Dugaan Pelecehan Seksual di Gedung G Makin Meragukan

Browse By

Kabar tentang kasus pelecehan seksual di gedung G UKSW telah menyebar luas di beberapa media massa. Namun, kabar tersebut belum dapat dibuktikan kebenarannya. Setelah dilakukan klarifikasi di lapangan pada Rabu, 18 Juni 2008, saya mendapatkan keterangan dari penjaga gedung G, Noryaman, yang baru mendengar kabar tersebut dua hari setelah hari dugaan kejadian.

Noryaman mengatakan, dirinya tidak mengetahui detail runtutan kejadian, karena tidak ada pihak lain yang mengetahui kejadian tersebut, selain korban dan tersangka. Ditambah lagi, situasi gedung G tenang-tenang saja pada saat kejadian berlangsung.

“Kejadiannya itu (katanya) di lantai dua, tapi teman saya yang menjaga di sini juga memang tidak mendengar adanya suara orang yang berteriak-teriak minta tolong. Kalau memang dia (korban — Red) diapa-apakan, pasti kan sudah minta tolong. Saya malah tahu dari mahasiswa kalau ada kasus ini,” ujar Noryaman.

Menurut Noryaman, kabar tersebut masih samar kebenarannya.

“Kalau memang kejadiannya ada, kok ya ndak teriak atau gimana. Kan ya gedung ini ada yang jaga dan bisa minta tolong to …,” tambah Noryaman.

Lembaga Kemahasiswaan Program Profesional pun menyatakan tidak mengetahui kebenaran kabar tentang kasus ini.

“Saya, jujur saja, gak tahu tentang kasus ini mengenai benar atau tidaknya,” kata Alko, Ketua Umum Senat Mahasiswa PP.

“Lalu bagaimana dengan adanya advokasi terhadap mahasiswi ini?” tanya saya.

“Wah, kalau itu juga saya ndak tahu. Wong anak BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa — Red) saja gak pernah kelihatan kok.”

22 thoughts on “Dugaan Pelecehan Seksual di Gedung G Makin Meragukan”

  1. Arthur says:

    Wah, keliatannya hampir ketauan boong nya ya…..

    Tapi itu bisa saja suka sama suka, jadi kejadian itu tidak terjadi banyak keributan…….
    Nah, yang sekarang kita tunggu adalah, Apakah kejadian ini benar atau tidak, soalnya telah banyak media yang menggangkat hal ini.

    Semoga masalah ini dapat cepat diselesaikan agar nama baik UKSW kembali terangkat…..

    eh kalau kata Aqirana A. Tarupay “Wah, kalau itu juga saya ndak tahu. Wong anak BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa — Red) saja gak pernah kelihatan kok.”
    Lha kalau penulisa saja ndak tau, lha aku juga pasti ndak atu juga…….. wkk…kk…kk

    Kalo penulisa tanya ma aku, lha aku tanya ma sapa?????

  2. Neil Rupidara says:

    Memrihatinkan sekali, jika Lembaga Kemahasiswaan menjawab tidak tahu dan apalagi tidak mau tahu. Di mana empati disimpan? Soal benar atau tidak, itu soal kemudian. Namun, ketika ada anggotanya punya masalah seperti itu, lembaga harus cepat merespon. Dan, saya cukup yakin bahwa pendekatan oleh peers lebih ampuh, daripada oleh pihak lain.

    Psikologi masyarakat kita tampaknya juga perlu dipahami. Asumsikan peristiwa itu ada, karena ada laporan, maka (dugaan saya) tidak akan mudah seorang mahasiswi main teriak jika diperlakukan seperti itu oleh dosennya. Takut, malu, dan entah perasaan apa ada di kepala si mahasiswi itu, dan itu tidak akan membuatnya berteriak, kecuali lari atau berjalan secepatnya meninggalkan tempat itu, jika tidak suka. Jadi, pandangan penjaga gedung sulit untuk bisa diterima, dalam konteks kultur kita. Sekali lagi, kita positif dulu terhadap laporan itu, dan ini tidak berarti menuding si dosen pasti telah berbuat hal tersebut.

    Saran saya, ya LK PP datangi dong temannya itu. Bukan mau jadi polisi untuk menginvestigasi.. tetapi datang dengan empati dan simpati atas masalahnya.. sebagai sesama orang muda, saya yakin kalian lebih tahu bagaimana mendekati teman yang sedang bermasalah..

    Lebih jauh, jika tidak berinteraksi dengan para pelaku, bagaimana mau tahu itu benar atau tidak? Jika pada akhirnya diketahui laporannya tidak benar, ya ‘terapi’ juga anaknya.. karena apa yang dilakukannya jelas punya dampak. Cuma, saya masih dan akan sulit mengerti keberanian anak itu kalau itu sebuah kebohongan.. terlalu berani, karena itu something must had happened!?

  3. wit says:

    “Kejadiannya itu (katanya) di lantai dua, tapi teman saya yang menjaga di sini juga memang tidak mendengar adanya suara orang yang berteriak-teriak minta tolong. Kalau memang dia (korban — Red) diapa-apakan, pasti kan sudah minta tolong. Saya malah tahu dari mahasiswa kalau ada kasus ini,” ujar Noryaman.

    siapa yang MEMASTIKAN?
    saya setuju dengan komentar Neil di atas…

    lha itu si MY melaporkan ke polisi juga hari berikutnya, tidak langsung hari itu lari ke kantor polisi, tentu setelah dipertimbangkan, bukan reaksi refleks tak terkendali…

    memangnya ketika kita menghadapi “bahaya’ selalu berteriak…
    (contoh, Anda dicolek di antara kerumunan orang banyak, akankah langsung berteriak? kecuali Anda memang ‘suka latah’.

    Coba ‘selidiki’ lebih lanjut, siapa MY, bagaimana keseharian MY, (kalau gak salah dengar, mertuanya salah seorang pejabat di Pemkot Salatiga) demikian juga AG, bagaimana keseharian AG di kampus, tanyakan ke mahasiswa-mahasiswi yang pernah berinteraksi dengan AG, tanyakan ke kolega-kolega AG di kantor.
    Nah… dari sana dapat diambil kesimpulan (jika berani mengambil kesimpulan lho….) peristiwa itu (cenderung) benar terjadi atau tidak benar terjadi.

    atau MY dan AG diminta sumpah pocong saja he he he…. ayo siapa berani….

  4. STR says:

    @ Arthur: Yang bilang ndak tahu itu bukan penulisnya (Aqirana Tarupay), tapi Ketua Senat Mahasiswa PP (Alko). Coba dibaca lagi deh.

  5. Saam Fredy says:

    Pagi semua,

    Beberapa hari setelah pemuatan berita di media cetak tentang kejadian pelecehan tersebut, Saya meluangkan waktu untuk mampir ke kantor BPMU, ketemu dengan Novi, Ketum. Novi mengatakan sudah mengetahui kejadian itu dan akan segera melakukan tindakan yang diperlukan. Kebetulan sorenya BPMU akan melakukan rapat dengan SMU untuk membahas hal tersebut.

    Setelah dari kantor BPMU, Saya juga menyempatkan diri ke kantor SMU, ketemu juga dengan Shinta, Ketua. Dia juga sudah mengetahui kabar pelecehan tersebut, dan memberitahu akan ada rapat sorenya untuk membahas masalah tersebut dengan BPMU.

    Baik Shinta dan Novi menyatakan solidaritas untuk mahasiswa.

    Setelah itu memang saya tidak banyak bertanya lagi tentang kemajuan pembicaraan teman-teman di Lembaga Kemahasiswaan.

    Demikian informasi singkat dari Saya.

    Salam,
    Saam Fredy

  6. Sarika says:

    Sylm….
    Sungguh sangat memprihatinkan kejadian ini jikalau benar adanya… Bagaimana kalau kedua belah pihak dipertemukan(korban dan tersangka)? Semacam debat argument gitu.. Dari situ kan bisa dilihat cara ngomong mereka…(Siapa yang boong..) tapi jangan open forum, ntar yang ada korban malah malu. Perwakilan dari BPM aja..
    Saya setuju dengan pendapat, “tidak semudah itu seorang mahasiswi teriak setelah diperlakukan tidak senonoh, apalagi oleh dosennya.” Banyak faktor yang saat itu ia pertimbangkan dalam waktu sekejap. Pertama dia merasa takut, kedua dia merasa malu, dan banyak pertimbangan lainnya…
    Mungkin sesaat setelah kejadian, korban hanya ingin menyelamatkan diri (alias lari). tapi setelah dipikir-pikir & direnungkan, secara psikologis kejadian itu sangat mengganggu pikirannya & akan menjadikan tekanan baginya. Mungkin dia akan merasa canggung, bila kemudian dia bertemu dengan tersangka. Mungkin juga dia takut mendapat nilai kurang, karena dosen telah “mencap” nya.
    Mungkin dengan adanya pemberitaan di media masa, tersangka bisa mendapat pelajaran yang berharga dari kejadian ini, bahwa tidak selamanya wanita lemah. Secara fisik mungkin kita lebih lemah, tapi secara rohani kita bisa kuat.
    Dan jika pemberitaan ini tidak benar, selidiki dulu, apa yang menjadi motif korban menyebarkan berita fiktif ini? Saya kira tidak akan ada untungnya. Justru korban akan rugi, karna namanya telah tercemar.
    Semoga kejadian ini dapat menjadikan refleksi bagi kita semua. Mungkin pak dosen yang terlalu “BT” (hehehe) atau si mahasiswi yang terlalu “menggoda”(hahaha), ato mungkin kita perlu mengimani kejadian ini, dengan menjadikannya lebih baik..
    Good Luck

  7. Arthur says:

    O iya ya……
    Waduh ya maap……..

    Ya moga² kasus ini ndak mati demi kemajuan kita semua.
    Bila benar salah, pasti akan terungkap.

    Apa mau introgasi polisi saja??
    Biar lebih up to date githu….

  8. DN says:

    uksw saya rasa akan sulit menyelesaikan masalah ini, karena “pelecehan intelektual” yang pernah ada saja belum terselesaikan sampai saat ini…
    tapi harapan dan kesempatan itu ada kalau kita meraihnya..

  9. Neil Rupidara says:

    @DN, saya tidak tahu siapa Anda karena cuma menggunakan inisial, maaf.

    saya rasa kita tidak boleh pesimis, karena semua tergantung kita sendiri: mau atau tidak. akan menjadi persoalan besar dan beban bagi institusi ini ketika para pemimpinnya tidak berani memutuskan sesuatu. saya pernah berpendapat dalam suatu diskusi lain di scientiarum (jika tidak tidak keliru), bahwa suatu waktu justru akan menjadi masalah bagi pemimpin lain ketika pihak2 dalam kampus justru mengatakan, “dulu saja tidak diapa-apakan, sekarang mengapa kamu mau ributkan?” ini sama dengan sikap anda mengaitkan/menjadikan beban kasus pelecehan intelektual ke kasus sekarang. apakah kita mau jadikan preseden tambahan lagi?

    karena itu, sedari awal saya berbeda (sangat tajam?) dengan Sdr. Saam Freddy, dengan memandang bahwa institusi ini punya wilayah otoritas keputusannya. mengacu pada sistem nilai dan norma lembaga ini, siapapun pemimpin UKSW mestinya punya power untuk memutuskan sesuatu. toh ada juga lembaga seperti Senat Universitas, untuk diminta pertimbangan. tetapi, eksekutif dengan dipandu oleh perangkat2 institusional yang ada, menurut saya, bisa merekomendasikan dan kemudian menetapkan keputusan2 seperti ini.

    ingat, kita tidak men-judge si/para pelaku pada tataran penilaian ia berdosa atau tidak. bukan itu. itu urusan para pendeta atau malah Tuhan sendiri. kasus ini juga bukan wilayah privacy lagi. karena itu, di atas nilai seperti relasi kasih dosen – mahasiswa dan pandangan umum bahwa dosen merupakan pemberi contoh bagi mahasiswa, maka perilaku dosen yang ‘menyerang’ mahasiswa atau sebaliknya adalah sesuatu yang sulit diterima di kampus yang menganggap setiap orang adalah ‘wajah’ Tuhannya. sama juga dengan kasus pelecehan intelektual, di atas pertimbangan2 yang ada, mestinya juga harus dibuat keputusan. soal berat/ringan sanksi soal kemudian, tetapi katakan dulu salah – benar tindakan dalam referensi nilai yang dimiliki. sekali lagi, mengambangkan sikap atas kasus seperti ini hanya akan membawa beban bagi institusi di kemudian hari.

    sikap2 pemimpin uksw untuk tidak mengambil sikap dan keputusan2 apa2 menurut saya cuma berlindung di balik otoritas lain di wilayah hukum lain. ini sangat saya sesalkan. jelas ini sebuah sikap pribadi, tetapi menunjukkan bahwa betapa tidak otonomnya lembaga ini yang sebetulnya dibangun di atas semangat otonomi sebuah institusi pendidikan tinggi. bahwa kita hormat pada hukum yang berlaku iya, tapi itu wilayah lain yang kita tidak bisa campuri. itu tidak berarti bahwa di ‘rumah’ kita kita tidak bisa tetapkan aturan kita sendiri.

  10. derriq says:

    klau gua sih asik2 aja yang pnting nama knpus kita ga rusak.
    piye!!!!!!!!!!!!!!

  11. seehngojennaca! says:

    wah duduk di LK kok ngomongnya seperti itu …..
    apalagi pake acara menyalahkan BPMnya
    ndak pantes sekali ………
    mending turun saja ……
    bener ndak????

  12. Titus says:

    saya harap, Lembaga Kemahasiswaan segera bertindak untuk permasalahan ini. yang menjadi pertanyaan adalah, mangapa BPM dan SEMA nya sampai tidak tahu. satu sisi, mereka tidak kompak, sisi lain tidak memperhatikan mahasiswa. semoga idak begitu lagi.

  13. DN says:

    ” uksw saya rasa akan sulit menyelesaikan masalah ini ”

    setuju dgn Neil
    ayo kita dukung uksw walaupun dengan sulit agar mampu memenuhi harapan kita semua karena pemimpin uksw punya kesempatan dan kekuasaan untuk mengambil tindakan tegas untuk menyelesaikan masalah ini. Ayo pemimpin UKSW!!

  14. ZZ says:

    yang salah siapa????????pakaiananya apa pikirannya?!@#$%#$%

  15. dewiq says:

    ya….klo menurutku pihak dri kemahasiswaan hrus tegas memberikan ketegasan buat mahasiswa dan mahasiswinya,spya hal tersebut tdk akn terjadi ke 2 kalinya…..

  16. j@zzmine says:

    saya rasa tidak fair terus menyalahkan dosennya…. seharusnya ada klarifikasi dari dua pihak… tp ko dari dulu korbannya malah terkesan menyembunyikan diri setelah melapor ya… apa takut ketahuan bohong atau gimana???

  17. ViDea says:

    Waaahh,,,
    saya juga pernah baca berita ini di media massa,,
    Tp sptnya memang agak meragukan,,

  18. yusak says:

    semoga cepat terungkaplah
    siapa yang bener, siapa yang bohong

    malu-maluin universitas aja …

  19. jin says:

    Permasalahan ini sepertinya suh ditangani penegak hukum, jadi sbg kaum akademisi yang tetap pegang asas hukum kita. Jgn bikin opini2 yang ujungnya pada gosip..kita tunggu hasilnya nanti… semoga cepet ada kepastiann .. maju terus uksw!

  20. lussua says:

    tolong selesaikan dengan cara yang tepat. kita ini orang yang terpelajar, jadi hadapi dengan cara yang terpelajar juga. tolong kesadarann, dari semua pihak, jangan sampai masalah ini membuat malu IKSW

  21. tommy bernadus says:

    kasus pelecehan seksual memang bukanlah sesuatu yang mudah… saya yang meliput kurang lebih dua tahun masalah kriminal memang tidak mudah mengungkap ataupun membongkar kasus ini.

    Bukti yang kuat atau semisal ada saksi yang melihat, baru bisa kita menangkap sang pelaku. Kalau cuma sekedar dilaporkan, dan tidak ada bukti yang sangat kuat, nantinya kita akan diserang balik karena kita dituduh menyebar fitnah… atau perbuatan kurang menyenangkan.

    Sudah bagus, pemberitaan di scientiarum ini masih memakai istilah “diduga” dan berita ini berkelanjutan karena kalau didiamkan saja nanti akan di”peti es kan” alias didiamkan begitu saja

  22. nimbrung says:

    mau minta tolong… kalo ga ditolong malah diketawain gimana?
    (kan ga ada saksi juga)
    ada yang pernah minta tolong, bukannya sang peleceh dikejar, si korban yang dilecehkan malah dicuekin. udah nangis2 minta tolong, malah dikerubungin sama satpam (kejadian ini ada di UKSW, tapi nggak dipublikasikan, katanya lagi ntar mempermalukan UKSW karena terjadi di teritori UKSW)
    lapor polisi?
    It’s a smart way! karena kalo lapor Universitas biasanya juga cuman masuk telinga kiri keluarnya di mulut yang bukan pemilik telinga. Daripada malu digosipin, lapor polisi langsung bukan tindakan bodoh..
    nggak usah sok Sherlock Holmes, karena kebanyakan orang Indonesia juga nggak serefleks itu apalagi kalo masalah sensitif kaya ginian.

    Kalopun sang MY cuman mau cari sensasi, ada alasan2nya dong. (mustinya yg dicari alasan si MY kenapa sampe lapor polisi). Orang mau cari sensasi dengan mengkambing hitamkan orang (AG) itu kan tindakan yang berani (baca: dendam). KAlo memang dendam sedemikian rupa, coba ditelusuri, apakah dendam itu cuma gara-gara nggak kasih nilai jelek atau pemberian “nilai-nilai” lebih?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *