Dosen UKSW Diduga Lakukan Pelecehan Seksual

Kabar tentang kasus pelecehan seksual, yang diduga dilakukan oleh seorang oknum dosen UKSW terhadap mahasiswinya, telah beredar di beberapa media massa. Namun, hingga kini kebenaran informasi tersebut belum dapat dipastikan. Kepolisian Resort Kota Salatiga, yang menerima laporan kasus tersebut sejak 5 Juni 2008, belum mampu mengungkap kejadian yang sebenarnya.

Kabar tersebut telah ditanggapi serius oleh pihak universitas, karena dinilai telah merugikan UKSW. Benar atau tidaknya kabar tersebut akan dibuktikan secara hukum dan UKSW tidak akan menghambat proses penyidikan.

Agna Sulis Krave,Wakil Rektor IV UKSW, telah mengundang direktur Program Profesional, atasan oknum dosen tersebut, guna mencari penyelesaian.

Kabar tersebut belum dapat dibuktikan kebenarannya karena tersangka tidak mau mengakui perbuatannya. Selain itu, tidak ada seorangpun yang menjadi saksi mata kejadian tersebut.

Sambil menunggu kebenaran muncul, tersangka dinonaktifkan sementara dari tugas mengajar untuk menjaga ketenangan dan ketenteraman mahasiswa dalam perkuliahan. Jika tersangka terbukti bersalah, maka UKSW juga akan memberi sanksi sesuai dengan kode etik dosen yang berlaku.

”Jika ada dosen yang melakukan pelanggaran, maka pihak kampus akan memberikan sanksi tanpa pandang bulu,” kata Agna.

Agna menganjurkan, jika ada kejadian serupa terulang kembali, maka sebaiknya mahasiswa segera melapor pada Lembaga Kemahasiswaan atau pemimpin UKSW. Agna berjanji, UKSW akan sepenuhnya melindungi mahasiswa.

Agna juga menambahkan, jika kabar tersebut terbukti benar, maka UKSW tidak akan menutup-nutupi dan tidak akan melindungi tersangka. Namun, jika tidak terbukti, maka Agna sangat menyayangkan pemberitaan-pemberitaan yang dilakukan oleh media massa, yang dinilainya berlebihan.

Minta nilai bagus
Seperti dikabarkan harian Seputar Indonesia, pada 4 Juni 2008, seorang dosen Program Profesional berinisial AG diduga melakukan pelecehan seksual terhadap mahasiswi berinisial MY di gedung G kampus UKSW.

Awalnya, MY hendak mengumpulkan tugas di ruang kantor AG, sekitar pukul 09.30. Setelah mengumpulkan tugas, korban hendak meninggalkan ruangan. Namun AG meminta korban tetap tinggal di ruangannya.

AG dan MY kemudian terlibat dalam obrolan ringan. Dalam obrolan tersebut, MY sempat minta agar diberi nilai bagus. Ketika MY pamit hendak meninggalkan ruangan, dengan alasan ingin membeli makan, AG malah menarik tangan MY, memeluk tubuhnya, lalu menciuminya. Namun, sebelum AG sempat bertindak lebih jauh, MY berhasil melepaskan diri dan melaporkan kejadian tersebut ke Polres Salatiga keesokan harinya.

Laporan ini dikerjakan bersama Satria A. Nonoputra.

96 komentar pada Dosen UKSW Diduga Lakukan Pelecehan Seksual

  1. wit 12 Juni 2008 pukul 5:56

    MY itu siapa ya?
    jadi penasaran…

    Namun, sebelum AG sempat bertindak lebih jauh, MY berhasil melepaskan diri dan melaporkan kejadian tersebut ke Polres Salatiga keesokan harinya.

    lho.. emang tahu apa yang akan dilakukan AG ‘lebih jauh’?

    kenapa baru keesokan harinya melaporkannya? kenapa nggak langsung saja meluncur menuju polres…
    setahu saya polres buka 24 jam. (atau dipikir-pikir dulu di rumah, mau lapor-tidak-lapor-tidak-LAPOR….)

    Ayu scientiarum, cari tahu “kasus” yang sebenarnya, supaya kita-kita tidak cuma menduga-duga, dan berspekulasi begini begitu…
    wawancari AG, juga MY, jangan cuma pimpinan Universitas…
    cari alamat rumahnya… tanya ke polres saja…

    — jadi ingat kasus dosen FE yang tidak diperpanjang kontraknya ‘gara-gara’ salah ngomong di kelas, dan itu dianggap pelecehan terhadap sebagian mahasiswa, padahal nggak sampai ke polres lho… —
    (padahal, sangat mungkin dosen tadi ‘cuma bercanda’. —

    cat. beberapa teman sedang menunggu keputusan pimpinan universitas untuk kasus ini,
    atau ada yang berpendapat “itu khan urusan pribadi…”

    wis embuh… pusing kalau memikirkan hal-hal seperti itu…., nggak ada habisnya kalau mau cerita ‘kisah-kisah’ di kampus hijau ini…

    perlu nggak ya kasus ini masuk ke blog saya, seperti http://pwijayanto.wordpress.com/2007/11/21/video-porno-mahasiswa/

  2. Arthur 12 Juni 2008 pukul 7:16

    Wah, beritanya tidak lengkap nih…..
    Kalo gini kan kita hanya bisa menduga-duga dan malah berburuk sangka,,,,
    Padahal kalo kita berburuk sangka itu dosa lho….

    Mbok ya kalo nulis inisial nama itu ya yang lengkap,
    Misalnya namanya Agus Gunawan, diinisial jadi A G U S G U N A W A N
    Jadi ndak penasaran dan berburuk sangka…
    Githu….

    Lepas dari itu semua, ya dosen juga manusia.
    Kalo mau nyang begituan mbok ya dirumah aja…
    Kan berezzzzz

  3. Pingback: Pelecehan Seksual « WIT’s Fakultas Ekonomi UKSW - Salatiga

  4. erwin 12 Juni 2008 pukul 12:12

    wah beneran ya? waktu jaman saya memang ada desas desus dari temen” BSP kalau dosen itu begitu ( dapat memberi nilai lebih, asal…), TAPII…kalo memang mahasiswi nya bisa dapat nilai tinggi tanpa gituan, kenapa enggak? tidak masalah kan? kalo maunya dapat nilai tinggi karena tidak mampu dan mau gituan berarti bukan dosennya saja yang salah toh? sama dengan penjual jasa, mau? ya ambil, tidak mau? ya tidak usah diambil

    semua kembali ke masing-masing pihak, ditunggu kebenaran dan keabsahan berita ini, setuju dengan komentar mas Wit diatas

  5. wit 12 Juni 2008 pukul 13:00

    @Arthur
    Mbok ya kalo nulis inisial nama itu ya yang lengkap,

    kalau lengkap, itu bukan inisial Mas…
    ya cari sendiri dosen pria di UKSW yang AG itu khan cuma satu orang… apalagi dipersempit “wilayahnya” Program Profesional, ya tidak lain tidak bukan ya cuma AG itu.. (inisial lagi he he he…)

    Aku ditelpon sama tetangga AG, “Gimana Pak ceritanya.. nih tetangga-tetangga nggak tahu ceritanya lho…, kemarin malam saya masih jaga malam sama Pak AG kok…”
    ya saya jawab, “cari berita sendiri saja.., itu berarti tetangga-tetangga nggak baca berita”
    (saya memang sering ngobrol dengan salah seorang tetangga Pak AG, tapi urusan lain.. bukan urusan gosap-gosip seperti ini…).

    kalau MY-nya saya memang masih penasaran, ya ada yang bilang itu si “M..Y..”, yang mertuanya salah satu anggota LSM di Salatiga, ah.. tapi mbuh rung ngerti…
    saya tulis saja uneg-uneg iseng saya di http://pwijayanto.wordpress.com/2008/06/12/pelecehan-seksual/

  6. aberdeencoburts 12 Juni 2008 pukul 14:10

    wah… beritanya gak akurat..
    dan kata2nya terlalu berbelat-belit…
    banyak ganjilnya..
    coba deh dibaca lagi deh dari atas ke bawah….

  7. STR 12 Juni 2008 pukul 14:21

    @ Arthur: Memang beritanya belum bisa lengkap mas. Sebetulnya, kami mau nunggu dulu sampai semua jelas. Tapi karena beberapa suratkabar sudah terlanjur memuat, maka kami merasa harus memuat kabar yang sama dengan tambahan penekanan bahwa kabar tersebut baru sebatas kabar burung dan belum terbukti kebenarannya, sehingga pembaca tidak terlalu larut.

    @ aberdeencoburts: Silakan tunjukkan kepada kami di bagian mana informasi kami tidak akurat, berbelat-belit, dan banyak ganjilnya. Agar kami bisa introspeksi diri.

    Terima kasih.

  8. aberdeencoburts 12 Juni 2008 pukul 14:47

    sayang sekali anda tidak memberikan info lengkap pada pukul 09:30 itu pada hari apa?
    jika itu hari aktif, saya rasa ada dosen lain diruangan itu selain AG, karena saya tau kondisi kantor tersebut, apalagi pukul 09:30 tentunya ada orang lain lagi selain AG.

    dosen saat ini juga tidak terlalu bodoh untuk melakukan pelecehan di dalam UKSW, mereka bisa saja melakukannya di luar.
    “apalagi di Gedung G UKSW bukan hanya 1 Dosen yang berada di ruangan itu”.
    saat MY melepaskan diri, apakah tidak ada seorang pun tau reaksi MY ketakutan saat melepaskan diri dari ruangan?

    saya mohon kepada saudara STR untuk bisa memberi berita yang real, yang bisa di realisasi dengan baik, dan sudah tersebar di salatiga, salatiga itu kota kecil, permasalahan yang kecil saja semua orang bisa tau, apalagi masalah besar seperti pelecehan mahasiswa seperti apa apa yang saudara tuliskan.

    saya pernah dengar juga soal pelecehan sexual, tapi apa yang saya ketahui itu mereka melakukan di luar UKSW, “bukan di dalam lingungkan UKSW” dan mereka melakukan atas kemauan mereka masing2, jadi boleh dong sayang bilang itu bukan pelecehan sexual…

    Terima kasih

  9. wit 12 Juni 2008 pukul 15:47

    @aberdeencoburts
    “apalagi di Gedung G UKSW bukan hanya 1 Dosen yang berada di ruangan itu”.
    saat MY melepaskan diri, apakah tidak ada seorang pun tau reaksi MY ketakutan saat melepaskan diri dari ruangan?

    ya.. kalau pas diruangan ada dosen lain, nggak mungkin AG berani melakukan itu (seandainya benar AG melakukan lho….)

    emang MY ketakutan saat melepaskan diri…

    makanya saya tulis di atas, mengapa baru keesokan harinya melaporkan ke polres?
    kok tidak langsung teriak-teriak minta tolong… sehingga satkam kampus bisa bertindak.

    makanya, berita masih belum jelas, sampai saat ini yang saya dengar, AG tidak mengakui melakukan itu, MY mengaku di-laku-i itu. Lha ini repot, nggak ada saksi.

    atau mau sumpah pocong saja, atau bawa ke dukun saja, tanyakan ke paranormal ha ha ha….
    (orang jawa bilang, kalau dihadapi secara “kasar” nggak bisa, ya dihadapi secara “halus”, — kalau bicara baik-baik atau hukum nggak bisa menyelesaikan, ya pakai dukun saja…biasanya efektif he he he…– kadang ada yang bercanda bilang “ora ngentekke menyan sekilo” (nggak sampai menghabiskan kemenyan 1 kg”))

  10. Evi christina@yahoo.co.id 12 Juni 2008 pukul 16:45

    Ko bisa begitu ya, mangnya kampus G tu terpencil dari semuanya, dan kenapa si my ne pergi sendirian kok g sama temennya,b pa sebenarnya ne semua adala taktik untuk menjatuhkan dosen tu, mustahilkan kok lama banget dilaporkan sama pihak berwajib, setau saya kantor polisi 24 jam buka dan g ad libur,

  11. evi christina br purba 12 Juni 2008 pukul 16:56

    ne beritanya kok kurang lengkap ya, kok nggak diterangin sapa tu My dan sapa tu AG, kan kita jd g mengerti, pa lagi ne masalah yang lumayan serius, ya mungkin saya tidak tau gimana keadaan gedung G UKSW, tp yang jelasnya klu pagi pasti da orang mustahil enggak kan,ya saya bisa mengatakan seperti tu, karena kampus saya jg kyak gtu, g pernah g ad orang

  12. STR 12 Juni 2008 pukul 17:45

    @ aberdeencoburts: Anda menanyakan hari? Bukankah sudah ditulis di sana bahwa kejadian DIDUGA terjadi pada 4 Juni 2008? Silakan anda cari sendiri hari apakah tanggal tersebut.

    Saya tak tahu apa yang anda maksud dengan “berita yang real.” Mohon diperjelas lagi makna dari frase tersebut. Tapi, yang jelas, kami sedang tidak bergosip. Di sini, kami hanya menunjukkan “gosip” yang diciptakan oleh media massa lain (dalam hal ini Seputar Indonesia) untuk memberikan konteks dan penyadaran bahwa berita tersebut belum bisa dibuktikan kebenarannya.

  13. samuel 12 Juni 2008 pukul 19:18

    Ikutan..

    karena g langganan koran jd saya baca dari seputar-indonesia.com..
    cache googlenya aja.. dr pd hrs login.. KLIK DI SINI — Red

    Saya tidak menemukan kata2 minta nilai baik..
    jd gmana nih bisa dikonfirmasi g? spy tar g dbilang bergosip..

    intermezo aja..
    jd penasaran ma AG n MY.. :p
    sampe nyari2 di siasat daftar semua kelas di PP T,T
    trus nyari di daftar pegawai..
    ga ada satupun dosen dengan inisial AG…

    jangan2….
    AG = Aukah Gelap
    MY = Mas Yos.

    hehehe.. J/K

    Dr pada pusing2.. :)
    Kan dah ada bdn hukum..
    Kl mmg benar AG dah tau konsekuensi dr apa yg dia buat..
    Sdg MY sendiri kl sampai berbohong, dia harusnya sadar kl akan kena pencemaran nama baik..
    Kl suka sama suka? Ya AG itu tadi.. Aukah Gelap..

  14. STR 12 Juni 2008 pukul 20:30

    @ samuel: Silakan KLIK DI SINI untuk membaca pemberitaan Seputar Indonesia yang sebelumnya. Di sanalah ditulis bahwa korban sempat minta nilai bagus kepada tersangka. Selamat membaca. :)

  15. DN 12 Juni 2008 pukul 23:21

    scientiarum mungkin bisa menelusuri TKP, kemudian cek data penggunaan kelas di lantai yang sama atau ruang sebelahnya (per lantai kan tdk cuma 1 ruang). Ada nggak orang lain disitu.. karena terjadi pada jam kuliah. Pokoknya telusur ke bukti-bukti, seandainya terjadi pelecehan seksual kemungkinan terdengar “desahan” atau jeritan dari TKP. Kalau tidak ada bukti ini bisa jadi kasus pencemaran nama baik.

  16. Arthur 13 Juni 2008 pukul 7:18

    e,………
    Ni saya mendapat kabar lagi bahwa kejadian itu berbarengan dengan adanya kejadian (HAMPIR TERJADI) pemerkosaan terhadap seorang mahasiswi dengan 3 orang mahasiswa di toilet belakang gedung A. Tetapi sebelum kejadian, satpam udah datang dan menyelamatkan korban….

    Bener ndak sih????

    Dan kata-katanya inisial mahasiswinya sama, yaitu MY.

    Saya cuma diceritain ma anak PP sih, bener ndak sih itu bang redaksi??
    Bisa diliput ndak???

  17. aberdeencoburts 13 Juni 2008 pukul 8:36

    @ STR: Anda menanyakan hari? Bukankah sudah ditulis di sana bahwa kejadian DIDUGA terjadi pada 4 Juni 2008? Silakan anda cari sendiri hari apakah tanggal tersebut.

    Saya juga tidak terlalu bodoh untuk mencari hari berdasarkan tanggal, tapi coba periksa lagi kata2 yang anda tulis sebagai berikut :

    “Minta nilai bagus
    Seperti dikabarkan harian Seputar Indonesia, pada 4 Juni 2008, seorang dosen Program Profesional berinisial AG diduga melakukan pelecehan seksual terhadap mahasiswi berinisial MY di gedung G kampus UKSW.”

    sebelumnya saya bertanya, kejadian itu hari apa. bukan hari apa surat kabar itu terbit.
    dan satu yang di ingat, kata2 yang anda tulis mengartikan bahwa “SEPERTI DI KABARKAN HARIAN SEPUTAR INDONESIA, PADA 4 JUNI 2008,….( ini menunjuk’kan harian surat kabar terbit, atau kejadian perkara itu.).

    ke dua kali, anda membalas comment saya seperti ini:
    @ STR: Anda menanyakan hari? Bukankah sudah ditulis di sana bahwa kejadian DIDUGA terjadi pada 4 Juni 2008? Silakan anda cari sendiri hari apakah tanggal tersebut.

    ulasan saya:
    1. tanggal sudah tidak jelas dari tanggal apakah itu? (tanggal kejadian or tanggal penerbitan berita)
    2. anda memperjelaskan dengan kata2 DIDUGA terjadi pada 4 Juni 2008″.
    kata2 anda penuh DUGAAN”, saya jugamenduga anda menyebar berita palsu.

    saya harap penulis lebih banyak belajar dalam menuliskan kata2 supaya anda terlihat profesional.
    maaf, untuk membaca frase kata2 yang anda tuliskan saja tidak jelas, bagaimana kita bisa percaya kepada berita yang anda kirimkan????

    sebaiknya judul berita perlu di berbaiki, karena anda belum tau dengan jelas, nama UKSW terlalu sensitif, judul anda dapat merusak nama baik UKSW, saya sebagai alumni UKSW turut prihatin dengan judul yang anda berikan.

    Terima kasih.

  18. STR 13 Juni 2008 pukul 11:23

    @ aberdeencoburts: Oke, saya akui, kata-kata tersebut memang ambigu, sehingga bisa menimbulkan pemaknaan ganda. Saya sudah tambahkan link ke berita terkait supaya pembaca bisa langsung membandingkan dengan pemberitaan dari Seputar Indonesia. Untuk lain kali, kami akan lebih berhati-hati merangkai kata.

    Untuk soal DUGAAN, saya tekankan sekali lagi bahwa kami tidak bermaksud menyebar berita palsu. Justru lewat pemberitaan ini, kami bermaksud memberi penekanan bahwa kabar yang sudah terlanjur menyebar di media massa itu baru sebatas DUGAAN, dan, karenanya, berita-berita tersebut jangan terlalu dipercaya.

    “Agna menganjurkan, jika ada kejadian serupa terulang kembali, maka sebaiknya mahasiswa segera melapor pada Lembaga Kemahasiswaan atau pemimpin UKSW. Agna berjanji, UKSW akan sepenuhnya melindungi mahasiswa.

    Agna juga menambahkan, jika kabar tersebut terbukti benar, maka UKSW tidak akan menutup-nutupi dan tidak akan melindungi tersangka. Namun, jika tidak terbukti, maka Agna sangat menyayangkan pemberitaan-pemberitaan yang dilakukan oleh media massa, yang dinilainya berlebihan.

    Jika seandainya media massa lain tidak menyebarkan DUGAAN, kami juga tidak akan memuat DUGAAN ini. Tapi karena media lain sudah menyebarkannya, maka kami juga harus memuat DUGAAN tersebut dengan ditambahi penekanan bahwa itu masih sebatas DUGAAN. Semoga anda maklum.

    Terima kasih.

  19. titus a/k sutit a/k ganteng 13 Juni 2008 pukul 11:30

    menerima suatu informasi yang belum jelas, adalah selayaknya kita mencari tahu bagaimana kepastiannya. jadi, masih mengambang kan? masalahnya, kalau berita yang dipublikasikan oleh madia massa ini tidak benar, maka nama baik UKSW dipertaruhkan di sini. dan bisa-bisa mengalahkan bursa taruhan EURO 2008. maklum saja, pak AG nggak ngaku, lha wong nggak ada saksinya. otomatis, MY itu jadi korban yang hampir sia-sia lapor ke polisi. saksinya bisu semua soalnya. paling-paling juga pulpen, meja, kursi, dan kertas-kertas yang jadi saksi bisu. yaaa….sepertinya, penelusuran TKP menjadi hal yang paling urgent. soalnya, saya juga sempet investigasi sama STR, dan ternyata pihak penjaga di gedung G ga ada yang tau… yaaahhh,,,sepertinya SA juga harus merangkap jadi intel nih…hehehehe…

  20. wit 15 Juni 2008 pukul 7:21

    STR/redaksi…, coba cari info, apa MY itu tinggal di Blotongan ya..?
    he he he…..(jangan tanya mengapa saya bertanya demikian…)

  21. Dicky 15 Juni 2008 pukul 15:33

    @Arthur: frans mampir sini juga to :D

    Yang penting kalo terbukti harus ditindak tegas :D

  22. titus 15 Juni 2008 pukul 19:20

    sebenernya para komentator jangan hanya mengkritisi masalah beritanya lengkap atau tidak. tapi kritisilah situasi dan kondisi dari kejadian ini. lakukanlah kontrol terhadap universitas ini melalui media kita tercinta ini. kalau sodara-sodara hanya mengkritisi masalah redaksional, tidak ada gunanya. kritisilah masalahnya, jangan beritanya. meskipun isi berita mempengaruhi substansi. tetapi, masalah itulah yang menjadi esensi dari berita ini. harap para mahasiswa memikirkan hal ini. supaya UKSW tidak menjadi sebuah tempat ajang maksiat da pelampiasan nafsu saja. GBU

  23. andreas gurugendeng 16 Juni 2008 pukul 13:55

    manusia memang dilahirkan bersama dengan nafsu dan kemampuan berpikir logis….dalam hal ini saya melihat dari sisi kualitas pengajar..saya melihat bahwa ksus ini sebenarnya sudah bukan hal batu lagi di dunia perkuliahan. selentingan bahwa mahasiswa/i bisa mendapatkan nilai bagus dengan catatan mau melakukan hal2 tertentu bersama sang dosen sudah sering saya dengar sejak saya masuk ke kampus ini(2002). dari hal2 tersebut saya melihat bahwa memang seorang dosen itu adalah seseorang yang punya kepandaian dan kecerdasan dan juga kuasa. kalaupun ada kasus2 tersebut diatas saya melihat bahwa hal2 tsb dapat tjd karena proses seleksi dosen yang kurang berhasil..secara akademik memang mereka lebih dan qualified, tetapi untuk menjadi seorang dosen saya rasa perlu lebih dari itu. kestabilan emosi dan kepribadian merupakan hal2 yang juga mendukung hal tersebut. saya banyak mengamati keadaan di uksw walaupun saya sudah lulus, dosen2 baru dan muda yang terlalu banyak gaya,berpikir bahwa mereka adalah kaum pembaharu tetapi otak mereka selalu diinjeksi dengan alkohol. apakah hal2 tersebut merupakan cerminan kaum pembaharu????yah inti dari pandangan pertama ini adalah jangan selalu kita salahkan mahasiswa/i atas kasus2 ini. jangan terlalu menganggap mahasiswi yg kebetulan tersangkut kasus2 spt ini sebagai ayam kampus dll. segala hal terjadi karena ada kesepakatan 2 pihak. seperti pada kasus ini, mungkin sang mahasiswi bersalah karena dia meminta nilai bagus dan mungkin menawarkan sesuatu kepada sang dosen. tetapi kasus ini tidak akan pernah terjadi bila sang dosen tidak menerima penawaran yang diajukan oleh sang mahasisiwi. menurut saya, apapun yang ditawarkan sang mahasiswi untuk memperoleh nilai yang bagus tidak seharusnya diterima oleh dosen. mhasiswa /i yg seharusnya tidak lulus matakuliah A..dapat lulus karena melakukan kesepakatan tertentu dengan sang dosen..mau dibawa kemana pendidikan di UKSW yang notabene menjadi benchmark pendidikan di Indonesia kalo hal2 spt ini tetap berlangsung..

  24. samuel 16 Juni 2008 pukul 17:28

    @STR okeh confirmed.. :)

  25. jesiko mandang 16 Juni 2008 pukul 18:19

    tindakan mereka berdua sangat wajar, mengingat secara biologis memang sudah pada waktunya. Istilah pelecehan itukan sebatas opini karena mereka pasti lebih tahu cara perkomunikasian yang mereka bangun diawal. n marilah yang masih calon intelektual kristiani membiasakan diri yang semaksimal mungkin sebagai gambaran Allah. Selamat belajar dari peristiwa itu n Tuhan Yesus memberkati kita semua

  26. wit 17 Juni 2008 pukul 7:42

    @Dicky
    Yang penting kalo terbukti harus ditindak tegas

    Gimana terbuktinya Mas, kalau AG mengelak, MY mengaku, padahal gak ada saksi…
    ayo…… siapa dapat membuktikan bahwa itu benar terjadi atau benar tidak terjadi….
    (saya duga…, lama-lama kasus ini ‘pudar’ begitu saja……kecuali para mahasiswa (bisa melalui senat dan bpm) mau peduli)

  27. Saam Fredy 17 Juni 2008 pukul 8:38

    Kepada Yth. Rekan-rekan mahasiswa semua,

    UKSW tidak pernah mendiamkan permasalahan kasus yang diduga pelecehan tersebut. Apa yang terjadi adalah proses komunikasi yang tidak berjalan dengan seimbang antara media dengan pihak pimpinan. Publik opini telah terbentuk ketika media melepas berita itu, jadi cukup sulit untuk merubah arus keras tersebut.

    Pimpinan menghormati wilayah hukum, dan menyerahkannya kepada kewenangan aparat penegak hukum. Pimpinan bersedia membantu penegak hukum. Saat ini yang bersangkutan (yang diduga melecehkan) dinon-aktifkan untuk memberi perlindungan kepada mahasiswi.

    Bahkan, pimpinan tidak segan-segan untuk menindak yang bersangkutan, jika ternyata benar itu terjadi. Pimpinan juga berharap kita semua mau secara lapang dada untuk menghormati asas praduga tidak bersalah.

    Demikian, terima kasih atas perhatian yang besar dari teman-teman untuk UKSW, demi kebaikan UKSW.

    Salam,
    Saam Fredy
    (staf Jurnalis BPHL UKSW)

  28. bbitha 17 Juni 2008 pukul 13:35

    kbenaran tetaplah kebenaran… bagaimanapun keadaan yang sebenarnya… suatu saat kebenaran itu akan muncul menyatakan dirinya….

  29. wit 17 Juni 2008 pukul 22:19

    @Saam Fredy
    Bahkan, pimpinan tidak segan-segan untuk menindak yang bersangkutan, jika ternyata benar itu terjadi.

    sulitnya adalah MEMBUKTIKANNYA… MY mengaku, AG mengelak, trus piye Mas??

    apa mau sumpah pocong atau minta tolong paranormal?
    he he bercanda….

  30. Saam Fredy 18 Juni 2008 pukul 7:34

    Kepada Mas Wit,

    Saya sampaikan terima kasih atas komentarnya.

    Sekali lagi Mas, saya mengarisbawahi apa yang disampaikan pimpinan, bahwa akan menyerahkan permasalahan tersebut ke wilayah penegak hukum, sembari tetap memegang teguh asas praduga tidak bersalah. Jika MY mengaku dan AG menolak, itu hak mereka untuk membuat sikap.

    Karena negara kita negara hukum, mari kita menjunjung tinggi hukum itu. Kita semua (termasuk saya dan anda) sebagai masyarakat juga mempunyai tugas untuk selalu memantau setiap kemajuan dari permasalahan itu, karena masyarakat merupakan salah satu faktor penting dalam proses penegakan hukum, selain penegak hukumnya sendiri.

    Sebagai umat beragama, saya sarankan kita semua berdoa supaya keadilan dapat ditegakkan.

    Salam,
    Saam Fredy
    (Staf Jurnalis BPHL UKSW)

  31. Filipus 18 Juni 2008 pukul 11:15

    Sssst…. break.. break…
    AG akhirnya buka suara…
    Lihat -> http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=23703&Itemid=48

  32. Neil Rupidara 18 Juni 2008 pukul 11:19

    Pertanyaannya: apakah pimpinan sudah memanggil masing-masing pihak dan menanyakan hal yang dituduhkan dan diberitakan itu? Kejadian di dalam kampus, oleh orang kampus, dan institusi telah mendapat ‘getah’. Oleh karena itu, tidak cukup untuk menunggu proses hukum yang bisa jadi tidak jelas. Mudah2an sudah ada langkah2 internal untuk memulihkan persoalan ini.

  33. Z 18 Juni 2008 pukul 11:39

    lebih gampang berkomentar ketimbang mencari berita yang sesungguhnya !!!!!
    susah memang menulis itu ..pengen di tulis bener jadi masalah ga bener apa lagi…..
    pengenya si di tulis yang bener biar jelas dan gamblang tapi masalahnya isunya belum jelas lha terus piyee…
    yang di mintai keterangan pun ga berani buka-bukaan tambah ribet maneh tow….
    mendingan kita buktikan bersama-sama biar beritanya gak jadi gosip belaka dan kejadian tersebur gak terjadi lagi di UKSW katanya kampus kristen tapi gak menunjukan kekristenannya.

  34. Z 18 Juni 2008 pukul 11:43

    ok pak neil pihak pimpinan kampus sudah merapatkan maslah tersebut dan sudah memanggil kedua orangnya tp yang jadi masalah pihak pelaku gak mau ngaku yonek maleng ngaku penjara penuh ….dan saaat ppimpinan UKSW

  35. Z 18 Juni 2008 pukul 11:48

    ok pak Neil saat saya tanya pihak pimpinan UKSW sudah merapatkan masalah tersebut dan sudah memanggil kedua orangnya tapi yang jadi masalah si pelaku ga mau ngaku ya itu si udah jadi hal biasa kalo maling ngaku penjara penuh yo po ra…….? yang penting sekarang tinggal pembuktian lewat hukum karna pihak UKSW tidak mampu membuktikan kebenaran masalah tersebut makanya mereka menyerahkan pada pihak hukum dan yang pasti jika memang pelaku terbukti pihak UKSW harus mau memberikan sangsi yang tegas jika tidak mau di demo mahasiswa ok…..

  36. mahasiswi PP 18 Juni 2008 pukul 12:15

    aih mau dong nilai bagus

  37. Saam Fredy 18 Juni 2008 pukul 12:59

    Kepada Yth. Teman-teman,

    Terima kasih atas komentar yang telah teman-teman berikan.
    Sekali lagi saya ingin mengarisbawahi, mari kita serahkan semua kepada proses hukum yang berlaku. Karena itulah yang harus dilakukan. Kita tidak bisa menjalankan fungsi sebagai penegak hukum, karena itu bukan tugas kita, namun kita bisa membantu dengan melakukan pengawasan terhadap kasus tersebut. Jangan menjadi polisi, jaksa, dan hakim sekaligus.

    Emosi boleh, saya pahami itu sebagai sikap solidaritas yang tinggi dan sebagai ungkapan rasa cinta kepada UKSW, namun tetap bisa mengendalikan diri dengan berkepala dingin. Jangan sampai emosi tersebut diluapkan dengan membabi-buta.

    Sudah ada mekanisme hukum yang berlaku, mulai dari tingkat kepolisian hingga nanti jika sampai kepengadilan. Kenapa kita harus takut? Apa yang kita takutkan? Yang saya sarankan secara pribadi, mari galang kekuatan moral bersama untuk menolak setiap bentuk diskriminasi.

    Salam,
    Saam Fredy

  38. ebeSS 18 Juni 2008 pukul 13:40

    - – – ”Jika ada dosen yang melakukan pelanggaran, maka pihak kampus akan memberikan sanksi tanpa pandang bulu,” kata Agna. – – – –
    – – – Sambil menunggu kebenaran muncul, tersangka dinonaktifkan sementara dari tugas mengajar untuk menjaga ketenangan dan ketenteraman mahasiswa dalam perkuliahan. – – –

    ya baguslah klo sudah dinonaktifkan . . . . makanya dosen2 itu dididik juga . . . yang benar!
    kalau UKSW merasa dirugikan . . . emang mo nuntut nyalahin siapa . . . :P

  39. Neil Rupidara 18 Juni 2008 pukul 14:39

    @Saam: mari kita tunggu hukum publik berlaku, tetapi di dalam institusi ada ‘hukum’ institusi juga. Itu yang menjadi kewenangan pimpinan. Jangan segala sesuatu kita serahkan ke polisi dan aparat hukum. Masa orang tua kehilangan kendali atas anaknya? Sikap bijak tetap saja perlu, bukan main hukuman membabi buta. Toh kalau tidak benar ya cepat pulihkan nama baik, paling tidak secara internal. Sekali lagi kejadian itu dilaporkan terjadi di dalam kampus. Kalau di luar, pimpinan tidak punya ‘hak’ apa2, walau secara moral masih bisa do something. Jadi ini bukan emosi dan membabi buta, tetapi kewibawaan institusi di wilayahnya. Kita pernah punya masalah lain di mana orang bertindak semena-mena terhadap institusi dan institusi diam seribu bahasa, tunggu proses hukum yang tidak selesai2. Di situ, institusi kehilangan legitimasinya! Dan, banyak kejadian sepele yang seperti angin berhembus dan pergi begitu saja. Sebagai seorang yang sedang belajar sesuatu tentang institusi, saya bingung dengan fenomena kita selama ini. Tapi, itu juga fenomena institusi. Hmm…

  40. Saam Fredy 18 Juni 2008 pukul 15:41

    Kepada yth. Bapak Neil,

    Terima kasih Pak untuk komentarnya.

    Sekali lagi Pak, mari menjadi warga negara yang baik, dengan menghormati wilayah hukum, baik hukum negara maupun hukum secara institusi dalam bentuk peraturan kepegawaian misalnya, atau kode etik dosen, dll yang berlaku dan menjadi norma dalam lingkungan masyarakat dan lingkungan kerja/kampus. Namun Bapak perlu ingat, bahwa semua peraturan dalam institusi harus menghormati peraturan yang ada diatasnya, jadi dengan sendirinya peraturan yang ada di dalam UKSW patut dan wajib tunduk kepada peraturan perundangan yang berlaku.

    Pimpinan telah dengan jelas menonaktifkan yang bersangkutan untuk memberikan perlindungan kepada mahasiswa dan sebagai itikad baik membantu proses hukum oleh aparat yang berwenang. Apakah itu dirasa kurang? Perlu diingat Pak, bahwa kasus itu baru dalam bentuk laporan ke Polisi, belum ada putusan tetap yang diambil oleh pengadilan. Jika kita melangkah lebih dari itu, pertanyaannya, apakah hal itu telah melangkahi penegak hukum?

    Jika Bapak menkaitkan itu dengan kewibaan institusi, apakah menurut Bapak wibawa itu akan tercederai apabila kita mengikuti prosedur hukum yang berlaku di negara ini? Saya sendiri, sebagai seorang sarjana hukum, selalu optimis, seperti halnya dengan (Alm) Prof. Himawan dan Prof. Sajipto, untuk selalu menyuarakan dan menghormati penegakan hukum di negara ini.

    Pimpinan terus membantu pihak-pihak yang memerlukan informasi dari kampus, terutama teman-teman pers.

    Salam,
    Saam Fredy
    (staf Jurnalis BPHL UKSW)

  41. Neil Rupidara 18 Juni 2008 pukul 22:22

    @Saam: saya rasa Anda selalu kelebihan tafsir dari apa yang dikatakan: “Jika Bapak menkaitkan itu dengan kewibaan institusi, apakah menurut Bapak wibawa itu akan tercederai apabila kita mengikuti prosedur hukum yang berlaku di negara ini?” Saya tidak mengatakan demikian. Yang saya mau katakan adalah ada ranah hukum publik, ada ranah nilai, norma, dan peraturan institusi. Ambil contoh, jika seorang mahasiswa melempar kaca GAP, maka ia merusak aset lembaga dan bertindak kriminal. Di ruang hukum publik, silahkan dia diproses ke kepolisian dan pengadilan. Namun, dia ruang peraturan institusi dia dapat dikenakan sanksi internal. Jika dianggap tidak bisa, maka batalkan saja semua kode etik (di KUKM, di Statuta dan peraturan lain). Jadi, mari kita cuma bergantung pada ranah hukumnya (tapi, sayangnya setiap institusi pasti punya perangkat yang disebut norma dan peraturan).

    Apakah berwibawa sebuah institusi yang misalnya membuat kode etik tetapi menganggapnya tidak berlaku? Itu namanya macan ompong. Lebih baik tanpa atau hapus kode etik dan setiap orang diikat hanya oleh hukum publik. Jadi, jika terjadi sesuatu hal ya kita tinggal merujuk hukum publik dan menyerahkan wilayah penyelesaiannya di luar kampus, bukan di dalam kampus. Kalaupun mau tetap formal2 ada, buat saja statement “jika setiap mahasiswa/pegawai dinyatakan bersalah oleh aparat penegak hukum, maka UKSW akan mengenakan sanksi kepadanya”. Tidak perlu rumusan 1, 2, 3, dst karena cuma jadi pajangan. Gampang kan????

    Dengan mengatakan begini saya tidak menuding bahwa si dosen bersalah. Tidak, sama sekali tidak!!! Namun, bagi saya, harus ada langkah2 institusi untuk menglarifikasi persoalan ini dan melakukan sesuatu menurut “kerangka hukum” institusi ini (Ada cukup banyak kasus yang diselesaikan di dalam dengan versi institusi dan tidak dibawa keluar, silahkan cek). Karena itu, apa yang Anda jelaskan dengan tindakan pimpinan menon-aktifkan yang bersangkutan, itulah wilayah kewenangan dan keputusan institusi yang ingin saya dengar (jadi beritakan/informasikanlah supaya saya dan orang lain yang belum tahu menjadi tahu). Bagi saya, keputusan seperti itu pantas dilakukan. Kita juga bisa lakukan hal lain, misalnya, lembaga seperti UKSW juga punya ahli2 psikologi yang bisa melakukan pendekatan psikologis yang lebih empatik pada ‘korban’ dan ‘pelaku’ untuk memahmi dan menyingkap beban psikologis mereka dan dari situ barangkali kita juga bisa tahu apakah itu ngarang2 atau memang begitulah adanya. Tentu ini bukan untuk menjadikan diri kita polisi, tetapi untuk menjaga kehidupan internal institusi ini yang punya norma2 hidup di dalam kampus yang dibuat sendiri oleh warga kampus ini dan tidak selalu sama dengan apa yagn ditetapkan di wilayah hukum publik di luar sana. Langkah institusional lain, jika perlu lakukan pendampingan hukum agar kepolisian mengurus kasus ini dengan serius dan benar, karena ada banyak kasus yang sudah dilaporkan bahkan dengan bukti2 yang cukup saja “mental” di tengah jalan kok. Sikap Anda yang sangat heroik terhadap hukum yang di negeri ini entah kadang ditendang, diinjak, diabaikan justru oleh pendekar2 hukumnya kemudian menjadi sesuatu yang luar biasa (saya tidak katakan tidak mungkin). Namun, jika UKSW serius (harusnya demikian, karena sudah merusak nama baik lembaga karena telah masuk wilayah publik), maka pimpinan UKSW harus memberi dukungan moral dan bahkan menuntut pihak kepolisian agar bisa menangani kasus ini dengan baik supaya nantinya menjadi bahan belajar bagi kita semua dan ini menunjukkan sikap insitusional yang kuat. Jadi, bukan cuma mengatakan kita menanti hasil (itu klise dan saya yakin pimpinan pun telah melakukan sesuatu tinggal beritanya yang perlu didengar agar ‘menentramkan’). Sekali lagi, sebagai catatan, ada cukup banya kasus hukum yang stop di jalan (termasuk kasus2 ‘pelanggaran hukum’ di dalam kampus), lalu kalau kasus ini jadi seperti itu lagi, lalu akankah kita biarkan menguap?

    Jadi bung Saam, maaf, saya menilai Anda untuk yang kesekian kali telah menilai melampaui apa yang diungkapkan orang (dhi. saya). Saya tidak pernah mengatakan langkah menonaktifkan sebagai kurang (cek kata2 saya). Karena tidak tahu apa yang dilakukan pimpinan justru saya tanya apa langkahnya dan menyarankan agar ada sikap dan tindakan internal merujuk aturan institusi. Namun, saya juga lebih jauh mengatakan ‘…bukan (untuk) main hukuman (secara membabi) membabi buta’, untuk menghargai sebuah kebenaran dan memberi ruang pada asas praduga tak bersalah.

    Pertanyaan saya pada Anda, jika UKSW memutuskan sesuatu pada pihak terkait (misalnya si dosen), apakah UKSW melanggar hukum? Tolong tunjukkan saya hukum mana yang melarang sebuah institusi mengambil tindakan atas warganya yang dinilainya melakukan sesuatu yang, misalnya, dinilai kurang pantas (asal dengan dukungan bukti yang cukup). Kita bermain di wilayah privat, bukan publik yang sudah menjadi tugas polisi cs. Ambil contoh, setahu saya di perusahaan2, seorang pegawai yang sekiranya tidak bersalah langsung tetapi karena menghilangkan barang perusahaan (ketiban sial mobil disatroni maling dan menggondol pergi barang2 pribadinya plus barang kantor yang ada di mobil) tetap saja ia dikenakan denda. Bagi saya ini keterlaluan, orang sudah apes (bukan dia yang mencuri), masih diberi sanksi lagi. Tapi, dengan melakukan itu, apakah perusahaan melanggar aturan? Saya kira tidak, mereka punya aturan main sendiri agar karyawan menjaga barang perusahaan dengan baik, menghilangkan dengan jalan apapun akan dikenakan sanksi. Hampir setara dengan itu, sebagai warga kampus (dosen atau mahasiswa) kita perlu saling menjaga relasi saling menghormati atau menghargai. Jika terjadi kasus seperti yang diberitakan luas di koran ini (entah si dosen melakukan pelecehan, atau ternyata si mahasiswa melakukan penipuan) itu hal yang sudah melanggar norma saling menghormati itu. Kadung jadi perhatian publik, ya tangani secara intensif (bahkan muncul klaim2 kasus sejenis) dan jika cukup info/bukti ya beri sanksi, paling tidak kasih peringatan (lisan atau tertulis kek atau apa kek). Catatan: langkah menonaktifkan sudah langkah awal yang baik.

    Melakukan sesuatu di dalam konteks seperti itu tidak membuat kita mengambil alih posisi pranata hukum publik, tetapi justru menempatkan kita pada konteks institusi yang punya nilai, norma, dan aturan setempat dan berlaku hanya di wilayahnya. Kita tidak masuk wilayah hukum publik dan kita juga menjaga agar ciri2 khas lembaga kita pun tidak disatroni seenaknya oleh atribut2 umum. Lain halnya jika UKSW pergi sogok polisi/hakim agar memutuskan sesuatu menurut mau UKSW (memaksa keputusan sendiri ke kepolisian), itu baru menyatroni wilayah polisi/hakim. Jadi, harap bedakan mekanisme hukum di luar sana dengan mekanisme internal institusi yang merujuk norma2 sosial di dalam kampus. Itu dua wilayah yang berbeda! Jika Anda merasa tidak, maka saya sarankan Anda untuk minta pimpinan UKSW segera buat rapat Senat atau meminta YPTKSW batalkan semua perangkat hukum internalnya. Karena ada dua wilayah hukum itu, bailah kita hormati dan dukung polisi cs mengerjakan bagiannya dan mengambil keputusan sesuai hukum yang berlaku (itu = menjunjung tinggi hukum seperti anjuran pendekar2 hukum yang Anda rujuk) dan kita melakukan langkah2 internal yang proporsional untuk keputusan internal (seperti tadi, bukan soal soal melakukan pelecehan seksual, tetapi kasus itu jelas menunjukkan bahwa ada relasi sosial yang salah). UKSW kan juga tidak akan memutuskan seperti pengadilan misalnya memenjarakan atau mengenakan denda pada si pelaku-kan? Yang bisa dibuat UKSW adalah panggil, beri peringatan, berhentikan, beri konseling psikologis atau teologis, atau hal2 yang masih jangkauan kelembagaan, termasuk menglarifikasi kepada warga kampus dan pihak luar agar tidak jadi gossip murahan. Itu wilayah kita!

  42. Saam Fredy 19 Juni 2008 pukul 8:11

    Selamat Pagi Pak Neil,

    Kembali rasa terima kasih, saya haturkan atas respon Bapak.

    Perlu Bapak ingat bahwa, telah terjadi pelaporan ke Polisi (si korban melaporkan yang diduga melakukan pelecehan) atas terjadinya kasus pidana, bukan perdata. Berbeda dengan Perdata, Hukum pidana merupakan urusan negara, dalam hal ini lembaga penegak hukum. Delik yang digunakan pun dalam kasus tersebut adalah delik aduan (artinya jika tidak ada aduan tidak akan ada proses). Berdasarkan aduan itu, aparat berwenang masuk kedalam permasalahan tersebut. Ketika permasalahan itu masuk ke dalam ranah pidana, maka institusi publik tidak bisa melakukan intervensi.

    Lain halnya jika terjadi kasus yang Bapak sampaikan, tentang pelemparan kaca, sepanjang UKSW tidak membawa itu ke ranah Pidana, maka polisi tidak akan ikut campur. Karena ada mekanisme pemecahan persoalan di tataran institusi. Hukum menghormati itu, asal keduabelah pihak yang bermasalah tidak keberatan dan apa yang dilakukan tidak bertentangan dengan peraturan perudangan yang berlaku di negara ini. Kalau ada yang keberatan dengan pemecahan solusi di tingkat internal, maka boleh membawanya ke wilayah hukum negara.

    Hal sama terjadi ketika ada kasus pemerkosaan yang diselesaikan secara hukum adat di daerah tertentu, Hukum Pidana tidak akan masuk untuk melakukan intervensi terhadap kasus tersebut karena telah diselesaikan melalui jalur hukum adat dan tidak ada laporan ke pihak berwenang. Hukum Nasional menghormati hukum adat (yang sudah sesuai dengan Ground Norm).

    Sekali lagi, telah terjadi aduan kepada Polisi, dengan sendirinya polisi tidak dapat diam begitu saja atau mengembalikan masalah itu kepada institusi dimana sang pelapor dan terlapor ada. Selanjutnya, polisi akan melakukan penyelidikan dan segala tindakan yang perlu untuk pencarian informasi yang benar.

    Lalu apakah ketika terjadi laporan ke Polisi, institusi internal dapat bertindak dengan mekanisme internal yang ada? Saya menjawab BISA, namun sudah tentu ada batasan. Batasan yang seperti apa? Batasan yang tidak mendahului proses hukum yang sedang berjalan, menghargai proses itu, dan secara aspiratif mendukung proses hukum itu. Dalam kondisi tersebut, jangan ditafsirkan bahwa aturan internal dipinggirkan, bukan. Tapi secara otomatis mendukung peraturan diatasnya, dan itu wilayah yang sangat terhormat sekali.

    Ada beberapa orang yang bilang kepada saya, “Kenapa harus dibawa ke Polisi, kenapa tidak diselesaikan secara kekeluargaan?” Saya menjawab, “Pertama, itu haknya untuk melapor; kedua, memang ada baiknya dilaporkan, supaya tidak terkesan kasus itu tidak hilang, tak berbekas; ketiga, inilah saatnya UKSW berani mengambil sikap tegas terhadap permasalahan itu”. Segala kelebihan dan kekurangan adalah layak dinilai dengan bijaksana.

    Saya melihat adanya perbedaan pemahaman antara Bapak dengan Saya, terhadap kasus yang terjadi terutama tentang cara pandang secara hukum, namun sebenarnya inti yang mau dituju sama, yaitu agar permasalahan itu dapat diselesaikan sebaik mungkin, dan tetap menjaga nama baik UKSW dari kemungkinan oknum yang tidak bertanggungjawab.

    Pak Neil, ijinkan Saya untuk tetap optimis terhadap penegak hukum di negara ini, walaupun Saya pernah menderita karena kekejaman “hukum” yang dilakukan oleh orang-orang/institusi yang tidak bertanggungjawab dan kadang tidak berjalan seperti semestinya. Butuh peran serta semua orang, tidak hanya penegak hukum. Harus ada yang mau memulai, dan itu berawal dari diri kita sendiri dulu. Disiplinkan diri untuk mematuhi segala peraturan yang telah secara konsensus dibuat, menghargainya, dan bertekad untuk mengakomodasi setiap perubahan, bukan hanya untuk nama besar yang saya cintai, UKSW, namun untuk kepentingan yang lebih besar, kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Salam,
    Saam Fredy

  43. Neil Rupidara 19 Juni 2008 pukul 9:14

    Halo Saam,

    Dalam tanggapan saya sebelumnya, saya katakan ada sejumlah kasus yang mandeg di kepolisian dan sama kasus2 itu berposisi delik aduan. Orang2 hukum seperti Saam juga tahu bahwa ada banyak sekali kasus hukum yang menumpuk di aparat hukum dan tidak/belum terselesaikan, termasuk di MA. Gereja saya punya kasus (perdata, tetapi soalnya ada pada mekanisme kerja organ2 sistem hukum kita) yang katanya kalau mau cepat ya harus melakukan ‘sesuatu’, kalau tidak ya tunggu sampe bodoh. Itu yang jadi concern saya, seberapa lama polisi mampu menyelesaikan persoalan ini? Jangan sampai mandeg dan akhirnya menguap seperti banyak kasus lain, yang posisinya sama: delik aduan! Silahkan coba cek di Polres Salatiga, apakah semua kasus terselesaikan dengan baik. Saya pribadi pernal melapor sesuatu kasus yang indikasinya cukup jelas, tetapi cukup dicatat abis itu hilang. Mudah2an kali ini beda karena telinga saya juga mendengar ada kasus2 dulu yang bisa ‘dihentikan’ sekalipun seperti argumen Saam, sudah ada aduan.

    Kasus lempar kaca cuma sebuah contoh yang mau saya tunjukkan bahwa kita bisa ‘menghukum’ sesuatu kesalahan yang dilakukan oleh warga kita di wilayah kita. Tapi, di zaman konflik UKSW 95, UKSW pun tidak berani memutuskan sesuatu yang didepan mata nyata!!! Saya menilai hal seperti ini tidak bisa diulangi, itu yang saya katakan tidak adanya kewibawaan lembaga. Takut mengambil tindakan yang jelas2 memiliki referensi legal secara kelembagaan.

    Saya setuju bahwa tampaknya ada beda pandang. Jelas saya bukan orang/ahli hukum, tetapi ada cukup banyak contoh di mata dan telinga saya yang ternyata tidak sejalan dengan idealisme hukum yang dianut Saam. Dan, bagi saya, “berikanlah kepada kaisar apa yang jadi bagian kaisar, berikan pada Tuhan apa bagianNya”. Maksud saya, ada ranah berbeda yang bisa berjalan paralel, tanpa saling merugikan. Negara melalui pranata hukumnya akan memiliki sistem sendiri, jalur mana sudah dipilih oleh si pelapor. Hormati itu. Karena itu, sesuatu yang sudah menjadi porsi polisi biarkan polisi lakukan tugasnya dan kita support apa yang menjadi kewajiban kita/UKSW, beri keterangan etc.

    Namun, apa yang jadi ranah institusi, jangan juga dilupakan. Tugas institusi adalah melakukan langkah2 penataan kelembagaannya, kalau tidak akan menjadi sia2 semua komitmen nilai dan norma yang dibangun oleh lembaga ini (misalnya imago dei, magistrorum et scholarium yang ‘mewajibkan’ relasi setara dosen dan mahasiswa). Itu yang secara pribadi saya percaya tidak ada yang salah karena kita punya nilai, norma, dan peraturan lembaga.

    Ada kasus2 prinsipil di kampus, misalnya soal plagiasi yang akut yang ketahuan pun kita tidak berani menindak, hanya karena alasan bisa membuat repot jika dibawa ke pengadilan. Lho, lalu untuk apa semua statement nilai, norma, dan peraturan UKSW??? Itu concern pribadi saya. Note: kasus ini sudah menyangkut relasi antar pribadi yang dilaporkan terjadi unsur memaksa, artinya ada pihak yang merasa ‘lebih kuasa’ merendahkan kemanusiaan pihak lain. Ini bukan kasus suka sama suka yang akan menjadi repot karena masuk wilayah privacy orang. Kadang di wilayah yang seperti ini (privacy) pun kita sudah pakai untuk “menghukum” orang lain kok, kenapa yang ada unsur paksaan tidak ditangani dengan langkah2 kelembagaan yang lebih serius? Sekali lagi, hanya concern pribadi, dan berharap lembaga (orang2 di dalamnya) ini tidak bermain standar ganda dari kasus ke kasus.

  44. Z 19 Juni 2008 pukul 11:42

    kayaknya lama-lama kasus ini hambar dan hilang jika tidak di selesaikan kebenaranya …
    trus gimana dunk ……padahal menyangkut nama baik universitas.
    trus dapat brita lagi kalo kasus tersebut cuma mengada-ngada…. wah malah ruet maneh…..
    trus piye cak pimpinan kampus tanggapannya gimana ??????????
    kira kira gimana pak pimpinan kampus kelanjutas kasus tersebut ?????????
    tolong untuk kenyamanan aktivitas mahasiswa di cari kebenaran kasus tersebut jangan hanya menunggu karna bakal lama kalo cuma nunggu aja……ok pak selamat bekerjaa……..

  45. Z 19 Juni 2008 pukul 11:48

    kalo ngomong masalah hukum di indonesia susah booooss ……… karna apa hukum di indonesia seakan-akan bisa di beli contoh orang yang ketilang sama polisi karna ga bawa helem atau ga punya sim pasti bakal lepas dari sanksi asal punya duit yo pora ?????? sekarang jangan cuma debat masalah hukum kalo gak bisa menegakkan hukum yang benar ….orang berkomentar memang lebih gampang ketimbang melakukannya dan yang pasti jadi masalah adalah kira-kira orang-orang indonesia mau gak kalo di ajak menegakkan hukum yang benar biar tidak ada perlindungan terhadap orang salah dan harus melindungi orang benar ok booss…….

  46. Z 19 Juni 2008 pukul 11:53

    saaat seperti ini kampus kita UKSW di pandang oleh orang luar kampus punya masalah yang sangat besar karna masalah yang sedang hadir menyangkut tentang etika dan norma namun kenapa pihak kampus sendiri seperti tidak ada masalah. itu yang harus dan patut di pertanyakan supanya jelas dan gamblang apakah kampus kita ini bersih apa gak atas semua masalah……. di cek lagi booosss
    kan banyak orang pintar di UKSW masak ga bisa selesaikan ?????????

  47. Z 19 Juni 2008 pukul 12:00

    sepertinya tingkat keamanan dan kenyamanan di kampus UKSW sudah kurang karna apa baru beberapa minggu yang lalu terdengar berita sempat akan terjadi kasus perampokan terhadap mahasiswi di dalam kampus dan ada berita juga ada mahasiswi yang akan di perkosa di toilet namun ga jadi karna kepergok sama satpam terus ada lagi kasus tentang dugaan pelecehan seksual oleh dosen tehadap mahasiswi .
    dalam konteks seperti ini korban selalu mahasiswi .;.
    terus gimana tanggapan orang kampus sendiri ???????????????
    apa cuma gosip apa memeng tingkat keamanan kampus UKSW yang kurang ???????????

  48. must57 21 Juni 2008 pukul 17:30

    yahhhh… pak dosen ketahuan dech……. pa ngak ada tempat yang aman yaa

  49. Pingback: Scientiarum » Wacana Kritis-Analitis-Prinsipil Sivitas Akademika UKSW » Berita Hiburan » Dugaan pelecehan seksual di gedung G makin meragukan

  50. no name 24 Juni 2008 pukul 11:09

    Cuma bisa tersenyum sinis, ndengernya…..
    Memalukan.., pastinya…
    Yg jelas dosennya cowok dan mhswi.. Ga mgk dosen cewek & mahasiswa…
    laen kale, kalo ada seleksi dosen, gender perlu dipertimbangkan…
    Ok?

Tinggalkan tanggapan anda di sini

Masukkan alamat surel anda untuk berlangganan situs web ini. Cek kotak masuk atau spam surel anda untuk mengonfirmasi langganan.

Bergabung dengan 11 pelanggan lain