Andong Manggolo

Browse By

Pria itu mengisap rokok yang ada dalam jepitan jemarinya, lalu mengepulkan asap ke udara dengan sejuta sentakan, seakan dia ingin dunia tahu betapa sumpek dunianya.

Setelah kepulan-kepulan asap yang membentuk lingkaran, lalu menghilang di udara, itu habis bersama waktu yang dilepasnya, puntung itu diuweg-uwegnya dalam potongan botol plastik, yang telah berubah fungsi menjadi tempat penampungan terakhir puntung-puntung. Tangannya sedikit merapikan rambut yang setengah gimbal. Keringat membasahi wajah legamnya yang sebulan ini tidak luput dari sapuan sinar mentari. Dia tampak jantan, walaupun kulit dan dagingnya hampir tidak mampu menutupi rangkaian tulang yang menyanggahnya untuk tetap kokoh berdiri di atas kaki. Dia mengambil sesendok kopi cap Luwak yang diseduhnya untuk diteteskan pada rokok berikut yang akan dihisap.

Pikirannya mengembara mencari titik temu dari persoalan hidup yang memecah kenyamanan. Andong berasal dari Indonesia. Tepatnya dari sebuah kota kecil, dingin dan sejuk. Terletak di ujung timur pulau Jawa. ”Banyuwangi,” itulah kata orang menyebut kota tua itu. Andong berangkat ke negeri jiran pada usia 18 tahun dan 25 tahun usianya kini. Tujuh tahun sudah usianya habis di Malaysia.

Awalnya, Andong berangkat ke Malaysia untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit. Tapi sesampainya di Malaysia, ia ditawari pekerjaan lain oleh pihak agensi. Ia ditawari untuk bekerja menjadi buruh bangunan di salah satu proyek pembangunan perumahan kawasan elit di Kuala Lumpur, Malaysia. Setelah proyek itu selesai ia terus berkelana dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, hingga suatu saat paspor, visa, dan kartu identitas lain miliknya hilang bersama tas yang diambil oleh pencuri, saat dia tertidur di halte bis. Dia memutuskan untuk tidak melapor kepada polisi diraja Malaysia dan tetap bersikukuh tinggal di Malaysia. Pengap hidupnya.

***

“Makan dulu.”

Lamunan Andong dipecah oleh lelaki gemuk dan sedikit pendek. Dia Manggolo. Teman-teman terdekat biasa memanggil Manggolo dengan sebutan ”Ndolo.” Dia baru saja membeli makanan buat dia dan teman-teman yang tinggal di pinggiran kampung. Manggolo berasal dari Jombang, Jawa Timur. Dia baru dua tahun di Malaysia. Masuk ke Malaysia secara sah dengan menggunakan visa turis, namun visanya tersebut tidak diperpanjang, dan jadilah ia seorang perantau ilegal (tidak lengkap dokumen). Bekerja sebagai penjaga toko bangunan. Rela meninggalkan istri yang sedang hamil delapan bulan, demi mendapatkan sesuap nasi di negeri jiran. Dia berusia tiga puluh tahun kini. Selera humornya yang tinggi adalah bentuk pelariannya dari masalah yang menghantui hidupnya.

“Letakkan saja di piring. Cepat sekali kau datang?”

“Ya, bung. Saya beli makan di warung pojok. Cari yang paling dekat dengan gubug kita ini, bung. Laper nich.”

“Baguslah itu.”

“Gentong mana?! Panggil dia makan. Jangan tidur aja.”

“Ada apa, bang?”

“Makan dulu kau. Jangan tidur saja. Bisa mati kelaparan kau.”

“Baik, bang. Saya cuci muka dulu.”

Gentong bergegas menuju kran air yang terletak di belakang rumah. Gentong adalah sebutannya karena ia paling suka makan. Gentong punya nama yang antik. ”Kang Obet,” itulah sebutan orang-orang di kampungnya. Aslinya sih Robertos. Perawakannya tinggi besar, rambut cepak dan ada tahi lalat di dagu perseginya. Dagunya tegas semakin mempertegas semangat hidupnya di Malaysia. Dia berasal dari Jawa Barat. Tasikmalaya tepatnya. Dia sebenarnya masih berusia 17 tahun. Tetapi dalam pasport usianya dituakan menjadi 20 tahun.

“Mana punya saya, bang?”

“Itu punya kau.”

“Uhmmmm. Ngejessssss.”

“Haitsya. Banyak tingkah kau. Makan saja dan jangan ribut. Stres aku.”

“Baik, bang.”

Suasana menjadi sepi dan hanya terdengar sendok beradu dengan piring dan suara gigi sedang menghaluskan makanan.

Setelah selesai makan, Andong bercerita bahwa ia semalam hampir saja ditangkap polisi yang sedang razia. Polisi itu hampir saja menangkapnya di Sek Ren Tsun Jin jika ia tidak berlari kencang memasuki lorong di Kampung Pandan, Kuala Lumpur. Dia bersembunyi di dalam bak sampah yang ada di dekatnya.

“Terus. Terus kelanjutannya gimana, bang?”

“Lha iya. Saat di dalam bak sampah, aku mendengar polisi itu bercakap-cakap dengan temannya lalu pergi.”

“Wah, mantap sekali kamu, bung.”

“Mantap batokmu,” sahut Andong tersenyum kecut.

“Bang, saya berangkat dulu.”

“Mau kemanakah?”

“Saya kerja dulu, bang. Biasa. Antar nyonya ke tempat saudaranya di jalan Temenggong.”

“Okelah. Dikau baik-baiklah di jalan.”

“Sip, bang.”

Gentong bergegas mengambil motor yang diletakkan di dapur dan meninggalkan Andong dan Manggolo yang kembali terlibat obrolan.

“Ok, brur. Aku juga mau melanjutkan kerja.”

“Saya juga. Saya mau tidur,” sahut Manggolo sembari ketawa.

Rumah yang terbuat dari beton semi kayu itu menjadi sepi. Rumah itu hanya punya satu dapur, satu kamar mandi, dan dua kamar tidur yang hanya disekat dengan kayu lapis. Pemilik rumah kontrakan adalah orang India yang sudah lama menetap di Malaysia.

***

Sebuah kipas angin terus bertugas menghilangkan asap rokok dan kepengapan udara dalam ruang tamu. Manggolo menikmati kasur kapuknya di atas lantai sambil mengerutkan dahi.

”Bagaimana membayar sisa uang kontrakanku ya?”gumamnya.

Dia tidak tahu lagi kemana harus mencari utangan. Ndolo sudah tiga hari dipecat oleh bosnya karena toko bangunan tempat ia bekerja sedang krisis keuangan. Ia memandang langit-langit kamar yang mulai berdebu dan tampak ada sedikit sarang laba-laba di pojok langit-langit. Cahaya mentari yang mulai berwarna kemerah-merahan masuk dari celah-celah jendela yang terbuka setengah.

“Ndolo? Ndolo.?!?!”

Ndolo terkesiap dan bergegas menghampiri datangnya suara itu.

“Ada apa?”

“Ayo buruan ikut ….”

“Kemana?!??!”

“Gak usah banyak tanya. Ayo ikut saya!”

“Sebentar … sebentar. Tenang dulu. Ada a … apa ini?!”

