Arah Pendidikan di UKSW: Quo Vadis?

Browse By

Hampir tak terbantahkan lagi bahwa model pendidikan yang baik adalah yang mendorong terjadinya pembelajaran yang mendalam (deep learning). Paul Ramsden, seorang ahli pendidikan dari Australia (penulis buku Learning to Teach in Higher Education — Red), membedakan deep learning dari surface learning.

Yang dimaksud dengan deep learning adalah proses pembelajaran yang mendorong mahasiswa mencari tahu dan menilai secara kritis ilmu pengetahuan yang dipelajarinya, sehingga ia memahami apa yang dipelajarinya, secara mendalam dan lama. Sederhananya, deep learning bisa disebut “belajar untuk membangun pemahaman yang dalam jangka panjang mendorong si pembelajar untuk menjadi bijaksana dan mampu menjalani hidup dan pergumulannya dengan lebih baik.”

Kontras dengan itu adalah surface learning alias “belajar kulitnya saja,” dimana ciri umumnya adalah mahasiswa belajar untuk sekadar menghapal apa yang diajarkan dosennya. Tidak pernah dikaitkan dengan aspek-aspek lain. Biasanya itu dilakukan hanya untuk kepentingan mendapat nilai yang baik dalam tes atau lulus mata kuliah. Sehabis tes, lupalah si mahasiswa atas apa yang dipelajari.

Kedua model ini mudah dilihat dalam praktek, namun itu sesungguhnya menggambarkan apa yang ada di dalam benak si pendidik dan si pembelajar. Implikasi dari pilihan cara pandang di antara keduanya akan membawa konsekuensi pada proses pembelajaran, yakni metode belajar-mengajar dan, akhirnya, load belajar-mengajar masing-masing.

Tulisan ini adalah bagian pendahuluan dari analisis dan pengajuan konsep pedagogis bagi kita di UKSW. Sebagai pendahuluan, tulisan ini belum membahas hal-hal tersebut tadi secara mendetail, tapi baru memberi background untuk pembahasan lanjut pada bagian kedua. Bagian ini juga memuat beberapa refleksi terhadap perkembangan praktek pedagogis di UKSW dan mengajukan beberapa pertanyaan reflektif.

Pergeseran orientasi pedagogis
Perdebatan deep learning melawan surface learning bukan perdebatan baru, dan juga bukan hanya persoalan kita di Indonesia. Mungkin, usia perdebatan ini sama tuanya dengan munculnya sekolah-sekolah modern dimanapun, yang demi kepentingan formal harus mengeluarkan ijazah dan nilai sebagai bukti keberhasilan seorang pelajar menyelesaikan sebuah bahan pelajaran. Namun, ia semakin mengemuka ketika pendidikan berubah dari sebuah tanggungjawab sosial menjadi sebuah proses transaksi pengetahuan di lembaga pendidikan sebagai pasar pengetahuan.

Dahulu, belajar ilmu pengetahuan rasanya adalah sebuah “kemewahan.” Tidak semua orang bisa mencapai taraf pendidikan tinggi (bukan dalam ukuran menjadi mahasiswa, tetapi menjadi orang yang benar-benar mendedikasikan diri untuk belajar dan menimba ilmu). Barangkali bukan saja tidak bisa mencapai, tetapi tidak semua orang memiliki kebutuhan untuk itu.

Kini, hampir semua orang yang mampu secara ekonomi akan merasa malu jika tidak berkuliah. Karena itu, barangkali, pendidikan kini beralih fungsi menjadi sebuah mesin raksasa yang berproses dalam suatu lingkungan yang terinstitusi sedemikian rupa, sehingga kita hampir tidak lagi atau lupa mempersoalkan apa makna pendidikan sesungguhnya, apalagi arti belajar di tingkat pendidikan tinggi.

Kembali ke dunia baheula, dimana pendidikan menjadi barang mewah, khususnya setelah kemunculan para filsuf yang mencoba mempersoalkan berbagai fenomena hidup dan merentang pikiran untuk mencari jawab atasnya. Para pelajar pada zaman itu adalah mereka yang cenderung ingin tahu apa saja. Pengetahuan bagi mereka tidak berbatas. Mulai dari ilmu alam atau fisik, hingga fenomena sosial budaya, dipelajari. Bahkan setelah manusia mengenal cabang-cabang ilmu pengetahuan dalam lembaga-lembaga pendidikan formal, khususnya pendidikan tinggi, maka para mahasiswa pun harus belajar ilmu-ilmu pengetahuan secara holistik. Dari matematika, ilmu alam, ilmu sosial, bahkan hingga pendidikan fisik dan kesenian, semua dipelajari. Itulah yang lazim dikenal sebagai pendidikan liberal arts.

Apa yang mau dikemukakan dengan semua itu adalah pendidikan benar-benar merupakan barang mewah. Karena mewah atau mahal, dan untuk mendapatkannya harus dengan kerja keras, maka ia diperlakukan sedemikian rupa istimewa. Rentangan subjek yang dipelajari, kalau bisa, semuanya dan, terutama, semua harus dipelajari secara mendalam untuk benar-benar paham. Para pelajar harus berupaya tahu hampir segala hal dengan baik agar menjadi bijak, menjadi pribadi yang lengkap, sehingga mampu menjalani hidup dengan lebih baik. Di situlah cita-cita pendidikan untuk membentuk warga negara yang baik terletak. Dan di situlah istilah yang saya pakai sebelumnya, yakni “pendidikan untuk hidup,” berlaku.

Model pendidikan macam begitu tampaknya masih tersisa cukup kental di tingkat perguruan tinggi Indonesia hingga tahun 1970-1980-an. Jika mengingat kembali diskusi-diskusi kemahasiswaan kami di tahun 1990-an awal, istilah liberal arts kadang masih terdengar. Saya pun masih sempat merasakan berkuliah dengan matakuliah wajib umum seperti Ilmu Alamiah Dasar dan Ilmu Budaya Dasar, serta matakuliah pilihan olahraga seperti Tenis. Dan mahasiswa diperlakukan serta memperlakukan diri sendiri untuk benar-benar belajar dan paham apa yang dipelajarinya. Karena itu, misalnya, perpustakaan UKSW tetap ramai hingga jam 10 malam, khususnya ruang bacanya.

Namun perubahan tak terelakkan, termasuk di dunia pendidikan. Sesungguhnya, perubahan ke arah spesialisasi keilmuan juga bukan barang baru. Dunia pendidikan mengenal “pendidikan ke arah profesi” sudah cukup lama. Di zaman pendidikan kolonial pun orang sudah belajar untuk menjadi, misalnya, ahli hukum (Master in de Rechten/MR), walaupun matakuliah dasar umum yang wajib tampaknya harus tetap ada untuk memberi pondasi yang cukup. Pola ini masih tampak hingga sekarang dengan matakuliah umum, tetapi dengan porsi yang makin sedikit.

Namun, yang saya lebih maksudkan dengan isu pergeseran adalah pada makna belajar di perguruan tinggi, dari “belajar untuk hidup” ke arah “belajar untuk sekadar mendapat ijazah,” atau bahkan menjadi lebih sempit, “untuk sekadar dapat nilai dan lulus matakuliah.” Saya tidak tahu persis sejak kapan, tetapi sejak saya berkuliah tahun 1990 di UKSW, rasanya pandangan itu telah ada.

Sewaktu saya kuliah, masih ada dosen yang bercerita betapa bergengsinya status berkuliah, terlebih kalau sudah memanggul gelar sarjana, di zamannya bermahasiswa. Status itu merupakan modal besar untuk mendapat pengakuan mertua, katanya. Prinsipnya, bagi masyarakat di zaman itu, berkuliah dan menjadi sarjana masih berupa sebuah kemewahan. Saya lalu teringat konsep creative minority di UKSW, yang juga memaknai mahasiswa sebagai sebuah kelompok elit dalam masyarakat, dan karenanya, UKSW bercita-cita agar lulusannya menjadi “pasukan elit” di masyarakat. Kesimpulan saya, belajar di perguruan tinggi hingga zaman 1990-an masih ada bau “belajar untuk hidup.” Tetapi ia mulai digoda oleh “belajar untuk selembar ijazah.”

Tarikan nilai ekonomis pendidikan tinggi makin kuat sejak era 1990-an, dan rasanya, pendidikan tinggi mulai bergeser dari paradigma sosial ke paradigma ekonomi. Ia menjadi sebuah “industri.” Jika melihat wacana yang dikembangkan di UKSW pasca 1995, paradigma ini sangat kentara berkembang di UKSW.

Pikir saya, memperlakukan lembaga pendidikan sebagai sebuah industri dalam sebuah negara macam Indonesia — yang masih tega membayar buruh murah atau memanipulasi bahan baku palsu untuk sekadar menghasilkan barang murah atau mencari untung sepihak (sebuah paradigma bisnis yang masih dominan hingga saat ini di lingkungan kita) — bisa jadi menjebak pendidikan tinggi untuk berada pada kelas “industri murahan.” Pendidikan hanya jadi tempat transaksi bisnis sempit antara pencari gelar dan pemberi gelar. Tidak lebih. Pendidikan tidak atau belum menjadi industri unggulan yang cita rasa dan kualitas menjadi aroma dan ciri utamanya. Ia pun sudah bukan sebuah proses yang memiliki tugas dan tanggungjawab sosial (yakni pembentukan dan transformasi karakter subjek didiknya).

Bukan berarti menuding para pemimpin lembaga pendidikan tinggi, seperti UKSW di era 1990-an, sudah “melacurkan” lembaga pendidikan tinggi dan belum mampu membawanya kembali menjadi sesuatu yang benar-benar berkelas. Tetapi jebakan itu (yakni menjadi “industri murahan”) bisa jadi telah benar-benar memerangkap kita (komunitas pendidikan tinggi), sehingga kita terkesan hanya berjalan di tempat, atau bahkan berjalan mundur dari perspektif pedagogis dan kemampuan kontributifnya, dalam membentuk masyarakat berkemampuan kelas wahid. Padahal, dunia terus bergerak maju, bahkan makin cepat.

Lembaga pendidikan, seperti UKSW, kini akhirnya tidak lebih dari sebuah mesin produksi massal. Ia bukan lagi sebuah aset sosial budaya. Pendidikan, termasuk yang berlangsung di UKSW, bisa jadi juga tidak lebih dari sebuah proses produksi kacangan, bukan lagi proses penanaman dan pewarisan budaya (perhatikan bunyi salah satu visi UKSW). Misi pendidikan tinggi untuk mentransformasi subjek didik menjadi warganegara terhormat, yang akan mengemban berbagai tugas sosial-ekonomi-budaya-politik di masyarakat, terbengkalai.

Bertanya kembali apa mau kita
Ah, daripada menuding, lebih baik bertanya. Pertanyaan dari fenomena seperti itu adalah, ”Apa benar itu yang terjadi pada lembaga seperti kita di UKSW, lembaga yang konon punya cita-cita bukan sekadar mencetak lulusan siap pakai di tempat kerja, tetapi yang bisa melakukan transformasi sosial? Apa memang sudah zamannya untuk mereduksi peran dan tanggungjawab lembaga pendidikan tinggi di UKSW, untuk sekadar menyelenggarakan program-program pendidikan dan menghasilkan lulusan tanpa dilandasi oleh misi agung pendidikan?”

Jika jawabannya bisa disebut “ya, ada benarnya,” maka kembali ke makna pendidikan dan proses belajar, ”Betulkah proses belajar di UKSW juga sudah terjebak hanya demi selembar ijazah?” Kalau sudah demi selembar ijazah, maka apakah benar selembar ijazah memang sudah cukup untuk bekal hidup di hari seperti ini?

Dalam hati saya bertanya, ”Apa sesungguhnya konsep pendidikan UKSW saat ini?” Bertanya ini sangat terkait dengan bertanya, ”Siapa kita sesungguhnya?” Pikiran saya melayang mencoba membayangkan pikiran seorang Notohamidjojo di era 1950-an hingga 1970-an, yang menjadi konseptor awal, baik model pendidikan maupun UKSW sebagai lembaganya. Di antaranya, “Pak Noto” mencita-citakan sebuah pergulatan ilmu pada tataran tinggi, baik oleh dosen maupun mahasiswa, agar UKSW mampu membawa perubahan dan mewariskan kebudayaan yang baik bagi masyarakat dan bangsanya. Dan, ketika pikiran itu melayang kembali melintasi waktu untuk membandingkannya dengan pikiran yang mencuat dari dan dalam sikap dan perilaku warga UKSW kini, rasanya saya tidak sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sendiri, karena kuatir kita justru menegasi eksistensi kita sendiri.

Baiklah anda juga ikut menjawabnya. Apakah jawabmu?

Kalau anda membenarkan indikasi-indikasi saya itu, lalu apa nikmatnya sih belajar itu? Belajar adalah beban! Karena itu, belajar-mengajar baru sedikit asyik kalau ada lelucon segar yang membuat kita semua tertawa terbahak-bahak. Tetapi lalu hanya lelucon itu yang kita ingat, dan lainnya kita lupa? Benarkah belajar menjadi sangat menjemukan karena dosennya sok serius dan mahasiswa dibuat susah karena dituntut harus banyak baca, baca, dan baca, serta tugas, tugas, dan tugas, atau sejenis itu? Oh, oh, oh, sedemikian parahkah kita?

Saya bingung …. Zaman apakah ini? Barangkali benar Ronggowarsito, seperti juga dikutip Notohamidjojo, “Inikah zaman edan, karena itu siapa tidak melu edan gak kebagian atau dianya justru bisa dianggap sebagai yang gila?”

Lalu mau ke mana kita? Mau jadi apa kita? Saya merenung, berpikir, dan karenanya berkata ”Ada sesuatu yang salah dalam konsep pendidikan kita, termasuk di UKSW!” Dan harus ada jalan keluarnya, agar sakit kita tidak semakin akut-menahun.

Ada ide? Saya tunggu jawaban anda!

Neil Semuel Rupidara, dosen Fakultas Ekonomi

59 thoughts on “Arah Pendidikan di UKSW: Quo Vadis?”

  1. STR says:

    Pak Neil,

    Saya kira kita harus kembali dulu pada kata “kebutuhan.”

    Tetangga kita sendiri (Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah) punya istilah “kurikulum berbasis kebutuhan.” Maksudnya, materi pembelajaran berangkat dari kebutuhan siswa masing-masing. Dan kebutuhan itu bisa berangkat dari kesenangan maupun tanggungjawab. Jika pendidikan berangkat dari kebutuhan, yang namanya active learning itu bisa terwujud otomatis, kira-kira demikian pendapat Bahruddin, salah satu pendiri komunitas belajar itu.

    Contoh Nyata 1
    Saya, karena suka dengan teknologi blog, maka saya dengan sendirinya belajar bahasa pemrograman HTML, CSS, serta sedikit-sedikit PHP. Saya bukan mahasiswa FTI, tapi saya sangat bergairah kalau sudah melototin kode-kode pemrograman, yang oleh seorang teman dari FTI sendiri dibilang susah. Tapi saya merasa senang. Dan blog Scientiarum ini adalah salah satu karya saya (yang masih akan terus saya kembangkan).

    Contoh Nyata 2
    Saya, karena tanggungjawab sebagai awak Scientiarum, maka saya dengan sendirinya belajar materi matakuliah Manajemen Media Massa milik seorang teman mahasiswa FISIPOL. Di sana saya rela berhitung (padahal sebelumnya tidak suka berhitung) untuk menyusun anggaran dan sebagainya. Itu saya lakoni karena saya tahu apa yang sedang saya pelajari adalah jawaban untuk kebutuhan saya dalam mengembangkan Scientiarum.

    Nah, apa yang selama ini saya temukan ketika kuliah di UKSW tidak seperti kedua contoh di atas.

    Pernahkah UKSW memberi kebebasan kepada mahasiswa untuk memenuhi kebutuhannya dalam rangka “meladeni” kesenangan dan atau tanggungjawabnya?

    Sebagai contoh, salah satu matakuliah wajib di FE adalah Pengantar Akuntansi. Saya katakan, saya adalah orang yang suka manajemen, terutama manajemen sumber daya manusia, lebih spesifik lagi adalah manajemen pengetahuan. Saya nggak suka akuntansi, saya nggak butuh akuntansi (sekarang), tapi saya diwajibkan (sebagai kata ganti “dipaksa”) belajar akuntansi. Tahu rasanya “terpaksa” kan, Pak?

    Alasannya apa kok “diwajibkan” belajar akuntansi? Karena akuntansi dibutuhkan nanti ketika jadi manajer, ketika jadi akuntan, ketika jadi dosen akuntansi, guru akuntansi, dan sebagainya. Kata “nanti” ini lah yang berbahaya! Nanti merujuk pada masa depan, sedangkan masa depan itu sendiri abstrak. Jadi, sebenarnya keberangkatan kita dalam menuntut ilmu itu bertolak dari sesuatu yang abstrak. Ini gila.

    Menurut Bahruddin, resource pembelajaran terbaik adalah apa yang ada di sekitar kita sendiri. Yang dimaksud dengan “apa yang ada di sekitar kita sendiri” itu adalah kebutuhan komunitas/diri sendiri (diri kita juga bagian dari komunitas kan?).

    Jadi, titik tolak dalam memulai kegiatan belajar-mengajar harus lah sesuatu yang nyata (seperti hobi/kesenangan, tanggungjawab, dan bahkan masalah di lingkungan sekitar komunitas UKSW atau Salatiga kita tercinta), bukan sesuatu yang abstrak dan tak jelas juntrungannya (seperti masa depan yang nanti, nanti, dan nanti). Nanti bisa mengada-ada jadinya!

    Wah, sulit juga rupanya untuk mengodifikasi apa yang ada di dalam benak ini ke dalam bentuk tulisan. Semoga Pak Neil bisa tangkap maksud penjelasan saya di atas. Saya sendiri udah kadung pusing! 🙂

  2. bambang says:

    menurut saya belajar “tentang dan menjadi” sudah seharusnya dipahami oleh dosen dan mahasiswa secara keseluruhan. Dari buku yang pernah saya baca (mutiara pembelajar, Andreas Harefa), belajar “tentang” diartikan kita bisa belajar apa saja (penjudi, pencopet, pengamen, pengemis dsb.), tetapi tidak harus “menjadi”, yang dimaksud kita tidak harus menjadi penjudi, pencopet maupun pengemis dsb.- itu. lebih lanjut, belajar “tentang” itu=proses, menuju “menjadi”, entah nantinya menjadi apa…itu tergantung potensi diri si mahasiswa yang dimiliki dan dikembangkan (upayakan fokus). Saya rasa ini tugas dan tanggungjawab dosen (sebagai navigator) untuk senantiasa mendorong setiap mahasiswanya lebih berkembang.

    saya melihat dan merasakan proses pembelajaran seperti di kampus kita tidak ubahnya belajar di SMA maupun SMP. feodalisme tumbuh subur di lingkungan kita, mahasiswa takut berargumen atau mengkritik dosennya…takut ini, takut itu. Kenapa ini bisa terjadi?

    itu dulu sebagai pemanasan

    salam, bebaskan kami dari belenggu pendidikan

  3. bambang says:

    Menurut saya belajar “tentang dan menjadi” sudah seharusnya dipahami oleh dosen dan mahasiswa secara keseluruhan. Dari buku yang pernah saya baca (mutiara pembelajar, Andreas Harefa), belajar “tentang” diartikan kita bisa belajar apa saja (penjudi, pencopet, pengamen, pengemis dsb.), tetapi tidak harus “menjadi”. Lebih lanjut, belajar “tentang” itu=proses, menuju “menjadi”, entah nantinya menjadi apa…itu tergantung potensi diri si mahasiswa yang dimiliki dan dikembangkan (upayakan fokus). Saya rasa ini tugas dan tanggungjawab dosen (sebagai navigator) untuk senantiasa mendorong setiap mahasiswanya lebih berkembang dan menjadi dirinya sendiri.

    Saya melihat dan merasakan proses pembelajaran seperti di kampus kita tidak ubahnya belajar di SMA maupun SMP. Feodalisme saya rasa tumbuh subur di lingkungan kita, mahasiswa takut berargumen atau mengkritik dosennya…takut ini, takut itu. Padahal eranya sudah berbeda, era menuju pasca-dewasa. Kenapa ini bisa terjadi?

    Sebagai pemanasan dulu,

    Salam, bebaskan kami dari belenggu pendidikan

  4. schape says:

    sungguh sangat senang ternyata “masih ada” staf pengajar yang peduli dengan apa yang terjadi dengan pendidikan kita dewasa ini..perlahan-lahan pendidikan menjadi lebih dimengerti bahwa bukan karena sekedar ingin menyalurkan ilmu saja, namun bagaimana ilmu itu bisa ‘dimainkan’ dalam satu bentuk metode yang aplikatif dan turut membangun peluang bagi mahasiswa berkarya lebih dari sekedarnya…

    bagi saya belajar bukan berhenti maknanya pada ilmu apa yang saya dapat, akan tetapi sejauh mana saya belajar menggunakan ilmu itu untuk memenuhi kebutuhan saya sebagai manusia…

    pendidikan di UKSW saya kira tidak salah, tapi bagaimana orang memaknai dan mengerti makna pendidikan di UKSW itu yang tidak benar….seberapa banyak dosen sih yang memberikan peluang bagi mahasiswanya untuk ‘meminta lebih?’

    apa yang salah dengan UKSW?

    saya, Bung Neil, Anda, ato siapa?

  5. ferry roen says:

    aduh om neil berat juga pertanyaannya. paradigma berubah dan ada implikasi termasuk dalam keputusan keseharian uksw. sistem sudah terkooptasi dgn paradigma yang bergeser kearah economic scale. setidaknya ada antogonisme dalam sistem saat ini. peserta didik dimatikan kreatifitasnya karena populasinya tinggi tapi tidak mampu dilayani oleh sistem bahkan kotanya sendiri menjadi tidak kondusif. yang juga ekstrim adalah pemekaran fakultas guna memenuhi tuntutan pasar menyebabkan sistem semakin lemas saja. saya kira yang menjadi pilihan uksw hanya dua back to basic atau bermain pada keadaan sekarang? saya cenderung back to basic!!! soal menggenerate income bisa kok lewat research university dan bermitra dengan berbagai lembaga daripada menerima mahasiswa yang banyak tapi menjadi ironis karena outcomenya jelek. yang begini kan lama2 uksw tidak diminati lagi. entah kemudian ada rekayasa sadar dari pimpinan di uksw untuk mempertahankan eksistensinya atau mekanisme pasar yang mengoreksi uksw saya kembalikan ke anda2. makasih

  6. andi-dobleh says:

    Aduhh.. tengah malam gini, lagi iseng2 buka scientiarum.com, malah jadi mumet deh liat tantangan Kak Neil.
    hehehehe :))

    Pada dasarnya pendapat saya :
    back to basic! kembalikan UKSW ke hakikatnya sebagai lembaga pendidikan, dan harus dihilangkan paradigma universitas sebagai pabrik pencetak SDM siap kerja. utamakan Kualitas,bukan kuantitas.

    untuk detil dan alasan yang mendasari pendapat saya, besok2 aja ya Kak Neil..

    PS: khusus buat FE, statistik hanya sebagian kecil dari ekonomi dan perekonomian, jangan ikut-ikutan negara ini untuk mendewa-dewakan statistik kuantitatif. (ungkapan frustasi mahasiswa yang ga ngerti statistik-hehe)

  7. andi-dobleh says:

    oh iya.. sedikit tambahan..

    @schape
    setuju “pendidikan tidak salah:” karena pendidikan itu tidak akan salah, kalau sampai pendidikan itu salah yang salah itu pelakunya dan/atau objeknya. cuma, kita juga patut bertanya, “seberapa banyak mahasiswa yang meminta lebih???” ..

    Satu hal yang perlu dipahami dan ditekankan, pendidikan di universitas adalah suatu proses bersama antara mahasiswa, dosen dan seluruh civitas akademik universitas bersangkutan. Janganlah mahasiswa menyalahkan dosen semata, janganlah dosen menyalahkan mahasiswa semata, janganlah mahasiswa menyalahkan bagian administrasi semata.. tapi cobalah kita buat suatu mekanisme yang efektif untuk menjamin keberlangsungan suatu proses belajar bersama di UKSW mencerdaskan bukan memberatkan.

    dah ahhh.. mumet.. bobok dulu.. tha2

  8. Neil Rupidara says:

    Dear temans,

    @all: Terima kasih atas responses yang kritis dan fundamental. Khususnya kepada rekans mahasiswa, salut! “Rupanya masih ada mahasiswa seperti kalian tho di UKSW?” 😆 Eksistensi kalian memberi energi pada idealisme untuk tetap hidup. Juga buat bung Ferry, rekan seperjuangan dari main bola dan sekolah di Kupang dan dilanjutkan di Salatiga serta rekan bekerja dan berdiskusi di-LK, GMKI, maupun di forum2 obrolan ‘sersan’.

    @STR: Untung kata kebutuhan ditulis ‘kebutuhan’ berarti ada makna perseptualnya. Cuma, apakah kita sama memersepsi dan karenanya membangun shared meaning tentang istilah itu? Ada banyak aktor soalnya yang terlibat. Itu soal saya kira dan butuh proses. Ambil contoh lembaga pendidikan (termasuk guru atau dosen) lazimnya merasa dialah yang berhak menentukan apa yang baik bagi anak didiknya karena merasa lebih tahu, lebih berpengalaman, dan lebih apa lagi? Kritikus pendidikan dan praktisi pendidikan kritis, seperti Bahruddin dkk di QT melihat dari sudut lain lagi, sudut mana yang lembaga pendidikan formal umumnya takut bahwa pendidikan akan tergelincir pada kurang isi, kurang bobot. Tapi, QT dan filsuf pendidikan radikal telah membuktikan tidak seperti itu hasilnya (baca buku Menggugat Pendidikan).

    Setuju, terlalu banyak mengatur apa yang wajib memang telah justru menggelincirkan tujuan pendidikan, seperti yang STR katakan, mahasiswa terpaksa dan akhirnya tidak tahu apa-apa. Cuma, saya belum bisa se-ekstrim mereka (pedagog kritis) itu. Saya masih mencoba mencari keseimbangan model liberal di mana ada expert yang menjadi mitra dengan model murni konstruktivis yang berpusat pada si subyek. Kalau tidak begitu, pekerjaan saya sebagai dosen percuma dong, tidak diperlukan lagi ha ha ha.

    Soal kebutuhan, jika suatu waktu pasca studi di UKSW STR berefleksi kembali, barangkali atau bisa jadi akan muncul sebuah penyesalan, kenapa saya dulu tidak belajar ini, itu (seperti kini ditujukan untuk pengantar akuntansi) dengan baik ya? Ini bisa terjadi dan merefleksikan sikap dan keputusan seseorang di suatu waktu yang gagal memahami secara sempurna apa yang sesungguhnya (juga) dibutuhkannya. Celakanya, masih ada orang yang ketika ditanya apa yang dibutuhkan tidak bisa menjawabnya. Tentu butuh pendampingan untuk penguatan. Tetapi, di atas semua itu, saya totally sepakat bahwa manusia, sebagaimana klaim STR, adalah pembelajar aktif. Jadi, ia masih bisa belajar sesuatu yang tidak dipelajarinya (sebelumnya), ketika dia membutuhkan itu. Jadi, memang tidak perlu menjejali semua hal, tetapi barangkali yang terlebih penting adalah membantunya belajar untuk menjadi pembelajar (seumur hidup) (learning how to learn). Itulah yang terjadi di QT, menurut saya.

    @Bambang: belajar jelas adalah sebuah kata kerja, jadi sebuah proses. Sebuah proses belajar selalu manargetkan hasil pada 3 domain pembelajaran: kognitif, afektif, psikomotorik. Di dalamnya masih ada levels. Taksonomi Bloom membantu kita untuk memahami ini. Penekanan yang berbeda dari satu domain ke domain lain dan dari satu level ke level lain menentukan hasil apa yang sebetulnya diingankan/diproyeksikan. Ambil contoh, untuk ‘menjadi’ (misalnya pencopet ahli), maka tentu bukan saja kognitif (tahu teknik) dan afektif (pusing amat jika itu merugikan yang dicuri), tetapi domain terbesarnya adalah ketrampilannya (bisa mencopet cepat dan tidak ketahuan). Kalau cuma tahu dan bisa bersikap, tapi tidak bisa lakukan akibatnya kan bisa berabe, digebuki banyak orang. Lalu di mana domain bagi pendidikan aras universitas sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi? Pertanyaan ini relevan, karena 1) pendidikan tinggi beda dari aras pendidikan lainnya, 2) universitas beda dari lembaga pendidikan tinggi non-universitas. Namun, menjawabnya juga tidak muda karena tantangan universitas berbeda dari zaman ke zaman mulai academica Plato, Univ. Konstantinopel yang diliat sebagi cikal bakal universitas modern dan universitas2 abad pertengahan, hingga munculnya model universitas riset sejak abad 18 (cek the history of university di wikipedia). Juga yang perlu dipertimbangkan adalah perubahan demi perubahan di lingkungan sekitar universitas, yang kini ditandai dengan perubahan2 melompat. Yang pasti universitas diklaim sebagai, “the institute of higher learning” (seperti juga cita-cita Notohamidjojo tentang UKSW). Jadi kalau merujuk taksonomi Blook, maka wilayah pembelajaran di universitas ada pada level-level tinggi dari ketiga domain itu. Karena itu, berefleksilah kita pada model dan proses kita untuk apakah sudah cukup baik (note: terkait dengan catatan @Andi dan Schape di bawah)?

    @Ferry dan Andi: soal “basic to basic”, walau makna yang diangkat kalian berdua tidak persis sama. Mungkin sudah bukan saatnya hidup dalam “tirani memilih ini atau itu” (baca Collins dan Porras, misalnya). Studi2 organisasi meributkan soal ukuran organisasi: besar vs kecil. Namun, masing2 punya keuntungan (+kelemahan) dan adalah pada kenyataannya organisasi2 tertentu sudah kadung besar dan menikmati ukurannya yang besar itu tapi kini juga sedang dihajar oleh yang kecil-kecil. Karena itu, pressure untuk bisa lincah, fleksibel pun tidak terhindarkan. Pertanyaannya, bisakah ciri besar dan kecil ada dalam satu entitas organisasi? Jawab para ahli, designer, dan praktisi organisasi kontemporer, BISA!!! Sudah banyak bukti. Jadi, ini tantangan bagi pemimpin sebagai arsitek organisasi di UKSW.

    Demikian juga relasi antara proses pendidikan yang sejati dengan salah satu bentuk hasilnya, SDM yang unggul, pun rasanya tidak perlu didikotomikan. Merujuk STR, QT sudah membuktikan itu. Banyak contoh di muka bumi ini yang bisa kita rujuk. Mengapa UKSW tidak/belum bisa? Itu soal! Saya yakini, dengan begitu, jantungnya aktivitas universitas: pendidikan, riset, dan pengabdian bisa jalan pada level kinerja yang tinggi melalui model-model yang integratif, sistemik. Sekali lagi, ini tantangan bagi para pemimpin di UKSW.

    @Andi dan Schape: Benarkah tidak ada yang salah? Kalau tidak ada yang salah, maka kita tidak mengeluh. Indonesia tidak akan punya problem mendasar dengan kualitas SDMnya. UKSW akan aman juga dengan lulusannya dan sekaligus student intakenya (jumlah dan mutu). Tapi, apa itu kenyataannya? Pendidikan tidak salah, benar. Sama juga, agama itu sendiri tidak salah. Tapi, ketika kita bicara model pendidikan yang macam apa sehingga anak pasif, kurang berkembang, atau apa yang diajarkan agama sehingga orang brutal, menganggap lebih suci dari orang lain, itu menjadi lain. Jadi, pendidikan dan agama tidak pernah bebas nilai dan ada soal relevansi nilai2 itu dalam konteks masyarakatnya. Di situlah selalu terkait faktor manusia sebagai konseptor dan pelaku pendidikan yang datang dengan referensi nilai2nya. Contoh, suatu waktu di dalam sejarah masyarakat manusia bisa dipahami, dan itulah yang benar, mengapa cuma laki-laki dan kulit putih yang (boleh) berpendidikan tinggi. Namun, suatu waktu lain di dalam sejarah sang manusia, itu tidak bisa diterima lagi. Contoh lain adalah, pernah ada dalam norma pendidikan bahwa mendidik yang baik adalah mendidik anak dengan keras (termasuk dengan kekerasan kalau perlu). Namun, pandangan begitu dinilai tidak lagi tepat. Jadi, kita tidak sedang bicara kerangka besarnya saja (misalnya pendidikan), tetapi pendidikan dalam tataran konsep/model dan praktiknya yang di dalamnya memungkinkan adanya ‘salah orientasi nilai, salah konsep, salah tindakan’ (dari sudut pandang nilai tertentu dan relevan tidaknya dalam tatanan masyarakat manusia di zaman itu).

    Wow sudah panjang lebar.. tapi masih banyak hal bisa didiskusikan dan saya perlu merekam semua pandangan yang muncul di sini untuk maksud melanjutkan tulisan saya ke tahap kedua. Terima kasih.

  9. STR says:

    @ Neil: Saya punya usul!

    Gimana kalo kurikulum dihapus dan fakultas-fakultas dibubarkan?

    Alasannya:
    1. Konstruksi kurikulum yang terlanjur kaku cenderung hanya menjejali otak mahasiswa dengan matakuliah-matakuliah “sampah” yang tak perlu. Contoh: Pengantar Akuntansi buat saya.
    2. Keberadaan fakultas hanya membuat ilmu pengetahuan di perguruan tinggi menjadi tersekat-sekat. Akibatnya, sulit bagi mahasiswa ekonomi seperti saya untuk mengakses sumber daya pengetahuan komunikasi di FISIPOL ataupun TI di FTI (sulit karena saya tak punya “hak” di sana). Padahal, kedua pengetahuan ini jauh lebih saya butuhkan ketimbang Pengantar Akuntansi. Memang, telah ada program matakuliah minor lintas fakultas. Tapi kesannya nggak niat dan setengah-setengah karena porsi yang “ditentukan” kurang signifikan.

    Sebagai gantinya, biarkan UKSW ini menjadi komunitas belajar yang cair.

    Setiap kali musim belajar (kita menyebutnya dengan “semester”) akan dimulai, biarkan mahasiswa menentukan sendiri (beri mahasiswa otonomi!) program belajarnya selama satu semester. Dan kustomisasi program belajar ini harus benar-benar bebas dan seturut dengan kesenangan mahasiswa sendiri, bahkan harus lebih customized dari apa yang selama ini kita kenal dengan “SKS.” Saya yakin, pembebasan ini akan menghidupkan kembali gairah belajar yang selama ini padam karena pemaksaan dari sistem dan atau orangtua.

    Lalu berdasarkan apa mahasiswa akan menyusun “program belajar”-nya?

    Setidaknya, ada tiga dasar yang dapat dipakai:
    1. Berdasarkan kesenangan/hobi. Biarkan mahasiswa, yang sedang tergila-gila dengan musik, belajar musik saja dan mereka, yang tergila-gila dengan pertanian organik, belajar pertanian organik saja.
    2. Berdasarkan kegelisahan mereka. Kegelisahan ini biasanya timbul karena melihat persoalan komunitas/lingkungan sekitar. Jadi, biarkan mahasiswa, yang sedang gelisah soal PKL (pedagang kaki lima), menggeluti dunia PKL secara penuh dan mereka, yang gelisah soal isu-isu pendidikan yang makin kacau, menggeluti soal-soal pendidikan secara penuh juga.
    3. Berdasarkan tanggungjawab yang sedang mereka emban. Saya kira penjelasan dua poin di atas ditambah dengan komentar saya yang sebelumnya sudah bisa memberi gambaran tentang dasar yang ketiga ini.

    Realisasinya?

    Biarkan mahasiswa menggumuli pembelajarannya sendiri. Dosen nggak usah ikut-ikutan kalau nggak diminta. Fungsi UKSW sebagai komunitas belajar adalah menyediakan akses terhadap fasilitas dan sumber daya pengetahuan yang dibutuhkan mahasiswa dalam proses belajarnya. Fasilitas dan sumber daya ini bisa meliputi buku-buku di perpus, koneksi internet (baca: gerbang pengetahuan global), dan dosen. Dosen itu sebenarnya ya cuma salah satu fasilitas pembelajaran saja, yang bisa dipakai atau tidak oleh mahasiswa (baca: subjek pembelajaran). Iya kan? Kalo mahasiswa lebih enjoy belajar tanpa dosen, apa harus dipaksa? Saya belajar pemrograman tanpa dosen, dan terbukti bisa! “Penggunaan” dosen ini harus menjadi preferensi individu masing-masing: mau pakai atau tidak.

    Dosen, kalau sedang tidak diminta konsultasinya oleh mahasiswa, mungkin bisa mengerjakan “yang lain.” Dengan catatan, harus selalu ada manakala dibutuhkan. Tapi kalau tak ada yang membutuhkan, sekali lagi, jangan ikut campur. Jadikan mahasiswa benar-benar sebagai subjek!

    Evaluasinya?

    Kalo ngomong evaluasi, tentu menyinggung hasil. Nah, hasil pembelajaran ini jangan dibuat sederhana seperti selama ini (hasil tes, skripsi, working paper, laporan magang, de-el-el).

    Buat mahasiswa yang suka nulis, dia bisa menuangkan hasil belajarnya dalam bentuk karya tulis (tesis, jurnal harian/mingguan, laporan, de-el-el).

    Buat mahasiswa yang suka ngomong, hendaknya dia difasilitasi dalam forum-forum diskusi terbuka atau seminar agar dapat mendiseminasikan hasil belajarnya secara oral. Nah, penyelenggaraan forum tersebut hendaknya didokumentasikan dengan video, agar pengetahuan yang terdiseminasi di dalamnya tidak “menguap” begitu saja setelah forum selesai.

    Sebenarnya masih ada banyak sekali bentuk dokumentasi hasil belajar yang dapat dilakukan dalam rangka evaluasi hasil belajar tersebut. Di Qaryah Thayyibah, anak seusia SMP/SMA malah sudah bisa bikin rancangan arsitektur gedung dan direalisasikan pembangunannya. Ini adalah salah satu contoh dokumentasi hasil belajar, sekaligus apresiasi, yang luar biasa terhadap karya siswa.

    Mampukah UKSW?

    NB: Student body yang 12.000 orang itu dikurangin dulu lah. UKSW udah kegendutan lho sekarang. Cari duitnya dari produksi pengetahuan aja (lewat riset dan penemuan yang dikomersialisasi). Jangan dari student intake doang yang digedein!

  10. Edhi says:

    Neil & teman2, membaca diskusi ini pikiran serasa melayang semasa masih bermahasiswa. Sebagai perguruan tinggi, dosen, mahasiswa, ada idealisme tertentu yang kita usung, namun tak selamanya di dunia yang kita hadapi demikianlah adanya.

    Apa yang pak Neil idamkan begitu sarat dengan filosofi pendidikan, dan memang demikianlah cita-cita lembaga pendidikan yang benar, dalam arti mencerdaskan, mencerahkan, mengembangkan aspek keilmuan, dan menjadikan mahasiswa dan lembaga perguruan tinggi sebagai agent of change. Untuk itulah Tridarma Perguruan Tinggi di tulis dan di amini. Untuk itulah pula, konsep creative minority di gagas.

    Kalau dari sisi mahasiswa dan orang tuanya : Mau apa datang ke perguruan tinggi ? Ini terkait dengan mau apa setelah lulus dari perguruan tinggi bukan ? Tak dapat di sangkal, ada sekian banyak orang yang datang ke perguruan tinggi dengan harapan “memiliki daya saing” untuk masuk ke dunia industri yang lebih besar… perbaikan nasib, supaya si anak nanti dapat mandiri, cari uang sendiri, dan hidup lebih sejahtera dari orang tuanya. Sah saja bukan ?? Kalo yang seperti ini, lebih mementingkan hasil daripada proses, apa ya bisa di salahkan ? Apalagi tuntutan dari kolom lowongan kerja di halaman koran, mensyaratkan IPK 2,75, berbahasa Inggris aktif, lulus dari perguruan tinggi ternama, bla-bla-bla… Kalo paradigma kuliahnya adalah supaya bisa masuk dunia kerja, jangan harap bisa memperoleh motivasi yang lebih tinggi dari sekedar selembar ijasah plus IPK min. 2,75. Respon pendidikan tinggi pun lebih banyak mengalah, menciptakan jalur yang se efektif dan se efisien mungkin, agar dapat masuk ke dunia kerja sesuai kebutuhan, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya (supaya PT-nya juga berdaya saing – cepat lulus = cost saving ). Bagaimana dengan tridarma perguruan tinggi ? Rasanya hanya menjadi milik mereka yang memang haus pengetahuan.

    Dulu saya pernah sampai berpikir, apa ya harus di buat 2 jalur untuk setiap jurusan yang di tekuni, yaitu jalur keilmuan; yang mencetak Pak Neil-Pak Neil baru ; dan jalur profesi yang mencetak pengisi lowongan di dunia industri. Jadi, FE itu mustinya juga punya STIE, yang tidak perlu ribut dengan ilmu manajemen, yang penting ngajari caranya jadi manager. FT harusnya punya Politeknik, dst.. Itu pikiran jaman dulu.

    Tapi setelah sekian tahun lulus, saya baru sadar, itu semua proses yang harus di lalui. pak Neil pun saya yakin ngomong begini setelah merenung paling tidak 10 tahun lamanya. Teman2 mahasiswa, saya yakin dan tahu persis gejolak di dalam diri anda, karena saya juga pernah jadi mahasiswa. Yang kita butuhkan sesungguhnya adalah suatu perubahan paradigma kita mengenai belajar. Mulailah dengan 1 kasus : Mengapa seorang Andreas Harsono yang kuliah di FT tp justru menjadi seorang journalist handal ? Kuncinya adalah kembali pada para filsuf yang di ceritakan Neil di muka, bahwa basic dari BELAJAR itu tidak dapat di batasi oleh apapun, termasuk tembok2 Universitas ! Kalo kita menggantungkan belajar kepada lembaga pendidikan, alangkah naif-nya kita, sama saja dengan menyerahkan masa depan kita di tangan para dosen kita.

    Hidup kita ada di tangan kita sendiri, karena itu, belajarlah dari Universitas Kehidupan, puaskan dahaga atas segala sesuatu dari semua yang ada di sekitarmu ! Perguruan Tinggi, adalah bagian kecil dari Universitas Kehidupan ini. Belajar itu bisa dari apa saja, siapa saja. Buku itu bukan barang rahasia, di toko banyak di jual. Di kampus banyak orang pinter yang bisa di pilih untuk di ajak diskusi apa saja. informasi bisa di akses dengan mudah di internet, perpustakaan segitu gede, di LK bisa belajar dan praktek manajemen plus jadi politisi amatir secara gratis, dll.. selahkan di eksplorasi sendiri.

    Dan kalo ngaku mahasiswa tapi tahunya cuman apa kata dosen di kelas, buku wajib dan photocopy-an yang di kasih asisten – ya boleh aja, tapi ya keciaaan deh elu, bayar sekolah mahal2 kok mau terima di kasih kaya begitu doang.

    Tapi ini penyesalan dari sebagian besar pemburu nilai, setelah dia sekian tahun lulus. Ada begitu banyak harta terpendam selama kuliah, yang baru ketahuan barangnya setelah pada lulus dan hidup di masyarakat. jadi, yang masih kuliah, cobalah merubah paradigma – carilah sebanyak mungkin, dapatkan sebanyak mungkin – jalani yang wajib, tapi cobalah mulai membuka sekat2 kelas anda, nanti harta2 yang terpendam itu akan mulai tampak.

    Seeing is believing… jangan percaya dulu sebelum di coba.

  11. triyono says:

    Merefleksikan arah pendidikan di UKSW adalah suatu keniscayaan untuk pengembangan atau menjaga kedinamisan institusi ini ke depan. Namun, aku melihat belum ada upaya-upaya kearah perbaikan, baik kualitas SDM, kurikulum, perpustakaan dsb. Hal lebih esensi mencoba mengkaji ulang pemikiran-pemikiran almarhum Notohamidjoyo (Rektor I UKSW) terkait visi dan misi, dan, juga tujuan awal perguruan tinggi ini berdiri.

    Pendidikan tidak serta merta menyiapkan sarjana siap pakai maupun kerja di mana! itu tidak ada jaminannya. Tetapi bagaimana pendidikan itu diupayakan sebagai pencerahan atau-pun pengentasan manusia dari keterbelakangan, meningkatkan derajat ekonomi rakyat miskin, melawan ketidakadilan dll. Itu mengapa pak Willy bilang di bangunnya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Hukum, Teologi, Ekonomi….(baca; Creative Minority, Scientiarum Desember 2007). Landasan-landasan demikian yang seharusnya menjadi salah satu pembahasan di forum-forum yang ada di UKSW saat ini.

    Bukannya setiap ada momen penting seperti Dies Natalis sebagai ajang pemberian laporan tahunan oleh “Rektorat”. Tragisnya lagi diselingi kegiatan yang sifatnya hidonis.

    Sebagai universitas yang dulu-dulu memiliki nama besar, alangkah cerahnya apabila kampus saat ini terdapat diskusi-diskusi yang khusus mengupas tentang visi dan misi Indonesia mini ini. Tidak harus melalui kelompok-kelompok besar, dapat dibuat kelompok kecil syukur yang paham betul kesatyawacanaan.

    Pesimis, dapat terealisasi selagi elemen kampus masih mengkondisikan setiap masalah yang ada dibuat “adem-ayem”. Padahal, aku meyakini banyak masalah terjadi.

    Aku tak tahu kampus yag konon berangkat dari usaha-usaha pencerahan bagi umat manusia, sebagai pelestarian kehidupan, mengelola dan merancang masa depannya, hingga akhirnya menjadi dirinya sendiri. Dapat kah berlangsung di tengah-tengah kehidupan UKSW yang sedang “gonjang-ganjeng” ini?

    salam, triyono 🙂

  12. Opha says:

    Awas!!! Hantu Komersialisasi Pendidikan. Kalimat itu pernah menjadi judul muka scientiarum edisi kesekian. Ketika itu saya dan teman-teman SA lainnya mengambil topik itu untuk mengkritisi kebijakan pimpinan UKSW pada waktu itu dan juga kebijkan pemerintah terkait dengan pendidikan disemua level. Sempat pula kita mewawancarai pimpinan kampus tentang Komersialisasi pendidikan.

    Pendek kata, apa yang diungkapkan Bang Neil diatas mirip dengan pemikiran kita pada saat itu. Pendidikan kita telah di hegemoni oleh kekuatan-kekuatan ideologi dominan. Sangat sulit untuk mengeluarkan itu dari cengkeraman tersebut. Institusi pendidikan tidak ubahnya pabrik, pendidikan dijadikan komoditas jasa yang menggiurkan dan mendehumanisasi peserta didik, yang akhirnya akan menciptakan masalah sosial tersendiri. Mengutip ungkapan sindhunata, bahwa pendidikan kita hanyalah menghasilkan airmata saja. Yang tidak berpunya akan terkungkung pada status sosialnya, jika kenyataanya dapat terbebaskan hanyalah sebuah keajaiban.

    Salut dengan Bang Niel, masih terselip idealisme di area 8 hektar ini, ketika semuanya enjoy dengan keadaan masing.

  13. Neil Rupidara says:

    Terima kasih lagi dengan masukan2 akhir @STR, Edhi, Triyono dan Opha

    @STR: minimal di dunia ini kita bisa melihat 2 jalur pendidikan tinggi. Model Amerika di mana mahasiswa masuk sebagai mahasiswa universitas dan berkuliah semua mata kuliah lintas fakultas/dept selama 2 tahun pertama lalu tahun ketiga mulai memilih minatnya sendiri dan menyelesaikan tugas-tugas akhir terkait di tahun ke-4. Itupun mahasiswa bisa memilih lebih dari satu major (2-3) karena minatnya. Model kedua adalah model yang kita jalani sekarang, yang saya kira diturunkan dari Eropa dan lazimnya juga dipraktikkan di negara2 Eropa dan kebanyakan negara bekas koloninya.

    Tambahan, di Amerika di kelas tertentu (11 atau 12) di SMA mereka sudah dikenalkan dengan tes orientasi minat/karir (kerja/akademik). Mungkin mereka pakai klasifikasi atau model heksagon yang dikembangkan oleh John Holland (tolong dicek sendiri). Waktu saya jadi observer di kelas Industrial/Organizational Psychology waktu mengunjungi St Olaf College, mereka diskusikan kembali relevansi hasil tes dengan pilihan minat akademik mereka sekarang.

    Saya sempat berpikir seperti STR, untuk mencoba model Amerika itu. Ide itu muncul kuat ketika kami melakukan review kurikulum di FE 2007. Ada satu kebutuhan kemampuan ‘baru’ untuk hidup yang menuntut pendekatan multidisiplin dalam kurikulum. Prinsipnya problem dalam masyarakat/kerja dewasa ini dinilai tidak bisa dipecahkan dengan pendekatan mono saja. Saya coba search pemikiran itu dan saya setuju mas Triyono yang menyitir pak Willi, kalau pendekatan problem solving yang dipakai (berkuliah gaya problem-based), maka pilihan ini menjadi terbuka. Karena itu, gagasan core curriculum yang ramping lalu muncul untuk mendorong dibukanya bidang minat. Cuma, setuju dengan STR, kami masih belum berani berubah radikal. Pada diri saya pribadi dan pada tataran berpikir, saya sudah siap dan propose itu. Tapi, setting institusional kita belum. Itu juga yang membuat Dikti sempat memersoalkan ‘anehnya’ pendekatan S2 (kini plus S3) Studi Pembangunan UKSW yang berjiwa multidisiplin dan termasuk orang FE UKSW sendiri pun sempat bingung dan menariknya ke arah Ekonomi Pembangunan (suatu cara berpikir yang jelas keliru dari pemikiran aslinya).

    Hari ke hari saya makin yakin dengan ide multidisiplin itu. Dari berbagai hasil penelusuran saya, pergeseran ke arah situ terjadi pada universitas-universitas besar dunia (yang semestinya sudah memiliki muatan itu tapi ingin lebih eksplisit menekankan hal itu). Namun, kita harus menyadari bahwa kita hidup dalam lingkungan dengan competing rationalities, termasuk rasionalitas yang barangkali sudah perlu diganti tapi masih terlindungi kekuasaan. Jadi, it will take time dan karenanya energi saya pun harus panjang untuk menyoal-jawab hal macam begini.

    @Edhi: Saya masih terus memantau perkembangan2 model dan praktik pedagogis untuk menguji apakah ide-ide saya (yang saya adopsi tentu saja, bukan orisinal saya sendiri, emangnya siapa saya? he he he) benar atau tidak. Benar atau tidak itu dalam maksud mengatasi polemik kepentingan akademik vs kepentingan pragmatis (orang tua, dunia kerja, etc). Yang saya amati, terjadi konvergensi2 yang tidak kita perkirakan sebelumnya. Misalnya, teaching-research nexus, applied-research, atau di UKSW dulu pak Willi getol dengan segitiga akademiknya.

    Di universitas2 yang kini banyak mengedepankan research-based teaching, ternyata siswanya lebih mumpuni dibanding ketika mereka lecture-based (ini kesan umum, perlu basis temuan2 empiris yang telah diuji). Karena itu, swing ke arah research-based sedang terjadi di Amerika. Di Eropa, paling tidak bau pendekatan begitu di program S2 saya juga ada. Di Australia kini saya amati Macquarie Uni juga sedang mengerjakan itu (saya yakin uni lain juga). Teman2 saya dari beberapa universitas di Asia juga menyinyalkan hal itu (walau sinyalnya masih belum terang). Jadi, mari kita amati, apakah dikotomi itu masih perlu dibuat. Ada ketakutan luar biasa dalam cara kita (di UKSW) berpikir menghadapi pendekatan research-based, seolah-olah akan membunuh opportunities lulusan kita di pasar. Kita lupa bahwa yang merajai pasar2 tenaga kerja dunia adalah lulusan2 universitas2 riset.

    Riset juga harus dipahami telah berkembang luar biasa pendekatan2nya. Paling tidak ketika di beberapa mata kuliah saya saya coba begitu dan beberapa anak yang memang tergolong rajin dan mau berusaha merespon, ada yang sempat merespon saya, “kok ada mata kuliah begini ya.. saya tidak berpikir tuh kalau sampai begini (membedah pemahaman sendiri melalui interaksi dengan orang lain)”. Saya sendiri yakin ada makin banyak mata kuliah begitu yang dilakukan oleh ‘dosen-dosen gila’. Jadi, ketika ditanya, kenapa begini, kenapa begitu, apa opsi lain, dst..nya dan kelabakan dijawab, mahasiswanya sendiri yang tadinya sudah merasa tahu sesuatu, ternyata melihat masih banyak yang belum diketahui, masih ada cara pandang lain, dllsbnya.. jadi mereka dichallenge untuk berpikir kritis, menghubungkan satu dengan yang lain, melihat alternative berbeda.. memertanyakan keyakinannya sendiri.. saya kira kok baik ya.. dan itu, hanya bisa dicapai ketika mahasiswa aktif mencari dan mengolah.

    Ketika kita merujuk Howard Gardner dengan 5 Minds for the Futurenya (pikiran berdisiplin, pikiran menyintesis, pikiran mencipta, pikiran merespek, dan pikiran etis), kok lulusan dari sistem belajar seperti itu rasanya tidak perlu lagi khawatir melihat dunia ya.. They will love new challenges, because they surely know how to deal with them, and because they know they have something to deal with them..

    Pikiran ini tidak baru.. saya kira sudah diangkat pak Willi lama dan terakhir dimaterialisasi dalam Dokumen YPTKSW Strategi UKSW 50 Kedua.. mengantar masuk UKSW ke research-based teaching and learning.. Tapi, karena kita masih alergi, ya only time will tell..

  14. Edhi says:

    Neil, saya setuju banget, di masa depan research based university-lah yang lebih mampu survive dan selalu relevan dalam merespon perubahan yang terjadi semakin cepat. Poal-pola lama yang sekarang masih di lestarikan akan tergerus oleh jaman, apalagi bagi dosen2 yang tidak pernah di “charge”, yang selalu mendaur ulang materi yang itu2 saja, sementara di luar hampir setiap bulan muncul konsep baru.

    Satu hal yang menjadi concern saya, perubahan yang Neil impikan itu menuntut perubahan yang sangat radikal, dan menyangkut banyak kepentingan, sehingga saya kita, orang2 yang tidak kompeten dan telah nyaman dengan pola lama akan menjadi sangat resisten. Ideal sih iya, tapi membutuhkan waktu yang lama untuk mendobrak tradisi yang telah berakar, di sinilah “creative minority” di uji, benar2 ada, atau sekedar jargon masa lalu.

    Apa yang saya ungkapkan kemarin, mungkin lebih cocok untuk menantang teman2 mahasiswa, untuk tidak lagi berperilaku sebagai “siswa”, tapi tunjukkan kalau memang pantas di tambahin gelar “maha” di depan “siswa”-nya. Tuntutan perubahan untuk hal2 yang sudah tidak relevan di UKSW memang harus di perjuangkan terus, dan orang2 dengan visi seperti Neil, harus men-support terus hingga perubahan itu benar2 terjadi. Nah, di sisi lain saya mengajak mahasiswa itu untuk merubah pradigma “belajar”nya, agar “memperoleh sebanyak mungkin” harta2 terpendam di UKSW, jangan tergantung dosennya, mata kuliahnya, kampusnya, tapi belajar dari segala hal, mencoba menggali kekayaan intelektual di kampus, dari para senior, perpustakaan, forum2 diskusi, LK, Scientarium, dst.. dst.. Wong sudah ada di depan mata kok, tidak di manfaatkan kan sayang. Saya secara pribadi pun saat ini masih menyisaka penyesalan2, di mana apa yang saya dapat sangat jauh di bawah potensi UKSW yang ada karena saya kurang dalam mengeksplorasi berbagai hal di kampus (walaupun dari sisi IPK sudah cukup puas). Jangan menunggu, dan menggerutu saja. Apa yang di cita2kan Neil itu, terwujudnya tidak akan sekarang kan ? Yang bakal menikmati UKSW sebagai the best reseach university di Indonesia mungkin sekarang masih SMP, SD, atau bahkan belum lahir.

    Kita di Indonesia ini (apalagi generasi kita) di biasakan untuk menurut, menelan bulat2 apa kata guru dari kita SD. Secara psikologis, kita cenderung jadi orang yang sulit berpendapat, karena trauma, anak yang beda pendapat dengan guru = pembangkang. Generasi sekarang mungkin telah lebih terbuka, walaupun saya yakin masih terbatas pada sekolah2 tertentu saja. Akibatnya memang pasa saat masuk perguruan tinggi (seperti UKSW 15 tahun yang lalu pun) terjadi “gagap budaya”, biasa nelan, tapi di suruh mengunyah, ternyata tidak gampang. Berapa banyak dosen yang di kelas mengeluh, mahasiswa-nya kok pasif sekali (walaupun tentu teman2 yang aktif di sini pasti tidak begitu.. karena at least mereka bertumbuh dengan menuangkan gagasan dengan menulis). Dosen-pun demikian, di tuntut untuk selalu memperbarui diri, agar rangsangan ide yang di lontarkan ke mahasiswa selalu relevan, dapat menjadi fasilitator yang baik.

    One more thing (mudah2an masih nyambung sama topik) Khusus untuk FE, dulu saya dengar rumor katanya mau ada matakuliah entrepreneurship, jadinya bagaimana ya ? Ini lho yang seharusnya menjadi terobosan untuk mengasah soft skill mahasiswa FE. Saya membayangkan matakuliah ini sangat istimewa, karena seharusnya bukan matakuliah konvensional, karena tidak memberi pengetahuan, tapi harus di rasakan.

    Saya membayangkan, dalam matakuliah ini mahasiswanya benar2 ber-praktek bisnis, dengan dosen sebagai fsilitatornya. Mereka di kelas mendesign suatu business plan, dan duit pembayaran SKS-nya jangan dimasukkan kantung universitas, tapi di jadikan modal di setor, untuk mewujudkan business plan yang sudah di buat, sehingga mereka benar2 praktek berbisnis secara nyata. Dalam mewujudkan rencanma bisnis ini, mereka akan belajar & berpraktek dari berbagai aspek baik itu marketing, finance, mengelola manusia, mengambil keputusan, dll, bagaimana rasanya dapat untung, bagaimana pula rasanya rugi, bagaimana melewati masa sulit, bagaimana merayakkan kemenangan. Nah, dalam 1 – 2 semester, perkembangan dari bisnis ini (dari ide samapai dengan output-nya) di pantau dan di nilai keberhasilannya. Jangan cuman jadi penonton doang… Siapa tahu kelak Alfamart & tetangga2nya di dalam kampus itu, roda bisnis Salatiga yang bergerak untuk menopang kebutuhan dari ribuan mahasiswa UKSW, adalah milik para entrepeneur muda, yang tidak lain adalah mahasiswa UKSW sendiri.

    Mau gak ya ?

  15. Theofransus Litaay says:

    Salah satu pengujiannya adalah pada kemampuan mahasiswa dan dosen UKSW menanggapi kenaikan BBM. Apakah nanti hanya akan diam saja ataukah akan bersikap? Kalau bersikap seperti apa? Bersikap diam atau berbicara lewat tulisan dan demo? Adakah analisis kritis? Saya khawatir kekritisan kepada kondisi eksternal mengalami degradasi. Mudah-mudahan saya yang salah (akan senang sekali kalau salah).

  16. andi-dobleh says:

    wuhui… kenaikan BBM? akan sangat bagus tuh Pak Theo, kalau ada yang mau bersikap…

    sekarang ini saya hanya berharap rekan2 sesama mahasiswa untuk mau menyikapi, lewat media apapun..
    Demo dan tulisan hanyalah media…. Yang perlu diutamakan adalah kemauan dan keberanian untuk bersikap.

    Sementara ini Pak Theo masih dapat nilai “DT” untuk pernyataannya :”Saya khawatir kekritisan kepada kondisi eksternal mengalami degradasi”
    Kita lihat bersama apakah pernyataan Pak Theo nanti mendapat nilai “A” atau “E”….

  17. STR says:

    @ Neil: Sayang sekali jika kita belum berani. Padahal, langkah pertama adalah keberanian. Ketika berdiskusi dengan Bahruddin, saya melihat hanya ada dua hal yang mendasar agar tercipta pendidikan yang lebih baik, yakni KEBERANIAN (mengubah paradigma) dan KEBEBASAN (dalam belajar).

    Sungguh, langkah pertama hanyalah BERANI MENUJU KEBEBASAN. Terima kasih.

  18. Saam Fredy says:

    Ibarat pepatah mengatakan “orang dibalik senjata itulah yang penting”, pendidikan tergantung juga kepada siapa yang melaksanakan. Pendidikan adalah senjata, sehingga tergantung orang yang menggunakan senjata itu akhirnya. Dia akan membunuh orang lain, membunuh dirinya sendiri, menggunakannya untuk menakut-nakuti orang, atau menggunakannya dengan bijaksana.

    Pilihan ada ditangan anda, cuma meminjam cara berfikir Pak Tri Kadarsilo, “..Keputusan bertindak dalam perbuatan dan perkataan berdasarkan ‘kebutuhan duniawi’ saat ini adalah rasional adanya. Namun bila tindakan tersebut melanggar larangan Allah, sebaiknya dipertimbangkan ulang. Karena setiap ketidaktaatan pasti mendapatkan balasan dan mencontoh tindakan ketidaktaatan pun kita akan ‘terjatuh’..”.

    Salam,
    Saam Fredy

  19. Theofransus Litaay says:

    @STR: mas mungkin KEBERANIAN dan KEBEBASAN itulah yang tidak kita miliki. Takut kepada Dikti, inovasi trimester dihambat. Lebih senang menghamba pada kekuasaan negara yang sudah gagal membangun pendidikan nasional. Sekolah Baharudin sama sekali nggak umum itu, tapi karena keteguhannya untuk melakukan perubahan maka bisa lebih baik dari model yang lazim. Kita harus belajar mengenai Keberanian dan Kebebasan dari Baharudin.

  20. Saam Fredy says:

    @Pak Theo: Tidak perlu selalu kontra dengan pemerintah masalah pendidikan, dan mulai menyalahkan sistem. Pendidikan yang membebaskan dan berani, hanya berita sensasi di wilayah jurnalisme. Ketika masuk dalam wilayah public, apa yang terjadi? Semua telah tersistem. Follow the sistem or you die strugling for something you belive. Are everyone dare to try? If its yes, it means “revolution”.

    Sokarno die bcoz of his idea of revolution. Poor Cuba is crying for economic helped, and they blamed it to the capitalist. Indonesia? what we will do with this great nation? Fight, are you really want it?

    Solution comes when everyone could sit together and talk about the problem, but the fact is, not everyone wants to sit together equaly.

    salam,
    saam fredy

  21. Opha says:

    @Saam : memang ada benarnya kita tidak harus selalu Kontra dengan pemerintah. Apalagi dengan sistem yang dibuat oleh pemerintah untuk mengatur dan mentertibkan guna mencapai satu tujuan mulia tertentu, yakni kesejahteraan seluruh warganya tanpa terkecuali. “Dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung”. Tetapi lain soal, ketika sistem yang dibangun tidak bisa menjawab hakekat sebuah negara dengan pemerintahannya. Tidak ada salahnya pula kita harus berpikir mencari formulasi yang baik, untuk merekonstruksi bangunan sistem tersebut.

    Saya tidak sepakat ketika pendidikan yang membebaskan hanyalah sensasi di media jurnalisme saja. Sudah banyak bukti tentang pendidikan yang membebaskan, dan ini bukan berita sensasi di media jurnalistik. Paulo fraire di brasilia pernah mengembangkan itu. QT contoh terdekat. Dan mungkin masih banyak lagi yang tidak terangkat oleh media, dan mereka sudah menggarapnya dengan sungguh-sungguh. Memang akan ada banyak penolakan dari “kontroversi” yang dilakukan dalam pendidikan yang membebaskan, karena didalamnya telah terjadi hegemoni bahkan dominasi oleh kepentingan yang membentuk sistem. kepentingan tertentu yang bermuara pada kekuasaan.

    Perlu diingat pula, kontradiksi dalam sebuah dinamika sosial mutlak akan terus terjadi. Karena itulah yang telah membawa kita pada saat ini. Timbulnya sistem sekarang, tidak ubahnya hasil dari “pembenahan” ( kalo mau diperhalus dari kata “penolakan”) dari sistem yang telah terbangun sebelumnya yang dirasa gagal atau menemui kebuntuan. Pembenahan itu dilakukan hanya oleh orang-orang yang berani dan bernyali serta memiliki visi yang jauh kedepan. Tidak dimiliki oleh orang-orang yang hanya pasrah dengan dominasi tertentu. Keberanian, nyali dan visi tersebut harus pula diikuti dengan amunisi dan energi yang cukup untuk merealisasikan misinya. Karena terkadang ada banyak yang kehabisan energi meski sudah memiliki keberanian. Akhirnya yang terjadi, ya seperti yang saam katakan, ketika masuk ke ranah public kita akan menjadi pecundang. Habis ditelan keganasan hegemoni kekuatan dominan.

    Tidak hanya cukup untuk duduk sehidangan dalam satu meja guna mencari solusi pemecahan masalah. Kita harus berani menanggalkan jubah kepentingan kita masing-masing, satu persepsi dan mengedepankan kepentingan umum serta tidak mengabaikan unsur-unsur filosofis. Tapi kelihatannya itu sangat sulit / tidak gampang (semoga saya salah). Sisi dalam manusia masih memiliki ego. Dan jujur kita harus mengakui itu.

    @Bung Niel & Bung Theo : keliatannya bung berdua harus diberi “waktu dan kesempatan” nih untuk mengaktualisasikan ide-ide dan gagasannya (tanpa mengabaikan yang lain). Saya yakin dukungan pasti ada dan jika ini terealisasi, insyaallah angin perubahan akan terjadi. tentunya ke arah yang lebih baik donk. He..he..he.. :p

  22. Neil Rupidara says:

    @Saam: Ada inkonsistensi prinsipiil dalam 2 argumentasi menanggapi perkembangan percakapan yang perlu diselesaikan Saam. Pertama, Saam katakan tergantung the man behind the gun. Sederhananya saya katakan ini pandangan yang mengakui rasionalitas aktor. Aktor tahu apa yang baik dan memilih mana yang terbaik. Namun, tiba-tiba Saam katakan, kalau aktor ‘harus’ tunduk pada kekuasaan lain (negara/pemerintah dan hukum Tuhan = institusi). Saya tidak tahu Saam mau melakukan rekonsiliasi seperti apa atas ketegangan antara aktor vs institusi ini. Sejauh mana interpretasi atas ‘kebebasan aktor’ dan ‘batasan institusi’ dipakai Saam. Bagi saya perlu “klir” supaya kita tidak gebyah uyah, misalnya kritik atas atribut institusi (misalnya aturan/sistem yang sudah ketinggalan zaman) dipandang sebagai melawan institusi pemerintah secara menyeluruh (kalau mau begitu juga sah2 saja kan) atau bahkan dipandang sebagai tindakan melawan Hukum Tuhan (saya tidak tahu batasan defisini pak Tri Kadarsilo). Tentang Hukum Tuhan pun kita perlu hati-hati karena Alkitab bagaimana pun adalah karya manusia (sekalipun kita percaya ada bimbingan Tuhan, entah bagaimana caranya). Dan, dalam sejarah Gereja pun Gereja telah banyak terbentur dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang kemudian memaksa gereja mereinterpretasi diri dan pandangannya. So, be careful di situ juga. Jangan sampai cuma menjustifikasi kekuasaan (misalnya, kapok Kristus disalibkan karena melawan negara). Ini bahaya sekali!!!

    Hari-hari ini kita bisa temukan bentuk sekolah2 alternatif bermunculan di mana-mana. Di tingkat SMP dan SMA kita sudah melihat QT. Saya kira ada juga yang lain. Saya dengar ada sekolah alam, etc. Di aras SD kita bisa melihat pola home-schooling mulai bertebaran, khususnya di kota besar. Ada lagi yang bukan pada aras sekolah, tetapi pada tingkat guru (sebagai aktor kreatif). Ini tentu saja menciptakan ketegangan2 dengan atribut2 insitusional.

    Contoh lain, dulu di zaman Soeharto yang sangar itu saja yang hanya mengakui adanya SPSI sebagai serikat buruh resmi, kita bisa temukan Serikat Buruh Merdeka Setia Kawan atau Serikat Buruh Seluruh Indonesia. Aktor2nya dikejar2, dipenjara, etc. Tapi, mereka tetap eksis dan karena merekalah sekarang semangat kemerdekaan berserikat dan mengeluarkan pendapat mulai tumbuh di lingkungan perburuhan, di samping tekanan internasional (itulah wujud adanya institusi raksasa lain yang ternyata menunjukkan kepada kita tidak selalu cocoknya institusi2 indonesia dengan institusi2 lainnya).

    Apa yang mau saya katakan (saya kira bung Theo, STR, Opha, Eddy, dll) share adalah serupa dengan kasus serikat buruh itu. Negara ini telah memaksa campur tangan terlalu jauh pada apa yang bukan urusannya. Urusannya adalah jaga agar kualitas pendidikan bagus agar uang masyarakat bukan dimakan gampang oleh institusi pendidikan tapi dengan memberi services pendidikan yang ngawur. Mungkin itu yang ingin dijaganya, tetapi yang terjadi adalah ia jauh mengatur rumah tangga institusi secara berlebihan. Penyeragaman, itulah mungkin hal yang tepat, itulah ciri di zaman Orde Baru yang masih terwariskan kepada kita. Padahal, itu pulalah yang mematikan kepelbagaian kontribusi yang memberi efek kualitas proses dan hasil. Asumsi utama dalam pengambilan keputusan yang berkualitas adalah kepelbagaian alternatif yang lazimnya datang dari keragaman mereka yang terlibat dalam keputusan.

    Sekarang kembali ke ketegangan aktor – institusi yang Saam tunjukkan dalam 2 komentar Saam, bagaimana Saam mau bersikap? Jelas, sudah ada contoh QT. Ada sekolah2 alam di daerah Jawa Barat/Banten, home schooling di Jakarta. Aktor2 ini jelas sudah mulai bermain di luar ranah definisi pemerintah tentang sekolah atau paling tidak makna konsep sekolah yang dishare oleh kebanyakan sekolah formal. Bagaimana Saam?

    Soal duduk bersama dalam kedudukan sederajad untuk memutuskan. Equal position means everyone has a space to speak openly, then appropriately evaluate each and every argument/alternative, dan tidak cuma mengandalkan mayoritas suara (tirani mayoritas) secara sempit kan? Nah, bukankah Senat Universitas itu adalah salah satu lembaga seperti yang Saam bayangkan itu. Bung Theo adalah salah seorang wakil dosen (ilmu2 sosial) yang duduk di Senat. Ada wakil2 unit lain. Senat adalah lembaga pertimbangan tertinggi di UKSW. Itulah tempat wakil2 kita duduk secara terhormat, membicarakan, dan memutuskan banyak hal, termasuk masalah-masalah kita. Mestinya di sanalah kita wadahi hal-hal begini ini, bukan cuma di ruang2 ciptaan eksekutif yang bisa onesided. Kalau mau, kapan2 dibuat Rapat Senat terbuka untuk isu2 krusial. Cukup banyak perusahaan dan universitas punya forum seperti itu.

    Dalam kasus Trimester vs. Semester, misalnya, Senat sudah berdebat dan memiliki keputusan: 1) UKSW jalankan sistem kredit semester, 2) Ada 3 semester dalam 1 tahun, 3) Dalam 1 semester ada 16 minggu, 4) Operasionalisasinya ke dalam minggu efektif diatur oleh masing2 Fakultas/Progdi. Sebagai orang dengan latar belakang hukum, bagaimana bung Saam mau tafsir keputusan itu? Memang kita juga harus pertimbangkan suasana psikologi saat keputusan dibuat. Tapi, jelas bunyi butir2 itu tidak meminta Pimpinan UKSW yang terhormat untuk menggiring keputusan rapim dan rapat dinasnya ke arah 2 semester (ada 3 semester yang waktu efektifnya ditentukan oleh masing2 Fak/Progdi utk memenuhi syarat min 16 minggu di peraturan pemerintah). Mestinya ya giring ada 3 semester dan silahkan atur deh gimana pemenuhan 16 minggu, kecuali poin no 2 diganti, boleh 2 atau 3 semester. Hierarki keputusannya jelas: SKS –> 3 Semester –> 16 minggu –> pengaturan pemenuhan 16 minggu.

    Tapi, apa lacur, Pimpinan kita justru giring2 semua pihak ke arah 2 semester (alasannya aturan dan tidak mungkin 16 mg x 3 semester). Ini jelas kegilaan aktor! Irasional, penuh kepentingan, dan memaksakan kehendak, serta bahkan mengangkangi keputusannya sendiri. Itukah yang bung Saam katakan mari duduk sama-sama? Di tingkat Fakultas saya protes keputusan2 itu. Tetapi, kepada saya dibilang itu sudah sesuai dengan keputusan yang tertinggi. Keputusan mana yang tertinggi di UKSW, antara Senat (apalagi YPTKSW) dan Rapat Dinas? Silahkan cek saja. Katanya lagi, itulah yang sesuai keputusan yang lebih tinggi lagi (pemerintah). Keputusan pemerintah mana yang melarang trimester? Tidak ada! Minimal 2 semester, minimal 16 minggu.

    Mengapa kita sulit menjadi aktor otonom dan kreatif, seperti Bahruddin di QT dll itu untuk berani mengatur diri sendiri pada wilayah ‘rumah tangganya’ dengan tetap juga memenuhi apa yang normatif (Berilah pada Tuhan apa yang menjadi bagian Tuhan, dan kaisar apa yang bagian kaisar). Kalau kita ini aktor yang bung Saam katakan punya akal dan bebas dan bisa mengatur, masa sih kita tidak bisa memenuhi syarat 16 minggu itu? Proposal tentang cara mengatasi itupun sudah ada! Silahkan lihat konsepnya Prof. John Titaley. Alasannya, kita tidak boleh menipu. Betul kan itu alasan kita? Jalan trimester, laporan semester. Tapi, UKSW melaporkan (pada Kopertis, pada Dikti, dan pada Mendiknas), “kami di UKSW jalankan trimester.” Tidak pernah menipu!!! Tapi mari lihat apa yang kita lakukan kini, UKSW melaporkan ke Dikti, UKSW jalan semester. Apa di dalamnya? Ada semester pengayaan, yang berjalan sekitar 8 minggu (kurang 6 minggu dari model trimester, apalagi 8-11 minggu untuk model semester pemerintah). Dan, mas Saam, silahkan cek surat Dikti yang katanya melarang trimester itu. Di sana disebut dengan sangat jelas, melarang segala bentuk pemadatan perkuliahan. Kuliah semester pengayaan dengan 8 minggu tergolong pemadatan tidak? Oh, karena kita aman, kan kita melapor ke Dikti kita semester…???????

    Satu lagi, silahkan bung Saam survey, apa benar kita berkuliah penuh 16 minggu sekarang? Saya duga paling tidak 2 minggu akan dipakai untuk waktu tes (tengah dan akhir), jadi sama dengan trimester 14 minggu yang evaluasinya integrated. Belum lagi kadang dosen berhalangan. Coba minta kumpul semua presensi untuk dianalisis, apa memang 16? Cek juga agar jangan sampai 16 karena ‘memaksa’ mahasiswa tandatangan 16 kali, walau cuma 12-14 kali. Apalagi ini???? Inikah memberi yang terbaik untuk Tuhan? Bukankah dengan begitu UKSW justru sekarang yang memraktikkan penipuan??? Moralitas apa ini? Menuding orang lain menipu, tapi justru sekarang membenarkan dan melakukan penipuan?

    Kalau saya jelas pemberontak mas Saam. Saya sudah katakan dengan terbuka, saya tidak pusing dengan 16 minggu. Saya cuma mau ikut desain kuliah saya yang saya buat karena sasaran2 pembelajaran yang saya ingin capai. Misalkan untuk mata kuliah Kepemimpinan, desain saya adalah, pertemuan di kelas cuma sekitar 9/10 minggu. Sisanya, ada 2 tugas utama: 1) literatur reviews sehingga seorang mahasiswa perlu waktu di perpustakaan, 2) field research, sehingga dia juga perlu waktu di lapangan. Untuk menyusun laporan2, dia perlu waktu juga untuk itu. Itulah minggu2 sisanya, untuk ke/di perpus, lapangan, dan ruang kerja (kos, kampus, etc). Di luar itu (dalam 9 minggu tatap muka), selama 5 minggu berturut2, ada 5 kali tugas2 rutin mingguan dan tugas presentasi dan pimpin diskusi kelas adalah makanan mereka. Di luar itu, saya posting sebuah “Forum” di flearn untuk mengajak mereka diskusi online. Di luar itu, mereka juga harus diskusi sendiri karena tugas2 berbasis kelompok (kelompok adalah basis interaksi kepemimpinan-kepengikutan oleh mereka, di samping urusan konten). Bagi saya, it’s more than enough, dan lebih baik daripada saya hanya ceramahi mereka dan abis itu tes sudah kuasai atau belum. Dengan desain begitu, apa sih arti tatap muka 16 (atau 14) minggu? It’s nothing!!!! Mata dan telinga saya sedang melihat/mendengar praktik2 berkisar 10 – 13 minggu saat-saat ini (pengalaman pribadi saya ada yang cuma 2 minggu tatap muka, sisanya independent study – interaksi kelompok – konsultasi dosen – dan ditutup presentasi dan diskusi kelas). Apakah yang macam begitu berkurang kualitasnya? Silahkan survey sendiri! Pelajarilah bagaimana orang2 itu mengelola pembelajaran mahasiswa (bukan pengajaran dosen semata!!!). Itulah tugas Pimpinan UKSW!!!

    Kini, belajarlah juga dari sikap2 kreatif Bahruddin cs. Jika negara berani tutup mereka, satu dunia bisa berteriak! Apalagi jika yang baik itu dilakukan UKSW!!! Mana berani Dikti utak-atik?? Hanya hati kerdil saja yang dipenuhi ketakutan untuk ancaman yang tidak ada dan yang pada gilirannya ikut menakut-nakuti orang lain! Kita cuma memenuhi syarat2 administratif, bukan syarat substansiil. Ibarat demokrasi, ya demokrasi prosedural, dan bukan substansi berdemokrasinya. Karena itu, jauh lebih kritis menata desain pembelajaran mahasiswa dan bukannya memenuhi 16 minggu. Minggu kuliah (akibatnya juga pada pengorganisasian kalender akademik) adalah konsekuensi dari apa yang ingin dipelajari dan bagaimana belajar. Pilihan apa dan bagaimana tentu harus disertai mengapa (apakah ini opsi yang terbaik), kapan (waktu yang tepat), etc. Karena itu, apakah dengan kreatif mengelola perkuliahan kita untuk mencapai tujuan2 pembelajaran (walau bukan 16 minggu), maka kita melawan negara/pemerintah dan apalagi Tuhan? Bagi saya, dalam hakekat pembelajaran yang sesungguhnya, jauh lebih koruptif jika saya cuma mengajar/ceramah dan lalu cuma tes, apalagi multiple choice. Saya tidak membantu mahasiswa saya untuk kenal dunia ilmunya yang lebih luas dengan baik, kecuali memaksa mereka baca bahan kuliah saya, termasuk diktat2 kuliah yang cenderung merupakan boisai-sasi literatur.

    Untuk menjadi bahan pertimbangan lain: silahkan baca perspektif tentang institusi, institusionalisasi, dan realitas yang teristitusi (institutionalised), termasuk di dalamnya adalah budaya (the way we dong things around here) dan sistem2 (berpikir dan bertindak). Dalam kajian2 budaya organisasi, misalnya, budaya (sebagai sebuah institusi) bisa jadi justru menjadi beban dan mengakibatkan organisasi itu sendiri bangkrut. Sistem yang bangkrut jelas akan membuat kita semua bangkrut. Oleh karena itu, dalam sejarah manusia dan organisasi, terjadi praktik2 penggantian sistem. Siapa yang melakukan? Aktor2 kreatif atau berjiwa entrepreneur. Itulah yang UKSW wacanakan sebagai jati dirinya: creative minority.

    Penggantian sistem selalu dimulai dari pandangan atas ketidakberesan sistem atau yang bung Saam katakan pada bung Theo menyalahkan sistem. Cuma, jika berhenti menyalahkan dan tidak berbuat apa-apa atau kembali hidup dalam cara yang dikritiknya, katanya Einstein, itu kegilaan. Kami tidak gila, kami cuma mau menjadi bagian dari yang memerbaiki sistem. Dan, logika yang kami pakaipun bukan logika pokok’e . Dan satu lagi, Satya Wacana had done things like this some years ago. Bukan cuma ketika pertama pakai SKS, tetapi juga dengan sistem perpustakaannya, dengan hadirnya Pusbim dalam universitas, dengan PIBBI, dengan PIM, DMU, etc. Jadi, sikap untuk (istilah bung Theo) “menghamba (pada kekuasaan supra sistem)” dan “menekan/menghambat” sikap kritis dari dalam kayaknya bukan kultur institusi ini. Lindungi kekritisa dan cerdik lah, ketika berhadapan dengan kekuasaan. Tentu itu dilandasi sikap tulus untuk kebaikan bagi orang lain/banyak orang, termasuk ketika mengasihi musuh (dengan cara kritik misalnya).

    Kesimpulannya, kita sedang berhadapan dengan banyak pergumulan eksistensial kita sebagai UKSW. Mudah2an rekan-rekan yang lebih muda bisa jauh lebih kritis dan kontributif pada proses pembentukan diri sebagai UKSW.

    @STR: posting sebelumnya disensor kah? Atau memang tidak masuk? Saya terakhir challenge SA untuk memforumkan debat pedagogis secara kritis. Kompas punya diskusi2 pakar, seperti itulah posisinya. UKSW dulu, kata seorang senior, lazim juga membahas (hingga melawan untuk yang kebablasan) kebijakan2 pemerintah dan kampus secara ilmiah. Itu dulu diwadahi oleh DMU atau cikal bakalnya, LK, juga kelp kritis mahasiswa macam Yay. Geni. Mahasiswa juga biasa punya Open Forum untuk yang internal, tapi yang ini lebih banyak keluh kesahnya, walau baik juga untuk didengar. Semua itu telah dan akan membangun kita sebagai masyarakat kritis dan komunikatif.

  23. STR says:

    @ Neil: Tak mungkin disensor. ID Pak Neil sudah dikenali oleh situs ini, sehingga komentar bisa langsung tampil tanpa moderasi. Saya juga sudah cek di kotak moderasi dan kotak spam, tak ada komentar nyangkut di sana.

    Sepakat. Sebagai informasi, SA sedang lakukan pemekaran struktur organisasi. Kami telah tambah dua divisi (bisnis dan litbang) sebagai pendukung redaksi. Dan agenda wajib yang akan dijalankan oleh divisi litbang salah duanya adalah pelatihan dan diskusi/forum/atau apalah namanya. Kegiatan-kegiatan tersebut tak mungkin kami (redaksi) tangani sendiri. Dengan awak aktif yang kurang dari sepuluh orang, untuk update harian saja sudah hampir hilang napas (apalagi masih harus menghadapi formalitas kuliah {baca: indoktrinasi} yang memuakkan). 😉

  24. Neil Rupidara says:

    @STR: Soalnya saya sempat menanggapi comment mu tentang Keberanian dan Kebebasan. Tapi, tidak muncul.

  25. saam fredy says:

    @to everyone: keputusan telah dibuat, dalam sistem pemerintahan maka itu tugas DPR dan Pemerintah. Dalam sistem perwakilan kita telah mempunyainya di DPR, merekalah yang bertindak atas kita (masyarakat). Di kampus, ada Senat, mereka yang mempunyai tugas memutuskan.

    Mari kita hargai keputusan-keputusan yang telah dibuat. Terlepas siapa yang diuntngkan dan bukan diuntungkan. Saya pikir, mereka-mereka yang telah mapan di organisasi telah mengerti prosedur ini. Saya sadar itu dan oleh sebab itu menghargai apa yang telah diputuskan oleh pimpinan. Menjadi pemimpin yang baik dimulai dari menjadi bawahan yang baik, sehingga ketika dia menjadi pemimpin dia tahu harus bersikap apa kepada bahawannya.

    Jangan berlaku banci, dengan melontarkan kritik kepada dirinya sendiri. Anda ada dalam institusi itu, namun sayang kritik hanya diarahkan tidak kepada diri sendiri. Lebih baik bermain diluar sistem, ataupun secara jantan mengatakan sebagai oposisi.

    Saya yakin rekan-rekan yang telah mapan dalam organisasi, telah mengerti jalur untuk menyalurkan aspirasi (lewat rapat-rapat dan lainnya), berwacana diluar akan lebih memperkeruh masalah ketimbang memperbaikinya.

    Saya pernah ke QT, melakukan penelitian dengan seorang teman, tentang sekolah alternatif. Saya pikir konsepnya biasa saja, namun memang dia tidak ada duannya, itu saja. Belum ada semacam audit terhadap lembaga ini tentang progress dari anak-anak yang dididik. Standar yang ditetapkan oleh mereka sendiri, mereka evaluasi sendiri, dan semuanya sendiri.

    Saya juga pernah berwawancara dengan Bahrudin, dan juga banyak mendengar selentingan kurang enak tentang person ini di kalangan pergerakan di Salatiga.

    Sebenarnya apa peran yang mau dimainkan oleh QT? Jika memang QT menjadi role model yang baik, kenapa pemerintah (terutama diknas, apalagi diknas kota salatiga) hanya diam, kenapa hanya kalangan independen yang tertarik? Sesaat, lalu hilang di telan kepentingan-kepentingan lainnya. Jangan lupa bahwa QT juga bagian dari civil society yang memiliki kepentingan, entah apapun itu.

    Wacana pembebasan itu hanya ada di dalam keranjang sampah, ataupun buku-buku dari sang penulis yang gila terkena tekanan batin akibat ketidakmampuan melawan apa yangberbeda. HAM? hanyalah mimpi di siang bolong, orang-orang yang coba mempertahankan status quo kemenangan perang.

  26. STR says:

    @ saam:

    Saya pernah ke QT, melakukan penelitian dengan seorang teman, tentang sekolah alternatif. Saya pikir konsepnya biasa saja, namun memang dia tidak ada duannya, itu saja.

    Karena konsep QT tidak ada duanya, mungkin ia tidak tepat jika dikatakan “biasa.” Mungkin lebih tepat jika ia dikatakan “spesial.” Hanya saja, konsepnya memang sangat sederhana dan gampang, juga BENAR! Tak perlu rumit-rumit. Belajar ya tinggal belajar. Belajar apa yang disuka dan dibutuhkan. Tak perlu ada tetek bengek macam-macam, seperti kurikulum, silabus, dan “pengarahan.”

    Tapi kenapa yang sederhana dan gampang, juga BENAR, itu tak bisa diterapkan di dunia pendidikan kita untuk mencapai hasil yang lebih baik? Saya takut alasannya bersumber pada hal-hal yang tak prinsipil dan substansial, dan tak ada hubungannya dengan pendidikan itu sendiri.

    Belum ada semacam audit terhadap lembaga ini tentang progress dari anak-anak yang dididik. Standar yang ditetapkan oleh mereka sendiri, mereka evaluasi sendiri, dan semuanya sendiri.

    Audit macam apa yang kamu inginkan? Itu coba dihitung sendiri sudah berapa jumlah publikasi anak-anak QT. Salah satu bangunan yang lagi dibangun di sana sekarang juga hasil rancangan bocah. Mereka juga sementara ini lagi bikin pemetaan virtual buat Kalibening supaya desa mereka bisa tampil di GoogleEarth dalam bentuk 3D (ini saya yakin mahasiswa FTI saja belum tentu ada yang mampu bikin!). Apa hasil ini tak berbicara lebih keras daripada sekadar nilai-nilai di ijasah?

    Saya juga pernah berwawancara dengan Bahrudin, dan juga banyak mendengar selentingan kurang enak tentang person ini di kalangan pergerakan di Salatiga.

    Apa lagi ini hah? Kamu mau ad hominem Bahruddin? Masalah “pergerakan” (pergerakan apa nih?) biarlah jadi masalah pergerakan. Tak perlu dibawa-bawa ke masalah pendidikan. Saya tak peduli dengan kiprah Bahruddin dalam pergerakan karena sekarang kita lagi ngomong masalah pendidikan. Yang penting, konsep pendidikan Bahruddin jelas lebih bagus daripada konsep pendidikan-cum-penindasan yang lagi populer sekarang. Kalau kamu tak sreg dengan Bahruddin di ranah “pergerakan,” jangan lantas gebyah uyah terhadap konsep pendidikannya.

    Jika memang QT menjadi role model yang baik, kenapa pemerintah (terutama diknas, apalagi diknas kota salatiga) hanya diam, kenapa hanya kalangan independen yang tertarik?

    Ya, kenapa? Apakah keacuhan pemerintah itu lantas mengisyaratkan QT sebagai role model yang buruk? Jelas-jelas pemerintah kita itu impoten soal pendidikan. Mereka tak pernah punya solusi untuk menciptakan pendidikan yang lebih bergairah dan bagus, dan QT punya itu!

    Wacana pembebasan itu hanya ada di dalam keranjang sampah, ataupun buku-buku dari sang penulis yang gila terkena tekanan batin akibat ketidakmampuan melawan apa yangberbeda.

    Kegiatan dan hasil belajar anak-anak QT masih kamu bilang wacana? Kasihan sekali kamu, Saam.

    HAM? hanyalah mimpi di siang bolong, orang-orang yang coba mempertahankan status quo kemenangan perang.

    Kalo ini aku gak ngerti maksud kamu. Maksudmu piye iki?

  27. Neil Rupidara says:

    @Saam yang baik: Pertama, saya harus tegas dulu pada Anda, bahwa saya bukan tipe orang yang suka sembunyi2 dalam melayangkan kritik (fundamental) dan beroposisi atas keputusan yang bagi saya fatal. Dan, itu saya lakukan melalui prosedur organisasi (“berperang” di rapat2, bahkan dengan bahan tertulis). Silahkan cek di tingkat fakultas pada pimpinan/dosen Fakultas Ekonomi (termasuk jika Anda bisa mengakses dokumen Tambatan Rapat2 FE sehubungan dengan kasus Semester vs. Trimester. Dengan sangat jelas anda akan menemukan di sana saya meminta dicatatkan dissenting oppinion yang saya ajukan dalam tambatan rapat yang terakhir, mengingat cukup banyak warga FE memilih balik semester, di atas alasan2 yang bisa digugat kekuatan kebenaran dan keabsahannya (Perlawanan atau ketidaksetujuan saya belum berhenti di situ. Masih akan berlanjut). Sayang, saya bukan anggota Senat sehingga tidak dapat melakukan kritik yang sama pada aras universitas. Namun, kritik setara dan bahkan sampai perdebatan keras yang melahirkan keputusan Senat (yang saya nilai telah diselewengkan interpretasinya oleh pimpinan) telah juga dilakukan oleh teman2 tertentu dan itu dilakukan secara gentle, beradu argumen, bukan main kuasa. Cek juga pada rapat dinas 24 agustus 2004 (forum rapat dinas yang “menganulir” keputusan senat), ada juga dissenting opinion (pertanda something wrong dengan keputusan itu) dari seorang dekan yang segera ditimpali sebagai “cuma minoritas” oleh yang mendukung keputusan (tirani mayoritas???).

    Jadi yang banci siapa ini? Jika memang semua gentle, mari dong kita berdebat kembali di atas keputusan yang sepihak diambil itu. Ingat, keputusan Senat punya 4 butir keputusan yang Anda sendiri bisa analisis apa artinya. Di samping itu, policy strategik sebuah organisasi tidak bisa duduk di atas dasar andai-andai, rumours, issues. Ia harus duduk di atas konsep, argumen2, dan data empiris yang memberikan fondasi substansiil yang kokoh. Celakanya, saya tidak menemukan itu dalam alasan balik ke semester (Cek laporan evaluasi Satgas Trimester, cukup banyak hal bukan persoalan trimester tetapi persoalan organisasional yang kini di zaman semester pun tetap bermasalah). Oleh karena itu, keputusan itu harus dikejar pertanggungjawabannya. Itulah etika ber-organisasi dalam mengambil keputusan, bukan mentang-mentang berkuasa, lalu setiap pemimpin bisa semaunya buat keputusan. Satu pertimbangan saya, keputusan itu diambil (oleh rapat dinas 24 Agustus 2007) hanya hitungan jari tangan dari tahun akademik baru. Ibarat anda menyetir lalu banting setir tiba-tiba, anda bisa bayangkan apa akibatnya. Apakah itu bertanggung jawab? Perahu besar UKSW dibuat seperti perahu kertas mainan yang dengan seenak hati dan tangan anda, anda bisa memutuskan mau arahkan dia kemana anda mau? Nurani saya mengatakan tidak bisa demikian. Jadi, jika sampai hari ini saya tolak keputusan itu dan konsisten untuk tidak pernah menerima sejengkalpun alasannya, semua bukan sikap bodoh seorang pecundang!

    Pengalaman hidup saya di Satya Wacana mengajarkan untuk memegang prinsip untuk kalau tidak setuju katakan itu dan lakukan itu secara terbuka. Tidak main lewat jalur belakang. Tidak bersembunyi di belakang kekuasaan jabatan. Bung, untuk hal yang prinsipiil, ke manapun anda berlari saya akan mengejar anda, itu prinsip saya. Keputusan keliru bisa dianulir, entah kapan. Namun, saya tidak pernah ada hard feeling secara personal. Saya masih bisa membantu pimpinan UKSW untuk hal-hal lain, cek itu. Tapi, tidak untuk keputusan yang satu itu (dan mungkin keputusan2 lainnya).

    Jika anjing menggonggong (di jalur formal) tapi kafilah berlalu, maka strategi perjuangan harus diganti untuk melawan kekuasaan ‘ndableg’. Jika, jalur formal yang “dimatikan” dan terbatas untuk bisa digunakan kembali, mengapa tidak menggunakan jalur komunikasi alternatif? Bagi saya, ini adalah juga bagian dari pendidikan politik etis bagi masyarakat kampus. Kita bukan masyarakat anti kritik. Mengapa kritik terbuka dipandang sebagai tabu??? Perlawanan terhadap kebijakan yang tidak benar bukan untuk mencoreng diri sendiri. Kesalahan kan harus koreksi, masa mengungkap kesalahan menjadi salah? Jika menilik praktik seperi komisi kebenaran dan rekonsiliasi, orang toh harus buka2an dulu perasaannya, biar plong. Jadi, kalau yang dituduh salah tidak merasa salah, ya mari kita ngomong terbuka. Lagian masyarakat kampus UKSW kan bisa menilai secara lebih transparan. Mereka cukup kritis untuk menilai, sejauh mendapatkan perimbangan informasi dan jauh dari distorsi informasi.

    Satu catatan pribadi, be careful dalam menilai bung Saam. Anda belum tahu apa yang telah dilakukan orang lain, tetapi cukup jauh melempar penilaian (walau tidak secara terang2an menyebut alamatnya). Sebagai orang berlatar jurnalistik, cek and ricek dulu biar cukup proporsional. Namun, satu hal saya berterima kasih karena anda benar. Jika sistem memang sudah kedap kritik dan tidak bisa untuk mendengar lagi.. mengapa tidak memikirkan untuk bermain di luar sistem? Cukup mudah untuk memikirkan dan mengambil langkah itu, pada waktunya. Toh Satya Wacana kan tidak rugi kehilangan orang seperti saya. Wong professors dan orang2 penting saja pergi dan sejarah itu sudah cukup panjang dan kita tenang2 saja kok. Orang datang dan pergi, itu hal biasa, kecuali organisasinya tahu bagaimana membuat orang kerasan tinggal di situ. Itu bisa juga jadi bagian dari alternatif, terima kasih untuk sarannya.

    Soal QT, yang kita pelajari adalah apa yang telah mereka lakukan, bukan siapa mereka. Mereka tidak perlu legitimasi atau persetujuan dari orang lain dan itulah yang terjadi. Yang penting adalah bagaimana antusiasnya anak2 itu belajar, hasilnya. Itu poin belajar bagi UKSW, jika ingin belajar. Tapi saya juga harus hargai sikap jurnalis pro-kekuasaan seperti Anda yang lebih menimbang sikap Diknas, Dinas Dikbud Salatiga (yang oleh klaim bung Theo tidak berhasil membuat bangsa besar ini menjadi besar, tetapi justru terpuruk), ketimbang melihat kontribusi riil hasil pendidikan alternatif seperti QT pada perkembangan anak2 didik. Jika saja ada 100 QT, bangsa ini akan lain!!! Satu hal, pemerintah kita ikut tergopoh2 datang mengunjungi QT karena tamu asingnya yang lebih menghargai pengen berkunjung ke sana. Jadi, dia tidak butuh legitimasi institusi kekuasaan, dia mendapat pengakuan komunitas pedagogik yang paham apa itu pendidikan yang sebenarnya.

  28. Neil Rupidara says:

    @STR: Saya salut perkembangan progresif di tubuh SA. Kontribusi yang sangat bermakna bagi institusi dan pengalaman yang akan sangat berharga bagi pribadi2 yang terlibat. Itu adalah juga bagian dari pendidikan di kampus yang tidak terbatas di ruang kuliah, sejalan dengan pandangan mas Edhi.

    Satu hal lain, wacana pendidikan kritis seperti model QT masih cukup asing bagi praktisi pendidikan, macam saya. Mungkin tidak bagi rekan2 FKIP. Tapi, selalu saja ia erpinggirkan dalam wacana dominan pendidikan di negeri ini. Namun, roh pendidikan yang membebaskan mulai tumbuh. Saya melihat ini cukup banyak mulai berkembang di lingkungan pendidikan Katholik dan rekan2 Muslim progresif (tolong koreksi kalau keliru). Namun, lembaga pendidikan Kristen, seperti UKSW cukup alergi padahal jiwa sosial Kekristenan adalah pembebasan individu. Saya kira ini bisa menjadi satu hal menarik untuk didiskusikan. Mengapa? Apakah Kristen di Indonesia pernah dekat kekuasaan (kolonial)? Ataukah karena minoritas jadi takut buat gerakan2 tidak populer? Bukankah itu melegitimasi minority complex di tubuh UKSW dan lembaga2 pendidikan Kristen? Sudah sedikit, penakut dan masa bodoh pula. Jika demikian, maka matilah tesis dan cita-cita Notohamidjojo, creative minority, orang yang sekalipun sedikit jumlah, tetapi karena kekuatan roh dan jiwanya, intelektualitasnya, mampu menjadi pemimpin perubahan yang menggerakkah massa yang pasif.

    Saya kok jadi khawatir kita sudah sulit disebut sebagai Satya Wacana dalam makna institusional yang dibangun pendirinya. Bagaimana pantauan SA melihat ‘kegigihan’ idealisme rekan2 mahasiswa?

  29. Saam Fredy says:

    @ Pak Neil yang terhormat: saya tidak mengatakan bahwa bapak adalah orang yang suka sembunyi-sembunyi dalam melayangkan kritik. Saya mengakui bapak kerap vokal terhadap berbagai masalah di dalam tubuh UKSW. Bukan itu pokok permasalahan yang saya sampaikan, tapi lebih kepada sikap anggota kepada organisasinya, terutama satu pada aras pembuatan keputusan di kampus.

    Tanpa memberikan alur bagaimana satu keputusan dibuat, bapak lebih melihatnya dari yang hanya memikirkan (mungkin) diri sendiri atau kelompok tertentu. Kalau memang itu yang ingin bapak representasikan, maka bapak menurut saya bukan anggota yang baik bagi organisasi ini. Seharusnya anggota harus melalukan kebijakan organisasi (walaupun tidak disukai, karena itu bukan masalah like or dislike). Saya salut membaca perjuangan bapak dalam rapat-rapat di fakultas, dan itu sudah cukup untuk menunkukkan kepedulian bapak terhadap organisasi ini. Namun, sikap kurang etis terlihat dari tulisan-tulisan bapak terutama yang diarahkan kepada hasil akhir dari sebuah keputusan.

    Saya tidak bisa mengerti itu semua, apa yang saya terima dan gemblengan dari berbagai organisasi yang saya ikuti menunjukkan bahwa apa yang bapak lakukan sangat negatif untuk perkembagan ornagisasi. Maaf jika saya salah dalam mengintrepetasi apa yang saya pahami, maklum saya juga masih belajar banyak untuk pemahaman organisasi. Tapi menurut yang saya uatarkan sangat prisinsipil dalam tubuh organisasi. Saya melihat contoh kasus PKB, dengan sangat keras Wahid (ketua dewan suro) melaksanakan keputusan organisasi walupun membelah PKB menjadi 2, anggota-anggota PKB yang tidak patuh harus disingkirkan, bahkan sekaliber muhamin iskandar (orang dekat gus dur).

    Dissenting Opinion (DO) yang bapak sampaikan merupakan hak bapak untuk berbeda (dan itu seudah diakomodasi secara baik dari fakultas kepada bapak). Tetap yang namanya DO tetaplah DO, kalau bapak baca putusan-putusan Mahkamah Konstitusi (MK), maka ada hakim agung konstitusi yang membuatnya. Tapi tetap keputusan haruslah dibuat, jangan karena ada DO, lalu MK sulit membuat keputusan. MK sudah memiliki aturan organisasi, terutama pengambilan keputusan, suara terbanyak. Jangan karena DO, akhirnya keputusan tidak dapat dibuat, apa yang terjadi?

    Perbedaan kenyakinan ataupun perbedaan argumen harus dihargai, dan saya sangat menghargai itu. Namun apalah arti sebuah keputusan yangtelah dibuat dalam sebuah rapat yang terhormat jikalau keputusan itu tidak dilaksanakan oleh para pembuat dan segenap anggotanya.

    Bagi saya, keputusan itu harus dilaksanakan, dan saya menghargai itu. Sudah tentu, keputusan itu akan diuji, ada forum evalusi. itulah tahapannya Pak Neil. Dan jangan memperparah dengan mengajukan permasalah itu ke wilayah minoritas dan mayoritas, tetap itu masalah pengambilan keputusan.

    Saya telah membaca laporan satgas terhadap trisemester, sekali lagi, itu hanya bersikap rekomendasi, bukan segalanya. kembali siapa yang memutuskan garis kebijakan organisasi.

    Nurani letaknya di dalam hati, bukan dalam keputusan organisasi. Saya sekali lagi menghargai pendapat yang berbeda, tapi saya memiliki pemimpin yang telah membuat kebijakan.

    Saya memang baru di UKSW, dan bapak lebih senior dari bapak, saya menghormati senioritas, karena itulah yang diajarkan (walupun tidak tertulis) dalam (kadang) setiap organisasi. Saya pikir bapak juga memahami arti senior member dalam tubuh GMKI. Namun bukan berarti ketika senior member berkata sesuatu yang akan mencoba mempengaruhi juniornya itu harus diterima secara mentah-mentah dan patut dilakukan. Si-junior ini memiliki tanggungjawab juga kepada pemimpin-pemimpin sekarang, dan itu prinsip. apalah yang terjadi jika, si junior ini lebih manut kepada senior member yang tidak lagi duduk dalam tubuh kepengurusan, ketimbang para pemimpinnya? tidak bisa saya banyangkan, mungkin banyak pembangkan-pembangkan. Apakah saya satu dari pembangkan itu? saya pikir saya harus berkata tidak. Gus dur keras, saya bersyukur pemimpin kita cukup bijaksana dalam memahami berbagai isu di kampus.

    Ya memang benar, akhirnya jika segenap daya dan pemikiran tidak dapat disampikan ataupun menghantam dinding keras, maka berjuang di luar adalah pilihan (meminjam istilah pak neil “anjing mengongong kafilah berlalu”. Kritik tetaplah sebuah kritik, kritik akan berbuah negatif bagi perkembangan organisasi jika hanya akan mengiring pembaca (terutama para anggota) untuk berlaku bertolakbelakang seperti yang seharusnya.

    Ketika mengungkap berbagai permasalahan diwilayah publik, maka masalah tersebut akan menjadi rahasia umum, bukan milik pribadi lagi.

    Memang saya bekerja sebagai jurnalis, namun dalam kapasitas ini, saya adalah person, anggota dalam sebuah organisasi (dan menminggirkan posisi saya sebagai jurnalis). Karena hal itu akan lebih memudahkan saya memahami apa yang harus saya lakukan dan menyikapi perbedaan dengan bapak neil.

    Orang datang dan pergi, pemimpin akan berganti, ya saya sama dengan bapak, setiap orang dalam organisasi akan datang dan pergi, namun yang pasti aturan tetap harus dilakukan, anngaran dasar dan rumah tangga harus ditegakkan demi menjaga nama baik organisasi. Penyimpangan harus diluruskan.

    Salam,
    Saam Fredy
    (pemikir pejuang-pejuang pemikir)

  30. Saam Fredy says:

    @ Satria yang sangat baik sekali:
    Memang benar konsep QT tidak aduannya dalam arti, memang satu-satunya di Indonesia, dan mungkin di dunia. Perbedaan cara berfikir saya dan anda akhirnya membuahkan intrepetasi yang berbeda, yang menurut saya “biasa”, karena QT menjadi 1 diantara 1000, atau mungkin 3000, bahkan 1 juta, konsep tentang pendidikan di dunia ini. Saya mengangapnya biasa karena saya pikir saya telah membaca banyak konsep tentang pendidikan (kebetulan latar pendidikan saya ada).
    Apa sih tolak ukur keberhasilan pendidikan? Apakah dimaknai dengan konsep baru dengan gaya baru? Ataukah dilihat dari tahan ujinya pendidikan itu? Atau apa..?
    Perencanaan pendidikan itu penting bung. Sangat membingungkan saya jika anda berfikir bahwa tidak perlu ada silabus ataupun kurikulum. Mungkin permasalahannya selama ini adalah ketika kurikulum itu memenjarakan atau tidak membumi. Saya pikir itu permasalahan intepretasi yang berbeda. Kepela Sekolah SMA 1 salatiga, menjadi guru teladan Indonesia, karena salah satunya beliau kreatif, mencari cara yang pas untuk menyikapi kebijakan yang bagi orang tidak menguntungkan.
    Dalam UUD 1945, telah terbaca dengan jelas, bahwa pendidikan menjadi tanggungjawab pemerintah.
    UKSW berdiri hingga hari ini kenapa bung? Jika UKSW tidak sehat (baik dalam hal manajerial dan keuangan), maka dia akan abruk dengan sendirinya. Prestasi telah banyak ditorehkan, baik skala nasional dan internasional, berbagai penelitian telah dibuat dan diimplemntasikan. QT bagaimana? Apa dengan telah membuat peta, semua dunia harus melihat QT sebagai yang harus dicontoh? Bagi saya, ya mari melihat dengan porsi yang sebagaimana seharusnya sajalah bung. Namun bukan saya tidak menghargai, apa yang dilakukan QT sangat baik.
    Mas Satria, Salatiga itu kecil, orang dengan sangat mudah saling mengenal dan melihat orang lain.
    Komitmen pergerakan terutama dalam tataran mahasiswa dan nongoverment organization, adalah untuk masyarakat sepenuhnya (seharusnya). Pergerakan mahasiswa haruslah gerakan moral, tidak boleh terjerumus kedalam politik praktis, dan mengarah kepada anarki. Lalu apa yang menjadi isu? Banyak Mas, tidak hanya ngomong pendidikan, ataupun politik, bahkan seorang ibu sakit yang tidak dapat menjalani proses pengobatan di rumah sakit akibat tidak ada biaya, bisa menjadi isu.
    Sangat sayang sekali jikalau 1 pokok permasalah hanya dilihat atau diasumsikan dari satu bidang tertentu, karena kajiannya sangat sempit, dan cenderung akan tidak membebaskan. Ada satu teman yang saya bantu untuk penulisan skripsinya di Fakultas Hukum, yang saya sarankan dia mengambil permasalahan pendidikan terutama di Salatiga. Lucunya, ketika seminar proposal, ada satu dosen bertanya, apa hubungan antara pendidikan dengan hukum? Saya tertawa terbahak-bahak mendengar cerita teman saya itu. Terlepas itu pertanyaan karena dia ingin menguji pemahaman teman saya terhadap pemasalahan tersebut, ataupun memang si dosen tidak tahu, maka saya mengomentari hal tersebut (kepada teman saya) kok naif sekali tuh dosen, lalu untuk apa UU Sisdiknas kalau begitu…ha..ha…
    Mari kita lihat bersama, sampai sejauh mana QT akan berkiprah, 20 tahun, ataukah 30 tahun? Ataukah hanya sebagai ajang pencarian hal-hal yang lain…?

    NB: maaf rada lama membalas komentar teman-teman, karena 2 hari di Purwokerto, ada tugas. thx.

  31. Neil Rupidara says:

    @Saam: Mudah2an ini komentar terakhir saya dalam tension ini agar fokus dan konsentrasi kita lebih pada menyoal substansi pergumulan kita menyangkut pengembangan pendekatan2 pedagogis di UKSW, daripada soal tarik-urat leher setuju-tidak setuju atas kebijakan tertentu walau tidak berarti “dilarang mengomentari”.

    Pertama dan utama, saya hargai semua sikap dan pandangan Saam. Siapapun harus dihargai, tanpa pusing dia yunior atau bawahan. Junior atau bawahan bukan lalu menjadikan Anda dan saya cuma seperti kerbau dicocok hidung atau domba yang digiring ke pejagalan. Itu prinsip saya agar dipahami. Namun, dengan menghargai sikap Saam, maka bukan berarti saya sepakat dengan semua klaim yang dibuat. Sama juga dalam berorganisasi dan ber-keputusan, sekalipun saya bawahan saya harus kritik sesuatu yang tidak benar, paling tidak menurut saya. Jika ada pandangan berbeda, tidak boleh dimatikan. Tapi karena berbeda, lalu kita butuh dialog dong untuk saling paham posisi masing-masing, bukan berdiam diri melindungi keputusan dengan menjauhkan diri dari menanggapi kritik. Jika ada dialog mudah2an kita bisa mencapai kesatuan pemahaman. Kalau tidak, yang penting bisa memahami mengapa kita berbeda. Tapi, harus open dong, itu syarat dialog yang baik.

    Satu catatan: study tentang kepengikutan yang baik (cek Robert Kelley 1992 atau Hughes, Curphy, dan Ginnet 2002), menghendaki kepemimpinan yang efektif agar dilingkupi oleh pengikut2 yang tahu bersikap kritis pada waktunya, bukan yang yes men, bukan pula yang iya di mulut entah dalam hati, bukan pula cuma berdiam diri mengharap datang juruselamat. Soeharto jatuh karena para yes men yang mendukung terus kesalahannya. Soekarno juga sama, ketika Hatta menjauh. Bisa jadi saya terjebak pada kelompok yang sinis, tapi masih baik sinis agar masih ada suara beda untuk membuat kita tidak berada dalam ancaman fenomena groupthink yang mematikan/menghambat perkembangan. Cuma, seperti saya argue, I still did my parts. Jadi masih juga pengikut yang baik.

    Kedua, soal tidak etisnya saya dengan menggugat sebuah keputusan. Mungkin seperti klaim Anda, saya tidak mengungkapkan alur keputusan. Namun, dalam semua keberatan saya terhadap keputusan tentang dijalankannya semester kembali, dibangun di atas pandangan atas hierarki keputusan di UKSW dan bagaimana proses pembuatan keputusan yang menurut saya baik untuk diikuti. Fakta kita sekarang adalah: 1) ada keputusan YPTKSW (keputusan Pleno, SK) yang memandatkan sistem trimester kepada pimpinan UKSW, 2) ada intention pimpinan UKSW 2005-2009 untuk menyempurnakan sistem trimester (bukan menggantikannya) (bahkan menjadi policy yang terdokumentasi dan difollow up dalam kerja Satgas evaluasi trimester, 3) ada keputusan Senat UKSW yang (seperti saya ungkapkan yang lalu) juga memandatkan: a. sistem kredit semester, b. 3 semester dalam setahun, c. 16 minggu dalam 1 semester, d. waktu 16 minggu silahkan diatur masing-masing. Ini adalah satu kumpulan peraturan2 organisasi yang mestinya membimbing suatu keputusan apapun di bawahnya untuk patuh bernaung di bawahnya. Tapi, lalu ada juga 4) keputusan Rapim dan radin yang berada di bawa beberapa keputusan atas yang memelintir keputusan di atasnya (paling tidak pada interpretasinya). Bung, lalu, apakah atas dasar2 itukah yang lalu Anda mau katakan kepada saya, “hai Neil Rupidara tunduklah karena itu keputusan pemimpinmu?” Lebih lanjut, Anda pun menuding saya, “Anda orang yang paling tidak etis karena memberi efek negatif pada organisasi karena melawan keputusan itu (penekanan oleh saya).”

    Bung, sebagai orang dengan background hukum, saya mohon saran atau pendapat, “hukum manakah yang harus saya taati, ketika terjadi konflik sustansi keputusan-keputusan???” Saya sudah menyoal hal ini, ketika dikatakan bahwa “kita harus tunduk keputusan yang di atas”. Keputusan yang mana yang disebut “yang di atas itu”? Haruskah saya, seperti saran dan sikap Anda, manut saja karena atasan saya mau sesuatu yang lain, dalam suatu tatanan hukum/peraturan yang ternyata ia sendiri pun tidak konsisten??? Ketika saya memerkarakan itu, kepada saya dijawab: “UKSW kan sudah terbiasa dengan inkonsistensi”, jadi dengarlah dan ikutilah apa yang ada dan diminta. Maaf, sebagai warga kampus yang cukup mendengar dari kuping kiri dan kuping kanan dan melihat dengan kedua mata saya, sampai hari ini saya tidak jelas, mana keputusan tertinggi yang dirujuk dalam hierarki keputusan kelembagaan di UKSW dalam kasus keputusan semester vs. trimester di UKSW. Tolong bantu saya untuk menjelaskannya, bung Saam.

    Ada juga argumen, pemerintah melarang dan karenanya pemerintah bisa memaksa atau menghukum UKSW. Please also help me find out, which part of the rules and regulation this country have yang tegas melarang trimester dan karenanya “hai UKSW, stop trimester-mu!” Yang dijadikan acuan adalah selembar surat Dirjen Dikti atau bisik-bisik orang tertentu (barangkali, karena katanya Dikti menahan izin2 karena trimester). Apakah itu aturan yang lebih tinggi? UKSW pun sendiri (melalui sebuah Tim) telah bertemu Kopertis dan Dikti untuk menjelaskan itu. Ini pertemuan2 formal dan jawabannya para pejabat itu tidak bisa melarang karena toh sistem trimester juga telah dipakai pada aras S2 selama beberapa tahun. Lalu, aturan mana yang dirujuk untuk memutuskan, kita tidak punya pilihan selain kembali ke semester? Ini cuma menjelaskan suatu kepentingan di belakang keputusan (cek bagian di bawah). Haruskah dengan menyoal keanehan2 keputusan itu saya jadi orang tidak beretika/bermoral, menurut pandangan Anda? Jika ya, maaf, saya tidak melihat sudut yang sama dengan Anda. Mohon hargai saya juga.

    O ya, apakah lebih etis menurut Anda agar orang lain mendukung keputusan lalu kita (sengaja atau tidak sengaja) menyebarluaskan statement seperti “UKSW telah menipu”, “UKSW universitas pembangkang” “Izin2 Progdi terhambat karena trimester”. Itukah proses ke arah keputusan yang etis? Jelas saya harus gugat hal-hal yang telah melatari keputusan itu yang menurut saya tidak benar dan tidak etis itu untuk mendudukkan bahwa: 1. UKSW tidak pernah menipu, 2. UKSW bukan pembangkang, tetapi mitra yang kritis, 3. Masih ada hasil-hasil lain yang lancar walau disertai pengakuan UKSW menjalankan Trimester dan cek apa benar terhambat karena soal trimester (catatan: kalau ada yang mau menghambat karena itu, kita bisa memerkarakannya).

    Ketiga, well.., saya kira saya tidak begitu tertarik legitimasi orang lain terhadap apa yang saya kerjakan. I do and will do what I should do. Tapi, sebaiknya Anda cek, sekalipun melawan keputusan itu dan saya katakan perjuangan saya belum selesai, I did my part dalam tugas2 saya selaku seorang dosen pada semester 2 di mana FE telah menjalankan pola semester

    Lain hal, saya kira saya juga sedang dalam proses mengevaluasi suatu kebijakan, dari titik proses pembuatan kebijakan itu dan substansi kebijakan itu, biar pemimpinnya dengar dan menengok kembali keputusannya. Evaluasi bukan cuma menunggu sampai akhir dulu baru dinilai.

    Soal minoritas-mayoritas, jangan memelintir maknanya (tampaknya Anda orang yang cukup jauh menafsir tanpa memahami dulu apa yang akan Anda komentari). Saya ungkapkan itu dalam konteks reaksi orang2 yang jumlahnya lebih banyak yang menegasi sikap keberatan satu orang, dalam suatu rapat. Satu orang bukankah itu minoritas dan itu pulalah ungkapan yang muncul atau saya pakai, “cuma minoritas”. Mengapa saya bawa wacana itu dalam konteks ini? Rapat senat adalah sebuah forum yang lebih majemuk. Di sana jelas, perimbangan mayoritas – minoritas antara pendukung keputusan pilihan balik semester vs tetap trimester lebih merata dan karena itu keputusan senat menjadi seperti yang saya sebut di atas: a, b, c, dan d.. Sedangkan forum rapat dinas, karena langsung di bawah eksekutif (pimpinan) jelas lebih homogen. Karena itu, jelas gampang melegitimasi kepentingan pimpinan, sekalipun itu memelintir keputusan rapat senat, dari bunyi atau rumusan keputusannya. Karena itu, memang itulah wilayah mobilisasi posisi mayoritas untuk mendukung suatu keputusan. Saya paham, ini politik berorganisasi dan psikologi kelompok tetapi politik akal-akalan ini dapat menciderai etika berorganisasi pula. Ini bahaya dan harus “ditegur” dan karena itu saya tegur. Salahkah?

    Dari situ, tidakkah Anda juga melihat adanya kepentingan kelompok lain di sana? Kelompok yang membabi-buta apapun alasannya harus kembali ke semester? Terkait apa yang sudah saya katakan sebelumnya, apa analisis obyektif tentang kelemahan sistemik pada trimester? Apa konsep akademis yang menjadi dasar untuk menolak trimester? Trimester dalam pengajuannya, punya konsep, punya argumen mengapa diajukan, termasuk menganalisis kelemahan dan kegagalan semester. Jika trimester belum memenuhi tuntutan konsepnya, bukankah itu yang ingin dicapai pimpinan dengan menyempurnakannya? Lalu, mengapa tiba-tiba kita memutuskan sesuatu yang berbeda dari peraturan yang kita miliki dan bahkan dari apa yang ingin dijalankan pimpinan sendiri? Saya tidak punya alasan lain selain, “Itu jelas sebuah kepentingan!!!” Celakanya tersembunyi atau disembunyikan dan baru buru2 muncul ketika ada surat Dikti itu. Sekali lagi, mengapa Anda lalai melihat itu sebagai adanya kepentingan juga bung Saam? Apakah karena saya bukan pimpinan Anda lalu anda boleh menuding saya cuma mencari pemenuhan kepentingan sendiri atau kelompoknya, sedangkan yang berkuasa yang dengan leluasa menggunakan kekuasaannya untuk kepentingannya dianggap wajar-wajar saja? Pertanyaan esensialnya, kepentingan apa dan siapa di balik perjuangan kepentingan2 kita semua? Jika semua punya argumen2 yang cukup, bukankah lebih baik kita ‘pertandingkan’ untuk menguji dasar-dasar argumentasinya? Judge-lah di atas semua itu dan janganlah mudah dijebak oleh relasi kekuasaan – yang dikuasai dan menggunakan logika berpikir strukturalis hierarkis lalu kepada saya yang bawahan dianggap sebagai perusak tatanan organisasi hanya karena tidak bersepakat atas ide dan keputusan mereka yang berkuasa!!

    Terkait itu, itu pulalah harapan saya atas jiwa jurnalis Anda. Cek dan ricek, sebelum membuat penilaian. Dan, ternyata Anda masih sama. Masih menuding, “jangan cuma berteriak, tetapi kerjakan”, “jangan bawa2 mayoritas-minoritas” tanpa ada dibekali informasi dan paham apa maknanya. Tapi, saya paham bahwa jurnalis pun punya orientasi nilai.

    Terakhir, bisakah anda ganti ‘kaca mata’ anda untuk melihat kritik dan komunikasi terbuka dari sudut yang lain? Yang terjadi pada kasus yang Anda contohkan pada saya cuma membenarkan kepada saya suatu pola kehidupan organisasi yang tidak berdialog. Saya sudah katakan, apa yang terkesan terjadi pada UKSW adalah ‘matinya’ jalur2 komunikasi tentang keberbedaan atau komplain. Jika begitu, haruskah Anda minta saya diam? Maaf, saya tidak bisa memenuhi permintaan Anda. I am a bad boy. Tapi, tolong dudukkan secara lebih sehat dan proporsional apa, di mana, dan mengapa saya menyoal. Terima kasih.

  32. STR says:

    @ Saam:

    Apa sih tolak ukur keberhasilan pendidikan? Apakah dimaknai dengan konsep baru dengan gaya baru? Ataukah dilihat dari tahan ujinya pendidikan itu? Atau apa..?

    Aku memaknai keberhasilan pendidikan dengan semakin meningkatnya kesadaran diri seseorang. Dengan kesadaran diri ini, orang dapat mengevaluasi dirinya sendiri, dan menetapkan perencanaan hidup yang lebih baik berdasarkan hasil evaluasi tersebut.

    Di QT, para murid diberi kesempatan untuk melakukan itu.

    Lha di UKSW? Jangankan kesadaran diri untuk melakukan evaluasi diri, kesadaran diri untuk belajar saja tak ada karena mahasiswa tak pernah diberi kepercayaan untuk memikul tanggungjawab hidupnya sendiri (seperti menentukan apa-apa yang dipelajari, semua terlalu diatur).

    Perencanaan pendidikan itu penting bung. Sangat membingungkan saya jika anda berfikir bahwa tidak perlu ada silabus ataupun kurikulum. Mungkin permasalahannya selama ini adalah ketika kurikulum itu memenjarakan atau tidak membumi.

    Oke, terima kasih sudah mengingatkan aku. Memang salah jika pendidikan berjalan tanpa perencanaan. Aku sepakat ada kurikulum dengan catatan: (1) otoritas perancangan kurikulum dipegang penuh oleh siswa, sesuai kesenangan dan kebutuhannya; (2) otoritas perancangan kurikulum dipegang penuh oleh siswa, sesuai kesenangan dan kebutuhannya; (3) otoritas perancangan kurikulum dipegang penuh oleh siswa, sesuai kesenangan dan kebutuhannya.

    UKSW berdiri hingga hari ini kenapa bung? Jika UKSW tidak sehat (baik dalam hal manajerial dan keuangan), maka dia akan abruk dengan sendirinya.

    Yang kamu lihat sekarang seperti apa? Apakah UKSW sekarang (dengan berbagai macam kebijakannya) sedang mendekati atau menjauhi keambrukannya?

    Prestasi telah banyak ditorehkan, baik skala nasional dan internasional, berbagai penelitian telah dibuat dan diimplemntasikan. QT bagaimana?

    Prestasi apa? Penelitian apa? Dengan perbandingan antara sumber daya yang dimiliki UKSW dan QT, saya ragu jika produktivitas UKSW (dalam menghasilkan karya-karya keilmuan) lebih tinggi daripada QT.

    Apa dengan telah membuat peta, semua dunia harus melihat QT sebagai yang harus dicontoh?

    Ini menunjukkan bahwa kamu tak paham betapa spektakulernya peta virtual 3D untuk jaman sekarang.

    Ketika aku kongkow dengan teman-teman wartawan di Jakarta sebulan yang lalu, isu pemetaan virtual 3D untuk kota Jakarta jadi salah satu topik perbincangan. Pemetaan ini penggunaannya cukup luas. Mulai dari GPS, sampai promosi kepariwisataan. Intinya, akan ada efisiensi besar-besaran jika informasi visual dari lansekap-lansekap di seluruh dunia berhasil dipetakan. Dan sementara kota Jakarta yang segede gambreng itu belum punya peta virtual yang bagus, kampung kecil macam Kalibening sudah punya peta virtual karena keberadaan QT. Artinya, di QT sekarang sedang terjadi pengembangan sumber daya manusia untuk menjawab kebutuhan global yang sedang dan telah datang tersebut.

    Di UKSW? Rasanya kesadaran sivitas akademika ini terhadap nilai penting teknologi dan informasi hampir tak ada. Itu situs web dari dulu cuma bisa buat papan pengumuman tok! Ada usulan yang gampang untuk memperbaiki kinerja situs web juga ndak direspon. Intinya, UKSW masih terbelakang!

    Mas Satria, Salatiga itu kecil, orang dengan sangat mudah saling mengenal dan melihat orang lain.
    Komitmen pergerakan terutama dalam tataran mahasiswa dan nongoverment organization, adalah untuk masyarakat sepenuhnya (seharusnya). Pergerakan mahasiswa haruslah gerakan moral, tidak boleh terjerumus kedalam politik praktis, dan mengarah kepada anarki. Lalu apa yang menjadi isu? Banyak Mas, tidak hanya ngomong pendidikan, ataupun politik, bahkan seorang ibu sakit yang tidak dapat menjalani proses pengobatan di rumah sakit akibat tidak ada biaya, bisa menjadi isu.
    Sangat sayang sekali jikalau 1 pokok permasalah hanya dilihat atau diasumsikan dari satu bidang tertentu, karena kajiannya sangat sempit, dan cenderung akan tidak membebaskan.

    Saam, coba kamu lihat lagi konteks pembicaraan yang ada di sini. Apakah kita sedang bicara tentang konsep-konsep pendidikan ataukah profil seorang Bahruddin? Jika yang kita bahas di sini adalah profil seorang Bahruddin (atau siapakah Bahruddin), tentu pengetahuan tentang sepak terjang Bahruddin bisa memperkaya pembicaraan kita dan memampukan kita untuk melihat sosoknya secara lebih objektif.

    Tapi berhubung kita sekarang sedang berbicara tentang konsep-konsep pendidikan itu sendiri (yang salah satunya adalah konsep pendidikan pembebasan ala QT), maka pembicaraan tentang sosok Bahruddin (apalagi ad hominem terhadap person itu) justru dapat mendistorsi diskusi kita untuk out of context.

    Aku membandingkan UKSW dan QT bukan untuk membandingkan kepribadian Kris Timotius dan Bahruddin. Bukan! Tapi aku membandingkan ide-ide pendidikan yang dibawa kedua institusi tersebut untuk melihat ide siapakah yang lebih rasional dan layak dijalankan. Jika ide-ide QT ternyata lebih unggul, itu bukan lantas berarti Bahruddin adalah seorang manusia yang lebih mulia daripada Kris Timotius, pun sebaliknya.

    maaf rada lama membalas komentar teman-teman, karena 2 hari di Purwokerto, ada tugas.

    Aku tahu, dikasih tau orang BPHL tempo hari. Trus mana oleh-olehnya? 🙂

  33. Neil Rupidara says:

    @STR: Nimbrung di tanggapanmu atas Saam.

    Kamu membuat bantingan dalam paradigma pedagogis secara drastis. Namun, jelas pada tataran filsafat pedagogis (mudah2an saya bisa membahas dalam artikel kedua yang telah saya janjikan), kita bisa temukan dasar pilihan seperti yang kamu ajukan. Tapi lalu, kira-kira peran dosen dan relasi dosen – mahasiswa macam apa yang diharapkan dalam model mahasiswa punya otoritas penuh atas perancangan kurikulum? Sampai pada level mana kira-kira konsep kurikulum dimaknai dalam statement itu?

    Saya belum cermati secara mendetail pola QT, cuma telah dijelaskan cukup terbuka oleh pengelolanya maupun mendengar tuturan singkat pengalaman beberapa siswanya. Namun bagaimanapun, sedikit banyak interaksi guru/fasilitator/dosen dengan siswa/mahasiswa akan menunjukkan kesalingtergantungan yang membuat statement otoritas penuh siswa atas kurikulum menjadi sedikit ‘cair’. Karena itu, dugaan saya, pemahaman bahwa kurikulum bukan cuma sebagai seperangkah mata kuliah beserta isi mata kuliah dalam satu paket program pendidikan saya kira kamu sepakat.

    Ketika kurikulum dipahami termasuk pernyataan tujuan pendidikan yang juga termanifestasi dalam rancangan proses, maka menurut saya QT dan penyelenggara pendidikan manapun akan dan telah mengambil porsi peran tertentu dalam rancangan kurikulum pendidikan para partisipan belajar. Jelas di QT, walaupun in action-nya jelas sekali si partisipan menentukan saya mau belajar ini, gimana untuk memahami itu, etc dengan cukup otonom, namun statement of purpose dalam the whole education-nya QT telah dirancang oleh Bahruddin dkk. Jadi, mereka telah juga masuk pada rancangan kurikulum, tetapi memilih rancangan kurikulum pada tataran operasional yang lebih cair. Jadi membaca “otoritas penuh di tangan siswa” saya baca sebagai bobot yang makin besar ditentukan oleh si partisipan dalam menentukan apa yang ingin dipelajarinya, dan bukan mutlak. Mohon tanggapanmu.

    Pada tataran ide (di praktik, sebagai dosen saya masih cukup dominan menentukan set mata kuliah maupun kerangka isi suatu mata kliah, walau untuk variasi dan pendalamannya mulai diserahkan sebagian ke mahasiswa juga), saya menawarkan kombinasi dosen – mahasiswa yang juga memanfaatkan secara optimal otoritas akademik dalam wujud kepakaran para dosen di bidang ilmunya masing-masing (mudah2an bisa disebut dosen sebagai magistra atau master atau yang ahli. Jadi dosen bukan cuma fasilitator, tetapi juga adalah narasumber, walau perannya bisa diminimalkan dari kesan too much dominating) dalam ikut menentukan desain kurikulum pembelajaran si siswa. Perangkat lunak e-learning seperti Moodle memiliki pilihan pengelolaan kuliah dengan pendekatan social (konstruksi bersama), bukan saja pengorganisasian berbasis waktu atau topikal yang biasanya didrive dosen (Ada beberapa format lain yang saya juga tidak kuasai di situ). Di liberal arts colleges, biasanya ada klausula bahwa jika mahasiswa mau mengajukan rancangan mata kuliah2nya sendiri silahkan. Namun, ia harus consult ke pembimbing akademiknya dan menjelaskan kepada pengelola departemen mengapa ia memilih rancangan seperti ini atau itu.

    Implikasinya, sebagian dari rancangan kurikulum (dalam makna yang luas, termasuk komposisi mata kuliah dan komposisi isinya), khususnya pada tataran kertas, harus didesain pengelola pendidikan dan dosen. Ini khususnya untuk antisipasi siswa cenderung ‘manut wae’ apa rancangan lembaga.

    Persoalan jelas akan muncul pada pendidikan2 terkait profesi, misalnya menjadi akuntan, dokter, psikolog yang memiliki syarat2 isi/kompetensi yang harus dikuasai menurut konsensus asosiasi profesinya. Dalam konteks bidang pendidikan seperti itu, jelas soal apa (pada standar minimumnya) harus memenuhi batasan2 kompetensi yang telah secara institusional yang dibuat oleh asosiasinya. Namun, ketika kita bicara curriculum in action, maka porsi how to and how deep students could dig down dalam suatu subjek pembelajaran, masih bisa ada porsi/ruang kontrol siswa dengan cara dimainkannya metode2 partisipatif atau berbasis masalah. Karena itu, sikap ‘tidak mau diatur’ jelas, walaupun masih mungkin untuk diambil (seperti QT tidak pusing dengan ujian nasional untuk selembar ijazah), tetapi cukup sulit dilakukan dan bisa fatal juga pada wilayah profesi tadi.

    Karena itu, saya masih suka bermain di wilayah2 irisan satu terhadap yang lain, dari pada swing arah pendulum ke titik esktrim lainnya (kini kita ada di titik ekstrim 1 di mana lembaga dan dosen mengatur segala-galanya).

    OK, itu tanggapan saya. Menarik untuk mendapatkan tanggapan lanjut, juga dari teman2 lain yang sangat concern pada pengembangan model pikir dan praksis pedagogis kita.

  34. Saam Fredy says:

    Sebuah Cerita singkat, bukan pembenaran diri:

    @Pak Neil yang baik
    (ijinkan Saya akan berkomentar sebagai alumni, bukan sebagai jurnalis di UKSW):

    Saya tidak ingin munafik, dengan mengatakan bahwa disini baik-baik saja. Banyak permasalahan yang memang terjadi, namun bagi saya wajar jika univ sebesar ini punya banyak masalah. Semakin besar, biasanya semakin ruwet. Permasalah dalam tubuh mahasiswa, pegawai dosen/nondosen, dll.

    Akhirnya, semua orang pasti memiliki masalah. Saya juga pernah merasakan pahitnya menghantam dinding UKSW, tapi anehnya kenapa saya masih disini? Kenapa Pak Liek Wilardjo masih disini, dan kenapa bapak masih disini, kenapa? Saya tidak tahu, yang saya tahu saya sunguh mencintai kampus ini, almamater saya, bahkan ketika saya harus menghantam dinding itu.

    Perjalanan panjang bermahasiswa dan perjalanan seumur jagung berkarya sebagai pegawai di UKSW, banyak hal memang yang perlu diperbaiki. Tidak saja bagi UKSW, namun juga mereka yag ada di dalamnya. Hantaman terkeras ketika bermahasiswa, ketika saya harus berhadapan dengan pemimpin waktu itu, Pak John Titaley, sehubungan dengan masalah organisasi di bawah SMU. Namun sayapun harus tunduk, karena saya sudah memperjuangkan sampai kepada pemimpin tertinggi, saya puas, karena sudah melakukan bagian saya walau tidak ada hasilnya.

    Pada satu kesempatan, saya menuangkan satu permasalahan besar ketika saya bekerja melalui surat kepada atasan dan berkata, “Saya menerima semua ini, bukan karena saya tunduk, tapi karena saya mencintai UKSW dan saya percaya Tuhan punya rencana.” Tulisan itu mengalir seiring dengan petuah sederhana yang masih tergiang yang disampaikan “Eyang putri” Noto, “Siapapun yang berkerja untuk UKSW, haruslah bekerja sebagaimana dia bekerja untuk Tuhan”. Tidak hanya sampai disitu, saya memberikan yang terbaik yang saya bisa lakukan demi nama baik UKSW.

    Mungkin akhirnya, semua teori, pengetahuan duniawi, dan semua yang berhubungan dengan itu, harus kandas seiring dengan kepatuhan kepada Tuhan dan pilihan kita untuk bertindak. Saya memilih disini, untuk berkarya bagi-Nya. Bersyukurlah akhirnya kepada semua yang bisa berbicara tentang apa yang diyakininya dengan bebas tanpa ada orang yang berusaha untuk melarang, seperti bapak. Namun bukan berarti bentuk penyampaian aspirasi seperti bapak adalah satu-satunya cara. Saya bukan orang yang mau dicocok hidungnya, saya mimiliki my own way. Saya belajar banyak, dan saya telah mengevaluasi, dan akhirnya memutuskan my own style how to fight.

    Penyaluran aspirasi yang bapak kerap sampaikan baik melalui milis, di SA, dan perjuangan melalui rapat-rapat, bahkan demonstrasi sudah pernah saya lakukan, dan hingga hari belum menampakkan hasil. Apa yang salah? Tidak ada yang salah.

    Satu teman pergerakan mahasiswa (Geritz, semasa menjadi Kabid 4 SMU) pernah mengumpulkan teman-teman pergerakan di kantor SMU waktu itu. Mewakili GMNI saya menghadirinya, terlihat hadir LMND, GMKI, HMI, PMII, BEM STAIN. Dari kacamata saya, ketika terjadi perdebatan mengenai bentuk perjuangan bersama, mereka hanya berorientasi pada kekuatan masa (Semakin besar semakin baik). Saya pun mengungkapkan pandangan, kekuatan masa tanpa diimbangi lobi, membuat public opini, kesinambungan, dan penguatan grassroot, sama saja tidak ada gunanya.

    Oleh sebab itu saya menghargai perjuangan dengan model bapak. Saya pun menghargai perjuangan yang lain dengan their own way to fight. How about me? As I told you before, I had my own way. Perang kemerdekaan ditempuh, gerilya lobi juga dilakukan, semua orang berjuang melalui apa yang bisa dia lakukan.

    Perbedaan pandangan yang saya pikir terjadi, saya anggap sebagai salah paham. Karena saya anggap kita sama-sama berjuang, kita punya visi yang sama, “for better UKSW”. Semoga Tuhan memberkati pelayanan kita.

  35. Saam Fredy says:

    Dunia ini panggung sandiwara
    @ Satria yang baik:
    Terima kasih telah memberikan tolak ukur keberhasilan pendidikan dari sisi Mas, tolak ukur yang menurut saya sangat baik, karena memang penting adanya kesadaran diri akan dirinya sendiri.
    Mungkin saya satu dari sekian banyak orang yang belum masuk kriteria itu, karena hingg sekarang saya masih dalam pencarian jati diri tentang hakikat makna kehidupan, entah sampai kapan, mungkin hingga hayat dikandung badan. Hal itu terjadi karena saya meresapi arti dari pendidikan yang seumur hidup, dan menghirup udara adalah bagian dari pendidikan.
    Saya akui bahwa kadang sekolah ataupun tempat-tempat informal, membatasi gerak “belajar” seseorang. Tidak hanya itu Mas, kadang saya merasa dunia menghambat saya belajar. Kenapa dunia harus dikotak-kotakkan? Kenapa saya tidak bisa belajar seperti saya menghirup udara segar setiap pagi (karena samapi saat ini saya masih hidup, dan udara segar masih ada). Kenapa? Kenapa anak SD di sebuah desa tidak pernah membayangkan dirinya masuk ke sebuah perguruan tingg kelak jika dia lulus SMA. Kenapa orang masih menganggap anak perempuan tidak boleh sekolah tingi-tinggi? Kenapa? Kenapa saya dan anda kuliah di UKSW? Kenapa begitu banyak gelombang demo menuntut pendidikan gratis? Kenapa seorang anak di sebuah pegunungan bersedia untuk turun gunung, yang kadang jaraknya sangat jauh, demi masuk sekolah? Kenapa anak-anak dipaksa bersekolah, walau kadang dia tidak mau? Kenapa ada banyak sekolah di kota dari pada di desa? Kenapa, kenapa? (Pertanyaan tersebut hanya sebagian kecil dari pertanyaan-pertanyaan dalam hal pendidikan).
    The Show must go on, with or without me on the stage. Hanya akan waktu yang menjawabnya. But sometime the show wasn’t seen by everyone. Mungkin kurang publikasi, atau memang tidak mau menonjolkan diri.
    Ketika akhirnya panggung harus ditutup layarnya, dan sorak sorai penonton menggema, itulah akhir. Kemudian, panggung dibuka lagi, para pemain diperkenalkan, akhirnya sang sutradara. Lakon tetap lakon, tidak akan ada gunanya jika tidak ada aktor yang memainkannya. Baik-buruknya penampilan kadang tergantung pada cara memaikan dengan talenta dan kesungguhan sang aktor. Pesan yang ingin disampaikan dalam setiap lakon akan terbaca jika para penonton memiliki kejelian yang dalam, dan tidak menyerahkan semua kepada permainan aktor dan garapan sutradara. Elemen terpenting dalam pementasan, tidak hanya penonton yang puas, aktor yang memainkan lakonnya, ataupun para crew pendukung, tapi juga sang sutradara.
    “…Dunia ini panggung sandiwara, ceriatnya mudah berubah…”
    Catatan: Sory sat, oleh-olehnya sudah habis dimakan rekan kerja, he…he..

  36. STR says:

    @ Neil: Saya memahami kurikulum cuma sebagai seperangkat matakuliah beserta isi matakuliah dalam satu paket program pendidikan. Hal inilah, yang saya rasa, harus dikembalikan kepada otoritas mahasiswa dalam penentuannya.

    Namun, jika yang dimaksud dengan “kurikulum” adalah juga pernyataan tujuan pendidikan, maka saya bersepakat bahwa pendidik layak diberikan porsi tertentu untuk ikut menentukan kurikulum.

  37. Godinho, Jose says:

    Hi,

    Saya Alummi UKSW yg ada di Timor-Leste…. ternyata yg menarik, & can be ‘media’ connection people… all oever world. god

  38. Andi Dobleh says:

    sumbang pertanyaan saja:
    Apakah tidak dimungkinkan oleh sistem saat ini untuk melibatkan peserta didik (siwa dan mahasiswa) untuk menyusun kurikulum?

    Apakah memang sungguh dibutuhkan keterlobatan peserta didik untuk menyusun kurikulum?

    Sujmbang pikiran:
    Menurut saya sih ya.. saat ini peserta didik tidak perlu terlibat dalam menyusun kurikulum secara langsung. Kalau dimintai pendapat/saran sih oke2 saja!
    perubahan dalam kurilkulum pendidikan saat ini mau tidak mau terletak pada pengajar. Bagaimana mereka menerapkan pengajaran yang merangsang kreatifitas dan pengembangan pola pikir peserta didik?
    Karena mayoritas siswa dan mahasiswa (S1 aja, gak tau kalau S2), masih tidak terlalu memperdulikan hal-hal seperti kurikulum (Fakta ini tidak bisa diabaikan). Yang masih ada di kebanyakan pikiran siswa dan mahasiswa adalah “Sekolah/Kuliah, lalau LULUS” SELESAI PERKARA.

  39. Neil Rupidara says:

    @Jose Godinho: Welcome on board! Apa kabar Timor Leste? Salam bagi para alumni di sana dan undang untuk ikut menyimak dan berdiskusi di sini.

    @ Andi: bertanya: “Apakah tidak dimungkinkan oleh sistem saat ini untuk melibatkan peserta didik (siswa dan mahasiswa) untuk menyusun kurikulum?”

    Kendala kita masih terletak pada mindset dosen dan pengelola yang belum rela memberi ruang gerak yang lebih besar ke mahasiswa. Karena itu sistem yang dianut memang belum memungkinkan dicapai seperti yang dibayangkan STR. Masih jauh dan mungkin juga tidak akan sampai ke sana, kecuali terjadi perubahan paradigma. Dengan begitu, jelas QT datang dengan paradigma yang jelas beda dari yang dominan di UKSW dan kebanyakan institusi pendidikan.

    Mengapa perlu memberi itu? Logikanya sederhana: partisipasi mendorong kepemilikan, kepemilikan melahirkan tanggung jawab, tanggung jawab berbuah usaha, usaha akan mengantar pada hasil atau prestasi. Ada beberapa asumsinya yang mendasari logika ini. Satu, bahwa partisipan belajar di perguruan tinggi tergolong mampu. Dulu saat kuliah psikologi manajemen oleh Ibu Leila Budiman di S1, mereka/kalian pasti memiliki standar kecerdasan normal ke atas, tidak ada yang moron, imbesil, atau idiot. Jadi, kemampuan ada. Kedua, sikap dipandang bisa dibentuk oleh sistem dan kultur makro komunitasnya. Jelas bahwa faktor kultur belajar yang bertanggung jawab masih tergolong lemah. Tetapi, anak2 Indonesia yang berkuliah di luar negeri, sanggup tuh menghadapi tantangan itu. Karena itu, saya percaya kalau sistemnya bisa di-set sedemikian rupa dan itu dibangung di atas kultur baru di kalangan pengajar, maka apa yang kamu khawatirkan itu bisa kita atas. Catatannya: gagal dan gagal di awal tidak berarti bahwa tidak akan berhasil. Ketiga, kini resources belajar tersedia, jadi tidak ada halangan berarti bagi mahasiswa untuk mengakses ke manapun. Jadi, dipandu sistem dan terbentuknya kultur baru yang difasilitasi akses ke sumber2 pengetahuan akan memungkinkan kita melihat wajah baru pada diri mahasiswa, sistem dan proses pendidikan kita, dan mudah2an hasilnya. Tapi, sekali lagi, semua harus bermula dari perubahan paradigma dosen dan pengelola lembaga.

    Selanjutnya saya sepakat dengan Andi, lalu kita main di metode2 yang kreatif. Cuma, bukan saja kreatif tetapi tetap masih berpusat pada di dosen (dosen jadi polisi kurikulum), tetapi lebih dari itu adalah yang menempatkan mahasiswa pada tanggung jawab besar sebagai pelajar yang otonom. Cuma bagi saya, pilihan2 metode tidak muncul begitu saja alias independen. Ia diikat oleh paradigma atau filsafat pedagogi si dosen dan komunitasnya. Kalaupun mau pake alat canggih apa, tetapi kalau dosen selalu yang paling benar dan paling tahu, ya metodenya akan mandeg di titik tertentu.

    Yang diinginkan adalah eksplorasi ke titik jangkauan tak terbatas (seberapa ya..?) dalam sebuah proses pengupayaan/pencarian kebenaran dalam dunia keilmuan. Dan betul, itu membutuhkan mutual responsibility. Itulah yang Satya Wacana konsepkan sebagai universitas scientiarum dan universitas magistrorum et scholarium. Jadi, ini tempat berupaya ilmu baik oleh dosen maupun mahasiswa. Namun, kalau dosen sudah coba lepas, tapi mahasiswa memble ya sama aja bo’ong. Sebaliknya, mahasiswanya baca sana-sini tetapi cuma ada satu kebenaran yakni dalam pikiran si dosen, ya podowae. Cuma, karena tadi kita terbiasa disuap-menyuap dan diatur-mengatur, maka harus ada efforts untuk memecah kebekuan ini. Gagal dan gagal hari ini adalah bagian dari kesuksesan jangka panjang, sejauh kita yakin pilihan kita baik dan karenanya konsisten mengikut jalur kebaikan itu.

    Nah, kalau idenya adalah mendorong ekplorasi dan eksploitasi (yang positif lho) keilmuan yang sedalam dan seluas mungkin, maka implikasi nyatanya adalah kerjanya mahasiswa adalah bersama buku, komputer, lapangan, temannya untuk diskusi dan kerja sama, etc. Waktu mahasiswa akan habis untuk didedikasikan pada pengupayaan ilmu (tentu butuh juga aktivitas refreshing, istirahat, etc). Jika bayangkan modelnya seperti itu, berapa banyak mata kuliah kalian sanggup handle dalam satu term?

    Pengalaman dan penjelajahan saya sejauh ini menemukan tidak 3-4 mata kuliah per term. Ada beberapa yang sampai 5, tetapi jarang. Ada mahasiswa yang ambil 2, tetapi itu kalau dia sambi dengan tugas2 non kuliah (kerja atau organisasi).

    Jika begitu, sekarang banding ke Indonesia dan di UKSW khususnya, apa yang terjadi? Saat ini paling sedikit 5/6. Itu pun yang IPnya pas-pasan dan cenderung yang malas2 (kecuali yang memang memilih dengan sengaja). Super kah kita kalau mau belajar dengan benar? Silahkan nilai. Bagaimana membongkar itu? Pilihannya cuma: robohkan sistem semester gaya pemerintah atau paksa pemerintah kurangi jumlah sks!!! Ha ha ha ini provokasi saya. Tetapi, ia duduk di atas refleksi yang sangat sadar dan cukup berbasis perhitungan. Jangan dinilai bawa2 model asing ke kultur yang berbeda. Ini cuma hasil pikir dari apa yang rasanya lebih baik dan wajar bagi seorang anak manusia, tidak pusing dia bule-putih-lurus pirang atau negro-hitam-kriting hitam.

  40. ERASMUS says:

    NON SCHOLAE SED VITAE DISCIMUS…..

    itu yang seharusnya menjadi prinsip kita sebagai mahasiswa…..

    ya belajar bukan untuk ijazah atau nilai, tetapi untuk hidup….

  41. jesiko mandang says:

    UKSW adalah bagian kecil dari lembaga pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, apa yang terjadi bukanlah semata – mata muncul dari “niat” UKSW itu sendiri, tapi juga merupakan gambaran “gejolak yang sedang terjadi secara politis pada kekuasaan negara kita. Seingat saya, tahun 80-an akhir, dunia pendidikan kita secara politis lewat gerbongnya Bpk BJ Habibie saat itu, dunia penididikan memang diarahkan dengan model pendidikan Inggris, dari roh kegiatan sosial budaya menjadi kegiatan industri, n payahnya pada beberapa tahun sebelumnya atau pada waktu itu, lembaga pendidikan kristen tidak mudah lagi menerima bantuan/ hibah untuk penyelenggaraan pendidikan. Dan kalau diamati mulai pada saat itu pula pendidikan islam dengan begitu mudah berkembang, contohnya tempat kost saya (dulu) di Salatiga sekarang ini sudah menjadi lembaga pendidikan Islam ( disebelah UKSW<Pertigaan, katanya teman2). N kalau memang itu ada, berarti isue itu ada benarnya.
    Oleh karena itu, marilah kita yang masih belajar ini, mencoba belajar lebih bijaksana dan maksimal dengan memperhatikan keseimbangan mental dan iman, sehingga kegagalan senior – senior dapat diminimalkan yang pada akhirnya kelulusan dapat eksis ditengah masyarakat secara mandiri yang dapat dipertanggungjawabkan kepada keluarga, masyarkat dan Allah
    Pada akhirnya, selamat belajar bukalah mata hati dan roh yang takut Allah, sehingga belajar kita memang dapat bermanfaat bagi kemulian dan penyebaran kabar kesukaan, berita keselamatan dari TuHan Yesus kristus

  42. jesiko mandang says:

    Seingat saya UKSW pernah menyelenggarakan gerakan Demokratisasi Proses Belajar mengajar, diakhir tahun 80-an. Antara lain semangat memperjuangkan ruang tawar menawar antara penyelenggara jasa pendidikan dan pemakai jasa tsb. yang pada skala kecil,praktis adalah suasana tawar menawar tujuan pembelajaran dan cara – cara pencapaiannya serta evaluasinya. Dan saya termasuk yang terkesan dengan semangat itu, hingga sekarang saya perjuangkan dan hasil awal pada gerakan tsb, antara lain memberikan spirit munculnya kurikulum lokal.
    Jadi, menurut hemat saya sebagai seorang awam pendidikan, ada baiknya para siswa atau pemakai jasa pendidikan terlibat dan dilibatkan pada proses pendidikan itu sendiri pada awal “transaksi” agar komitmen tsersebut dapat berjalan lebih maksimal. Oleh karena itu, para mahasiswa marilah mencoba menggunakan potensial hak tersebut, nikmati hasilnya pasti akan mendapatkan suatu kualitas yang lebih terasa beda. Akhirnya marilah kita memanfaatkan peluang tawar menawar dalam mencapai tujuan, proses, evaluasi, alat dan cara berproses pada awal sehingga komitmen bersama untuk suatu hasil yang menguntungkan semua.

  43. Neil Rupidara says:

    @jesiko: itu kalau ada ruang tawar menawarnya, kalau tidak? uksw periode 80an di bawah kepemimpinan rektor Toisuta yang seorang ahli perencanaan pendidikan tahu dengan sangat baik apa dan bagaimana dunia pedagogi di tingkat pendidikan tinggi (adult pedagogy). merujuk info anda, maka sekalipun uksw lebih maju dari segi waktu dan sejumlah hal seperti fasilitas, ternyata dari sudut gagasan/filsafat dan praktik pedagoginya kita tidak ikut maju. tulisan ini menyadari hal tersebut dan karenanya berposisi sebagai salah satu bentuk otokritik. mahasiswa hanya bisa masuk dalam ruang pedagogi yang demokratis jika dosen dan administrator memang menyediakan ruang untuk itu.

  44. jesiko madang says:

    sdr. Neil: Sepintas membaca cara pemikiranmu adalah lumrah, karena memang pengalaman hidup, pengalaman cara saudara dalam belajar termasuk lingkungan saat itu yang menyertai, apalgi tahun awal 90-an adalah sejarah pendidikan Indonesia yang pada saat itu mulai mengarah perubahan cara pandang pendidikan beserta cara penyelenggaraannya, yaitu pendidikan dalam suasana industri, bukan lagi sosial dan budaya, dan untuk lebih jelasnya ada baiknya membaca tindakan2 Bpk Habibie dan rekannya ( yg pada saat itu merekalah yang berpengaruh pada kebijakan negara saat itu).
    Maksud saya, apa pun yang terjadi pada dunia pendidikan marilah kita yang punya semangat, yang sadar bahwa perziarahan di dunia ini adalah berkat, kesempatan dari Sang Transenden, marilah kita berani seperti Joseph yang berani ambil keputusan yang populis dalam perkawinannya dengan maria pada saat itu. Artinya marilah kita mengambil peran, berkonstribusi pada dunia pendidikan yang dipandang dan mampu dipertanggungjawabkan. Pelajarilah lebih mendalam ( dan seiring dengan usia dan keberanian mengambil hikmat pengalaman hidup) mengenai apa yang sudah dirintis oleh orang tua, para pendiri, para pengembang pendidikan di UKSW. Mengapa saya berkata demikian ?
    Jujur saja, apa yang saya perjuangkan saat ini adalah kelanjutan apa yang saya dapat dan kami perjuangkan sewaktu di UKSW, yaitu dengan LKM yang perjuangkan ini dengan roh pengetahuan sewaktu di uksw dan itu dilakukan secara mandiri. Artinya kitalah yang memberikan ruang idealis mengenai pendidikan, kitahlah yang memberikan ruang untuk berani ada kesempatan tawar menawar di tujuan dan evaluasi serta cara2 proses pendidikan berlangsung. Sehingga belajar bukanlah beban, belajar adalah bagian eksistensi kita dalam perziarahan dibumi, belajar adalah panggilan iman untuk mengelola dan menguasai alam yang dipercayakan Sang Pencipta. Belajar adalah bukti dari aktualisasi iman
    Masalah UKSW seingat saya adalah ada gerakan politik untuk membubarkan UKSW dibumi Indonesia. Oleh karena itu, perbedaan pendapat hal yang wajar tetapi kalau keblinger dengan mentuhankan otak dan perasaan HANCURLAH UKSW yang didirikan dengan IMAN kepada Tuhan Yesus Kristus.

  45. Theofransus Litaay says:

    Kalau kita pergi ke negara-negara lain dan melihat berbagai universitasnya, maka kita akan temukan bahwa konsep yang dibangun para pemimpin UKSW era 1980an adalah persis seperti yang dipraktekkan banyak negara pada saat ini.
    Pada waktu kampus lain di Indonesia belum kenal komputer dengan baik, tahun 1980an UKSW sudah memiliki Pusat Pelayanan Komputer (Puspelkom, sekarang sudah dibubarkan graak!);
    pada waktu kampus lain belum terkaget-kaget soal the so called soft skills, UKSW sudah bikin kursus komputer dan Pusat Bahasa sudah kembangkan kursus bahasa yang bermutu;
    pada waktu kampus lain belum sentuh masalah dukungan non-akademis bagi situasi akademik mahasiswa, UKSW sudah kembangkan Pusat Bimbingan (juga sudah bubar graak!);
    waktu orang masih berdebat soal research university, UKSW sudah memiliki Lembaga Penelitian Universitas/LPU yang berbobot internasional (sekarang sudah bubar graak!);
    pada waktu orang masih bicara berbusa-busa soal pengabdian masyarakat, UKSW sudah aktif di wilayah Jawa Tengah sampai dengan Indonesia Timur melalui program-program Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM, sekarang juga sudah almarhum!).
    Waktu orang lain merindukan perpustakaan yang bagus, perpustakaan UKSW pernah terbaik di Asia Tenggara (sekarang dibiarkan terlantar dan tidak terbina dengan baik).
    Semua yang saya katakan di atas adalah tentang masa lalu.
    Semua yang saya katakan di atas juga tentang masa kini.
    Yang mana yang anda pilih?

  46. Theofransus Litaay says:

    Saya menjadi bingung juga, ternyata penelitian yang katanya merupakan karya akademisi ternyata langka di UKSW ini, sehingga akreditasi fakultas hukum pun terjun bebas dari A menjadi C gara-gara jumlah penelitian yang kurang produktif (kata assesornya). Meskipun saya juga nggak yakin kalau kampusnya si assesor itu juga sudah bagus. Padahal masalah penelitian ini adalah masalah nasional, karena pada waktu mengolah data untuk satu policy paper di Depdiknas, saya pernah memperoleh informasi bahwa besar alokasi budget penelitian di indonesia tidak lebih dari 10 persen anggaran universitas, baik PTN maupun PTS.

  47. Qinimain Zain says:

    (Dikutip dari: materi Strategic Forum – QPlus Management Strategies 2008)

    Strategi Filsafat Penelitian Milenium III
    (Butanya Dasar Belajar Mengajar: Theory of Everything)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MEREKA (para peneliti – QZ) seakan-akan pelukis yang mengumpulkan tangan, kaki, kepala dan anggota-anggota lain bagi lukisannya dari macam-macam model. Masing-masing bagian dilukis dengan sangat bagus, tetapi tidak dihubungkan dengan satu tubuh sendiri, dan karena sama sekali tidak akan cocok satu sama lain, hasilnya akan lebih merupakan monster daripada manusia (Nicolas Copernicus).

    APAKAH (ilmu) pengetahuan yang terkumpul, dipelajari, dimiliki dan diajarkan selama ini masih berupa monster? Bayangkan sosok gambaran seluruh (ilmu) pengetahuan semesta yang berserakan. Lebih kecil lagi, seluruhnya di satu pustaka. Lebih kecil lagi, di satu cabang ilmu. Lebih kecil lagi, di satu bidang ilmu. Lebih kecil lagi, satu hal sosok gambaran tentang semut, puisi, manajemen atau jembatan saja, terdiri atas potongan kacau banyak sekali. Potongan-potongan tulisan sangat bagus sampai buruk, jelas sampai kabur, dan benar sampai salah besar, yang tak menyatu, tumpang tindih dan bahkan saling bertentangan meski hal yang sama sekalipun. Ini membuat sulit siapa pun meneliti, belajar dan mengajarkan, ditandai dengan polemik panjang.

    Mengapa bisa demikian? Ada analogi menarik cerita lima orang buta ingin mengetahui tentang seekor gajah, yang belum pernah tahu gambaran binatang itu. Selain buta, tubuh mereka berbeda-beda tinggi badannya. Mereka pun berbaris berjajar, menghadap seekor gajah besar yang di keluarkan pemiliknya dari kandang. Orang yang pertama agak tinggi badannya, maju meraba bagian depan memegang belalai dan mengatakan gajah itu seperti ular. Yang kedua sedang badannya, meraba mendapati bagian kaki dan mengatakan gajah seperti pohon kelapa. Yang ketiga tinggi badannya, memegang bagian kuping dan mengatakan gajah seperti daun talas. Yang keempat paling pendek badannya, maju di bawah perut gajah tidak memegang apa-apa dan mengatakan gajah seperti udara. Yang kelima pendek tubuhnya, maju meraba bagian belakang memegang ekor dan mengatakan gajah itu seperti pecut. Tentu, pemahaman gajah sesungguhnya dari kelima orang buta ini akan berbeda bila disodorkan gambar ukiran timbul atau patung kecil seekor gajah sebelumnya.

    Seperti itulah, siapa pun yang hanya memahami satu sudut pandang cabang (ilmu) pengetahuan sebagai gambaran pemecahan suatu masalah, tanpa luasan pandang menyeluruh (ilmu) pengetahuan. Memang, merupakan hukum alam segala sesuatu yang seragam (besar sedikit jumlahnya) makin lama makin beragam (kecil banyak jumlahnya), dan pada tingkat kekacauan dibutuhkan sistem keteraturan untuk memahaminya sebagai satu kesatuan. Tetapi, nampak (hampir) mustahil (karena tenaga, waktu dan biaya terbatas) mempelajari seluruh cabang (ilmu) pengetahuan mendapatkan pemahaman luas dan dalam semesta untuk suatu masalah. Betapa beruntung dunia andai sosok kecil gambaran satu kesatuan the body of science itu ada. Gambaran rangkuman prinsip-prinsip satu kesamaaan semua hal dari sekian banyak perbedaan dalam semesta, sebuah Theory of Everything (TOE).

    JIKA Anda tahu bagaimana alam semesta ini bekerja, Anda dapat mengaturnya (Stephen William Hawking).

    Kemudian, bagaimanakah mengetahui seseorang (dan juga diri sendiri) sebenarnya tergolong buta (karena tanpa TOE) terhadap sosok (ilmu) pengetahuan dimiliki sekarang?

    Dengan sopan dan rendah hati, semua peneliti, pengajar atau siapa pun bidang apa pun harus menanyakan: Apa prinsip dasar asumsi penelitian, belajar dan mengajar (ilmu) pengetahuan yang diteliti, dimiliki atau diberikan? Jika jawaban berupa kalimat retorika atau basa-basi, mungkin ia (dan kita) tergolong masih buta tentang the body of science hal bidang ilmu pengetahuan itu.

    Lalu, apa rangkuman (kecil) prinsip dasar asumsi TOE dalam meneliti, belajar, mengajar dan mengelola ilmu pengetahuan hal apa pun?

    KETIDAKMAMPUAN seseorang untuk menjelaskan idenya secara singkat, barangkali dapat merupakan tanda bahwa dia tidak mengetahui pokok persoalan secara jelas (C. Ray Johnson).

    Ilmu pengetahuan (obyek empiris) dinyatakan benar ilmu pengetahuan selama asumsi dasar diakui, yaitu ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang teratur (systematic knowledge) (pernyataan yang diterima setelah abad XVII) (The Liang Gie, 1997:380). Tanpa asumsi dasar keyakinan adanya keteraturan ini, proses meneliti, belajar mengajar apa pun yang di bangun di atasnya hanyalah potongan-potongan pengetahuan yang tidak efektif, efesien dan produktif. Seperti pernyataan jernih ilmuwan Carl Sagan, bahwa jika kita hidup di atas sebuah planet di mana segala sesuatu tidak pernah berubah, sedikit sekali yang bisa dikerjakan. Tidak ada yang harus dibayangkan, dan tidak akan ada dorongan untuk bergerak menuju ilmu pengetahuan. Namun jika kita hidup di dalam dunia yang tidak bisa diramalkan di mana semua hal berubah secara acak atau dengan cara sangat rumit, kita juga tidak akan bisa menggambarkan semua keadaan. Di sini juga tidak ada ilmu pengetahuan. Tetapi kita hidup di dalam semesta yang berada di kedua keadaan ini. Di alam ini semua keadaan berubah, tetapi mengikuti pola, aturan, atau mengikuti yang kita katakan sebagai hukum-hukum alam.

    Lebih jelas, prinsip dasar asumsi keteraturan ini diurai Jujun S. Suriasumantri (1977:7-9) dengan baik, yaitu obyek empiris (tertentu) itu serupa dengan lainnya seperti bentuk, struktur, sifat dan lain-lain, lalu (sifat) obyek tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu (meski pasti berubah dalam waktu lama yang berbeda-beda), serta tiap gejala obyek bukan bersifat kebetulan (namun memiliki pola tetap urutan sama atau sebab akibat). Akhirnya, saya memastikan rincian prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan ini dalam TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Science, bahwa definisi ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang memiliki susunan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang teratur. (Teratur pada TQZ Scientific System of Science adalah teratur sama dalam fungsi, jumlah, urutan, kaitan, dan paduan menyeluruh di semesta meski hal berbeda apa pun). Sebuah TOE, jawaban masalah dasar dan besar yang menghantui pikiran manusia selama dua ribu tahun atau dua millennium.

    TEORI adalah sekelompok asumsi masuk akal dikemukakan untuk menjelaskan hubungan dua atau lebih fakta yang dapat diamati, menyediakan dasar mantap memperkirakan peristiwa masa depan (JAF Stoner).

    TOE penting sekali dalam meneliti, belajar mengajar dan mengelola bidang apa pun. Memecahkan suatu masalah sulit, tetapi mengenali (fenomena) masalah lebih sulit lagi. Dengan mengetahui dan memahami TOE, sangat membantu mengenali bila berhadapan atau merasakannya. Misal, seseorang telah disodorkan gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan akan lebih mudah untuk mengambil kesimpulan jika suatu saat menghadapi (fenomena) satu atau banyak masalah, meski belum pernah dikenalnya. Jadi, fungsi TOE – pada TQZ Scientific System of Science tak lain sebuah paradigma scientific imagination benchmarking sistematis, berupa metode synectic kreatif menggunakan metafora dan analogi rinci menuntun suatu usaha memilih jalur proaktif terhadap suatu hal dengan memperhatikan fakta dan kemungkinan yang telah diidentifikasi dan dileluasakan, dengan lima dasar (posisi), fase (kualitas) dan level (sempurna). Suatu mental image atau model ilmiah analogi fenomena semesta dalam bentuk keteraturan yang dapat dipahami.

    Contoh sederhana (meski sebagai TOE belum cukup teratur), jika gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan tubuh mahluk hidup sempurna memiliki kepala, dada, perut, tangan dan kaki, sedang lainnya berupa bagian tambahan tubuh. Maka, seseorang yang meyakini dan memahami keteraturan ini akan melihat persamaan fungsi tubuh pada ikan gabus, kupu-kupu, monyet, ular dan burung pipit, selain perbedaan bagian itu. Dengan prinsip dasar asumsi keteraturan itu, tubuh mahluk hidup akan lebih mudah diteliti, pelajari dan diajarkan dengan benar, bahkan terhadap mahluk hidup unik lain yang baru dilihat.

    KARYA seorang ilmuwan berlandaskan keyakinan bahwa alam pada pokoknya teratur. Bukti yang menunjang keyakinan itu dapat dilihat dengan mata telanjang bukan hanya pada pola sarang lebah atau pola kulit kerang, tetapi ilmuwan juga menemukan keteraturan pada setiap tingkat kehidupan (Henry Margenau).

    Bukti monster (ilmu) pengetahuan demikian besar, merugikan dan banyak di sekeliling. Contoh monster-monster itu, dalam seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah di mana-mana tidak menyuguh keteraturan. Misal, bahasan mencipta puisi, cara menulis, atau mendefinisikan sesuatu saja, tanpa jelas kepala, tangan, badan, perut, dan kakinya, bahkan tanpa memastikan yang dijelaskan itu adalah bagian kaki atau kepala. Atau lebih parah lagi, tidak diketahui apakah yang disajikan itu kaki, jari, atau gigi, karena jumlahnya demikian tidak tetap dan berbeda. (Perhatikan kesimpulan utama penyebab masalah dan pemecahannya bidang ilmu hal yang sama sekali pun, bisa satu, dua, tiga, empat, lima, enam, sembilan, tujuhbelas, limapuluhdua, dan seterusnya, belum lagi bicara keteraturan urutan dan kaitan antar penyebab atau antar pemecahan yang disebutkan itu). Apalagi membahas masalah mengenai cara mengatasi krisis pangan, krisis energi atau strategi keunggulan usaha (suatu organisasi, daerah, bahkan negara), pasti monster lebih mengerikan.

    Contoh nyata monster raksasa, menunjukkan belum teraturnya kelompok ilmu sebagai ilmu pengetahuan. Deobold B. Van Dalen menyatakan, dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam yang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, ilmu-ilmu sosial agak tertinggal di belakang. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa ilmu-imu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam artian yang sepenuhnya. Di pihak lain terdapat pendapat bahwa secara lambat laun ilmu-ilmu sosial akan berkembang juga meskipun tak akan mencapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu-ilmu alam. Menurut kalangan lain adalah tak dapat disangkal bahwa dewasa ini ilmu-ilmu sosial masih berada dalam tingkat yang belum dewasa. (Ilmu dalam Persfektif, Jujun S. Suriasumantri, 1977:134). Juga C.A. Van Peursen, dalam tahap perkembangan ilmu pengetahuan kemajuan bidang ilmu alam lebih besar daripada ilmu kehidupan, dan ilmu kehidupan lebih maju dari ilmu kebudayaan (Strategi Kebudayaan: 1976:184-185). Sedang di dunia akademi, berjuta-juta hasil penelitian seluruh dunia kurang berguna dan sukar maju karena berupa monster maha raksasa, tanpa TOE yang merangkai sebagai satu kesatuan the body of science.

    Akhirnya, bagaimana mungkin (manusia) siapa pun yang terlibat proses meneliti, belajar, mengajar dan menggunakan ilmu pengetahuan sepanjang hidup dapat berpikir tenang, selama prinsip dasar asumsi keteraturan (ilmu) pengetahuannya belum beres? Sebab, jika prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan yang didapat dan diberikan saja kebenarannya meragukan, maka kredibilitas kemampuan, nilai, gelar (dan status) seseorang (dan organisasi) itu pun diragukan. Karena, sebenar atau setinggi apa pun nilai memuaskan didapat dari pendidikan dengan pelajaran bahan yang buruk atau salah, tetaplah buruk atau salah, (setelah mengetahui bagaimana kebenaran suatu hal itu) sebenarnya. Dan, tanpa keteraturan TOE, penelitian dan belajar mengajar, seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah terus menghasilkan monster di mana-mana. Banyak buang tenaga, waktu dan biaya percuma. Fatal dan mengerikan.

    LEBIH baik menjadi manusia Socrates kritis yang tidak puas, daripada menjadi babi tolol yang puas (Henry Schmandt).

    BAGAIMANA strategi Anda?
    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

  48. Yudi Agustius says:

    Kalo menurut saya, tidak ada jeleknya pendidikan di manapun. yang penting qt menghasilkan sesuatu dalam diri qt sesuai kemampuan yang qt miliki. Tapi ada perbedaannya, yaitu terletak pada siapa pemimpin / pendidiknya yang mau melakukan dulu sebelum qt melakukan karena pemimpin yang baik adalah melakukan sebelum dilakukan yang lain, dan jadilah umpan bukan jadi pancingnya, karena umpan itu berani berhadapan dengan apapun lawan yang dihadapannya. contoh sederhana : mancing ikan pasti yang dilempar umpannya bukan pancingnya, begitu pula qt sbg pemimpin / pendidik, jangan memanjakan umpan qt dengan berkata kalah juga gapapa, ato ga dapat apa-apa juga gapapa (yang biasanya untuk qt ngomongnya ditengan jalan),kalau sampai akhir kalah, qt rebut kesempatan yang berikutnya, kalah-rebut, kalah-rebut,gitu seterusnya.APA YANG DIMULAI HARUS DISELESAIKAN. TIDAK ADA ORANG YANG GAGAL / KALAH, YANG ADA ORANG YANG BERHENTI SEBELUM BERHASIL.

  49. Pdt Masada Sinukaban says:

    Salam Sejahtera, Mungkin kalau dilakukan penelitian, Alumni UKSW tahun 2000an tidaklah seperti ….. maaf, alumni UKSW yang dulu 80-90an, bila dilihat dari mutu pendidikannya. Mengapa Saya katakan demikian?? Mungkin hal ini disebabkan Oleh Sistem Pendidikan yang Trimester (Catur Wulan) Mahasiswa-mahasiswi memang cepat Mendapat Gelar S1 atau S2 tapi Ilmu Pengetahuannya tidak mendalam (kalau bisa saya sebut Instan)!! Coba anda lihat 3,5 tahun sudah bisa mendapat Gelar Sarjana ada apa itu???, padahal kalau dulu 7-8 tahun Saja selesai Kuliah dapat S I itu sudah dikatakan Cepat!!! Pada Tahun 1980an dan 1990an. Nah, mungkin UKSW perlu kembali Merenung dan mengkaji ulang Sistem Trimester ini. Jangan nanti kita mencetak Sarjana-sarjana Instan yang tak ber Bobot dan Bermental Kerupuk (tidak tahan banting he, he, he kayak Mie Istant aja??) Ok , Salam Damai GBU

  50. Neil Rupidara says:

    @Pdt. Sinukaban, keluhan turunnya mutu lulusan misalnya di FE UKSW telah disampaikan oleh sejumlah rekan saya, para alumni FE sendiri ketika FE masih berjalan dengan pola semester. Bagaimana ini? Jika saya tangkap benar, inti pendapat Anda ada benarnya yakni dalam konteks kematangan akademik, dalam korelasinya dengan waktu menempuh pendidikan (yang proporsional). Namun, apakah itu = masa menyelesaikan sarjana atau di luar negeri itu bachelor harus seperti zaman dulu, 7-8 tahun? Tunggu dulu. Saya bandingkan saja, di Australia untuk bachelor, hanya ditempuh dengan 3 tahun. Mereka yang mau tambah gelar (honors program), bisa tambah 1 tahun. Di Amerika, program setara ditempuh 4 tahun. Di Australia, saat ini, dengan diadopsinya model thesis by publication, program doktorpun bahkan bisa ditempuh di bawah 3 tahun!!! Apakah kurang berbobot? Ya, silahkan diuji saja nantinya sama orang2nya he he he… note: seorang teman saya di Dept Akuntansi dan Keuangan rasanya akan menyelesaikannya di bawah 3 tahun. Kalau saya mana mau di bawah tiga tahun, kalau bisa full 3.5-4 tahun untuk bisa menikmati iklim akademik di negara orang yang jelas sangat berbeda dengan di negeri sendiri. Tapi, nanti Pdt. Sinukaban membandingkan lagi dengan zaman dulu di mana orang tempuh program doktor bisa sampai 10 tahun. Wah bisa berabe!!!

    Perhatikan baik-baik seluruh argumen di belakang proposal pola trimester. Jadi bukan soal trimester yang dilihat hanya sebagai 3 semester satu tahun itu saja dan yang karenanya bisa berujung kuliah lebih cepat. Karena kalau urusannya cuma kuliah lebih cepat, dengan pola semester pun sudah cukup banyak mahasiswa lulus dalam rentang 3 tahun atau lebih rendah dari 4 tahun (cek di Suara Merdeka apa yang terjadi di Unika Soegijapranata). Dulu di zaman S1 166 sks pun ada seorang kakak angkatan saya lulus 3 tahun, dengan IPK tertinggi dan itupun plus selama bermahasiswa jadi asisten dosen. Jadi jelas dengan fakta seperti ini, pendapat Anda bisa gugur dengan sendirinya. Jadi, trimester yang diinginkan adalah yang dijalankan dengan proses belajar mengajar PBM) yang lebih baik, karena beban per term/semesternya yang menjadi lebih rendah itu dimanfaatkan dengan memraktikkan pola pendidikan yang ‘lebih benar’.

    Karena itu, proposal saya adalah, melengkapi model trimester, terjadi pula perombakan kurikulum (untuk bisa capai sekitar 4 mata kuliah per term) serta perubahan orientasi dan praktik pedagogis agar PBM yang student-centred dan research-based (plus-plus, perbaikan juga pada sarana-prasarana dan iklim akademik yang menunjang). Tolong baca lebih lanjut tentang apa yang di teks tulisan saya itu dengan deep-learning (cek via internet misalnya). Saya berani ‘bertaruh’ (bukan mau berjudi) bahwa dengan beguty, secara umum maupun khusus, hasilnya akan jauh lebih baik dan memenuhi harapan Pdt. Sinukaban, karena itu bukan proses yang instan, tetapi justru proporsional dan berbobot karena yang dibangun adalah knowledge and understanding yang kritis, bukan para penghafal yang pengetahuannya tipis dan sebentar lagi pengetahuan itu terhapus begitu ‘angin ribut’ melanda (bandingkan dengan perumpamaan membangun rumah di atas pasir).

    @Judi, misi pendidikan itu pada prinsipnya baik, tetapi kalau sempat, baca literatur pendidikan, misalnya yang ditulis oleh pendidik2 kritis seperti Freire untuk menemukan bahwa tidak selalu semuanya baik seperti maunya. Mis-edukasi bisa terjadi dalam suatu sistem pendidikan (judul sebuah buku dengan membawa nama Noam Chomsky). Karena itu, misi pendidikan yang baik itu akan lebih baik jika ……..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *