Waktu Purba Sonya

Browse By

Gadis itu cantik parasnya dan cukup manja. Aku pertama kali melihatnya di gereja. Ya, Sabtu sore itu aku melihatnya saat misa. Aku satu bangku dengannya. Kami saling bertatapan dan melemparkan senyuman. Ada yang terhentak dalam diriku saat senyum manisnya menyembul dari bibir tipisnya disertai lesung di pipinya. Tidak seperti biasanya, seusai misa aku lantas memburu nomor HP-nya dengan bertanya kepada beberapa pemuda. Aku berhasil mendapatkan nomor HP-nya. Gadis remaja itu bernama Sonya. Ia sekolah di sebuah SMU swasta di Yogyakarta. Ia duduk di bangku kelas tiga. Ternyata, ia sekampung denganku.

.

Aku sungguh merasa terasing di kampung kelahiranku sendiri sehingga aku tidak mengenal gadis itu. Tapi wajar saja, sejak lulus SD aku sudah pergi merantau ikut orang tua yang pindah tugas ke Jakarta. Aku kembali ke kampung halamanku karena aku pindah kuliah dari Jakarta ke Yogyakarta. Aku tinggal bersama kakek dan nenekku di Yogyakarta demi kuliahku.

Beberapa minggu telah berlalu, aku dan Sonya sudah mulai akrab meski hanya lewat SMS. Aku mengajaknya jalan-jalan untuk mengenalnya lebih jauh. Karena kesulitan mencari alasan untuk meyakinkan orang tuanya maka kami sepakat berziarah ke Gua Kerep di Ambarawa. Akhirnya, orang tuanya pun memberi ijin. Entah mengapa seminggu kemudian ia mengungkapkan rasa cinta dan sayangnya kepadaku. Aku tidak mempersoalkan dia yang nembak duluan. Jaman toh terus maju dan itu wajar-wajar saja, pikirku. Lebih dari itu, ternyata aku juga menyayanginya.

Kami berpacaran. Tapi entah mengapa setiap kali kami jalan berduaan, selalu saja ada orang-orang sekampung kami yang terus mencibir kami. Hingga suatu sore datang beberapa pemuda ke rumahku.

“Maaf, Mas Darman, kami ini sebenarnya sudah lama ingin ngomong sesuatu pada Mas Darman. Tapi kami kok baru hari ini kesampaian,” ungkap Markus teman kecilku dan kali ini tampak beda dari biasanya. Ia lebih sopan dan tampak sungkan.

“Bicara saja to, Kus, kayak dengan siapa saja pakai minta maaf segala.”

“Bukan begitu, Mas Darman. Ini sangat penting dan baik untuk Mas Darman.“

Aku terdiam sambil mencoba menerka-nerka arah pembicaraan Markus. Tidak seperti biasanya Markus seserius ini, pikirku. Belum selesai kutemukan kira-kira arah pembicaraan Markus dan teman-temannya ini, ia sudah mulai angkat bicara.

“Mas Darman, bukannya kami mencampuri urusan pribadi Mas Darman. Kenapa sih Mas Darman kok mau-maunya pacaran dengan Sonya? Apa Mas Darman tidak kenal dia?“

Aku terperanjat. Aku tidak menyangka Markus akan berkata begitu. Aku memang belum tahu banyak hal tentang Sonya dan masa lalunya. Tapi kata-kata Markus dan teman-temannya sore itu mengejutkan diriku. Terlebih, kata-kata terakhir Markus itu membuatku terpukul. Berhari-hari lamanya aku tidak bisa tidur pulas. Setiap SMS yang dikirim Sonya hanya aku balas seperlunya.

Selepas SMP, Sonya ternyata sudah pernah tunangan. Tunangan itu digagalkan karena belakangan calon suaminya diketahui sudah punya anak. Soal tunangan itu tentu tidak begitu membuatku terpukul. Justru ada kata-kata terakhir Markus yang membuatkan lemas tak berdaya yaitu berita buruk bahwa Sonya sudah tidak perawan lagi dan sudah sering tidur bersama calon suaminya itu. Pikiranku semakin kacau dan semrawut setelah kakek dan nenekku juga mengiyakan kata-kata Markus dan teman-temannya.

Aku menjadi pemurung dan suka menyendiri. Aku memang mencintai Sonya, tapi aku juga tak berdaya mendengarkan semuanya ini. Setiap kali bertemu Sonya aku lebih banyak diam. Ingin kuutarakan perasaanku, tapi aku merasa sulit untuk memulainya.

***

Aku butuh kejujurannya. Tapi selalu saja ia menyangkal apa yang dikatakan orang-orang. Setiap waktu ia terdiam, lalu tersenyum. Semburat sudut matanya mengabadikan gelombang rasa dari waktu purba. Luka yang tertahan. Kepedihan yang tersembunyi jauh di dasar lubuk hati yang tak seorang pun mampu menyelaminya. Di situ gerhana terus menjelma. Kata-kata dan senyum itu terlalu riuh, mengalir selayak hujan salju dan telah menjelma kedok. Seperti angin yang tak bertepi, terus berpendar berusaha melupakan jejak, begitulah sayat yang terurai.

Setiap puncak menara tak mampu menampung geliat selaksa puisi malam dan entah sampai kapan dia akan menipu diri dalam urai panas bergelora. Meracaki maut dan aroma badai. Melumatkan bau kebencian di jalan-jalan, di sudut temaram lampu-lampu jalan dan di bias tirai malam saat menamatkan masa lajangnya.

“Duduklah di sudut bias embun pagi. Bersikaplah jujur dan terbuka,” pintaku. “Mengapa sepertinya engkau harus lari dari waktu purba dan membiarkan bayang-bayang itu terus memburumu. Melukisi harianmu dengan rasa suram tertahan adalah membiarkan setiap gegas keindahan lewat begitu saja dari hadapanmu. Setiap orang punya masa lalu. Setiap jejak yang tertinggal telah menemukan jalannya sendiri. Lembaran waktu purba adalah titik-titik hitam dan putih; gelap dan terang. Tak ada jalan yang menuju rumahmu tanpa kelokan karena setiap sembunyi telah memiliki jawaban.”

“Aku butuh kejujuranmu, Sonya. Kita sudah berpacaran selama satu tahun. Kenapa selama ini kamu selalu menyangkal apa yang dikatakan orang-orang. Aku butuh kejujuranmu karena aku bermaksud memperistri dirimu,” ungkapku jujur pada suatu sore yang lain di halaman rumahnya. Sonya hanya terdiam. Ia menangis dan sejurus kemudian aku memeluknya. Keberanianku muncul karena seorang pastur menyarankanku agar menanyakan keganjilan-keganjilan dari pasangan sebelum menikahinya. Menurut pastur, menikah itu hanya sekali dan seumur hidup.

“Sonya, maafkan aku. Selama ini kamu selalu bilang bahwa kamu masih perawan dan belum melakukan hubungan intim dengan tunanganmu. Aku ingin kamu sekarang bersumpah, kalau kamu benar-benar belum melakukan hubungan intim layaknya suami-istri. Bersumpahlah! Kalau kamu berbohong maka orang-orang yang kamu cintai akan mati lebih dulu daripada kamu. Orang-orang yang kamu cintai yaitu pacarmu, orangtuamu dan juga anak-anakmu nanti,“ pintaku lirih dan menatap wajahnya yang terus dibanjiri air mata.

Sonya terus menangis dan menundukkan kepalanya. Aku sendiri sudah mempersiapkan batinku untuk menerima pengakuan Sonya bahwa ia memang sudah tidak perawan lagi. Dengan terbata-bata ia berkata bahwa ia tidak berani bersumpah. Aku mulai menghela nafas. Sore itu ia berkata jujur bahwa ia telah melakukan hubungan intim dengan tunangannya sebelum diresmikan secara gerejawi dan sakramen di hadapan pastur dan saksi. Mendengar pengakuan Sonya aku tersentak. Lidahku kelu. Dadaku sesak dan kepalaku menjadi pening. Aku tak kuasa mendengar pengakuan Sonya. Aku hanya manusia biasa.

“Kenapa kamu selama ini membohongiku!” selaku histeris dan sejurus kemudian menghempaskan pelukanku. Aku seperti kesurupan. Aku ternyata tidak bisa begitu saja menerima kejujuran Sonya. Aku menghidupkan sepeda motorku dan ngebut tanpa tujuan. Aku merasa dibohongi selama ini. Kalau saja Sonya mau jujur sejak perkenalan pertama kali, hatiku mungkin tidak akan sesakit dan separah ini.

Untuk beberapa hari kami tidak saling kontak. Aku masih terpukul. SMS terakhir Sonya mengatakan bahwa ia sudah pasrah dengan hubungan kami. Ia mengatakan pula bahwa ia tidak pantas untukku. Ia juga meminta maaf karena selama ini membohongiku. Ia merasa belum menemukan waktu yang tepat untuk mengatakannya.

***

Aku duduk di beranda. Masuklah ke dalam, Sonya! Di luar orang-orang mulai mengigau dan tak pedulikan genangan air matamu yang telah membibir itu. Selama angin masih membelaimu, kenangkanlah bahwa kita hanya seonggok sampah yang terus mengerti makna perjalanan ini. Biarlah orang-orang menebar badai lalu menguncinya di daun pintu. Amarah yang kau pendam tak akan menebarkan segerombolan penari dari selatan. Deburnya akan tetap mendarat di kening dan pada kata-kata yang bercabang seperti lidah ular.

Selayak musim yang terus berganti, kata-kata akan berubah seiring baju yang berganti dalam hitungan waktu dan hari. Mengertilah bahwa setiap kali ada titik hitam pada lembaran kain kafan yang putih itu. Kenangkanlah perjalanan ke depan. Setiap jejak selalu tertinggal di belakang punggung. Harapan selalu datang dan terpenuhi, atau kadang pergi juga bersama kawanan bangau menuju matahari terbenam.

Seusai keinginan yang tergapai, ada langkah ke depan. Setiap jejak yang tertinggal tak jarang meninggalkan amarah dan dendam. Tapi, masuklah segera ke dalam! Di luar hanya ada gempuran amarah. Duduklah di tungku rumah kita dan bakarlah dendam dan amarah itu di baranya. Setiap kebusukan telah mendapatkan tempatnya dalam genangan angkara murka, entah kapan datangnya. Setiap kebohongan yang terungkap akan didatangi seribu pedang yang akan menghujamnya dan membawanya sampai ke kematian. Terkutuk sampai keturunannya. Duduklah segera di sisiku, kenangkan timangan ibumu yang tak akan pernah kau gadaikan itu.

Waktu terus berlalu. Semua ini adalah catatan waktu purba Sonya 30 tahun yang lalu bersamaku. Kami akhirnya menikah di gereja dimana kami bertemu untuk pertama kalinya. Kami kini memiliki dua orang anak: satu putri dan satu putra. Kami bahagia. Kami hanya yakin bahwa sebaik-baiknya orang pasti ada sisi keburukannya dan seburuk-buruknya orang pasti punya juga sisi kebaikan. Itulah yang kami pegang dan kami hidup bahagia. Aku menerima Sonya apa adanya. Ia tidak perawan karena kebejatan tunangan yang memaksanya. Ia tidak pernah rela menyerahkan keperawanannya sebelum pernikahan. Bagiku, ia masih tetap gadis perawan.

Gendhotwukir, penyair dan jurnalis dari Komunitas Merapi

13 thoughts on “Waktu Purba Sonya”

  1. Triyono says:

    Pro Gendhot, dapat salam dari Stevi Sundah dan Sigit Susanto (Swiss).

    salam, Edittor

  2. STR says:

    Gendhotwukir,

    Thanks buat cerpennya. Anda lah yang pertama mengisi kolom Sastra di Scientiarum Online ini.

  3. Gendhotwukir says:

    masya auloh aku tidak sempat ketemu, Bung triyono sempat kumpul-kumpul to? ya syukur
    Thanks STR maju terus Scientiarum

  4. Triyono says:

    iya bung, hari minggu lalu di Boja.

    sukses ya….

  5. Yodie Hardiyan says:

    tulisannya asik, jadi teman berkhayal,..hahahaha

    apalagi pas kata2…. “Kenapa kamu selama ini membohongiku!”

    30 tahun yang lalu tuh udah jamannya es-em-esan ya? waduh

  6. andi-dobleh says:

    Cerita yang menarik mas… mengalir dengan lancar..

    cuma jadi shock liat paragraf terakhir! setting waktunya ternyata 30 tahun yang lalu! lha kok udah minta-minta nomor Hape??!!

    tapi itu masuk dalam kebabasan pengarang yah?? cuma kaget aja, hehehehe…..

  7. Gendhotwukir says:

    Secara logika mungkin jelek. Tapi cerita aktual yang diperkirakan untuk 30 tahun ke depan he he he he

  8. Saam Fredy says:

    Dalam karya seni, kadang logika tidak dimainkan. Penyair/Seniman dengan bebas bekarya untuk mengekspresikan dirinya. Itu sebenarnya bukan hal yang bermasalah, karena kadang masyarakat umum melihat dari sisi yang berbeda. Jika satu karya itu dipajang di etalase publik dan tidak dihargai oleh komunitas, bukan berarti komunitas tersebut tidak mengerti tentang seni. Itu realitas yang harus diamini. Sebenarnya yang patut disadari, bahwa kalau memang karya seni itu merupakan ekspresi sang seniman, saya pikir cukuplah seniman itu mengapresiasinya.

    salam,
    saam fredy

  9. @!n!@ says:

    lam kenal,,,
    ide ceritanya tak terduga. menggelitik,,,

  10. adi says:

    Heem masa 30 tahun lalu???????
    Tapi good2 lah

  11. thamrin says:

    hihi…malu kali kalo blg pake surat, kan pasti di baca krg serasa ketinggalan jaman

  12. saprol says:

    emm coba kalu critanya dibikin agak jadul,,masih jamannya pake suratmenyurat,,mungkin lebih seru n romantis,,:”)

  13. Viona Alamanda says:

    perfecttoo !!#____________________________#

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *