Henry Luce Danai BU Lagi

Telah dilihat 789 kali sejak 15 April 2008

Perspektif BU
SUMBER: ARSIP PROYEK RENOVASI DAN EKSPANSI BALAIRUNG UKSW
Desain Balairung Universitas (BU) pascaproyek.

Balairung Universitas (BU) UKSW dibangun dan mulai dioperasikan pada 1971. Gedung ini biasa digunakan untuk student/community center, sedangkan fungsi utamanya adalah sebagai auditorium universitas. Dengan usia yang sudah terbilang tua, desas-desus renovasi BU mulai terdengar sejak akhir 2006, namun realisasinya baru dilaksanakan pada 2008.

Untuk mencari tahu perkembangan renovasi tersebut, pada 4 April 2008 saya mewawancarai Agna Sulis Krave. Agna adalah Wakil Rektor IV UKSW, yang membidangi hubungan luar dan kewirausahaan, dan terlibat dalam proyek renovasi dan ekspansi BU.

“Selamat siang! Saya Febri dari Scientiarum.”

“Apa yang bisa saya bantu?” sambut Agna.

“Saya ingin mencari informasi seputar renovasi BU,” jawab saya.

Agna lalu melangkah menuju ruang kantornya. Namun sesampainya di depan pintu, tiba-tiba ia kembali lagi ke lobi. Akhirnya, di tempat itulah saya mewawancarainya.

Tak lama kemudian, seorang perempuan datang dan memberikan dokumen tebal kepada Agna. Perempuan tersebut adalah Yuliana Leatemia, sekretaris Agna.

“Nah, ini dokumen tentang pembangunan BU,” kata Agna.

“Bisa saya akses datanya, Pak?” tanya saya.

“Bisa, tapi jangan dikopi, karena saya kuatir disalahgunakan,” jawab Agna. “Tapi kalau mau diakses, bisa dipelajari di kantor saya.”

“Sebenarnya gedung ini rencana dibangun tahun 2007 lalu, namun masih dalam proses negosiasi proposal. Terjadi beberapa kali revisi dari donatur. Selain itu, proses tender pun mengambil waktu yang cukup lama,” tutur Agna.

Agna juga menjelaskan bahwa ada tiga unsur dalam proyek renovasi dan ekspansi BU, yakni perencana, pengawas, dan pelaksana. Ketiganya ditentukan melalui tender. Pihak perencana digawangi PT ACE Manunggal yang bermarkas di Yogyakarta. Sedangkan untuk pelaksanaan pembangunan dilakukan oleh PT Tangguh Swakarsa Mandiri, Jakarta.

“Kami ingin terbuka, sehingga semuanya melalui proses tender,” terang Agna.

“Kok di papan tender tidak tertulis nominal biaya proyek?” tanya saya.

“Saya tidak tahu persis apakah itu harus ada. Namun bagi siapa saja yang ingin mengetahui informasi sejelas-jelasnya, kami siap memberi informasi,” katanya.

Saya tidak sempat mempelajari dokumen yang ada, karena jam kerja sudah selesai.

***

Penelusuran data saya lanjutkan pada 8 April 2008, di kantor WR IV. Saya menemukan bahwa donatur yang membantu proyek renovasi dan ekspansi BU ini adalah Henry Luce Foundation, melalui United Board for Christian Higher Education in Asia (UBCHEA).

Henry Luce Foundation (HLF) adalah donatur yang turut memberikan bantuan ketika BU dibangun pertama kali. Kala itu BU diresmikan oleh Martha Redfield Wallace, Direktur Eksekutif HLF, pada 30 November 1971, bertepatan dengan Dies Natalis UKSW ke-15.

Untuk pembangunan BU saat ini, HLF menyanggupi untuk memberi bantuan maksimal US$ 440 ribu. Bantuan ini disesuaikan dengan anggaran yang disusun UKSW untuk renovasi, yakni sebesar US$ 439.560,66.

Sekretaris panitia pembangunan, Novasari Linda Jeany, mengutarakan bahwa untuk pembanguan BU, UKSW sendiri mengeluarkan biaya sebesar US$ 146.551. “Ini untuk membiayai VIP room, generator set, management cost, dan preplanning,” papar Nova.

Kemudian saya menemui Krisdiana dari pihak pengawas panitia satgas untuk meminta perspektif gambar BU di kantornya. Krisdiana berbagi ruang dengan sekretaris WR II.

Setelah mendapatkan gambar, saya berniat pulang. Namun saat menuju tangga turun, secara kebetulan, saya bertemu dengan Umbu Rauta, WR III UKSW. Saya diperkenalkan dengan dua orang yang berada di dekatnya. Kedua orang tersebut adalah Wiek Prawignyo (Direktur Teknik PT ACE Manunggal) dan Achmad Hanifa Irawan (arsitek)

“Silahkan kalau mau sekalian wawancara,” kata Umbu.

Wawancara saya mulai dengan menanyakan tentang tugas dan wewenang dari pihak perencana. Wiek menjelaskan bahwa mereka menggambar perspektif BU dan menentukan material yang dipakai. “Kami juga datang setiap dua minggu untuk melakukan pengecekan dan koordinasi,” tutur Wiek.

“Kalau nominal kontrak dengan UKSW berapa?” tanya saya.

“Kalau kontrak ini tergolong kecil, karena merupakan kontrak yang pertama kali dengan UKSW,” jawab Achmad Hanifa Irawan.

“Berapa?”

“80 juta,” jawabnya lagi.

Sore harinya, saya menemui Kris Herawan Timotius, Rektor UKSW, di kantornya. Kris bercerita tentang sejarah BU ketika pertama kali dibangun. Saat itu ia masih mahasiswa.

“Dulu ada kafetaria, book store, dan poliklinik,” tutur Kris.

Ia juga menceritakan Sidang Raya Dewan Gereja Indonesia (kini Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, PGI) tahun 1976, yang diselenggarakan di BU. Waktu itu hadir pula Presiden Soeharto bersama Menteri Agama Mukti Ali. Soeharto datang untuk membuka sidang tersebut.

Setelah menemui Kris Timotius, saya langsung menuju lokasi proyek. Di sana saya menemui Raya Muda yang bertugas sebagai site engineer.

Kami berdiri di tengah lokasi pembangunan sambil melakukan wawancara.

“Mas, yakin nggak ini selesai tepat waktu?” tanya saya.

“Saya yakin. Memang saat pemasangan pondasi tidak terlihat secara fisik. Tapi kalau pondasi sudah jadi, ini akan cepat,” jawab Raya.

“Problemnya apa saja?”

“Kami tidak menemui masalah yang besar sampai saat ini. Paling pengadaan material saja.”

“Mas, kalo jumlah pekerja berapa? Apakah mereka orang Salatiga?” lanjut saya.

“Jumlah tukang dan pekerja bantu ada 30 orang. Ada yang dari Salatiga, yang lainnya kurang tahu. Katanya, sebagian (asalnya) sekitar 3 jam dari sini.”

“Mereka dapat upah berapa ya, Mas?”

“Kalo tukang, 45 ribu per hari. Tapi kalau yang membantu, variatif, antara 30 ribu sampai 35 ribu per hari. Itu di luar uang lembur dan Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga Kerja — Red).”

“Mas, mereka kok kerja tidak pakai pengaman?”

“Wah, mereka susah diberi tahu. Tapi kalau sudah masuk tahap pembangunan, kami akan mewajibkan penggunaan pengaman. Tapi kalau perusahaan besar seperti Adi Karya atau Hutama Karya, mereka mewajibkan selalu menggunakan pengaman,” kata Raya.

Tag: , , ,

35 komentar telah masuk. Apa pendapat anda?

Halaman: [4] 3 2 1 » Lihat Semua

  1. Komentar ke-35

    UKSW punya leingkungan yang unik, moga pembangunan BU yang baru bisa menambah keunikan tersebut,dan tidak mengurangi suasana “adem” di kampus

  2. Komentar ke-34

    Presiden United Board, Dr Patricia Stranahan sendiri sempat bertanya kepada saya mengenai perkembangan pembangunan BU UKSW ini. Saya katakan kepada Presiden United Board, bahwa “Pembangunannya berjalan dengan lancar, sekarang bentuk bangunan sudah semakin jelas. Kami berharap pada waktu Pesparawi di bulan Oktober sudah bisa digunakan sebagai salah satu gedung kebanggaan UKSW.”

  3. Komentar ke-33

    Kemarin dulu saya mengirim email kepada WR 4 dan WR 3, memberitahukan bahwa pihak United Board (sebagai sponsor pembangunan ini yang menyalurkan bantuan dari Henry Luce Foundation) menanyakan foto perkembangan pembangunan BU. Hal itu ditanyakan oleh Wakil Presiden UB dan Koordinator Programnya saat bertemu di Hong Kong China University tiga hari yang lalu.
    Nampaknya foto-foto itu perlu dipasang di web resmi UKSW, supaya pihak yang membantu pembangunan ini dapat melihat perkembangan pemanfaatan bantuannya. Ini juga satu bentuk nyata dari Good Corporate Governance (transparency dan accountability).
    Mudah-mudahan foto-foto sudah dikirim, sebaiknya dipublikasikan di web UKSW juga. Karena kawan-kawan SA cukup dekat dengan pimpinan UKSW, mungkin bisa disampaikan sekaligus.

  4. Komentar ke-32

    Makasih banyak Mas Yos! :D

  5. Komentar ke-31

    sekedar berbagi foto ajah..
    progres pembangunan BU-UKSW dari maret 2008 sampai sekarang (1 agustus 2008)

    lihat disini

    mudah-mudahan bermanfaat..

    wasalam..

Halaman: [4] 3 2 1 » Lihat Semua

Berikan pendapat anda. Bergabung dalam diskusi.

PERHATIAN. Setiap komentar akan melewati proses moderasi sebelum tampil. Silakan berkomentar dengan sopan dan bertanggungjawab. Komentar anonim atau alias tetap diperbolehkan, namun kami mengimbau agar anda sudi menunjukkan identitas asli. Komentar yang menyinggung isu SARA atau melanggar etika kesopanan tidak akan ditampilkan.

SPONSOR LINK