Antara Ada dan Tiada

Browse By

Universitas tak ubahnya seperti negara kecil yang di dalamnya ada pemerintah (pemerintah pusat dan pemerintah daerah) dan rakyat. Dalam hal ini, pemerintah pusat adalah rektorat dan pemerintah daerah adalah dekanat. Pemerintah (baca: rektorat dan dekanat) tidak bisa berjalan tanpa adanya rakyat (baca: mahasiswa). Mahasiswa mempunyai sebuah wadah, yang dinamakan LK (Lembaga Kemahasiswaan), untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintahnya.

LK adalah wadah keluarga mahasiswa untuk melaksanakan fungsi dan perannya di dalam universitas. Membicarakan fungsi dan peran LK merupakan usaha untuk merumuskan apa saja tindakan LK, baik secara individu maupun kolektif. LK ibarat tokoh sandiwara yang memiliki rangkaian hal bagi si tokoh untuk bertindak.

Di sini, saya mengartikan fungsi dan peran LK sebagai kumpulan tindakan seorang atau suatu kelompok mahasiswa. Adanya tindakan itu menjadikan LK terlihat, terdengar, dan dirasakan keberadaannya. Biasa disebut “eksistensi LK.”

Pertanyaannya, ”Apa fungsi dan peran LK?” Atau lebih jelasnya, ”Apa saja tindakan yang termasuk dalam fungsi dan peran LK?”

LK mempunyai fungsi dan peran sebagai wahana, untuk membina persaudaraan dan sikap intelektual mahasiswa, serta menjadi satu-satunya wadah penyaluran aspirasi yang bertanggungjawab, yang hidup di kalangan mahasiswa untuk mewujudkan tujuan perguruan tinggi.

Dalam Mukadimah KUKM (Ketentuan Umum Keluarga Mahasiswa) UKSW 1997, salah satu tujuan LK UKSW adalah sebagai saluran bicara mahasiswa UKSW untuk mengemukakan aspirasi konstruktif dan bertanggungjawab, yang hidup di kalangan mahasiswa. Dengan kata lain, LK menyuarakan aspirasi mahasiswa, bukan sebagai corong kelompok atau orang-orang tertentu.

Kebijakan sebagai prinsip atau cara bertindak yang dipilih untuk mengarahkan pengambilan keputusan (Webster). Sedangkan menurut Titmuss, kebijakan sebagai prinsip-prinsip yang mengatur tindakan yang diarahkan kepada tujuan tertentu (Suharto, 1997). Kebijakan tersebut senantiasa berorientasi kepada masalah (problem oriented) dan tindakan (action oriented). Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa kebijakan adalah suatu ketetapan yang memuat prinsip-prinsip, untuk mengarahkan cara bertindak yang dibuat secara terencana dan konsisten dalam mencapai tujuan tertentu.

Di UKSW, dalam menentukan kebijakan, mahasiswa mempunyai posisi sangat penting yang diwakili oleh LK. Bagaimanapun juga, mahasiswa (yang terwakilkan dalam LK) merupakan aktor sekaligus penikmat dari kebijakan itu sendiri. Yang artinya, mereka adalah penentu, sekaligus pelaksana kebijakan kampus.

Saat ini terdapat dua pola dasar pemikiran yang harus dikedepankan, terkait dengan partisipasi atau posisi mahasiswa dalam kebijakan. Pertama, paradigma berpikir jangan sampai menempatkan mahasiswa sebagai objek kebijakan, dan kurang terlibat dalam perumusan masalah dan penyusunan kebijakan. Masalah kampus seringkali dirumuskan oleh ”para ahli.” Akibatnya, kebijakan sering tidak sesuai dengan masalah yang dihadapi mahasiswa, sehingga tidak jarang kebijakan kurang bisa memecahkan masalah yang dihadapi mahasiswa.

Kedua, dalam penerapan kebijakan, mahasiswa hanya sebagai pihak penerima, bukan sebagai pelaku dan pelaksana, sehingga seringkali kebijakan kurang bisa dipahami dan diterima oleh mahasiswa. Akibatnya, sering dijumpai mahasiswa hanya bersikap ”masa bodoh,” dan kurang merespon kebijakan tersebut. Bisa dimaklumi, karena mahasiswa tidak mengerti tentang apa yang direncanakan.

Citra LK dalam fungsi dan perannya untuk menyampaikan suara mahasiswa, guna menentukan kebijakan pada saat ini ”antara ada dan tiada.” Ini dikarenakan LK justru sibuk bertengkar sendiri dengan urusan internalnya, dan tidak memperhatikan aspirasi mahasiswa. Ketika LK tidak dapat berfungsi dan berperan dengan baik, lalu siapa yang akan membela suara mahasiswa? Apakah perlu ada LK di kampus ini?

Ari Syanto, ketua Bidang IV Senat Mahasiswa Universitas

24 thoughts on “Antara Ada dan Tiada”

  1. Saam Fredy says:

    wah otokritik nih. Bagimana dengan anda (Ari) sendiri?

  2. Geritz says:

    @penulis : Anda bisa cerita yang sudah dilakukan SMU Sekarang? Anda Didalam jangan hanya duduk diam. Buat perubahan dong.. Atau sudah dapat kursi empuk jadi keenakan.

    LK (SMU + BPMU + Sema + BPMF) UKSW Sekarang = Jago Kandang, Tidak Aspiratif, Terjebak Kegiatan

    LK UKSW = Ada juga yg bilang lembaga kegiatan

    Salam,

    Geritz

  3. subcomandante says:

    @ Penulis : otokritik cerdas ala aktivis mahasiswa..
    @ Geritz : Bukankah anda dahulu juga aktivis LK..Lalu pertanyaannya,apakah anda juga sudah membuat perubahan?Minimal,pernahkah anda mengkritik LK sewaktu anda masih menjabat dulu?Jika pernah silahkan tunjukkan di posting ini..Jika anda mengatakan LK saat ini adalah jago kandang dan segala tetek bengeknya bukankah memang LK sejak dulu seperti itu..Jika belajar sejarah,maka LK saat ini adalah hasil kaderisasi LK sebelumnya..
    Hasta la victoria siempre..
    gracias..

  4. geritz says:

    @subcomandante : thx. Anda dulu fungsionaris LK juga ya? nama asli dong?

    Sekarang saya masih di LK tepatnya Scientiarum. Komen saya diatas sudah sudah merupakan kritik pula.

    (jika anda mengatakan LK saat ini adalah jago kandang dan segala tetek bengeknya bukankah memang LK sejak dulu seperti itu), Jawaban saya ya dan tidak. Tergantung kapan dong? Saya klaim waktu saya di SMU dulu, saya banyak melakukan kegiatan bersama organ ekstra kampus dan Beberapa BEM. Dan waktu itu saya membangun jaringannya kembali yg terputus karena tidak digarap LK sebelum saya.

    (Jika belajar sejarah,maka LK saat ini adalah hasil kaderisasi LK sebelumnya) ya, saya setuju. namun menurut saya mereka tidak belajar dari sejarah

    sampai saat ini saya secara pribadi masih ikut beberapa gerakan diluar kampus.

  5. Opha says:

    @Penulis : Mungkin lebih tepatnya “Hidup segan, matipun tak mau”.
    @Geritz&Subcomandante : Kita semua tuh produk sejarah. Cara berpikir, bertindak, berargumentasi, beralasan, dan seterusnya…telah dipengaruhi oleh sejarah kita masing-masing. Tapi yang pasti untuk hari ini dan kedepan keputusan ada di tangan kita masing-masing.
    Jadi memang benar fungsionaris LK sekarang adalah produk dari kaderisasi sejarahnya, tapi setiap pola tindak sekarang dan akan datang adalah ada ditangan pribadi masing-masing. Ingat! apapun tidak akan pernah menjamin apapun!

  6. Saam Fredy says:

    @ Subcomandante: not wise-lah menyalahkan masa lalu…itu cuma sikap pecundang.

  7. penulis says:

    terimakasih atas komentarnya yang romantis dari Teman2 dan saya cukup senang ternyata masih ada yang peduli sama LK ini lewat pendapat yang pedas dan manis ini…

    untuk senior2 khususnya mas geritz yg pernah lakukan untuk LK dari membangun jejaring dengan BEM dan organ luar kampus tetapi apa yg mas geritz bangun dari dulu saya tetap menjaga bahkan UKSW sekarang menjadi koornas…tetapi ketika kita bicara tentang LK tidak bisa bicara tentang person tetapi isi dari semua LK itu sendiri….untuk itu saya mohon comment atau solusinya untuk LK, agar LK bisa seperti yang kita harapkan.

  8. Bintang says:

    belajarlah untuk melihat, mendukung dan memperbaiki sesuatu yang dulunya merupakan tempat dimana kita juga belajar. saya juga besar di LK, memang betul ada banyak hal yang harus dibenahi dalam tubuh LK itu sendiri. tapi apakah pernah terlintas untuk memperbaiki itu?? kata jago kandang ttidak hanya berlaku untuk LK. untuk yang mengatakn jago kandang, kamu pun jago kandang. ketika menilai LK jago kandang, porsi penilaiannya dari mana?? makanya kenapa saya bilang blajarlah melihat, karena hanya dilihat dari kebiasaan yang dilakukan oleh LK saja. apa mas Geritz pernah tahu apa yang sudah dilakukan oleh LK saat ini? kalau hanya melihat kesehariannya yang sibuk empersiapkan jalannya program memang pas banget kalau mas berkata seperti itu. tapi coba gali informasi yang lebih dalam tentang apa yang sudah dilakukan oleh LK. tanyakanlah pada orang2 yang duduk di LK. kan scientiarum berseblahan sama SMU, BPMU tanyalah apa yang meraka lakukan selama ini.
    tulisan ini adalah catatan untuk kita semua yang amsih peduli sama LK. kalau semua orang berkata bahwa LK sekarang adalah kader dari LK yang dulu, ya memang benar karena senior2 yang dulu pun tidak pernah mengakader orang2 untuk jadi pemimpin yang baik pada masa depan. yang ada hanya ketika telah selesai menjalankan tugasnya maka semua akan berlomba2 membuat LPJ dan kemudian berkata SELESAILAH TUGAS KU. itukah yang dinamakan sebagai seorang pemipin yang bertanggungjawab dan betul2 mencintai LK??? tapi kadangkala ketika saya berpikir bahwa sebenarnya mutlak bukan kesalahan LK yang dulu, tapi bagaimana orang2 yang pernah belajar di LK dan peduli dengan LK tidak berpatokan dengangaya memimpin seseoran atau meniru gaya periode ke periode, tetapi bagaimana memodifikasi LK sekarang menjadi LK yang tidak jago kandang seperti yang dikatakan MAS Gerits. untuk penulis anda sangat luar biasa ketika berani mengkritik LK. tidak semua bisa. ketika kita bicara itu sangat mudah tapi untuk melakukan itulah yang sulit. TAPI saya kenal anda, kamu tidak hanya bicara tapi kamu juga bertindak. hidup mahasiswa,!!!!!! HIDUP KORNAS. untuk SMU SEMANGAT. kami mendukung teman2 SMU. xlian sudah melakukan yang terbaik walau belum semuanya.
    terimalah semua kritik, saran, masukan yang membangun teman2. jangan menutup diri dengan masukan2 dari orang2 sekitar. jadikanlah itu sebagai referensi untuk semakin maju kedepan. saya yakin teman2 bisa. SEMANGAT SMU……… ca……..yooooooooo.

  9. obed pemberontak says:

    @gerits : wah pede sekali kau!
    jelek baik LK itulah prosesnya, tahun ganti tahun pasti ada saja dinamikanya.. cukup baik dengan berusaha untuk menampilkan good performance…. esensi LK untuk belajar ko’, jadi kalau masih belum baik yang masih bisa ditolelir, sudah seharusnya para senior atau ex-oficio bisa mendukung dah mengarahkan…
    yah belajar-belajar- dan belajar…
    tapi jangan belajar nyolong dan menipu yah, karena dah terlalu banyak di LK…
    regards

  10. Geritz says:

    @semua LK : Harus berani evaluasi diri seperti penulis.
    Oh ya ada satu lagi…. dan ini yg paling penting…. hehehe…
    Belajarlah pada Obed Pemberontak.

    @Obed : Harus pede dong mas Obed, masa ngga pede.

    @penulis : seetelah saya refleksi, memang tulisan anda baik sebagai bahan refleksi LK. Namun bagi saya pribadi, saya tdk mau dipenjara oleh sistem. Kita harus Berkembang dengan cara dan usaha sendiri. Tentu dengan prinsip selalu belajar. Tapi salut Dech……

    Salam,
    Geritz

  11. Penulis says:

    Sistem adalah sekelompok komponen yang terdiri dari manusia dan/atau bukan manusia (non-human) yang diorganisir dan diatur sedemikian rupa sehingga komponen-komponen tersebut dapat bertindak sebagai satu kesatuan dalam mencapai tujuan, sasaran bersama atau hasil akhir (H.Kerzner:1990).
    Pengertian ini, mengandung arti pentingnya aspek pengaturan dan pengorganisasian komponen dari suatu sistem untuk mencapai sasaran bersama, karena bila tidak ada sinkronisasi dan koordinasi yang tepat, maka kegiatan masing-masing komponen, sub-sistem, atau bidang dalam suatu organisasi akan kurang saling mendukung.
    dengan kata lain, saya melihat teman-teman LK tidak terpenjara dalam sistem tetapi tidak bisa menjalankan sistem itu secara semestinya dan oleh karena itu kita merasa terpenjara oleh sistem dan akhirnya kita menyalahkan sebuah sistem. Dan kita selalu berkutak untuk memperbaiki sebuah sistem tetapi kita tidak pernak refleksi dan memperbaiki bagi para pembuat sistem tersebut…

  12. subcomandante says:

    > Geritz : Apalah arti sebuah nama..saya bukan bekas anggota LK..namun saya selalu mengikuti gerak-gerik LK baik di dalam maupun diluar kampus..alasan anda bahwa LK sekarang tidak belajar sejarah sudah diklarifikasi oleh penulis dan kawan bintang..mengenai jejaring dengan BEM dan organ ekstra kampus menurut saya bukanlah sesuatu yang mencolok untuk dibanggakan sebab dalam FORKOM LKPTKI juga LK UKSW sebelumnya telah berjejaring..jadi alasan yang anda sampaikan menurut saya masih dangkal..saya punya usul untuk anda dari pada anda hanya melakukan kritik dari luar sistem, bagaimana jika anda terlibat kembali dalam LK sekarang, sumbangsih berupa pemikiran bisa membantu “grundelan” anda, bisa menjadi SC kegiatan misalnya..
    > Opha : sepakat..sejarah adalah produk yang mutlak dipelajari bukan diikuti..
    > Saam Fredy : dimana letak saya menyalahkan masa lalu..saya rasa belajar dari sejarah masa lalu (sejarah baik+sejarah buruk) bukanlah sesuatu untuk menyalahkan masa lalu..jika argumen saya tentang kaderisasi di LK anda anggap sebagai menyalahkan masa lalu (dan mungkin pecundang) saya pikir anda harus belajar tentang sejarah dari banyak sisi dan segi..tanpa harus melupakan sejarah..
    > obed : halah kamu juga sama ma geritz..mau jadi pontius pilatus ya..
    > Penulis : baik atau buruk kinerja kita, baik di dalam sistem maupun di luar sistem harus senantiasa kita kritikisasi sebagai sebuah imbangan pemikiran..teruslah mengkritik LK-mu kawan..mereka butuh orang2 sepertimu..
    > apakah anonim masih diperbolehkan ??silahkan dimoderasi..

  13. ztireg says:

    @ penulis : Good.

    @Subcomandante : Kamu anak LK yahhh. Pantas…. hahahaha… Saya lebih suka yang das sein aja haha…

  14. erik says:

    gerizzzzzzzz: kalau kamu bilang LK jago kandang. mungkin saya setuju. tapi kan kamu dulu anggota LK. kalau dulu. kalau dulu jago kandang tapi kandang ayam. bedanya sekarang kandang SINGA. g tau kan. makanya jangan cuma suka melihat luarnya. bagi yang bilang LK lembaga kegiatan. bergabunglah dengan LK bair rubah LK tidak lagi lembaga kegiatan tapi lembaga yang tidak jago kandang. g tau kandang yang mana. jangan cuma ngomong. sanagt dibutuhkan kontribusi buat LK. emang susah orang2 di abad ini, pintar banget kalau ngomong tapi kalau bertindakk SUSAH. justru yang jago itu kalian. jagooooo BICARA tanpa TINDAKAN. bulsitttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt.
    geritzzz selama lu di LK kamu udah ngapain aja??
    LK sekarang saya rasa sudah melakukan tugas mereka. entar g ada kegiatan minta ada kegiatan. aDA kegiatan LK dikata2in. parah. apa maunya mahasiswa di UKSW ini. ehhhh ,mahasiswa orang2 di LK buat kegiatan juga g asaal. itukan aspirasi kalian juga. entar aspirasi g di gagas ngamuk. udah kayak nyamuk di musim demam berdarah ini. hahahahha. jangan2 pada terserang demam berdarah semua makanya gaya bicaranya ……….????????????

  15. andi says:

    satu saran buat penulis (n juga LK).. sosialisasi kegiatan internal dan eksternal donk.. (coz jujur aja pas aku masih aktif dolo , sosialisasi jarang .hehe, my mistake too) .. biar mahasiswa tuh jadi tau kemana duit mereka digunain n mereka bisa minat ikut berkontribusi buat LK..
    setidaknya sebagai sesama mahasiswa… harus transparan kan.. jangan asimetris informasi lahh ..ciee
    (LK masih isinya mahasiswa kan? bukan jelmaan rektorat kan?)

    kalo rektorat/fakultas vs mahasiswa mah udah (di)budaya(kan) untuk tutup menutupi

    @penulis : wah.. mantab mas nulisnya…. .. actionnya yang mantab juga yah

    @erik
    kontribusi buat LK UKSW kan gak harus terlibat dalam LK langsung kan, ngasih saran juga ber kontribusi kan.. saya sendiri dah beberapa kali ngasih saran.. cuma kok gak kerasa tindak lanjutnya atas saran saya yah.. gimana coba? Salah siapa??? (ya mesti salah saya sendiri, dah tau gak didengerin masih ngasih saran.. huahahahha)

    @LK UKSW
    keep on going.. enjoy your ride..

  16. Hans Mesa says:

    Benar ungkapan saudara “antara ada dan tiada LK”.saya rasa anda orang yang berkecimpung dalam LK dan bahkan sampai sekarang. maaf kalau saya salah. saya melihat LK sekarang ini hanya menjadi lembaga nongkrong. apalagi sudah lengkap dengan internet. wah..tambah nongrong. saya tidak berkata banyak tapi mulailah dari LK sendiri untuk membenah diri. yang kita lihat sekarang ini LK hanya monoton dalam kinerjanya ,buat progran trus kapan waktunya dilaksanakan dan programnya pun dari tahun ketahun itu-itu saja tanpa ada perubahan/fenomena baru yang membangkitkan minat mahasisiwa untuk peduli terhadap LK. paling2 hanya untuk cari point. Anada harus kelauar dari ruangan LK dan melihat dinamika/fenomena apa yang terjadi di kampus kita. Adakah yang membuat mahasiswa bosan terhadap LK/lebijakan kampus?. tidak hanya duduk, dengar,beri saran, tdt proposal, habikan rubrik untuk rapat dan lain sebagainya.
    sudah waktunya LK sekarang untuk keluar dari sarangnya yang warna-warni (cat temboknya). anda (LK) harus juga mewarnai mahasiswa biar kampus kita penuh dengan mahasisiwa/kaum intelektual yang berwarna.heeeeee

  17. erik says:

    @Hans: untuk mas hans, anda khan dulu mantan ketua Senat FKIP mungkin bisa membagikan kunci keberhasilan mas dalam memimpin dulu agar Lk sekarang bisa lebih baik..khan bagi-bagi pengalaman tidak salah tho?

  18. Hans Mesa says:

    Baut Erik.
    segala pengalaman bukan menjadi ukuran untuk merubah suatu kinerja. apalagi kalau pengalaman itu kita bagi dalam suatu lembaga yang memiliki aturan dan tersruktur. pasti Visi n Misi berbeda. jelas sekarang mungkin anda mengutamakan/menjalankan Visi n Misi yang menjadi prioritas ketua sdr. sejarah hanya dapat di pelajari dan diambil maknanya bukan untuk di jadikan patokan sebagai garis besar.
    saran saya: LK, sebagai suatu lembaga pembuat, menjalankan, menampung dan rumah idea mahasisiwa/masyarakat harus fungsikan semestinya. membuat kegaiatan yang menarik ninat mahasisiwa dan dapat mempertajam wawasan mislnya: diskusi mingguan LK/bulanan, ,mengajak mahasisiwa untuk melihat beberapa kebijakan dikampus maupun di luar kampus yang lagi menarik. peran mahasisiwa sebagai menara gading masyarakat di fugsikan. dari pandangan saya memang kelihatan sederhana tapi saya kira erik juga sudah memiliki pandangan yang bagus untuk LK sendiri. aturan boleh ada tapi tidak salahnya kita keluar sedikit dari rel itu tapi tujuan stasiunya sama.

  19. GERITZ says:

    @Andi : Setuju..!

    @erik : Terserah kamu mau bilang kandang ayam atau kandang singa….. yg penting das sein….

    mengenai keterlibatan di LK kayaknya masih tuch…. walaupun bukan di SMU or BPMU. kamunya aja yg kurang informasi…

    klo mau tau waktu saya di LK dulu ngapain saja, lihat pekerjaan saya di LPJ dong… hehehe…. atau mari berdiskusi alias kopi darat…

    Sekian dulu

  20. erik says:

    @Hans : ya saya setuju dengan pernyataan anda tapi saya kak hans berscerita apa yang pernah anda lakukan untuk LK khususnya D LK FKIP karena saya melihat dari pernyataan kakak bahwa LK itu hanya SMU dan BPMU tanpa melihat LKF…SALAM

  21. Theo Litaay says:

    Salut untuk otokritik dari LK sendiri. Tapi LK hanyalah salah satu sub-sistem dari sistem universitas. Jadi kalau sistemnya tidak berjalan dengan baik maka memang sub-sistem lainnya potensial mengalami distorsi, termasuk LK. Sehingga masalahnya bukan hanya di LK tapi juga di universitas. Sehingga solusinya bukan hanya di LK tapi juga di universitas. Bukankah keduanya saling terkait dan seharusnya saling memberdayakan? Ini satu pemikiran saja.

  22. andi-dobleh says:

    Keberadaan LK tidak lah lepas dari mahasiswa, karena memang lembaga itu sendiri adalah representasi dari mahasiwa. Mengenai arah LK, tidak mungkin kita lepaskan dari sikap politik Individu pemegang kekuasaan dalam LK. Apakah sikap politiknya pro mahasiswa UKSW secara umum, atau pro rektorat, ataukah pro dirinya sendiri.

    @Hans
    LK tempat nongkrong? Saya akui , saya sendiri pun ketika masih aktif dalam LK juga nongkrongnya di LK, maksimal kafe yang hanya berjarak 10 M dari gedung LK.
    Yang perlu ditekankan adalah (seperti juga telah diungkapkan oleh Hans) apa yang dilakukan ketika nongkrong itu.
    Tugas SMU sendiri sebenarnya memang menjalankan program-program yang telah ditetapkan dalam Rapat Koordinasi Tahunan LK-UKSW. Sedangkan mengenai hubungan dengan pihak-pihak luar (masyarakat, rektorat) adalah tugas dari BPMU.
    Alangkah baiknya untuk pelaksanaan kedua tugas di atas dalam kerangka praktis kedua lembaga internal LK (BPM & Senat ) sanggup bekerja sama.
    Dan seperti telah saya ungkapkan, salah satu poin penting adalah Informasi yang luas dan transparan kepada setiap mahasiswa, karena bagaimanapun LK UKSW adalah pelayan mahasiswa (bahkan saya membahasakan diri saya dahulu ketika masih menjadi fungsionaris LK, saya adalah pembantu mahasiswa)

    @all
    Hal yang perlu disadari oleh semua mahasiswa adalah, MAHASISWA ADALAH PEMILIK LK (baik BPMF/PP,SEMA,SMU ataupun BPMU).
    jadi semua mahasiswa berhak menggunakan, memanfaatkan LK untuk kepentingan mahasiswa.
    -tentu saja kepentingan yang diutamakan adalah kepentingan mahasiswa umum, bukan kepentingan pribadi-

    Dalam kerangka Peranan LK dalam pengambilan Keputusan, coba kita lihat kasus terbaru, Panitia PPMB, di website uksw.edu disebutkan bahwa mahasiswa hanya akan direkrut menjadi pendamping mahasiswa baru..
    LoL…HUAHAHAHAHAHA… no comment dah.. cape ketawa.. commentnya soal PPMB besok2 aja.
    ciaoo all.. nite

  23. juliet says:

    ga usah ada EXPO BUDAYA tahun depan. biar acel aja yag nampang disana. biar dia yang jadi bintang tamu huahahahahahahahhah

  24. jesiko mandang says:

    kasihan deh UKSW

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *