Dugaan pelecehan seksual di gedung G makin meragukan
Telah dilihat 712 kali sejak 22 June 2008SALATIGA — Kabar tentang kasus pelecehan seksual di gedung G UKSW telah menyebar luas di beberapa media massa. Namun, kabar tersebut belum dapat dibuktikan kebenarannya. Setelah dilakukan klarifikasi di lapangan pada Rabu, 18 Juni 2008, saya mendapatkan keterangan dari penjaga gedung G, Noryaman, yang baru mendengar kabar tersebut dua hari setelah hari dugaan kejadian.
Noryaman mengatakan, dirinya tidak mengetahui detail runtutan kejadian, karena tidak ada pihak lain yang mengetahui kejadian tersebut, selain korban dan tersangka. Ditambah lagi, situasi gedung G tenang-tenang saja pada saat kejadian berlangsung.
“Kejadiannya itu (katanya) di lantai dua, tapi teman saya yang menjaga di sini juga memang tidak mendengar adanya suara orang yang berteriak-teriak minta tolong. Kalau memang dia (korban — Red) diapa-apakan, pasti kan sudah minta tolong. Saya malah tahu dari mahasiswa kalau ada kasus ini,” ujar Noryaman.
Menurut Noryaman, kabar tersebut masih samar kebenarannya.
“Kalau memang kejadiannya ada, kok ya ndak teriak atau gimana. Kan ya gedung ini ada yang jaga dan bisa minta tolong to …,” tambah Noryaman.
Lembaga Kemahasiswaan Program Profesional pun menyatakan tidak mengetahui kebenaran kabar tentang kasus ini.
“Saya, jujur saja, gak tahu tentang kasus ini mengenai benar atau tidaknya,” kata Alko, Ketua Umum Senat Mahasiswa PP.
“Lalu bagaimana dengan adanya advokasi terhadap mahasiswi ini?” tanya saya.
“Wah, kalau itu juga saya ndak tahu. Wong anak BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa — Red) saja gak pernah kelihatan kok.”

Komentar ke-22
3 August 2008 10:10
Perambah
mau minta tolong… kalo ga ditolong malah diketawain gimana?
(kan ga ada saksi juga)
ada yang pernah minta tolong, bukannya sang peleceh dikejar, si korban yang dilecehkan malah dicuekin. udah nangis2 minta tolong, malah dikerubungin sama satpam (kejadian ini ada di UKSW, tapi nggak dipublikasikan, katanya lagi ntar mempermalukan UKSW karena terjadi di teritori UKSW)
lapor polisi?
It’s a smart way! karena kalo lapor Universitas biasanya juga cuman masuk telinga kiri keluarnya di mulut yang bukan pemilik telinga. Daripada malu digosipin, lapor polisi langsung bukan tindakan bodoh..
nggak usah sok Sherlock Holmes, karena kebanyakan orang Indonesia juga nggak serefleks itu apalagi kalo masalah sensitif kaya ginian.
Kalopun sang MY cuman mau cari sensasi, ada alasan2nya dong. (mustinya yg dicari alasan si MY kenapa sampe lapor polisi). Orang mau cari sensasi dengan mengkambing hitamkan orang (AG) itu kan tindakan yang berani (baca: dendam). KAlo memang dendam sedemikian rupa, coba ditelusuri, apakah dendam itu cuma gara-gara nggak kasih nilai jelek atau pemberian “nilai-nilai” lebih?
Komentar ke-21
1 August 2008 10:05
Perambah
kasus pelecehan seksual memang bukanlah sesuatu yang mudah… saya yang meliput kurang lebih dua tahun masalah kriminal memang tidak mudah mengungkap ataupun membongkar kasus ini.
Bukti yang kuat atau semisal ada saksi yang melihat, baru bisa kita menangkap sang pelaku. Kalau cuma sekedar dilaporkan, dan tidak ada bukti yang sangat kuat, nantinya kita akan diserang balik karena kita dituduh menyebar fitnah… atau perbuatan kurang menyenangkan.
Sudah bagus, pemberitaan di scientiarum ini masih memakai istilah “diduga” dan berita ini berkelanjutan karena kalau didiamkan saja nanti akan di”peti es kan” alias didiamkan begitu saja