Takdir Bujuk Rayu

Browse By

“Everything is seduction. And nothing but seduction.”
~ Jean Baudrillard, Seduction

Hidup di tengah-tengah dunia yang ruwet dewasa ini, seringkali memaksa kita berada pada keadaan dimana kita terserap ke dalam suatu bentuk pengelabuan. Pengelabuan dari yang nyata, dari yang sebenarnya. Hal ini dimungkinkan karena batasan antara yang nyata dan ilutif menjadi demikian kabur, dan apa yang sesungguhnya nampak tidak lagi merepresentasikan apa yang sebenarnya.

Perkembangan teknologi media massa dan teknologi informasi hari-hari ini memainkan peranan penting dalam hal ini. Melalui medium seperti televisi, komputer, media massa digital, dan media informasi lainnya, suatu presepsi dapat direkayasa sedemikian rupa melampaui realitas. Era ini adalah era rekayasa digital, rekayasa presepsi, dan bentuk-bentuk rekayasa lainnya. Fenomena riil dapat sedemikian rupa tersimulasikan dan mengelabui kita. Yang mungkin luput dari pandangan kita adalah, bahwa sebenarnya jika kondisi yang demikian dihadapi, maka kita telah masuk pada suatu dimensi yang menyimpangkan kita dari kebenaran, suatu dimensi dimana kita terbujuk untuk dikelabui. Inilah dimensi bujuk rayu. Segala sesuatunya terbalut dalam bujuk rayu dan kita tak dapat menghindar lagi.

Godaan atau bujuk rayu, disadari atau tidak, merupakan sesuatu yang lekat dengan dimensi kehidupan manusia. Selama manusia masih memiliki hawa nafsu, keinginan, dan hasrat, maka bujuk rayu memainkan peranannya. Dalam ajaran agama, bujuk rayu merupakan strategi dari si jahat (devil) baik dalam bentuk sihir atau bentuk lainnya, dan persoalan bujuk rayu ini masih tertinggal hingga saat ini. Agama memandang bujuk rayu sebagai hal yang jahat dan menipu dan, selama manusia masih bersemayam dalam tubuhnya, ia akan menggoda. Ia juga digoda dan ia (mungkin) akan tergoda.

Bujuk rayu kerap kali dikaitkan dengan persoalan seksualitas. Baudrillard dalam karyanya, Seduction, mengutarakan bahwa “yang seks” pada akhirnya dapat termanifestasi dimana saja, kecuali di dalam seksualitas itu sendiri. Artinya, ketika seksualitas direalisasikan dimana saja dan kapan saja tanpa batasan, ia menjadi kehilangan esensinya. Dalam masyarakat dewasa ini, segala sesuatu (objek, barang, jasa, dan berbagai jenis relasi) kerap kali diseksualisasikan dan dengan demikian masyarakat juga kerap kali digoda, dibujuk rayu.

Pemiskinan makna
Bujuk rayu, sampai pada satu titik, bekerja pada penghilangan tanda dan menyurutkan makna dari penampakan yang sebenarnya, karena godaan tidak pernah berhenti pada kebenaran tanda, tetapi bekerja dengan tipuan dan kerahasiaan.

Digoda artinya dipalingkan dari makna yang sebenarnya dan menggoda adalah mengarahkan seseorang dari kebenarannya menuju kepada kebenaran si penggoda.

Dalam strategi bujuk rayu, seseorang menarik orang yang lain ke dalam wilayah kelemahannya yang juga wilayah kelemahan si penggoda tersebut. Menggoda adalah tampil dengan penampakan yang lemah dan menggoda adalah tindakan yang membuat lemah. Dalam godaan, kelemahan ini diciptakan, dan inilah yang memberi kekuatan pada bujuk rayu. Inilah alur yang menyusuri dari berbagai macam bentuk godaan: eksploitasi kelemahan, kemudian hujani dengan bujukan, dan keluar sebagai pemenang. Menggoda, karenanya, adalah membuat figur dan tanda untuk dipermainkan.

Hasrat dan bujuk rayu
Bujuk rayu bukanlah hasil dari daya tarik fisik, melainkan sebuah konjungsi dari hasrat. Hasrat dalam kaitannya dengan bujuk rayu bukanlah suatu akhir, melainkan sesuatu yang dapat dieksploitasi kelemahannya, sehingga godaan bertujuan untuk memprovokasi dan menipu hasrat tersebut. Atau, dengan kata lain, godaan bertujuan pada godaan itu sendiri.

Jika godaan bermain pada ranah asmara (romance), maka yang terjadi adalah: aku tidak ingin mencintai, mengasihi, ataupun menyenangkanmu, tetapi untuk menggodamu, dan satu-satunya perhatianku adalah apakah kau tergoda, dan bukannya apakah aku mencintai atau menyenangkanmu.

Moda-moda seperti ini rupa-rupanya acapkali kita temui dalam realitas keseharian. Bagaimana jika frase tersebut kita terjemahkan ke dalam bagian lain dari kehidupan kita (seperti dalam hal konsumsi)? Yang terjadi adalah “kami tidak peduli apakah barang itu bermanfaat buat anda, atau ia sungguh-sungguh memuaskan anda, melainkan yang terpenting adalah anda telah tergoda untuk membelinya, dan mengonsumsi, dan itulah tujuan satu-satunya.”

Godaan ini berkerja dengan amat lihai, sehingga seakan-akan tidak ada godaan di sana. Ia bisa saja tidak disadari, dan ia ada dimana-mana.

Berpikir dengan jernih
Bujuk rayu telah menyusup ke dalam setiap aspek kehidupan. Ia tidak lagi hanya terbatas. Ia ada dimana-mana. Ketika kita mengonsumsi tanpa sadar, kita telah terbujuk. Ketika kita berpolitik secara sadar, kita telah menggoda.

Perhatikan layar kaca di ruang keluarga rumah kita. Betapa seringnya kita temui bujuk rayu menghambur keluar dari dalamnya. Kita dibujuk untuk membeli sesuatu, kita dikelabui tentang realita yang ada. Demikian juga panggung politik yang kita temui. Betapa sering kita mendapati pemiskinan makna dari realita yang sesungguhnya, yang dibingkai dalam jargon-jargon yang membujuk. Dunia yang ada sekarang seakan-akan didorong oleh berbagai macam bentuk godaan, sebuah dunia dimana segala sesuatunya telah dibiaskan dari kebenarannya. Mungkin ini agak terdengar skeptis, walau tetap tidak dapat dipungkiri bahwa dimensi bujuk rayu sementara hadir.

Yang diperlukan sekarang adalah kejelian untuk menelanjangi strategi bujuk rayu yang ada dimana-mana. Sebuah kejernihan berpikir untuk dapat membedakan antara yang nyata dan palsu, mana yang substansif dan bukan sekadar polesan luar belaka. Kejernihan yang dapat menyingkap makna yang sebenarnya di balik semua permainan tanda. Sehingga kita tidak melulu menjadi korban bujukan dan rayuan. Karena, pada akhirnya, bujuk rayu dan godaan ditakdirkan untuk terus membayang-bayangi kehidupan manusia yang semakin hari semakin kompleks.

Yesaya Sandang, mahasiswa pascasarjana Departemen Filsafat UI

28 thoughts on “Takdir Bujuk Rayu”

  1. opha says:

    @penulis : Sadis bung…. kekuatan tulisan ini ada pada kemampuan mempengaruhi pembacanya! Mengupas sesuatu pasti menghilangkan kulitnya untuk kita menemui inti yang akan kita konsumsi. Salut…!!

  2. ojhon says:

    @bunk yes..ketemu juga disini..btw saya manut opha..tulisannya bagus neh

  3. obed pemberontak says:

    yup… jelas! jelas! otak ku terpedaya…
    kadang kala bujuk rayu equivalen dengan keinginan…
    bujuk rayu dapat sukses memperdayai seseorang apabila dengan tepat membidik keinginan korban itu…
    tidak hanya perlu kita menelanjangi bujuk rayu dan rona-rona godaan dalam tanda-tanda…
    tapi juga kita perlu menelanjangi ‘keinginan’ kita…
    kabut keinginan inilah yang membuat kita tidak jelas memandang strategi bujuk rayu itu….

    best regard
    obed

  4. Theofransus Litaay says:

    Wah piye kabare mas Yesaya? viva iustitia!

  5. yesaya sandang says:

    Halo… trims buat komennya rekan2 semua, Puji Tuhan kabar baik-baik senantiasa, sekarang saya baru saja menyelesaikan studi. sedang menanti wisuda, sembari mencermati peluang dan tantangan yang ada di depan.. bulan agustus saya ada rencana ke salatiga, nanti pasti saya sempatkan diri mampir ke kampus tercinta, sampai jumpa…. viva iustitia!!!

  6. Hock Windah says:

    Nice……!

  7. Febri says:

    Tulisannya bagus bung !!

    Hanya saja sekarang manusia banyak yang kurang reflektif…..
    Celakanya ini pun terjadi di UKSW.

    Banyak dosen mengajarkan kebaikan, namun tindakan nyata NOL BESAR
    Arinya hanya ngomong doang… Banyak contohnya lah… Saya rasa bung yesaya sendiri mengalami saat menjadi mahasiswa di UKSW.

    Takdir Bujuk Rayu pun bisa berdampak positif asalkan digunakan dengan tujuan yang baik. Misalnya kita melakukan hegemoni agar membela yang benar, ini-kan positif (menurut saya, saya setuju dengan anda).

    Namun hal ini hanya akan berjalan dengan baik, bila si-pembujuk memberi contoh dalam lakunya sehari-hari… Yang ini sepertinya sesuai dengan Teori Habitus Baru yang di populerkan oleh almarhum Pierre Bourdieu..

    itu dulu… ini saja dah pusing memberi komentar hahahaaaaa, alias belum satu level kemampuan

    NB: Klo ke Salatiga kabarin yaaaa, kamu pasti masih ingat saya

    Salam,
    Febri – Redaksi Scientiarum

  8. Yulius says:

    Sebagai konsekuensi dari era pencitraan, pemaknaan terhadap suatu tanda tidak bisa serta merta sebagaimana adanya atau sebagaimana selama ini dimaknai. Kaum pemodal sebagai penguasa era ini, memiliki kebebasan untuk memasuki wilayah interpretasi individual, sekaligus menjadikannya (memproduksi) sebagai sebagai isu yang bebas untuk diinterpretasi oleh siapapun (menjadi teks terbuka). Dengan demikian, pembelokkan makna dari suatu tanda sangat mungkin terjadi. Tetapi yang lebih parah lagi adalah ketika terjadi fenomena false subjectivity (David Michael Levin), yaitu situasi dilingkupinya manusia oleh rasa takjub terhadap ciptaannya (citra) dan sekaligus menyembahnya. Inilah patologi eksistensialis, yaitu ketika realitas palsu dijadikan tempat untuk melarikan diri dari segala rasa penderitaan, putus asa, dan frustrasi. Dengan kata lain, Pencitraan tidak bisa dilepaskan dari tarian agresif masyarakat konsumer kapitalistik saat ini yang dicirikan dengan budaya produksi massa dan budaya konsumsi massa. Artinya, citra yang yang diproduksi saat ini memiliki kemampuan untuk menkonstruksi kesadaran (persepsi) massa.

  9. Titus says:

    tulisan yang sangat bagus. dan secara tidak sadar, kita pun yang membaca sedang terbujuk rayu oleh tulisan ini, untuk membongkar segala bujuk rayu yang ada. substansi memang kadang, bahkan sering dimanipulasikan untuk membujuk audience. misalnya, waktu kampanye politik, dan itu cukup jelas. bujuk rayu merupakan sebuah tirai yang harus disingkap untuk mendapatkan substansi atau inti dari sesuatu yang disampaikan. kalau boleh berpendapat, bujuk rayu tidak ubahnya sebuah pembodohan dan kamuflase.

    salut buat ini tulisan.

    best regard,,,salam kenal…

    titus, uksw

  10. Neil Rupidara says:

    Setuju, tulisan yang sangat baik. Terima kasih untuk pembelajaran yang diberikan. Semoga sukses dalam studi @ mas Yesaya.

  11. Daeng says:

    Wew.. Tulisan yang menyegarkan. Filsuf bgt… Saloeeetttttt!!!!
    Menggoda dan digoda mah sudah dari sononya mas….
    Takdir dari Yang Maha Esa dan diturunkan dari generasi ke generasi lewat Hawa. hehehe (Gender bgt)

    Baiknya kaum akademisi UKSW yang paham benar hal ini (Secara teoritis, banyak pendeta loh), dibekali dengan Moral dan Akhlak yang tangguh agar teorinya tidak menjadi Bias. Percuma aja kan setelah terjun ke masyarakat tetap aja “melu-melu” atasan yang korup. Basi!!!

  12. Jerry Langkun says:

    Tulisan yang membawa (baca: membujuk-rayu) kita dalam “penerawangan diri”…

    Seduction (bujuk rayu), kata inggrisnya emang lebih familiar pada ranah “romance”, coba bayangkan di dunia barat sana sampe ada “Seduction Community” s’gala. Salah satu gurunya yang terkenal tu Ross Jeffries, dengan “Speed Seduction” dan beragam bukunya yang isinya ttg cara2 seduction gitu…
    Pada kenyataannya bujuk rayu hadir dalam setiap sisi kehidupan manusia.

    Bukankah bujuk rayu sudah menjadi sifat lahir manusia? pengejewantahan dari hasrat dan keinginan? Lahir oleh keinginan dan mati oleh musnahnya (baca: terpenuhinya) keinginan itu. Jadi, pada dasarnya dia telanjang, kitalah yang memberi dia aksesoris dalam perjalanannya yang singkat.

    Oleh karena itu, berpikir jernih tu wajib hukumnya, agar kita sebagai subjek pelaku sadar akan hasrat/keingninan kita dan menempatkan aksesoris-aksesoris tersebut dibawah naungan nilai dan norma yang disepakati bersama, dan kita sebagai objek penderita dapat melihat ketelanjangannya dan tidak tergoda oleh aksesoris yang dipakainya.

    Masalah yang kita hadapi, perkembangan ilmu & tekno. telah men-trigger kemampuan kita (subjek pelaku) meningkat berlipat ganda dan berlebihan dalam memberi aksesoris sehingga substansi menjadi tidak kasat mata dan tidak terjamah, sayangnya hal ini tidak dibarengi peningkatan kemampuan kita (objek penderita) dalam melepaskan aksesoris tersebut untuk menjamah ketelanjangannya. Ironi???

    Peace,
    nb, yes jang lupa kontak kl di salatiga! skalian syukuran lulus to hehe….

  13. Neil Rupidara says:

    @Jerry, ini kok pada gaya filsuf semua (ikutan klaim daeng)? Dengan struktur pikir yang tampak rumit2 dan tata bahasa yang lepas tak sungkan2… ha ha ha… ruaarr biaasaa… pada unjuk postmo2an ya..

  14. REza says:

    di dunia ini, tidak ada realitas toh? bahkan, apa yang kita sebut sebagai realitas substantif sebenarnya hanya merupakan salah satu bentuk bujuk rayu juga. Kita dikepung oleh beragam bujuk rayu.

  15. yesaya sandang says:

    heheheh… yah.. ini memang sedang jamannya posmo.. walau ini juga masih dapat diperdebatkan. pertanyaannya kemudian adalah “what next”. memang terkadang pemikiran posmodernisme tidak serta merta memberikan jawaban dan jalan keluar dari persoalan yang kalo boleh dikatakan pelik pada masyarakat dewasa ini.
    baurdrillard sendiri sering dkritik dan dikejam karena dianggap terlalu skeptis dalam beberapa tulisan-tulisannya.. tapi toh walau begitu kajian-kajiannya terhadap perubahan struktur nilai yang terjadi masyarakat memang ada benarnya… kata kuncinya dalam kajian media (simulacrum) sering dirujuk oleh para pemikir-pemikir politik serta kajian ilmu komunikasi.
    harus diakui memang, saya dalam tulisan ini terjebak dalam bahasanya Baudrillard yang jelimet, yah ini salah satu kelebihan (kalo boleh dikatakan demikian) filsuf-filsuf perancis… berbeda dengan pemikir-pemikir posmo yang berbahasa pengantar inggris.
    terlepas dari itu memang menjadi pergumulan saya juga secara pribadi, bagaimana mengemas sebuah tulisan dalam bahasa yang jauh lebih renyah tetap tidak rumit…
    trims……

  16. yesaya sandang says:

    buat nambah-nambah bahan diskusi 🙂

    1. Membahas persoalan politik dalam prespektif Baudrillard tidak dapat dilepaskan dari pemamaparan tentang perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat, dimana telah terjadi perubahan dalam hal nilai . Bertolak dari strukturalisme Saussure dan analisis ekonomi politik Marxian, Baudrillard menyimpulkan bahwa telah terjadi sebuah revolusi nilai, “ a revolution of value itself, which carries value beyond its commodity form into its radical form”.
    2. Baudrillard mengindikasikan bahwa revolusi struktural dari hukum nilai tersebut dengan terminologi “political economy of the sign”. Political economy of sign berkonsekuensi pada extensi dari komoditas hukum nilai dan hal tersebut dikonfirmasi pada level tanda, dimana saja pada konfigurasi struktural nilai terus-menerus secara simultan menjadi tujuan dari suatu rejim produksi, politik ekonomi.
    3. Dalam Consumer Society, Baudrillard membahas persoalan tanda dan simbol kedalam ranah konsumsi dan memunculkan apa yang disebutnya sebagai masyarakat konsumer. Masyarakat Konsumen adalah masyarakat dimana orang berusaha mengafirmasi, meneguhkan identitasnya dan perbedaannya, serta mengalami kenikmatan melalui tindakan membeli dan mengkonsumsi sistem tanda bersama. “Konsumsi merupakan suatu tindakan sistematik dari manipulasi tanda-tanda”. Artinya tindakan mengkonsumsi suatu objek tidak lagi (hanya) didasarkan pada kegunaan dan nilai tukar.
    4. Terhadap logika objek yang ada didalam masyarakat. Baudrillard mengklasifikasikan hal tersebut kedalam 4 hal :
    1. Nilai Fungsional dari objek ( functional value of an object ). Hal ini serupa dengan apa yang dimaksud oleh Marx dengan Nilai Guna (use value). Contohnya: sebuah pulpen berguna untuk dipakai menulis, jadi yang ditekankan disini adalah tujuan instrumental dari objek tersebut.
    2. Nilai (diper) Tukar (an) dari objek ( exchange value of an object ). Pada jenis ini suatu objek dinilai dari sudut pandang ekonomisnya, contohya : dengan uang Rp 1000 kita dapat mendapatkan sebuah pulpen.
    3. Nilai Simbolik dari suatu objek ( symbolic value of an object). Pada jenis ini nilai disepakati atau ditentukan secara arbitrer (sewenang-wenang, berubah-ubah) dalam relasi antar subjek. Contohnya : pulpen sebagai simbol dari hadiah kelulusan, cincin menyimbolkan deklarasi cinta antara dua orang.
    4. Nilai Tanda dari suatu objek ( sign value of an object ). Nilai ini adalah yang menandakan bahwa sesuatu lebih bernilai dari hal lainnya, sama halnya dengan nilai simbolik yang dibentuk secara arbitrer, hanya pada nilai tanda lebih menekankan pembedaan dari nilai-nilai lainnya. Contoh : beberapa jenis pulpen menandakan status sosial pemiliknya. Logika inilah yang menurut Baudrillard dominan pada masyarakat konsumer.
    5. Dengan segala usaha mengafirmasi tanda pada akhirnya yang terjadi adalah simulasi (simulation). Baudrillard mendefinisikan simulasi (simulacra) menjadi tiga jenis :
    a. simulasi yang terkait dengan pemalsuan seperti yang dominan pada periode klasik, dari era Renaissance sampai pada era revolusi industri. Pada jenis ini simulasi beroperasi pada aras “natural law of value”.
    b. Simulasi yang terkait dengan produksi yang dominan selama era industrial. Pada jenis ini simulasi beroperasi pada aras “market law of value” dan
    c. Simulasi yang dominan pada saat ini yang banyak didominasi oleh “kode/tanda”, yang beroperasi pada “structural law of value”.
    6. Simulasi yang dominan pada saat ini semakin menjadi manakala ditunjang oleh perubahan yang terjadi dalam masyarakat terkait dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (video, televisi, computer, dst) yang sedemikian rupa telah masuk keseluruh penjuru kehidupan manusia. Melalui teknologi tercipta suatu realitas yang melampaui realitas tersebut (Hiperealitas). Segala sesuatu yang ‘nyata’ telah dilampaui, menjadi kehilangan bentuk asalinya, kenyataan dapat direkayasa sedemikian rupa. Disini kita menemukan apa yang disebut sebagai “the death of the real” , matinya realita dan menuju pada hiperrealita.
    7. Dalam bukunya ‘Simulation’, Baudrillard mendefinisikan istilah simulasi sebagai “…penciptaan model-model kenyataan yang tanpa asal-usul dan realitas: a hyperreal , model realitas tersebut memang sepintas nyata, akan tetapi ia sesungguhnya tidak menggambarkan kenyataan yang sebenarnya. Lebih lanjut Baudrillard mengungkapkan bahwa simulasi telah menggiring masyarakat pada sebuah kondisi di mana realitas (yang alamiah) telah diambil alih oleh model-model atau simulasi realitas. Segala sesuatu yang ada, yang tersimulasi, menampakan diri seolah-olah sebagai sesuatu tersebut , padahal bukanlah sesuatu tersebut (yang sebenarnya). Teknologi media massa atau teknologi informasi hari-hari ini memainkan peranan penting dalam hal ini. Melalui medium seperti televisi, komputer, media massa digital dan media informasi-audio visual lainnya, suatu presepsi dapat direkayasa sedemikian rupa melampaui realitas. Era ini adalah era rekayasa digital, rekayasa presepsi, dan bentuk-bentuk rekayasa lainnya. Fenomena real dapat sedemikian rupa tersimulasikan.
    8. Ranah politik dalam konteks yang seperti dipaparkan Baudrillard menjadi semacam arena simulasi. Politik dikendalikan oleh logika tanda yang hendak memberikan citra tertentu atau dengan kata lain politik larut dan terserap kedalam dunia citra. Disini Peranan media massa dilihat dalam pengertian bentuk bukan isi. Hal ini seiring sejalan dengan pola konsumsi pada masyarakat konsumerisme yang berdasarkan pada nilai tanda. Politik pada kondisi yang seperti ini penuh dengan penciptaan tanda-tanda yang bias dari makna yang sesungguhnya, yang kemudian akan dikonsumsi bersama-sama oleh manusia konsumer yang fatalis. Baudrillard menjelaskan bahwa manusia fatalis adalah manusia yang terserap ke dalam logika sang lain (objek, sistem, institusi, bahasa, symbol, atau dunia pada umumnya) dan tidak dapat lagi melepaskan diri darinya.
    9. atmosfer pemikiran Baudrillard nampak miris, yang melihat bahwa arena politik pada era konsumerisme ini penuh dengan tipu muslihat yang tidak tanggung-tanggung, penuh dengan kepalsuan, dan politik menjadi panggung rekayasa. Mengikuti pemikiran Baudrillard begitu terasa bahwa pada era consumer ini seakan tidak ada lagi yang benar-benar nyata, semuanya sudah didominasi oleh simulasi, dan tak ada lagi yang asli, segala sesuatunya hanyalah permainan belaka. Dengan demikian praktek-praktek politik menjadi ajang permainan dari manusia yang dahulu kala dikatakan Aristoteles sebagai Zoon politicon. Setiap institusi politik menjadi kontestan dalam permainan tersebut yang berusaha keluar sebagai pemenang dengan membangun pencitraan. Ambil contoh ajang pemilihan presiden yang dalam waktu dekat ini akan memasuki masa kampanye, dimana para calon dan tim suksesnya sudah bersiap siap dengan segala macam strategi pencitraan lengkap dengan suporternya masing-masing. Kita dapat melihat bahwa lewat wahana visual para calon sudah mulai masuk pada ruang simulasi dengan menciptakan tanda-tanda tertentu demi merayu pemilih, daripada menciptakan sebuah konsep subsantif yang real yang berbasis pada kerangka dan program kerja yang akan dieksekusi.

  17. Neil Rupidara says:

    @Yesaya, terima kasih atas pembelajaran lanjut atas Baudrillard. Saya bukan posmo-ist, apalagi Baudrillardian, jadi ngaku bahwa tidak jarang suka dibuat ‘pusing’ dengan cara pikir postmodernism, mungkin karena tidak akrab/biasa. Karena itu, saya mengapresiasi mereka (incl. Yesaya, Jerry juga?) yang menekuni posmo dan menemukan ‘kompas’ dalam labirin pemikiran postmodernisme yang suka ‘membingungkan’ itu dan berterima kasih ketika ada yang mampu dan mau mengurai kerumitan pikir para posmodernists untuk menjadi konsumsi awam atau yang biasa berpikir dalam aliran mainstream tertentu yang seringkali justru ditabrak kaum posmo.

    Berikut sejumlah catatan dan/atau pertanyaan dari posting Yesaya untuk mengajak diskusi lanjut. Pertama, beberapa istilah dan pemikiran yang dipakai cukup rumit yang lazim menjadi ciri dan gaya pikir posmo-ist atau ya itu juga sudah nature-nya filsafat. Misalnya istilah revolusi nilai: nilai radikal vs nilai komoditas (karena bicara dalam konteks masyarakat konsumen?). Apakah itu maksudnya sebagaimana yang terjelaskan di bagian bawah di mana akibat politik tanda dan/atau simbol atau politik pencitraan (melalui simulasi2 dan yang dibantu media) lalu telah menggelembungkan nilai ‘sesungguhnya’ dari suatu benda sehingga yang kita hadapi adalah sebuah hypereal?

    Kedua, saya tidak cukup jelas di mana kaitan/pengaruh strukturalisme Saussure dalam karya Baudrillard (tidak dijelaskan seperti apa strukturalisme Saussure itu sehingga tidak cukup mudah memahami di titik mana dalam pemikiran Baudrillard yang diturunkan dari Saussure, tapi kita mestinya masih bisa terselamatkan dengan meng-google it). Apakah ada pada hubungan antara kata, tanda, dan simbol yang dipakai dalam konteks kesepakatan makna? Tapi, rasanya ada banyak pengaruh pemikiran lain pada Baudrillard, di luar Saussure dan Marx. Bagaimana ini dijelaskan?

    Terkait dengan tulisan utama (bujuk rayu), saya mau bertanya tentang posisi Baudrillard. Mohon dijelaskan. Apakah dia ‘pembela’ otonomi dan rasionalitas individu yang kecewa berat dengan ketidakmampuan manusia menghalau pengaruh2 eksternal sehingga menyimpulkan tidak ada lagi yang sesuai kenyataannya? Jadi, apa maksudnya dengan yang nyata? Mengikuti imbauan Yesaya agar kita berpikir lebih jernih (apakah ini juga imbauan Baudrillard?), seolah-olah ada asumsi bahwa ada satu inti kebenaran yang bilamana kita jernih berpikir, maka kita jauh dari gangguan2 yang mendistorsi makna yang hadir melalui proses2 simulasi yang dipandang telah berakibat pada penyimpangan makna sesungguhnya. Apakah ini justru tidak melawan hakekat lain manusia sebagai kreator makna itu sendiri? Bukankah posmo justru menggandrungi relativitas makna? Implikasinya, bukankah subyektivitas manusia pada akhirnya telah membuat tidak ada lagi ‘kebenaran tunggal’ dan karena itu mestinya justru perlu diimbau adalah agar kita tidak boleh pasif saja dengan mengharap kejernihan pikir akan menyaring makna, tetapi justru ikut main dalam kontestasi makna yakni melalui keikutsertaan dalam proses2 simulasi dan bujuk rayu itu? Dalam hal ini, apakah pengaruh Saussure dalam konteks kesepakatan makna dalam pandangan Baudrillard?

    Mudah2an bisa lebih jauh membedah pikiran Baudrillard.

  18. Jerry Langkun says:

    Diskusinya tambah berat ni…..

    @ k’neil, katong cuman nimbrung sa… hehehe
    saya posmo-ist?? hehe.. sejujurnya saya tidak tau,
    ini sekaligus menjawab pertanyaan apakah saya menekuni posmo? … tidak!

    Saya sekedar melihat sebuah fakta dan mencoba “terawang-menerawang” haha…
    ini emang udah kebiasaan, atau mungkin karena referensi masih sangat kurang?

    kalo masalah tulisan( my comment), mungkin karena kebiasaan menulis puisi picisan hehe…
    atau mungkin dihantui dan “trans” oleh gibran, rabindranath tagore, & coelho?
    penulis2 yg suka menerawang dgn permainan kata dan analogi!
    memang terawang-menerawang itu asikk…

    Nyerah deh kalo diskusi udah masuk ke ranah lalulintas teori pemikir2 besar,
    pikiran langsung macet, kayak macetnya Jakarta! kacian kan BBM lg melambung…., nah lo???.

    btw, salut atas tulisan & koment2x, “melentingkan godaan untuk tercerahkan…”

    Siapa yang tergoda???

  19. Yulius says:

    Nimbrung lagi…
    Salut buat Bung Neil…yang meski jauh di negeri seberang masih sempat menengok “rumah” di Salatiga.
    Sebagaimana diungkap oleh Sexton, era posmo ditandai dengan kemampuan memberi persepsi oleh individu terhadap objeknya bersifat “licin” dan mudah untuk dipisahkan (dengan objeknya). Makna semakin bersifat relatif. Pemaknaan sangat bersifat kontekstual. Serta menekankan pada nature manusia sebagai pencipta makna ketimbang penemu makna. Jadi menurut saya, kehadiran Posmo itu berupaya untuk menjembatani cara berpikir yang terfokus pada realita dan yang idealis. Artinya, pemaknaan terhadap objek tidak bisa diserahkan begitu saja kepada kemampuan kognitif yang didalamnya sudah ada ide atau secara sepihak dikuasai oleh otomatisasi makna yang terkandung dalam diri objek. Oleh karena itu makna dapat saja berbeda dengan objeknya, karena objek dalam era ini sudah bersifat terbuka. Dengan demikian simbol, bisa berbeda dengan objek yang disimbolkan. Dan jika itu yang terjadi maka simbol tidak menjadi penunjuk terhadap objeknya, tetapi telah berubah menjadi objek itu sendiri. Hal ini sejalan dengan uraian Goodenough yang membedakan bahasa ke dalam pengertian denotatif.
    Situasi Licinya interpretasi makna terhadap simbol ataupun objek (bisa jadi isu atau kebijakan), sepertinya sedang menyelimuti UKSW. Semua tampak gamang. Tidak ada kejelasan dan kepastian. Masing-masing pihak sepertinya diberikan “kesempatan” untuk menunjukkan interpretasinya sendiri. Fenomena fakultas-ku lebih berkontribusi daripada fakultas lain, mengemuka lagi. Pemaknaan Tunggal bahwa UKSW adalah UNIVERSITAS goyah lagi (mungkin hilang?). Spirit pragmatis dan segmentasi, sepertinya telah menjadi epidemi mental dan moral yang kian membadan di dalam kampus kita. Bermasalahkan kita dengan itu..lagi-lagi, jawabnya tergantung……

  20. Theofransus Litaay says:

    Yes, dimana posisi teori Baudrillard dalam konfigurasi teori Posmo? Apa kontribusi utama bagi pengembangan filsafat Posmo?

  21. ztireg says:

    Saya setuju dengan Reza, saat ini sangat banyak bujuk rayu yang mengelilingi kita. Oleh karena itu kita harus menggunakan rasionalitas. Memang rasionalitas pun digunakan oleh para pembujuk. Namun ia pun berguna dalam menghadapi bahaya dari bujuk rayu (menggunakan rasionalitas lho..). Rasionalitas digunakan dalam menganalisa apa yang baik dan apa yang buruk…

  22. yesaya sandang says:

    Halo K’Neil trims buat catatan-catatannya, Saya sependapat dengan K’Neil! Kalau sepemahaman saya Baudrillard memang hendak menjelaskan fenomena konsumerisme dan dampak advance technology ditengah-tengah masyarakat Amerika dan Eropa pada saat itu (Sebuah amatan Sosiologis). Sehingga dengan demikian dapat dipahami pula bahwa hubungan antara pemikiran struktruralisnya Saussure dan analisis ekonomi politik Marxian merupakan hubungan kritis. Pada Saussure misalnya yang menekankan pada hubungan penanda dan petanda melalui kesepakatan makna, dikritisi oleh Baudrillard. Baginya hubungan itu tidak lagi merupakan sebuah kesepakatan, melainkan ditentukan secara sewenang-wenang dan dikendalikan (saudara Yulius banyak memberi komentar soal hal tersebut). Sedangkan pada Marx, penjelasannya tentang nilai komoditas berdasarkan kegunaan tidak lagi dapat menjelaskan fenomena branding misalnya. Dari sinilah muncul revolusi nilai. Lebih jauh masih dalam kaitannya dengan Marx, Baudrillard dalam Consumer Society (1998, 190) berpendapat bahwa akibat dari pergeseran nilai tersebut, manusia tetap teralienasi (sebuah tema yang menetap dalam pemikiran NeoMarxian). Hanya teralienasinya diri manusia sekarang karena ia terjebak dalam ritus-ritus konsumtif. Memang tidak dapat dipungkiri pula bahwa terdapat banyak pengaruh lainnya dalam khasanah pemikiran Baudrillard. Hanya saja sejauh pembacaan saya (bisa saja ngaco atau masih kurang bacanya ?) kedua tokoh ini yang paling kentara corak pembahasan dan perluasannya (kalo boleh nambah satu lagi lah Marshall McLuhan terkait dengan kajiannya tentang media elektronik yang saya kurang paham betul karena belum pernah mencicipinya).

    Kalau ditanya apakah dia pembela otonomi dan rasionalitas individu yang kecewa berat dengan ketidakmampuan manusia menghalau pengaruh2 eksternal, jujur saja saya tidak menemukan jawaban yang eksplisit sejauh membaca Baudrillard (mohon masukannya). Lantas yang nyata apa? Kalau kebenaran adalah apa yang harus ditertawakan. Inilah Baudrillard, provokatif penuh dengan tanda tanya. Kalau Marx menggugat Feurbach dengan salah satu tesisnya para filsuf tidak lebih dari pada sekedar menafsirkan dunia dengan berbagai cara, padahal yang terpenting adalah mengubahnya. Maka bagi sebagian kalangan ada yang mengatakan bahwa Baudrillard menggagasnya menjadi yang terpenting adalah membuatnya jadi lebih enigmatic (Anthony Elliot, 2001, 195). Setelah memetakan serta membedah persoalannya lalu ia sambung ke persoalan lain lagi. Sejauh saya membaca karyanya yang Seduction pun saya tidak menemukan ending dimana ada jalan keluar yang ditawarkannya. Ia hanya mengakhirinya dengan perayaan akan takdir bujuk rayu yang selalu ada. Maka saya kemudian berpandanga bahwa berpikir lebih jernih sebagai bagian dari usaha untuk keluar dari jebakan bujuk rayu yang menjadi sebagian moda-moda yang dibawa oleh revolusi nilai tersebut. Terlalu simplistis mungkin. Walaupun begitu, saya kira itu salah satu langkah awal membuka keran kesadaran, dan mulai mengidentifikasi hasrat-hasrat yang ada dalam diri, tanpa berpretensi mengklaim ada satu kebenaran tunggal. Dalam hemat saya paling tidak keluar dari perangkap bujuk rayu merupakan pintu masuk menuju pembahasan tentang kebenaran tanpa ada hegemoni. Karena bagi saya pertanyaan pentingnya adalah,bagaimana individu tersebut dapat keluar dari bujukrayu yang tidak dapat dihindarinya lagi?

  23. yesaya sandang says:

    Halo..K’Theo, Kalau menurut saya posisi JB lebih kepada kajian ekosospol dan mass media. Kontribusi penting Baudrillard dalam ranah filsafat postmo mencakup kajian-kajiannya terhadap budaya konsumerisme, serta tesisnya tentang konsep simulation dan hyperreality. Bagi saya pribadi, kajian JB ini membuka cakrawala lain dalam melihat persoalan-persoalan sosial-politik ditengah-tengah masyarakat kontemporer dewasa ini. Dan yang saya dapati dari penerawangan diri ( pinjam istilahnya Bung Jerry 😀 ) melalui pemikirannya JB adalah, ada baiknya untuk waspada dan tetap menjaga kejerninah berpikir terhadap segala sesuatu yang mampir kehadapan kita. Mungkin ada yang punya pandangan lain?

  24. geritz says:

    sambungan komen yg kemarin…
    Mengenai rasionalitas, ini yang tidak dimiliki oleh masyarakat kita…

  25. Neil Rupidara says:

    Yes, terima kasih atas tanggapannya. Saya stop dulu di situ, karena Baudrillard bukan ‘wilayah’ saya. Nanti pelan2 baca dulu, biar sedikit lebih paham. Tapi, apa yang Yes sajikan sudah mulai membantu dalam memahami Baudrillard oleh pikiran pemula seperti saya, ha ha ha.. Sukses!

    Geritz, mungkin bukan tidak punya rasionalitas, tetapi memiliki versi lain dari rasionalitas (barat) itu. Jadi, kalau yang disebut rasional itu adalah mengikuti cara pikir barat yang memang mendominasi dunia, maka peralihan ke sistem berpikir itu perlu terjadi, walau mungkin promosi cara pandang lokal juga penting. Catatan: ingat juga bahwa rasionalitas juga memiliki keterbatasannya. Secara teoritis, para ahli seputar teori perilaku/tindakan dan khususnya terkait pengambilan keputusan sudah menolak penilaian berlebihan atas rasionalitas karena justru tidak jarang terjadi hal-hal irasional dalam keputusan dan tindakan manusia. Buku Batas Nalar-nya Donald Calne juga barangkali baik untuk mengajak kita menempatkan diri dalam penghargaan yang proporsional pada kekuatan rasio, karena ia juga bisa jadi senjata perusak, ketika tidak digawangi oleh perangkat nilai/norma moral (sumber kesadaran) yang tepat. Tulisan (pak Menristek?) di wp.netscience.com bagus untuk dibaca, di samping bukunya sendiri. Namun, ketertinggalan kita di dunia ilmu pengetahuan dan teknologi adalah sebuah kenyataan yang harus dikejar. Di situ saya sepakat, kita kalah!

  26. Theofransus Litaay says:

    @Yesaya: Trims Yes atas penjelasannya. Sukses selalu.

  27. ztireg says:

    Thx kak, saya setuju.

    Ada sedikit catatan dari saya, “tidak memiliki rasionalitas” yang saya maksud, adalah kurangnya informasi yang diterima oleh masyarakat. Dengan kata lain sama dengan yg kak neil maksudkan kertertinggalan.

    Sehingga tidak memiliki rasionalitas, bukan berarti 100% tidak memilikinya.

  28. Don manutede.. says:

    halow….sodara seperjuangan,,saya baru saja membaca tulisannya..
    tulisan yang menarik bila di lihat untuk kondisi kekinian dimana, peradaban manusia yang sudah terkontaminasi dan di salah artikan, sehingga mengakibatkan bengan mudahnya itu terdoktrin dan menjadi makanan yang menyenangkan dan mengasikan bila di nikmati. hahahaha……

    tapi memang tulisannya memang bagus……
    saya jg posisi kerja di jakarta skarang…..
    minta no hp dong……
    neh no hp w…..081914302697….
    di tunggu bahan diskusi selanjutnya ok……
    Tuhan berkati…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *