(Dulu) Terbesar dan Terbaik Se-Asia Tenggara

Browse By

20 thoughts on “(Dulu) Terbesar dan Terbaik Se-Asia Tenggara”

  1. Theofransus Litaay says:

    Renovasi perpustakaan dimulai pada masa akhir kepemimpinan rektor Toisuta. Sesudah itu pembangunan tidak berlanjut, salah satunya karena kondisi konflik internal UKSW selama kepemimpinan rektor Ihalauw.
    Pada masa kepemimpinan rektor Titaley, Penyelesaian pembangunan Perpustakaan dilanjutkan melalui pembentukan Satgas Perpustakaan yang melahirkan proposal pembangunan perpustakaan kepada United Board of Christian Higher Education in Asia (UBCHEA). Melalui UBCHEA kemudian diperoleh dana bantuan ASHA.
    Pada masa kepemimpinan rektor Titaley juga, diselesaikan rencana Renovasi Balairung yang kemudian diajukan kepada UBCHEA yang memperoleh dukungan dari Henry Luce Foundation.
    Persoalannya sekarang, dalam blueprint pembangunan Perpustakaan universitas, seluruh gedung tersebut sebenarnya adalah untuk kepentingan perpustakaan (sebagaimana memang aslinya demikian).

  2. Neil Rupidara says:

    @Penulis: Mengapa perpus sepi? Kena mengena dengan kultur dan praktik belajar mengajar yang memang perlu dibongkar dan ditata kembali. Pengembangan perpus tanpa reformasi di sektor PBM hanya akan membuat perpus menjadi barang mahal dengan pemanfaatan jauh di bawah optimal. Ini berbeda dengan di ragam negara yang pernah saya kunjungi. Mencari tempat baca pun sulit minta ampun, apalagi di masa2 mid-term/final exam.

    Di samping itu, kultur berperpustakaan memang ‘rontok’ pasca konflik UKSW, masa di mana karena alasan tekanan finansial pimpinan UKSW melakukan sejumlah langkah ikat pinggang super ketat, termasuk anggaran di sektor perpustakaan. Bahkan, jam buka perpustakaan diperpendek menjadi cuma sampai jam 6 demi efisiensi. Secara perlahan tapi konsisten, perpustakaan kemudian mengalami malfungsi, padahal secara simbolik ia adalah jantungnya universitas.

    Satu tanggung jawab pengelola perpustakaan yang belum digarap secara optimal adalah secara proaktif mengembangkan dan memasarkan layanan2 perpustakaan, termasuk training2 terkait pencarian data. Sudah mulai ada, tetapi masih jauh dari kelaziman perpustakaan unggul di mana-mana. Mudah2an pengelola perpus kreatif untuk membenahi diri di sektor ini. Kita tunggu gebrakan2nya!

  3. Theofransus Litaay says:

    @Neil: Saya masih ingat waktu jaman kuliah dulu kita belajar di perpustakaan sampai jam 10 malam, dan waktu itu kayaknya hanya kita di Indonesia yang mengenakan jam buka seperti itu.
    Di berbagai negara ternyata prakteknya sama yaitu buka sampai malam. Perpustakaan selalu dibuka sampai malam untuk bisa memberikan ruang bagi mahasiswa belajar dengan tenang. Sesudah kuliah, pulang mandi, sudah segar kembali kerja di perpustakaan rasanya enak banget.
    Di Amerika bahkan sesudah jam 12 malam, ada ruangan khusus untuk mahasiswa yang begadang sampai pagi. Di Valparaiso University ini, bahkan jam buka paling lama adalah pada hari Minggu (untuk bersiap masuk minggu baru, selain karena juga karena waktunya lebih longgar bagi mahasiswa). Demikian pula di beberapa perpustakaan di South Africa ada yang dibuka 24 jam. Saya ingat waktu perpustakaan hukum di Vrije Universiteit Amsterdam ditutup jam 10 malam, banyak teman-teman dari South Africa yang protes karena belajar mereka harus terputus.
    Jam buka perpustakaan UKSW memang berubah sesudah masa konflik dulu dan sesudah krisis ekonomi menimpa indonesia tahun 1997.

  4. Neil Rupidara says:

    @Theo, karena itu perpustakaan menjadi jantung, terus berfungsi, hanya perlu penurunan aktivitas ketika masa istirahat serta perlu dijaga agar tetap ‘sehat’. Karena itu, policy untuk waktu2 tertentu buka perpus 24 jam juga mestinya bisa dipikirkan. Paling tidak memulai dengan membudayakan jam buka sampai jam 10 malam untuk samai prestasi di zaman dulu aja sudah baik untuk tahap awal. Saya pribadi merindukan perpus UKSW menjadi ‘rumah utama’ mahasiswa, hal mana sudah saya saksikan di mana2. Selalu full, orang giat belajar, berdiskusi, penuh ‘intan-berlian’ dan jendela ke dunia yang luas. Semoga!!!!

  5. ftje99 says:

    Pada tahun 1999 s/d 2005, saya cukup akrab dengan PU UKSW. Baik untuk mencari buku(terutama pada saat tts n tas pak Liek, pak Matheas, pak alm Barkah yang Open Book) sampai dengan tempat kumpul2 sama teman2x he2x. Untuk masalah sedikitnya mahasiswa yang berkunjung ke PU memang harus diakui. Bukan hanya mahasiswa, menurut pengamatan saya, dosen pun jarang yang terlihat berada di PU(kecuali dosen FE, tapi nggak tau ke PU untuk cari buku atau datangin kantor he2x). Seharusnya Dosen juga harus sering ke PU sehingga kasus buku referensi kurang banyak dapat cepat diatasi. Untuk PU sendiri kok nggak ada buletinnya ya(seingat saya), yang mungkin isinya membahas buku-buku yang baru dibeli atau yang lain. Untuk database komputer juga kayaknya kurang uptodate soalnya kalau cari judul skripsi saya n teman kuliah dulu kok nggak ketemu(info dari beberapa adek angkatan).
    Tapi salut lah buat PU kalau sudah mau berbenah, buat SA kerja kerasnya kayanya nggak sia2 he2x

  6. noel says:

    saya berharap buat PU agar inventaris buku dapat diperbanyak dan up to date…
    sering kali saya merasakan sebagai mahasiswa UKSW sering mendapat kesusahan dalam meminjam buku, sering kali buku yang ada sangat lama bahkan sebelum saya lahir…sedangkan sudah banyak perubahan.
    hal ini membuat mahasiswa harus pergi keluar kota untuk mencari buku yang sesuai atau harus pergi ke PU Universitas lain yang mungkin lebih lengkap.

  7. eko sw says:

    saya alumnus Geografi – UKSW. pertengahan th 1989 saya masuk uksw dan akrab dengan perpustakaan uksw. komentar saya, setahu saya pada waktu itu gedung yang ketika itu mulai dibangun kan tuk perpustakaan, tapi kenapa sekarang dicampur aduk untuk ruang kuliah (FE), ruang pelayanan dll? bisa saja hal itu yang menyebabkan kenapa jumlah pengunjung relatif kecil alias minat baca mahasiswa kurang oke. coba deh segara adakan penelitian dan usahakan gedung berpustakaan uksw itu tidak diribeti dengan aktivitas yang lain pasti lebih sejuk lagi untuk baca-baca. lebih baik “FE”-nya dipindahin aja, buat atau carikan gedung baru biar tidak ada kesan lain (mungkin diskriminasi). masalah orang non UKSW kalo memanfaatkan fasilitas yang ada harus membayar, saya kira no problem, kita kan swasta yang oke dalam segala hal.
    oh ya, curhat dikit. sekarang aku bekerja di lembaga pemerintah (PNS) tapi…saya sangat merindukan iklim belajar dan bekerja seperti di uksw-ku dulu.. yang penuh dengan profesionalisme. hidup uksw, jayalah kamu uksw, aku sangat bangga dan hormat padamu, majulah dan jayalah. GBU.

  8. Arthur says:

    Ya sih memang,……..
    Untuk dapat menarik minat masyarakat terutama mahasiswa untuk mau memanfaatkan PU ini seharusnya dimulai dari dalam PU itu sendiri….

    Mulai dari gedung yang terawat, buku yang lengkap, serta sarana dan prasarana dan pelayanan yang baik pula…

    Kita bisa liat perpus kita ini HAMPIR seperti gedung sewu nya semarang.
    Kotor dan sunyi buanget……

    Mau deket aja takut…..

    Ya moga-moga habis mbangun BU, perpus langsung direnovasi……

    Buat kita semua juga kok….

  9. Timothy ED'91 says:

    Pengalaman pertama masuk ke Perpustakaan UKSW (gedung lama), adalah pengalaman yg tak terlupakan. Sebagai seorang yg gila baca alias kutu buku, hamparan buku yg terbentang sejauh mata memandang merupakan swargaloka langit ke tujuh. Alhasil ada tidak ada tugas, selalu berdiam di rumah buku ini. Saya jg jd salah satu org yg paling antusias saat tau perpustakaan akan menjadi 7 lantai. Wuih. Satu lantai aja belum selesai dieksplorasi apalagi 7 lantai. Puyeng kepala ini membayangkannya.

    Terlepas romantika sebagai one of the biggest n the best seasia tenggara dahulu kala, saya hanya mau mengucapkan terima kasih sebanyak2nya kepada pendiri dan pengurus perpustakaan ini (termasuk para staf). Tanpa kalian sulit dibayangkan bagaimana keadaan saya sekarang. Semoga di masa yg akan datang lebih banyak lagi mahasiswa/i yg dapat merasakan dan menggunakan fasilitas yg amat berguna ini.

  10. dedy says:

    perpus ma sekarang ribet, masak buku yang bisa dipinjam dan dibaca dijadikan satu , pusing dech, terus proses peminjaman buku ribe banget + trs kesannya arogan banget

  11. LCt says:

    Kalo mang butuh baca di perpus si mo ribet kaya apapun bakal dilakoni. Masalahnya niat belajar mahasiswa yang kurang. Pada milih main game online mpe pagi dari pada baca buku. Boro-boro baca buku, wong ke warnet aja cuma buat check friendster, email, chatting, dll, bukan buat cari bahan kuliah yang bejubel banyaknya di i-net. Jadi, masalahnya dimana???? Perpus??? Sistem pendidikan??? UKSW??? Mental mahasiswa???? Jawab sendiri ya….

  12. Kartika S.Psi. says:

    Very pround of you Satya Wacana!!
    I think Notohamidjojo Library its great place!I was dealing with stressfull to finish my final paper there..
    Peace full and comfort to studying..
    Big assets,It must keep for long time!!
    Someday I will go there again!
    Kartika (Alumni Psychology 04)
    HR-Propan Group

  13. Alfa says:

    @LCT: Mmmmm Mental Mahasiswa…

  14. t47a says:

    Perpustakaan UKSW memang tenang banget.
    Aku sering ke sana buat ngerjain tugas, karena tempatnya yang nyaman sehingga menjadi pilihan pertama aku dan teman-teman ku buat ngabisin waktu + ngerjain tugas di situ.

    Apalagi sekarang fasilitasnya udh makin keren aja. Di dukung dengan Sistem Informasi Manajemen Perpustakaan yang baik.

    Namun sayangnya, buku tentang Teknologi Informasi masih jarang dan kebanyakan buku yang aku cari gak ada. Maklum, anak FTI

    Ok dech, semoga untuk kedepannya akan lebih baik lagi. Amin….
    Sukses buat UKSW…

  15. Dimas S. Aditya says:

    Saya setuju dengan Bung Theo dan Bung Neil. Perpustakaan memang adalah jantung dari sebuah universitas.
    Sudah saatnya kita menghidupkan kembali jantung tersebut.

  16. VICTOR says:

    Hmm, PU UKSW terbesar dan terbaik di Asia Tenggara itu duluuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu…Sekarang pertanyaannya kan, klo skrg bagaimana??? Mungkin, karena Prinsip orang-orang Indonesia yang sering cepat merasa puas(padahal baru terbaik se Asia Tenggara, belum di “dunia”) dan mudah terjangkit penyakit megalomania(terlalu mengagungkan diri sendiri) yang menyebabkan degradasi di PU tercinta kita. Selain hal itu, saya coba melihat dari sisi lain yang secara tidak sengaja terpikir, kan pada waktu itu Direktur PU orang Bule(kalo salah tolong dikoreksi), yah mungkin SDM Direktur juga punya andil mungkin. Tapi kalo masalah kualitas, saya dengan sedikit jengkel akan saya katakan, belum memuaskan. Sebagai beberapa contoh kecil pengalaman Riil saya, yang pertama di lantai 2 dekat referens, terdapat tempat menunggu yang sering digunakan untuk membaca koran, sering saya saat ingin membaca koran ternyata koran yang seharusnya ada di tempat tersebut, ternyata eh ternyata di bawa oleh petugas yang menjaga di baca dan di bawa entah sampai di mana. Selain itu kadang, lebih liciknya petugas, yang dipampang di tempat baca ialah koran 1 hari lalu, terus yang baru di mana dunk??? Baca, thu kan siapa aja boleh, tapi koq di gituin, ya ga bener lah itu namanya. Contoh lainnya, saat saya cari buku lewat katalog di komp belum terpinjam tapi setelah saya cari dan saya tanyakan ke petugas, cuma jawaban tidak ada. LaINnYA, satu ketika saya di dongeng ma OMA KID, bahwa ada buku keren yang patut di baca dan sedang best seller, kembali ternyata eh ternyata, di PU belum ada(saya katakan belum karena saya optimis suatu saat akan ada dalam waktu dekat). Banyak tugas untuk membuat PU kembali lagi menjadi” Jendela dunia yang up to date” bisa digunakan seluruh civitas akademika untuk mengembangkan dirinya. Untuk rencana PU buka smpai malam maupun 24 jam,saya dukung 100%, karena bagi sebagian mahasiswa, mereka mencapai konsentrasi optimal saat malam hari. Saran untuk orang-orang yang berhubungan dengan PU, saat ini adalah waktu yang tepat untuk berkembang dan menjadi pihak yang tudak cuma standar atau biasa saja, mungkin dengan diterapkan PU buka 24 jam akan punya efek yang sangat besar dan efek gaung untuk memproklamirkan PU kembali menjadi yang terbesar dan terbaik.Cogito Ergo Sum.

  17. Dicky Kurniawan (xrvel) says:

    Sama dengan istilah “dulu indonesia macan asia” 🙂

  18. Alfa says:

    @Victor
    Saya termasuk orang yang suka membaca. Dan menurut saya, pelayanan Perpustakaan sudah lumayan, apalagi semenjak adanya pembaharuan sistem. Namanya juga sistem, jadi perlu penyesuaian dalam pelaksanaannya.

    Mengenai perpus buka 24 jam. Saya tidak setuju, karena tidak efisien. Bayangkan biaya listrik yang harus ditanggung. Terlalu berisiko jika dibandingkan dengan animo mahasiswa yang (menarik nafas) rendah.

    Saya berandai-andai kalau misalnya, Fakultas ekonomi dan ruang2 kuliah yang ada di situ di pindahkan, apakan Perpustakaan akan terlihat ramai?

  19. VICTOR says:

    @Alfa, hmm, oke, buat pandangan setuju anda yang mungkin itu, terserah drpd tiap individu, tp utk alasan itu terlalu berisiko karena animo mahasiswa masih rendah saya rasa tidak rasional. Yang pertama apalah arti satu juta rupiah dibandingkan dengan menghasilkan 1 mahasiswa yang produkitf dan bermutu sehingga menjadi aset negara, Selain itu, utk animo, suatu kebiasaan itu dibutuhkan proses, di mana hal itu tidak bisa instant, tetap[i kalau tidak di mulai sekarang, mau di mulai kpn lg??Sebenarnya masalah animo bisa diatasi, jikalau dosen mendorong mahasiswa utk aktif mencari bahan-bahan sendiri, bukan hanya didulang di dalam kelas.

  20. Michael prasetia says:

    harusnya setiap mahasiswa yang hendak masuk ke satya wacana di haruskan untuk menyumbAng Dana sekitar 500 rb untuk keperluan perpustakaan umum disatya wacana….serta bagi mahasiswa yang hendak diwisuda agar menyumbang secara sukarela….dalam artian yang pantas, bagi yang mampu diharap dpt menyumbang 1 juta lebih…dan yang kurang mampu boleh mencicilnya…yang penting bagaimana peprustakaan itu menjadi asset yang baik…bukan tempat nongkrong, pacaran atau lainnya..dan hal yang penting lagi agar mahasiswa disediakan kotak sumbangan sukarela di kantin2x,alfamart dan didepan tempat parkir, ditempat internet di lingkungankampus…. “sisihkan Rp 500,- kembalian anda untuk Keperluan pembelian BUKU perpustakaan Umum satya wacana…”kalo semua berjalan seperti ini saya yakin Perpustakaan satya wacana akan menjadi yang terbesar, terbaik di Dunia…..kita pasti bisa, kalo kita mau berubah……..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *