Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus Masuk Kampus

Browse By

Pada 26 Mei 2008, berbagai elemen mahasiswa bertemu di ruang rapat Lembaga Kemahasiswaan UKSW. Yang mengundang adalah Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), dalam rangka mendiskusikan kenaikan harga BBM dan pembentukan front. Elemen-elemen tersebut adalah HMI, FPPI, BEM STIE AMA, PMII, BPMU UKSW, dan SMU UKSW.

Pelaksanaan pertemuan ini sebenarnya bertentangan dengan kebijakan UKSW, yang tidak mengakomodasi organisasi mahasiswa ekstra kampus untuk masuk dan menggunakan fasilitas di UKSW untuk kepentingan golongannya.

Saat dikonfirmasi kepada Umbu Rauta, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UKSW, Umbu mengatakan bahwa ia tak tahu-menahu tentang hal ini.

Umbu lalu menelepon ketua SMU dan ketua BPMU, menanyakan perihal pertemuan tersebut. Ia menegaskan kepada mereka bahwa hal ini jangan sampai terulang lagi.

“Kebijakan ini diambil agar tidak semua organ masuk. Bagaimana kalo semua minta masuk, termasuk kelompok etnis?” jelas Umbu.

Noviani, Ketua Umum BPMU UKSW, ternyata tak tahu soal kebijakan ini. “Saya kaget ketika ditelepon pak Umbu,” ujarnya sambil tersenyum.

Di tempat terpisah, Khrisna Djaja Darumurti, mantan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UKSW periode 1997-2001, menegaskan bahwa kebijakan ini telah berlaku sejak 1978, ketika NKK/BKK dikeluarkan pemerintahan Orde Baru. “Dan UKSW tetap melaksanakan sampai sekarang agar organisasi intra (kampus) tidak mati,” pungkasnya.

13 thoughts on “Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus Masuk Kampus”

  1. andi-dobleh says:

    lho emangnya ga boleh tho?
    baru tau deh….
    tapi sebenarnya alasan utamanya apa tho? karena kalau sebatas “agar organisasi intra tidak mati”, kok jadi aneh..
    justru ini kan tantangan kepada organisasi intra kampus untuk lebih berkiprah, jangn terus berkutat di dalam kampus saja.

    dah dulu ah, cari2 info soal ini..

  2. Theofransus Litaay says:

    Kebijakan ini jaman dulu merupakan bagian dari “depolitisasi kehidupan kampus.” Lahirnya dari SK Mendikbud No 028 tahun 1978, yang melarang organisasi mahasiswa ekstra kampus untuk masuk ke kampus. Alasan dibalik keputusan ini karena pemerintah Suharto terganggu dengan sikap kritis mahasiswa terhadap politik orde baru yang mulai melenceng dari cita-cita angkatan 1966. Jadi pada dasarnya kebijakan itu melarang mahasiswa untuk berpolitik. Di UKSW, kebijakan ini kemudian disiasati melalui kegiatan Pekan Ilmiah Mahasiswa untuk tetap menyediakan wadah bagi sikap kritis mahasiswa tanpa kehilangan sifat akademisnya.

  3. bintang says:

    terlalu kaku dengan aturan yang ada. apa alasan yang kuat ketika organisasi ekstra kampus tidak diperbolehkan masuk selain SK Mendikbud No 028 tahun 1978, yang melarang organisasi mahasiswa ekstra kampus untuk masuk ke kampus. selain SK itu apa ada alasan yang lebih kuat lagi?? tohhh itu jamannya SEOHARTO. sekarang di jaman Reformsi ini masihhh ada saja dislkriminasi.
    ya……. g tahu juga sehhh.
    kalau ketua BPMU g tau anehhh sekali. tapi pada saat pertemuan kelihatanya ketua BPMU datang…
    aneeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeehhhhhhhhhhhhhhhhhhhh

  4. Saam Fredy says:

    ada baiknya memang jika organisasi mahasiswa ekstra kampus tetap berada diluar kampus, maksudnya agar lebih fokus pergerakannya di luar kampus, sehingga tidak saling gontok-gontokan dengan organisasi intra kampus. Dan akan lebih hebat jika mereka membangun front bersama (sewaktu-waktu) jika ada isu bersama yang diusung, contohnya penolakan kenaikan BBM. Front bersama akan membuat gerakan tersebut lebih nyaring bunyinya.

    Ketidakleluasaan organisasi ekstra dalam kampus, lebih dari permasalahan pencarian anggota saja, dan repotnya adalah si-anggota yang juga anggota ekstra itu mahasiswa universitas bersangkutan, yang kadang mengalami dilema kepentinga. Berjuang atas nama gerakan atau nama universitas. Kebingungan seharusnya disikapi secara bijak oleh pejabat teras masing-masing pihak.

    Saya sempat mengalami hal serupa, di satu sisi saya berjuang bersama GMNI, di sisi lain saya mahasiswa UKSW. Namun saya menyadari bahwa kami memiliki AD/ART yang wajib dijalankan, sehingga saya lebih bisa menyikapi permasalahan tersebut.

    Sebenarnya, identitas hanya media, seharusnya itu tidak menenggelamkan ide awal dari kesucian sebuah pergerakan. Jadi, apapun sebenarnya nama, tidak ada masalah, yang penting demi kebaikan rakyat, itu saja. Seperti judul sebuah novel: Anonim is my hero!

    Salam,
    Saam Fredy

  5. seehngojennaca says:

    sebenarnya organ extrauniversiter masuk kampus juga boleh kok
    tinggal keperluannya mau apa dulu, kalo mau ambil ATM, ya ndak papa khan ?
    kalo keperluannya mau mendirikan organisasi yang berdiri di bawah naungan LK UKSW
    itu yang harus ditinjau ulang ……

    kalau hanya sekedar untuk berdiskusi untuk merencanakan sebuah aksi ….
    saya pikir ndak salah ……

  6. Wilson says:

    Sepertinya ada ketakutan dari pimpinan UKSW kalau organisasi intra (LK UKSW) akan “dikendalikan” oleh organisasi ekstra kampus. Bagi saya, ini kebijakan yang tidak fair, perlu ditinjau kembali.

  7. dian ade permana says:

    apakah Pekan Ilmiah Mahasiswa bisa menjawab kekritisan mahasiswa UKSW? bukankan kekritisan tidak bisa dijadwalkan?
    mau mengkritisi harga BBM apakah harus menunggu PIM diadakan?

    akuilah, lembaga kemahasiswaan UKSW memang mati suri… mereka terlalu terlena dengan berbagai fasilitas dan anggaran-anggaran…

    hingga melupakan para mahasiswanya…apakah salah jika kemudian mahasiswa melupakan LK?

    saya rasa, independensi LK dan berbagai organ kemahasiswaan adlah dinamika yang tidak bisa dibunuh dengan NKK/BKK..
    LK terlalu lama menjadi alat…

    saat mandiri kawan…

  8. Saam Fredy says:

    Kepada rekan-rekan semua,

    Tidak bijak jika menilai dari satu sisi saja. Apa yang terjadi dalam tubuh Lembaga Kemahasiswaan UKSW merupakan bagian dari proses pendewasaan yang patut dihargai.

    Terkesan selama ini adalah LK yang merupakan Lembaga Kegiatan, hal itu terjadi karena terlalu banyaknya kegiatan yang dieksekusi oleh rekan-rekan di LK, ditambah dengan aktifitas belajar sebagai mahasiswa dan kehidupan pribadi teman-teman.

    Satu saran bagi teman-teman LK, kurangi kegiatan hingga 50%, sisanya dapat digunakan untuk: (1) pengembangan organisasi; dan (2) merespon isu-isu terkini di masyarakat. Perlu diingat ada agenda besar di 2009, Pemilihan Umum.

    Dan untuk kita semua (pengamat, mantan anggota LK, dll), mohon kirannya partisipasinya untuk kemajuaan LK UKSW. Rasakan LK menjadi bagian dari anda, dan anda adalah LK UKSW.

    Tetap semangat LK UKSW…!

    Salam,
    Saam Fredy

  9. obed pemberontak says:

    ni SMU, BPMU ma LMND perlu buat buat press release di scientiarum nih…
    biar jelas permasalahan nya…
    siapa tahu LMND hanya pinjam ‘tempat’ untuk mengumpulkan organ ekstra dan ijinkan oleh SMU+BPMU, gimana? belum tentu organ ekstra akan intervensi LK…
    kalo hanya ‘nebeng’ tempat pertemuan saya rasa ga salah… tapi kalo sudah urusan dalam tunggu dulu…
    kuncinya pada shinta dan novi supaya lebih ‘waspada’ dan ‘sadar’….

    best regard
    obed

  10. mansur says:

    alasannya apa ko tdk boleh?
    bknkah jika dibolehkan, organ intra menjadi bertambah wawasannya mengenai keadaan organ luar dsbnya..
    jika organ intra hanya berkecimpung didunia dlm kampus saja…. KAPAN MAJUNYA INDONESIA INI!!!!!
    jika setiap organnya tertutup seperti ini..
    tolong berikan alasan yang jelas mengenai ini……
    tanks….

  11. Opha says:

    Kalo hanya di undang kehadirannya dalam sebuah event, ga ada salahnya. Tetapi ya pahami aja ini sebagai kebijakan “politis” kampus jika organ ekstra universiter di batasi. Saya melihat ada sisi baik dan sisi tidak baiknya.
    Menurut hemat saya, untuk kekritisan ataupun keapatisan mahasiswa sebenarnya lebih cenderung dipengaruhi oleh sisi orang / individunya. Situasi-kondisi kampus hanya menjadi faktor penguat saja, atau dengan kata lain, tidak sepenuhnya menjadi tolok ukur kekritisan mahasiswa dengan keberadaan organ ekstrauniversiter.

  12. iphal says:

    Salam..!
    Saya Iphal seorang mahasiswa.
    Saya sedang mendiskusikan kepada teman untuk membentuk organisasi ekstra kampus yang membawa label kampus, tanpa bernaung kepada organisasi manapun.Tapi ada beberapa hal yang saya tidak mengerti.
    1. Bagaimana cara pendiriannya,apa seperti pembentukan organisasi2 intra kampus?
    2. Bagaimana dan siapa2 yang memilih pengurus2nya?
    3. Apakah Niat kami akan di setujui oleh kampus?
    4. Apa kami membutuhkan SK dari kampus atau induk organisasi
    5. Jika memang kami butuh SK agar lebih syah dan diakui, sementara pihak kampus tidak mengeluarkannya?
    6. Apa kami tetap bisa jalan tanpa SK?
    Tolong diberi saran dan masukan.
    Trim’s

  13. Anak LK says:

    Kalau semua organisasi ekstra kampus dibebaskan masuk kampus, pasti LK akan “tenggelam.” Soalnya ikatan spirit dan ideologisnya anak LK kan tipiezzz…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *