Qaryah Thayyibah Angkat Suara Soal Salib Putih

Browse By

Polemik pengelolaan tanah perkebunan Salib Putih makin menjurus pada sentimen keagamaan. Hal ini membuat SPPQT (Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah), sebuah organisasi massa tani di Salatiga, ikut angkat suara. Dalam konferensi persnya di rumah makan Elang Sari, Senin, 19 Mei 2008, SPPQT merujuk kepada Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (biasa disebut “UU PA” — Red) untuk penyelesaian polemik tersebut.

“Kami sebagai ormas (organisasi massa — Red) tani yang bersekretariat di Salatiga punya tanggungjawab untuk merespon hal ini,” kata Abdul Rohim Mandanganu, Kepala Departemen Advokasi SPPQT, membuka konferensi.

SPPQT memandang, tanah perkebunan Salib Putih adalah objek reforma agraria, dan, karenanya, pengelolaan tanah tersebut harus diprioritaskan untuk kepentingan subjek reforma agraria, atau dalam hal ini adalah para petani.

“Bahwa Subyek Land Reform adalah Petani gurem, dan buruh tani belum mereka (Pemerintah Kota Salatiga — Red) pahami secara utuh,” demikian bunyi pernyataan sikap tertulis SPPQT.

Rawan SARA
Pada 10 Oktober 2007, PT Rumeksa Mekaring Sabda (RMS) menerima perpanjangan jangka waktu HGU (Hak Guna Usaha), atas pengelolaan tanah Salib Putih hingga 2033. Perpanjangan HGU ini dikeluarkan oleh BPN (Badan Pertanahan Nasional) Jawa Tengah.

PT RMS adalah bagian dari Yayasan Sosial Kristen Salib Putih (YSKSP) dan telah menjalankan pengelolaan tanah Salib Putih untuk perkebunan kopi, cengkeh, karet, dan buah-buahan serta objek wisata agrobisnis. YSKSP sendiri telah melakukan pengelolaan Salib Putih sejak 1952 untuk pelayanan sosial. Berafiliasi dengan Sinode Gereja Kristen Jawa, yayasan ini mengelola sejumlah panti dan sebuah gereja di atas tanah Salib Putih.

Perpanjangan HGU Salib Putih yang didapat PT RMS rupanya membuat sejumlah kalangan Islam di Salatiga tak puas, karena sebulan sebelumnya mereka telah mendapatkan surat rekomendasi dari John Manuel Manoppo, Walikota Salatiga, untuk pembangunan islamic center di atas tanah Salib Putih.

Isu yang kemudian dikembangkan adalah soal agama. Kelompok-kelompok Islam yang terlibat, seperti MUI (Majelis Ulama Indonesia) Salatiga dan YUIS (Yayasan Universitas Islam Salatiga), menilai bahwa John tidak konsisten dengan rekomendasi yang telah dikeluarkan, dan lebih memihak kepada YSKSP karena John adalah pemeluk agama Kristen.

“Kalau UU PA benar-benar dipahami, penyelesaian kasus Salib Putih tak akan jadi seperti ini,” kata Ruth Murtiasih Subodro, Wakil Ketua Dewan Pimpinan Petani SPPQT. Ruth adalah insinyur pertanian jebolan Fakultas Pertanian UKSW, lulus 1999.

Kaji Ulang
“Terkait dengan tanah Salib Putih, kami dari SPPQT menuntut dan mendesak kepada pemerintah untuk meninjau ulang perpanjangan HGU yang diberikan kepada PT Rumeksa Mekaring Sabda, karena HGU tersebut tidak sesuai dengan semangat UU PA,” demikian pernyataan Ruth.

Ketika ada banyak petani tidak mampu mengakses tanah, hingga terpaksa hanya menjadi buruh tani, negara malah memberikan HGU kepada pihak-pihak yang mestinya tidak jadi prioritas untuk dibantu. Ini adalah ketimpangan dan ketidakadilan, menurut Ruth.

“Peruntukan tanah negara semestinya untuk petani. Polemik tanah Salib Putih harus dikembalikan kepada UU PA,” pungkasnya.

9 thoughts on “Qaryah Thayyibah Angkat Suara Soal Salib Putih”

  1. Saam Fredy says:

    Mohon telusuri background history tentang Salib Putih. Sehingga memberikan pemahaman yang tidak parsial terhadap permasalahan yang terjadi. Terima kasih.

    Salam,
    Saam Fredy

  2. Opha says:

    Sepakat dengan Bung Saam. Polemik yang terjadi sudah tidak “sehat”. Bahkan isu yang dilemparkan oleh pihak-pihak tertentu tidak ubahnya sebagai Pembodohan bagi masyarakat. Untung masyarakat salatiga sudah banyak yang berpikiran selangkah lebih maju ketimbang pihak-pihak tersebut.

  3. dian ade permana says:

    seperti biasa orang kalah selalu berteriak..dan jangan mendengarkan teriakan orang sakit hati..
    bukankah seperti itu?
    karena hanya akan ada sentimen dan “kebenaran” semu demi “kemenangan” sesaat..
    buat opha : saya rasa ini tidak “UNTUNG” [“..untung masyarakat salatiga”], tapi memang polemik ini tidak ada gunanya dan bahkan tidak rasional.
    hehhee…untung ada UKSW ya pha..hingga sudah banyak masyarakat yang berpikiran selangkah lebih maju ketimbang pihak-pihak tersebut…
    eh, tapi bagaimana dengan mahasiswa UKSW pha? apakah juga sudah “untung” dengan berpikiran selangkah lebih maju?
    hehhee…

  4. wit says:

    kalau gak salah, YUIS sudah kalah di PTUN, khan…
    atau malah sudah mencabut gugatannya di PTUN?

    kapan itu katanya ada demo “anak-anak sekolah” terkait dengan putusan PTUN masalah Salib Putih….

    kalau mau tahu “background history” tentang Salib Putih, ya tanya saja pada SINODE GKJ, di Jalan Dr. Sumardi, karena “dia” lah pemilik tanah Salib Putih…

  5. obed says:

    isu ini semakin kabur, tarik ulur politik dan agama…
    tumpang tindih kepentingan…
    setuju mas saam n mas opa..
    paling tidak tinjauan sejarah harus dipaparkan…

  6. ERASMUS says:

    sejarah mengajarkan kita bahwa kita tidak pernah belajar dari sejarah…..

  7. jok says:

    berita penting iki
    akan saya teruskan ke islamic center kita

  8. heri says:

    Pasukan Kristus harus terus berdoa untuk segala bentuk pelayanan termasuk di salib Putih.

    Aneh, namanya Ruth kok jadi wakil ketua SPPQT.. jebolan UKSW lagi..

  9. lutfi nahar says:

    bagaimana kasus akhir dari permasalahan salib putih ini? apakah kasus ini masuk dalam genosida antar kedua umat beragama dingan hak tanah ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *