Ketika tahun akademik 2007/2008 di UKSW dimulai, ada dua orang yang berbeda pendapat didamaikan. Mulanya, orang pertama ingin berjalan di jalan A. Sedangkan orang kedua lebih memilih jalan B. Akhirnya ditempuh jalan perdamaian yang cukup lebar untuk mengatasi jarak antara jalan A dan B. Sebut saja jalan itu dengan nama “AB.” Dengan jalan AB, orang pertama boleh tetap menempuh jalan A. Begitu pula dengan orang kedua, tidak dilarang untuk menjalani jalan B. Tidak masalah, karena masih satu tujuan.
Tapi pada 31 Maret 2008, kedua orang tersebut tiba-tiba menjadi bodoh. Mereka kembali berdebat, jalan mana yang paling baik dan benar. Mereka menafikan begitu saja kesepakatan dan perdamaian yang mereka capai di awal tadi. Mengherankan bukan?
Sarasehan bertajuk “Ada Apa dengan Sistem Perkuliahan UKSW?” yang diselenggarakan BPMU (Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas) tiga hari lalu terjadi bersamaan dengan kebodohan dua orang tersebut. Atau mungkin, akan lebih tepat jika dikatakan bahwa sarasehan itu memicu kebodohan mereka.
Sarasehan tersebut mengangkat pembahasan tentang sistem kalender akademik yang berlaku di UKSW. Narasumber yang dihadirkan adalah Daniel Kameo, Harijono, dan John Titaley. Kameo dan Harijono diminta berbicara dengan kapasitas sebagai wakil rektor. Sedangkan Titaley sebagai mantan Rektor UKSW, sekaligus sebagai pencetus trimester.
Pada sesi pertama, Kameo, yang WR I (urusan akademik) itu, berbicara panjang lebar tentang penyelenggaraan sistem kalender akademik UKSW yang mampu “mengakomodir” dua sistem sekaligus, yakni sistem yang dalam setahun menggunakan tiga periode untuk kegiatan kurikuler (lazim disebut “trimester”) dan yang dalam setahun hanya menggunakan dua periode untuk kegiatan kurikuler (lazim disebut “semester”).
Sistem yang digunakan UKSW sejak 2007/2008 memang mampu ber-“Bhinneka Tunggal Ika.” Namun sebelum tahun akademik tersebut, trimester memang yang jadi sistem tunggal. Sebagai referensi tambahan, baca juga berita berjudul “Semester atau Trimester: Kado 51 Tahun UKSW” yang diturunkan Scientiarum, 10 Desember 2007.
Harijono diberikan kesempatan berbicara pada sesi kedua. Dalam kapasitas sebagai WR II (urusan keuangan), ia menjelaskan bagaimana dampak perubahan sistem kalender akademik 2007/2008 terhadap sistem pembayaran kewajiban keuangan mahasiswa. Sebagai catatan, perubahan hanya terjadi untuk fakultas yang beralih dari sistem tiga periode kurikuler menuju dua periode kurikuler.
Jika sebelumnya (pada sistem trimester/tiga periode kurikuler) besar SPP setahun adalah tiga kali Rp 200 ribu (tiap periode sebesar Rp 200 ribu), maka kini besar SPP per periode adalah tiga kali Rp 200 ribu lalu dibagi dua, sehingga menjadi Rp 300 ribu. Memang jadi lebih mahal, tapi totalnya dalam setahun tetap sama. Hal ini berlaku pula untuk uang layanan mahasiswa. Sedangkan uang SKS tetap dibayar sesuai dengan jumlah SKS yang diambil.
Sampai pada titik ini, sarasehan bersifat memberi pemahaman. Mahasiswa jadi tahu sistem apa yang mereka hadapi dan bagaimana cara menghadapinya. Dualisme (kalau masih mau disebut demikian) sistem tidak dipermasalahkan. Tapi sesi ketiga yang argumentatif dari John Titaley malah membuat provokasi.
Dengan kapasitasnya sebagai mantan rektor yang mencetuskan trimester di UKSW, Titaley kemudian membeberkan apa yang disebutnya sebagai “keunggulan trimester dibanding semester.” Trimester memang diprakarsai dan mulai diterapkan ketika Titaley menjabat sebagai Rektor UKSW kelima, tahun 2001-2005.
Jumlah syarat SKS minimal yang harus diselesaikan mahasiswa untuk mencapai S1 adalah 144. Ketentuan Dikti (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi) menyatakan bahwa dalam satu tahun, mahasiswa hanya diperbolehkan mengambil jumlah SKS maksimum sebanyak 48. Dengan ketentuan ini, seorang mahasiswa yang cerdas dapat mencapai gelar sarjananya dalam waktu paling cepat 3 tahun. Sedangkan yang tingkat kecerdasannya “normal” dapat mencapainya dalam waktu 4 tahun (setahun mengambil 36 SKS).
Apabila beban setahun mahasiswa “normal” ini diselenggarakan dengan dua periode dalam setahun (semester), maka beban untuk masing-masing periode adalah 18 SKS. Sedangkan 1 SKS bernilai 3 jam (1 jam tatap muka, 1 jam terstruktur, dan 1 jam mandiri), berarti 18 SKS setara dengan 54 jam dalam seminggu. Jika jumlah ini dibagi 5 (jumlah hari efektif perkuliahan), mahasiswa harus belajar 10,8 jam dalam sehari.
Berbeda dengan semester, trimester membagi beban 36 SKS menjadi tiga. Tiap periode mendapat jatah 12 SKS. Dengan 12 SKS, mahasiswa akan menghabiskan 36 jam waktu belajar seminggu, dan 7,2 jam sehari (setelah dibagi 5 hari efektif). Titaley berpendapat, dengan beban belajar yang lebih sedikit, mahasiswa dapat lebih mudah menguasai materi kuliah. Mahasiswa juga jadi punya lebih banyak waktu untuk mengembangkan keterampilan lain (soft skill).
“Di atas kertas, trimester lebih baik daripada semester,” klaim Titaley, “Dan saya belum pernah diyakinkan dengan alasan-alasan akademis maupun pedagogis untuk kembali ke sistem semester.”
Selain alasan pedagogis, Titaley juga merujuk kepada Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 pasal 8 ayat 2 yang menetapkan jumlah minimal periode dalam satu tahun akademik adalah 2, dengan durasi minimal 16 minggu. Ini berarti sistem trimester tidak menyalahi aturan legal-formal.
Sudah filosofisnya bagus, legal pula. Kurang apa lagi?
Harijono rupanya gerah dengan rasionalitas Titaley. Kendati demikian, ia nampak tak mampu mematahkan argumen Titaley, sehingga ia bermaksud melemparkan wacana tandingan sebelum ia keluar dari forum dengan alasan “ada rapat.”
“Kalau memang trimester lebih baik dari semester, kenapa (satu tahun akademik) tidak sekalian dibagi 4, 5, 6, dan seterusnya?” tanya Harijono. Suaranya lantang. Forum sarasehan pun dipenuhi tepuk tangan.
Harijono sedikit sial. Titaley keburu menjawab pertanyaan itu sebelum ia sempat bangkit dari kursi pembicara.
“Permasalahannya bukan pada pembagian menjadi 4, 5, 6, dan seterusnya,” jawab Titaley, “Tapi logikanya ada pada jumlah 12 SKS.” Titaley menganggap jumlah ini adalah ideal untuk beban kuliah mahasiswa “normal.”
***
Pihak pertama yang layak disebut “sia-sia” adalah BPMU, karena telah meminta Titaley berbicara dalam kapasitas sebagai mantan rektor, untuk “mempertanggungjawabkan” (baca: menjelaskan ulang) gagasannya mengenai trimester. Menjelaskan ulang konsep trimester bisa diartikan “mengusik” sistem semester yang sedang dijalankan. Inilah kesia-siaan itu!
Keputusan untuk berganti sistem baru saja diambil beberapa bulan yang lalu (belum ada setahun). Sistem yang baru juga belum sepenuhnya diterapkan (WR I mengatakan bahwa tahun ini masih merupakan tahun transisi. Implementasi secara penuh baru akan dilakukan pada tahun akademik 2008/2009 — Red). Singkat kata, aliran manajemen belum sampai pada tahap evaluasi. Padahal, tanpa hasil evaluasi yang meyakinkan, bagaimana mungkin sebuah keputusan/kebijakan akan diubah/direvisi?
Hasil sarasehan itu pun jadi mentah, tidak memberikan efek apa-apa terhadap kebijakan yang tengah berjalan. Sarasehan ini memang adalah “the right man” (sebagai wadah komunikasi dan aspirasi), tapi ia berada pada tempat dan waktu yang salah (wrong place and wrong time).
Jika BPMU benar-benar ingin memberikan kontribusi yang riil untuk penyusunan kebijakan universitas yang lebih baik di masa depan, mestinya BPMU menunggu waktu dan melihat proses, sambil mengumpulkan data untuk evaluasi. Dan selagi menunggu, bukankah masih ada masalah lain yang lebih relevan untuk dikaji (seperti nafas pembelajaran elektronik yang masih tersengal-sengal, akibat rendahnya penguasaan teknologi di UKSW)? Pelayanan internet mahasiswa di Posnet juga masih banyak masalah!
Namun, jika BPMU memang hanya ingin mencari sensasi dan apresiasi yang timbul dari hal-hal retorik, maka saya ingin mengucapkan selamat atas keberhasilannya!
Titaley, walau tampil “menawan” dengan segala rasionalitasnya, tetap saja dapat disebut “sia-sia,” karena telah memenuhi undangan “sia-sia” BPMU. Kenapa Titaley mau meladeni kesia-siaan macam itu? Jika seandainya waktu itu trimester memang terbukti lebih baik di atas kertas, lantas perubahan apa yang akan timbul?
Sebenarnya, trimester tidak lebih baik daripada semester, demikian pula sebaliknya, bahkan di atas kertas! Dengan beban yang lebih sedikit, bukankah pelaksanaan trimester dalam setahun hanya menyebarkan selang-seling dalam komposisi waktu belajar dan istirahat? Pada konsep trimester, waktu belajar mahasiswa akan “bercampur” dengan waktu istirahat secara lebih sering.
Sedangkan pada semester, dengan beban yang lebih tinggi, selang-seling tersebut tidak ditemui, karena blok-blok waktunya yang lebih ketat. Mahasiswa harus berkonsentrasi penuh pada periode belajar yang panjang, lantas diberi kesempatan istirahat pula dengan waktu libur yang tidak kalah panjang. Itu sebabnya libur antarperiode pada semester lebih panjang daripada trimester.
Perbedaan antara semester dan trimester ini tak ubahnya dengan dua orang yang mengonsumsi sepiring nasi goreng dan segelas es jeruk, masing-masing dengan cara berbeda. Yang satu memilih untuk meneguk minumannya setiap kali selesai dengan sesuap nasi. Sedangkan yang satu lagi memilih menghabiskan makanannya lebih dulu, sebelum akhirnya menandaskan minumannya.
Begitu pula dengan perkuliahan. Ada mahasiswa yang lebih bisa memahami materi dengan durasi waktu belajar yang panjang dan penuh, tapi menuntut satu waktu istirahat khusus yang panjang dan penuh pula. Ada juga mahasiswa yang lebih bisa menyerap materi dengan durasi waktu belajar yang pendek-pendek dengan waktu istirahat yang pendek-pendek, tapi sering. Ini cuma masalah selera saja, bukan sesuatu yang prinsipil untuk dipermasalahkan!
Setiap sistem pasti datang dengan membawa kelebihan dan kekurangan. Yang terpenting bukan sistem mana yang paling benar, tapi bagaimana cara yang tepat untuk mengelola kelebihan dan kekurangan masing-masing sistem.
Selama ini, praktek trimester masih belum sesuai dengan idealismenya. Batas maksimum SKS yang 16 per periode itu masih sering dilanggar dengan fakta bahwa ada mahasiswa yang bisa mengambil SKS hingga lebih dari 20! Dengan kenyataan ini, konsep dan idealisme trimester tidak bisa begitu saja dicap jelek, karena masalah ada pada implementasinya.
Begitu pula dengan semester. Ia tidak bisa dengan seenaknya dianggap lebih buruk dari trimester, karena ada fakta historis yang menunjukkan bahwa Satya Wacana pernah mengalami masa kejayaan dengan sistem ini.
Harijono ternyata juga tidak lebih pintar dari BPMU dan Titaley. Ia juga sama “sia-sia”-nya, karena masih mau terpancing menanggapi argumen Titaley yang tidak “bergigi.” Jika Titaley berbicara sesukanya waktu itu, apa semester akan langsung berganti dengan trimester lagi? Harijono mestinya diam saja. Itu sudah cukup. Tapi sikap Harijono ketika sarasehan reaktif sekali.
Pihak lain yang dapat pula dikatakan “sia-sia” (selain BPMU, Titaley, dan Harijono), karena ikut andil dalam sarasehan tersebut, adalah Kris Timotius (Rektor), Daniel Kameo (WR I), dan Rini Darmastuti (Kaprogdi Public Relation Program Profesional). Timotius adalah orang yang menyampaikan sambutan, sekaligus nada dasar. Kameo adalah salah satu pembicara. Sedangkan Darmastuti adalah moderator. Mereka semua membuang waktu untuk kegiatan sia-sia macam sarasehan ini (sia-sia karena tidak memberi kontribusi nyata, tapi hanya bersifat retorik). Wong isinya ya cuma retorika-retorika aja!
Sedangkan saya sendiri? Saya memang membuang waktu dengan mengomentari sarasehan yang “sia-sia” tersebut. Ini saya lakukan agar Satya Wacana bisa belajar dari kesia-siaan yang telah dibuatnya. Saya tidak ingin Satya Wacana terus melakukan kesia-siaan seperti ini.
***
Vonis bahwa sivitas akademika Satya Wacana tidak sehati dan kompak, hanya karena ada dua sistem dalam satu kampus, adalah vonis yang mentah. Setiap disiplin ilmu punya pendekatannya masing-masing. Tidak bisa dipaksakan untuk sama satu dengan yang lain. Akan lebih baik jika sistem kalender akademik Satya Wacana dapat mengakomodir perbedaan-perbedaan tersebut.
Fakultas yang merasa lebih cocok dengan tiga periode (trimester), silakan berjalan dengan sistemnya. Begitu pula dengan yang hanya dua periode. Selama perbedaan ini masih pada tujuan yang sama (yakni demi kepentingan ilmu pengetahuan), seharusnya tidak perlu ada masalah. Yang harus diingat adalah setiap fakultas wajib bertanggungjawab atas pilihannya masing-masing.
SATRIA A. NONOPUTRA
Wartawan Scientiarum
CATATAN
Opini ini baru mengalami penyuntingan pada 4 April 2008 (sehari setelah publikasi). Sebelumnya, opini ini tampil dengan melanggar prosedur publikasi. Dokumen asli masih dapat dibaca di sini.
Aqirana A. Tarupay
Editor
Memang perubahan itu perlu perjuangan…. maju terus uksw… jangan goyah imanmu..
Trus kalo semester mbayarnya ginama tuh… aku rencana mau masuk uksw taun depan nich..
Jika mengikuti pandangan yang saya kemukakan, perubahan tidak dimulai dari kondisi di mana semua orang sepakat. Perubahan selalu datang dari segelintir orang yang ‘nyleneh’. Bahasa para institutionalists adalah dari orang2 yang disebut sebaga institutional/organizational entrepreneurs. Mereka inilah yang nantinya melalui mekanisme2 tertentu menantang rasionalitas lama dan mendorong cara pandang baru. Pertanyaannya, kenapa harus berubah? John Kotter dalam bukunya Leading Change memandang perubahan hanya bakal bergulir kalau ada urgency of change. Karean itu, para institutional entrepreneurs tadi akan argue untuk meyakinkan yang lain bahwa memang ada urgensi perubahan, yakni kenapa kita tidak bisa jalan lagi dengan cara pandang dan cara hidup yang lama. Kembali ke Kotter, Ia berkata, jika tidak berubah, krisis-lah yang bakal dihadapi. Karena itu, pertanyaan saya, akankah kita (UKSW dan perguruan tinggi di Indonesia) menghadapi krisis dan karenanya kita tidak bisa membiarkan diri kita hanya melakukan sesuatu dengan cara lama dan karena itu harus berubah?
Teman2 bisa menjawab pertanyaan saya itu menurut versi masing2. Namun, paling tidak sejumlah fenomena bisa dipertimbangkan. Misalnya, pertama, tidak ada satu perguruan tinggi Indonesia pun yang masih peringkat elit dalam berbagai hasil pemeringkatan. Ini mengindikasikan lemahnya sistem pendidikan tinggi di Indonesia. Kedua, perekonomian Indonesia yang tadinya disebut sebagai salah satu dari the new emerging economies mudah terpuruk dan sulit bangkit2. Tapi, apa hubungannya dengan pendidikan? Fakta penunjang menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia digerakkan oleh porsi angkatan kerja dengan latar pendidikan rendah yang lebih besar. Namun, ada juga indikasi bahwa pengangguran sarjana juga cukup tinggi (nanti kita cek datanya). Fenomena macam begini rasanya riskan untuk ‘bertarung’ dalam perekonomian yang berbasis pengetahuan dan kreativitas/inovasi. Padahal, Richard Florida misalnya menganalisis bahwa para pemenang dalam kompetisi ekonomi dunia adalah para inovator atau ia menyebutnya the creative class. Dan, negara2 atau bahkan kota2 termaju saat ini proporsi the creative class-nya terus meningkat. Karena itu, pendidikan penting. Salah sa tu negara dengan pendidikan yang baik adalah Finlandia. Lebih dari 50% penduduknya berlatar pendidikan tinggi (setara master). Dan, Finlandia adalah salah satu negara kaya. Tahu Nokia? Lalu bagaimana kita?
Kembali ke sistem pendidikan tinggi, kegiatan belajar mengajar dan kontribusinya pada perekonomian nantinya, mana mungkin kita melahirkan para analis kritis dan para inovator kalau kita berkuliah dalam sistem yang justru mematikan cara berpikir kritis dan kreatif? Sistem seperti apa yang saya katakan sebagai mematikan pemikiran kritis dan kreativitas? Satu jelas beban yang berlebihan (terlalu banyak mata kuliah dalam satu term, bagaimana mungkin semua bisa dipelajari secara mendalam?). Beban belajar jelas harus banyak dalam setiap mata kuliah, agar terjadi deep learning, bukan surface learning. Tapi, bagaimana mungkin itu dilakukan bersamaan dengan subyek/mata kuliah yang terlalu beragama? Kedua, proses belajar yang berpusat pada dosen dan mahasiswa cuma pasif. Ketiga, proses belajar mengajar tidak pernah menuntut kita untuk menantang ‘kebenaran2′ tetapi justru mengekalkan kebenaran yang cuma ada satu yakni, dosen-ku-lah yang benar. Mungkin masih ada ciri yang lain lagi… silahkan teman2 tambahkan…
Mungkin ada yang akan merespon saya, ada kok kuliah yang tidak seperti yang jelek itu… benar.. tetapi, seberapa banyak yang begitu? Sangat kecil proporsinya, dugaan saya. Betul? Jadi, karena itu, sistem-lah yang harus digerakkan untuk menciptakan proses dan iklim belajar yang baik, sudah tidak cukup lagi hanya digerakkan oleh segelintir individu2 kreatif dan nyleneh (walau dimulai dari situ). Jadi, seperti argumen saya di atas, kita butuh institutional entrepreneurs untuk keluar dari kebiasaan lama, tetapi kini sudah saatnya kita untuk menggeser pendekatannya agar berjalannya sistemik, bukan cuma individual lagi.. artinya harus merubah sistem lamanya…
Nah, rasanya cuma ada dua kemungkinan (dalam perhitungan saya saat ini) untuk merubah pada skala sistem atau skala besar agar bisa menghadirkan sistem pendidikan yang mendorong pemikiran kritis, pembelarajan yang mendalam, dan kreativitas, yakni: 1) Dikti mengurangi jumlah total sks untuk memeroleh gelar sarjana (dari minimum 144 sks ke rentang 100-120 sks), implikasi akan terjadi perubahan jumlah mata kuliah untuk ’satu paket’ pendidikan. Namun, materi belajar dalam setiap mata kuliah justru akan didorong untuk lebih mendalam… Cuma, kemungkinan ini bersifat out of our control… Juga, ia terlalu politis-birokratis dan butuh waktu… 2) Universitas menggunakan otonomi ilmiah-nya untuk merekayasa sistem pendidikan internalnya… misalnya, apa yang telah ditempuh UKSW sejak 2002, mencoba mengganti pola semester lama ke trimester… dengan berupaya memenuhi (berpotensi meningkatkan) jumlah jam belajar/mengajar efektif..
Pertanyaannya, adakah hasil baik dari perubahan ke sistem trimester? Terlepas dari di awal2 orang mengeluh, fakta2 jelas menunjukkan, di antaranya… secara universitas, IPK rata-rata mahasiswa yang lulus cenderung membaik…. kecepatan studi pun lebih baik, alias mendekati waktu normal (belum memenuhi asumsi persis 4 tahun, untuk program S1)… proporsi mahasiswa dengan IPK tinggi lebih besar… beban kerja dosen di dalam satu semester turun… sejumlah dosen berhasil melakukan inovasi pengajaran…
Nah, tanda2 itu semestinya bisa menggiring kita ke arah sehati, kompak, etc itu… tapi, dasar hati manusia susah ditebak ya… balik lagi ke semester… nah, saya ingin tunggu hasil2 analisis apa kontribusi lebih dari kembali ke semester… memang, seperti catatan Lala, kita masih terbentur budaya usang kita yang telah sangat terbiasa di semester (ada libur panjang, evaluasi cuma beberapa kali tes (termasuk 1 TTS dan 1 TAS, dll)… tetapi percaya deh, perubahan kultur itu akan datang… toh, sudah ada indikasi perubahan2 itu sedang berlangsung di saat UKSW jalan dengan trimester… dan, silahkan cek dalam berbagai literatur manajemen perubahan… merubah budaya adalah hal paling sulit dan butuh waktu… karena itulah John Kotter menempatkannya dalam urutan terakhir… tetapi, syaratnya, konsisten dan untuk konsisten ya komunikasi yang terbuka, evaluasi berkelanjutan, dan terus mengoreksi kelemahan2 sistem..
Sebagai penutup, saya teringat sebuah tulisan di Kompas beberapa saat setelah euforia penyatuan Jerman seputar reaksi sebagian orang Jerman pasca penyatuan Jerman itu… ketika ternyata hidup di sistem ekonomi baru ternyata tidak juga mudah, orang2 yang tua-tua dari bekas Jerman Timur lalu meromantisasi, “seandainya kita bisa kembali ke masa Jerman Timur”.. sayangnya, Jerman kan tetap Jerman dan tidak pecah lagi jadi Barat dan Timur…. tapi, ya begitulah… orang sering tidak sabar, mau semua dalam semalam telah berubah menjadi lebih baik… Kita lupa, jer basuki mawa beo.. there is no such a free lunch… kita perlu waktu dan pengorbanan sesaat untuk meraih hasil dari sebuah perubahan besar… dan, terlepas dari ekonomi dunia kini sedang mendapat pressures luar biasa, hampir sulit menemukan orang tetap berpikir, “mari kembali ke (model) Jerman Timur lagi”…
Namun, yang terjadi di UKSW justru sebaliknya… ia kembali ke model lama yang telah nyata-nyata diketahui kelemahannya… ia tidak cukup kreatif untuk justru mencari jalan menyiasati hambatan2 dan masalah2 hidup dalam sistem baru yang baru sebentar dijalaninya itu… ia tergoda dengan masa lalu, dan tidak berani berhadapan dengan masa depan… sayangnya, hal-hal begitu cuma biasa dilakukan oleh orang yang frustrasi, pendek akal, merasa tak berdaya… kasihan sekali jika kita tergolong demikian..
O ya satu catatan: Trimester bukan untuk membuat UKSW beda dari yang lain… tetapi untuk menjawab masalah beban yang terlalu tinggi dalam satu term pengajaran/pembelajaran yang ada dalam pola semester untuk mendorong pendidikan yang lebih berkualitas… ingat, pertarungan ke depan jauh lebih berat dari melihat keberhasilan hari ini, apalagi kemarin… siapkah kita?
Ralat dikit:
Pada alinea dua, baris ketiga, kata MASIH, seharusnya MASUK.
Pada alinea tiga, baris kedelepan, kata BERAGAMA, seharusnya BERAGAM
Kalo gue setuju aja Bung Neil Jadi Rektor 2009… Bagaimana dengan Bung Neil siap atau tidak??
Kepemimpinan pak Titaley memang banyak inovasi… atau gebrakan dalam tubuh uksw. Seharusnya beliau maju lagi menjadi Rektor untuk melanjutkan inovasi yang belum sepenuhnya beres..
Sebuah perubahan harus diikuti oleh sikap yang siap untuk berubah. Saya yakin, ketidaksepahaman trimester di UKSW diakibatkan sikap yang takut akan sebuah perubahan.
Kalo saya boleh kasih saran… setiap sivitas akademika harus kompak dan sehati… masak sistem pendidikan yang digunakan kok beda2, mahasiswa jadi pusing tuh..
Syalom,
Usul Saya, Buat saja Penelitian untuk Sistem Trimester dan Dwimester. Nah kalau sudah dilakukan Penelitian, maka apabila nanti hasilnya Trimester lebih baik daripada Sistem Semester maka Kita maju dengan Trimester. Bila Hasilnya juga nanti Ternyata Trimester lebih Bobrok!! Maka kita harus kembali ke Sistem Semester, Gitu Aja Kok REEEPOT!! Pertarungan Sistem Ini bukan Kampanye Untuk Jadi Rektor UKSW Kan??? He, he, he GBU
@Pak Pdt Sinukaban yang baik, saya pernah melakukan olah data kinerja akademik UKSW untuk kepentingan laporan evaluasi diri UKSW (tahun 2007). Apa yang saya temukan adalah trend membaiknya beberapa indikator kinerja akademik UKSW (dari sudut kinerja mahasiswa) dalam tahun-tahun penerapan trimester. Misalnya, dari indikator Indeks Prestasi Kumulatif, ada trend membesarnya proporsi mahasiswa yang masuk dalam kelompok IPK tinggi. Pada indikator kecepatan lulusan, juga tampak perbaikan waktu lulus mahasiswa secara rata-rata. Silahkan cek: Laporan Evaluasi Diri UKSW (2007). Registrar UKSW di salah satu upacara wisuda UKSW sebelum UKSW memutuskan untuk kembali ke semester, pun membeberkan beberapa data yang selaras dengan itu. Lebih banyak mahasiswa yang lulus dengan IPK tinggi dan cepat waktunya, dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Dari hasil olah data yang saya lakukan itu, memang tidak pada seluruh tahun selalu naik kinerjanya. Ada kalanya terjadi slip. Namun dinamika seperti ini wajar sejauh trend globalnya menunjukkan gejala peningkatan.
Dua indikator itu menunjukkan bahwa trimester bukan cuma menyumbang cepat lulus, tetapi memberi peluang mahasiswa untuk lebih baik prestasi akademiknya (diukur IPK). Memang, trend ini masih perlu diamati lebih jauh, apakah memang terjadi perbaikan kualitas secara lebih mendasar. Namun, secara umum, image kualitas UKSW kemudian, menurut sense saya, relatif membaik, walau masih saja ada keraguan-keraguan (ini butuh proses yang konsisten untuk mengatasinya). Hal itu bisa dilihat dari relatif membaiknya minat masuk UKSW sejak itu dan hingga kini. Jadi, menurut dugaan saya, perbaikan kinerja itu telah membuat publik punya image yang lebih baik kepada UKSW dan tahun-tahun belakangan harus bersyukur mendapat manfaat dari perbaikan image itu. Memang ketika UKSW pertama kali menerapkan trimester (2002) ada keraguan yang besar (baik internal maupun external) dan itu memengaruhi persepsi publik, niat masuk ke UKSW dan kualitas input di tahun itu (namun, dugaan ini perlu diuji). Data olahan di tahun 2006 menunjukkan penyimpangan dari trend peningkatan kinerja itu dan kalau kita menggunakan waktu normal berkuliah adalah 4 tahun, maka ada kaitan yang sejalan antara keraguan di tahun 2002 dan hasil akhir di 2006. Tapi, ketika bergulir dan menjadi biasa dan bahkan orang punya ekspektasi baru dari penerapan trimester, lalu minat masuk membaik lagi. Data 2007 mengindikasikan kinerja yang naik lagi (kalau saja UKSW tetap jalan dengan trimester, trend ini bisa diuji dan saya percaya akan terus membaik).
Mengapa kinerja selama periode trimester bisa membaik? Cukup logis, beban kuliah mahasiswa dalam satu term menurun cukup signifikan. Ini didukung juga oleh meningkatnya penggunakan ragam instrumen evaluasi, khususnya evaluasi dalam proses seperti tugas-tugas mata kuliah. Mengapa mendukung? Mahasiswa dituntut lebih banyak belajar: mereka dituntut membaca dan di kelas-kelas tertentu sejumlah dosen mulai aktif menggunakan metode diskusi kelas. Diduga, penguasaan materi kuliah menjadi lebih baik. Karena itu, wajar jika mahasiswa yang pada dasarnya berkemampuan akademik cukup sampai sangat baik akan mendapat hasil yang lebih baik. Dan, itu tampak dari proporsi yang meningkat pada kelompok mahasiswa ber-IPK tinggi seperti disebut di atas.
Olah data saya menunjukkan bahwa di kelompok ber-IPK rendah, hampir-hampir tetap konsisten alias sama proporsinya. Ini menunjukkan masalah pada sektor seleksi mahasiswa baru. Artinya, saringan masuk masih belum sekompetitif periode 80an hingga awal 90an. Jika input masuk sama seperti itu, maka hasilnya bisa dibayangkan lebih baik. Ini mengindikasikan perlunya perbaikan di sistem seleksi mahasiswa baru dan sebetulnya UKSW mulai menata itu kembali. Mahasiswa yang beginian cenderung tidak ambil pusing bahkan bersikap fatalistik terhadap kuliah yang makin menuntut. Ekspektasi mereka kan kuliah kan santai, seperti lazimnya.
Saya mau stressing juga aspek proses dari sisi dosen dan implikasinya pada pembelajaran mahasiswa. Sebagai dosen di Fakultas Ekonomi yang jumlah mahasiswanya tergolong salah satu yang terbesar di UKSW (bersama FTI, kini FKIP karena PGSD, FBS, FPsi), setiap semester di zaman semester-an saya bisa mengampu 20an sks atau mencapai 6-8 kelas. Sejumlah teman malah bisa lebih dari itu. Kalau satu hari satu kali ngajar saja, maka tiap hari ada paling sedikit 1 kelas. Mengajar dalam keadaan seperti itu, bagaimana mungkin bisa mendorong saya aktif memberi tugas kepada mahasiswa? Kapan periksanya. Membuat tugas saja sudah harus dipersiapkan dengan baik. Belum lagi, kalau mahasiswa perlu datang bertanya hal-hal terkait tugas. Wah terlalu repot. Gampangnya kan ya setiap minggu isinya saya persiapan bahan-bahan mengajar (kalau mata kuliah yang sudah sering dikuliahkan, kadang ada yang tidak pakai persiapan) dan ya mengajar. Kalau rajin, ya saya beri kuis sesekali. Lalu, bagian terbesar dari evaluasi proses belajar saya gantungkan pada Tes Tengah dan Tes Akhir.
Apa efeknya praktik yang beginian pada pembelajaran mahasiswa? Sangat jelas, mahasiswa hanya datang ke kelas untuk dengar dosen ngajar (persepsi yang terbentuk berkuliah adalah mendengar dosen mengajar), syukur-syukur mencatat. Kalaupun mencatat, ya abis itu disimpan rapi di rumah. Mereka baru buka buku catatan atau buku teks kuliah (kalau yang ini mah masih bisa dihitung dengan jari) kalau saya katakan, “Minggu depan kita tes!” Itulah wajah pendidikan kita, belajar untuk tes, belajar untuk dapat nilai, belajar untuk lulus mata kuliah. Celakanya, ada mahasiswa yang, “Pokoknya lulus saja sudah cukup!”. Fatalistik!!!!
Selama masa trimester, beban mengajar dosen, misalnya di FE, turun sangat signfikan. Sejumlah dosen malah mengeluh beban mengajarnya tidak mencapai 12 sbs (beban minimum untuk seluruh tugas tanggung jawab dosen). Apakah ini buruk? Jika dilihat dari efek finansial, mungkin buruk karena dosen tidak dapat tunjangan kelebihan mengajar. Namun, kalau dilihat dari substansi akademik, ini justru sangat positif (catatan: Dikti secara normatif meminta 8-9 sks untuk pengajaran atau 12 sks untuk total semua komponen tridarma + administrasi). Bukankah itu baik bagi mereka untuk bisa persiapan lebih banyak dan lebih baik, mereka berpelung untuk lebih kreatif mengembangkan metode belajar mengajar, bisa menambah komponen tugas mahasiswa (1 sks selalu meminta 60 menit tugas rutin diberikan dosen setiap minggu), dan beban menyeluruh yang turun bisa memungkinkannya melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat dari sana dosen akan lebih diperkaya dalam pengajaran. Ini kita baru bicara pada level peluang, belum realitasnya karena itu ‘dunia yang lain’.
Dalam kasus saya pribadi, saya bisa melakukan sejumlah perbaikan di sektor pengajaran saya. Karena mata kuliah yang jauh lebih sedikit, saya bisa mendesain proses belajar mengajar yang menuntut mahasiswa harus lebih aktif. Saya harus katakan, saya justru membatasi peran saya dan menuntut tanggung jawab yang lebih besar dari mahasiswa saya. Tiap minggu ada aktivitas belajar di luar kelas yang saya tuntut, entah baca buku, artikel yang saya bagian, buat summary, penelitian lapangan, dll. Sebagai dosen, saya hanya memberi fondasi pada bab-bab awal serta memberi catatan2 kritis atas pembelajaran mahasiswa, selebihnya mari kita sama-sama konstruksi pengetahuan kita.
Pada kelas-kelas kuliah saya khususnya yang jumlah mahasiswanya sedikit, kami ibarat sebuah forum diskusi saja. Sering saya minta mahasiswa tertentu presentasi (lebih banyak yang berkelompok namun pada kelas yang cuma beberapa gelintir mahasiswa ada yang individual) dan setelah itu kami mendiskusikannya. Selalu ada kelompok/mahasiswa lain yang mengerjakan hal yang sama dan karena itu ada peluang untuk perbedaan pendapat. Para mahasiswa itu memresentasikan hasil telaah literatur atau hasil pengumpulan data lapangan. Dan, siapapun boleh memberi pendapat, apa saja, asal bertanggung jawab. Sebagai fasilitator proses itu (kadang mahasiswa yang langsung menjadi fasilitator diskusi dan saya juga bagian dari peserta). Di samping pertanyaan dari sesama mahasiswa, saya tidak jarang juga melontar pertanyaan. Saya kadang mengejar penjelasan lebih jauh atau contoh empiris atau menantang opini mahasiswa untuk membiasakan kita semua berpendapat dengan cukup jelas dan itu baik untuk mendorong cara pikir kritis. Itulah perwajahan dari beberapa kelas kuliah saya. Belakangan aktivitas diskusi kami mendapatkan ‘tempat baru’ setelah saya menggunakan fasilitas flexible learning UKSW yang mulai diterapkan 2007 (saya sudah menguji coba 2 trimester sebelumnya).
Bagi mahasiswa tertentu, pola begini bisa jadi tidak nyaman karena harus baca, baca, baca, kerja tugas, tugas, tugas, presentasi, presentasi, presentasi, ditanya etc. Ini juga bagi sejumlah orang bisa jadi kurang berharga, karena “lha apa hebatnya mendengar teman sendiri dan bukannya dari dosen?” Saya bahkan, dalam hal-hal tertentu tidak mau berpendapat, kecuali memberi evaluasi proses dan mendorong pendalaman literature. Namun, bagi saya, beitulah pembelajaran orang dewasa, mahasiswa adalah ko-konstruktor pengetahuan, mereka bukan cuma pendengar pasif yang duduk diam atau mencatat, corat-coret, atau mengantuk. Bahkan, dari presentasi dan diskusi mereka, khususnya dari hasil-hasil penelitian lapangan, sebagai dosen saya pun bisa belajar dari mereka. Mereka yang mengerjakan penelitiannya dengan baik cukup confident untuk menjadi ‘dosen’ bagi saya.
Relasi kami bukan lagi relasi ‘angker’. Namun, saya tetap ‘angker’ dalam menuntut belajar, belajar, dan belajar. Yang mau main-main, ya maaf saja.
Pak Pdt, gambaran begitu ada pada cukup banyak kelas kuliah yang mulai menghangat karena gagasan reformatif dalam praktik pedagogi di UKSW yang belakangan juga berkembang. Itulah salah satu efek dari trimester, walaupun itupun bisa tetap dilakukan di semester. Namun, saya skeptis. Kembali ke semester yang membuka peluang dosen-dosen untuk ngajar banyak mata kuliah/kelas dan demikian juga mahasiswa, ambil banyak sks dan kelas, apakah fenomena belajar yang intens seperti itu bisa tetap dipertahankan? Bisa, tapi seperti yang pernah saya argued di salah satu posting yang lalu, kalau semua dosen sama menuntutnya dalam proses belajar mengajar, implikasinya mahasiswa kurang tidur atau tidak punya waktu untuk berkegiatan lainnya. Celakanya justru kalau itu mendorong plagiasi, contek-menyontek, bayar orang untuk bikin tugas dan skripsi, etc., fenomena mana cukup berkembang termasuk di UKSW.
Namun, setelah kembali ke semester kini, apa lagi yang mau dievaluasi untuk membandingkan trimester versus semester? Hanya ada segelintir fakultas yang tetap berjalan dengan trimester. Lain ladang lain belalang, tidak mudah lakukan komparasi antar fakultas.
Namun, pada prinsipnya, telah ada evaluasi atas kinerja akademik UKSW pada beberapa indikator kinerja. Pernah ada evaluasi menyeluruh atas sistem UKSW oleh sebuah Satgas, yang mencatat masih banyak kelemahan di UKSW, bukan saja kelemahan sistem trimester yang masih tergolong baru. Namun, indikasi2 baik plus kelemahan sistem mengisyaratkan perbaikan sistem itu, bukannya penggantian sistem. Hanya orang ‘gelap mata’ yang tidak mau melihat evidence dan bersikap “pokoknya”. Hanya orang takut atau peragu yang melihat lingkungannya dan mengatakan, “kenapa kita berbeda dari mereka? jangan-jangan…” Hanya orang malas dan berpuas diri yang berhenti pada apa yang kemarin dan tidak melihat masa depan. Masih banyak hanya yang lain… Semoga kita bukan bagian dari semua itu