Pilih Sponsor atau Budaya?

Telah dilihat 1,356 kali sejak 24 April 2008

Expo Budaya
SUMBER: ARSIP PANITIA EXPO BUDAYA 2008
Karnaval Expo Budaya 2008 melintas di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman.

Pada 9-11 April 2008, berlangsung sebuah perhelatan besar di Universitas Kristen Satya Wacana, yang menyuguhkan keanekaragaman budaya Indonesia. Diberi sebutan “Expo Budaya 2008,” perhelatan ini menyajikan beragam khazanah budaya berupa tari-tarian, pakaian adat, masakan daerah, lagu daerah, serta pernak-pernik adat.

Menurut Ketua Umum SMU (Senat Mahasiswa Universitas — Red), Shinta Rambu Yaku Anasida Sabaora, dengan melihat fenomena budaya modern yang berkembang pesat di Indonesia, maka UKSW sebagai kampus “Indonesia Mini” sudah selayaknya menyuguhkan keberagaman budaya etnis dalam sebuah event budaya. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkenalkan keberagaman budaya di UKSW kepada para mahasiswa baru dan seluruh sivitas akademika.

“Tema yang diangkat expo budaya tahun ini adalah ‘Show Your Culture,’” tutur Rosemary Juliend Parhusip, Ketua Panitia Expo Budaya 2008. Melalui tema tersebut, panitia berharap agar keberagaman budaya yang ada di kampus “Indonesia Mini” ini dapat terangkat kembali seperti tahun sebelumnya.

Rangkaian kegiatan Expo Budaya 2008 hari pertama dimulai dengan karnaval. Rute dimulai dari kampus UKSW menuju Jalan Monginsidi, Jalan Kartini, Lapangan Pancasila, Jalan Sukowati, Jalan Jenderal Sudirman, Tamansari, Jalan Diponegoro, dan kembali lagi ke kampus. Kemudian dilanjutkan dengan tarian kolaborasi etnis, teater, serta vocal group.

Pada hari kedua, acara dimulai dengan drama etnis, dan dilanjutkan peragaan pakaian adat, tarian etnis, dan vocal group etnis.

Sebagai puncak dari Expo Budaya 2008, pada malam hari ketiga digelar pementasan musik dari setiap etnis, yang ditutup dengan musik “anak muda” dari Gerbang, band asal Yogyakarta (juara LA Lights Indiefest 2006), dan band asal Australia, Young and Restless.

***

Jumat, 11 April 2008, sekitar pukul 21.00, saya datang ke lapangan sepakbola UKSW untuk menonton pementasan musik malam terakhir Expo Budaya 2008. Di sana telah berdiri dua buah panggung. Panggung utama terletak di sebelah timur dan diperuntukkan bagi band bintang tamu. Sedangkan panggung kedua untuk band dan tarian etnis.

Tepat saat band etnis Batak tampil, ketidakpuasan menghinggapi saya.

“Kenapa saya mesti datang kalau hanya menonton tampilan band dengan kualitas sound system yang buruk?” batin saya.

Beruntung malam itu saya bisa mengobrol dengan Hans Cristian Mesa dan Dimas Priambodho Umbu Bolu Tagukoda. Hans adalah SC (steering commitee — Red) Expo Budaya 2008. Sedangkan Dimas adalah seksi keamanan panitia.

“Ada apa dengan sound system-nya? Suaranya tidak terdengar jelas,” kata saya.

“Aku juga bingung nih. Sound system malam ini ditanggung dan diurus penyediaannya oleh pihak sponsor (Djarum — Red),” jawab Hans.

Hal itu diamini juga oleh Dimas. Selain sebagai panitia, Dimas juga personel salah satu band etnis yang merasakan jeleknya kualitas sound system saat itu.

“Suaraku gak terdengar sama sekali, Mas. Pingin nangis rasanya saat itu juga,” tutur Dimas, sambil tersenyum.

Pukul 22.30. Ketika penampilan etnis tinggal satu (tarian etnis Timor — Red), panitia terlihat sibuk kesana-kemari. Salah satu panitia menghampiri Hans yang berdiri di sebelah saya.

“Kak, bagaimana ini? Pihak sponsor sudah memanggil MC acara untuk pindah ke panggung utama, padahal masih ada satu etnis yang tersisa,” kata panitia itu. Hans pun langsung turun tangan.

Selang beberapa menit, Hans datang dan bercerita bahwa tarian etnis Timor tidak dapat tampil karena permasalahan teknis kabel sound yang tidak cocok dengan sambungan kabel mixer.

Panggung utama tiba-tiba aktif. MC acara mengundang para penonton untuk berpaling ke arah panggung utama. Penonton pun merasa bingung, karena MC sebelumnya tidak menyatakan bahwa performance akan pindah panggung. Terlebih lagi, para simpatisan etnis Timor masih menantikan “Dance Timor” muncul.

Ketidakpuasan langsung terlihat dari para penari dan simpatisan etnis Timor. Sekelompok pemuda Timor langsung menuju ke arah kami, dan meminta Hans menjelaskan kejadian yang sebenarnya.

“Bagaimana penyelesaiannya?” tanya seorang dari mereka.

Sampai saya pulang, kejelasan tentang duduk perkara itu masih belum terjawab.

***

Senin, 14 April 2008, pukul 16.30, di ruang rapat LKU (Lembaga Kemahasiswaan Universitas — Red) diadakan sebuah pertemuan atas inisiatif pihak etnis Timor untuk membicarakan duduk perkara, serta bentuk penyelesaian kasus 11 April 2008.

Pertemuan ini dihadiri Ketua Umum SMU, Ketua IKMASTI (Ikatan Mahasiswa Timor — Red) beserta keempat temannya, serta para panitia.

Di awal perbincangan, Shinta selaku Ketua Umum SMU memberi pernyataan bahwa pembatalan penampilan tarian etnis Timor baru diketahuinya setelah kejadian. Saat ia bertanya kepada panitia malam itu juga, mereka menjelaskan bahwa ada kesalahan teknis dan tarian etnis Timor dipindahkan ke akhir acara.

“Sesuai perjanjian antara panitia dan (kelompok) etnis, satu menit keterlambatan karena persiapan yang kurang, ataupun masalah teknis lainnya, maka etnis itu tidak akan tampil,” tutur Juliend, membenarkan pernyataan Shinta.

Namun, karena panitia ingin semua etnis tampil, maka etnis Timor diberi waktu memperbaiki kesalahannya dan di-roll ke akhir acara.

Shinta merasa senang dengan pertemuan ini, karena duduk perkara yang sebenarnya dapat diceritakan dengan sejelas-jelasnya agar versi cerita yang berkembang adalah versi yang pasti, dan dapat dicarikan solusi.

“Kami datang ke sini dengan itikad baik, ingin meminta pertanggungjawaban atas penghentian tarian etnis kami, serta siapa yang akan bertanggungjawab nantinya,” kata Richard Mayopu, Ketua IKMASTI.

“Ardi,” demikian Richard Mayopu biasa dipanggil, menjelaskan bahwa etnis Timor merasa dipermalukan dan ingin agar image buruk mereka diperbaiki. Dia menambahkan, sempat ada penuturan panitia yang menusuk hati.

“Etnis Timor tidak dapat tampil karena kesalahan teknis yang dilakukan oleh kalian,” tegas Ardi.

Menurut Ardi, sepertinya faktor kelalaian teknis dan kesiapan panitia tidak diperhitungkan sama sekali. Selain itu, rasa percaya diri para penari harus dikembalikan, karena akan berdampak pada keikutsertaan mereka pada expo budaya tahun mendatang.

Hans, mewakili panitia, menjelaskan bahwa mereka dapat memahami dan menyadari penyesalan yang dialami oleh etnis Timor terhadap kinerja panitia pada malam itu. Permintaan maaf panitia secara lisan langsung disampaikan saat itu juga.

Hans mengatakan bahwa sebenarnya kendala acara pada malam itu dikarenakan kurangnya koordinasi dan persiapan antara pihak panitia dan sponsor. Koordinasi antara panitia dan sponsor hanya dilakukan seminggu sebelum kegiatan berlangsung. Sehari sebelum kegiatan pun, pihak sponsor masih meminta perubahan susunan acara.

“Sebenarnya tidak ada perjanjian resmi hitam di atas putih dengan pihak sponsor. Yang ada hanya pertemuan untuk membicarakan koordinasi acara saja,” kata Juliend. Ia juga menambahkan, Djarum lah yang menawarkan diri sebagai sponsor tunggal puncak kegiatan hari ketiga.

“Kami selaku panitia tidak ada maksud sama sekali untuk ‘menganakemaskan’ sponsor,” tutur Hans.

Hans juga menjelaskan bahwa pada malam itu, panitia sempat meminta sponsor untuk memikirkan solusi terbaik agar para pengisi acara (etnis — Red) jangan sampai di-cut penampilannya.

Hans bersama beberapa anggota panitia saat itu sempat bertemu dan menawarkan ke sponsor, “Bagaimana jika setelah band bintang tamu selesai tampil, sisa etnis yang belum sempat tampil ini dilanjutkan lagi penampilannya di panggung yang sama, seperti yang digunakan oleh band bintang tamu? Atau jika tidak, bisakah sisa etnis yang belum sempat tampil ini disisipkan saja di antara para band bintang tamu?”

Namun sponsor tidak menyetujui usulan tersebut. Sampai dengan pembicaraan berakhir, tidak ada solusi terbaik untuk penampilan etnis Timor.

Setelah Hans selesai berbicara, Ardi menambahkan bahwa sebenarnya tujuan mereka datang ke pertemuan ini bukan untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar, tapi lebih kepada mencari solusi penyelesaian, agar informasi hasil pertemuan ini dapat disampaikan lagi kepada teman-teman etnis Timor.

Setelah berlangsung selama hampir satu jam, muncul solusi penyelesaian yang disepakati bersama antara pihak etnis Timor, panitia, dan SMU. Kesepakatan itu berupa pernyataan maaf tertulis kepada etnis Timor melalui media yang ada, seperti Scientiarum, Buletin Senin, dan Buletin Lembaga Kemahasiswaan.

“Sesungguhnya, tidak ada yang patut dipersalahkan ataupun dijadikan kambing hitam,” kata Umbu Rauta, Wakil Rektor III UKSW. Menurut Umbu, yang terjadi adalah kesepakatan antara sponsor dan panitia tidak dijalani dengan semestinya oleh kedua belah pihak.

“Saya tidak bisa mengatakan bahwa pihak sponsor patut dipersalahkan sepenuhnya. Toh mereka telah memberikan kelonggaran waktu 1,5 jam kepada panitia. Selain itu, dari 12 lagu yang rencananya akan dinyanyikan oleh band bintang tamu, pihak Djarum telah mengurangi lagi menjadi 6 buah lagu. Dan itu yang tidak diketahui oleh pihak panitia maupun penonton,” tutur Umbu.

Umbu Rauta berharap, setiap kegiatan LK yang menggunakan sponsorship dapat berkomitmen terhadap perjanjian (tertulis maupun tidak tertulis) yang telah disepakati, agar tidak terjadi hal serupa seperti Expo Budaya 2008.

Tag: , ,

44 komentar telah masuk. Apa pendapat anda?

Halaman: [5] 4 3 2 1 » Lihat Semua

  1. Komentar ke-44

    mnrut gue. lebih baek sponsor. lagian juga ni ye. kalo expo dah bosen acara dan tariannya itu aja. dan orangnya ni. itu juga. bosen da gue. lebih baik sponsor karna so pasti ni ye kalo ade sponsor kite dapet nonton artis2 yang di sponsorin itu aja h. peace.

  2. Komentar ke-43

    Sebaiknya solusi yang menjadi pemecahan untuk EKspo budaya adalah hanya masalah dana…apabila universitas memberikan dana yang layak dan cukup untuk menunjang semua kegiatan maka tidak akan terjadi penekanan dari sponsor..dan apabila ada sponsor juga tidak menmgambil alih semua…..

  3. Komentar ke-42

    aduh… duh.. dibales ama kak Theo deh.. hehehehe .. :-)
    makasih Kak buat komentarnya….

    1. kalo disini sih nggak.. kalo di forum lain ga berani komentar, soalnya jarang ketemu.. hehehe
    2.Masukan yang baik Kak, silakan dibaca dan diserap oleh calon2 fungsionaris SMU tahun depan
    3.sama dengan nomor 2
    4. tidak sama dengan nomor 2 dan 3.. hehehe… kalau saya melihat kondisi fungsionaris LK saat ini, faktor utama kriteria penerimaan fungsionaris LK baik di BPMU,SMU,SEMAFE dan BPMFE (saya FE, jadi tidak bisa mengkomentari fakultas lain) adalah “Siapa yang mau” bukan lagi “Siapa yang bisa” !! Saya sendiripun mengakui ketika menjadi fungsionaris LK, saya belum memiliki kemampuan minimal yang memadadi, kebanyakn kemampuan yang dibutuhkan oleh seorang fungsionaris saya dapatkan dari ‘learning by doing’, kesimpulan saya masalah kaderisasi masih menjadi salah satu “budaya” dalam LK UKSW. (lebih lanjut bisa di baca dalam artikel: “antara ada dan tiada: peran lk dalam penentuan kebijakan kampus” di web ini juga)

  4. Komentar ke-41

    @Andi-Dobleh:
    1. Yang bilang “POKOKNYA” bukan saya kan? :-))
    2. Saya belum melihat perkembangan sesudah 18 tahun itu. Yang saya lihat di stand itu justru tidak ada informasi, padahal ini abad informasi. Nampak seadanya dan tidak terencana dengan baik. Ada stand yang menjual makanan, ada yang tidak, ada yang nyaris kosong. Begitulah yang saya amati mas. Lain kali kalau diadakan Expo lagi mungkin panitia harus tegas, sebelum kegiatan harus sudah menyerahkan rencana display dan isi stand, teknologi yang digunakan, dll jaman dulu aja orang bisa pake komputer untuk display dll koq ini kosong kan lucu ya mas. Jadi harus tegas, kalau ada yang tidak serius harus dicoret saja. Yang penting mutu kegiatannya ditingkatkan. Ini hanya sekedar saran. Ini masalah perencanaan.
    3. Soal pertunjukkan, saya tidak mempermasalahkan. Tapi mas Andi bisa lihat, bahwa “Show your culture” itu kan tidak bisa hanya menjadi Slogan kan? Perlu diwujudkan dengan menunjukkan keunikan-keunikan. Itu yang saya maksudkan bahwa untuk itu dibutuhkan perencanaan yang matang dan mungkin itu yang terlewatkan karena sudah menjadi rutinitas belaka. Kalau “Show your culture” lalu bukan potensi dari dalam yang diperkuat dan dicari sponsornya, maka akan tenggelam dan yang kelihatan adalah “Show their culture”.
    4. Soal “intervensi” pihak-pihak berkuasa di kampus, saya kira itu tergantung pada kemandirian LK dalam bersikap dan berkomunikasi secara dewasa dengan pihak-pihak tersebut saja. Bukankah kita sudah berada dalam satu sistem organisasi sehingga kemandirian perlu kedepankan. Ini juga masalah perencanaan.

Halaman: [5] 4 3 2 1 » Lihat Semua

Berikan pendapat anda. Bergabung dalam diskusi.

PERHATIAN. Setiap komentar akan melewati proses moderasi sebelum tampil. Silakan berkomentar dengan sopan dan bertanggungjawab. Komentar anonim atau alias tetap diperbolehkan, namun kami mengimbau agar anda sudi menunjukkan identitas asli. Komentar yang menyinggung isu SARA atau melanggar etika kesopanan tidak akan ditampilkan.

SPONSOR LINK