Kedangkalan Estetika Perfurbance #4

Browse By

Pada 15-18 April 2008, di dusun Krinjing, kecamatan Dukun, Magelang, Jawa Tengah, digelar sebuah festival bertarif dan bertaraf internasional, yaitu Perfurbance #4 yang digelar oleh Performance Klub. Sayang, festival tersebut lebih terkesan hanya semacam kedok eksploitasi seni dan budaya karena tidak terlalu mengedepankan citra rasa seni, dan jatuh pada apa yang oleh Václav Havel diringkas dalam terminologi “estetika kedangkalan” (the aesthetic of banality).

Pada 15 April 2008, saya melaju dengan begitu antusias menuju desa Krinjing dengan maksud menyaksikan ritual pembukaan festival tersebut. Tapi apa yang saya dapati di sana hanyalah keluh kesah dari beberapa rekan penikmat, wartawan, dan bahkan seniman lokal, karena festival tersebut tidak lebih estetis dari pesta manten (pernikahan). Kenyataan di lapangan menggeruskan pikiran saya hingga pada kesimpulan bahwa festival ini hanya menjadi kedok eksploitasi seni dan budaya lokal. Seni dan budaya telah menjadi objek dan kendaraan kampanye “global warming” dari orang-orang yang bicara pemanasan global seperti pahlawan kesiangan.

Kesimpulan bahwa seni dan budaya hanya menjadi kedok bisa diamati dari fokus Performance Klub, yaitu pembongkaran masalah dan isu-isu yang dibekukan oleh pemerintah dan kebingungan-kebingungan yang tercipta oleh adanya kapitalisasi dan hubungan kompleks antara kepentingan militer dan industrialisme. Dari penjelasan panjang lebar tentang fokus Performance Klub, tidak sedikit pun yang berbicara tautan dan kepedulian pada seni dan budaya. Hal demikian, dalam kerangka berpikir tesis, antitesis, dan sintesis, bisa dibaca sebagai penyimpangan seni dan budaya. Seni dan budaya hanya menjadi objek dan kendaraan dari orang-orang yang antikapitalisme, tetapi, ironisnya, menjadi pelaku kapitalis dengan objek seni dan budaya.

Estetika kedangkalan
Perfurbance #4, dalam jalan pikiran estetika, jatuh pada estetika kedangkalan. Pilar kedangkalan yang pertama, dengan meminjam koridor berpikir B. Herry Priyono, peneliti dan alumnus London School of Economics, yaitu dekat dan berisi kultus selebriti. Sosok Perfurbance #4 tampak cantik dan memikat secara luaran dalam gembar-gembor tampilan poster yang ditempel di mana-mana. Dangkal materi estetikanya karena telah jatuh pada budaya iklan yang cantik dan memikat, tetapi fakta di lapangan jauh berbeda, mereduksi estetika.

Pilar kedangkalan yang kedua yaitu berisi kultus gaya hidup. Sosok Perfurbance #4 tampak rapi, tampilannya apik dan harganya mahal. Kehadirannya menjadi simbol status dan prestis. Sayang, hal demikian bisa saja hanya menjadi bahan tertawaan orang-orang kampung di lereng Merapi, karena estetika yang ditawarkan mungkin tak mampu ditangkap logika orang dusun.

Pilar kedangkalan yang ketiga yaitu penggerusan kapasitas berpikir. Seni dan budaya yang ditampilkan tidak mengajak penikmat untuk berpikir karena sekali lagi pihak penyelenggara bisa jadi hanya kumpulan orang-orang yang sekadar sepintas lalu tahu seni dan budaya. Bisa jadi, juga hanya sekumpulan orang yang suka menempelkan label seni dan budaya dengan mencantumkan nama-nama seniman dan budayawan pada kegiatan yang diselenggarakan, supaya ada pamornya. Dengan demikian, pemahaman estetikanya, bisa jadi, juga dangkal.

Pemahaman yang dangkal bisa saja tercermin dari tampilan yang sekadarnya dan bahkan tampak kacau-balau seperti pada Perfurbance #4, seperti dipikirkan oleh para penikmat seni dan budaya yang sempat hadir.

Mengobjekkan kesenian lereng Merapi
Perfurbance #4, dengan dana yang tidak sedikit, mampu menghadirkan seniman-seniman luar negeri, seperti dari Australia, Austria, Birma, Kanada, Jepang, Jerman, dan lain-lainnya. Sponsornya lembaga-lembaga keren, seperti Heinrich Böll Stiftung dan Lembaga Indonesia Prancis. Ternyata, fakta di lapangan hanya menjadi simbol perayaan kapitalisme yang mengesampingkan citra lokalitas dan bahkan mereduksi makna penghargaan pada seni dan budaya lokal.

Ironis kiranya, festival yang mampu mendatangkan pelaku seni internasional tersebut ternyata tidak begitu mampu memberikan kontribusi yang berharga untuk pemberdayaan citra lokalitas. Ada kesenian lereng Merapi yang secara halus menolak tampil di festival tersebut karena pihak penyelenggara hanya mampu memberikan dana jauh di bawah standar untuk sekali tampil.

Kawasan lereng Merapi memang kaya akan kesenian. Bahkan, bisa dikatakan bahwa setiap dusun memiliki kesenian. Warga lereng Merapi, yang kebanyakan para petani, menghayati seni tidak untuk kendaraan dan maksud terselubung seperti komoditas seni. Seni tidak untuk diperjualbelikan dan dijadikan objek, serta kendaraan untuk menggalang dana dan sponsor dari luar negeri, yang ujung-ujungnya menguntungkan si penggalang dana. Seni adalah bagian dari hidup, bagian dari perayaan otoritas seni yang tidak bisa dijadikan barang komoditi.

Gendhotwukir, penyair dan jurnalis dari Komunitas Merapi

2 thoughts on “Kedangkalan Estetika Perfurbance #4”

  1. STR says:

    Wah, padahal waktu itu saya kepingin dateng lho. Ternyata jelek ya? Syukur kalo gitu. Gak jadi buang uang. 😆

  2. seehngojennaca says:

    saya setuju sama pendapat mas wukir ini …..
    apalagi kalo masuknya pake bayar …..
    saya semakin tidak setuju …
    buat apa ada pementasan kebudayaan kalo rakyat harus bayar
    buat apa ada pementasan kebudayaan kalo kaum elitis borjuis saja yang bisa menikmati
    bukannya kebudayaan itu berasal dari rakyat …
    mending buat pementasan sendiri

    anehnya kebudayaan merapi kita sendiri saja tidak bisa ikut dipentaskan …

    saya jadi ingat dengan pementasan kebudayaan di borobudur magelang dimana
    kebudayaan lokal kurang diakomodir ..
    kenapa selalu begini ya ….

    kalo begitu terus baiknya kita bikin pementasan kebudayaan tandingan saja ya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *