Pro Kontra Seputar Gay
Telah dilihat 1,380 kali sejak 10 April 2008Perjuangan Stevanus Theodurus, dalam memperjuangkan hak lesbian, gay, biseks, transgender dan transseksual (LGBT) menuai pro dan kontra. Terbukti, sejak pengakuan tentang jati dirinya di situs web Scientiarum, timbul komentar dari berbagai kalangan mengenai kaum LGBT. Tak jarang komentar pedas ia terima. Tapi ada pula sebagian yang memahami dan menerima dirinya.
Theo, demikian ia biasa disapa, merupakan Petugas Lapangan Yayasan Gessang untuk Kota Salatiga. Gessang adalah yayasan yang bergerak di bidang sosial, advokasi, dan HAM untuk kaum gay. Theo juga tercatat sebagai mahasiswa aktif Program Studi Komunikasi FISIPOL UKSW angkatan 2006.
Theo memandang, LGBT bukanlah penyakit dan bukan dosa. “Kalo gay adalah penyakit menular, saya cuma mau ngomong, ‘Tolong carikan obatnya dong.’ Kalau tidak ada obatnya, berarti ada dua penyakit yang belum bisa diobati di Indonesia, yaitu gay dan AIDS. Gay bukan penyakit, tapi itu hanyalah suatu perbedaan orientasi seksual,” kata Theo.
”Di Salatiga, yang saya ketahui, ada 200 gay dan 50 persen adalah anak UKSW. Namun mereka masih tertutup dan belum mau mengaku. Sebenarnya, orang-orang yang berjalan dengan maskulin tidak menjamin bahwa ia bukan gay,” papar Theo.
Apakah LGBT itu bukan dosa dan bukan penyakit? Pertanyaan inilah yang akan digali lebih dalam melalui perspektif teologi, sosiologi, psikologi, dan biologi.
Menurut Dien, Dosen Fakultas Teologi yang mengampu matakuliah Feminisme dan matakuliah Gender (Program Pascasarjana), LGBT masih diperdebatkan “kedosaannya,” karena ada pihak yang menentang dan menganggap LGBT sebagai dosa dan harus dikembalikan ke jalan yang benar. Namun ada juga yang mengatakan bahwa LGBT bukan dosa, karena mereka juga mahluk ciptaan Tuhan, dan Tuhan juga mempunyai kuasa yang sama besarnya untuk “mengubah” ciptaannya.
“LGBT tidak dapat dikatakan sebagai dosa. Sejauh bukan sebagai ‘tren,’ karena dewasa ini banyak yang ‘tiba-tiba’ menjadi gay (karena) sekadar tuntutan dunia hiburan,” kata Dien.
Jika seseorang tiba-tiba “menyimpang” dari jalan yang sudah digariskan oleh Tuhan, hanya demi tuntutan duniawi, maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai “dosa.” Selain itu, Dien juga menegaskan, bahwa “kelainan” seksual ini dapat terjadi karena berbagai faktor, misalnya saja faktor lingkungan; karena memiliki banyak saudara perempuan, atau terbiasa diberi mainan atau pakaian yang tidak sesuai dengan jenis kelaminnya.
Hal senada juga diamini Dosen Fakultas Biologi, Ferry Karwur. Menurut Ferry, ketertarikan seksual dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor genetik dan faktor lingkungan. Sistem ketertarikan seksual manusia berada di antara lalat buah dan reptil (buaya). Lalat buah, bagaimanapun kondisi lingkungan, tidak akan mengubah orientasi seksualnya. Genetik memegang peranan 100 persen. Sedangkan buaya terpengaruhi oleh suhu (lingkungan).
Manusia dapat mengalami kebocoran genetik. Hormon sebagai penentu organ seks sekunder (payudara, jakun, dan sebagainya) dalam perkembangannya menjadi perantara situasi lingkungan dan genetik. Lingkungan dapat mengendalikan kita untuk mengubah orientasi seksual.
Neural pada manusia sangat kompleks. Hal ini menyebabkan neural kita berkembang lebih terdiferensiasi, tidak terprogram seperti robot. Sistem manusia yang unik ini membuat perbedaan orientasi seksual bagi tiap-tiap individu.
Ilmu psikologi sudah menyatakan bahwa homoseksual bukanlah penyakit ataupun kelainan. Perlu dibiasakan untuk mengatakan dan meyakinkan diri sendiri bahwa “saya adalah normal.” Penting untuk menghilangkan sifat apatis dan menutup diri dengan perasaan bersalah. Masalahnya, banyak lesbian yang merasa berdosa, sehingga makin menjauhkan diri dari aktivitas ibadah. Kalau perasaan negatif terus menggeluti pikiran, hal itu justru bisa menimbulkan rasa lemah. Nomor satu yang paling penting adalah menerima diri sendiri terlebih dahulu.
Berbeda dengan tiga perspektif yang lain, sisi sosial lebih menekankan bagaimana hubungan interaksi antara kaum LGBT dan masyarakat. Maksudnya, bagaimana cara kaum LGBT dapat masuk dan bergaul dengan masyarakat.
“Untuk urusan dia gay atau nggak sih nggak masalah. Yang penting jangan mengganggu aja,” ujar Rido, mahasiswa UKSW. “Yang penting, kita yang normal ini nggak merasa keselamatan kita terancam. Saya punya teman gay dan dia seringnya ya bergaul cuma dengan teman-teman cewek. Mungkin teman-teman cowok termasuk saya agak jaga jarak aja ya … tanpa bermaksud mengucilkan.”
Kontributor: AQIRANA A. TARUPAY, MUHAMMAD Y. F. NASUTION

Komentar ke-52
25 August 2008 18:14
Perambah
jangan menyerah Bu…Tuahn pasti punya rencana yang baik bagi kehidupan kita
dan akan INDAH pada saatnya….kami akan dukung pergumulan Ibu dan selalu kami bawa
dalam doa kami,,jemaat GBi Jombor-Temanggung
Komentar ke-51
2 August 2008 19:55
Perambah
Homoseksualitas mengacu pada interaksi seksual dan romantis antara pribadi yang berjenis kelamin sama. Pada penggunaan mutakhir, kata sifat homoseks digunakan untuk hubungan intim dan hubungan seksual di antara orang-orang berjenis kelamin yang sama, yang bisa jadi tidak mengidentifikasi diri mereka sebagai gay atau lesbian. Homoseksualitas, sebagai suatu pengenal, pada umumnya dibandingkan dengan heteroseksualitas dan biseksualitas. Istilah gay digunakan sebagian besar untuk mengacu pada orang-orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai homoseks, tanpa memandang jenis kelamin. Lesbian adalah suatu istilah tertentu yang hanya digunakan untuk merujuk kepada wanita homoseks.
dalam pandangan Alkitab,Pergumulan dengan homoseksualitas dapat menusuk jauh ke dalam jiwa dan lubuk hati orang Kristen. Hal ini bisa mempengaruhi pandangan orang tentang dirinya dan Tuhan – yang nantinya menentukan seluruh jalan hidupnya. Oleh karena dampaknya yang jangkauannya panjang ini, maka kita perlu mengetahui pandangan Alkitab mengenai homoseksualitas. Pandangan yang jelas dan akademis sangatlah penting, karena penemuan-penemuan ilmiah bisa memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap orang Kristen dalam pergumulan homoseksualitasnya. Yang saya maksudkan dengan ini adalah bahwa banyak orang Kristen yang memiliki keinginan homoseksualitas yang tidak sadar menginginkannya. Kecenderungan homoseks tampaknya dimulai pada umur yang sangat muda yang kemudian ditambahi oleh pengaruh-pengaruh lainnya dalam hidupnya di kemudian hari, bisa membuat seseorang untuk condong mencari penyatuan emosi dan seks dengan sesama jenis. Tujuan daripada makalah ini bukanlah untuk membuat penghakiman – namun bertujuan untuk melihat bagaimana orang bisa membuat pilihan-pilihan yang bertanggung jawab berdasarkan adanya keinginan-keinginan ini.