Orasi Ilmiah Akbar Tandjung

Browse By

Mantan Ketua DPR RI, Akbar Tandjung, menjawab sejumlah pertanyaan mahasiswa pada orasi ilmiah bertajuk “Peluang dan Tantangan Pemuda dalam Pembangunan Bangsa Menuju Era Globalisasi” yang diadakan Senat Mahasiswa Universitas di lapangan basket UKSW, Salatiga.

11 thoughts on “Orasi Ilmiah Akbar Tandjung”

  1. wit says:

    Isinya apa STR?
    pemuda itu siapa? kriterianya apa? peluangnya? tantangannya?
    saya masih muda apa sudah tua ya….? kemarin dihitung-hitung, hidup saya tinggal sekitar 13.000-an hari lagi… he he.. ada yang iseng2 ngitung sisa waktu ‘normal’ untuk hidup….
    penginnya aku ikut hadir di Orasi Ilmiah itu, tapi ada acara yang ‘tidak ilmiah’ di tempat lain ( http://pwijayanto.net/?p=6 )

  2. STR says:

    @ wit: Isinya, pemuda harus lakukan ini-itu, begini-begitu, dan sebangsanya.

  3. Neil Rupidara says:

    Pertama, Akbar Tanjung sudah dapat gelar Dr. dari UGM, mengapa cuma panitia cuma ‘menghargai’nya sebagai Ir.? Mungkin karena itu ya dia lalu memberi yang normatif2 saja ha ha ha… Temanya juga terlalu ‘safe’ atau umum sih dan sudah kurang tepat untuk minta Akbar Tanjung untuk bicara itu, kecuali ketika masih Menpora dulu. Mungkin memori-nya ke sana kali ya.. ha ha ha..

  4. Saam Fredy says:

    @Pak Neil: Saya pikir itu tema yan pas, karena penontonya pemuda UKSW. Tema itu tetap relevan hingga sekarang.

    Salam,
    saam fredy

  5. Neil Rupidara says:

    @Saam: Tanggapan saya merefer info STR bahwa “pemuda harus lakukan ini-itu, begini-begitu”.. terlalu normatif! Maaf, saya tidak tahu persis isinya. Tapi, jika itu benar, maka analisis saya, itu terkait tema, walau saya tambah guyonan soal gelar Akbar Tanjung.

    Lebih jauh dari batasan waktumu, menurut saya, tema tersebut akan relevan sepanjang masa, kecuali nanti ada era baru mengganti era globalisasi sehingga kata era globalisasi menjadi usang atau tidak terpakai. Di samping itu, generasi muda toh akan terus ada, hanya berganti orang-orangnya. Karena itu, di zaman revolusi fisik, kita mengingat dr Wahidin cs dengan Boedi Oetomo, lalu berkembang ke de Jongens di era Soempah Pemoeda, hingga masuk kepemimpinan Soekarno-Hatta yang tergolong muda di era emas. Jika direnteng cerita sejarah pemuda hingga hari in, termasuk di era 70an dengan Malari hingga 98 dengan gugatan reformasinya. Semua soal pemuda, jadi itu everlasting theme.

    Dalam peralihan generasi dan zaman pun akan membawa konsekuensi munculnya tantangan2 baru, sekaligus peluang2. Itu bisa terlihat dalam lintasan sejarah tadi yang kalau dibedah akan menunjukkan bahwa masing-masing menjawab tantangannya sendiri-sendiri. Jadi, tema itu memang relevan dan saya tidak bermaksud untuk mengatakan itu tidak relevan. Yang saya katakan adalah terlalu safe atau umum. Karena terlalu umum ya gampang terpeleset di soal-soal normatif, apalagi bawaan Akbar yang bekas birokrat penting di zamannya. Jadi, kita (baca: panitia) -lah yang ‘menggoda atau menjebak’ dia untuk menjadi generik dan normatif.

    Mestinya, bisa dirangsang untuk lebih analitis, menukik pada isu-isu mendasar kekinian. Misalnya, soal peluang kepemimpinan nasional oleh/dari orang muda sehingga memaksa orang macam pak Akbar untuk tidak berpikir untuk maju jadi Capres lagi. Konteksnya jadi lebih terbatas. Atau, karena dia bagian dari sejarah itu, ia bisa diminta untuk mengungkit kembali dimensi sejarah pergerakan politik mahasiswa yang menjatuhkan Soeharto dan termasuk menggoyang eksistensi Golkar di 1998 dan keaktualan gerakan mahasiswa dalam politik nasional saat ini. Kalo yang ini menuntut empirical evidence. Dan, orang macam Akbar kan punya banyak inside information dan apalagi kini merupakan ‘orang bebas’ sehingga bisa di-challenge untuk ngomong lepas pada isu-isu spesifik dan sensitif alias nakal, daripada membiarkan dia main pada tataran yang terlalu umum yang seolah-olah menempatkan dia jadi birokrat yang bicara general framework dan policies.

    Hal lain, generasi muda kan concerns-nya juga banyak, termasuk kini kita sedang melihat aliansi mahasiswa dan masyarakat dalam gerakan menolak kenaikan BBM, dan masih banyak lagi. Jadi, dialog2 pemuda tidak selalu harus dibungkus dengan tema “tantangan dan peluang pemuda..” Lain hal, UKSW di tahun lalu sudah menggagas isu Youth and Development yang melihat peran mahasiswa dalam konteks Pemberdayaan Masyarakat, misalnya. Dan, kalau saja PIM 2007 jadi dilaksanakan, tema itu akan berbunyi lebih kencang karena di samping empirical evidence diungkit2, juga akan bicara konsep aksi mahasiswa dalam pembangunan.

    Jadi, kembali ke maksud saya, akhirnya saya menilai bahwa orang penting macam Akbar Tanjung kehadirannya di kampus kan jarang dan harus dimaksimalkan untuk berbicara sesuatu yang lebih critical, daripada sekedar yang normatif. Sayang sekali kalau cuma normatif.. Namun, sekali lagi ini penilaian ini berbasis info STR. Sorry saja kalau STR juga tidak komprehensif dengan infonya.

  6. Neil Rupidara says:

    Sorry ada keseleo pikiran dan koordinasi syarat ke jari2 tangan he he he.., mau diketik dr Soetomo kok malam jadi dr Wahidin..

  7. Umbu Rauta says:

    Pak Neil,
    Memang benar, Bang Akbar telah bergelar Doktor daru UGM, bahkan saat acara dimulai, beberapa tim Bang Akbar (salah satunya Direktur Eksekutif Akbar Tanjung Institute – Sdr. Alfan Alfian memberitahu kekeliruan tersebut). Ini kesalahan panitia yang membuat spanduk. Saat moderator memulai acara, sudah diralat soal gelar.

    Soal Thema, memang betul terkesan umum, namun saat acara berlangsung, justru yang dikatakan seperti harapan Pak Neil, yaitu peluang kepemimpinan nasional, dimensi sejarah pergerakan mahasiswa, sejarah perjuangan Bang akbar saat menjabat Ketua Umum Golkar, serta masalah dan tantangan bangsa. Masalahnya hanya terletak pada masih adanya keinginan “tokoh – tokoh seumur Bang Akbar” yang masih berniat maju memanfaatkan peluang kepemimpinan nasional. Sayangnya waktu yang diberikan beliau hanya 2 jam (karena malam harinya telah ada acara di Jakarta) sehingga masih banyak peserta yang belum kebagian bertanya atau berpendapat.
    Namun kita berterima kasih karena beliau telah datang ke UKSW.

    Masukan-masukan lain untuk kesempurnaan kegiatan ke depan patut diperhatikan. Trims

  8. STR says:

    Sudah betul apa yang pak Neil katakan.

    “Bang Akbar” hanya ngomong yang normatif-normatif saja mungkin karena temanya terlalu umum. Ini bukan persoalan relevan atau tidak, tapi tema yang terlalu umum dan obralan kata-kata normatif cuma bikin audiens jadi bossssan. šŸ™

  9. Saam Fredy says:

    @ STR: sebenarnya apa yang kamu harapkan dari Akbar bicara? Biasalah pengantar begitu, semakin seru jika masuk dalam sesi tanya jawab. Bagi wartawan memang apa yang Akbar bicarakan sangat tidak menjual untuk dimasukan dalam koran, tapi dia sebagai publik figur sangat ditunggu ucapannya terutama terhadap isu-isu terbaru nasional. Buktinya, berita yang dibuat Kompas, dimuat pada halaman 2, Minggu, 1 Juni 2008.

    Lebih lanjut, ini saya pikir memang style Akbar dalam memberikan orasi. Memang terkesan membosankan.

    Salam,
    Saam Fredy

  10. Arthur says:

    Tul………
    judulnya ā€œPeluang dan Tantangan Pemuda dalam Pembangunan Bangsa Menuju Era Globalisasiā€
    Kayak judulĀ² seminar waktu orde lama….
    Monoton…..

    Mbok ya lebih menarik sedikit seperti :
    “Membangun pemuda dan pemudi dengan kawin silang” (untuk fakultas biologi dan psykology) atau

    “Membangun pemuda dan pemudi dengan dana seadanya pada lahan kosong didepan rumah” (Untuk fakultas pembangunan dan management), Bisa juga

    “Mari kita hancurkan kampus kita” (untuk para preman dan gali)

    Itu pasti rame dan kita punya tambahan ilmu, ndak cuma bahasan nggambang kayak gitu ya??!??

    Binggung aku…..

  11. obed says:

    wah menurutku “akbar” mau ngomongin thema yang kesannya “akbar”…
    tapi kalo yang “dalem” kayaknya ga deh.. dia pilih safe…
    kalo brani omong dalem, sekalian aku kasih nama “dalem” tanjung…
    maap kalo ga sopan!
    regards

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *