(Dulu) Terbesar dan Terbaik Se-Asia Tenggara
Cerita ini telah dilihat 947 kali sejak 28 May 2008“Bagi seseorang yang hidup dengan pikiran yang mesti disebarkan, baik dengan pena maupun dengan mulut, perlulah pustaka yang cukup.”
~ Tan Malaka dalam Madilog (1943)
Saya membuka lembar demi lembar majalah Basis, nikmat diselimuti hawa sejuk. Polusi suara jarang hadir. Beberapa mahasiswa yang saya lihat juga hanyut dalam kekhusukan. Tenang sekali tempat itu. Tempat itu bernama … Perpustakaan UKSW Notohamidjojo.
Dari luar, sekilas tak jelas ”milik” siapa gedung yang menaungi perpustakaan tersebut. Pasalnya, pada dinding lantai teratas gedung terpampang balok tulisan yang sangat besar bertuliskan ”FAKULTAS EKONOMI” (FE). Bagi warga non-Universitas Kristen Satya Wacana, wajar saja bila menganggap gedung itu adalah ”milik” FE, bukan perpustakaan.
FE sebenarnya hanya ”menumpang” kantor fakultas di lantai lima. Gedung itu adalah “milik” Perpustakaan Universitas (PU), dengan Perpustakaan UKSW Notohamidjojo di dalamnya, yang balok tulisannya terpampang di lantai dua.
Berdiri sejak 1956 (bersamaan dengan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Kristen Indonesia, yang merupakan cikal bakal lahirnya UKSW), perpustakaan tersebut memang dipersiapkan oleh para pendiri, termasuk rektor pertama, O. Notohamidjojo, untuk menunjang kehidupan kampus.
“Notohamidjojo dipakai sebagai nama gedung perpustakaan untuk mengenang dan menghormati jasa-jasa beliau dalam membangun universitas dan perpustakaan ini,” kata Elizabeth Sri Lestari, direktur PU. Elizabeth adalah pemegang gelar Master of Library and Information Science dari Dominican University, AS.
Terdiri dari lima lantai, gedung ini tak hanya meliputi yang “berbau” perpustakaan. Di lantai dasar, ada beberapa ruang yang terlepas dari tanggungjawab pengelola perpustakaan, seperti laboratorium komputer Biro Teknologi dan Sistem Informasi (BTSI), kantor konsultan pajak Centre for Accounting Research and Development (CARD) Fakultas Ekonomi, kantor radio XT FM, hingga kantor redaksi pers mahasiswa Fakultas Teknik, Imbas.
Untuk ruang yang terakhir disebutkan, tak jarang terlihat melompong tak berpenghuni. Majalah Imbas terbit terakhir kali pada 2006.
Di lantai dua, terangkum ruang kuliah, ruang Reference dan Reserve. Ruang kuliah penggunaannya lebih sering didominasi oleh FE. Di sayap utara, ada ruang Reference. Tersedia kumpulan data-data statistikal, ensiklopedia, hingga kamus berbagai disiplin ilmu. Sedangkan ruang Reserve (yang bila diterjemahkan berarti “cadangan”), menyediakan buku teks kuliah yang hanya bisa dibaca di tempat.
Selain menjadi ruang baca, mahasiswa juga menggunakan ruang Reserve ini untuk mengerjakan tugas. Salah satunya adalah Theodorus Sundah, mahasiswa Program Studi Manajemen FE. Ia beberapa kali pernah menggunakan fasilitas ruangan yang berada di sayap selatan ini.
“Ruang reserve itu nyaman,” kata Theodorus.
Ruang-ruang perpustakaan sejak beberapa bulan lalu dilengkapi dengan pendingin ruangan, termasuk Reserve. Semakin menyejukkan. Semakin? Ya, maklum, UKSW berlokasi di kota Salatiga, kota yang berada di kaki gunung Merbabu.
Lain halnya dengan keadaan lantai tiga.
Di lantai ini, berlimpah majalah, jurnal ilmiah, skripsi, media massa dari dalam dan luar negeri. Harian The Jakarta Post ada, majalah Femina ada. Kumpulan majalah luar negeri seperti Time hingga Harvard Business tersedia. Kliping artikel koran yang terbagi menurut bidangnya juga ada, mulai dari jurnalisme hingga buddhisme. Koleksi media massa tersebut “diawetkan” dari tahun ke tahun dengan cara “dialbumkan.”
Saya membaca majalah Basis di lantai ini.
Bacaan yang cukup lengkap di lantai tiga juga menarik warga non-UKSW untuk ikut menikmatinya, seperti Nono, mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Magister Sistem Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia sudah empat kali berkunjung ke perpustakaan yang belum dicat ulang sejak 1993 ini.
Nono berkunjung ke sana untuk mencari jurnal penelitian limbah dan membaca karya skripsi. Tapi ia menyayangkan mengapa “orang luar” harus membayar, karena pegawai negeri asal Salatiga ini mengganggap perpustakaan seharusnya sebagai salah satu bentuk pelayanan publik gratis.
“Orang luar” memang dikenakan biaya sebesar Rp 15 ribu untuk membaca skripsi. Sedangkan untuk keperluan lainnya, sebesar Rp 5 ribu.
“Saya bayar lima ribu, tapi nekat baca skripsi. Pengawasannya kurang,” kata Nono.
Gedung PU telah beberapa kali menjalani tahap renovasi. Pada 1991, mulai direnovasi. Dari rencana awal yang hendak dibangun tujuh lantai, pembangunannya mandek hanya sampai di lantai lima.
Disinggung mengenai maket pengembangan PU, yang terletak di samping pintu lift lantai dua, yang memaparkan pembangunan hingga lantai tujuh, Elizabeth belum melihat adanya arah ke sana.
“Tapi saya tidak tahu kalau rektor punya rencana lain,” ujar Elizabeth.
Namun bukan berarti perpustakaan ini mati dari pengembangan. Tahun ini, di lantai empat sayap selatan sedang dibangun Ruang Pelayanan Komputer.
Beberapa bulan belakangan, di sebelah ruang Sirkulasi memang tampak para pekerja bangunan sedang sibuk bekerja merenovasi bangunan. PU sedang menjalankan program pengembangan perpustakaan dengan bantuan dana dari American Schools and Hospitals Abroad (ASHA), yang berisi pengembangan teknologi, seperti penyediaan komputer bagi mahasiswa, renovasi dan pengembangan kabel listrik, kabel jaringan, dan sistem manajemen perpustakaan terintegrasi.
ASHA adalah program dari United States Agency for International Development (USAID), lembaga yang didirikan mantan presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy, untuk membantu negara-negara di luar AS. Sebelum mendapat program bantuan, PU membuat proposal kepada United Board for Christian Higher Education in Asia (UBCHEA). UBCHEA kemudian membantu mencarikan sponsor ke USAID.
Menurut Elizabeth, mahasiswa kelak akan diperbolehkan menggunakan ruang pelayanan tersebut untuk pengetikan tugas, penggarapan skripsi, hingga akses data multimedia seperti video.
“Mudah-mudahan akhir 2008, sekitar 170 komputer di lantai empat bisa segera dipakai,” tuturnya.
Rencananya, di tahun akademik 2008/2009, setelah hadirnya komputer untuk Ruang Pelayanan Komputer, jam buka akan diperpanjang. Jika sebelumnya hanya sampai pukul 18.00, maka akan berubah menjadi pukul 20.00, bahkan 22.00.
“Tergantung mahasiswanya menginginkan sampai jam berapa,” kata Elizabeth.
Tak Bebas Memilih Buku di Rak
Adegan-adegan film di dalam perpustakaan sekolah atau perguruan tinggi, biasanya menggambarkan para pelajar atau mahasiswa berjalan menyusuri rak buku. Celah deretan rak buku bak sebuah labirin, memilih buku sembari menyusurinya.
Begitulah di film, juga di banyak perpustakaan di Indonesia, namun tidak di UKSW.
Lantas?
Peminjaman buku disokong teknologi informasi. Mahasiswa yang hendak memilih buku tinggal mengetikkan kata kunci berupa nama pengarang ataupun judul buku, yang akan dibantu pencariannya oleh sistem katalogisasi elektronik. Tak perlu berjalan-jalan di antara rak buku. Tinggal mencatat nomor buku yang tertera di layar monitor, mahasiswa dapat meminta petugas untuk mencarikan buku sesuai nomor. Namun ada pengecualian bagi para mahasiswa yang sedang menyusun skripsi. Mereka dapat memilih bebas di rak buku.
Kebijakan ini berlaku untuk ruang Sirkulasi di lantai empat dan Reserve. Ruang Sirkulasi adalah ruang peminjaman buku yang boleh dibawa pulang.
Elizabeth bercerita, penutupan ini berawal pada 1998. Saat itu, pihak perpustakaan sedang melakukan inventarisasi buku. Anehnya, banyak buku yang tidak ditemukan. Dosen-dosen kemudian komplain terhadap pengelola karena buku-buku sulit ditemukan.
“Seperti ke rimba belantara,” Elizabeth menirukan komplain dosen di masa lalu.
Setelah ditelusuri, buku-buku yang “hilang” ternyata disembunyikan oleh oknum mahasiswa di rak yang berbeda atau disisipkan di belakang buku-buku lain. Tujuannya agar buku tersebut bisa “dikuasai” dalam hal pinjam-meminjam.
“Mahasiswanya urik. Yang tau bukunya cuma dia,” kata Elizabeth.
Walau tidak pernah terjadi kasus pencurian buku, hal ini merepotkan dosen serta mahasiswa lainnya yang ingin meminjam buku kala itu.
Elizabeth menambahkan, rektor saat itu, John Ihalauw, kemudian mengambil kebijakan untuk menutup ruang Sirkulasi sebagai tindakan preventif terhadap tangan-tangan jahil. Sejak saat itu, mahasiswa tidak lagi bebas memilih buku di deretan rak-rak buku. Proses pencarian diganti dengan sistem pencarian buku menggunakan katalog elektronik.
Sistem yang digunakan pada awalnya adalah SIPISIS, sebuah sistem otomasi perpustakaan. Sistem ini adalah produk pengembangan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) terhadap sistem sebelumnya, yang bernama ISIS. ISIS sendiri adalah sistem yang dahulu dibagikan secara gratis oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), sebuah organisasi yang berafiliasi dengan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Namun, seiringnya berjalannya waktu, SIPISIS dianggap tidak “mulus” penggunaannya. Ia lantas diganti dengan Simphony buatan SirsiDynix. Program ini sudah mencakup semua manajemen perpustakaan secara terintegrasi.
“Kami beli dari Australia. Tarafnya internasional, bukan nasional lagi,” ungkap direktur perpustakaan yang juga suka berkebun ini.
Selain itu, ternyata ada rencana lain di akhir tahun. Ruang Sirkulasi akan dibuka seperti 10 tahun silam. Saat ini pengelola sedang mempersiapkan instalasi, migrasi data, pelatihan, dan menambah komputer yang memungkinkan mahasiswa dapat mengakses informasi lebih optimal.
“Sebelum benar-benar siap dan dibuka secara resmi, tentunya kami akan sosialisasikan dan umumkan kepada semua pengguna perpustakaan. Semua prosedur, tata tertib, dan penggunaan fasilitas PU akan kami buatkan manualnya. Jadi, tunggu tanggal mainnya,” lanjut Elizabeth.
Rencananya, mahasiswa kembali bebas memilih buku di antara deretan rak.
Perpustakaan Kampus Terbesar dan Terbaik Se-Asia Tenggara?
“Betul! Tahun 1970-1980 perpustakaan kita the best,” bangga Elizabeth, ketika saya tanyakan rumor bahwa perpustakaan UKSW pernah punya nama besar di masa lalu.
Bukan hanya terbaik, tapi juga terbesar.
Penilaian terbaik dan terbesar saat itu dilakukan oleh UNESCO pada 1974. Penilaian diambil dari segi gedung, koleksi buku, sumber daya manusia, dan manajemen.
“Dulu UKSW banyak didatangi untuk studi banding,” tambah Elizabeth. Banyak instansi yang berkunjung untuk belajar akan “kehebatan” UKSW, termasuk perpustakaan seluas 2000 meter persegi di dalamnya.
Tapi predikat “terbesar dan terbaik” itu kini tinggal kenangan.
“Setelah tahun 1980 banyak dibangun perguruan tinggi baru. Apalagi, di luar negeri seperti Malaysia, Singapura, atau Vietnam berkembang IT (information technology)-nya. Kita kalah dari mereka. Padahal, dulunya Malaysia belajar dari Indonesia. Secara nasional ketinggalan,” kata Elizabeth.
Kondisi ini diperparah pada dekade 90-an, dimana PU nyaris tidak membeli buku.
Pada dekade ini, medio 1993-1997, UKSW memang sempat menjadi buah bibir nasional karena kemelut internal. Kemelut tersebut dipicu oleh pemilihan rektor yang dinilai tidak demokratis oleh sebagian pihak. John Ihalauw terpilih sebagai rektor dalam pemilihan tersebut.
“Tapi sejak 2005, kami sering dikunjungi lagi,” ujar Elizabeth, tersenyum.
Saya berpikir iseng, mungkin di hati kecilnya terbersit keinginan dan harapan bahwa perpustakaan yang dipimpinnya akan berjaya kembali. Sama halnya dengan banyak sivitas akademika UKSW yang menginginkan kampusnya sebesar nama besarnya di masa lalu. Berjaya seperti kisah-kisah “romantis” kampus UKSW, belasan hingga puluhan tahun silam ….
Tentang Buku
“Jenis bukunya banyak tapi jumlah bukunya sedikit,” keluh Theodorus.
Theodorus memberikan contoh saat dia mengikuti matakuliah Manajemen Sumber Daya Manusia. Pada matakuliah tersebut, ada penggunaan buku wajib karangan Gary Dessler. Namun, apa mau dikata, ketentuan “siapa cepat dia dapat”-lah yang berlaku. Jumlah buku terbatas.
Hal ini ditanggapi serius oleh Elizabeth. Elizabeth menyarankan bila ada buku yang dirasa terbatas eksemplarnya, maka sesegera mungkin agar diusulkan ke fakultas untuk membeli buku yang dibutuhkan tersebut.
“Harapan saya ada kerjasama yang baik. Kami ada untuk melayani. Apa yang dibutuhkan tolong disampaikan,” jelas Elizabeth.
Untuk buku yang ada di perpustakaan, sekitar 90 persen dibeli menggunakan anggaran yang tersedia, sisanya berasal dari donasi. Bila ditotal, anggaran yang dikumpulkan dari semua fakultas untuk membeli buku bisa mencapai sekitar Rp 1 milyar per tahun!
Donasi buku?
Menurut Elizabeth, kurang efektif.
Dahulu ada alumnus UKSW yang menyumbangkan buku sebanyak satu mobil. Namun sayang, buku-buku tersebut tidak pernah ada yang memakai.
“Tidak sesuai kebutuhan,” papar Elizabeth, yang lebih senang menerima bantuan berupa dana karena kemudian dapat dialokasikan sesuai kebutuhan mahasiswa.
Walaupun anggaran belanja buku mencapai Rp 1 milyar, Elizabeth mengaku sedih karena tidak banyak mahasiswa yang datang ke perpustakaan. Data yang ada menunjukkan, tersedia kurang lebih 76.507 eksemplar buku, 41.640 judul buku, 300 koleksi, 109 jurnal, jurnal elektronik, majalah, dan suratkabar! Ini masih belum termasuk data-data multimedia. Jumlah koleksi yang bikin mblenger!
“Informasi banyak kami beli. Banyak dana yang dikeluarkan,” tutur Elizabeth. Sayangnya, dana yang keluar tidak dibarengi dengan tingginya minat baca mahasiswa.
Fakta kecil, data yang dihimpun PU pada periode 2/I/2007-2008 pada 12-17 November 2007, mahasiswa yang mengunjungi ruang Sirkulasi berjumlah 2862 mahasiswa. Bila total mahasiswa UKSW sekarang berjumlah sekitar 11.000 mahasiswa, berarti hanya sekitar 26 persen mahasiswa yang mengunjungi ruang Sirkulasi!
“Menurut ibu, kenapa ya mahasiswa tidak berminat ke perpustakaan?” tanya saya.
“Mungkin perlu ada penelitian,” canda Elizabeth.
Ia tak begitu paham kenapa banyak mahasiswa yang tidak berminat ke “ladang buku” ini.
Saya menunduk sesaat. Merasa ikut tidak paham. Kenapa?
YODIE HARDIYAN
Jurnalis lepas
Mahasiswa Fakultas Ekonomi UKSW

Komentar no. 15
30 September 2008 13:26
Perambah
Saya setuju dengan Bung Theo dan Bung Neil. Perpustakaan memang adalah jantung dari sebuah universitas.
Sudah saatnya kita menghidupkan kembali jantung tersebut.
Komentar no. 14
29 September 2008 19:48
Perambah
Perpustakaan UKSW memang tenang banget.
Aku sering ke sana buat ngerjain tugas, karena tempatnya yang nyaman sehingga menjadi pilihan pertama aku dan teman-teman ku buat ngabisin waktu + ngerjain tugas di situ.
Apalagi sekarang fasilitasnya udh makin keren aja. Di dukung dengan Sistem Informasi Manajemen Perpustakaan yang baik.
Namun sayangnya, buku tentang Teknologi Informasi masih jarang dan kebanyakan buku yang aku cari gak ada. Maklum, anak FTI
Ok dech, semoga untuk kedepannya akan lebih baik lagi. Amin….
Sukses buat UKSW…
Komentar no. 13
25 September 2008 8:44
Perambah
@LCT: Mmmmm Mental Mahasiswa…
Komentar no. 12
15 September 2008 10:35
Perambah
Very pround of you Satya Wacana!!
I think Notohamidjojo Library its great place!I was dealing with stressfull to finish my final paper there..
Peace full and comfort to studying..
Big assets,It must keep for long time!!
Someday I will go there again!
Kartika (Alumni Psychology 04)
HR-Propan Group
Komentar no. 11
19 August 2008 12:59
Perambah
Kalo mang butuh baca di perpus si mo ribet kaya apapun bakal dilakoni. Masalahnya niat belajar mahasiswa yang kurang. Pada milih main game online mpe pagi dari pada baca buku. Boro-boro baca buku, wong ke warnet aja cuma buat check friendster, email, chatting, dll, bukan buat cari bahan kuliah yang bejubel banyaknya di i-net. Jadi, masalahnya dimana???? Perpus??? Sistem pendidikan??? UKSW??? Mental mahasiswa???? Jawab sendiri ya….