Belum selesai kata meluncur dari mulut Ndolo tiba-tiba terdengar suara gerombolan orang datang mendekat sambil berteriak-teriak. Ndolo segera mengikuti langkah orang yang mengajaknya menuju tempat persembunyian. Mereka berdua segera menaiki langit-langit rumah dan bersembunyi di antara genteng dan plafon rumah yang terletak di atas ruang tamu. Tempat persembunyian mereka tidak terlihat dari bawah karena sengaja mereka buat kalau ada razia mendadak dari pihak polisi bersama rela. Terkadang, rela bertindak sendiri tanpa pengawalan dari polisi diraja Malaysia. Keringat mengucur di sekujur tubuh Andong dan Ndolo. Dari atas rumah, mereka mengintip aktivitas orang-orang yang datang mengejar Andong tadi. Mereka mendengar suara orang-orang yang serumpun dengan mereka namun berbahasa Melayu. Dua orang bergerak memeriksa bagian kamar, tiga orang lagi memeriksa bagian belakang rumah dan sisanya yang berjumlah lima orang membongkar seisi rumah dan membawa barang-barang berharga yang mereka jumpai. Andong dan Ndolo tidak melihat orang berpakaian seragam menyerupai polisi, tetapi mereka melihat orang-orang berpakaian preman dengan persenjataan yang lengkap. Ada yang menyelipkan golok di pinggang, membawa pentungan, ada juga yang membawa senjata api. Semua orang itu memakai atribut yang sama dan berperawakan angker dengan rambut dipotong cepak. Ada juga yang bercambang dan berambut gondrong. Secara samar-samar, Andong mulai mengetahui secara pasti bahwa sepuluh orang yang memorak-morandakan rumah dan mengejarnya tadi adalah sekelompok orang yang mengaku anggota rela. Sepengetahuan Andong dan teman-temannya, rela adalah organisasi relawan yang didirikan pada 1971 untuk membantu pemerintah Malaysia melawan pihak-pihak anarkis dan komunis. Tapi, belakangan ini, mereka membantu pemerintah Malaysia menangani para pekerja asing, terutama para pekerja yang tidak memiliki dokumen lengkap.

“Assalammu’alaikum.”

Jam dinding yang menunjuk angka 18.00 mendadak berhenti. Andong dan Ndolo turut tersentak. Kepala yang sempat menyembul ke dalam ruangan itu seketika terdiam, lalu segera berbalik meninggalkan ruangan itu. Dua orang dari gerombolan melihat orang tersebut dan segera mengejarnya.

“Gawat nih. Tunggu di sini, brur.”

Andong bergegas turun dari langit-langit dan berusaha membantu Gentong yang dikejar oleh dua orang dari gerombolan itu. Tak beberapa lama setelah Andong turun dari langit-langit, Ndolo mendengar suara langkah kaki orang berlari di belakang rumah.

Dor!

“Itu dia. Tangkap! Tangkap!”

“Ampunnnnnnn ….”

Dor! Dor!

“Akh! Ampunnn …! Akhhhhh …!”

Dor! Dor! Dor!

Ndolo gemetar. Ia ingin sekali menolong, tetapi ia menahan diri. Tak berapa lama kemudian, ia mendengar raungan sirine dan suara polisi diraja Malaysia memecah keheningan yang sempat terkoyak.

“Jangan bergerak.”

“Saya rela, pak.”

“Angkat tangan. Jangan bergerak.”

Ketika mendengar beberapa orang yang mengaku polisi ada di luar rumah dan sebagian masuk ke dalam rumah, Ndolo memberanikan diri turun dari langit-langit dan menyerahkan diri kepada pihak berwajib.

Sedetik setelah kejadian, suara-suara jangkrik dan cicak kembali ribut mengiringi kepergian manusia-manusia buruan dan para pemburu. Sejam kemudian kesunyian mencekam rumah itu dan warga sekitar tidak berani berada di lorong-lorong jalan Kampung Pandan hingga pagi menjemput.

***

Tiga bulan kemudian, seorang perempuan cantik yang baru saja melahirkan anak di desa Kepuhdoko, kecamatan Tembelang, kabupaten Jombang, Jawa Timur, duduk di teras rumah dan membaca koran. Secangkir kopi tubruk menemaninya. Perlahan-lahan perempuan itu membaca berita dari surat kabar dan bibirnya terdengar samar-samar berkata, “ … ‘Secara resmi, kami menyampaikan protes keras terhadap oknum-oknum rela Malaysia dalam operasinya terhadap para pekerja Indonesia, yang dinilai tidak manusiawi dan sering merampas barang-barang TKI, seperti uang dan handphone,’ kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dalam jumpa persnya, di Kuala Lumpur, Kamis sore.”

Perempuan itu sedang menanti kepulangan suaminya yang baru saja dideportasi dari Malaysia. Sedangkan di tempat yang berbeda, tepatnya di salah satu dusun di Tasikmalaya, seorang perempuan sedang menunggu kepulangan jasad anaknya. Sementara itu, sebulan setelah kedua perempuan itu menerima berita, seorang perempuan Malaysia sedang duduk di meja pengadilan untuk memberikan kesaksian seputar kasus pemerkosaan yang menimpanya di negara Malaysia.

Ndolo dituduh telah melakukan pemerkosaan sebanyak tiga kali, sehingga anak majikannya melahirkan seorang anak. Kejadian pemerkosaan dilakukan Ndolo pada jam 5 sore, Mei 2007, di rumah kongsi (bedeng) pekerja kebun sayur, jalan Kubur Cina, Kalumpang, Hulu Selangor. Ndolo juga dituduh mengulangi perbuatan tersebut pada pukul 20.30 bulan Juni 2007 dan pukul 18.30 tanggal 7 Juli 2007, di Kampung Gumut, Kerling, Kalumpang. Gentong dikenakan pasal 376 tentang kasus penyiksaan. Perempuan itu sebenarnya adalah pacar Ndolo dan perempuan itu tidak ingin bersaksi dusta di hadapan pengadilan. Tetapi ayah perempuan itu memaksa perempuan itu untuk bersaksi di pengadilan, karena ayah perempuan itu tidak ingin Ndolo menikahi anaknya, dengan alasan Ndolo adalah warga negara asing yang berasal dari Indon (sebutan orang Malaysia untuk orang Indonesia).

Sebuah suratkabar dari Malaysia mengungkapkan bahwa ayah korban sebenarnya sudah bercerai dengan ibu perempuan yang menjadi korban. Pada saat hakim mengajukan pertanyaan kepada ayah perempuan yang mengaku jadi korban pemerkosaan, “Pernahkah bapak membawa anak bapak ke klinik untuk pemeriksaan?” ayah korban menjawab, “Belum pernah. Itu urusan emak dia. Saya akan bergaduh kalo saya jumpa bekas istri saya.”

***

TKI Memperkosa Anak Majikan Dikenai Pasal 376. Isteri Mengandung Keranda Suami Tak Kunjung Datang. Setelah koran bekas yang dipakai untuk membungkus nasi dibuangnya, Andong kembali mencangkul sawah yang sedang digarapnya. Dia tidak peduli lagi dengan berita karena anak dan isterinya tidak boleh menderita. Angin yang berhembus di sela-sela pohon pisang, pinus, dan kalbi cukup untuk menghilangkan penat.

Mashambal, direktur Komunitas Terminal Tiga, Wonosobo

3 thoughts on “Andong Manggolo”

  1. Triyono says:

    Cerpen ini selain menghibur juga kaya pengetahuan, begitu pula penuh makna. Coba apabila TKI/TKW yang berada di manapun berada membaca karya sastra ini, paling tidak bisa menjadi refleksi tersendiri.

  2. jojo says:

    ini cerpen bagus sekali. saya jadi dapat masukan berarti. untuk mashambal teruskannnnn…… 😉

  3. fani says:

    Ya… Malaysia emang perlu diganyang. Manohara, siti hajar, nirmala bonat, sani dan perempuan lainnya yang disiksa tapi tidak terekspos media butuh dukungan kita. Ayooooooooooooo….. Indonesia harus berdikari, jangan tergantung bantuan luar negeri sehingga tidak berkutik ketika harga diri diinjak Malaysia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *