<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: 31 Maret: &#8220;Hari Kesia-siaan UKSW&#8221;</title>
	<atom:link href="http://scientiarum.com/2008/04/03/31-maret-hari-kegoblokan-uksw/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://scientiarum.com/2008/04/03/31-maret-hari-kegoblokan-uksw/</link>
	<description>Universitas Kristen Satya Wacana &#124; Salatiga</description>
	<lastBuildDate>Tue, 16 Mar 2010 20:17:42 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Scientiarum &#187; Senter Ulang Trimester</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/04/03/31-maret-hari-kegoblokan-uksw/comment-page-10/#comment-4246</link>
		<dc:creator>Scientiarum &#187; Senter Ulang Trimester</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 05:13:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/2008/04/03/31-maret-hari-kegoblokan-uksw/#comment-4246</guid>
		<description>[...] Neil, sejak saya menulis opini soal “Hari Kesia-siaan UKSW” sampai sekarang, saya belum temukan perbedaan signifikan antara trimester dengan dwimester. [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Neil, sejak saya menulis opini soal “Hari Kesia-siaan UKSW” sampai sekarang, saya belum temukan perbedaan signifikan antara trimester dengan dwimester. [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Satria Anandita » Senter Ulang Trimester</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/04/03/31-maret-hari-kegoblokan-uksw/comment-page-10/#comment-4073</link>
		<dc:creator>Satria Anandita » Senter Ulang Trimester</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Feb 2009 21:50:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/2008/04/03/31-maret-hari-kegoblokan-uksw/#comment-4073</guid>
		<description>[...] Neil, sejak saya menulis opini soal “Hari Kesia-siaan UKSW” sampai sekarang, saya belum temukan perbedaan signifikan antara trimester dengan dwimester. [...]&lt;code&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Neil, sejak saya menulis opini soal “Hari Kesia-siaan UKSW” sampai sekarang, saya belum temukan perbedaan signifikan antara trimester dengan dwimester. [...]<code></code></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dedy_tarigan</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/04/03/31-maret-hari-kegoblokan-uksw/comment-page-10/#comment-3448</link>
		<dc:creator>dedy_tarigan</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 09:56:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/2008/04/03/31-maret-hari-kegoblokan-uksw/#comment-3448</guid>
		<description>mau trimester kek...mau semester kek... ga masalah...yg penting kualitas dari pelayanan uksw..harus ditingkatkan..supaya ga menciptakan generasi2 yang bodoh dan ga bisa bersaing dengan yang lain...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mau trimester kek&#8230;mau semester kek&#8230; ga masalah&#8230;yg penting kualitas dari pelayanan uksw..harus ditingkatkan..supaya ga menciptakan generasi2 yang bodoh dan ga bisa bersaing dengan yang lain&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Theofransus Litaay</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/04/03/31-maret-hari-kegoblokan-uksw/comment-page-10/#comment-3371</link>
		<dc:creator>Theofransus Litaay</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Nov 2008 12:52:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/2008/04/03/31-maret-hari-kegoblokan-uksw/#comment-3371</guid>
		<description>Amazingly bung Neil, salah satu penasehat ekonomi Obama adalah: Warren Buffet !! :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Amazingly bung Neil, salah satu penasehat ekonomi Obama adalah: Warren Buffet !! :)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Neil Rupidara</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/04/03/31-maret-hari-kegoblokan-uksw/comment-page-10/#comment-3324</link>
		<dc:creator>Neil Rupidara</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 07:11:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/2008/04/03/31-maret-hari-kegoblokan-uksw/#comment-3324</guid>
		<description>He he he bung Theo, agree tetapi saya juma memandang bahwa karena ini zaman masyarakat yang makin komunikatif, rasanya kita perlu juga mengompetisikan makna-makna agar membangun masyarakat yang well informed dan selanjutnya biarkan mereka sendiri menilai. Kadang karena kita terbiasa dibentuk pemahamannya oleh komunikasi yang terpola secara struktural, lalu tercipta &#039;kesadaran palsu&#039;.  Celakanya kalau kesadaran muncul tetapi terlambat.  Nanti, nasi sudah terlanjur jadi bubur. 

Belajar dari kasus bagaimana terorganisasi baiknya sistem pesan dan makna yang dilempar oleh kubu Obama dalam masa kampanye presiden, saya kira it&#039;s all about systematic and consistent efforts. Namun,  konstruksi makna tentu harus juga terjadi dalam proses bolak-balik di antara ragam sumber.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>He he he bung Theo, agree tetapi saya juma memandang bahwa karena ini zaman masyarakat yang makin komunikatif, rasanya kita perlu juga mengompetisikan makna-makna agar membangun masyarakat yang well informed dan selanjutnya biarkan mereka sendiri menilai. Kadang karena kita terbiasa dibentuk pemahamannya oleh komunikasi yang terpola secara struktural, lalu tercipta &#8216;kesadaran palsu&#8217;.  Celakanya kalau kesadaran muncul tetapi terlambat.  Nanti, nasi sudah terlanjur jadi bubur. </p>
<p>Belajar dari kasus bagaimana terorganisasi baiknya sistem pesan dan makna yang dilempar oleh kubu Obama dalam masa kampanye presiden, saya kira it&#8217;s all about systematic and consistent efforts. Namun,  konstruksi makna tentu harus juga terjadi dalam proses bolak-balik di antara ragam sumber.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Theofransus Litaay</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/04/03/31-maret-hari-kegoblokan-uksw/comment-page-10/#comment-3315</link>
		<dc:creator>Theofransus Litaay</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 18:54:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/2008/04/03/31-maret-hari-kegoblokan-uksw/#comment-3315</guid>
		<description>Bung Neil, soal &quot;hadangan&quot; terhadap trimester itu, saya jadi ingat nasehatnya mega-investor Warren Buffet &quot;People will always try to stop you doing the right thing if it is unconventional&quot;. Nah, tentunya history will tell. Don&#039;t worry. 
[ini kutipan dari diskusi lama kami di milis alumni uksw, rupanya masih relevan].</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bung Neil, soal &#8220;hadangan&#8221; terhadap trimester itu, saya jadi ingat nasehatnya mega-investor Warren Buffet &#8220;People will always try to stop you doing the right thing if it is unconventional&#8221;. Nah, tentunya history will tell. Don&#8217;t worry.<br />
[ini kutipan dari diskusi lama kami di milis alumni uksw, rupanya masih relevan].</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Neil Rupidara</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/04/03/31-maret-hari-kegoblokan-uksw/comment-page-9/#comment-2972</link>
		<dc:creator>Neil Rupidara</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Oct 2008 01:46:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/2008/04/03/31-maret-hari-kegoblokan-uksw/#comment-2972</guid>
		<description>@Pak Pdt Sinukaban yang baik, saya pernah melakukan olah data kinerja akademik UKSW untuk kepentingan laporan evaluasi diri UKSW (tahun 2007). Apa yang saya temukan adalah trend membaiknya beberapa indikator kinerja akademik UKSW (dari sudut kinerja mahasiswa) dalam tahun-tahun penerapan trimester. Misalnya, dari indikator Indeks Prestasi Kumulatif, ada trend membesarnya proporsi mahasiswa yang masuk dalam kelompok IPK tinggi. Pada indikator kecepatan lulusan, juga tampak perbaikan waktu lulus mahasiswa secara rata-rata. Silahkan cek: Laporan Evaluasi Diri UKSW (2007). Registrar UKSW di salah satu upacara wisuda UKSW sebelum UKSW memutuskan untuk kembali ke semester, pun membeberkan beberapa data yang selaras dengan itu. Lebih banyak mahasiswa yang lulus dengan IPK tinggi dan cepat waktunya, dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Dari hasil olah data yang saya lakukan itu, memang tidak pada seluruh tahun selalu naik kinerjanya. Ada kalanya terjadi slip. Namun dinamika seperti ini wajar sejauh trend globalnya menunjukkan gejala peningkatan. 

Dua indikator itu menunjukkan bahwa trimester bukan cuma menyumbang cepat lulus, tetapi memberi peluang mahasiswa untuk lebih baik prestasi akademiknya (diukur IPK). Memang, trend ini masih perlu diamati lebih jauh, apakah memang terjadi perbaikan kualitas secara lebih mendasar. Namun, secara umum, image kualitas UKSW kemudian, menurut sense saya, relatif membaik, walau masih saja ada keraguan-keraguan (ini butuh proses yang konsisten untuk mengatasinya). Hal itu bisa dilihat dari relatif membaiknya minat masuk UKSW sejak itu dan hingga kini. Jadi, menurut dugaan saya, perbaikan kinerja itu telah membuat publik punya image yang lebih baik kepada UKSW dan tahun-tahun belakangan harus bersyukur mendapat manfaat dari perbaikan image itu. Memang ketika UKSW pertama kali menerapkan trimester (2002) ada keraguan yang besar (baik internal maupun external) dan itu memengaruhi persepsi publik, niat masuk ke UKSW dan kualitas input di tahun itu (namun, dugaan ini perlu diuji). Data olahan di tahun 2006 menunjukkan penyimpangan dari trend peningkatan kinerja itu dan kalau kita menggunakan waktu normal berkuliah adalah 4 tahun, maka ada kaitan yang sejalan antara keraguan di tahun 2002 dan hasil akhir di 2006. Tapi, ketika bergulir dan menjadi biasa dan bahkan orang punya ekspektasi baru dari penerapan trimester, lalu minat masuk membaik lagi. Data 2007 mengindikasikan kinerja yang naik lagi (kalau saja UKSW tetap jalan dengan trimester, trend ini bisa diuji dan saya percaya akan terus membaik).

Mengapa kinerja selama periode trimester bisa membaik? Cukup logis, beban kuliah mahasiswa dalam satu term menurun cukup signifikan. Ini didukung juga oleh meningkatnya penggunakan ragam instrumen evaluasi, khususnya evaluasi dalam proses seperti tugas-tugas mata kuliah. Mengapa mendukung? Mahasiswa dituntut lebih banyak belajar: mereka dituntut membaca dan di kelas-kelas tertentu sejumlah dosen mulai aktif menggunakan metode diskusi kelas. Diduga, penguasaan materi kuliah menjadi lebih baik. Karena itu, wajar jika mahasiswa yang pada dasarnya berkemampuan akademik cukup sampai sangat baik akan mendapat hasil yang lebih baik. Dan, itu tampak dari proporsi yang meningkat pada kelompok mahasiswa ber-IPK tinggi seperti disebut di atas.

Olah data saya menunjukkan bahwa di kelompok ber-IPK rendah, hampir-hampir tetap konsisten alias sama proporsinya. Ini menunjukkan masalah pada sektor seleksi mahasiswa baru. Artinya, saringan masuk masih belum sekompetitif periode 80an hingga awal 90an. Jika input masuk sama seperti itu, maka hasilnya bisa dibayangkan lebih baik. Ini mengindikasikan perlunya perbaikan di sistem seleksi mahasiswa baru dan sebetulnya UKSW mulai menata itu kembali. Mahasiswa yang beginian cenderung tidak ambil pusing bahkan bersikap fatalistik terhadap kuliah yang makin menuntut. Ekspektasi mereka kan kuliah kan santai, seperti lazimnya.

Saya mau stressing juga aspek proses dari sisi dosen dan implikasinya pada pembelajaran mahasiswa. Sebagai dosen di Fakultas Ekonomi yang jumlah mahasiswanya tergolong salah satu yang terbesar di UKSW (bersama FTI, kini FKIP karena PGSD, FBS, FPsi), setiap semester di zaman semester-an saya bisa mengampu 20an sks atau mencapai 6-8 kelas. Sejumlah teman malah bisa lebih dari itu. Kalau satu hari satu kali ngajar saja, maka tiap hari ada paling sedikit 1 kelas. Mengajar dalam keadaan seperti itu, bagaimana mungkin bisa mendorong saya aktif memberi tugas kepada mahasiswa? Kapan periksanya. Membuat tugas saja sudah harus dipersiapkan dengan baik. Belum lagi, kalau mahasiswa perlu datang bertanya hal-hal terkait tugas. Wah terlalu repot. Gampangnya kan ya setiap minggu isinya saya persiapan bahan-bahan mengajar (kalau mata kuliah yang sudah sering dikuliahkan, kadang ada yang tidak pakai persiapan) dan ya mengajar. Kalau rajin, ya saya beri kuis sesekali. Lalu, bagian terbesar dari evaluasi proses belajar saya gantungkan pada Tes Tengah dan Tes Akhir. 

Apa efeknya praktik yang beginian pada pembelajaran mahasiswa? Sangat jelas, mahasiswa hanya datang ke kelas untuk dengar dosen ngajar (persepsi yang terbentuk berkuliah adalah mendengar dosen mengajar), syukur-syukur mencatat. Kalaupun mencatat, ya abis itu disimpan rapi di rumah. Mereka baru buka buku catatan atau buku teks kuliah (kalau yang ini mah masih bisa dihitung dengan jari) kalau saya katakan, &quot;Minggu depan kita tes!&quot; Itulah wajah pendidikan kita, belajar untuk tes, belajar untuk dapat nilai, belajar untuk lulus mata kuliah. Celakanya, ada mahasiswa yang, &quot;Pokoknya lulus saja sudah cukup!&quot;. Fatalistik!!!!

Selama masa trimester, beban mengajar dosen, misalnya di FE, turun sangat signfikan. Sejumlah dosen malah mengeluh beban mengajarnya tidak mencapai 12 sbs (beban minimum untuk seluruh tugas tanggung jawab dosen). Apakah ini buruk? Jika dilihat dari efek finansial, mungkin buruk karena dosen tidak dapat tunjangan kelebihan mengajar. Namun, kalau dilihat dari substansi akademik, ini justru sangat positif (catatan: Dikti secara normatif meminta 8-9 sks untuk pengajaran atau 12 sks untuk total semua komponen tridarma + administrasi). Bukankah itu baik bagi mereka untuk bisa persiapan lebih banyak dan lebih baik, mereka berpelung untuk lebih kreatif mengembangkan metode belajar mengajar, bisa menambah komponen tugas mahasiswa (1 sks selalu meminta 60 menit tugas rutin diberikan dosen setiap minggu), dan beban menyeluruh yang turun bisa memungkinkannya melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat dari sana dosen akan lebih diperkaya dalam pengajaran. Ini kita baru bicara pada level peluang, belum realitasnya karena itu &#039;dunia yang lain&#039;.

Dalam kasus saya pribadi, saya bisa melakukan sejumlah perbaikan di sektor pengajaran saya. Karena mata kuliah yang jauh lebih sedikit, saya bisa mendesain proses belajar mengajar yang menuntut mahasiswa harus lebih aktif. Saya harus katakan, saya justru membatasi peran saya dan menuntut tanggung jawab yang lebih besar dari mahasiswa saya. Tiap minggu ada aktivitas belajar di luar kelas yang saya tuntut, entah baca buku, artikel yang saya bagian, buat summary, penelitian lapangan, dll. Sebagai dosen, saya hanya memberi fondasi pada bab-bab awal serta memberi catatan2 kritis atas pembelajaran mahasiswa, selebihnya mari kita sama-sama konstruksi pengetahuan kita. 

Pada kelas-kelas kuliah saya khususnya yang jumlah mahasiswanya sedikit,  kami ibarat sebuah forum diskusi saja. Sering saya minta mahasiswa tertentu presentasi (lebih banyak yang berkelompok namun pada kelas yang cuma beberapa gelintir mahasiswa ada yang individual) dan setelah itu kami mendiskusikannya. Selalu ada kelompok/mahasiswa lain yang mengerjakan hal yang sama dan karena itu ada peluang untuk perbedaan pendapat. Para mahasiswa itu memresentasikan hasil telaah literatur atau hasil pengumpulan data lapangan. Dan, siapapun boleh memberi pendapat, apa saja, asal bertanggung jawab. Sebagai fasilitator proses itu (kadang mahasiswa yang langsung menjadi fasilitator diskusi dan saya juga bagian dari peserta). Di samping pertanyaan dari sesama mahasiswa, saya tidak jarang juga melontar pertanyaan. Saya kadang mengejar penjelasan lebih jauh atau contoh empiris atau menantang opini mahasiswa untuk membiasakan kita semua berpendapat dengan cukup jelas dan itu baik untuk mendorong cara pikir kritis. Itulah perwajahan dari beberapa kelas kuliah saya. Belakangan aktivitas diskusi kami mendapatkan &#039;tempat baru&#039; setelah saya menggunakan fasilitas flexible learning UKSW yang mulai diterapkan 2007 (saya sudah menguji coba 2 trimester sebelumnya).

Bagi mahasiswa tertentu, pola begini bisa jadi tidak nyaman karena harus baca, baca, baca, kerja tugas, tugas, tugas, presentasi, presentasi, presentasi, ditanya etc. Ini juga bagi sejumlah orang bisa jadi kurang berharga, karena &quot;lha apa hebatnya mendengar teman sendiri dan bukannya dari dosen?&quot; Saya bahkan, dalam hal-hal tertentu tidak mau berpendapat, kecuali memberi evaluasi proses dan mendorong pendalaman literature. Namun, bagi saya, beitulah pembelajaran orang dewasa, mahasiswa adalah ko-konstruktor pengetahuan, mereka bukan cuma pendengar pasif yang duduk diam atau mencatat, corat-coret, atau mengantuk. Bahkan, dari presentasi dan diskusi mereka, khususnya dari hasil-hasil penelitian lapangan, sebagai dosen saya pun bisa belajar dari mereka. Mereka yang mengerjakan penelitiannya dengan baik cukup confident untuk menjadi &#039;dosen&#039; bagi saya. 

Relasi kami bukan lagi relasi &#039;angker&#039;. Namun, saya tetap &#039;angker&#039; dalam menuntut belajar, belajar, dan belajar. Yang mau main-main, ya maaf saja.

Pak Pdt, gambaran begitu ada pada cukup banyak kelas kuliah yang mulai menghangat karena gagasan reformatif dalam praktik pedagogi di UKSW yang belakangan juga berkembang. Itulah salah satu efek dari trimester, walaupun itupun bisa tetap dilakukan di semester. Namun, saya skeptis. Kembali ke semester yang membuka peluang dosen-dosen untuk ngajar banyak mata kuliah/kelas dan demikian juga mahasiswa, ambil banyak sks dan kelas, apakah fenomena  belajar yang intens seperti itu bisa tetap dipertahankan? Bisa, tapi seperti yang pernah saya argued di salah satu posting yang lalu, kalau semua dosen sama menuntutnya dalam proses belajar mengajar, implikasinya mahasiswa kurang tidur atau tidak punya waktu untuk berkegiatan lainnya. Celakanya justru kalau itu mendorong plagiasi, contek-menyontek, bayar orang untuk bikin tugas dan skripsi, etc., fenomena mana cukup berkembang termasuk di UKSW.

Namun, setelah kembali ke semester kini, apa lagi yang mau dievaluasi untuk membandingkan trimester versus semester? Hanya ada segelintir fakultas yang tetap berjalan dengan trimester.  Lain ladang lain belalang, tidak mudah lakukan komparasi antar fakultas.

Namun, pada prinsipnya, telah ada evaluasi atas kinerja akademik UKSW pada beberapa indikator kinerja. Pernah ada evaluasi menyeluruh atas sistem UKSW oleh sebuah Satgas, yang mencatat masih banyak kelemahan di UKSW, bukan saja kelemahan sistem trimester yang masih tergolong baru. Namun, indikasi2 baik plus kelemahan sistem mengisyaratkan perbaikan sistem itu, bukannya penggantian sistem. Hanya orang &#039;gelap mata&#039; yang tidak mau melihat evidence dan bersikap &quot;pokoknya&quot;. Hanya orang takut atau peragu yang melihat lingkungannya dan mengatakan, &quot;kenapa kita berbeda dari mereka? jangan-jangan...&quot; Hanya orang malas dan berpuas diri yang berhenti pada apa yang kemarin dan tidak melihat masa depan. Masih banyak hanya yang lain... Semoga kita bukan bagian dari semua itu</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Pak Pdt Sinukaban yang baik, saya pernah melakukan olah data kinerja akademik UKSW untuk kepentingan laporan evaluasi diri UKSW (tahun 2007). Apa yang saya temukan adalah trend membaiknya beberapa indikator kinerja akademik UKSW (dari sudut kinerja mahasiswa) dalam tahun-tahun penerapan trimester. Misalnya, dari indikator Indeks Prestasi Kumulatif, ada trend membesarnya proporsi mahasiswa yang masuk dalam kelompok IPK tinggi. Pada indikator kecepatan lulusan, juga tampak perbaikan waktu lulus mahasiswa secara rata-rata. Silahkan cek: Laporan Evaluasi Diri UKSW (2007). Registrar UKSW di salah satu upacara wisuda UKSW sebelum UKSW memutuskan untuk kembali ke semester, pun membeberkan beberapa data yang selaras dengan itu. Lebih banyak mahasiswa yang lulus dengan IPK tinggi dan cepat waktunya, dibanding tahun-tahun sebelumnya.</p>
<p>Dari hasil olah data yang saya lakukan itu, memang tidak pada seluruh tahun selalu naik kinerjanya. Ada kalanya terjadi slip. Namun dinamika seperti ini wajar sejauh trend globalnya menunjukkan gejala peningkatan. </p>
<p>Dua indikator itu menunjukkan bahwa trimester bukan cuma menyumbang cepat lulus, tetapi memberi peluang mahasiswa untuk lebih baik prestasi akademiknya (diukur IPK). Memang, trend ini masih perlu diamati lebih jauh, apakah memang terjadi perbaikan kualitas secara lebih mendasar. Namun, secara umum, image kualitas UKSW kemudian, menurut sense saya, relatif membaik, walau masih saja ada keraguan-keraguan (ini butuh proses yang konsisten untuk mengatasinya). Hal itu bisa dilihat dari relatif membaiknya minat masuk UKSW sejak itu dan hingga kini. Jadi, menurut dugaan saya, perbaikan kinerja itu telah membuat publik punya image yang lebih baik kepada UKSW dan tahun-tahun belakangan harus bersyukur mendapat manfaat dari perbaikan image itu. Memang ketika UKSW pertama kali menerapkan trimester (2002) ada keraguan yang besar (baik internal maupun external) dan itu memengaruhi persepsi publik, niat masuk ke UKSW dan kualitas input di tahun itu (namun, dugaan ini perlu diuji). Data olahan di tahun 2006 menunjukkan penyimpangan dari trend peningkatan kinerja itu dan kalau kita menggunakan waktu normal berkuliah adalah 4 tahun, maka ada kaitan yang sejalan antara keraguan di tahun 2002 dan hasil akhir di 2006. Tapi, ketika bergulir dan menjadi biasa dan bahkan orang punya ekspektasi baru dari penerapan trimester, lalu minat masuk membaik lagi. Data 2007 mengindikasikan kinerja yang naik lagi (kalau saja UKSW tetap jalan dengan trimester, trend ini bisa diuji dan saya percaya akan terus membaik).</p>
<p>Mengapa kinerja selama periode trimester bisa membaik? Cukup logis, beban kuliah mahasiswa dalam satu term menurun cukup signifikan. Ini didukung juga oleh meningkatnya penggunakan ragam instrumen evaluasi, khususnya evaluasi dalam proses seperti tugas-tugas mata kuliah. Mengapa mendukung? Mahasiswa dituntut lebih banyak belajar: mereka dituntut membaca dan di kelas-kelas tertentu sejumlah dosen mulai aktif menggunakan metode diskusi kelas. Diduga, penguasaan materi kuliah menjadi lebih baik. Karena itu, wajar jika mahasiswa yang pada dasarnya berkemampuan akademik cukup sampai sangat baik akan mendapat hasil yang lebih baik. Dan, itu tampak dari proporsi yang meningkat pada kelompok mahasiswa ber-IPK tinggi seperti disebut di atas.</p>
<p>Olah data saya menunjukkan bahwa di kelompok ber-IPK rendah, hampir-hampir tetap konsisten alias sama proporsinya. Ini menunjukkan masalah pada sektor seleksi mahasiswa baru. Artinya, saringan masuk masih belum sekompetitif periode 80an hingga awal 90an. Jika input masuk sama seperti itu, maka hasilnya bisa dibayangkan lebih baik. Ini mengindikasikan perlunya perbaikan di sistem seleksi mahasiswa baru dan sebetulnya UKSW mulai menata itu kembali. Mahasiswa yang beginian cenderung tidak ambil pusing bahkan bersikap fatalistik terhadap kuliah yang makin menuntut. Ekspektasi mereka kan kuliah kan santai, seperti lazimnya.</p>
<p>Saya mau stressing juga aspek proses dari sisi dosen dan implikasinya pada pembelajaran mahasiswa. Sebagai dosen di Fakultas Ekonomi yang jumlah mahasiswanya tergolong salah satu yang terbesar di UKSW (bersama FTI, kini FKIP karena PGSD, FBS, FPsi), setiap semester di zaman semester-an saya bisa mengampu 20an sks atau mencapai 6-8 kelas. Sejumlah teman malah bisa lebih dari itu. Kalau satu hari satu kali ngajar saja, maka tiap hari ada paling sedikit 1 kelas. Mengajar dalam keadaan seperti itu, bagaimana mungkin bisa mendorong saya aktif memberi tugas kepada mahasiswa? Kapan periksanya. Membuat tugas saja sudah harus dipersiapkan dengan baik. Belum lagi, kalau mahasiswa perlu datang bertanya hal-hal terkait tugas. Wah terlalu repot. Gampangnya kan ya setiap minggu isinya saya persiapan bahan-bahan mengajar (kalau mata kuliah yang sudah sering dikuliahkan, kadang ada yang tidak pakai persiapan) dan ya mengajar. Kalau rajin, ya saya beri kuis sesekali. Lalu, bagian terbesar dari evaluasi proses belajar saya gantungkan pada Tes Tengah dan Tes Akhir. </p>
<p>Apa efeknya praktik yang beginian pada pembelajaran mahasiswa? Sangat jelas, mahasiswa hanya datang ke kelas untuk dengar dosen ngajar (persepsi yang terbentuk berkuliah adalah mendengar dosen mengajar), syukur-syukur mencatat. Kalaupun mencatat, ya abis itu disimpan rapi di rumah. Mereka baru buka buku catatan atau buku teks kuliah (kalau yang ini mah masih bisa dihitung dengan jari) kalau saya katakan, &#8220;Minggu depan kita tes!&#8221; Itulah wajah pendidikan kita, belajar untuk tes, belajar untuk dapat nilai, belajar untuk lulus mata kuliah. Celakanya, ada mahasiswa yang, &#8220;Pokoknya lulus saja sudah cukup!&#8221;. Fatalistik!!!!</p>
<p>Selama masa trimester, beban mengajar dosen, misalnya di FE, turun sangat signfikan. Sejumlah dosen malah mengeluh beban mengajarnya tidak mencapai 12 sbs (beban minimum untuk seluruh tugas tanggung jawab dosen). Apakah ini buruk? Jika dilihat dari efek finansial, mungkin buruk karena dosen tidak dapat tunjangan kelebihan mengajar. Namun, kalau dilihat dari substansi akademik, ini justru sangat positif (catatan: Dikti secara normatif meminta 8-9 sks untuk pengajaran atau 12 sks untuk total semua komponen tridarma + administrasi). Bukankah itu baik bagi mereka untuk bisa persiapan lebih banyak dan lebih baik, mereka berpelung untuk lebih kreatif mengembangkan metode belajar mengajar, bisa menambah komponen tugas mahasiswa (1 sks selalu meminta 60 menit tugas rutin diberikan dosen setiap minggu), dan beban menyeluruh yang turun bisa memungkinkannya melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat dari sana dosen akan lebih diperkaya dalam pengajaran. Ini kita baru bicara pada level peluang, belum realitasnya karena itu &#8216;dunia yang lain&#8217;.</p>
<p>Dalam kasus saya pribadi, saya bisa melakukan sejumlah perbaikan di sektor pengajaran saya. Karena mata kuliah yang jauh lebih sedikit, saya bisa mendesain proses belajar mengajar yang menuntut mahasiswa harus lebih aktif. Saya harus katakan, saya justru membatasi peran saya dan menuntut tanggung jawab yang lebih besar dari mahasiswa saya. Tiap minggu ada aktivitas belajar di luar kelas yang saya tuntut, entah baca buku, artikel yang saya bagian, buat summary, penelitian lapangan, dll. Sebagai dosen, saya hanya memberi fondasi pada bab-bab awal serta memberi catatan2 kritis atas pembelajaran mahasiswa, selebihnya mari kita sama-sama konstruksi pengetahuan kita. </p>
<p>Pada kelas-kelas kuliah saya khususnya yang jumlah mahasiswanya sedikit,  kami ibarat sebuah forum diskusi saja. Sering saya minta mahasiswa tertentu presentasi (lebih banyak yang berkelompok namun pada kelas yang cuma beberapa gelintir mahasiswa ada yang individual) dan setelah itu kami mendiskusikannya. Selalu ada kelompok/mahasiswa lain yang mengerjakan hal yang sama dan karena itu ada peluang untuk perbedaan pendapat. Para mahasiswa itu memresentasikan hasil telaah literatur atau hasil pengumpulan data lapangan. Dan, siapapun boleh memberi pendapat, apa saja, asal bertanggung jawab. Sebagai fasilitator proses itu (kadang mahasiswa yang langsung menjadi fasilitator diskusi dan saya juga bagian dari peserta). Di samping pertanyaan dari sesama mahasiswa, saya tidak jarang juga melontar pertanyaan. Saya kadang mengejar penjelasan lebih jauh atau contoh empiris atau menantang opini mahasiswa untuk membiasakan kita semua berpendapat dengan cukup jelas dan itu baik untuk mendorong cara pikir kritis. Itulah perwajahan dari beberapa kelas kuliah saya. Belakangan aktivitas diskusi kami mendapatkan &#8216;tempat baru&#8217; setelah saya menggunakan fasilitas flexible learning UKSW yang mulai diterapkan 2007 (saya sudah menguji coba 2 trimester sebelumnya).</p>
<p>Bagi mahasiswa tertentu, pola begini bisa jadi tidak nyaman karena harus baca, baca, baca, kerja tugas, tugas, tugas, presentasi, presentasi, presentasi, ditanya etc. Ini juga bagi sejumlah orang bisa jadi kurang berharga, karena &#8220;lha apa hebatnya mendengar teman sendiri dan bukannya dari dosen?&#8221; Saya bahkan, dalam hal-hal tertentu tidak mau berpendapat, kecuali memberi evaluasi proses dan mendorong pendalaman literature. Namun, bagi saya, beitulah pembelajaran orang dewasa, mahasiswa adalah ko-konstruktor pengetahuan, mereka bukan cuma pendengar pasif yang duduk diam atau mencatat, corat-coret, atau mengantuk. Bahkan, dari presentasi dan diskusi mereka, khususnya dari hasil-hasil penelitian lapangan, sebagai dosen saya pun bisa belajar dari mereka. Mereka yang mengerjakan penelitiannya dengan baik cukup confident untuk menjadi &#8216;dosen&#8217; bagi saya. </p>
<p>Relasi kami bukan lagi relasi &#8216;angker&#8217;. Namun, saya tetap &#8216;angker&#8217; dalam menuntut belajar, belajar, dan belajar. Yang mau main-main, ya maaf saja.</p>
<p>Pak Pdt, gambaran begitu ada pada cukup banyak kelas kuliah yang mulai menghangat karena gagasan reformatif dalam praktik pedagogi di UKSW yang belakangan juga berkembang. Itulah salah satu efek dari trimester, walaupun itupun bisa tetap dilakukan di semester. Namun, saya skeptis. Kembali ke semester yang membuka peluang dosen-dosen untuk ngajar banyak mata kuliah/kelas dan demikian juga mahasiswa, ambil banyak sks dan kelas, apakah fenomena  belajar yang intens seperti itu bisa tetap dipertahankan? Bisa, tapi seperti yang pernah saya argued di salah satu posting yang lalu, kalau semua dosen sama menuntutnya dalam proses belajar mengajar, implikasinya mahasiswa kurang tidur atau tidak punya waktu untuk berkegiatan lainnya. Celakanya justru kalau itu mendorong plagiasi, contek-menyontek, bayar orang untuk bikin tugas dan skripsi, etc., fenomena mana cukup berkembang termasuk di UKSW.</p>
<p>Namun, setelah kembali ke semester kini, apa lagi yang mau dievaluasi untuk membandingkan trimester versus semester? Hanya ada segelintir fakultas yang tetap berjalan dengan trimester.  Lain ladang lain belalang, tidak mudah lakukan komparasi antar fakultas.</p>
<p>Namun, pada prinsipnya, telah ada evaluasi atas kinerja akademik UKSW pada beberapa indikator kinerja. Pernah ada evaluasi menyeluruh atas sistem UKSW oleh sebuah Satgas, yang mencatat masih banyak kelemahan di UKSW, bukan saja kelemahan sistem trimester yang masih tergolong baru. Namun, indikasi2 baik plus kelemahan sistem mengisyaratkan perbaikan sistem itu, bukannya penggantian sistem. Hanya orang &#8216;gelap mata&#8217; yang tidak mau melihat evidence dan bersikap &#8220;pokoknya&#8221;. Hanya orang takut atau peragu yang melihat lingkungannya dan mengatakan, &#8220;kenapa kita berbeda dari mereka? jangan-jangan&#8230;&#8221; Hanya orang malas dan berpuas diri yang berhenti pada apa yang kemarin dan tidak melihat masa depan. Masih banyak hanya yang lain&#8230; Semoga kita bukan bagian dari semua itu</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Pdt Masada Sinukaban</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/04/03/31-maret-hari-kegoblokan-uksw/comment-page-9/#comment-2959</link>
		<dc:creator>Pdt Masada Sinukaban</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 13:36:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/2008/04/03/31-maret-hari-kegoblokan-uksw/#comment-2959</guid>
		<description>Syalom,

Usul Saya, Buat saja Penelitian untuk Sistem Trimester dan Dwimester. Nah kalau sudah dilakukan Penelitian, maka apabila nanti hasilnya Trimester lebih baik daripada Sistem Semester maka Kita maju dengan Trimester. Bila Hasilnya juga nanti Ternyata Trimester lebih Bobrok!! Maka kita harus kembali ke Sistem Semester, Gitu Aja Kok REEEPOT!! Pertarungan Sistem Ini bukan Kampanye Untuk Jadi Rektor UKSW Kan??? He, he, he GBU</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Syalom,</p>
<p>Usul Saya, Buat saja Penelitian untuk Sistem Trimester dan Dwimester. Nah kalau sudah dilakukan Penelitian, maka apabila nanti hasilnya Trimester lebih baik daripada Sistem Semester maka Kita maju dengan Trimester. Bila Hasilnya juga nanti Ternyata Trimester lebih Bobrok!! Maka kita harus kembali ke Sistem Semester, Gitu Aja Kok REEEPOT!! Pertarungan Sistem Ini bukan Kampanye Untuk Jadi Rektor UKSW Kan??? He, he, he GBU</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Dian</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/04/03/31-maret-hari-kegoblokan-uksw/comment-page-9/#comment-2938</link>
		<dc:creator>Dian</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 06:06:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/2008/04/03/31-maret-hari-kegoblokan-uksw/#comment-2938</guid>
		<description>Kalo saya boleh kasih saran... setiap sivitas akademika harus kompak dan sehati... masak sistem pendidikan yang digunakan kok  beda2, mahasiswa jadi pusing tuh..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalo saya boleh kasih saran&#8230; setiap sivitas akademika harus kompak dan sehati&#8230; masak sistem pendidikan yang digunakan kok  beda2, mahasiswa jadi pusing tuh..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Tony G</title>
		<link>http://scientiarum.com/2008/04/03/31-maret-hari-kegoblokan-uksw/comment-page-9/#comment-2936</link>
		<dc:creator>Tony G</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 04:43:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://scientiarum.com/2008/04/03/31-maret-hari-kegoblokan-uksw/#comment-2936</guid>
		<description>Sebuah perubahan harus diikuti oleh sikap yang siap untuk berubah. Saya yakin, ketidaksepahaman trimester di UKSW diakibatkan sikap yang takut akan sebuah perubahan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah perubahan harus diikuti oleh sikap yang siap untuk berubah. Saya yakin, ketidaksepahaman trimester di UKSW diakibatkan sikap yang takut akan sebuah perubahan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
