Pilih Sponsor atau Budaya?

Browse By

Expo Budaya
SUMBER: ARSIP PANITIA EXPO BUDAYA 2008
Karnaval Expo Budaya 2008 melintas di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman.

Pada 9-11 April 2008, berlangsung sebuah perhelatan besar di Universitas Kristen Satya Wacana, yang menyuguhkan keanekaragaman budaya Indonesia. Diberi sebutan “Expo Budaya 2008,” perhelatan ini menyajikan beragam khazanah budaya berupa tari-tarian, pakaian adat, masakan daerah, lagu daerah, serta pernak-pernik adat.

Menurut Ketua Umum SMU (Senat Mahasiswa Universitas — Red), Shinta Rambu Yaku Anasida Sabaora, dengan melihat fenomena budaya modern yang berkembang pesat di Indonesia, maka UKSW sebagai kampus “Indonesia Mini” sudah selayaknya menyuguhkan keberagaman budaya etnis dalam sebuah event budaya. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkenalkan keberagaman budaya di UKSW kepada para mahasiswa baru dan seluruh sivitas akademika.

“Tema yang diangkat expo budaya tahun ini adalah ‘Show Your Culture,'” tutur Rosemary Juliend Parhusip, Ketua Panitia Expo Budaya 2008. Melalui tema tersebut, panitia berharap agar keberagaman budaya yang ada di kampus “Indonesia Mini” ini dapat terangkat kembali seperti tahun sebelumnya.

Rangkaian kegiatan Expo Budaya 2008 hari pertama dimulai dengan karnaval. Rute dimulai dari kampus UKSW menuju Jalan Monginsidi, Jalan Kartini, Lapangan Pancasila, Jalan Sukowati, Jalan Jenderal Sudirman, Tamansari, Jalan Diponegoro, dan kembali lagi ke kampus. Kemudian dilanjutkan dengan tarian kolaborasi etnis, teater, serta vocal group.

Pada hari kedua, acara dimulai dengan drama etnis, dan dilanjutkan peragaan pakaian adat, tarian etnis, dan vocal group etnis.

Sebagai puncak dari Expo Budaya 2008, pada malam hari ketiga digelar pementasan musik dari setiap etnis, yang ditutup dengan musik “anak muda” dari Gerbang, band asal Yogyakarta (juara LA Lights Indiefest 2006), dan band asal Australia, Young and Restless.

***

Jumat, 11 April 2008, sekitar pukul 21.00, saya datang ke lapangan sepakbola UKSW untuk menonton pementasan musik malam terakhir Expo Budaya 2008. Di sana telah berdiri dua buah panggung. Panggung utama terletak di sebelah timur dan diperuntukkan bagi band bintang tamu. Sedangkan panggung kedua untuk band dan tarian etnis.

Tepat saat band etnis Batak tampil, ketidakpuasan menghinggapi saya.

“Kenapa saya mesti datang kalau hanya menonton tampilan band dengan kualitas sound system yang buruk?” batin saya.

Beruntung malam itu saya bisa mengobrol dengan Hans Cristian Mesa dan Dimas Priambodho Umbu Bolu Tagukoda. Hans adalah SC (steering commitee — Red) Expo Budaya 2008. Sedangkan Dimas adalah seksi keamanan panitia.

“Ada apa dengan sound system-nya? Suaranya tidak terdengar jelas,” kata saya.

“Aku juga bingung nih. Sound system malam ini ditanggung dan diurus penyediaannya oleh pihak sponsor (Djarum — Red),” jawab Hans.

Hal itu diamini juga oleh Dimas. Selain sebagai panitia, Dimas juga personel salah satu band etnis yang merasakan jeleknya kualitas sound system saat itu.

“Suaraku gak terdengar sama sekali, Mas. Pingin nangis rasanya saat itu juga,” tutur Dimas, sambil tersenyum.

Pukul 22.30. Ketika penampilan etnis tinggal satu (tarian etnis Timor — Red), panitia terlihat sibuk kesana-kemari. Salah satu panitia menghampiri Hans yang berdiri di sebelah saya.

“Kak, bagaimana ini? Pihak sponsor sudah memanggil MC acara untuk pindah ke panggung utama, padahal masih ada satu etnis yang tersisa,” kata panitia itu. Hans pun langsung turun tangan.

Selang beberapa menit, Hans datang dan bercerita bahwa tarian etnis Timor tidak dapat tampil karena permasalahan teknis kabel sound yang tidak cocok dengan sambungan kabel mixer.

Panggung utama tiba-tiba aktif. MC acara mengundang para penonton untuk berpaling ke arah panggung utama. Penonton pun merasa bingung, karena MC sebelumnya tidak menyatakan bahwa performance akan pindah panggung. Terlebih lagi, para simpatisan etnis Timor masih menantikan “Dance Timor” muncul.

Ketidakpuasan langsung terlihat dari para penari dan simpatisan etnis Timor. Sekelompok pemuda Timor langsung menuju ke arah kami, dan meminta Hans menjelaskan kejadian yang sebenarnya.

“Bagaimana penyelesaiannya?” tanya seorang dari mereka.

Sampai saya pulang, kejelasan tentang duduk perkara itu masih belum terjawab.

***

Senin, 14 April 2008, pukul 16.30, di ruang rapat LKU (Lembaga Kemahasiswaan Universitas — Red) diadakan sebuah pertemuan atas inisiatif pihak etnis Timor untuk membicarakan duduk perkara, serta bentuk penyelesaian kasus 11 April 2008.

Pertemuan ini dihadiri Ketua Umum SMU, Ketua IKMASTI (Ikatan Mahasiswa Timor — Red) beserta keempat temannya, serta para panitia.

Di awal perbincangan, Shinta selaku Ketua Umum SMU memberi pernyataan bahwa pembatalan penampilan tarian etnis Timor baru diketahuinya setelah kejadian. Saat ia bertanya kepada panitia malam itu juga, mereka menjelaskan bahwa ada kesalahan teknis dan tarian etnis Timor dipindahkan ke akhir acara.

“Sesuai perjanjian antara panitia dan (kelompok) etnis, satu menit keterlambatan karena persiapan yang kurang, ataupun masalah teknis lainnya, maka etnis itu tidak akan tampil,” tutur Juliend, membenarkan pernyataan Shinta.

Namun, karena panitia ingin semua etnis tampil, maka etnis Timor diberi waktu memperbaiki kesalahannya dan di-roll ke akhir acara.

Shinta merasa senang dengan pertemuan ini, karena duduk perkara yang sebenarnya dapat diceritakan dengan sejelas-jelasnya agar versi cerita yang berkembang adalah versi yang pasti, dan dapat dicarikan solusi.

“Kami datang ke sini dengan itikad baik, ingin meminta pertanggungjawaban atas penghentian tarian etnis kami, serta siapa yang akan bertanggungjawab nantinya,” kata Richard Mayopu, Ketua IKMASTI.

“Ardi,” demikian Richard Mayopu biasa dipanggil, menjelaskan bahwa etnis Timor merasa dipermalukan dan ingin agar image buruk mereka diperbaiki. Dia menambahkan, sempat ada penuturan panitia yang menusuk hati.

“Etnis Timor tidak dapat tampil karena kesalahan teknis yang dilakukan oleh kalian,” tegas Ardi.

Menurut Ardi, sepertinya faktor kelalaian teknis dan kesiapan panitia tidak diperhitungkan sama sekali. Selain itu, rasa percaya diri para penari harus dikembalikan, karena akan berdampak pada keikutsertaan mereka pada expo budaya tahun mendatang.

Hans, mewakili panitia, menjelaskan bahwa mereka dapat memahami dan menyadari penyesalan yang dialami oleh etnis Timor terhadap kinerja panitia pada malam itu. Permintaan maaf panitia secara lisan langsung disampaikan saat itu juga.

Hans mengatakan bahwa sebenarnya kendala acara pada malam itu dikarenakan kurangnya koordinasi dan persiapan antara pihak panitia dan sponsor. Koordinasi antara panitia dan sponsor hanya dilakukan seminggu sebelum kegiatan berlangsung. Sehari sebelum kegiatan pun, pihak sponsor masih meminta perubahan susunan acara.

“Sebenarnya tidak ada perjanjian resmi hitam di atas putih dengan pihak sponsor. Yang ada hanya pertemuan untuk membicarakan koordinasi acara saja,” kata Juliend. Ia juga menambahkan, Djarum lah yang menawarkan diri sebagai sponsor tunggal puncak kegiatan hari ketiga.

“Kami selaku panitia tidak ada maksud sama sekali untuk ‘menganakemaskan’ sponsor,” tutur Hans.

Hans juga menjelaskan bahwa pada malam itu, panitia sempat meminta sponsor untuk memikirkan solusi terbaik agar para pengisi acara (etnis — Red) jangan sampai di-cut penampilannya.

Hans bersama beberapa anggota panitia saat itu sempat bertemu dan menawarkan ke sponsor, “Bagaimana jika setelah band bintang tamu selesai tampil, sisa etnis yang belum sempat tampil ini dilanjutkan lagi penampilannya di panggung yang sama, seperti yang digunakan oleh band bintang tamu? Atau jika tidak, bisakah sisa etnis yang belum sempat tampil ini disisipkan saja di antara para band bintang tamu?”

Namun sponsor tidak menyetujui usulan tersebut. Sampai dengan pembicaraan berakhir, tidak ada solusi terbaik untuk penampilan etnis Timor.

Setelah Hans selesai berbicara, Ardi menambahkan bahwa sebenarnya tujuan mereka datang ke pertemuan ini bukan untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar, tapi lebih kepada mencari solusi penyelesaian, agar informasi hasil pertemuan ini dapat disampaikan lagi kepada teman-teman etnis Timor.

Setelah berlangsung selama hampir satu jam, muncul solusi penyelesaian yang disepakati bersama antara pihak etnis Timor, panitia, dan SMU. Kesepakatan itu berupa pernyataan maaf tertulis kepada etnis Timor melalui media yang ada, seperti Scientiarum, Buletin Senin, dan Buletin Lembaga Kemahasiswaan.

“Sesungguhnya, tidak ada yang patut dipersalahkan ataupun dijadikan kambing hitam,” kata Umbu Rauta, Wakil Rektor III UKSW. Menurut Umbu, yang terjadi adalah kesepakatan antara sponsor dan panitia tidak dijalani dengan semestinya oleh kedua belah pihak.

“Saya tidak bisa mengatakan bahwa pihak sponsor patut dipersalahkan sepenuhnya. Toh mereka telah memberikan kelonggaran waktu 1,5 jam kepada panitia. Selain itu, dari 12 lagu yang rencananya akan dinyanyikan oleh band bintang tamu, pihak Djarum telah mengurangi lagi menjadi 6 buah lagu. Dan itu yang tidak diketahui oleh pihak panitia maupun penonton,” tutur Umbu.

Umbu Rauta berharap, setiap kegiatan LK yang menggunakan sponsorship dapat berkomitmen terhadap perjanjian (tertulis maupun tidak tertulis) yang telah disepakati, agar tidak terjadi hal serupa seperti Expo Budaya 2008.

47 thoughts on “Pilih Sponsor atau Budaya?”

  1. STR says:

    Aku pilih dua-duanya!! 😀

  2. niskala says:

    akhirnya muncul juga berita ini. ditunggu-tunggu. sewajarnya, krna saya juga merupakan bagian dari etnis yg dirugikan tadi. sekedar info tambahan saja, beberapa insiden juga terjadi selama hari 1 dan 2 expo budaya 2008. semuanya terjadi (kalo boleh disimpulkan) krna kurang siap-nya dan kurang telitinya panitia dalam melaksanakan kegiatan ini. tidak hanya etnis timor yang menderita kerugian, namun beberapa etnis lain juga didera kerugian pada hari-hari sebelumnya. bahkan ada kecelakaan yg terjadi pada salah satu penari etnis karena lubang pada lapangan tenis (untuk tancap tiang jaring) tidak tertutup. dengan penerangan yang secukupnya, lubang tersebut tidak terlihat sehingga kaki nona penari itu harus tekor sedikit kulitnya.

    kekecewaan etnis timor terlihat sangat jelas oleh saya. terlepas dari kondisi bahwa saya juga merupakan bagian darinya, persiapan /dancer/ yang serius, bahkan sewa sanggar untuk latihan sampai larut malam (padahal lagi musim test), niat hati dan semangat memberikan performa terbaik dalam pentas tersebut, cukup memberikan alasan (kuat) akan kekecewaan dan tangisan mereka.

    yang paling menarik adalah ucapan dari mc (cowok) yg menyiarkan informasi dari atas panggung (kecil) bahwa /dance/ timor yg “bermasalah” tadi akan ditampilkan di akhir acara, setelah /band/ flobamora. saat /audience/ menunggu dengan jantung berdegup (beberapa orang) :p tiba2 dentum suara dari panggung (besar) di belakang, menarik perhatian penonton dan memindahkan pusat perhatian dari panggun (kecil). perpindahan jalannya acara langsung di-verifikasi oleh mc (cewek) yang tampil di panggung (besar). spontan para penonton langsung meninggalkan panggung (kecil), meninggalkan para /dancer/ timor digenangi kegalauan hati mereka.. 😀 😀 😀

    eniwey, kisah penuh dramatisasi ini, hendaknya menjadi bahan ajar bagi setiap pelaksana kegiatan untuk menentukan prioritas yang benar dengan itikad baik, bijak dan penuh tanggung jawab. tidak semua orang mampu berbuat demikian, namun semua orang mampu (jika mau) untuk (setidaknya) berusaha melakukannya.

    sebenarnya saya mau /posting/ berita tentang ini juga di /blog/ saya, klo boleh biar saya /link/ ke halaman ini aja.

    wassalam

  3. Ferdi says:

    @Niskala : Monggo di Link Mas Yos 🙂

  4. siganteng says:

    ah pilih sponsor ajalah habis sponsor lebih yang menguntungkan secara materi..hehee
    padahal budaya juga bisa membuat menguntungkan lho kalau dikelola lbh baik….hehehe
    terus pilih mana nih????jadi bingung…

  5. Edward Lontah says:

    “Tolong, yang di panggung utama sana, pengertian ‘dikit,” seru Henry (23), sebagai salam pembuka penampilan salah satu band etnis partisipan Expo Budaya UKSW 2008, Jumat (11/4) sore.

    “Ini acara Expo Budaya, bukan konser,” tambahnya.

    Sore itu, sebelum penampilan Henry, terjadi overlap sound. Ketika penonton tengah menikmati lagu yang dibawakan salah satu band etnis di panggung kecil, tiba-tiba terdengar bunyi hi-hats dan bass drum set dari panggung utama.

    Henry mengisi departemen vokal salah satu band etnis partisipan Expo Budaya UKSW 2008, dan seruannya menunjuk bagaimana mereka mulai menyoal substansi pelaksanaan Expo Budaya UKSW.

    Betul kata WR III. Panitia seharusnya tanggap terhadap urgensi sponsorship Expo Budaya UKSW 2008. Suatu grup band akan nyaman saat tampil di panggung, jika telah melalui sesi check sound terlebih dahulu.

    Fakta Henry dan salah satu band etnis yang tampil sebelumnya di atas merupakan alasan kenapa ada ‘seharusnya’ dalam komentar ini. Hanya karena soal mengelola waktu, sebagian jadi menilai panitia menempatkan partisipasi etnis bukan prioritas, dan mulai menyoal substansi Expo Budaya UKSW.

    Jadi pelajaran untuk penyelenggaraan selanjutnya? Harus! Salut untuk Scientiarum 🙂

  6. serly says:

    ya pilih dua2nya dunk. kan ada keterkaitan satu sama yang lain. kalo g ada sponsor g dapat dana soalny. habis kampus kita kere sehhhhh. kenapa harus pake sponsor. rokok lagi. payah. lain kali untuk SMU dan panitia kalau cari sponsor di liat2 dulu. jangan samapai kayak kemaren lagi. paraaaaaaaaaaaaaaah. ups sori SMU. jadi g enak ne. huahahahhahahahhhhahhahah

  7. amr al' fath says:

    @STR…setuju Sat…pilih dua-duanya… 😉

    Dari informasi yang aku dapat, persoalan panggung puncak Expo Budaya ini semua sebenernya lebih pada “kesalahan” manajemen waktu dari semua (ya! semua) pihak…aku pikir, kalo waktu itu semua orang sanggup “disiplin”-apapun itu, mungkin hasilnya akan berbeda…atau mungkin aku keliru..?

    Kalo persoalan pilih mana antara sponsor atau budaya, setuju ama STR aja…karena sebenernya dua-duanya bisa saling menopang, artinya, sponsor bisa memberikan “sesuatu” yang sanggup menopang perkembangan budaya, secara spesifik mungkin dalam hal ini memang lebih pada materi, sementara budaya-terutama di Indonesia, khususnya UKSW dalam hal ini, adalah sekumpulan potensi yang nampaknya beberapa tahun kedepan tidak akan “habis” dieksplore…secara ada banyak sekali budaya di lingkungan UKSW-n’ they’r all AMAZING!!!…Bagiku sih tidak “haram” melibatkan sponsor-selama dia tidak hanya berpijak pada fokus persoalan hitungan untung dan rugi…sebenernya ada yang menarik-pernyataan seorang teman atas event tersebut…ini Expo Budaya atau acaranya L.A. itu..?

    @STR: aku menantikan tulisan-tulisanmu bung! Maju terus pantang mundur ya!!!

  8. pooh says:

    Ya klo dsuruh milih, te2p 2-2 nya lah. Kampus kita ini memang kere koq, pengennya banyak tapi tidak ada dana. Kalau mau acara yang bagus kasih sumbangan donk, jangan cuma bisa komentar. acara ini kurang begini, acara ini kurang begitu. Hanya bisa Komentar yang pada dasarnya kalian pun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dilapangan. Saat itu panitia sudah bersusah payah saat hari ketiga, nah ini coba kita bahas.
    Kenapa check sound hari ketiga telat dari jam yang seharusnya ditentukan? Karena panggung belum siap untuk melakukan check sound, dan dari pihak panggung mengatakan “Wah ini belum siap untuk check sound sekarang, kalau check sound sekarang tidak bagus nanti hasilnya”. Panitia juga sudah mengatakan bahwa sound system dan panggung harus siap jam 12 untuk check sound, tetapi dari pihak panggung mengatakan “Tadi malam hujan, jadi kami tidak bisa memasang panggung + check sound kemarin malam. baru bisa pasang pagi ini”

    Kenapa dance dari salah satu etnis tidak tampil? Saat itu Panitia sudah mengambil keputusan bahwa semua etnis Harus Tampil, walaupun panitia sudah menetapkan peraturan 1 menit tidak datang, tidak akan tampil. Akan tetapi ternyata dari salah satu Oknum Sponsor sudah memanggil MC yang pada saat itu sedang ada di panggung etnis. Nah, disaat itu lah panitia Kecolongan karena MC sudah diatas panggung bintang tamu, panitia berpikir untuk mencari jalan keluar yang baik untuk semua etnis. Saat MC sudah di panggung bintang tamu, Salah satu panitia mencoba untuk bertemu dengan pihak sponsor dan memberikan penawaran “Bagaimana jika dance etnis ini tampil di panggung bintang tamu” Jawaban dari pihak Sponsor “Tidak bisa, karena panggung ini sudah disiapkan hanya khusus bintang tamu”.

    Inilah yang terjadi pada saat itu, seperti apa sudut pandang kalian semua, silahkan diungkapkan.

  9. Hans Mesa says:

    Dinamika semacam ini sudah mejadi hal yang lumrah dalam suatu organisasi apalagi dalam LK.( sebagai bahan pembelajaran). kalau anda (penulis) memberi judul berita “pilih sponsor atau budaya” saya rasa penulis harus membaca beberapa kebijakan pemerintah indonesia yang menyarankan perusahaan-perusahaan (PT/instansi2 lain) untuk membatu/mendorong/mengembangkan pembagunan masyarakat dalam segala hal(misalnya :Pemberian beasiswa, mendirikan sekolah, pengembangan layanan infrasruktur masyarakat miskin, fasiltasi pengembangan IPTEK, dan lain sebagainya), hal-hal ini yang sudah menjadi progaram wajib dalam setiap perusahaan2/istansi2 dalam hal untuk memberikan bantuan (sponsorship), dan ini terjadi dalam kegitan-kegitan LK di UKSW tidak hanya LK SMU. Sejak kapan LK UKSW dapat mendanai secara menyeluruh kegiatan2 tanpa bantuan?.apa lagi kegiatan besar seperti ekspo budaya? dan saya rasa anda (penulis) sudah tau dan pernah berkecimpung dalam LK SMU. jadi tidak salah kalau harus ada bantuan2(sponsor)dalam kegiatan LK. Dan mana kebijakan dalam kampus/LK yang melarang LK untuk tidak pakai sponsor?. Apa UKSW harus memeras/menaikkan uang kuliah/SPP/denda hanya untuk mensubsidi kegiatan LK?. anda saja butuh sponsor di scientiarum.
    mengenai beberapa kesalahan/kejadian dalam kegaiatan ekspo 2008 seperti yang saya kemukakan diatas , itu sudah menjadi dinamika dalam organisasi, dan disitulah kita dituntut untuk belajar me-manejemen konflik. dan kalau melihat masalah yang anda (penulis) besar-besarkan hanya pada satu titik saja yaitu hari ketiga.Heeeeeee. saya jadi aneh dengan saudara, padahal dari permasalahan tidak hanya rame pada hari ketiga, dari hari pertama pun kita sudah rame dengan masalah kalau mau muat berita di chek/gali informasi yang sebanyak2 biar lebih akurat. supaya tidak ada yang dirugikan atau diuntungkan dalam berita anda.

  10. Ferdi says:

    @Hans Mesa : Untuk Saudara Hans , tulisan saya ini tidak pernah sekali pun tercantum kata-kata “Tidak Boleh Menggunakan Sponsor” (saya tidak pernah beropini lho ditulisan ini). Mungkin anda kurang menyimak dengan baik tulisan ini. Silakan disimak lagi.

    Spesifik masalah yang terjadi memang hanya saya khususkan untuk hari ketiga. “Kejadian hari ketiga sudah dapat menjadi cerminan dari kejadian-kejadian lain pada acara expo budaya”. Saya rasa tidak perlu dimuat semua.

    GBU

  11. Edward Lontah says:

    @pooh: Apa maksud anda, uksw banyak maunya tapi gak mau nyumbang? Apa yang anda maksud sumbang materi? Kalo pake duit sumbangan dari civitas akademika uksw, apa substansi pelaksanaan acara itu pasti akan tercapai?

    Entah anda sadari atau tidak, saat ini kita sama-sama sedang bergerak ke suatu bentuk masyarakat, di mana sumber kekayaan bukan hanya materi, tapi sudah mencakup aspek pengetahuan manusia. Pengetahuan tersebut bisa terwujud sebagai kekayaan, jika dikelola dengan menggunakan pola komunikasi verbal dan/atau dikodifikasi.

    Kenapa sekarang pola organisasi sudah bergeser ke struktur yang mengandalkan jejaring manusia dan pengetahuannya, tidak lagi mengandalkan struktur hierarki tajam dan tertutup? Itu karena mereka paham betul, pengetahuan manusia berdampak positif bagi proses pencapaian substansi untuk apa suatu organisasi dibentuk.

    Nah, forum ini sedang mengartikulasi fenomena-fenomena tersebut. Komunitas forum berusaha menyumbang kekayaan bagi kepanitiaan expo budaya uksw 2008 dan kinerja organizer berikutnya. Sayangnya, anda malah menolak sumbangan itu, dengan berargumen bahwa komunitas forum hanya bisa berkomentar kurang ini dan itu tapi tidak menyumbang, dan berkomentar padahal tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

    Jangan jadikan argumen-sarat-emosional-pakai-bahasa-penuh-beban yang irasional anda itu kelihatan berbobot, serta melogiskan itu untuk mendistorsi sisi konstruktif forum ini! Semua tahu apa yang terjadi, dan menyokong sikap berlandaskan fakta dan alasan-alasan jujur. Peliput datang ke lokasi pukul 21.00, dan saya sendiri, sejak penampilan pertama band etnis, hingga pukul 19.00 ada di situ. Cogito, ergo sum!

    Walau tak sepaham, coba bersikap bijak. Lagipula, paragraf dua dan tiga di komentar anda sudah cukup untuk menjawab secara logis dan rasional hal-hal yang disoal forum ini, juga mampu merajut respek dan kebanggaan yang tulus atas kinerja kepanitiaan itu.

    Ada yang mudah bisa menyikapi argumen tidak logis dan irasional dengan kepala dingin. Tapi yang lain? Pemred Scientiarum, misalnya. Si ganteng pemuja logika, yang benci lapar, asap rokok dan irasionalitas. Belum tentu demikian 😉

    Pooh, seseorang yang menyoal rusaknya lingkungan karena dieksploitasi pihak pemodal, bukan berarti mendukung peradaban manusia berpijak pada sistem non-kapitalis. Semoga analogi itu bisa membantu anda membimbing informasi-informasi dalam forum ini, saat mereka yang nakal, genit dan jenaka itu akan ditransmisi corpus callosum-mu.

    Maaf, pooh, jika banyak kata-kata kurang berkenan. Baik yang kurang berkenan di otak kananmu, maupun yang kurang berkenan untuk membuat otak kirimu menggelinjang 🙂

  12. Acell says:

    Mendingan taun dpn gak usah undang band tamu…masa’ panggung utk etnis kecil ‘imut’ seadanya..sebenarnya expo budaya atau konser band ‘australia’ yg teriak2 lagu gak jelas? Udah gitu kita menari sambil hujan2an lagi…sewa tenda yg besar dong…jujur ni kinerja panitia payah…

  13. STR says:

    @ Edward: Mantab kali konsepmu soal “pengetahuan” itu …. 🙂

    @ Pooh: Kita semua yang ngomen di sini tentu punya rasa memiliki terhadap event yang namanya “Expo Budaya 2008.” Jarang ada event serupa itu di kampus-kampus Indonesia. Ke depan, kalo penyelenggaraan pesta budaya kita bisa lebih bagus, ini bisa daya tarik tersendiri buat masyarakat. Ini juga bisa jadi cagar “budaya Indonesia” di tengah gerusan arus globalisasi. Nama UKSW pula kan yang nantinya terangkat?

    Mungkin, salah satu pelajaran yang bisa kita ambil dari Expo Budaya 2008 adalah soal sponsorship. Kalo berdasarkan liputan ini dan komentar-komentar yang masuk, saya kok pingin bilang kalo Djarum itu sponsor yang buruk.

    Saya membayangkan suatu saat Pesta Budaya UKSW bisa semeriah Festival Lima Gunung, yang daya tariknya sampai ke mancanegara itu. 🙂

  14. Acell says:

    “show your culture” atau “sound for freedom” ???

    Menyedihkan

    Panitia ora mutu

  15. Nona says:

    Setuju banget sama acell, ngapain pake bintang tamu segala, EKSPO kan acara buat menampilkan budaya dari daerah2 di Indonesia yang ada di UKSW, sedangkan bintang tamu di undang untuk apa sih, apa untuk menghibur mahasiswa ???

    Apakah penampilan tari, vokal group, drama etnis, band etnis, dance etnis, dan acara2 lain yg ditampilkan di EKSPO sama sekali nggak menghibur ???

  16. edward lontah says:

    @Acell: kalo itu panitia ora mutu, sekiramu, panitia bermutu itu? ayo, sumbang, acell..!! entah memuaskan atau tidak, jangan risih dengan punyamu 😀

    @STR: tentu punya, serta ikut membayangkan, karena tujuh kali kualami. seingatku, kau seakan tak percaya, saat tujuh kali itu kukatakan padamu 8->

  17. Mariam M says:

    saya setuju dengan beberapa komentar diatas untuk ekspo tahun depan tidak diadakan kegaitan band dan kita fokus pada acara budaya sesuai dengan tema kegiatannya. dan wacana ini sempat saya dengan dari sdr Hans C. Mesa (maaf kalau salah) untuk ekspo 2008 tidak diadakan/tidak menampilkan kegiatan yang tidak berbau budaya asli indonesia (seperti band (artinya tetap ada tapi memekai alat2 daerah), dens2 dan lain sebagainya). tapi tidak atau kenapa ini tetap ada pada ekspo 2008. ada apa hans?

    To sdr Hans: saya belum pernah kenal saudara dan mungkin sdr jg belum knal saya, tapi scr tidak langsung saya pernah melihat kinerja kamu selama 2 kali ekspo ini selalu tidak defisit malah surplus. betul ya? disisi yang lain anda sosok pemimpin yang serba bisa. ketenangan dan cara pemecahan masalah seperti sebesar kegaiatan ekspo membut beberapa kalangan/individu selelu segan dengan pemikiran sdr. bukannya memuji, tapi ini penilaian dari beberapa orang saya dengar yang pernah bekerja dengan sdr hans. saya pengen kenal dan membagi pengalaman dengan sdr. kira2 kapanya?. dan katanya sdr suka diskusi kebetulan ada topik menarik mengenai desentralisasi pendidikan. ikutnya?

    buat sdr. ferdi. saya kira berita yang sdr muat tidak cocok dengan media yang beredar di dalam lingkugang akademis seprti kampus. karena hal2 semacam itu sudah menjadi hal yang biasa terjadi dalam suatu kegiatan (seperti yang dikemukakan sdr hans sebelumnya).dan sudah ada penyelesaiannya sebelum berita ini anda muat. jadi mubasir dong. kenapa tidak diangakat yang lebih hangat mengenai korupsi di tingkat LK, apalagi yang saya dengar2 waktu POM 2008 ada yang Korupsi. apa kurang nara sumber atau sdr ferdi takut mengupasnya?

  18. Hans Mesa says:

    to ecell: sejak kapan ada dalam kamus kriteria panitia bermutu dan apa ukurannya?

  19. Acell says:

    Waduh mas masalahx udah terlanjur sakit hati ama panitia expo kemarin..

  20. edward lontah says:

    @Hans: betul kamu, Hans. Tak kutemukan kamus berisi “kriteria panitia bermutu,” dan sempat juga tidak mau tahu. Tapi jika anda menyoal ukurannya, mungkin yang berikut ini kita semua bisa cermati bersama-sama.

    Kalo tidak salah, panitia itu suatu komite yang mengorganisir suatu kegiatan, betul begitu? Apa betul komite itu merupakan suatu organisasi?

    @Moderator: jika betul, lanjut. Jika tidak, maaf. Jangan approve, tapi koreksi saya.

    Kalo anda menyoal ukuran, ada ukuran yang disebut standar mutu organisasi. Dalam standar mutu organisasi, kriteria-kriteria organisasi bermutu bisa anda temukan.

    Kriteria-kriteria itu ada dalam aspek pengelolaan organisasi. Salah satunya, leadership. Organisasi itu bermutu jika pemimpin mampu membentuk integrasi antara sumber daya dan mekanisme organisasi, serta menciptakan dan memelihara ruang partisipatif internal, di mana setiap manusia bisa terlibat maksimal dalam proses pencapaian tujuan organisasi.

    Itu kriteria standar mutu organisasi bisnis. Itu cuma satu dari sekian banyak. Itu pun hanya ku kutip dari ISO, suatu organisasi lintas negara yang kerjaannya melakukan standarisasi.

    Saran saya, sebaiknya kriteria standar mutu organisasi dibuat organisasi itu sendiri, dan input kriteria itu dalam kamus partisipatif, “kriteria ukuran mutu organisasi A,” misalnya, supaya anda gak perlu repot lagi nanya ke Acell.

    Banyak sumber pengetahuan tentang itu, Hans. Baiknya ‘googling’ or semacamnya secara mandiri. Kalo repot dengan cara itu, juga bisa cari pengetahuan sendiri lewat sumber yang sudah ada, tidak perlu ada pengadaan.

    Ahh…sesukamu saja. Kamu pasti ingin tahu juga, kan? 😉

  21. Acell says:

    Panitia yg ora mutu ya kayak panitia expo kmrn….cape deh..

  22. STR says:

    @ Acell: Sudahlah …. Rasanya kok anda tak kunjung puas mencerca panitia. Apa belum cukup itu komentar-komentar yang isinya kritik dan penjelasan?

  23. Acell says:

    He3x…lumayan buat wadah pelampiasan…

  24. sutit says:

    penonton itu selalu lebih pintar dari penyelenggara, dan memang hanya bisa komentar tanpa pernah merasakan bagaimana mengeksekusi sebuah kegiatan. TAK ADA GADING YANG TAK RETAK. itulah kata-kata yang selalu disematkan pada setiap kepanitiaan. mengapa? karena selalu ada kekurangan di balik semua penyelenggaraan kegiatan, dan PASTI ada kelebihan. biarlah kekurangan itu menjadi rekomendasi untuk masa yang akan datang, dan kelebihan itu dikembangkan menjadi sesuatu hal yang lebih baik….

  25. 7end says:

    ya thx buat acell,,,,,taon depan acell aja yang jadi ketupatnya,,biar kata2 yang acell omongin skrang acell bisa buktiin sendiri… n buat acell ju “JANGAN OMDO” (0M0NG D0ANG).!!!!!!!!!!
    SEMOGA ACELL BISA LAKUKAN YG TERBAEK YAW………….
    GBU ACELL

  26. 7end says:

    ACELL, kmi sbg panitia mmg bnyak kekurangan, jd sblumx kmi mnta maaf klo trnyta mnrut ACELL pd saat keg expo 2008 kmrn banyak sekali kekurangan, panitia ora mutu lah,dll truz klo ACELL sakit hati sm expo thn kmrn trus pelampiasanx thn ini ya???kok gtu to?hrusnya ACELL bs ksi msukn biar taon dpn ga ada lagi orang2 yang sakit hati spt yg pernah ACELL alamin….biar ga banyak juga orang yang ngalamin “KEPAHITAN” ky ACELL…. Ga bgus loh simpan dendam ky gtuw…..
    btw,ACELL prnh ikut kpanitiaan ga?”MUTU” ga kpanitiaan yg ACELL ikuti??? ato jgn2 mlh blm prnh ikt sma skli???waduh parah deh…..namax ju org belajar Cell. jgn takut buat kesalahan krn dr kesalahan itu Qt bs bljar buat bs lbh baik lagi, kcuali klo jatuh dlm lubang yg sama, baru ACELL bs sebut panitia yg ky ACELL sebut sblm2 ini….kayax itu aja deh CELL ya,ga enak juga drtd aq ngomongx saling ejek2 trs…ga ada manusia yg sempurna …………… God Bless U cell till d end…. (kepahitanx jg dihapus pelan2 yaw)……………… 🙂 🙂

  27. berti says:

    acelllll..acellll kayaknya kamu salah satu orang yang perlu terapi. forum kayak ini koq digunakan sebagai pelampiasan justru kalau baca komen kamu, yang ora mutu itu kamu. kalau kamu puny a MUTU isi komen mu g akan kayak ini. kasian banget ya. lu hanya bisa mengkritik yang lain tapi g mengkritik diri sendiri. g MUTU. kalau kamu mahasiswa kasian banget ya. ya jadi ikutan sedih koq ada mahasiswa kayak kamu. kasian banget. sensi banget sama panitia expo. kalau komen ya yang MUTU gitu. misalanya saran untuk panitia expo apa biar ketika mereka tergabung dalam kepanitiaan lain hal atau kekurangan atau kesalahanyang dilakukan pada saat expo tidak di ulangi di acara atau kegiatan berikut. itu baru mahaiswa.
    ibaratny akalau mau menciptakan konflik buat orang lain kamu harus puny ajalan keluarnya.
    kamu tepatnya TONG KOSONG BUNYI CEMPRENG. banyak belajarlah acell. sama seperti kami yang lain masio dalam tahap belajar. bukan tahap pelampiasan.

  28. Ferdi says:

    @Mariam : To saudari Mariam, atau saya sebut saja sebagai pencinta Hans Mesa 🙂 Anda itu aneh, katanya sudah dengar dari saudara Hans tapi kok malah belum pernah kenal dengan dia. HHmmm. . . . . Something wrong in here %)
    ==>>> Mengapa bisa tidak cocok dengan media yang beredar dalam lingkungan akademisi ?? apa Tolak ukur cocok dan tidaknya ?? Pada berita ini, saya ada disitu dan melihat sendiri apa yang terjadi.. Nah saya tidak tau bahwa ada masalah yang terjadi di Panitia POM ( Sekitar sebulan kemudian baru saya tau, mubazir dong ), jika tau dari awal pasti saya akan membuat beritanya. Kenapa musti TAKUT ??

  29. Acell says:

    He3x…salah ketik kemarin..maksudku panita expo
    TAHUN INI …klo tahun kmrn saykoji keren bgt…he3x

    Klo kasi pendapat kan suka2 kita he3x

  30. Obed Umbu Kaballu says:

    Mohon dibantu cara berlangganan Scientiarum

    Tks

  31. pooh says:

    @Edward : bukannya saya tidak mau menyingkapi semua kritikan dengan tidak bijak, setidaknya dengarkanlah dulu apa yang terjadi pada saat itu
    @Acell : Jika anda pada saat itu yang menjadi panitia, dan menghadapi persoalan yang panitia hadapi mungkin hasilnya TIDAK LEBIH BAIK dari hasil kerja Panitia Expo Budaya 2008. Dan dengan komentar-komentar yang telah anda berikan, SAYA RAGU APAKAH ANDA ADALAH SESEORANG YANG MEMPUNYAI MUTU DALAM BEKERJA???

  32. inka says:

    Kalo boleh ikut kasi sedikit komentar, harusnya kita banyak bersyukur karena coba liat expo budaya sekarang.. LUUUUAAARRRRRRR BIASAAAAAAAA kalo kita dulu kadang agak2 mikir juga bakal ada gak ya expo tahun ini secara kita ‘dulu’ sulit baget tuuu… sekarang… mahasiswa dikasi kesempatan yang luar biasa banget untuk menunjukkan kekayaan budaya kita dan benar2 bisa membuktikan diri sebagai Indonesia Mini.. Mengenai pelaksanaannya dan bilamana ada sponsor dalam pelaksanaannya.. ya saya rasa wajar, lagian hari gini ngerjain acara besar dengan biaya besar dari kantong sendiri kayaknya jarang banget terjadi ya.. Mengucap syukurlah dalam segala hal.. mungkin itu juga harus diingat.. Sekalian mahasiswa belajar untuk mengerti bagaimana menjaga relasi dengan pihak luar apalagi dalam hal ini kita tidak dirugikan.. DO NOT LOOK AT THE PEANUT BUT LOOK AT THE COCONUT.. banyak hal besar yang harus diperhatikan dan jangan membuat hal kecil menjadi besar sehingga mengganggu keuntungan yang bisa kita dapat (I’M TALKING ABOUT GENERAL THINNGS YAAA).. In the future, saat kita terjun ke masyarakat dan dalam dunia kerja hal2 semacam ini akan sering sekali dijumpai.. Another lesson that we can get is that you have experienced it now, while others might not get it..
    Kegiatan ini SUKSES dan HARUS TERUS DILAKSANAKAN..

  33. Theofransus Litaay says:

    Nampaknya Panitia Expo Budaya sudah berusaha sebaik mungkin untuk bisa melakukan yang terbaik. Sebagai mantan fungsionaris LK, saya sangat menghargai. Namun berikanlah kesempata kepada saya untuk menyampaikan beberapa catatan kritis dan saran seperti berikut ini:

    Masalahnya, menurut saya, para panitia tidak memiliki benchmark pengalaman pada tingkat pelaksanaan yang terbaik, karena seakan-akan Expo Budaya sudah menjadi semacam kegiatan rutin saja. Yang dibayangkan adalah ada pentas tari-tarian dari setiap etnis, ada pameran etnis, lalu ada pawai di jalan. Yang unik kali ini adalah pawai di jalan itu, meskipun sampai sekarang saya masih kurang jelas apa tujuannya karena tdak ada penjelasan atau informasi yang didesiminasikan kepada civitas akademika. Jadinya orang hanya melihat Expo sebagai pentas pertunjukan saja.

    Saya sendiri merindukan suasana Expo Budaya sebagaimana yang digagas kak Dharma Palekahelu pertama kalinya (sebagai Ketua Bidang I SMU UKSW 1989-1990) dan alm kak Lydia Sihasale (Ketua SMU UKSW 1989-1990). Pada waktu itu Expo Budaya digagas untuk menjadi agenda wisata Jawa Tengah dan Indonesia. Itu sebabnya dulu Expo Budaya dibuka oleh Menteri Pariwisata R.I., Joop Ave. Bahkan pak Menteri Pariwisata sampai setiap tahunnya membuka Expo Budaya, apalagi Expo Budaya tahun 1990 karena pada waktu itu dirangkaikan dengan kegiatan Pekan Ilmiah Mahasiswa, sehingga pesertanya datang dari berbagai daerah di Indonesia. Pada waktu itu tidak ada peluang sponsor sebanyak yang sekarang. Partisipannya bukan saja mahasiswa UKSW, tapi juga para pelajar dari berbagai TK sampai dengan SMA di Salatiga.

    Pada tahun ini waktu mengajak anak saya untuk melihat-lihat Expo Budaya tahun ini, saya senang karena anak saya menikmati pertunjukan pakaian adat. Namun sayangnya pameran dari berbagai etnis sangat miskin dalam informasi budaya dan nampaknya hanya menjadi tempat kumpul-kumpul rekan-rekan mahasiswa dari etnis terkait.

    Panitia nampaknya tidak berdaya untuk mengontrol para peserta. Dulu pada waktu kami menjadi Panitia PIM dan Expo Budaya, kepada para peserta (organisasi etnis) dikontrol isi stand-nya. Jadi sebagai Panitia kami memberikan standar isi stand harus seperti apa, jika tidak bisa memenuhinya maka dengan sangat menyesal kami coret dari partisipasi. Peserta menjadi sangat serius dalam mempersiapkan diri. Mengapa demikian? Karena sekali lagi LK pada waktu itu ingin menjaga mutu penyelenggaraan sehingga Expo Budaya UKSW bisa menjadi bagian dari agenda wisata Jawa Tengah maupun nasional.

    Jika kondisinya seperti kemarin, saya kira tidak banyak informasi budaya ataupun pariwisata yang bisa dibagikan kepada orang lain. Padahal semangat para pekerja budaya saat ini sebenarnya sangat tinggi, banyak fasilitas tersedia, banyak sponsor siap membiayai, dll. Jadi dari segi mutu penyelenggaran semestinya semakin meningkat.

    Saya kira idealisme-idealisme yang saya kemukakan di atas memang tidak diketahui oleh para fungsionaris LK saat ini. Karena dalam proses perencanaan, SMU maupun Panitia tidak pernah lagi meminta masukan dari orang-orang yang pernah melahirkan gagasan program ini. Mungkin karena sudah terbawa dengan rutinitas program tadi. Kondisi panggung yang seadanya, kondisi stan yang seadanya, MC tidak memahami dengan mendalam budaya yang tampil, dll semuanya itu berpuncak pada masalah yang muncul di SA ini.

    Pada saat yang sama, ada panggung lain yang megah atas biaya sponsor dan tumpang tindih dengan rencana Panitia. Tentunya ini menunjukkan masalah kelemahan perencanaan. Kunci semuanya ada pada perencanaan. Sulit untuk dipahami jika yang disalahkan adalah sponsor, karena program ini kontrolnya bukan pada sponsor. Pada waktu gagal merencanakan berarti merencanakan untuk gagal, itu yang perlu selalu diingat.

  34. Geritz says:

    Cuma usul saja, bagaimana klo Untuk EXPO BUDAYA tahun depan, betul2 menampilkan budaya Indonesia. bukan seperti Terbang, Saykoji, young and restless, dll. Bagaimana klo yang di undang misalnya Komunitas2 seni 5 gunung, yg terkenal dengan acara tahunan festifal 5 gunung.

  35. Acell says:

    Betul pak Theo..saya setuju

  36. Saam Fredy says:

    Pergeseran terus terjadi, tidak saja secara kasat terlihat dari budaya, namun juga sudah masuk ke pergeseran posisi ekonomi. Apakah kita akan sama-sama dependen, antara posisi ekonomi (bisnis) dengan budaya? ataukah kita akan saling menghubungkannya, saling mengisi, dan mencari cara untuk saling menutupi celah masing-masing.

    Saya pikir, mari melihat realitasnya. Apakh tanpa sposor Expo Budaya bisa dilakukan? Jika bisa, bagaimana caranya?

  37. berti says:

    huqhahahaahhahahahahh acell2 kasian banget seh lu. o ya kenapa kemaren kamu g daftar jadi ketua panitia aja. biar exponya CEMPURNA. gaya loe tu sok hebat ini itu lihat dulu. liat diri …… k

  38. Acell says:

    @berti : kamu pasti termasuk panitia expo ya?
    Kamu orangx wagu ah…ora patut

  39. onesimus hihika says:

    eksp budaya…pameran budaya..apa yang mo dipamerin? apakah sekedar tampilan material saja berupa tarian, nyanyian..sehingga orang kemudian melihat…ooo halmahera tariannya cakalele pantes sukanya perang…tapi apa pesan? pernahkah ada filosofis dibalik sebuah tarian ataupun nyanyian disampaikan sebelum pesertanya tampil dipanggung…entahlah…saat ini ekspo budaya tidak lebih daripada pameran barang-barang ko…bukan pameran nilai dari sebuah barang2..

  40. andi-dobleh says:

    Haduh… kemaren gak sempet liat Expo……
    komentar saya ini berdasarkan tulisan di web ini saja…

    setelah membaca gambaran yang disajikan dalam Tulisan Ferdinand di atas, dan beberapa komentar dari rekan-rekan, saya sih setuju aja ama kak Theo ; “Pada waktu gagal merencanakan berarti merencanakan untuk gagal, itu yang perlu selalu diingat.”
    Tetapi… perlu diselidiki lebih lanjut apakah kegagalan perencanaan ini murni di tingkat panitia? karena bisa saja terjadi, diintervensi oleh kepentingan “pihak-pihak” lain yang memiliki “power” lebih tinggi. Siapakah “pihak-pihak” itu? Jawabannya saya serahkan pada pikiran pembaca saja.

    Mengenai substansi acara Expo Budaya, sekali lagi saya setuju dengan kak Theo (dah diborong duluan semua pendapat saya, hiks2) : SMU maupun Panitia tidak pernah lagi meminta masukan dari orang-orang yang pernah melahirkan gagasan program ini. Betul itu kak, saya juga sadar, dulu ketika masih di SMU pun saya akui bahwa saya dan kami (SMU periode saya) kurang meminta masukan dari senior2 kami. Untuk alasannya, bisa dibahas dalam forum lain.
    Tetapi… (harus ada “tetapi” biar seru).. pergeseran makna dan nilai dalam pemahaman manusia (Indonesia) terhadap budaya pun saya kira juga telah mengalami pergeseran signifikan selama 18 tahun terakhir ini. Sehingga wajar2 saja tampilan stand masing-masing etnis dalam Expo Budaya 2008, karena merupakan pencerminan pergeseran tersebut.
    Mengenai pertunjukan di jalan, kan Ketua panitia sudah bilang : “Tema yang diangkat expo budaya tahun ini adalah ‘Show Your Culture,’”, jadi tidak salah kan jika acara Expo sebagai pentas pertunjukan saja.

    Masukan saya :
    1. Kedua permasalahn diatas (pergeseran nilai & Expo sebagai acara pertunjukan) bisa diatasi dengan komunikaisyang baik oleh pihak SMU dalam perancangan kegiatan tersebut .
    2. Perlu ditegaskan “Budaya” mana yang akan diangkat dalam Expo Budaya tiap tahunnya. Karena bagaimanapun, saya berani bilang bahwa korupsi/band pop/free sex adalah “budaya Indonesia saat ini”. Kalau yang diungkapkan oleh kak Theo diatas, mungkin namanyanya “budaya suku bangsa Indonesia dulu” (bukan Indonesia asli lho, karena bagaimanapun menurut guru sejarah SMA saya bangsa Indonesia sebagian besar adalah bangsa pendatang)
    3. Mengkritik orang itu baik, tetapi dalam memberikan kritik tolonglah diberikan penjelasan-penjelasan yang rasional ataupun romantis (kan kita punya pikiran dan hati),kurangi juga lah penggunaan kata “POKOKNYA…!!!” dan alangkah baiknya kalau mengkritik itu, sekalian memberi saran, jadikan kritik kita sebuah “kritik yang membangun”.

    Dah ahhh.. mau baca Wiro Sableng dulu… hehehe
    Apabila ada kesalahan konsep ataupun pemahaman dalam komentar saya ini, silakan dikoreksi. Terima kasih..

  41. Theofransus Litaay says:

    @Andi-Dobleh:
    1. Yang bilang “POKOKNYA” bukan saya kan? :-))
    2. Saya belum melihat perkembangan sesudah 18 tahun itu. Yang saya lihat di stand itu justru tidak ada informasi, padahal ini abad informasi. Nampak seadanya dan tidak terencana dengan baik. Ada stand yang menjual makanan, ada yang tidak, ada yang nyaris kosong. Begitulah yang saya amati mas. Lain kali kalau diadakan Expo lagi mungkin panitia harus tegas, sebelum kegiatan harus sudah menyerahkan rencana display dan isi stand, teknologi yang digunakan, dll jaman dulu aja orang bisa pake komputer untuk display dll koq ini kosong kan lucu ya mas. Jadi harus tegas, kalau ada yang tidak serius harus dicoret saja. Yang penting mutu kegiatannya ditingkatkan. Ini hanya sekedar saran. Ini masalah perencanaan.
    3. Soal pertunjukkan, saya tidak mempermasalahkan. Tapi mas Andi bisa lihat, bahwa “Show your culture” itu kan tidak bisa hanya menjadi Slogan kan? Perlu diwujudkan dengan menunjukkan keunikan-keunikan. Itu yang saya maksudkan bahwa untuk itu dibutuhkan perencanaan yang matang dan mungkin itu yang terlewatkan karena sudah menjadi rutinitas belaka. Kalau “Show your culture” lalu bukan potensi dari dalam yang diperkuat dan dicari sponsornya, maka akan tenggelam dan yang kelihatan adalah “Show their culture”.
    4. Soal “intervensi” pihak-pihak berkuasa di kampus, saya kira itu tergantung pada kemandirian LK dalam bersikap dan berkomunikasi secara dewasa dengan pihak-pihak tersebut saja. Bukankah kita sudah berada dalam satu sistem organisasi sehingga kemandirian perlu kedepankan. Ini juga masalah perencanaan.

  42. andi-dobleh says:

    aduh… duh.. dibales ama kak Theo deh.. hehehehe .. 🙂
    makasih Kak buat komentarnya….

    1. kalo disini sih nggak.. kalo di forum lain ga berani komentar, soalnya jarang ketemu.. hehehe
    2.Masukan yang baik Kak, silakan dibaca dan diserap oleh calon2 fungsionaris SMU tahun depan
    3.sama dengan nomor 2
    4. tidak sama dengan nomor 2 dan 3.. hehehe… kalau saya melihat kondisi fungsionaris LK saat ini, faktor utama kriteria penerimaan fungsionaris LK baik di BPMU,SMU,SEMAFE dan BPMFE (saya FE, jadi tidak bisa mengkomentari fakultas lain) adalah “Siapa yang mau” bukan lagi “Siapa yang bisa” !! Saya sendiripun mengakui ketika menjadi fungsionaris LK, saya belum memiliki kemampuan minimal yang memadadi, kebanyakn kemampuan yang dibutuhkan oleh seorang fungsionaris saya dapatkan dari ‘learning by doing’, kesimpulan saya masalah kaderisasi masih menjadi salah satu “budaya” dalam LK UKSW. (lebih lanjut bisa di baca dalam artikel: “antara ada dan tiada: peran lk dalam penentuan kebijakan kampus” di web ini juga)

  43. santoso says:

    Sebaiknya solusi yang menjadi pemecahan untuk EKspo budaya adalah hanya masalah dana…apabila universitas memberikan dana yang layak dan cukup untuk menunjang semua kegiatan maka tidak akan terjadi penekanan dari sponsor..dan apabila ada sponsor juga tidak menmgambil alih semua…..

  44. Ir. Soekarno says:

    mnrut gue. lebih baek sponsor. lagian juga ni ye. kalo expo dah bosen acara dan tariannya itu aja. dan orangnya ni. itu juga. bosen da gue. lebih baik sponsor karna so pasti ni ye kalo ade sponsor kite dapet nonton artis2 yang di sponsorin itu aja h. peace.

  45. Forza says:

    Walaupun sudah lama berlalu,Expo Budaya kemarin harus bisa menjadi cerminan Expo Budaya selanjutnya. Masih banyak kekurangan, walaupun harus diakui panitia sudah bekerja keras dengan baik.Salah satu kekurangan yang paling saya cermati adalah kekurangtegasan panitia dalam menerapkan aturan tampil etnis.Pada sosialisai Expo,seksi acara pada khususnya telah menyampaikan bahwa apabila Etnis tidak bisa tampil dalam jangka waktu tertentu akan di-cut,namun apa daya,begitu banyak kemoloran yang sangat disesalkan.Yang paling hebatnya,saat penampilan Band Etnis, ada aturan band Etnis hanya diperbolehkan membawa 2 lagu, tetapi begitu enaknya mereka membawakan lagu lebih dari 2.Panitia harus berani meng-cut apabila terjadi seperti itu,agar waktu yang dirancang tepat dan tidak adanya kejadian yang dialami oleh Dance Timor. Saya tidak tahu pakah panitia tidak berani atau segan meng-cut band Etnis tersebut karena memiliki jumlah penonton yang banyak.Saya tidak mau menjadi rasis, teatapi kejadian tersebut akan memberikan kesan buruk pada panitia nantinya. Bravo UKSW….

  46. mikael ramos says:

    sebelumnya kami tidak memberikan komentar tentang hal di atas, tapi kami membutuhkan dukungan sponsor, kami sedang membuat suatu acara event, event kami tentang kebudayaan adat belu ( flores)kami membutuhkan sponsor yang mendukung acara kami ini, jika bersedia membantu kami akan mengirimkan proposal kami, dan kami siap mempresentasikannya dengan sebaik mungkin, tolong tinggalkan contak personnya dan alamat email anda, terima kasih.

  47. mikael ramos says:

    saya akan meninggalkan no contak person yang bisa kami tinggalkan 0813, 8800 9264, acara kami akan di adakan pada tanggal 1 oktober 2011, mohon tanggapi pesan kami ini, jika kalian tertarik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *