31 Maret: Hari Kesia-siaan UKSW

Telah dilihat 1,026 kali sejak 3 April 2008

Ketika tahun akademik 2007/2008 di UKSW dimulai, ada dua orang yang berbeda pendapat didamaikan. Mulanya, orang pertama ingin berjalan di jalan A. Sedangkan orang kedua lebih memilih jalan B. Akhirnya ditempuh jalan perdamaian yang cukup lebar untuk mengatasi jarak antara jalan A dan B. Sebut saja jalan itu dengan nama “AB.” Dengan jalan AB, orang pertama boleh tetap menempuh jalan A. Begitu pula dengan orang kedua, tidak dilarang untuk menjalani jalan B. Tidak masalah, karena masih satu tujuan.

Tapi pada 31 Maret 2008, kedua orang tersebut tiba-tiba menjadi bodoh. Mereka kembali berdebat, jalan mana yang paling baik dan benar. Mereka menafikan begitu saja kesepakatan dan perdamaian yang mereka capai di awal tadi. Mengherankan bukan?

Sarasehan bertajuk “Ada Apa dengan Sistem Perkuliahan UKSW?” yang diselenggarakan BPMU (Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas) tiga hari lalu terjadi bersamaan dengan kebodohan dua orang tersebut. Atau mungkin, akan lebih tepat jika dikatakan bahwa sarasehan itu memicu kebodohan mereka.

Sarasehan tersebut mengangkat pembahasan tentang sistem kalender akademik yang berlaku di UKSW. Narasumber yang dihadirkan adalah Daniel Kameo, Harijono, dan John Titaley. Kameo dan Harijono diminta berbicara dengan kapasitas sebagai wakil rektor. Sedangkan Titaley sebagai mantan Rektor UKSW, sekaligus sebagai pencetus trimester.

Pada sesi pertama, Kameo, yang WR I (urusan akademik) itu, berbicara panjang lebar tentang penyelenggaraan sistem kalender akademik UKSW yang mampu “mengakomodir” dua sistem sekaligus, yakni sistem yang dalam setahun menggunakan tiga periode untuk kegiatan kurikuler (lazim disebut “trimester”) dan yang dalam setahun hanya menggunakan dua periode untuk kegiatan kurikuler (lazim disebut “semester”).

Sistem yang digunakan UKSW sejak 2007/2008 memang mampu ber-“Bhinneka Tunggal Ika.” Namun sebelum tahun akademik tersebut, trimester memang yang jadi sistem tunggal. Sebagai referensi tambahan, baca juga berita berjudul “Semester atau Trimester: Kado 51 Tahun UKSW” yang diturunkan Scientiarum, 10 Desember 2007.

Harijono diberikan kesempatan berbicara pada sesi kedua. Dalam kapasitas sebagai WR II (urusan keuangan), ia menjelaskan bagaimana dampak perubahan sistem kalender akademik 2007/2008 terhadap sistem pembayaran kewajiban keuangan mahasiswa. Sebagai catatan, perubahan hanya terjadi untuk fakultas yang beralih dari sistem tiga periode kurikuler menuju dua periode kurikuler.

Jika sebelumnya (pada sistem trimester/tiga periode kurikuler) besar SPP setahun adalah tiga kali Rp 200 ribu (tiap periode sebesar Rp 200 ribu), maka kini besar SPP per periode adalah tiga kali Rp 200 ribu lalu dibagi dua, sehingga menjadi Rp 300 ribu. Memang jadi lebih mahal, tapi totalnya dalam setahun tetap sama. Hal ini berlaku pula untuk uang layanan mahasiswa. Sedangkan uang SKS tetap dibayar sesuai dengan jumlah SKS yang diambil.

Sampai pada titik ini, sarasehan bersifat memberi pemahaman. Mahasiswa jadi tahu sistem apa yang mereka hadapi dan bagaimana cara menghadapinya. Dualisme (kalau masih mau disebut demikian) sistem tidak dipermasalahkan. Tapi sesi ketiga yang argumentatif dari John Titaley malah membuat provokasi.

Dengan kapasitasnya sebagai mantan rektor yang mencetuskan trimester di UKSW, Titaley kemudian membeberkan apa yang disebutnya sebagai “keunggulan trimester dibanding semester.” Trimester memang diprakarsai dan mulai diterapkan ketika Titaley menjabat sebagai Rektor UKSW kelima, tahun 2001-2005.

Jumlah syarat SKS minimal yang harus diselesaikan mahasiswa untuk mencapai S1 adalah 144. Ketentuan Dikti (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi) menyatakan bahwa dalam satu tahun, mahasiswa hanya diperbolehkan mengambil jumlah SKS maksimum sebanyak 48. Dengan ketentuan ini, seorang mahasiswa yang cerdas dapat mencapai gelar sarjananya dalam waktu paling cepat 3 tahun. Sedangkan yang tingkat kecerdasannya “normal” dapat mencapainya dalam waktu 4 tahun (setahun mengambil 36 SKS).

Apabila beban setahun mahasiswa “normal” ini diselenggarakan dengan dua periode dalam setahun (semester), maka beban untuk masing-masing periode adalah 18 SKS. Sedangkan 1 SKS bernilai 3 jam (1 jam tatap muka, 1 jam terstruktur, dan 1 jam mandiri), berarti 18 SKS setara dengan 54 jam dalam seminggu. Jika jumlah ini dibagi 5 (jumlah hari efektif perkuliahan), mahasiswa harus belajar 10,8 jam dalam sehari.

Berbeda dengan semester, trimester membagi beban 36 SKS menjadi tiga. Tiap periode mendapat jatah 12 SKS. Dengan 12 SKS, mahasiswa akan menghabiskan 36 jam waktu belajar seminggu, dan 7,2 jam sehari (setelah dibagi 5 hari efektif). Titaley berpendapat, dengan beban belajar yang lebih sedikit, mahasiswa dapat lebih mudah menguasai materi kuliah. Mahasiswa juga jadi punya lebih banyak waktu untuk mengembangkan keterampilan lain (soft skill).

“Di atas kertas, trimester lebih baik daripada semester,” klaim Titaley, “Dan saya belum pernah diyakinkan dengan alasan-alasan akademis maupun pedagogis untuk kembali ke sistem semester.”

Selain alasan pedagogis, Titaley juga merujuk kepada Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 pasal 8 ayat 2 yang menetapkan jumlah minimal periode dalam satu tahun akademik adalah 2, dengan durasi minimal 16 minggu. Ini berarti sistem trimester tidak menyalahi aturan legal-formal.

Sudah filosofisnya bagus, legal pula. Kurang apa lagi?

Harijono rupanya gerah dengan rasionalitas Titaley. Kendati demikian, ia nampak tak mampu mematahkan argumen Titaley, sehingga ia bermaksud melemparkan wacana tandingan sebelum ia keluar dari forum dengan alasan “ada rapat.”

“Kalau memang trimester lebih baik dari semester, kenapa (satu tahun akademik) tidak sekalian dibagi 4, 5, 6, dan seterusnya?” tanya Harijono. Suaranya lantang. Forum sarasehan pun dipenuhi tepuk tangan.

Harijono sedikit sial. Titaley keburu menjawab pertanyaan itu sebelum ia sempat bangkit dari kursi pembicara.

“Permasalahannya bukan pada pembagian menjadi 4, 5, 6, dan seterusnya,” jawab Titaley, “Tapi logikanya ada pada jumlah 12 SKS.” Titaley menganggap jumlah ini adalah ideal untuk beban kuliah mahasiswa “normal.”

***

Pihak pertama yang layak disebut “sia-sia” adalah BPMU, karena telah meminta Titaley berbicara dalam kapasitas sebagai mantan rektor, untuk “mempertanggungjawabkan” (baca: menjelaskan ulang) gagasannya mengenai trimester. Menjelaskan ulang konsep trimester bisa diartikan “mengusik” sistem semester yang sedang dijalankan. Inilah kesia-siaan itu!

Keputusan untuk berganti sistem baru saja diambil beberapa bulan yang lalu (belum ada setahun). Sistem yang baru juga belum sepenuhnya diterapkan (WR I mengatakan bahwa tahun ini masih merupakan tahun transisi. Implementasi secara penuh baru akan dilakukan pada tahun akademik 2008/2009 — Red). Singkat kata, aliran manajemen belum sampai pada tahap evaluasi. Padahal, tanpa hasil evaluasi yang meyakinkan, bagaimana mungkin sebuah keputusan/kebijakan akan diubah/direvisi?

Hasil sarasehan itu pun jadi mentah, tidak memberikan efek apa-apa terhadap kebijakan yang tengah berjalan. Sarasehan ini memang adalah “the right man” (sebagai wadah komunikasi dan aspirasi), tapi ia berada pada tempat dan waktu yang salah (wrong place and wrong time).

Jika BPMU benar-benar ingin memberikan kontribusi yang riil untuk penyusunan kebijakan universitas yang lebih baik di masa depan, mestinya BPMU menunggu waktu dan melihat proses, sambil mengumpulkan data untuk evaluasi. Dan selagi menunggu, bukankah masih ada masalah lain yang lebih relevan untuk dikaji (seperti nafas pembelajaran elektronik yang masih tersengal-sengal, akibat rendahnya penguasaan teknologi di UKSW)? Pelayanan internet mahasiswa di Posnet juga masih banyak masalah!

Namun, jika BPMU memang hanya ingin mencari sensasi dan apresiasi yang timbul dari hal-hal retorik, maka saya ingin mengucapkan selamat atas keberhasilannya!

Titaley, walau tampil “menawan” dengan segala rasionalitasnya, tetap saja dapat disebut “sia-sia,” karena telah memenuhi undangan “sia-sia” BPMU. Kenapa Titaley mau meladeni kesia-siaan macam itu? Jika seandainya waktu itu trimester memang terbukti lebih baik di atas kertas, lantas perubahan apa yang akan timbul?

Sebenarnya, trimester tidak lebih baik daripada semester, demikian pula sebaliknya, bahkan di atas kertas! Dengan beban yang lebih sedikit, bukankah pelaksanaan trimester dalam setahun hanya menyebarkan selang-seling dalam komposisi waktu belajar dan istirahat? Pada konsep trimester, waktu belajar mahasiswa akan “bercampur” dengan waktu istirahat secara lebih sering.

Sedangkan pada semester, dengan beban yang lebih tinggi, selang-seling tersebut tidak ditemui, karena blok-blok waktunya yang lebih ketat. Mahasiswa harus berkonsentrasi penuh pada periode belajar yang panjang, lantas diberi kesempatan istirahat pula dengan waktu libur yang tidak kalah panjang. Itu sebabnya libur antarperiode pada semester lebih panjang daripada trimester.

Perbedaan antara semester dan trimester ini tak ubahnya dengan dua orang yang mengonsumsi sepiring nasi goreng dan segelas es jeruk, masing-masing dengan cara berbeda. Yang satu memilih untuk meneguk minumannya setiap kali selesai dengan sesuap nasi. Sedangkan yang satu lagi memilih menghabiskan makanannya lebih dulu, sebelum akhirnya menandaskan minumannya.

Begitu pula dengan perkuliahan. Ada mahasiswa yang lebih bisa memahami materi dengan durasi waktu belajar yang panjang dan penuh, tapi menuntut satu waktu istirahat khusus yang panjang dan penuh pula. Ada juga mahasiswa yang lebih bisa menyerap materi dengan durasi waktu belajar yang pendek-pendek dengan waktu istirahat yang pendek-pendek, tapi sering. Ini cuma masalah selera saja, bukan sesuatu yang prinsipil untuk dipermasalahkan!

Setiap sistem pasti datang dengan membawa kelebihan dan kekurangan. Yang terpenting bukan sistem mana yang paling benar, tapi bagaimana cara yang tepat untuk mengelola kelebihan dan kekurangan masing-masing sistem.

Selama ini, praktek trimester masih belum sesuai dengan idealismenya. Batas maksimum SKS yang 16 per periode itu masih sering dilanggar dengan fakta bahwa ada mahasiswa yang bisa mengambil SKS hingga lebih dari 20! Dengan kenyataan ini, konsep dan idealisme trimester tidak bisa begitu saja dicap jelek, karena masalah ada pada implementasinya.

Begitu pula dengan semester. Ia tidak bisa dengan seenaknya dianggap lebih buruk dari trimester, karena ada fakta historis yang menunjukkan bahwa Satya Wacana pernah mengalami masa kejayaan dengan sistem ini.

Harijono ternyata juga tidak lebih pintar dari BPMU dan Titaley. Ia juga sama “sia-sia”-nya, karena masih mau terpancing menanggapi argumen Titaley yang tidak “bergigi.” Jika Titaley berbicara sesukanya waktu itu, apa semester akan langsung berganti dengan trimester lagi? Harijono mestinya diam saja. Itu sudah cukup. Tapi sikap Harijono ketika sarasehan reaktif sekali.

Pihak lain yang dapat pula dikatakan “sia-sia” (selain BPMU, Titaley, dan Harijono), karena ikut andil dalam sarasehan tersebut, adalah Kris Timotius (Rektor), Daniel Kameo (WR I), dan Rini Darmastuti (Kaprogdi Public Relation Program Profesional). Timotius adalah orang yang menyampaikan sambutan, sekaligus nada dasar. Kameo adalah salah satu pembicara. Sedangkan Darmastuti adalah moderator. Mereka semua membuang waktu untuk kegiatan sia-sia macam sarasehan ini (sia-sia karena tidak memberi kontribusi nyata, tapi hanya bersifat retorik). Wong isinya ya cuma retorika-retorika aja!

Sedangkan saya sendiri? Saya memang membuang waktu dengan mengomentari sarasehan yang “sia-sia” tersebut. Ini saya lakukan agar Satya Wacana bisa belajar dari kesia-siaan yang telah dibuatnya. Saya tidak ingin Satya Wacana terus melakukan kesia-siaan seperti ini.

***

Vonis bahwa sivitas akademika Satya Wacana tidak sehati dan kompak, hanya karena ada dua sistem dalam satu kampus, adalah vonis yang mentah. Setiap disiplin ilmu punya pendekatannya masing-masing. Tidak bisa dipaksakan untuk sama satu dengan yang lain. Akan lebih baik jika sistem kalender akademik Satya Wacana dapat mengakomodir perbedaan-perbedaan tersebut.

Fakultas yang merasa lebih cocok dengan tiga periode (trimester), silakan berjalan dengan sistemnya. Begitu pula dengan yang hanya dua periode. Selama perbedaan ini masih pada tujuan yang sama (yakni demi kepentingan ilmu pengetahuan), seharusnya tidak perlu ada masalah. Yang harus diingat adalah setiap fakultas wajib bertanggungjawab atas pilihannya masing-masing.

***

Opini ini baru mengalami penyuntingan editor pada 4 April 2008 (sehari setelah publikasi). Sebelumnya, opini ini tampil dengan melanggar prosedur publikasi. Dokumen asli masih dapat dibaca di sini.

Aqirana A. Tarupay
Editor

Tag: , ,

66 komentar telah masuk. Apa pendapat anda?

Halaman: [7] 6 5 4 3 2 1 » Lihat Semua

  1. Komentar ke-66

    Bagaimana Universitas bisa membentuk produk seperti itu tetapi memperlakukan konsumen sebagai kelinci percobaan. peace.

  2. Komentar ke-65

    mas-mas ato mba-mba, saya mau tanya kenapa sistem perkuliahan di uksw jadi morat -marit seperti ini?
    katanya uksw adalah salah satu dari sepuluh universitas swasta terbaik se-indonesia, tapi kenapa hal-hal seperti ini jadi masalah besar yang berlarut-larut.kami ga tau apa dengan peralihan NAMA dari trimester menjadi SEMESTER dalam randa kutip benar- benar akan menjamin kualiatas mahasiswanya karena setahu kami di uksw kata SEMESTER dan TRIMESTER memiliki arti yang sama, keduanya memiliki masa perkuliahan sekitar 2,5 - 3 bulan saja ( benarkah para pegawai/staf/dosen/petinggi-petinggi uksw tak tau berbahasa indonesia yang baik dan benar? dimanakah perbedaan kata SEMESTER dan TRIMESTER? ). JAWABNYA ada di pembayaran uang kuliah mahasiswa. dengan sistem semester+semester PENGAYAAN ( apa pula ini? semester kok ada pengayaan dan wajib pula alamak….ckckckckckck ) pembayaran spp jadi melunjak…( kami hanya mahasiswa yang tidak tau apa -apa dan hanya ingin mencari jawaban atas pertanyaan -pertanyaan kami )
    kesulitan lain yang kami hadapi adalah dengan baban kuliah maksimum sekitar 26 sks yang diberikan / dapat dilihat pada saat kami SIASAT kami jadi bingung harus bagaimana, dengan uang kuliah yang MAHAL kami memang diperbolehkan mengambil mata kuliah dengan beban maksimum 26 sks ( hal ini sih sudah layaknya sebuah sistem semester yang sebenarnya ), tapi coba lihat waktu untuk perkuliahan yang hanya 2,5 - 3 bulan apa kami tidak akan MATI untuk belajar. dengan waktu 2,5 -3 bulan sangatlah tidak wajar kami bisa menyelesaikan perkuliahan 26 sks yang mungkin sekitar 8 -9 mata kuliah. ckckckckckck dimana pemikiran dan pertimbangan dari penentu kebijakan ini. akhirnya walau berat kami dengan perhitungan seperti diatas lebih memilih mengambil mata kuliah yang jauh dari beban maksimum sekitar 15 sks yang setara dengan 5 matakuliah ( kok kembali seperti trimester bayarnya aja lebih mahal spp jadi 1,8 juta setahun dari 1,2 juta pada trimester ). coba teman - teman mahasiswa berpikir apa kita sebagai mahasiswa tidak dirugikan dalam hal ini sudah bayar mahal dikejar-kejar waktu, kualitas tidak dapat…
    usul saya sebaiknya hal ini segera dituntaskan jangan dibiarkan berlarut - larut kalau memang kita uksw mau menganut sistem semester buat apa pake semester pengayaan kenapa tidak seperti universitas - universitas lain aja yang menganut sistem yang benar -benar SEMESTER, terserah deh nanti pada waktu libur kalo ada mahasiswa yang ingin mengambil semester pendek, pengayaan kok WAJIB ckckckckckck aneh deh apa gak kelihatan kedok UANG dibelakangnya.
    himbauan buat petinggi -petinggi yang duduk diatas sana jadilah petinggi - petinggi yang bijak.
    selesaikan masalah yang tidak jelas ini sehingga kami mahasiswa bisa tenang berkuliah.
    ini hanya masalah sepele lo bapak - bapak/ ibu- ibu.
    kami rasa ada masalah yang lebih besar dari pada masalah ini contoh kasus MASALAH AKREDITASI. ada fakultas yang progdinya belum terakreditasi sebut saja progdi fisika, teman - teman mahasiswa dari progdi fisika yang kami tanyai akan menjawab wah itu sudah lagu lama sampai sekarang gak jelas mas statusnya, dari awal berdirinya sampai sekarang ga ada statusnya. apa masalah ini gak memprihatinkan buat bapak - bapak / ibu -ibu. dan sebagai anggota keluarga uksw saya lebih setuju jika para petinggi -petinggi lebih memberikan OTAK-nya untuk masalah ini dari pada sekedar masalah trimester/semester yang pada hakekatnya sama aja.
    sekian dan terima kasih.

  3. Komentar ke-64

    Bung Nimbrung,

    rasanya anda tidak baca tulisannya dengan baik, atau perlu pakai kacamata? masa trimester dibaca semester? memang, di tahun 2007 UKSW memerhalus penyebutan trimester menjadi 3 semester dalam satu tahun akademik. namun, ide dasarnya adalah trimester dan trimester beda maknanya dari semester.

    silahkan ketik academic term di google dan click salah satu link yang disediakan dari hasil pencarianmu itu, yakni dari wikipedia. di sana anda akan diinformasikan bahwa saat ini ada berbagai pilihan pengelolaan satu tahun akademik menjadi 2 terms (semester), 3 terms (trimester), 4 terms (quarter system atau dimester). opsi sebetulnya lebih banyak dari itu.

    zaman dulu sebelum semester dikenal, perkuliahan berlangsung dengan sistem tingkat yang berbasis 1 tahun penuh. baru tahun 60an semester diperkenalkan. dan, UKSW adalah pengguna sistem kredit semester pertama kali di Indonesia, di awal 1970an. di akhir 60an baru trimester diperkenalkan di barat untuk menjadi pengganti semester, namun tidak berhasil mengambil alih tempat semester.

    pilihan lain adalah 5 term dalam satu tahun. ini barangkali menjawab sergahan pak Harijono, soal mengapa tidak dibagi menjadi 4, 5, 6.. kalau 4, di amerika juga sudah lazim. apa yang dikenal dengan quarter system di amerika ya membagi tahun akademik menjadi 4 term, 3 full term plus 1 summer school. 4 term dalam setahun juga menjadi pilihan pola sekolah2 dasar dan menengah di australia. jadi, 4 term, siapa takut? nah, yang 5 term, tentu mengagetkan. kok bisa? coba cek di websiet universitas wageningen di belanda. univ ini menyelenggarakan 5 term dalam setahun. ini juga menyanggah penulis artikel, mas Satria, yang mengatakan ada fakultas yang tidak cocok dengan trimester, atau lebih cocok semester. fakultas apa sih yang tidak cocok? yang saya dengar, teknik elektro dan pertanian. universitas teknik delft di belanda = fakultas teknik elektro kita dan mereka jalan dengan 4 term yang mereka istilahkan dimester. sedangkan universitas wageningen = fakultas pertanian (dan biologi) yang jalan dengan 5 term. lha kok bisa? catatan ini sudah saya kemukakan sebelumnya, tapi diulangi supaya yang belakangan gabung bisa mendapat informasi tersebut juga.

    jika dilihat segala kemungkinan itu, dari 2 - 5 term dalam setahun, maka implikasinya lama minggu kuliah pun bervariasi. tapi, umumnya terentang dari 8 minggu hingga 15 minggu. saya kira akan lebih lazim dijumpai 10 minggu, atau maksimum 12 minggu. kita di Indonesia memang terbiasa dengan semester yang panjang2. kata Dikti, wajib minimum 16 minggu. pertanyaannya, apakah iya yang 16 minggu lebih efektif dari yang 10 - 12 minggu? sebuah penelitian menunjukkan bahwa dengan pengondisian tertentu, kadangkala kuliah intensif hasilnya lebih bagus dari kuliah dalam semester normal. pertanyaannya apa yang dimaksud dengan pengondisian itu?

    bagi saya, paling tidak ada 2 isu penting, yakni 1) beban mata kuliah dalam satu term, 2) metode belajar mengajar. berapa banyak beban yang normal? jawabannya juga bervariasi, tergantung jumlah term dalam 1 tahun. namun, kalau rajin mencari, anda akan menemukan bahwa lazimnya dalam 1 term, mahasiswa di manapun hanya mengambil sekitar 3 - 5 mata kuliah. kalau yang semester rata-rata mengambil 4/term (jika ditambah 1 di summer school, maka total 9/tahun). sedikit univ/college yang menawarkan 5 mata kuliah. kalau yang trimester biasanya 3/term sehingga total 9/tahun. sekarang anda bandingkan dengan di Indonesia. berapa banyak yang anda ambil per term dan per tahun? bukankah itu angka yang fantastis?

    saking fantastis-nya angka itu, maka bisa dimengerti jika proses dan metode belajar/mengajar (disingkat PBM) di Indonesia lebih suka menempatkan mahasiswa sebagai pendengar setia, sedikit tugas, dan evaluasi kebanyakan bertumpu pada tes tengah dan tes akhir. karena itu, anda (para mahasiswa) dan saya (para dosen) lalu merasa bahwa kita bisa handle banyak mata kuliah dalam satu term dan karena itu 2 semester cukup dan kita bisa punya waktu jeda/libur yang panjang antar semester sebelum ‘berperang’ lagi (jadi alangkah senangnya mengajar di sistem semester, sudah relatif santai, waktu jeda panjang, luar biasa enaknya).

    tapi, sekarang coba anda buka buku peraturan akademik yang anda terima sejak menjadi mahasiswa baru. apakah benar perkuliahan anda sudah berjalan seperti tertulis dalam buku itu? jawabannya: sama sekali TIDAK. jadi, kita belum menjalankan PBM kita seperti yang seharusnya. bagaimana kalau menjalankan yang seharusnya? kalau anda mahasiswa pandai dan boleh ambil 24 sks dalam satu semester dan anda manfaatkan itu, itu membuka peluang bagi anda untuk ambil minimal 8 mata kuliah (kalau semua 3 sks di kebanyakan fakultas, atau kalau di fe bisa 6 mata kuliah kalau 4 sks semua tapi konsekuensinya ada 2 kali pertemuan @ 2 sks setiap minggu) hingga 12 mata kuliah (jika @2 sks semua). anda bisa bandingkan betapa super-nya anda dibandingkan mahasiswa lain di seluruh jagad raya ini? mereka 3-4 mata kuliah berbanding anda 8 - 12 mata kuliah. ruar biasa!!!

    implikasi jam kuliah anda? 1 sks (kasarnya) 1 jam kuliah, 1 jam tugas, 1 jam belajar = total 3 jam SETIAP MINGGU. jadi kalau 24 sks (ambil yang maksimum) x 3 jam = 72 jam. kalau kuliah kita terhitung 5 hari dalam seminggu, maka dalam 1 hari kalau dibagi rata anda bisa 2 kali kuliah, plus ada 2 hari tertentu yang 3 mata kuliah (2 x 5 = 10 + 2 = 12). bayangkan, jika setiap mata kuliah memberi tugas dan meminta anda baca buku/bacaan pendamping sebelum masuk kelas. setiap hari anda harus persiapkan diri untuk kerjakan tugas dan baca untuk 2-3 mata kuliah/hari. luar biasa!!! saya berani yakin kalau rambut anda tidak cepat putih seperti saya yang mulai banyak uban ini, ya kemungkinan lain rontok dan botak. itulah mengapa 3 hingga 4 atau maksimal 5 mata kuliah adalah wajar atau masih wajar dalam 1 minggu.

    bagaimana konsekuensi jam-nya? 72 jam/5 = 14,4 jam/hari setiap hari, hanya untuk kuliah, tugas, dan belajar. kalau anda tidur 8 jam (normal), maka sudah 22, 4 jam/hari. tinggal 1,6 jam per hari untuk lain-lain: mandi, makan, pacaran, olahraga, baca buku cerita, nonton film, berorganisasi, dll. apakah itu wajar? jawabannya: JELAS TIDAK!!! akibat, agar hidup anda selama berkuliah masih bisa wajar (masih ada waktu untuk kegiatan lain2) ya anda kemungkinan akan kurangi waktu tidur. celakanya, kalau dosennya tetap nekat beri tugas dan kasih bacaan setiap minggu dan anda tidak mau kurangi waktu tidur, maka pilihan anda adalah CHEATING: tunggu teman lain sudah buat tugas, anda todong mereka agar anda bisa contek tugas mereka. bagaimana dengan membaca? kalau sudah tidak sempat, dalam hati anda akan berkata, “mudah-mudahan dosenku tidak tanya saya, karena saya belum baca.” kalau tidak ya ndableg, ditanya ya enteng, “maaf, saya belum baca.” sekali mungkin masih bisa diterima. dua kali atau lebih, “anda sudah lari keluar lewat jendela, barangkali!”, saking marahnya dosen ‘edan’ itu.

    karena itu, jelas model semester dengan menjalankan sistem kredit semester yang benar adalah tidak masuk di akal sehat kita. itu baru hitungan beban fisik waktu. belum stress karena beban tugas mata kuliah: baca buku/artikel tidak mudeng2; disuruh selesaikan persamaan matematika, otak tidak jalan2; disuruh buat percobaan laboratorium gagal dan gagal dan gagal lagi; disuruh baca karya sastra kok lebih nyantol komik bergambar yaa… lalu, waktu anda akan bertambah untuk pergi dokter, periksa, dapat obat, dan tidur karena sakit akibat kecapekan dan stress. kalau stress super berat, anda mengalami burn-out, mungkin anda perlu psikolog atau psikiater sekalian. inikah yang kita cari? JELAS TIDAK.

    seorang teman saya sedang berkuliah di salah satu universitas di salah satu negara asing. dia mengambil 4 mata kuliah dalam 1 term. ia menggambarkan keadaannya kepada saya, waduh saya sudah tidak bisa buat apa-apa lagi, selain belajar dan menyelesaikan tugas-tugas mata kuliahnya itu. tentu, dia telah mencadangkan waktu untuk bisa istirahat dan refreshing, untuk menjaga life - work/study balance. bayangkan, cuma 4 mata kuliah komentarnya demikian. lalu, sanggupkah anda untuk handle 8 mata kuliah atau lebih, dalam sistem seperti itu (belajar dengan benar dan benar2 belajar)?

    jadi, logika perhitungan operasional untuk semester di Indonesia = TIDAK NORMAL, TIDAK MASUK AKAL! kalau sekarang kita bisa jalankan ya karena kita semua korupsi sistem itu. saya sebagai dosen cuma mengajar, jarang beri tugas (saya menikmati sekali kondisi ini karena kalau beri tugas banyak2 toh saya sendiri yang susah, periksa-an-nya banyak, apalagi kalau ngampu banyak mata kuliah). sedangkan anda sebagai mahasiswa juga cuma datang duduk, dengar, dan catat (itupun masih banyak yang tidak punya catatan dan akan berburu catatan teman2nya ketika waktu tes datang). tugas ada tapi sangat jarang. baca buku teks atau bacaan lain jarang sekali atau bisa dikatakan tidak pernah (toh dosen akan menjelaskan di kelas) (anda juga kayaknya menikmati sekali, soalnya kalau banyak tugas waktu anda tidak bisa untuk jalan-jalan, main, etc). bukankah begitu kenyataan kita? tapi, itukah belajar di perguruan tinggi? saya yakin BUKAN!!!

    jadi, itulah konsekuensi dari semester yang anda banggakan itu yang telah menggiring anda berkata: “YA ampun tolong baca di kamus dong definisi semester, profesor2 sekalian!” karena itu, kini, sebelum anda menuding para professor itu, rasanya anda yang perlu banyak baca lagi supaya paham dengan lebih baik lagi. biar bisa bedakan trimester dari semester. bisa pahami apa tuntutan setiap format academic term yang dipilih/pertimbangkan.

    tentu realitas kita tidak akan sekeras gambaran atau hitung2 di atas karena kita bermain di dunia manusia, bukan dunia benda2 saja. ada pertimbangan apa yang masih tergolong wajar bagi manusia. cuma, paling tidak gambaran perhitungan di atas bisa menunjukkan bahwa pilihan yang diambil perlu juga lebih manusia, dalam tindakan yang tetap masih bertanggungjawab: tanggung jawab pada anda dan para mahasiswa lain, tanggung jawab pada orang tua, tanggung jawab pada pemerintah, masyarakat, dan Tuhan untuk sebuah pelayanan pendidikan yang benar-benar bermutu. bahwa masih ada banyak perbaikan yang harus dibuat oleh UKSW untuk membuktikan bahwa benar-benar bermutu, itu tidak dapat dipungkiri. tapi, mari mulai dari pilihan dasar kita: trimester masih lebih baik dari semester!!!

