Hingga hari ini perbaikan situs web resmi UKSW (www.uksw.edu) belum juga selesai. BTSI (Biro Teknologi dan Sistem Informasi) masih “berkutat” dengan perbaikan server. Padahal, desain dan aplikasi penggerak situs yang baru telah siap sejak kemarin.
“Tinggal upload, tapi nunggu servernya beres dulu,” kata Fredrik L. Ndjurumana, staf BTSI yang bertanggungjawab atas www.uksw.edu.
Lambannya perbaikan situs UKSW memang memprihatinkan. Seminggu lebih telah berlalu, namun hasilnya belum muncul juga. Padahal, dunia TI (teknologi informasi) adalah dunia yang bergerak sangat cepat. Tiap detik bernilai.
“Dugaan saya, UKSW tidak punya blueprint untuk pengembangan TI di kampus,” kata Johan Tambotoh, dosen sistem informasi FTI UKSW.
Menurut Tambotoh, jika UKSW memang punya cetak biru (blueprint) untuk pengembangan TI, seharusnya proteksi terhadap server telah ada sejak awal. Proses perbaikan, jika ada kerusakan, pun tak perlu memakan waktu sedemikian lama.
“Gimana caranya mau masuk Webometrics kalau kondisinya seperti ini,” tambah Tambotoh.
Webometrics adalah sebuah sistem perangkingan universitas dengan reputasi internasional yang berbasis di Spanyol. Parameter yang dinilai adalah aktivitas kehidupan akademik yang terpublikasi pada situs web resmi masing-masing universitas.
Sejak 2004, Webometrics telah menganalisa sekitar 13.000 situs web resmi universitas-universitas sedunia dan merangking 5.000 yang terbaik. Hasil rangking ini diperbarui dua kali setahun, yakni pada Januari dan Juli.
Pada Januari 2008, yang menempati peringkat pertama dunia adalah MIT (Massachusetts Institute of Technology), yang disusul kemudian oleh Stanford University dan Harvard University di peringkat kedua dan ketiga. Situs www.uksw.edu telah terindeks dalam direktori Webometrics, namun belum cukup baik untuk menembus 5.000 besar.
Sebenarnya, menembus Webometrics bukanlah hal yang mustahil bagi UKSW. Telah ada 17 universitas Indonesia yang berhasil masuk ke dalam 5.000 besar dengan rentang peringkat yang cukup bervariasi (lihat tabel — Red).

SUMBER: WEBOMETRICS
“Sebenarnya blueprint ada. Tapi pelaksanaannya memang tergantung dana,” kata Eko Sediyono, orang nomor satu BTSI.
Dalam cetak biru tersebut, menurut Eko, telah disebutkan bahwa kebutuhan antivirus berlisensi untuk proteksi server harus dipenuhi sejak tahun 2000. Namun, karena kendala dana, realisasi baru dilaksanakan dua bulan lalu.
Untuk mengantisipasi keterbatasan dana, saat ini BTSI sedang gencar mencari dana hibah. Yang telah berhasil didapatkan adalah Program Hibah Kompetisi (PHK) K3 dari Ditjen Dikti (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi), yang pemanfaatannya dilaksanakan pada April hingga Desember 2007.
Pemanfaatan hibah tersebut meliputi pengadaan server untuk pembelajaran elektronik, pengadaan alat-alat untuk konferensi video, koneksi ke Inherent (Indonesia Higher Education Network) via UGM, dan berbagai pelatihan untuk mahasiswa maupun dosen.
Kini, BTSI sedang menunggu dana hibah PHK yang lain dari Dikti. “Program Hibah Kompetisi Berbasis Institusi” namanya. Dana ini akan dimanfaatkan untuk pengadaan genset dan UPS (uninterruptible power supply) agar server-server di UKSW terhindar dari kerusakan yang disebabkan oleh anjloknya listrik, yang juga adalah penyebab matinya sistem backup basis data sejak September 2007.
“Katanya bulan April (sudah tiba dananya — Red). Tapi sampai sekarang belum. Ini sudah Mei,” kata Eko.
web uksw.edu udah bisa lho…
Boz, kan UKSW dapet 2 jaringan pendidikan (INHERENT & JARDIKNAS)
kenapa ga adayang coba membahas ituu..??
jadi nanti setelah di beritakan..
teman – teman bisa memberikan kritik dan saran
Ayoo…cayooo semangat kemajuan jaringan di uksw
wah UKSW dengan wajah baru ya….,
saya akses dari Jakarta sangat cepat munculnya,
karena web UKSW atau karena bandwith di sini besar ya..
btw,
salut sama BTSI. ayo tingkatkan lagi…
Hallo semua,
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bagi UKSW merupakan “backbone” yang sangat penting. Bahkan bisa dikatakan sebagai salah satu pendukung utama dalam mendukung berbagai aktivitas kampus, baik Proses Belajar Mengajar (PBM), maupun pengelolaan lembaga. Ketika kemarin dikonfirmasi oleh Scientiarum (SC) mengenai komentar saya terhadap keberadaan website resmi kampus yang kosong melompong konten-nya akibat terjadinya gangguan, saya menduga bahwa sebetulnya di UKSW belum ada blue print mengenai pengelolaan TIK, maka saya meminta SC untuk klarifikasi kepada BTSI yang lebih berwenang menjawabnya, dan teman2 sudah melakukan.
Nah jika memang blue print itu ada, sebaiknya blue print tersebut di share kepada seluruh warga kampus, bagi dosen, pegawai dan terutama bagi mahasiswa. Memang dalam waktu 1 (satu) tahun terakhir ini saya melihat ada perkembangan yang cukup signifikan terhadap pengembangan TIK di kampus ini. Hanya saja menurut saya hal ini kurang tersosialisasikan dengan baik. Maksud saya, sosialisasi disini bukan berarti hanya pengenalan/pelatihan saja, tapi pengukuran sejauh mana tingkat efisiensi dan efektifitas pemanfaatan TIK di kampus UKSW. Misalnya, apakah sudah pernah diukur seberapa banyak dosen yang memanfaatkan Flearn sebagai tools PBM-nya? Nah kira-kira kalau masih ada dosen yang belum memanfaatkannya, apakah ada sanksi or semacam punishment-nya? Saya pikir reward yang diberikan kampus ini, khususnya kepada para pengajar sudah memadai, tapi seberapa jauh punishment yang diberikan pada mereka yang tidak menjalankannya itu masih tanda tanya besar……
Maksud saya bukan sekedar punishment, tapi lebih kepada upaya untuk mendorong agar pemanfaatan TIK sebagai backbone proses belajar mengajar menjadi yang utama. Sungguh malu rasanya ketika mengetahui ada pengajar yang sampai saat ini hanya menggunakan internet untuk cari materi kuliah dan email. Kebiasaan “download” saja dan tidak “upload”. Ingat bahwa salah satu kriteria yang dinilai di Webometrics adalah seberapa banyak konten yang kita “upload” di internet melalui website UKSW or media semacam Flearn.
Kembali lagi pada pentingnya blue print TIK di UKSW ini, alasannya adalah supaya pengelolaan resources TIK di UKSW bisa teroptimalkan dengan baik. Sebagai contoh, saya saat ini sementara mendampingi penelitian salah satu mahasiswa S3 yang melakukan penelitian Pengembangan Sistem Pengelolaan Pengetahuan (Knowledge Management System) dan TIK di kampus UKSW. Dia merupakan dosen dari salah satu Perguruan Tinggi di Jakarta yang telah lama menerapkan TIK sebagai backbone kampusnya. Beliau cukup kaget ketika tahu bandwith internet di UKSW yang menurut dia sangat “luxury” untuk ukuran kampus di Salatiga, tapi pada saat yang bersamaan dia juga kaget ketika tau bahwa pemanfaatannya belum optimal (berdasarkan temuannya di lapangan ketika meneliti). Misalnya, apakah ada sistem pengelolaan pengetahuan di UKSW ini dengan memanfaatkan TIK sebagai medianya???? (saya jawab ada… lihat website Scientiarum… hehehe…. sekalian promo weblog Scientiarum nih… hehehe). Berapa persen dosen yang memanfaatkan TIK sebagai media pembelajarannya? Dia kaget juga pas lihat di papan pengumuman salah satu fakultas di UKSW yang sampai berjejer full dengan kertas2…? (hmm…. mgk mereka belum ngerti dan paham betul dengan konsep paperless kali ya… hehehe – ingat setiap lembar kertas yang Anda gunakan, itu artinya Anda berpartisipasi terhadap perusakan lingkungan …. Stop Global Warming…!!!!).
Nah, semoga kasus website UKSW ini menjadi bahan pembelajaran bagi kita semua. Tidak perlu mencari tahu siapa yang salah dan mencari kambing hitam (karena kambingnya udah putih semua)… Tapi marilah sama-sama kita sebagai warga kampus berkomitmen menjadikan TIK sebagai pendukung utama kegiatan akademik kita di kampus……..
Btw, bagus juga tampilan baru website, cuma kalau boleh usul, header-nya jangan terlalu gede dan memakan banyak space, kalau boleh kontennya yang diperbanyak dan mulailah bergeser ke konsep website 2.0 yang partisipatif (kayak blog ini… hehehe).
Salam,
Johan
Web uksw udah bisa lho…. tapi sayang masih banyak tulisan COMING SOON jadi ingat kayak dibioskop aja.. heheheh
Tapi BTSI tetap semangat n bener tuh katanya kak johan, desain bagus tapi sayang kebesaran. Oke ??
Link ke Fak. Teknik Elektro juga payah. Dari berbulan2 yang lalu selalu “Under Construction”. Padahal, di FTJE harusnya bersarang jagoan2 web. Malu banget kan kalo diakses sama anak2 SMA yang sedang nyari informasi buat kuliah nanti.
@All: Friends, saya saat ini memberikan bantuan dari jauh berupa informasi content UKSW kepada BTSI dalam rangka percepatan “pemulihan” website kita uksw.edu. Yang saya lakukan adalah menyusun informasi tentang UKSW dalam Bahasa Inggris, agar website uksw.edu juga memiliki English version (kalau nggak nantinya tidak bisa diakses secara internasional).
Kemudian saya juga melakukan koreksi terhadap beberapa informasi kelembagaan di dalamnya, agar lebih komunikatif (bahasa Indonesia).
Misalnya saya telah menyerahkan nama-nama gereja pendukung secara lengkap, yang mana tidak dalam bentuk singkatan karena kalau hanya singkatan maka tidak komunikatif. sebagai contoh, orang dalam UKSW banyak yang tidak mengetahui kepanjangan dari BNKP sebagai salah satu gereja pendukung UKSW kan? Bagi yang kesulitan menebak, BNKP itu “Banua Niha Keriso Protestan” (Gereja Kristen Protestan Nias). Jadi kalau hanya disingkat tentu sulit dikenal (kepanjangannya saja masih harus diterjemahkan), kalau tidak kenal maka tidak sayang, kalau tidak sayang maka sulit bekerjasama.
Mungkin rekan-rekan bisa juga memberikan berbagai bantuan kepada mereka agar bisa mempercepat “pemulihan” uksw.edu :)
sebenarnya web baru itu khan hanya wajah baru saja khan (content lebih important daripada tampilannya khan)
contentnya tetep sama atau diusahakan hampir mirip (in progression)
yang penting uksw.edu yang lama masih idup saja ndak papa kok …
entar kalo wajah barunya udah siap tinggal diaktifkan
uksw.edu yang baru khan bisa dibetakan dulu untuk trial…. di virtual directory
tapi sekarang sudah aktif kok dan enteng ….
yang gedhe bandwidthnya UKSW.edu atau bandwidthku neee ?
he he becanda lageeee …..
Dear All, jujur saja, saya mengikuti perkembangan di UKSW selain lewat milis Ikasatya yah lewat Scientiarum ini, kalau ke http://www.uksw.edu, wah capeee deh … Thx Scientiarum
arsip beritanya juga hancur semua. kalau sudah kelamaan seperti ini, saya rasa mandegnya sudah bukan level teknis lagi tapi kebijakan.