Gerilya Melawan Eksploitasi Seni Merapi

Browse By

Akhir-akhir ini ada fenomena menarik berkaitan dengan gelar budaya dan pentas seni di wilayah lereng Gunung Merapi, tepatnya di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Magelang. Sejak 2000 hingga 2008, tercatat ada puluhan gelar budaya dan pentas seni yang telah terselenggara. Media lokal dan nasional pun berramai-ramai ikut mendokumentasikan. Orang perseorangan dan atau bersama organisasi tertentu begitu antusias menyelenggarakan gelar budaya dan pentas seni Merapi. Ada apa di balik semua ini?

Kelompok-kelompok kesenian di lereng Merapi tentu saja merasa diuntungkan dengan gelar budaya dan pentas seni tersebut. Kesenian lokal lereng Merapi memiliki akses untuk tampil dan ditonton oleh khalayak ramai. Selain keuntungan tersebut, mereka juga merasa diuntungkan dengan kas (uang) yang diberikan oleh pihak penyelenggara.

Banyak pihak tentu diuntungkan dengan gelar budaya dan pentas seni lereng Merapi ini. Tapi sayangnya, tanpa disadari oleh masyarakat lereng Merapi, dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi euforia gelar budaya dan pentas seni yang nyata-nyata ditunggangi oleh pihak tertentu, untuk kepentingan diri sendiri dan atau kelompoknya. Tulisan ini merupakan wujud kegelisahan saya menyimak euforia gelar budaya dan pentas budaya, yang akhir-akhir ini untuk tujuan komersial dan pengangkatan popularitas orang perseorangan atau kelompok tertentu.

Kesenian Lereng Merapi mulai dijadikan kendaraan untuk kepentingan dan keuntungan kelompok tertentu. Hal ini semakin nyata pada gelar budaya dan pentas seni yang didanai oleh LSM (lembaga swadaya masyarakat — Red) dengan kedok pengembangan, pengaktualisasian, dan pemberdayaan citra lokalitas. Di balik semua itu, LSM telah meraup keuntungan banyak untuk keuntungan orang-orang di dalamnya.

Saya tidak anti-LSM. Tapi melihat cara kerja LSM yang hanya memperkaya diri dengan membuat proposal ke instansi atau founding tertentu, saya lantas menjadi berang. Dengan dalih-dalih gelar budaya dan pentas seni, LSM yang demikian ini begitu mudah mendapatkan dana dan meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, mengingat lereng Merapi memang kaya akan kesenian.

Di luar LSM, saya juga berang dengan orang perseorangan, yang, tentu saja, karena memiliki dana yang kuat, suka menyelenggarakan gelar budaya dan pentas seni. Namun, lagi-lagi penulis juga melihat di balik ini semua ada kepentingan yang terselubung. Aktivitas seni dan budaya hanya menjadi jalan untuk mencari popularitas. Gelar budaya dan pentas seni menjadi kendaraan supaya terkenal, terpampang di banyak media cetak dan sering ngomong di televisi.

Apakah ini suara sumbang dari orang yang merasa tersingkirkan, atau merasa iri dengan semua itu? Tentu saja tidak, karena dalam semua aktivitas seni dan budaya ini saya hanya menjadi penikmat. Saya tidak memiliki kepentingan di dalamnya. Sebagai penikmat, saya tidak punya kepentingan, baik secara langsung maupun terselubung.

Gelar budaya dan pentas seni atas dana kelompok tertentu dan atau orang perseorangan, yang memiliki dana, nyata-nyata telah mengeksploitasi kekayaan budaya dan seni lereng Merapi, untuk keuntungan dan popularitas diri. Gelar budaya dan pentas seni semacam ini tentu saja berbeda dengan gelar budaya dan pentas seni yang telah dilakukan oleh Komunitas Lima Gunung dengan Festival 5 Gunung, yang melibatkan komunitas kesenian dari Menoreh, Sumbing, Merapi, Andong, dan Merapi.

Dengan menyebut “Festival 5 Gunung,” saya tidak bermaksud menganaktirikan gelar budaya dan pentas seni lain, yang selama ini berlangsung di lereng Merapi. Bagi saya, festival ini tidak mengeksploitasi dan menjadikan kesenian sebagai kendaraan kepentingan untuk memupuk kekayaan dan popularitas diri. Di dalamnya, saya justru melihat para seniman yang konsisten membeli kesenian dan tidak memperjualbelikan kesenian untuk keuntungan dan popularitas diri. Yang terjadi dalam Festival 5 Gunung justru semangat inovatif dan kreatif untuk tampil beda. Semangat bersaing setiap kelompok kesenian untuk tampil beda mengalir secara sehat. Seni sebagai perayaan hidup cukup tercermin di sana. Dengan dana penyelenggaraan yang kadang-kadang minim pun, festival tetap bisa dilangsungkan. Saya memuji Festival 5 Gunung secara jujur sebagai penikmat, karena, lagi-lagi, saya juga tidak punya kepentingan dengan Komunitas Lima Gunung.

Kalau ada pihak tertentu atau orang perseorangan yang merasa tersinggung dengan tulisan ini, mbok luweh! Sebagai penduduk asli lereng Merapi, saya hanya tidak ingin ada eksploitasi kesenian lereng Merapi. Itu saja!

Gendhotwukir, penyair dan jurnalis dari Komunitas Merapi

6 thoughts on “Gerilya Melawan Eksploitasi Seni Merapi”

  1. Ferdi says:

    Salut buat festival 5 Gunung. . . UKSW harus belajar banyak dari komunitas ini dalam penyelenggaran Expo Budaya pada tahun-tahun mendatang.

  2. STR says:

    Sebenarnya saya kepingin Gendhotwukir beberkan siapa-siapa saja oknum yang memang “mengeksploitasi” seni Merapi itu lewat artikelnya ini.

  3. geritz says:

    Saya pernah sekali menonton acara mereka. Fantastic ! ini bisa jadi contoh pemberdayaan yang riil. saya kira UKSW dan pusat-pusat studi yg punya konsen tentang pemberdayaan bisa belajar dari komunitas 5 gunung.

    geritz

  4. Gendhotwukir says:

    Tidak etis kalau saya menuding langsung pelakunya.

  5. lis says:

    Tuduhan yang ngawur karena hanya melihat dari sisi seni saja. Padahal yang harus disentuh adalah maslah budaya merapi…yang pada ujungnya akan bersentuhan langsung dengan masalah kerusakan lingkungan di sana sebagai akibat dari penambangan pasir yang berlebihan. Kalau anda ngiri dengan orang-orang yang telah berperan di sana saya memaklumi tulisan anda..Namun selama ini apa yang telah anda buat untuk mereka???

  6. prasojo says:

    wah, ulasan yang jitu. sayangnya tidak berani mengungkapkan fakta lebih mendalam kecuali hanya menyebut F5G.

    Salut untuk lima gunung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *