Membedah “Hari Kesia-siaan UKSW”

Browse By

Wacana dalam pengertian analisis isi adalah retorika yang dipakai dalam kerangka memengaruhi pikiran publik. Dalam bahasa politik, wacana juga mengandung unsur kekuasaan yang coba dipaksakan. Bukan secara fisik, tetapi pada tataran mental individu maupun kelompok secara persuasif dan argumentatif. Sehingga, wacana tidak sekadar dimaknai sebagai penyampaian pesan ataupun menginformasikan pengetahuan. Lebih dari itu, wacana memberikan pesan kekuasaan dari yang berkuasa kepada yang dikuasai.

Soal selanjutnya, jika wacana adalah retorika, yang perlu diingatkan kepada khalayak adalah kesadarannya. Dalam konteks kesadaran (kritis), pembaca seharusnya mampu memahami, bahwa dibalik retorika tersimpan kepentingan yang mengindikasikan tentang kekuasaan, ataupun upaya-upaya yang mendorong pembaca untuk dapat mengambil sikap. Kesadaran mengambil jarak oleh pembaca pada wacana, harusnya terjadi jika kepentingan yang muncul pada wacana itu adalah kepentingan golongan tertentu, kelompok, ataupun individu tertentu.

Pertanyaannya adalah, bagaimana jika wacana yang dilontarkan berkaitan dengan kepentingan bersama? Sejauh mana pembaca digugah, untuk terlibat aktif sebagai pelaku wacana itu sendiri, dan bukan pasif (hanya sekadar pembaca)? Pertanyaan lanjutannya adalah sejauh mana wacana yang dilontarkan adalah wacana yang menyangkut kepentingan bersama? Artinya, sejauh mana pembaca menjadi kritis, bahwa dibalik retorika yang disampaikan adalah benar-benar murni kepentingan bersama, atau hanya jebakan-jebakan puitis yang dirangkai dalam kata demi kata, sehingga terlihat seakan-akan yang diwacanakan adalah kepentingan bersama, padahal hanya mewakili kelompok tertentu?

Judul “Hari Kesia-siaan UKSW” sengaja ditulis oleh Satria Anandita untuk tulisannya (sebelum dikritik, Satria pernah memberi judul “Hari Kegoblokan UKSW,” tetapi tidak jelas pencerahan seperti apa yang ditujukan kepada Satria sehingga dia memutuskan mengubah kata “kegoblokan” dengan “kesia-siaan”). Bagi Satria, perdebatan melalui sarasehan yang diadakan oleh BPMU antara mantan rektor UKSW, Prof. John Titaley, dengan pimpinan universitas saat ini (waktu itu yang hadir Prof. Daniel Kameo selaku WR I dan Harijono selaku WR II) ataupun BMPU selaku pelaksana sarasehan adalah kesia-siaan.

Secara argumentatif, tulisan ini mengarahkan pembaca bahwa perdebatan tentang sistem perkuliahan mana yang lebih baik, seharusnya diserahkan pada wilayah otonom fakultas. Artinya, fakultaslah yang lebih memahami persoalan dan kebutuhan internalnya, sehingga biarkan fakultas diberikan wewenang untuk mengatur.

Sedangkan kata “kesia-siaan” itu sendiri, menurut Satria, dari pihak mantan pimpinan universitas, pimpinan universitas saat ini, maupun BPMU melakukan sesuatu yang tidak ada hasilnya. Karena, sementara perdebatan itu terjadi, pengesahan tentang pemberlakuan dua sistem perkuliahan di UKSW sudah terlanjur diputuskan. Pada bagian akhir tulisannya, kesia-siaan itu juga ditujukan pada dirinya sendiri. Bagi Satria, dia juga telah menghabiskan waktu dan menguras energi untuk menulis hal yang sia-sia.

Dalam pengamatan sekilas, tulisan ini seakan-akan heroik dan benar-benar memihak pada mahasiswa sebagai subjek pemberlakuan sistem. Tetapi pada telaah yang lebih kritis dan fakta-fakta yang dibuka saat sarasehan itu, tulisan ini dibuat seakan-akan mengalihkan pembaca dan sengaja menutupi segala bentuk pelanggaran yang telah dilakukan oleh pimpinan UKSW saat ini maupun pimpinan YPTKSW.

Mengapa tidak? Meskipun dia benar secara retorika bahwa ini adalah kesia-siaan karena sarasehan itu diadakan terlambat karena telah berlakunya dua sistem perkuliahan di UKSW, tetapi keputusan untuk pemberlakuan dua sistem perkuliahan adalah pelanggaran terhadap keputusan. Sebab, hasil terakhir keputusan YPTKSW adalah bahwa universitas ini tetap berjalan dengan sistem perkuliahan trimester.

Berikutnya adalah dalam pemahaman sebagai komunitas ilmiah yang berlandaskan pada asas rasionalitas dan empirikal adalah lebih mudah diterima oleh komunitas (baca: dosen dan mahasiswa), jika keputusan-keputusan yang dibuat oleh pimpinan universitas juga berdasar pada landasan-landasan yang filosofis dan berakar pada masalah.

Pada perdebatan saat itu, pertanyaan Prof. John Titaley tentang alasan pimpinan universitas saat ini untuk kembali lagi ke sistem perkuliahan semester tidak dijawab secara filosofis, baik oleh Prof. Daniel Kameo maupun Harijono.

Hal ini dilakukan karena ini adalah pergumulan dosen maupun mahasiswa, atau dapat disebut pergumulan pendidikan di Satya Wacana. Ini yang kemudian tidak mampu dijelaskan baik oleh WR I maupun WR II. Bantahan yang kemudian dilakukan oleh Satria dalam kerangka pembelaannya terhadap pimpinan saat ini hanyalah bantahan pada persoalan administratif dimana terjadi pelanggaran pengambilan total SKS, yang seharusnya maksimumnya adalah 12 SKS kemudian bisa menjadi 16 SKS ataupun 18 SKS.

Pertanyaan saya dalam kerangka melakukan telaah kritis terhadap bantahan tadi adalah: (1) bagaimana mungkin mengatakan sistem ini harus berjalan maksimal dan tanpa masalah, sedangkan ini adalah sistem baru dan baru saja berlaku? Artinya, untuk sesuatu yang baru dari hal yang asing, benarkah tidak ada kesalahan sama sekali dalam penggunaan hal itu? (2) apakah Satria juga tidak menyadari bahwa kekeliruan ataupun pelanggaran semacam ini bisa saja dibuat oleh fakultas (yang dalam pemahaman Satria seharusnya otonom) melakukan kecurangan-kecurangan terhadap aturan sistem yang sudah diberlakukan? (3) bahwa kecurangan itu bisa saja terjadi karena seringnya ada memo dari fakultas yang ditujukan kepada administrator ketika registrasi mata kuliah dibuka (SIASAT) untuk mengijinkan mahasiswa mengambil jumlah yang melebihi kapasitas yang disepakati? (4) ataukah pengambilan beban melebihi kapasitas yang disepakati bisa saja terjadi karena kelalaian administrator yang masih memakai acuan pengambilan jumlah SKS dengan mengacu pada IPK mahasiswa? Itu artinya, bahwa pada tataran tertentu, saya setuju dengan Satria yang mengatakan bahwa tidak ada klaim, apakah sistem ini lebih baik daripada sistem itu. Tetapi paling tidak, pemilihan sistem pendidikan tetap harus berdasarkan pada asas persekutuan ilmiah yang mengedepankan pengalaman empirik dan rasional.

Pada telaah inilah, bagi saya, Satria menyembunyikan beberapa fakta yang juga seharusnya dibuka secara jujur kepada pembaca, sehingga keberpihakannya adalah benar-benar kepada mahasiswa sebagai subjek pemberlakuan sistem.

Di sinilah kemudian bagi saya, bahwa dengan kesan benar-benar memihak pada kepentingan mahasiswa dan kemudian berretorika bahwa baik mantan pimpinan universitas maupun pimpinan universitas saat ini, moderator bahkan rektor dan juga BPMU melakukan kesia-siaan, Satria tetap saja mewakili kelompok tertentu; dan kelompok itu adalah kelompok yang tidak sungguh-sungguh berpikir tentang pergumulan dasar pendidikan tinggi. Ini karena Satria tidak secara jujur membuka semua fakta yang dibeberkan di sarasehan waktu itu.

Sehingga, dalam kesadaran kritis semacam inilah, pembaca seharusnya menjadi sadar bahwa opini tetap saja dibuat dalam kerangka memengaruhi khalayak tentang siapa atau apa yang lebih baik.

Terakhir, untuk Satria, maaf. Bagi saya, memilih gaya makan adalah soal selera, dan karena itu selera tidak akan pernah bisa diperdebatkan. Tetapi pendidikan adalah pencerahan dalam rangka pembebasan, sehingga tanpa ada alasan rasional dan empirikal dari sebuah pergumulan tentang pendidikan secara mendasar, menyeluruh, dan sungguh-sungguh, jelas kita tetap akan menjadi budak yang selalu disuruh menjadi patuh. Walaupun mungkin tidak masuk akal.

Pada akhirnya, pemilihan sistem penyelenggaran perkuliahan hanya merupakan putusan-putusan manajerial atas sebuah pergumulan mendasar dan menyeluruh tentang pendidikan itu sendiri. Tetapi, tetap saja pergumulan itu harus diletakkan dalam sebuah sistem yang terrencana dan terarah demi ideal pendidikan di atas, yaitu pembebasan dan pencerahan manusia.

Pada akhir tulisan ini, sekali lagi saya menegaskan, bahwa opini dibuat dalam kerangka mempengaruhi pendapat publik untuk mengambil sikap tertentu. Tetapi yang perlu disadari adalah, opini tetap opini dan belum tentu kebenaran, sehingga penelusuran fakta maupun realitas dibalik fakta penting dilakukan oleh pembaca dalam kerangka mengembangkan pikiran-pikiran kritisnya atas sebuah opini, demi pengungkapan kebenaran.

Onesimus Hihika, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

7 thoughts on “Membedah “Hari Kesia-siaan UKSW””

  1. STR says:

    Untuk Onesimus,

    (sebelum dikritik, Satria pernah memberi judul “Hari Kegoblokan UKSW,” tetapi tidak jelas pencerahan seperti apa yang ditujukan kepada Satria sehingga dia memutuskan mengubah kata “kegoblokan” dengan “kesia-siaan”)

    Saya kira, jika anda mengikuti komentar-komentar pada opini saya tersebut, anda tak perlu lagi berkata seperti ini. Di sana sudah ada dokumentasi alasan saya mengganti judul. Silakan dicek lagi. Saya juga menulis soal ini di blog pribadi saya.

    keputusan untuk pemberlakuan dua sistem perkuliahan adalah pelanggaran terhadap keputusan. Sebab, hasil terakhir keputusan YPTKSW adalah bahwa universitas ini tetap berjalan dengan sistem perkuliahan trimester.

    Terima kasih sudah mengingatkan saya. Saya akui, sudut pandang yang saya gunakan ketika menulis opini tersebut tak cukup luas untuk sampai pada titik ini. Polemik trimester-semester kaya sekali akan permasalahan. Dan dalam keterbatasan saya waktu itu (waktu, pikiran, dan tenaga), saya lupa untuk memperluas sudut pandang dan mengkritisi permasalahan yang satu ini. Ini jelas salah saya karena tak mampu menyediakan informasi yang komprehensif.

    Saya akan tebus kesalahan ini dengan bikin satu laporan khusus yang menyoal tingkah polah para pemimpin UKSW dalam menentukan kebijakan (tak hanya semester-trimester). Berharaplah laporan ini bisa selesai sebelum tahun akademik ini berakhir.

    (1) bagaimana mungkin mengatakan sistem ini harus berjalan maksimal dan tanpa masalah, sedangkan ini adalah sistem baru dan baru saja berlaku? Artinya, untuk sesuatu yang baru dari hal yang asing, benarkah tidak ada kesalahan sama sekali dalam penggunaan hal itu?

    Sistem tentu saja harus dijalankan dengan maksimal dan tanpa masalah. Posisi ideal ini harus senantiasa dikejar.

    Segala sesuatu (baru maupun usang, asing maupun familiar) tentu punya kesalahan, kelemahan, dan keburukan. Tapi evaluasi dan koreksi terhadap hal-hal tersebut tentu memiliki waktunya sendiri.

    UKSW ini bukan organisasi cair yang fleksibel, yang memungkinkan revisi kebijakan dilakukan kapanpun. Dia ibarat gajah yang kegemukan dan susah bergerak. Ini bukan cuma masalah formalitas birokrasi yang jadi hambatan, tapi nasib 12.000 mahasiswa juga. Apa jadinya jika revisi kebijakan dibuat terlalu sering? Instabilitas cuma akan bikin UKSW berdarah-darah.

    Sama halnya dengan laporan saya nanti. Jika memang terbukti para pemimpin UKSW suka “mengkhianati” keputusan bersama, apa mereka juga akan serta-merta dicopot? Paling-paling mereka cuma dapat SP (atau apalah saya tak tahu) dan anda masih harus mengakui legitimasi kepemimpinan mereka sampai masa jabatan mereka habis. Itu kalau mereka tak mengundurkan diri karena malu. Eh, tapi apa pemimpin UKSW sekarang pada punya malu?

    Ada waktunya jika ingin melakukan revisi kebijakan. Setidaknya, tunggulah setahun, baru evaluasi kebijakan tersebut. Dengan data empiris yang anda peroleh selama setahun tersebut, saya yakin kritik anda akan lebih keras terdengar, ketimbang hanya “opini” versus “opini.”

    Tapi, sekeras-kerasnya perjuangan anda, tetaplah bersiap untuk “ditikam dari belakang.” Tak semua (kalau tak mau dibilang tak ada) pemimpin itu gentle. Ada juga yang sukanya main kekuasaan dengan sewenang-wenang dari belakang untuk menutupi impotensi intelektualnya.

    (2) apakah Satria juga tidak menyadari bahwa kekeliruan ataupun pelanggaran semacam ini bisa saja dibuat oleh fakultas (yang dalam pemahaman Satria seharusnya otonom) melakukan kecurangan-kecurangan terhadap aturan sistem yang sudah diberlakukan? (3) bahwa kecurangan itu bisa saja terjadi karena seringnya ada memo dari fakultas yang ditujukan kepada administrator ketika registrasi mata kuliah dibuka (SIASAT) untuk mengijinkan mahasiswa mengambil jumlah yang melebihi kapasitas yang disepakati? (4) ataukah pengambilan beban melebihi kapasitas yang disepakati bisa saja terjadi karena kelalaian administrator yang masih memakai acuan pengambilan jumlah SKS dengan mengacu pada IPK mahasiswa?

    Menurut saya, otonomi fakultas semestinya cuma pada penentuan pilihan sistem. Sistem boleh dipilih beserta dengan ketentuan-ketentuan teknis (seperti jumlah SKS) yang menjadi atributnya. Dan seharusnya universitas punya mekanisme kontrol terhadap fakultas dalam menjalankan sistem agar tetap berada pada relnya. Kalau universitas tak punya kontrol dan fakultas tak mau dikontrol, ya bubar saja. Otonom bukan berarti ngawur.

    Pada telaah inilah, bagi saya, Satria menyembunyikan beberapa fakta yang juga seharusnya dibuka secara jujur kepada pembaca, sehingga keberpihakannya adalah benar-benar kepada mahasiswa sebagai subjek pemberlakuan sistem.

    Saya tak tahu atas dasar apa anda mengeluarkan pernyataan ini. Seakan-akan anda tahu apa yang menjadi pikiran saya. Saya telah katakan di atas bahwa saya lupa.

    Satria tetap saja mewakili kelompok tertentu;

    Lagi-lagi, anda seakan-akan tahu kehidupan saya.

    dan kelompok itu adalah kelompok yang tidak sungguh-sungguh berpikir tentang pergumulan dasar pendidikan tinggi.

    Sekali lagi, anda seakan-akan tahu siapa saya.

    Bagi saya, memilih gaya makan adalah soal selera, dan karena itu selera tidak akan pernah bisa diperdebatkan. Tetapi pendidikan adalah pencerahan dalam rangka pembebasan, sehingga tanpa ada alasan rasional dan empirikal dari sebuah pergumulan tentang pendidikan secara mendasar, menyeluruh, dan sungguh-sungguh, jelas kita tetap akan menjadi budak yang selalu disuruh menjadi patuh.

    Sama saja. Memilih gaya belajar juga adalah soal selera bukan? Saya sendiri suka belajar (baca: kuliah) dengan beban yang sedikit-sedikit (yah, sebenarnya belajar juga bukan beban sih kalau pendidikan di UKSW bersifat membebaskan). Tapi mungkin ada orang yang cukup “nerd” untuk belajar dengan beban tinggi. Biarkan orang itu memilih caranya sendiri. Dia lebih tahu siapa dirinya. Toh kalau memang beban tinggi tak cocok dengannya, dia pasti akan meninggalkan beban itu tanpa disuruh (apalagi didebat).

    Pada akhirnya, pemilihan sistem penyelenggaran perkuliahan hanya merupakan putusan-putusan manajerial atas sebuah pergumulan mendasar dan menyeluruh tentang pendidikan itu sendiri. Tetapi, tetap saja pergumulan itu harus diletakkan dalam sebuah sistem yang terrencana dan terarah demi ideal pendidikan di atas, yaitu pembebasan dan pencerahan manusia.

    Saya ingin katakan, pergumulan pendidikan soal pembebasan dan pencerahan tak terletak pada sistem semester-trimester. Ia justru terdapat pada ketiadaan sistem yang menyeragamkan semuanya.

    Pada akhir tulisan ini, sekali lagi saya menegaskan, bahwa opini dibuat dalam kerangka mempengaruhi pendapat publik untuk mengambil sikap tertentu. Tetapi yang perlu disadari adalah, opini tetap opini dan belum tentu kebenaran, sehingga penelusuran fakta maupun realitas dibalik fakta penting dilakukan oleh pembaca dalam kerangka mengembangkan pikiran-pikiran kritisnya atas sebuah opini, demi pengungkapan kebenaran.

    Ya, memang. Terima kasih sudah mengedukasi para pembaca Scientiarum. 🙂

    Salam,
    Satria Anandita

  2. onesimus hihika says:

    trimakasih mas satria atas catatan2nya…
    pertama, saya pernah membaca di Scientiarum.com tentang kata “kegoblokan” tapi kemudian terbit dan berubah menjadi “kesia-siaan” sungguh saya tidak tahu apa yang menjadi pertimbangan anda.
    kedua, bahwa ketika pernyataan saya yang mengatakan anda menyembunyikan sesuatu dan melakukan keberpihakan karena sekali lagi itu dipicu pada pendapat saya diatas sebelumnya, dimana andapun mengakui mungkin persoalan sudut pandang yang tidak cukup luas, dan polemik yang begitu banyak soal pemberlakuan sistem perkuliahan ini. sehingga ketika hanya beberapa fakta yang anda coba munculkan, pada titik itulah yang mencoba menangkap dan menterjemahkan dalam bahasa saya seperti itu. dan dalam perenungan saya, saya masih tetap percaya bahwa bahasa kita juga mengindikasikan siapa kita. artinya apa yang kita ucapkan dan kita tulis juga adalah gambaran tentang siapa kita dan kemana ideologi kita, dan pada siapa keberpihakan itu kita bangun
    pada bagian otonom fakultas, saya setuju dengan anda….tetapi sekali lagi bukan penyeragaman yang saya maksudkan, melainkan pergumulan yang sungguh-sungguh akan pendidikan yang membebaskan dan mencerahkan. dan ini sangat ditentukan oleh cara pandang pemimpin ataupun petinggi2 universitas ini tentang siapakah manusia???
    terimakasih banyak atas masukan dan kritik yang membangun anda…..

  3. Neil Rupidara says:

    @Ones: Rasanya lebih critical sekarang untuk melangkah lebih jauh untuk mengevaluasi praktik2 belajar mengajar di UKSW secara kritis dan kemudian mengajukan konsepsi baru tentang bagaimana seharusnya ia dijalankan untuk meningkatkan pembelajaran mahasiswa pada isu konten maupun meningkatkan intellectual skills rata-rata mahasiswa. Apa yang sudah dilakukan Ones (juga STR dan teman2 yang aktif di SA) adalah contoh yang sangat baik bagi kemampuan berpikir kritis pada diri mahasiswa, melakukan kritik atas teks/wacana. Tentu tantangan berikutnya adalah mendorong munculnya pemikiran kreatif untuk mencari “apa solusinya”. Saya yakin PBM yang demikian juga dengan sendirinya akan mendorong ketrampilan menyintesis pandangan2. Apakah PBM kita di UKSW secara rata-rata sudah demikian? Jika masih ada yang belum, bagaimana cara penyebarluasan praktik2 baik (good practices)? Environment dan pengorganisasian macam apa yang memungkinkan berpraktiknya PBM yang seperti itu?

    @STR: Bisakah SA melakukan critical observations dan beberapa in-depth interviews pada dosen dan mahasiswa soal praktik PBM kita? Di samping bisa dimuat dalam ulasan berita atau maupun bentuk tulisan lain di SA, bisa jadi bahan itu menjadi satu sumber diskusi pakar seperti yang saya usulkan tempo hari. Jika mau dipublikasikan ke jalur publikasi ilmiah pun ok. Saya siap menjadi partner untuk publikasi itu ataupun sekedar teman tukar pikiran.

  4. ones says:

    trimakasih atas masukan-masukan om neil yang sangat membangun…paling tidak ini rangsangan untuk melihat lebih serius dan mengerucut lagi pergumulan-pergumulan pendidikan tinggi secara khusus di Satya Wacana…
    saya pikir saat ini yang mnarik adalah bagaimana kemudian melihat proses pemberlakuan sistem pengayaan di Satya Wacana dengan janji jaminan mutu, dan mengembangkan soft skill tapi kelihatannya jauh skali dari janji itu..usul saya untuk teman2 yang lain jika memang kemudian ini adalah hal serius mari kita lakukan penelitian mendalam, berangkat dari aspek filosofis kemudian kita bisa tinjau sama-sama bagaimana praktek pendidikan kita di UKSW ini

  5. dian ade permana says:

    kurasa..memang saatnya kita harus memperdebatkan segala sesuatu yang bisa didebatkan..dan apakah “kesia-siaan” itu adalah suatu “kegoblokan” atau “kegoblokan” itu adalah suatu “kesia-siaan.” bukankah tidak ada ukuran yang pasti tentang goblok dan sia-sia?
    seperti ketika kita menggunakan “kasih” sebagai dasar pijakan?
    pergulatan tentang trimester atau semester memang diperlukan untuk KEMBALI MENDEWASAKAN garba ilmiah kita agar tidak menjadi UNIVERSITAS KRISTEN SEKEDAR WACANA.

    teruslah berwacana dengan kegoblokan yang sia-sia..

    pertanyaan selanjutnya..trimester atau semester itu mau dijadikan alat atau tujuan?
    atau profil lulusan macam apa yang akan “terbentuk” atau “dibentuk” dengan sistem-sistem tersebut?

    anda mau jadi seperti apa?

    dian ade permana
    > pernah masuk kuliah di fis dan keluar dari fisipol uksw

  6. ones says:

    untuk mas ade…
    saya kira pertanyaan ini mas ade renungkan saja….

  7. STR says:

    @ Neil: Oke, rikuesnya saya masukkan ke bulk dulu untuk rapat redaksi besok siang. Nanti kontak via email saja. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *