Gus Dur: Pertahankan Nasionalisme Kita

Browse By

“Nasionalisme kita adalah nasionalisme berkembang. Untuk itu, nasionalisme harus tetap dijaga dan dipertahankan,” pesan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, mantan Presiden Indonesia keempat, ketika menjadi pembicara utama dalam Sarasehan Nasional Wawasan Kebangsaan yang diselenggarakan Pemerintah Kota Salatiga di Quality Hotel Wahid Salatiga, Selasa, 15 April 2008.

Diadakannya sarasehan dengan tema “Mewujudkan Salatiga yang Maju dan Harmonis” itu berkaitan dengan adanya krisis moral dan kepercayaan yang sedang melanda Indonesia. Masyarakat kehilangan identitas dengan menjadi saling tidak percaya satu sama lain, hingga berdampak pula pada ketidakrespekan pihak internasional.

Rentetan peristiwa, seperti pemukulan hansip Malaysia terhadap ofisial tim olahraga Indonesia, sebutan “Indon” yang berkonotasi merendahkan, serta larangan bagi pesawat Indonesia untuk mengudara di wilayah Uni Eropa, merupakan salah satu dampak dari ketidakrespekan tersebut.

Mengantisipasi fenomena ini, maka dalam sarasehan tersebut Gus Dur berpesan untuk tidak boleh mengiyakan setiap kejadian yang tidak benar. “Nasionalisme kita tidak harus teoretis saja, tetapi harus dipraktekkan,” tambah Gus Dur.

Sementara sarasehan berlangsung, sejumlah anggota Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) melakukan aksi demo di depan Quality Hotel Wahid Salatiga. Para pendemo menyebut Gus Dur sebagai penjajah demokrasi karena tidak memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Pengambilan keputusan yang sepihak tanpa konsultasi dengan jajaran yang ada di daerah, melenceng dari peraturan bersama, yakni kedaulatan ada di tangan anggota, serta slogan PKB yang mengatakan membela kebenaran, tidak diaplikasikan dengan baik.

3 thoughts on “Gus Dur: Pertahankan Nasionalisme Kita”

  1. STR says:

    Podho-podho PKB kok saling demo gitu toh? Mbok ya yang akur gitu …. Berita yang terkait dengan berita ini bisa dibaca di sini: http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_radar&id=207486&c=111

  2. Opha says:

    Kita tahu ada sisi lebih dan kurang dari Gus Dur. Tetapi jelas Gus Dur terlalu maju untuk bangsa Indonesia. Jika ada yang demo dia, berarti kentara sekali kemampuan mereka!!!!
    Mengartikulasikan kebenaran dalam prespektif yang bagaimana tuh para pendemonya? Mereka bicara keputusan sepihak, tapi statement demo mereka juga terkesan sepihak. examp : “penjajah demokrasi”? apa tuh maknanya? sepertinya ada yang tidak beres nih……he..he..he…!

  3. Tri Kadarsilo says:

    Nasionalisme kita nasionalisme yang mana? Bila dikatakan bhw ‘nasionalisme kita berekembang’! Bila kita memiliki jiwa nasionalisme yng benar tidak berarti sedikit ada masalah lantas domenstrasi (yng terkadang menelan korban). Misal, para pendukung Agum-Numan pd Pilkada Gubernur Jabar. Nasinalisme apapun bentuknya tentu bisa diukur. Nasionalisme biasanya dikombinasikan dng ‘patriotisme’, mrk yng tergolong patriot otamis nasionalis. Ukurannya tidak usah berjihad, ttp cukup tdk membeli kaset-bajakan, atau tidak usah menjadi koruptor walau berkesempatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *