FTI Gencar Promosi Lewat Bola Basket

Telah dilihat 3,224 kali sejak 3 June 2008

Bagi Fakultas Teknologi Informasi UKSW, promosi pendidikan tinggi bisa dilakukan lewat olahraga. Basket jadi pilihannya.

Pusdiklat (Pusat Pendidikan dan Pelatihan) Basket FTI UKSW dibentuk pada Oktober 2007. Baru dua bulan terbentuk, para pebasket dari pusdiklat ini langsung memotori tim basket putra UKSW untuk merengkuh juara kedua dalam kejuaraan nasional yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) dan BAPOMI (Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia) Jawa Timur di GOR Kertajaya, Surabaya, Desember 2007.

Prestasi tak berhenti sampai di situ. Mereka juga menjadi juara pertama Surya Pro Basketball Championship 2008 yang dihelat di Solo, Mei 2008.

Prestasi-prestasi tersebut otomatis mengangkat nama UKSW dan FTI.

“Ini memang bagian dari promosi kita (FTI — Red), karena melihat animo anak-anak SMA itu di basket sebagian besar,” kata Yani Rahardja.

Yani adalah wakil dekan FTI, yang sekaligus merangkap manajer Pusdiklat Basket FTI. Gelar sarjana ekonomi didapatnya dari Fakultas Ekonomi UKSW pada tahun 2000. Setahun kemudian, ia juga menyelesaikan studi magister manajemen di Program Pascasarjana UKSW dengan konsentrasi pemasaran internasional.

FTI memang tak main-main menggarap strategi promosinya lewat olahraga basket. Mereka sampai mendatangkan Danny Kosasih, “suhu basket” Indonesia, untuk menjadi pelatih kepala di pusdiklat itu.

“Prestasinya (Danny Kosasih — Red) perak SEA Games,” klaim Yani tentang karir kepelatihan Kosasih.

Para pebasket yang tergabung dalam Pusdiklat Basket FTI direkrut berdasarkan hasil pemanduan bakat (talent scouting) yang dilakukan sendiri oleh Kosasih. Hasil rekrutmen pun beragam asal daerahnya. Ada yang dari Papua, Sulawesi, Sumatera, dan Jawa. Dari kuota sejumlah 15 orang, jumlah pebasket yang telah direkrut baru sebanyak 9 orang.

Kesembilan orang ini lantas diberi beasiswa penuh untuk berkuliah di FTI dan disewakan sebuah pondokan di daerah Kalinyamat, Salatiga, sebagai tempat tinggal. Warga jemaat gereja Bethany Salatiga, secara kolektif, juga urun bantuan berupa makanan sehari-hari. Jemaat Bethany membantu karena kesembilan pebasket tersebut juga bergereja di tempat yang sama.

“Harga sewa pondokan setahun Rp 10 juta. Fakultas juga kasih 3 unit komputer (untuk keperluan belajar — Red),” kata Yani.

Jadi, selain diwajibkan untuk berprestasi dalam bidang basket, para pebasket yang direkrut juga diwajibkan untuk tetap menjaga prestasi dalam bidang akademiknya. Kuliah harus tetap nomor satu, karena akan berguna sebagai bekal di hari tua, demikian penjelasan Yani.

“IP mereka di atas 2,25 semua,” klaim Johan Vilantino Pieter, mahasiswa FTI angkatan 2004, yang juga asisten Yani Rahardja dalam kepengurusan Pusdiklat Basket FTI.

Kenapa FTI begitu serius menggarap strategi promosinya, bahkan sampai bikin pusdiklat basket segala?

“Karena FTI UKSW mau menjaga stabilitas jumlah mahasiswa dan persaingan dengan perguruan tinggi (lain) semakin ketat,” jelas Yani.

“Lha apa dengan adanya pusdiklat basket, FTI UKSW lalu meningkat daya saingnya terhadap perguruan tinggi yang lain?” tanya saya.

“Ya … itu salah satu bagian dari strategi FTI. Tetapi yang paling utama dalam bidang keilmuan, dengan mengirim mahasiswa untuk mengikuti lomba-lomba dalam bidang teknologi informasi,” klaim Yani.

Tag: , , ,

126 komentar telah masuk. Apa pendapat anda?

Halaman: [13] 12 11 10 9 8 7 6 5 4 31 » Lihat Semua

  1. Komentar ke-126

    Budi wrote “Masak dosen2 fti banyak yang punya SE. dan MM. Capek deh,bagaimana mau betah mahasiswanya, kalau ilmu yang didapat bisnis malah bukan it”

    Terus terang saya kurang setuju dengan pendapat dari saudara Budi. Ruang lingkup IT sangat luas dan mahasiswa FTI tidak harus 100% belajar pemrograman. Bisa2 smua mahasiswanya sinting kalo belajarnya IT terus tanpa diselingi dengan ilmu lain, persaingan didunia kerja pun semakin ketat jadi kalo IT + ilmu bisnis dan managerial skill dijadikan 1 paket, kan mantab tuh.

  2. Komentar ke-125

    meski semua orang memiliki ilmu…pasti akan ada dasar dari ilmu tersebut..

    bagaimana nih,,dosen TI yang SE dan MM..
    hehehhehee

  3. Komentar ke-124

    Budi wrote “Capek deh,bagaimana mau betah mahasiswanya, kalau ilmu yang didapat bisnis malah bukan it”
    O iya bang budi, saya sangat betah menjadi anak FTI. :)

  4. Komentar ke-123

    Untung bang “budi Masak dosen2 fti banyak yang punya SE. dan MM.
    Capek deh,bagaimana mau betah mahasiswanya, kalau ilmu yang didapat bisnis malah bukan it”

    Saya anak FTI. Tapi terus terang saya senang kalo dapat ilmu bisnis (tentu saja ilmu bisnis yg berkaitan dengan IT, bukan misalnya bisnis kerupuk / bisnis tahu goreng).

    Karena saya sadar, kalo mahasiswa IT ilmunya tentang IT aja alias programming 100%, setinggi2nya tetep jadi karyawan alias kerja dengan orang lain. Percaya deh.
    Dah kerja sebagai karyawan bukan impian semua orang.
    Ada yang pengennya menjadi wiraswasta dan dari ilmu bisnis yang didapat, bisa memupuk jiwa wiraswasta.

    Tentu aja proporsi ilmu bisnis yang didapat harus berimbang, ilmu tentang TI sendiri harus lebih banyak daripada ilmu bisnis.

  5. Komentar ke-122

    Budi wrote “Capek deh,bagaimana mau betah mahasiswanya, kalau ilmu yang didapat bisnis malah bukan it”

    Saya kurang setuju dengan komentar saudara Budi. Karena ilmu bisnis dan managerial skill amat sangat berguna. Ilmu bisnis untuk mahasiswa TI menurut sangat perlu untuk dipelajari karena IT + Business Skill merupakan sebuah kombinasi yang CANTIK. Kalau modal kita hanya skill IT saja..wah saingan amat sangat banyak Pak.. Kita mesti punya added value.

    Kebetulan saya adalah alumni TI yang saat ini berprofesi di bidang business development, sehari-hari saya lebih banyak berkutat di product development dan marketing strategy, dan tak pelak saya harus banyak membaca buku2 marketing milik kakak saya (alumni FE UKSW). Terus terang saat ini saya gelagepan karena saya telat mempelajari ilmu marketing dan product development. Coba kalo dari jaman kuliah saya dapet beginian..wah skr kerja tinggal praktek, ngga kelabakan kaya skr.

    But anyway, saya akhirnya menyadari betapa mahalnya skill IT saya ketika saya kemas menjadi sebuah produk yang marketable.

    Namun mengingat FTI adalah Fakultas Teknologi Informasi (bukan Sekolah Bisnis dan Manajemen) :
    seyogyanya FTI juga memperkuat tenaga pengajar IT nya dengan praktisi2 IT yang handal; sehingga outputnya adalah seorang IT professional dengan sense of business yang kuat. Pilihan profesinya pun akan beragam: dapat menjadi IT professional, Marketing handal, atau Pengusaha.

    Mantab kan? Yah, semoga!

  6. Komentar ke-121

    Masak dosen2 fti banyak yang punya SE. dan MM.
    Capek deh,bagaimana mau betah mahasiswanya, kalau ilmu yang didapat bisnis malah bukan it

Halaman: [13] 12 11 10 9 8 7 6 5 4 31 » Lihat Semua

Berikan pendapat anda. Bergabung dalam diskusi.

PERHATIAN. Setiap komentar akan melewati proses moderasi sebelum tampil. Silakan berkomentar dengan sopan dan bertanggungjawab. Komentar anonim atau alias tetap diperbolehkan, namun kami mengimbau agar anda sudi menunjukkan identitas asli. Komentar yang menyinggung isu SARA atau melanggar etika kesopanan tidak akan ditampilkan.

SPONSOR LINK