Cerita dari Kegiatan Belajar Luar Sekolah

Browse By

“Apa yang sering dikerjakan oleh pendidikan? Dibendungnya aliran sungai yang berkelok-kelok.”
~ Henry David Thoreau (1850)

Pendidikan dan kegiatan belajar saat ini banyak diidentikkan dengan sekolah. Makin mahal bayaran sekolah, kualitas pengajar pun makin mendukung. Semakin bagus seragam yang dikenakan, lengkap pula fasilitas di dalamnya.

Namun, apabila menilik sejenak di sekitar Salatiga, ternyata ada tempat belajar alternatif. Tengok saja di Kalibening. Desa yang letaknya di pinggir kota ini punya sekolah alternatif yang sudah berjalan sejak 2003.

Akhir 2007 lalu, seorang kawan juga membuat kegiatan belajar luar sekolah di rumahnya. Kegiatan ini diperuntukkan bagi siapa saja yang ingin belajar, baik yang bersekolah maupun tidak.

Minggu pagi jam 10, saya tiba di rumah kawan tersebut. Letaknya di daerah Karang Balong, yang tidak jauh dari Terminal Tingkir, Salatiga. Jaraknya kurang lebih 500 meter dari sana. Saat itu, kawan tersebut sedang melatih anak-anak tingkatan SD bermain teater di halaman samping rumahnya. Halamannya cukup luas bila hanya dipakai bermain 18 orang.

Selain teater, mereka juga belajar bahasa Inggris. Kelas Inggris dibagi menjadi tiga, yakni Jumat, Minggu pagi, dan Minggu sore. Sedangkan latihan teater hanya Minggu pagi saja. Didot Klasta dan Rebecca Meckelburg, atau biasa dipanggil “Beka,” adalah pasangan suami istri yang mengelola media belajar luar sekolah ini.

Kala itu Didot hanya mengenakan kaos merah yang tampak kekecilan, jins robek, dan sandal jepit. Rambutnya yang panjang terurai sampai ke pinggul dan tampak ruwet sekali. Tidak ada tetangga di sebelah rumahnya. Hanya ada sawah yang menghampar.

“Mas Didot, ada kembaranmu dateng!” teriak seorang anak yang pertama melihat kehadiran saya, lalu disambut tawa anak-anak yang lain.

Anak-anak tersebut berlatih teater. Satu per satu diminta memperkenalkan dirinya sambil memakai gaya dan menggunakan bahasa Inggris di depan teman-temannya. Ada yang malu-malu, tapi ada juga yang tak tahu malu.

Saya lantas melihat ke dalam ruang tamu. Beka sedang asyik mengajar bahasa Inggris di ruangan 3 kali 3 meter itu. Selain Beka, juga ada empat remaja yang tampak serius mengamatinya.

Pukul 11.00 kurang, empat remaja yang di ruang tamu tadi bergabung dengan anak-anak kecil yang berlatih teater di halaman. Seluruhnya ada 22 orang di halaman 15 kali 5 meter itu. Kemudian Didot menceritakan kepada anak-anak dan remaja tersebut tentang udara. “Udara yang membuat kita semua hidup,” terang Didot.

Didot memberi komando, “Pejamkan mata! Bayangkan udara! Terserah mau mbayangin seperti apa. Mau dikasih warna apa. Mau dikasih bentuk kayak apa. Bebas! Tarik nafas dalam … buang!”

“Wuaaa …!” semua berteriak keras.

Teriakan tersebut sekaligus juga menandakan bahwa latihan telah selesai. Waktu sudah menunjukan jam 11 lewat. Setelah itu mereka langsung berhamburan untuk bersiap-siap pulang. Saya “memaksa” Didot dan Beka untuk meminta mereka berkumpul supaya saya bisa mengambil foto mereka waktu ramai-ramai. Serentak mereka langsung bergaya sendiri-sendiri. Setelah difoto, mereka langsung pulang bergerombol.

Didot dan Beka mengajak saya ngobrol di ruang makan, yang ditata model lesehan. Di tembok, terpampang lukisan-lukisan karya Didot. Ada sembilan lukisan. Tampak pula satu lukisan berukuran besar gambar wajah Beka, karya seorang temannya yang belum rampung.

Model pendidikan seperti kegiatan belajar luar sekolah ini memang bukan yang pertama dilakukan Didot. Dulu ia sempat mengelola media serupa yang diberi nama “Rumah Bambu (RB).” Namun sayang, satu per satu Rumah Bambu yang dikelolanya mati.

“Padahal, RB sendiri sempat menjadi besar,” kenang Didot.

Ketika itu Didot masih tinggal dengan kedua orangtuanya di daerah Jagalan. Selain di Jagalan, ia juga meluaskan RB ke tempat-tempat lain. Terminal Tingkir, daerah Lembu, dan yang paling terakhir mati adalah RB di Kampung Barak Sosial, yang letaknya hanya sekitar 500 meter dari kampus UKSW.

Kekurangan tenaga adalah alasan utama matinya RB. Menurut Didot, waktu RB pertama ada, relawannya sempat banyak, tapi lama-kelamaan habis. Ia pernah menghadapi kondisi buruk ketika kegiatan RB masih berjalan semua. Penyebabnya tak lain karena sudah tak ada lagi relawan. Terpaksa Didot sendirian mengelolanya.

“Kegagalan RB saat itu adalah karena ia gagal mensistematisasikan program-progamnya,” ujar Didot.

Belajar dari kegagalan, kali ini Didot dan Beka mencoba mulai membangun tempat belajar alternatif dari awal lagi. Tapi kali ini mereka tidak memakai nama RB. Mereka menamakan kegiatan ini dengan “Kegiatan Belajar Luar Sekolah (KBLS — Red).” Hampir tak ada perbedaan mendasar antara kegiatan ini dengan kegiatan-kegiatan RB yang dulu ia kelola.

“Waktu dulu aku masih berapi-api dan sangat ideologis,” Didot mencoba menjelaskan perbedaan RB dulu dengan KBLS saat ini. Karena itu, ia merasa media belajar luar sekolah lebih luwes dibandingkan RB. Didot dan Beka juga sepakat bahwa pada hakekatnya manusia itu hidup dan harus selalu belajar. Dengan media ini, mereka ingin menyampaikan bahwa sekolah bukan satu-satunya tempat belajar.

“Para orang tua juga sering salah dalam memaknai kata belajar yang selalu diidentikkan dengan belajar di sekolah. Seolah-olah kalau tidak sekolah itu tidak belajar,” kata mereka berdua.

Kegiatan ini diharapkan bisa menyeimbangkan apa yang didapat di sekolah dengan realita kehidupan sehari-hari. Menurut Didot, kadang kegiatan belajar di sekolah mengekang kreativitas. Sedangkan kalau di tempatnya, kreativitas dikeluarkan semuanya. Dan, yang jelas, tidak ada jarak seperti jarak antara guru dan murid, karena buat Didot dan Beka, mereka juga bisa belajar banyak hal dari anak-anak.

Untuk masalah melatih teater memang sudah dijalani Didot sejak lama. Ia sempat melatih Teater Rakit, lalu Teater Kronis di UKSW. Untuk urusan mengajar, Beka juga sudah punya cukup pengalaman. Hampir empat tahun lebih ia menjadi dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. Baru pada Maret 2008, Beka tidak memperpanjang kontrak mengajar, dengan alasan ingin menetap di Salatiga bersama sang suami. Ia juga ingin lebih konsen untuk mengelola Lembaga Media Aksi dan Komunitas “Kalangan.”

Harapan Didot dan Beka untuk kegiatan belajar luar sekolah adalah kegiatan ini akan selalu dikelola oleh komunitas, hingga ketika mereka tidak bisa aktif lagi, komunitas ini tetap mandiri menjalankan proses kegiatan belajarnya.

Untuk program-program yang mereka jalankan, mereka mengajak anak-anak tersebut mendiskusikan dan menentukan apa saja yang ingin mereka pelajari. Mereka bercerita, ketika menyusun program tersebut, rumahnya dipenuhi sekitar 40-an orang yang terdiri dari anak-anak dan remaja.

“Anak-anak tersebut bukan objek, justru mereka subjeknya. Jadi mereka mau belajar apa, mereka yang nentuin,” tukas Beka.

“Ada juga anak yang tidak suka teater, maka ia tidak akan ikut latihan teater,” tambah Didot.

Sementara ini, Didot dan Beka hanya membuka bahasa Inggris dan teater, karena melihat tenaga mereka yang hanya berdua. Anak-anak tersebut setiap pertemuan selalu memberi iuran yang dipegang oleh bendahara yang mereka pilih sendiri. Jumlah iuran sukarela. Tepat di hari saya datang, jumlah iuran anak-anak hanya Rp 3 ribu. Jumlah itu tidak pernah tetap menurut Beka. Minggu lalu, dengan jumlah anak yang sama, total iuran Rp 8 ribu.

Uang hasil iuran digunakan untuk kegiatan anak-anak, dan kalau bisa dibelikan beberapa perlengkapan belajar kalau memang dibutuhkan. Dengan iuran yang terkumpul, mereka dua minggu lagi berencana mengajak anak-anak tersebut jalan-jalan ke mata air Senjoyo, agar tidak bosan. Didot juga akan memberi anak-anak kejutan di Senjoyo nanti.

Hal unik yang mereka alami adalah hampir setiap pertemuan ada saja barang-barang yang diberikan orangtua anak-anak tersebut. Tepat di hari itu pula, seorang anak memberikan sayur daun ketela, telur, dan tahu bacem yang siap makan. Minggu-minggu sebelumnya ada yang memberikan gula, pisang, durian, dan sebagainya.

“Kalau gini terus, bisa-bisa untuk makan sehari-hari aku gak perlu beli,” canda Didot.

Lalu saya menambahi, “Bisa-bisa nanti ada yang bayarin rekening listrik sama air juga.”

Didot dan Beka tertawa.

“Yang kacau, bisa-bisa warga sini nanti nyalonin aku jadi lurah,” kata Didot, masih sambil tertawa.

“Di muka bumi ini tidak ada satu pun yang menimpa orang-orang tak berdosa separah sekolah. Sekolah adalah penjara. Tapi dalam beberapa hal, sekolah lebih kejam ketimbang penjara. Di penjara, misalnya, anda tidak dipaksa membeli dan membaca buku-buku karangan para sipir atau kepala penjara.”
~ Bernard Shaw, Parents and Children

6 thoughts on “Cerita dari Kegiatan Belajar Luar Sekolah”

  1. Saam Fredy says:

    Beberapa tahun silam, Pak De Didot pernah mengajak saya untuk ambil bagian dalam Rumah Bambu (RB), saya melihat semangat dalam dirinya. Tidak hanya itu, idealisme tinggi pu ikut ambil bagian.

    Ajakan itu saya tolak dengan halus, karena sudah terlalu banyak kegiatan, dan saya lebih ingin memajukan teater Kronis, yang kita bangun bersama di FISIPOL, selain ikut komunitas lainnya.

    Memanajemen sebuah komunitas tidak hanya perlu idealisme, namun juga sikap profesionalisme atau yang biasa saya ucap sebagai tata diri. Satu hal tersebut saya ambil dari kesalahan RB, dan segenap komunitas yang Pak De Didot garap. Mirip petani, menanam padi tidak hanya karena ingin, tapi juga dipikirkan tentang musim, pupuk, dll.

    Syukurlah, akhirnya ada keinginan untuk lebih membuat RB menjadi lebih serius. Semangat terus untuk RB=KBLS.

    salam,
    saam fredy

  2. ulfa says:

    Sayang sekali rasanya sewaktu kuliah di UKSW tanpa ada kegiatan apapun, aku merasa kehilangan 3 tahun tanpa ada satu hal yang bisa membantu orang lain dan berguna. Andai saja waktu itu aku tau ada Rumah Bambu yang butuh sukarelawan , mungkin aku bisa bantu sekadar memberikan ilmu ” How Are You”, “What is your name”, dll.. (aku di fak CEB ang 2002).

    Mungkin kali ini seharusnya belum terlambat, di dalam benak masih ada rasa ingin “berkomunitas” seperti itu. Tapi posisi bekerja yang menuntut aku keluar dari Salatiga.

    Sukses aja buat pak de Didot, semoga bisa konsisten dan ikhlas.

    Best Regards,
    Ulfa

  3. subcomandante says:

    > meQ : si Pakdhe Didot mo ngrintis RB jilid dua ya ?? Btw sukses aja..semoga UKSW bisa berkaca pada pendidikan komunitas spt ini..biar ga dipusingkan dengan kurikulum, birokrasi dan tentunya sistem (semester/trimester/daster).

  4. ferry roen says:

    proviciat buat penyelenggara. model seperti ini yang ideal terutama partisipasi peserta didiknya. jangan bandingin deh ama uksw apalagi pls dinas pendidikan heheheheheh

  5. obed says:

    salam kangen buat semua temen yang bergerak!
    apa pun itu bentuknya tetap salurkan kebaikan!
    salam

  6. tara says:

    Senang sekali atas kedatangan kalian di Karang Balong. Mas Didot dan Mbak Beka, telah banyak membantu kami dalam berbagai pembelajaran dan memberikan suatu motivasi terbesar bagi kami.
    Dengan “Kegiatan Belajar Luar Sekolah (KBLS — Red) yang telah dirintis akan menjadi tonggak awal bagi kami untuk terus maju.
    Semangat kalian membuat kami tergerak untuk terus berjalan kedepan.
    “Kegiatan Belajar Luar Sekolah (KBLS — Red) merupakan suatu awal yang luar biasa yang telah kalian berikan kepada kami.
    Selain itu Teater Pojok akan menjadi motor bagi kami untuk lebih maju.
    Sukses buat kita semua bersama “Kegiatan Belajar Luar Sekolah (KBLS — Red) dan Teater Pojok”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *