Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

(Dulu) Terbesar dan Terbaik Se-Asia Tenggara

Rubrik Kampus oleh

“Bagi seseorang yang hidup dengan pikiran yang mesti disebarkan, baik dengan pena maupun dengan mulut, perlulah pustaka yang cukup.”
~ Tan Malaka dalam Madilog (1943)

Saya membuka lembar demi lembar majalah Basis, nikmat diselimuti hawa sejuk. Polusi suara jarang hadir. Beberapa mahasiswa yang saya lihat juga hanyut dalam kekhusukan. Tenang sekali tempat itu. Tempat itu bernama … Perpustakaan UKSW Notohamidjojo.

Dari luar, sekilas tak jelas ”milik” siapa gedung yang menaungi perpustakaan tersebut. Pasalnya, pada dinding lantai teratas gedung terpampang balok tulisan yang sangat besar bertuliskan ”FAKULTAS EKONOMI” (FE). Bagi warga non-Universitas Kristen Satya Wacana, wajar saja bila menganggap gedung itu adalah ”milik” FE, bukan perpustakaan.

FE sebenarnya hanya ”menumpang” kantor fakultas di lantai lima. Gedung itu adalah “milik” Perpustakaan Universitas (PU), dengan Perpustakaan UKSW Notohamidjojo di dalamnya, yang balok tulisannya terpampang di lantai dua.

Berdiri sejak 1956 (bersamaan dengan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Kristen Indonesia, yang merupakan cikal bakal lahirnya UKSW), perpustakaan tersebut memang dipersiapkan oleh para pendiri, termasuk rektor pertama, O. Notohamidjojo, untuk menunjang kehidupan kampus.

“Notohamidjojo dipakai sebagai nama gedung perpustakaan untuk mengenang dan menghormati jasa-jasa beliau dalam membangun universitas dan perpustakaan ini,” kata Elizabeth Sri Lestari, direktur PU. Elizabeth adalah pemegang gelar Master of Library and Information Science dari Dominican University, AS.

Terdiri dari lima lantai, gedung ini tak hanya meliputi yang “berbau” perpustakaan. Di lantai dasar, ada beberapa ruang yang terlepas dari tanggungjawab pengelola perpustakaan, seperti laboratorium komputer Biro Teknologi dan Sistem Informasi (BTSI), kantor konsultan pajak Centre for Accounting Research and Development (CARD) Fakultas Ekonomi, kantor radio XT FM, hingga kantor redaksi pers mahasiswa Fakultas Teknik, Imbas.

Untuk ruang yang terakhir disebutkan, tak jarang terlihat melompong tak berpenghuni. Majalah Imbas terbit terakhir kali pada 2006.

Di lantai dua, terangkum ruang kuliah, ruang Reference dan Reserve. Ruang kuliah penggunaannya lebih sering didominasi oleh FE. Di sayap utara, ada ruang Reference. Tersedia kumpulan data-data statistikal, ensiklopedia, hingga kamus berbagai disiplin ilmu. Sedangkan ruang Reserve (yang bila diterjemahkan berarti “cadangan”), menyediakan buku teks kuliah yang hanya bisa dibaca di tempat.

Selain menjadi ruang baca, mahasiswa juga menggunakan ruang Reserve ini untuk mengerjakan tugas. Salah satunya adalah Theodorus Sundah, mahasiswa Program Studi Manajemen FE. Ia beberapa kali pernah menggunakan fasilitas ruangan yang berada di sayap selatan ini.

“Ruang reserve itu nyaman,” kata Theodorus.

Ruang-ruang perpustakaan sejak beberapa bulan lalu dilengkapi dengan pendingin ruangan, termasuk Reserve. Semakin menyejukkan. Semakin? Ya, maklum, UKSW berlokasi di kota Salatiga, kota yang berada di kaki gunung Merbabu.

Lain halnya dengan keadaan lantai tiga.

Di lantai ini, berlimpah majalah, jurnal ilmiah, skripsi, media massa dari dalam dan luar negeri. Harian The Jakarta Post ada, majalah Femina ada. Kumpulan majalah luar negeri seperti Time hingga Harvard Business tersedia. Kliping artikel koran yang terbagi menurut bidangnya juga ada, mulai dari jurnalisme hingga buddhisme. Koleksi media massa tersebut “diawetkan” dari tahun ke tahun dengan cara “dialbumkan.”

Saya membaca majalah Basis di lantai ini.

Bacaan yang cukup lengkap di lantai tiga juga menarik warga non-UKSW untuk ikut menikmatinya, seperti Nono, mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Magister Sistem Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia sudah empat kali berkunjung ke perpustakaan yang belum dicat ulang sejak 1993 ini.

Nono berkunjung ke sana untuk mencari jurnal penelitian limbah dan membaca karya skripsi. Tapi ia menyayangkan mengapa “orang luar” harus membayar, karena pegawai negeri asal Salatiga ini mengganggap perpustakaan seharusnya sebagai salah satu bentuk pelayanan publik gratis.

“Orang luar” memang dikenakan biaya sebesar Rp 15 ribu untuk membaca skripsi. Sedangkan untuk keperluan lainnya, sebesar Rp 5 ribu.

“Saya bayar lima ribu, tapi nekat baca skripsi. Pengawasannya kurang,” kata Nono.

Gedung PU telah beberapa kali menjalani tahap renovasi. Pada 1991, mulai direnovasi. Dari rencana awal yang hendak dibangun tujuh lantai, pembangunannya mandek hanya sampai di lantai lima.

Disinggung mengenai maket pengembangan PU, yang terletak di samping pintu lift lantai dua, yang memaparkan pembangunan hingga lantai tujuh, Elizabeth belum melihat adanya arah ke sana.

“Tapi saya tidak tahu kalau rektor punya rencana lain,” ujar Elizabeth.

Namun bukan berarti perpustakaan ini mati dari pengembangan. Tahun ini, di lantai empat sayap selatan sedang dibangun Ruang Pelayanan Komputer.

Beberapa bulan belakangan, di sebelah ruang Sirkulasi memang tampak para pekerja bangunan sedang sibuk bekerja merenovasi bangunan. PU sedang menjalankan program pengembangan perpustakaan dengan bantuan dana dari American Schools and Hospitals Abroad (ASHA), yang berisi pengembangan teknologi, seperti penyediaan komputer bagi mahasiswa, renovasi dan pengembangan kabel listrik, kabel jaringan, dan sistem manajemen perpustakaan terintegrasi.

ASHA adalah program dari United States Agency for International Development (USAID), lembaga yang didirikan mantan presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy, untuk membantu negara-negara di luar AS. Sebelum mendapat program bantuan, PU membuat proposal kepada United Board for Christian Higher Education in Asia (UBCHEA). UBCHEA kemudian membantu mencarikan sponsor ke USAID.

Menurut Elizabeth, mahasiswa kelak akan diperbolehkan menggunakan ruang pelayanan tersebut untuk pengetikan tugas, penggarapan skripsi, hingga akses data multimedia seperti video.

“Mudah-mudahan akhir 2008, sekitar 170 komputer di lantai empat bisa segera dipakai,” tuturnya.

Rencananya, di tahun akademik 2008/2009, setelah hadirnya komputer untuk Ruang Pelayanan Komputer, jam buka akan diperpanjang. Jika sebelumnya hanya sampai pukul 18.00, maka akan berubah menjadi pukul 20.00, bahkan 22.00.

“Tergantung mahasiswanya menginginkan sampai jam berapa,” kata Elizabeth.

Tak Bebas Memilih Buku di Rak
Adegan-adegan film di dalam perpustakaan sekolah atau perguruan tinggi, biasanya menggambarkan para pelajar atau mahasiswa berjalan menyusuri rak buku. Celah deretan rak buku bak sebuah labirin, memilih buku sembari menyusurinya.

Begitulah di film, juga di banyak perpustakaan di Indonesia, namun tidak di UKSW.

Lantas?

Peminjaman buku disokong teknologi informasi. Mahasiswa yang hendak memilih buku tinggal mengetikkan kata kunci berupa nama pengarang ataupun judul buku, yang akan dibantu pencariannya oleh sistem katalogisasi elektronik. Tak perlu berjalan-jalan di antara rak buku. Tinggal mencatat nomor buku yang tertera di layar monitor, mahasiswa dapat meminta petugas untuk mencarikan buku sesuai nomor. Namun ada pengecualian bagi para mahasiswa yang sedang menyusun skripsi. Mereka dapat memilih bebas di rak buku.

Kebijakan ini berlaku untuk ruang Sirkulasi di lantai empat dan Reserve. Ruang Sirkulasi adalah ruang peminjaman buku yang boleh dibawa pulang.

Elizabeth bercerita, penutupan ini berawal pada 1998. Saat itu, pihak perpustakaan sedang melakukan inventarisasi buku. Anehnya, banyak buku yang tidak ditemukan. Dosen-dosen kemudian komplain terhadap pengelola karena buku-buku sulit ditemukan.

“Seperti ke rimba belantara,” Elizabeth menirukan komplain dosen di masa lalu.

Setelah ditelusuri, buku-buku yang “hilang” ternyata disembunyikan oleh oknum mahasiswa di rak yang berbeda atau disisipkan di belakang buku-buku lain. Tujuannya agar buku tersebut bisa “dikuasai” dalam hal pinjam-meminjam.

“Mahasiswanya urik. Yang tau bukunya cuma dia,” kata Elizabeth.

Walau tidak pernah terjadi kasus pencurian buku, hal ini merepotkan dosen serta mahasiswa lainnya yang ingin meminjam buku kala itu.

Elizabeth menambahkan, rektor saat itu, John Ihalauw, kemudian mengambil kebijakan untuk menutup ruang Sirkulasi sebagai tindakan preventif terhadap tangan-tangan jahil. Sejak saat itu, mahasiswa tidak lagi bebas memilih buku di deretan rak-rak buku. Proses pencarian diganti dengan sistem pencarian buku menggunakan katalog elektronik.

Sistem yang digunakan pada awalnya adalah SIPISIS, sebuah sistem otomasi perpustakaan. Sistem ini adalah produk pengembangan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) terhadap sistem sebelumnya, yang bernama ISIS. ISIS sendiri adalah sistem yang dahulu dibagikan secara gratis oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), sebuah organisasi yang berafiliasi dengan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Namun, seiringnya berjalannya waktu, SIPISIS dianggap tidak “mulus” penggunaannya. Ia lantas diganti dengan Simphony buatan SirsiDynix. Program ini sudah mencakup semua manajemen perpustakaan secara terintegrasi.

“Kami beli dari Australia. Tarafnya internasional, bukan nasional lagi,” ungkap direktur perpustakaan yang juga suka berkebun ini.

Selain itu, ternyata ada rencana lain di akhir tahun. Ruang Sirkulasi akan dibuka seperti 10 tahun silam. Saat ini pengelola sedang mempersiapkan instalasi, migrasi data, pelatihan, dan menambah komputer yang memungkinkan mahasiswa dapat mengakses informasi lebih optimal.

“Sebelum benar-benar siap dan dibuka secara resmi, tentunya kami akan sosialisasikan dan umumkan kepada semua pengguna perpustakaan. Semua prosedur, tata tertib, dan penggunaan fasilitas PU akan kami buatkan manualnya. Jadi, tunggu tanggal mainnya,” lanjut Elizabeth.

Rencananya, mahasiswa kembali bebas memilih buku di antara deretan rak.

Perpustakaan Kampus Terbesar dan Terbaik Se-Asia Tenggara?
“Betul! Tahun 1970-1980 perpustakaan kita the best,” bangga Elizabeth, ketika saya tanyakan rumor bahwa perpustakaan UKSW pernah punya nama besar di masa lalu.

Bukan hanya terbaik, tapi juga terbesar.

Penilaian terbaik dan terbesar saat itu dilakukan oleh UNESCO pada 1974. Penilaian diambil dari segi gedung, koleksi buku, sumber daya manusia, dan manajemen.

“Dulu UKSW banyak didatangi untuk studi banding,” tambah Elizabeth. Banyak instansi yang berkunjung untuk belajar akan “kehebatan” UKSW, termasuk perpustakaan seluas 2000 meter persegi di dalamnya.

Tapi predikat “terbesar dan terbaik” itu kini tinggal kenangan.

“Setelah tahun 1980 banyak dibangun perguruan tinggi baru. Apalagi, di luar negeri seperti Malaysia, Singapura, atau Vietnam berkembang IT (information technology)-nya. Kita kalah dari mereka. Padahal, dulunya Malaysia belajar dari Indonesia. Secara nasional ketinggalan,” kata Elizabeth.

Kondisi ini diperparah pada dekade 90-an, dimana PU nyaris tidak membeli buku.

Pada dekade ini, medio 1993-1997, UKSW memang sempat menjadi buah bibir nasional karena kemelut internal. Kemelut tersebut dipicu oleh pemilihan rektor yang dinilai tidak demokratis oleh sebagian pihak. John Ihalauw terpilih sebagai rektor dalam pemilihan tersebut.

“Tapi sejak 2005, kami sering dikunjungi lagi,” ujar Elizabeth, tersenyum.

Saya berpikir iseng, mungkin di hati kecilnya terbersit keinginan dan harapan bahwa perpustakaan yang dipimpinnya akan berjaya kembali. Sama halnya dengan banyak sivitas akademika UKSW yang menginginkan kampusnya sebesar nama besarnya di masa lalu. Berjaya seperti kisah-kisah “romantis” kampus UKSW, belasan hingga puluhan tahun silam ….

Tentang Buku
“Jenis bukunya banyak tapi jumlah bukunya sedikit,” keluh Theodorus.

Theodorus memberikan contoh saat dia mengikuti matakuliah Manajemen Sumber Daya Manusia. Pada matakuliah tersebut, ada penggunaan buku wajib karangan Gary Dessler. Namun, apa mau dikata, ketentuan “siapa cepat dia dapat”-lah yang berlaku. Jumlah buku terbatas.

Hal ini ditanggapi serius oleh Elizabeth. Elizabeth menyarankan bila ada buku yang dirasa terbatas eksemplarnya, maka sesegera mungkin agar diusulkan ke fakultas untuk membeli buku yang dibutuhkan tersebut.

“Harapan saya ada kerjasama yang baik. Kami ada untuk melayani. Apa yang dibutuhkan tolong disampaikan,” jelas Elizabeth.

Untuk buku yang ada di perpustakaan, sekitar 90 persen dibeli menggunakan anggaran yang tersedia, sisanya berasal dari donasi. Bila ditotal, anggaran yang dikumpulkan dari semua fakultas untuk membeli buku bisa mencapai sekitar Rp 1 milyar per tahun!

Donasi buku?

Menurut Elizabeth, kurang efektif.

Dahulu ada alumnus UKSW yang menyumbangkan buku sebanyak satu mobil. Namun sayang, buku-buku tersebut tidak pernah ada yang memakai.

“Tidak sesuai kebutuhan,” papar Elizabeth, yang lebih senang menerima bantuan berupa dana karena kemudian dapat dialokasikan sesuai kebutuhan mahasiswa.

Walaupun anggaran belanja buku mencapai Rp 1 milyar, Elizabeth mengaku sedih karena tidak banyak mahasiswa yang datang ke perpustakaan. Data yang ada menunjukkan, tersedia kurang lebih 76.507 eksemplar buku, 41.640 judul buku, 300 koleksi, 109 jurnal, jurnal elektronik, majalah, dan suratkabar! Ini masih belum termasuk data-data multimedia. Jumlah koleksi yang bikin mblenger!

“Informasi banyak kami beli. Banyak dana yang dikeluarkan,” tutur Elizabeth. Sayangnya, dana yang keluar tidak dibarengi dengan tingginya minat baca mahasiswa.

Fakta kecil, data yang dihimpun PU pada periode 2/I/2007-2008 pada 12-17 November 2007, mahasiswa yang mengunjungi ruang Sirkulasi berjumlah 2862 mahasiswa. Bila total mahasiswa UKSW sekarang berjumlah sekitar 11.000 mahasiswa, berarti hanya sekitar 26 persen mahasiswa yang mengunjungi ruang Sirkulasi!

“Menurut ibu, kenapa ya mahasiswa tidak berminat ke perpustakaan?” tanya saya.

“Mungkin perlu ada penelitian,” canda Elizabeth.

Ia tak begitu paham kenapa banyak mahasiswa yang tidak berminat ke “ladang buku” ini.

Saya menunduk sesaat. Merasa ikut tidak paham. Kenapa?

YODIE HARDIYAN
Jurnalis lepas
Mahasiswa Fakultas Ekonomi UKSW

20 Comments

  1. Renovasi perpustakaan dimulai pada masa akhir kepemimpinan rektor Toisuta. Sesudah itu pembangunan tidak berlanjut, salah satunya karena kondisi konflik internal UKSW selama kepemimpinan rektor Ihalauw.
    Pada masa kepemimpinan rektor Titaley, Penyelesaian pembangunan Perpustakaan dilanjutkan melalui pembentukan Satgas Perpustakaan yang melahirkan proposal pembangunan perpustakaan kepada United Board of Christian Higher Education in Asia (UBCHEA). Melalui UBCHEA kemudian diperoleh dana bantuan ASHA.
    Pada masa kepemimpinan rektor Titaley juga, diselesaikan rencana Renovasi Balairung yang kemudian diajukan kepada UBCHEA yang memperoleh dukungan dari Henry Luce Foundation.
    Persoalannya sekarang, dalam blueprint pembangunan Perpustakaan universitas, seluruh gedung tersebut sebenarnya adalah untuk kepentingan perpustakaan (sebagaimana memang aslinya demikian).

  2. @Penulis: Mengapa perpus sepi? Kena mengena dengan kultur dan praktik belajar mengajar yang memang perlu dibongkar dan ditata kembali. Pengembangan perpus tanpa reformasi di sektor PBM hanya akan membuat perpus menjadi barang mahal dengan pemanfaatan jauh di bawah optimal. Ini berbeda dengan di ragam negara yang pernah saya kunjungi. Mencari tempat baca pun sulit minta ampun, apalagi di masa2 mid-term/final exam.

    Di samping itu, kultur berperpustakaan memang ‘rontok’ pasca konflik UKSW, masa di mana karena alasan tekanan finansial pimpinan UKSW melakukan sejumlah langkah ikat pinggang super ketat, termasuk anggaran di sektor perpustakaan. Bahkan, jam buka perpustakaan diperpendek menjadi cuma sampai jam 6 demi efisiensi. Secara perlahan tapi konsisten, perpustakaan kemudian mengalami malfungsi, padahal secara simbolik ia adalah jantungnya universitas.

    Satu tanggung jawab pengelola perpustakaan yang belum digarap secara optimal adalah secara proaktif mengembangkan dan memasarkan layanan2 perpustakaan, termasuk training2 terkait pencarian data. Sudah mulai ada, tetapi masih jauh dari kelaziman perpustakaan unggul di mana-mana. Mudah2an pengelola perpus kreatif untuk membenahi diri di sektor ini. Kita tunggu gebrakan2nya!

  3. @Neil: Saya masih ingat waktu jaman kuliah dulu kita belajar di perpustakaan sampai jam 10 malam, dan waktu itu kayaknya hanya kita di Indonesia yang mengenakan jam buka seperti itu.
    Di berbagai negara ternyata prakteknya sama yaitu buka sampai malam. Perpustakaan selalu dibuka sampai malam untuk bisa memberikan ruang bagi mahasiswa belajar dengan tenang. Sesudah kuliah, pulang mandi, sudah segar kembali kerja di perpustakaan rasanya enak banget.
    Di Amerika bahkan sesudah jam 12 malam, ada ruangan khusus untuk mahasiswa yang begadang sampai pagi. Di Valparaiso University ini, bahkan jam buka paling lama adalah pada hari Minggu (untuk bersiap masuk minggu baru, selain karena juga karena waktunya lebih longgar bagi mahasiswa). Demikian pula di beberapa perpustakaan di South Africa ada yang dibuka 24 jam. Saya ingat waktu perpustakaan hukum di Vrije Universiteit Amsterdam ditutup jam 10 malam, banyak teman-teman dari South Africa yang protes karena belajar mereka harus terputus.
    Jam buka perpustakaan UKSW memang berubah sesudah masa konflik dulu dan sesudah krisis ekonomi menimpa indonesia tahun 1997.

  4. @Theo, karena itu perpustakaan menjadi jantung, terus berfungsi, hanya perlu penurunan aktivitas ketika masa istirahat serta perlu dijaga agar tetap ‘sehat’. Karena itu, policy untuk waktu2 tertentu buka perpus 24 jam juga mestinya bisa dipikirkan. Paling tidak memulai dengan membudayakan jam buka sampai jam 10 malam untuk samai prestasi di zaman dulu aja sudah baik untuk tahap awal. Saya pribadi merindukan perpus UKSW menjadi ‘rumah utama’ mahasiswa, hal mana sudah saya saksikan di mana2. Selalu full, orang giat belajar, berdiskusi, penuh ‘intan-berlian’ dan jendela ke dunia yang luas. Semoga!!!!

  5. Pada tahun 1999 s/d 2005, saya cukup akrab dengan PU UKSW. Baik untuk mencari buku(terutama pada saat tts n tas pak Liek, pak Matheas, pak alm Barkah yang Open Book) sampai dengan tempat kumpul2 sama teman2x he2x. Untuk masalah sedikitnya mahasiswa yang berkunjung ke PU memang harus diakui. Bukan hanya mahasiswa, menurut pengamatan saya, dosen pun jarang yang terlihat berada di PU(kecuali dosen FE, tapi nggak tau ke PU untuk cari buku atau datangin kantor he2x). Seharusnya Dosen juga harus sering ke PU sehingga kasus buku referensi kurang banyak dapat cepat diatasi. Untuk PU sendiri kok nggak ada buletinnya ya(seingat saya), yang mungkin isinya membahas buku-buku yang baru dibeli atau yang lain. Untuk database komputer juga kayaknya kurang uptodate soalnya kalau cari judul skripsi saya n teman kuliah dulu kok nggak ketemu(info dari beberapa adek angkatan).
    Tapi salut lah buat PU kalau sudah mau berbenah, buat SA kerja kerasnya kayanya nggak sia2 he2x

  6. saya berharap buat PU agar inventaris buku dapat diperbanyak dan up to date…
    sering kali saya merasakan sebagai mahasiswa UKSW sering mendapat kesusahan dalam meminjam buku, sering kali buku yang ada sangat lama bahkan sebelum saya lahir…sedangkan sudah banyak perubahan.
    hal ini membuat mahasiswa harus pergi keluar kota untuk mencari buku yang sesuai atau harus pergi ke PU Universitas lain yang mungkin lebih lengkap.

  7. saya alumnus Geografi – UKSW. pertengahan th 1989 saya masuk uksw dan akrab dengan perpustakaan uksw. komentar saya, setahu saya pada waktu itu gedung yang ketika itu mulai dibangun kan tuk perpustakaan, tapi kenapa sekarang dicampur aduk untuk ruang kuliah (FE), ruang pelayanan dll? bisa saja hal itu yang menyebabkan kenapa jumlah pengunjung relatif kecil alias minat baca mahasiswa kurang oke. coba deh segara adakan penelitian dan usahakan gedung berpustakaan uksw itu tidak diribeti dengan aktivitas yang lain pasti lebih sejuk lagi untuk baca-baca. lebih baik “FE”-nya dipindahin aja, buat atau carikan gedung baru biar tidak ada kesan lain (mungkin diskriminasi). masalah orang non UKSW kalo memanfaatkan fasilitas yang ada harus membayar, saya kira no problem, kita kan swasta yang oke dalam segala hal.
    oh ya, curhat dikit. sekarang aku bekerja di lembaga pemerintah (PNS) tapi…saya sangat merindukan iklim belajar dan bekerja seperti di uksw-ku dulu.. yang penuh dengan profesionalisme. hidup uksw, jayalah kamu uksw, aku sangat bangga dan hormat padamu, majulah dan jayalah. GBU.

  8. Ya sih memang,……..
    Untuk dapat menarik minat masyarakat terutama mahasiswa untuk mau memanfaatkan PU ini seharusnya dimulai dari dalam PU itu sendiri….

    Mulai dari gedung yang terawat, buku yang lengkap, serta sarana dan prasarana dan pelayanan yang baik pula…

    Kita bisa liat perpus kita ini HAMPIR seperti gedung sewu nya semarang.
    Kotor dan sunyi buanget……

    Mau deket aja takut…..

    Ya moga-moga habis mbangun BU, perpus langsung direnovasi……

    Buat kita semua juga kok….

  9. Pengalaman pertama masuk ke Perpustakaan UKSW (gedung lama), adalah pengalaman yg tak terlupakan. Sebagai seorang yg gila baca alias kutu buku, hamparan buku yg terbentang sejauh mata memandang merupakan swargaloka langit ke tujuh. Alhasil ada tidak ada tugas, selalu berdiam di rumah buku ini. Saya jg jd salah satu org yg paling antusias saat tau perpustakaan akan menjadi 7 lantai. Wuih. Satu lantai aja belum selesai dieksplorasi apalagi 7 lantai. Puyeng kepala ini membayangkannya.

    Terlepas romantika sebagai one of the biggest n the best seasia tenggara dahulu kala, saya hanya mau mengucapkan terima kasih sebanyak2nya kepada pendiri dan pengurus perpustakaan ini (termasuk para staf). Tanpa kalian sulit dibayangkan bagaimana keadaan saya sekarang. Semoga di masa yg akan datang lebih banyak lagi mahasiswa/i yg dapat merasakan dan menggunakan fasilitas yg amat berguna ini.

  10. perpus ma sekarang ribet, masak buku yang bisa dipinjam dan dibaca dijadikan satu , pusing dech, terus proses peminjaman buku ribe banget + trs kesannya arogan banget

  11. Kalo mang butuh baca di perpus si mo ribet kaya apapun bakal dilakoni. Masalahnya niat belajar mahasiswa yang kurang. Pada milih main game online mpe pagi dari pada baca buku. Boro-boro baca buku, wong ke warnet aja cuma buat check friendster, email, chatting, dll, bukan buat cari bahan kuliah yang bejubel banyaknya di i-net. Jadi, masalahnya dimana???? Perpus??? Sistem pendidikan??? UKSW??? Mental mahasiswa???? Jawab sendiri ya….

  12. Very pround of you Satya Wacana!!
    I think Notohamidjojo Library its great place!I was dealing with stressfull to finish my final paper there..
    Peace full and comfort to studying..
    Big assets,It must keep for long time!!
    Someday I will go there again!
    Kartika (Alumni Psychology 04)
    HR-Propan Group

  13. Perpustakaan UKSW memang tenang banget.
    Aku sering ke sana buat ngerjain tugas, karena tempatnya yang nyaman sehingga menjadi pilihan pertama aku dan teman-teman ku buat ngabisin waktu + ngerjain tugas di situ.

    Apalagi sekarang fasilitasnya udh makin keren aja. Di dukung dengan Sistem Informasi Manajemen Perpustakaan yang baik.

    Namun sayangnya, buku tentang Teknologi Informasi masih jarang dan kebanyakan buku yang aku cari gak ada. Maklum, anak FTI

    Ok dech, semoga untuk kedepannya akan lebih baik lagi. Amin….
    Sukses buat UKSW…

  14. Saya setuju dengan Bung Theo dan Bung Neil. Perpustakaan memang adalah jantung dari sebuah universitas.
    Sudah saatnya kita menghidupkan kembali jantung tersebut.

  15. Hmm, PU UKSW terbesar dan terbaik di Asia Tenggara itu duluuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu…Sekarang pertanyaannya kan, klo skrg bagaimana??? Mungkin, karena Prinsip orang-orang Indonesia yang sering cepat merasa puas(padahal baru terbaik se Asia Tenggara, belum di “dunia”) dan mudah terjangkit penyakit megalomania(terlalu mengagungkan diri sendiri) yang menyebabkan degradasi di PU tercinta kita. Selain hal itu, saya coba melihat dari sisi lain yang secara tidak sengaja terpikir, kan pada waktu itu Direktur PU orang Bule(kalo salah tolong dikoreksi), yah mungkin SDM Direktur juga punya andil mungkin. Tapi kalo masalah kualitas, saya dengan sedikit jengkel akan saya katakan, belum memuaskan. Sebagai beberapa contoh kecil pengalaman Riil saya, yang pertama di lantai 2 dekat referens, terdapat tempat menunggu yang sering digunakan untuk membaca koran, sering saya saat ingin membaca koran ternyata koran yang seharusnya ada di tempat tersebut, ternyata eh ternyata di bawa oleh petugas yang menjaga di baca dan di bawa entah sampai di mana. Selain itu kadang, lebih liciknya petugas, yang dipampang di tempat baca ialah koran 1 hari lalu, terus yang baru di mana dunk??? Baca, thu kan siapa aja boleh, tapi koq di gituin, ya ga bener lah itu namanya. Contoh lainnya, saat saya cari buku lewat katalog di komp belum terpinjam tapi setelah saya cari dan saya tanyakan ke petugas, cuma jawaban tidak ada. LaINnYA, satu ketika saya di dongeng ma OMA KID, bahwa ada buku keren yang patut di baca dan sedang best seller, kembali ternyata eh ternyata, di PU belum ada(saya katakan belum karena saya optimis suatu saat akan ada dalam waktu dekat). Banyak tugas untuk membuat PU kembali lagi menjadi” Jendela dunia yang up to date” bisa digunakan seluruh civitas akademika untuk mengembangkan dirinya. Untuk rencana PU buka smpai malam maupun 24 jam,saya dukung 100%, karena bagi sebagian mahasiswa, mereka mencapai konsentrasi optimal saat malam hari. Saran untuk orang-orang yang berhubungan dengan PU, saat ini adalah waktu yang tepat untuk berkembang dan menjadi pihak yang tudak cuma standar atau biasa saja, mungkin dengan diterapkan PU buka 24 jam akan punya efek yang sangat besar dan efek gaung untuk memproklamirkan PU kembali menjadi yang terbesar dan terbaik.Cogito Ergo Sum.

  16. @Victor
    Saya termasuk orang yang suka membaca. Dan menurut saya, pelayanan Perpustakaan sudah lumayan, apalagi semenjak adanya pembaharuan sistem. Namanya juga sistem, jadi perlu penyesuaian dalam pelaksanaannya.

    Mengenai perpus buka 24 jam. Saya tidak setuju, karena tidak efisien. Bayangkan biaya listrik yang harus ditanggung. Terlalu berisiko jika dibandingkan dengan animo mahasiswa yang (menarik nafas) rendah.

    Saya berandai-andai kalau misalnya, Fakultas ekonomi dan ruang2 kuliah yang ada di situ di pindahkan, apakan Perpustakaan akan terlihat ramai?

  17. @Alfa, hmm, oke, buat pandangan setuju anda yang mungkin itu, terserah drpd tiap individu, tp utk alasan itu terlalu berisiko karena animo mahasiswa masih rendah saya rasa tidak rasional. Yang pertama apalah arti satu juta rupiah dibandingkan dengan menghasilkan 1 mahasiswa yang produkitf dan bermutu sehingga menjadi aset negara, Selain itu, utk animo, suatu kebiasaan itu dibutuhkan proses, di mana hal itu tidak bisa instant, tetap[i kalau tidak di mulai sekarang, mau di mulai kpn lg??Sebenarnya masalah animo bisa diatasi, jikalau dosen mendorong mahasiswa utk aktif mencari bahan-bahan sendiri, bukan hanya didulang di dalam kelas.

  18. harusnya setiap mahasiswa yang hendak masuk ke satya wacana di haruskan untuk menyumbAng Dana sekitar 500 rb untuk keperluan perpustakaan umum disatya wacana….serta bagi mahasiswa yang hendak diwisuda agar menyumbang secara sukarela….dalam artian yang pantas, bagi yang mampu diharap dpt menyumbang 1 juta lebih…dan yang kurang mampu boleh mencicilnya…yang penting bagaimana peprustakaan itu menjadi asset yang baik…bukan tempat nongkrong, pacaran atau lainnya..dan hal yang penting lagi agar mahasiswa disediakan kotak sumbangan sukarela di kantin2x,alfamart dan didepan tempat parkir, ditempat internet di lingkungankampus…. “sisihkan Rp 500,- kembalian anda untuk Keperluan pembelian BUKU perpustakaan Umum satya wacana…”kalo semua berjalan seperti ini saya yakin Perpustakaan satya wacana akan menjadi yang terbesar, terbaik di Dunia…..kita pasti bisa, kalo kita mau berubah……..

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas