Gandum Kepedulian untuk BBM

Browse By

Beberapa fakultas UKSW, bersama dengan masyarakat, menggelar aksi peduli kenaikan harga BBM sejak Sabtu, 31 Mei 2008. Mereka adalah Fakultas Pertanian (FP), Fakultas Ekonomi (FE), Fakultas Teknologi Informasi (FTI), dan Fakultas Sains dan Matematika (FSM). Sedangkan elemen yang berasal dari masyarakat adalah karang taruna kelurahan Mangunsari, serta beberapa lembaga mitra dan relawan.

Dalam TOR (term of reference) kegiatan tersebut dikatakan bahwa UKSW memandang perlu menyelenggarakan aksi melalui penyebaran selebaran hemat BBM dan penjualan bubur dan dawet gandum hasil produksi bangsa sendiri (bukan impor) dengan harga murah (Rp 500 per mangkok). Tujuannya, memberikan pendidikan sosio-kultur masyarakat dalam menyikapi kenaikan harga BBM. Selain itu, juga memberikan solusi kepada masyarakat, khususnya masyarakat miskin, dalam memenuhi kebutuhan pangan.

Aksi ini berlangsung hingga 1 Juni 2008. Mereka mendirikan stan penjualan di dua titik, yakni depan kampus UKSW dan depan kantor kelurahan Mangunsari lama.

Aksi ini didukung oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti). Selaku penanggungjawab adalah direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UKSW. Sedangkan yang ditunjuk sebagai ketua pelaksana adalah Danar Pramonosidhi, dosen Fakultas Pertanian UKSW.

“Tema (aksi) tersebut hanya spontanitas supaya masyarakat tertarik. Dan, kebetulan saja, isu yang lagi marak yaitu isu BBM, maka isu itu yang kita angkat,” ujar Danar.

Kendati demikian, “Sebenarnya inti utamanya adalah memperkenalkan gandum hasil pertanian UKSW kepada masyarakat luas, karena UKSW merupakan penghasil gandum terbaik dan terbanyak se-Indonesia,” imbuh Danar.

Proses pembuatan bubur dan dawet gandum dilakukan langsung di stan penjualan. “Karena prosesnya mudah dan gak ribet,” jelas Marta dari karang taruna kelurahan Mangunsari.

Bubur gandum yang sudah matang dijual dengan harga Rp 500 per mangkok, dan hasil penjualannya akan dimasukkan ke kas karang taruna kelurahan Mangunsari.

Aksi peduli kenaikan BBM ini kurang mendapat perhatian dari mahasiswa dan masyarakat. Hal ini sangat disayangkan Danar.

“Kegiatan ini kurang mendapat respon dari mahasiswa sendiri dan masyarakat Salatiga pada umumnya. Padahal sudah mengoar-ngoarkan kalau mau ada aksi ini,” keluh Danar.

6 thoughts on “Gandum Kepedulian untuk BBM”

  1. z says:

    yo bagus kalo ada solusi yang bisa di berikan pada masyarakat guna mencukupi kebutuhan pangan dan hal tersebut harus di tindak lanjuti jika memeng solusi yang di berikan sangat berguna bagi masyarakat. bila perlu desak pemerintah untuk mendukung solusi terebut .

  2. z says:

    memang selama ini masyarakat indonesia masih meprihatinkan dalam hal kebutuhan pangan oleh sebab itu sangat bagus jika ada kalangan masyarakat atau mahasiswa memberikan solusi guna menanggulangi krisis pangan khususnya di indonesia karna selama ini memeng pemerintah sepertinya kurang memperhatikan kesejah teraan rakyatnya maka dari itu mari berlomba mencari solusi guna kebutuhan pangan.

  3. pisces says:

    mana ada mahasiswa sekarang yang mau capek . jaman sekarang mahasiswa pada kurang kreatifitas sukanya cuma berkomentar tapi ga mau kerja repot tow……..

  4. niskala says:

    bubur gandum enak loh.cocok buat sarapan.nogosari gndumnya jg mantap..hehe..

  5. z says:

    memang mulut buaya makanan apapun ya tetep buaya hahahahahaaa
    ya enaklah masak ya enak dunk hehehehe

  6. Qinthunk says:

    Benar-benar kenyang tahan lama dan badan nggak cepet lemes setelah sarapan bubur gandum. Salut untuk karang taruna Mangunsari Salatiga, yang pertahankan momentum jual bubur gandumnya hingga kini, di kampus. Lumayan paket hemat untuk sarapan. Murah, meriah, bergizi tinggi lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *