahan2 sistem..
Sebagai penutup, saya teringat sebuah tulisan di Kompas beberapa saat setelah euforia penyatuan Jerman seputar reaksi sebagian orang Jerman pasca penyatuan Jerman itu… ketika ternyata hidup di sistem ekonomi baru ternyata tidak juga mudah, orang2 yang tua-tua dari bekas Jerman Timur lalu meromantisasi, “seandainya kita bisa kembali ke masa Jerman Timur”.. sayangnya, Jerman kan tetap Jerman dan tidak pecah lagi jadi Barat dan Timur…. tapi, ya begitulah… orang sering tidak sabar, mau semua dalam semalam telah berubah menjadi lebih baik… Kita lupa, jer basuki mawa beo.. there is no such a free lunch… kita perlu waktu dan pengorbanan sesaat untuk meraih hasil dari sebuah perubahan besar… dan, terlepas dari ekonomi dunia kini sedang mendapat pressures luar biasa, hampir sulit menemukan orang tetap berpikir, “mari kembali ke (model) Jerman Timur lagi”…
Namun, yang terjadi di UKSW justru sebaliknya… ia kembali ke model lama yang telah nyata-nyata diketahui kelemahannya… ia tidak cukup kreatif untuk justru mencari jalan menyiasati hambatan2 dan masalah2 hidup dalam sistem baru yang baru sebentar dijalaninya itu… ia tergoda dengan masa lalu, dan tidak berani berhadapan dengan masa depan… sayangnya, hal-hal begitu cuma biasa dilakukan oleh orang yang frustrasi, pendek akal, merasa tak berdaya… kasihan sekali jika kita tergolong demikian..
O ya satu catatan: Trimester bukan untuk membuat UKSW beda dari yang lain… tetapi untuk menjawab masalah beban yang terlalu tinggi dalam satu term pengajaran/pembelajaran yang ada dalam pola semester untuk mendorong pendidikan yang lebih berkualitas… ingat, pertarungan ke depan jauh lebih berat dari melihat keberhasilan hari ini, apalagi kemarin… siapkah kita?
Ralat dikit:
Pada alinea dua, baris ketiga, kata MASIH, seharusnya MASUK.
Pada alinea tiga, baris kedelepan, kata BERAGAMA, seharusnya BERAGAM
Kalo gue setuju aja Bung Neil Jadi Rektor 2009… Bagaimana dengan Bung Neil siap atau tidak??
Kepemimpinan pak Titaley memang banyak inovasi… atau gebrakan dalam tubuh uksw. Seharusnya beliau maju lagi menjadi Rektor untuk melanjutkan inovasi yang belum sepenuhnya beres..
Sebuah perubahan harus diikuti oleh sikap yang siap untuk berubah. Saya yakin, ketidaksepahaman trimester di UKSW diakibatkan sikap yang takut akan sebuah perubahan.
Kalo saya boleh kasih saran… setiap sivitas akademika harus kompak dan sehati… masak sistem pendidikan yang digunakan kok beda2, mahasiswa jadi pusing tuh..
Syalom,
Usul Saya, Buat saja Penelitian untuk Sistem Trimester dan Dwimester. Nah kalau sudah dilakukan Penelitian, maka apabila nanti hasilnya Trimester lebih baik daripada Sistem Semester maka Kita maju dengan Trimester. Bila Hasilnya juga nanti Ternyata Trimester lebih Bobrok!! Maka kita harus kembali ke Sistem Semester, Gitu Aja Kok REEEPOT!! Pertarungan Sistem Ini bukan Kampanye Untuk Jadi Rektor UKSW Kan??? He, he, he GBU
@Pak Pdt Sinukaban yang baik, saya pernah melakukan olah data kinerja akademik UKSW untuk kepentingan laporan evaluasi diri UKSW (tahun 2007). Apa yang saya temukan adalah trend membaiknya beberapa indikator kinerja akademik UKSW (dari sudut kinerja mahasiswa) dalam tahun-tahun penerapan trimester. Misalnya, dari indikator Indeks Prestasi Kumulatif, ada trend membesarnya proporsi mahasiswa yang masuk dalam kelompok IPK tinggi. Pada indikator kecepatan lulusan, juga tampak perbaikan waktu lulus mahasiswa secara rata-rata. Silahkan cek: Laporan Evaluasi Diri UKSW (2007). Registrar UKSW di salah satu upacara wisuda UKSW sebelum UKSW memutuskan untuk kembali ke semester, pun membeberkan beberapa data yang selaras dengan itu. Lebih banyak mahasiswa yang lulus dengan IPK tinggi dan cepat waktunya, dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Dari hasil olah data yang saya lakukan itu, memang tidak pada seluruh tahun selalu naik kinerjanya. Ada kalanya terjadi slip. Namun dinamika seperti ini wajar sejauh trend globalnya menunjukkan gejala peningkatan.
Dua indikator itu menunjukkan bahwa trimester bukan cuma menyumbang cepat lulus, tetapi memberi peluang mahasiswa untuk lebih baik prestasi akademiknya (diukur IPK). Memang, trend ini masih perlu diamati lebih jauh, apakah memang terjadi perbaikan kualitas secara lebih mendasar. Namun, secara umum, image kualitas UKSW kemudian, menurut sense saya, relatif membaik, walau masih saja ada keraguan-keraguan (ini butuh proses yang konsisten untuk mengatasinya). Hal itu bisa dilihat dari relatif membaiknya minat masuk UKSW sejak itu dan hingga kini. Jadi, menurut dugaan saya, perbaikan kinerja itu telah membuat publik punya image yang lebih baik kepada UKSW dan tahun-tahun belakangan harus bersyukur mendapat manfaat dari perbaikan image itu. Memang ketika UKSW pertama kali menerapkan trimester (2002) ada keraguan yang besar (baik internal maupun external) dan itu memengaruhi persepsi publik, niat masuk ke UKSW dan kualitas input di tahun itu (namun, dugaan ini perlu diuji). Data olahan di tahun 2006 menunjukkan penyimpangan dari trend peningkatan kinerja itu dan kalau kita menggunakan waktu normal berkuliah adalah 4 tahun, maka ada kaitan yang sejalan antara keraguan di tahun 2002 dan hasil akhir di 2006. Tapi, ketika bergulir dan menjadi biasa dan bahkan orang punya ekspektasi baru dari penerapan trimester, lalu minat masuk membaik lagi. Data 2007 mengindikasikan kinerja yang naik lagi (kalau saja UKSW tetap jalan dengan trimester, trend ini bisa diuji dan saya percaya akan terus membaik).
Mengapa kinerja selama periode trimester bisa membaik? Cukup logis, beban kuliah mahasiswa dalam satu term menurun cukup signifikan. Ini didukung juga oleh meningkatnya penggunakan ragam instrumen evaluasi, khususnya evaluasi dalam proses seperti tugas-tugas mata kuliah. Mengapa mendukung? Mahasiswa dituntut lebih banyak belajar: mereka dituntut membaca dan di kelas-kelas tertentu sejumlah dosen mulai aktif menggunakan metode diskusi kelas. Diduga, penguasaan materi kuliah menjadi lebih baik. Karena itu, wajar jika mahasiswa yang pada dasarnya berkemampuan akademik cukup sampai sangat baik akan mendapat hasil yang lebih baik. Dan, itu tampak dari proporsi yang meningkat pada kelompok mahasiswa ber-IPK tinggi seperti disebut di atas.
Olah data saya menunjukkan bahwa di kelompok ber-IPK rendah, hampir-hampir tetap konsisten alias sama proporsinya. Ini menunjukkan masalah pada sektor seleksi mahasiswa baru. Artinya, saringan masuk masih belum sekompetitif periode 80an hingga awal 90an. Jika input masuk sama seperti itu, maka hasilnya bisa dibayangkan lebih baik. Ini mengindikasikan perlunya perbaikan di sistem seleksi mahasiswa baru dan sebetulnya UKSW mulai menata itu kembali. Mahasiswa yang beginian cenderung tidak ambil pusing bahkan bersikap fatalistik terhadap kuliah yang makin menuntut. Ekspektasi mereka kan kuliah kan santai, seperti lazimnya.
Saya mau stressing juga aspek proses dari sisi dosen dan implikasinya pada pembelajaran mahasiswa. Sebagai dosen di Fakultas Ekonomi yang jumlah mahasiswanya tergolong salah satu yang terbesar di UKSW (bersama FTI, kini FKIP karena PGSD, FBS, FPsi), setiap semester di zaman semester-an saya bisa mengampu 20an sks atau mencapai 6-8 kelas. Sejumlah teman malah bisa lebih dari itu. Kalau satu hari satu kali ngajar saja, maka tiap hari ada paling sedikit 1 kelas. Mengajar dalam keadaan seperti itu, bagaimana mungkin bisa mendorong saya aktif memberi tugas kepada mahasiswa? Kapan periksanya. Membuat tugas saja sudah harus dipersiapkan dengan baik. Belum lagi, kalau mahasiswa perlu datang bertanya hal-hal terkait tugas. Wah terlalu repot. Gampangnya kan ya setiap minggu isinya saya persiapan bahan-bahan mengajar (kalau mata kuliah yang sudah sering dikuliahkan, kadang ada yang tidak pakai persiapan) dan ya mengajar. Kalau rajin, ya saya beri kuis sesekali. Lalu, bagian terbesar dari evaluasi proses belajar saya gantungkan pada Tes Tengah dan Tes Akhir.
Apa efeknya praktik yang beginian pada pembelajaran mahasiswa? Sangat jelas, mahasiswa hanya datang ke kelas untuk dengar dosen ngajar (persepsi yang terbentuk berkuliah adalah mendengar dosen mengajar), syukur-syukur mencatat. Kalaupun mencatat, ya abis itu disimpan rapi di rumah. Mereka baru buka buku catatan atau buku teks kuliah (kalau yang ini mah masih bisa dihitung dengan jari) kalau saya katakan, “Minggu depan kita tes!” Itulah wajah pendidikan kita, belajar untuk tes, belajar untuk dapat nilai, belajar untuk lulus mata kuliah. Celakanya, ada mahasiswa yang, “Pokoknya lulus saja sudah cukup!”. Fatalistik!!!!
Selama masa trimester, beban mengajar dosen, misalnya di FE, turun sangat signfikan. Sejumlah dosen malah mengeluh beban mengajarnya tidak mencapai 12 sbs (beban minimum untuk seluruh tugas tanggung jawab dosen). Apakah ini buruk? Jika dilihat dari efek finansial, mungkin buruk karena dosen tidak dapat tunjangan kelebihan mengajar. Namun, kalau dilihat dari substansi akademik, ini justru sangat positif (catatan: Dikti secara normatif meminta 8-9 sks untuk pengajaran atau 12 sks untuk total semua komponen tridarma + administrasi). Bukankah itu baik bagi mereka untuk bisa persiapan lebih banyak dan lebih baik, mereka berpelung untuk lebih kreatif mengembangkan metode belajar mengajar, bisa menambah komponen tugas mahasiswa (1 sks selalu meminta 60 menit tugas rutin diberikan dosen setiap minggu), dan beban menyeluruh yang turun bisa memungkinkannya melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat dari sana dosen akan lebih diperkaya dalam pengajaran. Ini kita baru bicara pada level peluang, belum realitasnya karena itu ‘dunia yang lain’.
Dalam kasus saya pribadi, saya bisa melakukan sejumlah perbaikan di sektor pengajaran saya. Karena mata kuliah yang jauh lebih sedikit, saya bisa mendesain proses belajar mengajar yang menuntut mahasiswa harus lebih aktif. Saya harus katakan, saya justru membatasi peran saya dan menuntut tanggung jawab yang lebih besar dari mahasiswa saya. Tiap minggu ada aktivitas belajar di luar kelas yang saya tuntut, entah baca buku, artikel yang saya bagian, buat summary, penelitian lapangan, dll. Sebagai dosen, saya hanya memberi fondasi pada bab-bab awal serta memberi catatan2 kritis atas pembelajaran mahasiswa, selebihnya mari kita sama-sama konstruksi pengetahuan kita.
Pada kelas-kelas kuliah saya khususnya yang jumlah mahasiswanya sedikit, kami ibarat sebuah forum diskusi saja. Sering saya minta mahasiswa tertentu presentasi (lebih banyak yang berkelompok namun pada kelas yang cuma beberapa gelintir mahasiswa ada yang individual) dan setelah itu kami mendiskusikannya. Selalu ada kelompok/mahasiswa lain yang mengerjakan hal yang sama dan karena itu ada peluang untuk perbedaan pendapat. Para mahasiswa itu memresentasikan hasil telaah literatur atau hasil pengumpulan data lapangan. Dan, siapapun boleh memberi pendapat, apa saja, asal bertanggung jawab. Sebagai fasilitator proses itu (kadang mahasiswa yang langsung menjadi fasilitator diskusi dan saya juga bagian dari peserta). Di samping pertanyaan dari sesama mahasiswa, saya tidak jarang juga melontar pertanyaan. Saya kadang mengejar penjelasan lebih jauh atau contoh empiris atau menantang opini mahasiswa untuk membiasakan kita semua berpendapat dengan cukup jelas dan itu baik untuk mendorong cara pikir kritis. Itulah perwajahan dari beberapa kelas kuliah saya. Belakangan aktivitas diskusi kami mendapatkan ‘tempat baru’ setelah saya menggunakan fasilitas flexible learning UKSW yang mulai diterapkan 2007 (saya sudah menguji coba 2 trimester sebelumnya).
Bagi mahasiswa tertentu, pola begini bisa jadi tidak nyaman karena harus baca, baca, baca, kerja tugas, tugas, tugas, presentasi, presentasi, presentasi, ditanya etc. Ini juga bagi sejumlah orang bisa jadi kurang berharga, karena “lha apa hebatnya mendengar teman sendiri dan bukannya dari dosen?” Saya bahkan, dalam hal-hal tertentu tidak mau berpendapat, kecuali memberi evaluasi proses dan mendorong pendalaman literature. Namun, bagi saya, beitulah pembelajaran orang dewasa, mahasiswa adalah ko-konstruktor pengetahuan, mereka bukan cuma pendengar pasif yang duduk diam atau mencatat, corat-coret, atau mengantuk. Bahkan, dari presentasi dan diskusi mereka, khususnya dari hasil-hasil penelitian lapangan, sebagai dosen saya pun bisa belajar dari mereka. Mereka yang mengerjakan penelitiannya dengan baik cukup confident untuk menjadi ‘dosen’ bagi saya.
Relasi kami bukan lagi relasi ‘angker’. Namun, saya tetap ‘angker’ dalam menuntut belajar, belajar, dan belajar. Yang mau main-main, ya maaf saja.
Pak Pdt, gambaran begitu ada pada cukup banyak kelas kuliah yang mulai menghangat karena gagasan reformatif dalam praktik pedagogi di UKSW yang belakangan juga berkembang. Itulah salah satu efek dari trimester, walaupun itupun bisa tetap dilakukan di semester. Namun, saya skeptis. Kembali ke semester yang membuka peluang dosen-dosen untuk ngajar banyak mata kuliah/kelas dan demikian juga mahasiswa, ambil banyak sks dan kelas, apakah fenomena belajar yang intens seperti itu bisa tetap dipertahankan? Bisa, tapi seperti yang pernah saya argued di salah satu posting yang lalu, kalau semua dosen sama menuntutnya dalam proses belajar mengajar, implikasinya mahasiswa kurang tidur atau tidak punya waktu untuk berkegiatan lainnya. Celakanya justru kalau itu mendorong plagiasi, contek-menyontek, bayar orang untuk bikin tugas dan skripsi, etc., fenomena mana cukup berkembang termasuk di UKSW.
Namun, setelah kembali ke semester kini, apa lagi yang mau dievaluasi untuk membandingkan trimester versus semester? Hanya ada segelintir fakultas yang tetap berjalan dengan trimester. Lain ladang lain belalang, tidak mudah lakukan komparasi antar fakultas.
Namun, pada prinsipnya, telah ada evaluasi atas kinerja akademik UKSW pada beberapa indikator kinerja. Pernah ada evaluasi menyeluruh atas sistem UKSW oleh sebuah Satgas, yang mencatat masih banyak kelemahan di UKSW, bukan saja kelemahan sistem trimester yang masih tergolong baru. Namun, indikasi2 baik plus kelemahan sistem mengisyaratkan perbaikan sistem itu, bukannya penggantian sistem. Hanya orang ‘gelap mata’ yang tidak mau melihat evidence dan bersikap “pokoknya”. Hanya orang takut atau peragu yang melihat lingkungannya dan mengatakan, “kenapa kita berbeda dari mereka? jangan-jangan…” Hanya orang malas dan berpuas diri yang berhenti pada apa yang kemarin dan tidak melihat masa depan. Masih banyak hanya yang lain… Semoga kita bukan bagian dari semua itu
Bung Neil, soal “hadangan” terhadap trimester itu, saya jadi ingat nasehatnya mega-investor Warren Buffet “People will always try to stop you doing the right thing if it is unconventional”. Nah, tentunya history will tell. Don’t worry.
[ini kutipan dari diskusi lama kami di milis alumni uksw, rupanya masih relevan].
He he he bung Theo, agree tetapi saya juma memandang bahwa karena ini zaman masyarakat yang makin komunikatif, rasanya kita perlu juga mengompetisikan makna-makna agar membangun masyarakat yang well informed dan selanjutnya biarkan mereka sendiri menilai. Kadang karena kita terbiasa dibentuk pemahamannya oleh komunikasi yang terpola secara struktural, lalu tercipta ‘kesadaran palsu’. Celakanya kalau kesadaran muncul tetapi terlambat. Nanti, nasi sudah terlanjur jadi bubur.
Belajar dari kasus bagaimana terorganisasi baiknya sistem pesan dan makna yang dilempar oleh kubu Obama dalam masa kampanye presiden, saya kira it’s all about systematic and consistent efforts. Namun, konstruksi makna tentu harus juga terjadi dalam proses bolak-balik di antara ragam sumber.
Amazingly bung Neil, salah satu penasehat ekonomi Obama adalah: Warren Buffet !! :)
mau trimester kek…mau semester kek… ga masalah…yg penting kualitas dari pelayanan uksw..harus ditingkatkan..supaya ga menciptakan generasi2 yang bodoh dan ga bisa bersaing dengan yang lain…
[...] Neil, sejak saya menulis opini soal “Hari Kesia-siaan UKSW” sampai sekarang, saya belum temukan perbedaan signifikan antara trimester dengan dwimester. [...]
[...] Neil, sejak saya menulis opini soal “Hari Kesia-siaan UKSW” sampai sekarang, saya belum temukan perbedaan signifikan antara trimester dengan dwimester. [...]