  4. Komentar ke-63

    waduh sistem baru nya kok kaya sistem baru bangun yah????????????
    sejak kapan semester itu terhitung DUA SETENGAH BULAN?????
    Saya bukan memprotes masalah tulisan kesia-siaan di atas. tapi masalah sistem baru bangun yang sama sekali tidak diperkuat apapun.
    Masa awal perkuliahan 1 sept terus akhir perkulnya 19 Des???
    dan batas penyerahan nilai terakhir itu 2 januari???? (enak bgt yah jadi dosen UKSW)
    YA ampun tolong baca di kamus dong definisi semester, profesor2 sekalian!
    bikin sistem mbok yang matang dan disesuaikan per fakultas supaya flow chart nya ga “kemrungsung”
    Disesuaikan dengan jumlah SDM dan kemampuan SDM.
    Perhatikan mahasiswa bukan hanya sebagai konsumen. tapi sebagai produk.
    Mahasiswa mungkin belum punya otak. Karena itu tolong yg di atas menggunakan otak untuk membantu mahasiswanya.

  5. Komentar ke-62

    waduh? kesia2 an mengundang Titaley ? untuk menjelaskan trimester? how come? yang akan diganti ialah trimester menjadi semester. mustinya dengan sarasehan tersebut, opini dari penggagas mustinya di perhatikan dan dijadikan perbandingan. Kenapa sia-sia?
    Tahun ini merupakan tahun transisi? karena belum ada evaluasi!
    mahasiswa diperhatikankah kalau menjadi alat evaluasi???
    okeylah kalau memang menghadapi perubahan,pasti ada pro kontra..
    Tapi ini adalah sebuah Institusi pendidikan. bukan pabrik tempe!
    obyek dari institusi pendidikan ini itu mahasiswa, yang diharuskan melewati sistem baru ini.
    mahasiswa tidak bisa memilih!

    contoh simplenya aja ya di trimester.
    Yg saya alami tagihan awal 8 sks plus SPP
    waktu trimester akhir2 yang saya ambil setiap trimester cuma sedikit karena kehabisan kelas dan alasan lain. Misal saya hanya tinggal mengambil 4 sks dan sisa 4 sks, Sks bisa ditransfer untuk bayar pelunasan atau semester depan.

    Sekarang?
    Wuow….! harus ngambil 12 SKS langsung plus SPP??(yg kalo di fak saya terhitung 1,2 juta lebih) padahal mata kuliah tinggal 1 karena mata kuliah hanya dibuka setahun 3 kali.. bukan karena ngulang tapi karena memang bertabrakan dengan mata kuliah yg lain (mahasiswa harus bisa memprioritaskan kan?)
    Dan kemaren ada semester pengayaan yang kurang dari 3 bulan, yang pembayaran awal sama pelunasan jaraknya deket. Sudah harus membayar 12 SKS lagi??!
    REsminya saya harus mengambil 5 sks aja, tapi harus membayar sisa 7 sks yang jumlahnya kurang 10rb lagi jadi 500 ribu?!!!
    Ke kantong siapa sisa 7 sks tadi????

    Sistem diubah, bisa nggak ngubah SDM nya juga????
    untuk lebih berpikir kritis lagi?
    mahasiswa bukan cuma sebagai konsumen di sini tapi juga sebagai produk.
    Bagaimana Universitas bisa membentuk produk seperti itu tetapi memperlakukan konsumen sebagai kelinci percobaan. Di mana-mana kelinci percobaan juga dibayar bukan malah bayar profesornya.

  6. Komentar ke-61

    [...] “Hari Kesia-siaan UKSW” sengaja ditulis oleh Satria Anandita untuk tulisannya (sebelum dikritik, Satria pernah [...]

Halaman: [7] 6 5 4 3 2 1 » Lihat Semua

Berikan pendapat anda. Bergabung dalam diskusi.

PERHATIAN. Setiap komentar akan melewati proses moderasi sebelum tampil. Silakan berkomentar dengan sopan dan bertanggungjawab. Komentar anonim atau alias tetap diperbolehkan, namun kami mengimbau agar anda sudi menunjukkan identitas asli. Komentar yang menyinggung isu SARA atau melanggar etika kesopanan tidak akan ditampilkan.

SPONSOR LINK