Tenda keprihatinan untuk BBM
Berita ini telah dilihat 401 kali sejak 20 May 2008SALATIGA — Selasa, 20 Mei 2008, pukul 11.00 siang, berbagai elemen masyarakat Salatiga melakukan diskusi dalam rangka menolak kenaikan harga BBM. Diskusi tersebut diselenggarakan di sebuah tenda keprihatinan yang dipasang di halaman depan kampus UKSW. Elemen-elemen yang hadir adalah Lembaga Kemahasiswaan UKSW, LMND Salatiga, PMII Salatiga, Yayasan Percik, Badan Eksekutif Mahasiswa STIE AMA, dan Komunitas Anak Jalanan Salatiga.
Ada dua hal yang dibicarakan pada diskusi tersebut. Yang pertama, adalah soal kenaikan BBM. Elemen-elemen yang hadir beranggapan bahwa kenaikan harga BBM akan membawa dampak buruk bagi seluruh masyarakat, meskipun pemerintah akan memberikan kompensasi berupa BLT (Bantuan Langsung Tunai).
Menurut mereka, kompensasi berupa dana BLT hanya membodohkan masyarakat dan sering tidak tepat sasaran.
Dalam diskusi tesebut juga diajukan berbagai tuntutan untuk pemerintah agar berani melakukan nasionalisasi perusahaan asing, seperti Freeport Indonesia dan Exxon Mobil, dengan cara merenegosiasi kontrak-kontrak karya pertambangan dengan asing. Tuntutan penghapusan utang luar negeri juga muncul. Dengan cara-cara tersebut, maka pemerintah tidak harus menaikkan harga BBM.
“BBM tidak boleh naik, tetapi harus turun,” kata Syalom Pasau, dari LMND Salatiga.
Jika pemerintah tetap akan menaikkan harga BBM, maka pemerintah harus memberikan kompensasi, seperti subsidi perusahaan padat karya, subsidi bahan bakar untuk kendaraan umum, dan subsidi bahan bakar pada rakyat miskin.
Selain membahas soal isu BBM, dalam diskusi tersebut juga dibicarakan tentang persiapan aksi untuk esok. Rencananya, mereka akan turun ke jalan untuk berunjuk rasa. Aksi ini akan dimulai dari kampus UKSW, lalu menuju Gedung Pertemuan Daerah (GPD) Salatiga.
Diskusi tersebut hanya dihadiri oleh beberapa gelintir mahasiswa UKSW. Menurut Noviani, Ketua Umum Badan Perwakilan Mahasiswa UKSW, tingkat kesadaran mahasiswa UKSW dalam menanggapi kenaikan harga BBM sangat rendah.
Tenda Keprihatinan yang Memprihatinkan
Tenda yang menjadi tempat diskusi hari ini hampir roboh, karena terguyur hujan pada petang hari. Tenda tersebut hanya terdiri dari gelaran terpal yang diikat pada beberapa pohon dan disangga dua tiang bambu dengan tinggi sekitar 3 meter. Di bawah terpal itu digelar karpet merah sebagai alas, yang ikut basah terguyur hujan. Kendati demikian, diskusi tetap berjalan hingga selesai pada pukul 21.00 malam.

Komentar no. 11
12 June 2008 20:21
Perambah
@ Andre: Apakah ukuran terpelajar tidaknya seseorang, berhikmatnya seseorang, itu ditentukan dari IP tinggi dan cepat lulus kuliah?