Henry Luce Danai BU Lagi

Desain Balairung Universitas (BU) pascaproyek. {Sumber: Arsip Proyek Renovasi Dan Ekspansi Balairung UKSW}

Desain Balairung Universitas (BU) pascaproyek. {Sumber: Arsip Proyek Renovasi Dan Ekspansi Balairung UKSW}

Balairung Universitas (BU) UKSW dibangun dan mulai dioperasikan pada 1971. Gedung ini biasa digunakan untuk student/community center, sedangkan fungsi utamanya adalah sebagai auditorium universitas. Dengan usia yang sudah terbilang tua, desas-desus renovasi BU mulai terdengar sejak akhir 2006, namun realisasinya baru dilaksanakan pada 2008.

Untuk mencari tahu perkembangan renovasi tersebut, pada 4 April 2008 saya mewawancarai Agna Sulis Krave. Agna adalah Wakil Rektor IV UKSW, yang membidangi hubungan luar dan kewirausahaan, dan terlibat dalam proyek renovasi dan ekspansi BU.

“Selamat siang! Saya Febri dari Scientiarum.”

“Apa yang bisa saya bantu?” sambut Agna.

“Saya ingin mencari informasi seputar renovasi BU,” jawab saya.

Agna lalu melangkah menuju ruang kantornya. Namun sesampainya di depan pintu, tiba-tiba ia kembali lagi ke lobi. Akhirnya, di tempat itulah saya mewawancarainya.

Tak lama kemudian, seorang perempuan datang dan memberikan dokumen tebal kepada Agna. Perempuan tersebut adalah Yuliana Leatemia, sekretaris Agna.

“Nah, ini dokumen tentang pembangunan BU,” kata Agna.

“Bisa saya akses datanya, Pak?” tanya saya.

“Bisa, tapi jangan dikopi, karena saya kuatir disalahgunakan,” jawab Agna. “Tapi kalau mau diakses, bisa dipelajari di kantor saya.”

“Sebenarnya gedung ini rencana dibangun tahun 2007 lalu, namun masih dalam proses negosiasi proposal. Terjadi beberapa kali revisi dari donatur. Selain itu, proses tender pun mengambil waktu yang cukup lama,” tutur Agna.

Agna juga menjelaskan bahwa ada tiga unsur dalam proyek renovasi dan ekspansi BU, yakni perencana, pengawas, dan pelaksana. Ketiganya ditentukan melalui tender. Pihak perencana digawangi PT ACE Manunggal yang bermarkas di Yogyakarta. Sedangkan untuk pelaksanaan pembangunan dilakukan oleh PT Tangguh Swakarsa Mandiri, Jakarta.

“Kami ingin terbuka, sehingga semuanya melalui proses tender,” terang Agna.

“Kok di papan tender tidak tertulis nominal biaya proyek?” tanya saya.

“Saya tidak tahu persis apakah itu harus ada. Namun bagi siapa saja yang ingin mengetahui informasi sejelas-jelasnya, kami siap memberi informasi,” katanya.

Saya tidak sempat mempelajari dokumen yang ada, karena jam kerja sudah selesai.

***

Penelusuran data saya lanjutkan pada 8 April 2008, di kantor WR IV. Saya menemukan bahwa donatur yang membantu proyek renovasi dan ekspansi BU ini adalah Henry Luce Foundation, melalui United Board for Christian Higher Education in Asia (UBCHEA).

Henry Luce Foundation (HLF) adalah donatur yang turut memberikan bantuan ketika BU dibangun pertama kali. Kala itu BU diresmikan oleh Martha Redfield Wallace, Direktur Eksekutif HLF, pada 30 November 1971, bertepatan dengan Dies Natalis UKSW ke-15.

Untuk pembangunan BU saat ini, HLF menyanggupi untuk memberi bantuan maksimal US$ 440 ribu. Bantuan ini disesuaikan dengan anggaran yang disusun UKSW untuk renovasi, yakni sebesar US$ 439.560,66.

Sekretaris panitia pembangunan, Novasari Linda Jeany, mengutarakan bahwa untuk pembanguan BU, UKSW sendiri mengeluarkan biaya sebesar US$ 146.551. “Ini untuk membiayai VIP room, generator set, management cost, dan preplanning,” papar Nova.

Kemudian saya menemui Krisdiana dari pihak pengawas panitia satgas untuk meminta perspektif gambar BU di kantornya. Krisdiana berbagi ruang dengan sekretaris WR II.

Setelah mendapatkan gambar, saya berniat pulang. Namun saat menuju tangga turun, secara kebetulan, saya bertemu dengan Umbu Rauta, WR III UKSW. Saya diperkenalkan dengan dua orang yang berada di dekatnya. Kedua orang tersebut adalah Wiek Prawignyo (Direktur Teknik PT ACE Manunggal) dan Achmad Hanifa Irawan (arsitek)

“Silahkan kalau mau sekalian wawancara,” kata Umbu.

Wawancara saya mulai dengan menanyakan tentang tugas dan wewenang dari pihak perencana. Wiek menjelaskan bahwa mereka menggambar perspektif BU dan menentukan material yang dipakai. “Kami juga datang setiap dua minggu untuk melakukan pengecekan dan koordinasi,” tutur Wiek.

“Kalau nominal kontrak dengan UKSW berapa?” tanya saya.

“Kalau kontrak ini tergolong kecil, karena merupakan kontrak yang pertama kali dengan UKSW,” jawab Achmad Hanifa Irawan.

“Berapa?”

“80 juta,” jawabnya lagi.

Sore harinya, saya menemui Kris Herawan Timotius, Rektor UKSW, di kantornya. Kris bercerita tentang sejarah BU ketika pertama kali dibangun. Saat itu ia masih mahasiswa.

“Dulu ada kafetaria, book store, dan poliklinik,” tutur Kris.

Ia juga menceritakan Sidang Raya Dewan Gereja Indonesia (kini Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, PGI) tahun 1976, yang diselenggarakan di BU. Waktu itu hadir pula Presiden Soeharto bersama Menteri Agama Mukti Ali. Soeharto datang untuk membuka sidang tersebut.

Setelah menemui Kris Timotius, saya langsung menuju lokasi proyek. Di sana saya menemui Raya Muda yang bertugas sebagai site engineer.

Kami berdiri di tengah lokasi pembangunan sambil melakukan wawancara.

“Mas, yakin nggak ini selesai tepat waktu?” tanya saya.

“Saya yakin. Memang saat pemasangan pondasi tidak terlihat secara fisik. Tapi kalau pondasi sudah jadi, ini akan cepat,” jawab Raya.

“Problemnya apa saja?”

“Kami tidak menemui masalah yang besar sampai saat ini. Paling pengadaan material saja.”

“Mas, kalo jumlah pekerja berapa? Apakah mereka orang Salatiga?” lanjut saya.

“Jumlah tukang dan pekerja bantu ada 30 orang. Ada yang dari Salatiga, yang lainnya kurang tahu. Katanya, sebagian (asalnya) sekitar 3 jam dari sini.”

“Mereka dapat upah berapa ya, Mas?”

“Kalo tukang, 45 ribu per hari. Tapi kalau yang membantu, variatif, antara 30 ribu sampai 35 ribu per hari. Itu di luar uang lembur dan Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga Kerja — Red).”

“Mas, mereka kok kerja tidak pakai pengaman?”

“Wah, mereka susah diberi tahu. Tapi kalau sudah masuk tahap pembangunan, kami akan mewajibkan penggunaan pengaman. Tapi kalau perusahaan besar seperti Adi Karya atau Hutama Karya, mereka mewajibkan selalu menggunakan pengaman,” kata Raya.

36 komentar pada Henry Luce Danai BU Lagi

  1. STR 15 April 2008 pukul 15:15

    Wah, desain BU barunya minimalis banget. Terlalu modern buat saya. Kenapa warnanya compar-campur gitu? Apa artinya warna merah digabung sama warna ijo endok asin, abu-abu marmer, kuning pisang, sama coklat batangan?

    Trus, itu bisa muat berapa orang?

  2. WIT 16 April 2008 pukul 12:47

    jika arsitektur (mesti) punya makna/filosofi, apa makna/filosofi dari desain BU yang baru?
    sepintas, saya kira bagian depan atas itu untuk memajang boneka manekin (seperti toko fashion gitu loh…)
    atau tempat pasang spanduk?
    ah.., jangan beranda-andai,besok kalau sudah jadi khan ya tahu sendiri… (kalau masih diberi umur panjang sama yang maha kuasa loh…)

  3. Ferdi 17 April 2008 pukul 18:26

    Mas wit, itu nanti mau dipajang fotoku…. He.he.he…..

  4. schape 19 April 2008 pukul 20:53

    syaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaapppppppppppp…………….

  5. Bintang 22 April 2008 pukul 10:19

    doakan biar BU selesai tepat waktu. biar pelaksanaan kegiatan ga di lapanga lagi. mahal solanya. hahahahhahahah. kalo desain NO comment. liat nanti kalo sudah selesai.

  6. john iskandar 22 April 2008 pukul 10:23

    wah bagus juga ya, tapi WR IV bilang transparan, tapi kok biaya pembangunannya tidak di informasikan kepada publik…. riz, tolong cek dulu biayanya berapa???

    trus tendernya kapan dan siapa2 yang ikut tender??? kok tidak ada informasi. jangan sampai cuma AC manunggal saja.

  7. Samuel P. 22 April 2008 pukul 11:00

    OOT sedikit, cuma sedih saja lihat kampus sekarang banyak tempelan yang mengurangi estetika.

  8. niskala 22 April 2008 pukul 18:24

    (katanya) BU itu gedung kebanggaan UKSW (tempo dulu).
    saya pikir hasilnya akan “wah”. sekalipun tidak besar dan megah, setidaknya bisa bikin kita berbangga ria dan bisa bikin kita tersenyum :D , atau minimal :) .. ternyata setelah lihat rancangannya saya cuma :| saja. sekilas mirip GPD salatiga ya…? jujur, saya lebih suka arsitektur BU yang lama.

    eniwey…
    mudah2an saya salah… ikut bintang aja. .. “liat nanti kalo sudah selesai”…

  9. ant 23 April 2008 pukul 12:15

    Kira-kira filosofi warnanya cat ada nggak ya ??
    Kok bangunannya jadi nggak kelihatan “megah” seperti bangunan yang lama ya… TUA tapi BERWIBAWA…
    Space kosong di bawah tulisan UKSW mau dibuat ya kira-kira ? tempat spanduk ??
    usul aja ya.. mungkin tulisan UKSWnya pake warna EMAS aja pasti lebih elegan.

    makasih deh.. eh btw kapan selesainya ya???

  10. ojohn 23 April 2008 pukul 13:32

    wah saya baru sempat liat berita ini..lumayanlah desain barunya..
    usul saya sich tulisan satya wacana yang di atas BU jangan pake font biasa donk..khan satya wacan punya font sendiri tu…mahal2 dibuat tapi tidak dipergunakan khan sayang…he he he he
    mudah2 an bisa tampung 1200 orang dech pas pesparawi bulan oktober nanti..sip

  11. Silentist 23 April 2008 pukul 17:56

    modern??ngga!!…kuno??ngga!! trus????

  12. Samuel P. 24 April 2008 pukul 12:11

    BU ku sayang… BU ku malang T,T
    Saya cuma bisa berharap BU jadinya tidak seperti gambarnya..

  13. Jonh_Crow 24 April 2008 pukul 14:47

    lhaa…..kok kaya gedung bioskop ya…..?? film nya bagus gak ya…..???..
    tapi gak juga, malah kaya salon kecantikan,….???.tapi gak juga klo dilihat-lihat lagi kaya apa ya…..??..Pasar kali….tapi gak tau deng….menurut kalian kaya apa coy..???

  14. buy 24 April 2008 pukul 18:36

    liat dr gbr rasanya koq kurang menarik yach.
    mudah2an liat aslinya lbh bagus.

    all the best 4 UKSW.

  15. Pak So 24 April 2008 pukul 19:13

    wah, desainnya kayak bangunan utk komersial gitu.. gambar orangya kayak mau jjs hrsnya gambar mahasiswa kucel 2 hr gak mandi n pake sandal jepit :) Sayang yah, padahal tempat itu saya yakin banyak meninggalkan kenangan terutama buat alumni..

  16. ex6198021 24 April 2008 pukul 19:36

    woloh2 alumni2 pada masuk nih?
    buyung ma pakso kapan muleh solo3?.. mbahrowo klelep thu.. ya beginilah bu yang sudah menwisudakan kita 2x jadi rwuemuk.. cdih cdih..

  17. x-tian 28 April 2008 pukul 0:25

    wew…gedungya kelihatan besar sekali….selesainya kapan Nih??….ya mudah mudahan klo di pake buat acara mahasiswa nggk di komersialkan ……
    Btw….kok nggk di jelaskan kapasitas daya tampung gedungnya????
    modelnya ruangannya demokrasi apa kapitalis nih (lihat lapangan basket UKSW dulu semua org boleh make sekarang di kunci…..wkwkkwkw…mending lapangan sepak bola meskipun agak kurang terurus…..tapi lebih demokrasi… )
    bukan begitu ? bukan! hanya mahasiswa aja yg tau….

  18. krebo 28 April 2008 pukul 11:14

    Sepintas masih mirip bu yang lama, cuma diperjelek kayaknya.

  19. Opha 30 April 2008 pukul 11:51

    Menurut saya, Balairung Utama disetiap universitas harus bisa menjadi salah satu simbol yang menggambarkan karakter, culture, dinamika dan kekuatan yang tidak tampak bagi universitas itu sendiri. Jadi tidak hanya dilihat kemegahan ataupun ukuran bangunan fisiknya saja.
    Kalo bagus atau tidaknya bangunan itu, selera masing-masing. Saya heran, melihat desain / gambar yang ada, kok saya belum bisa melihat makna-makna itu. semoga saja saya salah.

  20. penunggu BU 7 Mei 2008 pukul 16:45

    ampun…

  21. paman tyo 24 Mei 2008 pukul 8:18

    Saya pernah akrab dengan gedung yang bernama lama “UC” (you-see) atawa university center ini. Ikut Ibu latihan kolintang dan koor Perwasatna, minta ditraktir bapak di kafetaria dan dibeliin buku/majalah di bookstore, nonton konser, ngisi malam kesenian waktu SD, dan bahkan resepsi perkawinan saya pun di situ. :)

    Sejauh saya tahu, riwayat UC yang didanai oleh lembaga bentukan salah satu pendiri majalah Time itu adalah menyediakan sebuah ruang bersama yang bisa diakses oleh publik di luar kampus. Dulu banget, ketika UKSW masih sering disebut sebagai PTPG, malam kesenian berlangsung di gedung A atau B yang sehari-hari untuk perkuliahan. Rakyat menonton di luar, mengintip melalui pintu kaca. Ada seorang tamu asing tersentuh, tergerak, dan seterusnya, hingga kemudian berdirilah YuSi itu.

  22. Theofransus Litaay 25 Mei 2008 pukul 0:26

    Mas redaksi; tolong dong diupdate foto perkembangan pembangunan BU / UC sekarang ini. Biar kelihatan kondisi terakhir pembangunannya dan rekan-rekan di kota lain yang ingin bernostalgia bisa terinformasikan.

  23. STR 25 Mei 2008 pukul 17:33

    @ Theofransus: Siap. Sementara sedang kami siapkan space khusus untuk berita foto. ;)

  24. Theofransus Litaay 25 Mei 2008 pukul 23:02

    @STR: Trims mas. Saya membayangkan kita bisa mempromosikan pembangunan ini sebagai bagian dari komitmen UKSW untuk meningkatkan kualitas pelayanan dalam pendidikan di kampus ini.
    Dua hari lalu saya pergi ke kampus Universitas Notre Dame. Yang menarik, mereka baru peroleh dana hibah 15 juta dollar dari satu keluarga alumni fakultas hukum untuk bangun gedung fakultas hukum. Lalu di website mereka, rencana pembangunan dan proses perkembangannya dapat diikuti melalui gambar animasi rencana gedung maupun gambar Live melalui Webcam yang 24 jam selalu mengirim gambar ke website Univ Notre Dame. Teman-teman bisa melihatnya di link ini: http://law.nd.edu/about/law-school-expansion di bagian kanan bawah di situ ada pilihan untuk View Slideshow, View movie, atau View Webcam.
    Hal yang sama juga dilakukan oleh Valparaiso University (Valpo) yang merupakan host university saya di AS ini. Mereka sedang membangun gedung pusat baru bernilai 76 juta dollar. Di website Valpo, tersedia juga informasi Webcam, maupun Floorplan. Ini bisa anda lihat disini: http://www.valpo.edu/construction/union/ . Pada menu kiri itu bisa dipilih view Webcam ataupun Floorplan serta Desain Bangunan.
    Mungkin mas Saam Freddy bisa sampaikan hal ini kepada pak Eko dan mas Edhy dkk di BTSI untuk dicek kemungkinannya (tentunya perlu ada camera-nya juga).
    Kalau bisa kan mungkin bisa juga dilink nanti ke blog Scientiarum ini.
    Yah, ini sekedar ide saja, untuk semakin meningkatkan mutu pelayanan kita semua (termasuk pelayanan penyediaan informasi yang dengan penuh dedikasi telah ditunjukkan oleh pengelola blog Scientiarum ini).

  25. UKSW LOver's 26 Mei 2008 pukul 18:26

    Iya Bang…. Tolong cariin kira2 Ntar jadinya kayak apa donk BU Kita tercinta…. Tapi kalo bisa dari berbagai sudut pandang yach…Makasih…

  26. Neil Rupidara 26 Mei 2008 pukul 21:17

    @Theofransus: Lagi trend rupanya ya bung Theo.. Abis liat NDU dan Valpo, saya jadi teringat bahwa di St Olaf College juga sedang bangun kompleks lab Science and Maths dan langsung terbang ke Northfield, Minnesota. Eaalaahh sama… pakai webcam juga. Tambahan ada video tour imaginatif yang mereka kasih nama imagefiction. Silahkan coba main2 dengan fasilitas itu bung Theo dan juga teman2 lain.

    http://www.stolaf.edu/sciencecomplex/building/

    Yang jelas, saya sudah pusing sendiri berputar2 dalam gedung, tiba2 naik ke atap. Mau bilang apa ya… yang jelas kita kalah teknologi dan bukan cuma itu, yang paling celaka: kalah imaginasi!!!

    Imaginasi!!! Spirit mewujudkan mimpi, itulah yang membuat masa 3 bulan lebih saya di St Olaf serasa berada di Satya Wacana yang sesungguhnya. Kangen untuk datang lagi ke sana. Saya kira bung Theo juga merasakan spirit yang sama kuat di Valpo. Suasana seperti itu yang membawa pikiran saya bahwa mimpi pak Notohamidjojo sebagai pendiri dan penerus seperti Willi Toisuta bukan sekedar konsep kosong. Mungkin di UKSW itu tetap jadi mimpi, tetapi tidak bagi sebuah komunitas yang jauh lebih kecil spt St Olaf. Dengan posisi di atas bukit (di ujung bukit yang lain ada Carleton College), mereka ibarat menjadi penerang bagi komunitas di sekitarnya. Mewujudkan metafora Alkitabiah.

    Sebagai info, St Olaf kira-kira cuma 1/4 jumlah mahasiswa UKSW (total 3000) mampu membangun proyek raksasa itu bernilai 33 juta dolar. Jelas itu kerja keras dan sangat keras, bukan tadah tangan gampang2 dan tiba2 datang uang segudang itu. Kompleks itu diharapkan jadi salah satu kompleks sains-matematika terbaik dengan fasilitas super canggih dan very interactive – stimulating. Makin menambah warna pada kampus ‘raksasa’ sebuah college kecil yang jelas jauh lebih unggul dari UKSW. UKSW kagak ada apa2nya. Mimpinya cuma sebatas mau jadi seperti yang lokal2 saja sih… ha ha ha ha..

    Motto yang mereka pakai (pernyataan Churcill) pernah juga menjadi bahan yang saya share ke tim pembangunan kampus baru UKSW yang gagal diteruskan itu (hi hi hi, sedih).

    “We shape our buildings and afterwards our buildings shape us.”
    —Winston Churchill

    Andaikan itu terjadi di UKSW….

  27. ricky 16 Juni 2008 pukul 14:55

    kok kayaknya bentuk BU baru kurang yahud…kenapa gak disosialisasikan terlebih dahulu
    jadi yang dari pembuat membuat beberapa sketsa untuk dipilih civitas…supaya civitas merasa dilibatkan dalam proses pembuatan dengan memilih bentuk2 pilihan yang ada…
    ndak seperti ini…seakan-akan sudah jadi keputusan…
    hal hal seperti ini akan mengurangi rasa memiliki BU uksw oleh civitas.
    la kok rumahnya diubah bentuknya sama orang asing seenaknya sendiri
    harap jadi masukan untuk pimpinan di masa datang.

    GBU

  28. Arthur 16 Juni 2008 pukul 15:52

    Lho, Biar modelnya jelek, warnanya ambrul adul ndak karuan,
    Orangnya kayak jjs, komersil, bentuknya aneh, tapi tetep……

    Yang penting modalnya gede coy….

    Ya (“moga-moga tidak”) dikorupsi sama pihak yang terkait……
    Kan lumayan uang milyaran. Kalo buat beli bakso, bisa dapet se-……………………………………………………………………

  29. samuel 16 Juni 2008 pukul 17:49

    Sudah tinggal +/- 3 bulan lagi sampai batas waktu penyelesaian BU UKSW, semoga Manajemen Konstruksinya tidak mengabaikan kualitas dan finishing gedung hanya demi mengejar bulan September. Karena setau saya proses finishing merupakan proses yang paling lama dari pembangunan sebuah gedung. Karena harus melakukan pemasangan dinding, plesteran dan acian dinding dan lantai, pemasangan keramik, marmer, granit pada dinding dan lantai, pemasangan instalasi air bersih dan air kotor, pemasangan alat saniter, elektrikal, pengecetan, dan lain sebagainya.

    @Redaksi mungkin bisa menulis berita perkembangan pembangunan BU UKSW, karena bagaimanapun seperti sudah disebutkan pada komentar-komentar sebelumnya sebuah BU merupakan simbol dari sebuah Universitas, apalagi BU akan difungsikan pada bulan September.

    @Arthur: Frans baru tau aku kl, namamu Arthur?? hahaha..

  30. Arthur 16 Juni 2008 pukul 17:54

    Yup, nama terkenalnya pak, wkk…kk.kkk…

    Eh pak, mana kok ndak ngajar???
    Ni dah ditunggu anak² lho…..

  31. niskala 1 Agustus 2008 pukul 15:37

    sekedar berbagi foto ajah..
    progres pembangunan BU-UKSW dari maret 2008 sampai sekarang (1 agustus 2008)

    lihat disini

    mudah-mudahan bermanfaat..

    wasalam..

  32. STR 1 Agustus 2008 pukul 22:44

    Makasih banyak Mas Yos! :D

  33. Theofransus Litaay 2 Agustus 2008 pukul 13:55

    Kemarin dulu saya mengirim email kepada WR 4 dan WR 3, memberitahukan bahwa pihak United Board (sebagai sponsor pembangunan ini yang menyalurkan bantuan dari Henry Luce Foundation) menanyakan foto perkembangan pembangunan BU. Hal itu ditanyakan oleh Wakil Presiden UB dan Koordinator Programnya saat bertemu di Hong Kong China University tiga hari yang lalu.
    Nampaknya foto-foto itu perlu dipasang di web resmi UKSW, supaya pihak yang membantu pembangunan ini dapat melihat perkembangan pemanfaatan bantuannya. Ini juga satu bentuk nyata dari Good Corporate Governance (transparency dan accountability).
    Mudah-mudahan foto-foto sudah dikirim, sebaiknya dipublikasikan di web UKSW juga. Karena kawan-kawan SA cukup dekat dengan pimpinan UKSW, mungkin bisa disampaikan sekaligus.

  34. Theofransus Litaay 2 Agustus 2008 pukul 13:57

    Presiden United Board, Dr Patricia Stranahan sendiri sempat bertanya kepada saya mengenai perkembangan pembangunan BU UKSW ini. Saya katakan kepada Presiden United Board, bahwa “Pembangunannya berjalan dengan lancar, sekarang bentuk bangunan sudah semakin jelas. Kami berharap pada waktu Pesparawi di bulan Oktober sudah bisa digunakan sebagai salah satu gedung kebanggaan UKSW.”

  35. Bennardi 19 Agustus 2008 pukul 9:39

    UKSW punya leingkungan yang unik, moga pembangunan BU yang baru bisa menambah keunikan tersebut,dan tidak mengurangi suasana “adem” di kampus

  36. niskala 18 September 2008 pukul 16:15

    pengen nih liat foto2 bagian dalam dari BU klo SA bersedia ambil fotonya. mungkin skalian prakiraan selesainya pekerjaan atau info apalah itu, SA lebih paham mengenai pemberitaan.

    makasih sebelumnya..

    sekedar berpendapat pribadi aja, bagian dalam emang kayaknya luas sklali ya, memberi kesan megah (hal yang wajar mengingat ukuran ruangannya).. tapi bagian luarnya kok rasanya sangat-sangat sempit, padahal salah satu yang menyenangkan dari BU yang lama adalah terasnya. sekarang, orang yang akan masuk-keluar langsung berinteraksi dengan tangga dan aspal..

    contoh efek sampingnya, panitia acara expo harus merancang bentuk kegiatan yg baru mengingat tidak ada teras untuk menampung stand etnis. anak-anak dance dan bela diri, yg biasanya latian disitu juga sudah hampir pasti akan kehilangan teras itu. gak penting juga sih… cuma berpendapat ada tentang bentuk fisik BU yang sekarang…

    apapun… gedung sudah berdiri dan pasti akan digunakan setelah selesai dikerjakan. baik atau buruk, bagus atau jelek, itulah BU milik UKSW sampai beberapa puluh tahun mendatang. gedung itulah yang akan menjadi pusat kegiatan umum (besar) kampus. semoga aja bisa berfungsi dengan baik dan aman, serta menjadi berkat untuk kita deh… aminn….

    wasalam

Tinggalkan tanggapan anda (dengan kepala dingin), disertai identitas yang jujur

Masukkan alamat surel anda untuk berlangganan situs web ini. Cek kotak masuk atau spam surel anda untuk mengonfirmasi langganan.

Bergabung dengan 11 pelanggan lain