Takdir Bujuk Rayu

Telah dilihat 732 kali sejak 22 June 2008

“Everything is seduction. And nothing but seduction.”
~ Jean Baudrillard, Seduction

Hidup di tengah-tengah dunia yang ruwet dewasa ini, seringkali memaksa kita berada pada keadaan dimana kita terserap ke dalam suatu bentuk pengelabuan. Pengelabuan dari yang nyata, dari yang sebenarnya. Hal ini dimungkinkan karena batasan antara yang nyata dan ilutif menjadi demikian kabur, dan apa yang sesungguhnya nampak tidak lagi merepresentasikan apa yang sebenarnya.

Perkembangan teknologi media massa dan teknologi informasi hari-hari ini memainkan peranan penting dalam hal ini. Melalui medium seperti televisi, komputer, media massa digital, dan media informasi lainnya, suatu presepsi dapat direkayasa sedemikian rupa melampaui realitas. Era ini adalah era rekayasa digital, rekayasa presepsi, dan bentuk-bentuk rekayasa lainnya. Fenomena riil dapat sedemikian rupa tersimulasikan dan mengelabui kita. Yang mungkin luput dari pandangan kita adalah, bahwa sebenarnya jika kondisi yang demikian dihadapi, maka kita telah masuk pada suatu dimensi yang menyimpangkan kita dari kebenaran, suatu dimensi dimana kita terbujuk untuk dikelabui. Inilah dimensi bujuk rayu. Segala sesuatunya terbalut dalam bujuk rayu dan kita tak dapat menghindar lagi.

Godaan atau bujuk rayu, disadari atau tidak, merupakan sesuatu yang lekat dengan dimensi kehidupan manusia. Selama manusia masih memiliki hawa nafsu, keinginan, dan hasrat, maka bujuk rayu memainkan peranannya. Dalam ajaran agama, bujuk rayu merupakan strategi dari si jahat (devil) baik dalam bentuk sihir atau bentuk lainnya, dan persoalan bujuk rayu ini masih tertinggal hingga saat ini. Agama memandang bujuk rayu sebagai hal yang jahat dan menipu dan, selama manusia masih bersemayam dalam tubuhnya, ia akan menggoda. Ia juga digoda dan ia (mungkin) akan tergoda.

Bujuk rayu kerap kali dikaitkan dengan persoalan seksualitas. Baudrillard dalam karyanya, Seduction, mengutarakan bahwa “yang seks” pada akhirnya dapat termanifestasi dimana saja, kecuali di dalam seksualitas itu sendiri. Artinya, ketika seksualitas direalisasikan dimana saja dan kapan saja tanpa batasan, ia menjadi kehilangan esensinya. Dalam masyarakat dewasa ini, segala sesuatu (objek, barang, jasa, dan berbagai jenis relasi) kerap kali diseksualisasikan dan dengan demikian masyarakat juga kerap kali digoda, dibujuk rayu.

Pemiskinan makna
Bujuk rayu, sampai pada satu titik, bekerja pada penghilangan tanda dan menyurutkan makna dari penampakan yang sebenarnya, karena godaan tidak pernah berhenti pada kebenaran tanda, tetapi bekerja dengan tipuan dan kerahasiaan.

Digoda artinya dipalingkan dari makna yang sebenarnya dan menggoda adalah mengarahkan seseorang dari kebenarannya menuju kepada kebenaran si penggoda.

Dalam strategi bujuk rayu, seseorang menarik orang yang lain ke dalam wilayah kelemahannya yang juga wilayah kelemahan si penggoda tersebut. Menggoda adalah tampil dengan penampakan yang lemah dan menggoda adalah tindakan yang membuat lemah. Dalam godaan, kelemahan ini diciptakan, dan inilah yang memberi kekuatan pada bujuk rayu. Inilah alur yang menyusuri dari berbagai macam bentuk godaan: eksploitasi kelemahan, kemudian hujani dengan bujukan, dan keluar sebagai pemenang. Menggoda, karenanya, adalah membuat figur dan tanda untuk dipermainkan.

Hasrat dan bujuk rayu
Bujuk rayu bukanlah hasil dari daya tarik fisik, melainkan sebuah konjungsi dari hasrat. Hasrat dalam kaitannya dengan bujuk rayu bukanlah suatu akhir, melainkan sesuatu yang dapat dieksploitasi kelemahannya, sehingga godaan bertujuan untuk memprovokasi dan menipu hasrat tersebut. Atau, dengan kata lain, godaan bertujuan pada godaan itu sendiri.

Jika godaan bermain pada ranah asmara (romance), maka yang terjadi adalah: aku tidak ingin mencintai, mengasihi, ataupun menyenangkanmu, tetapi untuk menggodamu, dan satu-satunya perhatianku adalah apakah kau tergoda, dan bukannya apakah aku mencintai atau menyenangkanmu.

Moda-moda seperti ini rupa-rupanya acapkali kita temui dalam realitas keseharian. Bagaimana jika frase tersebut kita terjemahkan ke dalam bagian lain dari kehidupan kita (seperti dalam hal konsumsi)? Yang terjadi adalah “kami tidak peduli apakah barang itu bermanfaat buat anda, atau ia sungguh-sungguh memuaskan anda, melainkan yang terpenting adalah anda telah tergoda untuk membelinya, dan mengonsumsi, dan itulah tujuan satu-satunya.”

Godaan ini berkerja dengan amat lihai, sehingga seakan-akan tidak ada godaan di sana. Ia bisa saja tidak disadari, dan ia ada dimana-mana.

Berpikir dengan jernih
Bujuk rayu telah menyusup ke dalam setiap aspek kehidupan. Ia tidak lagi hanya terbatas. Ia ada dimana-mana. Ketika kita mengonsumsi tanpa sadar, kita telah terbujuk. Ketika kita berpolitik secara sadar, kita telah menggoda.

Perhatikan layar kaca di ruang keluarga rumah kita. Betapa seringnya kita temui bujuk rayu menghambur keluar dari dalamnya. Kita dibujuk untuk membeli sesuatu, kita dikelabui tentang realita yang ada. Demikian juga panggung politik yang kita temui. Betapa sering kita mendapati pemiskinan makna dari realita yang sesungguhnya, yang dibingkai dalam jargon-jargon yang membujuk. Dunia yang ada sekarang seakan-akan didorong oleh berbagai macam bentuk godaan, sebuah dunia dimana segala sesuatunya telah dibiaskan dari kebenarannya. Mungkin ini agak terdengar skeptis, walau tetap tidak dapat dipungkiri bahwa dimensi bujuk rayu sementara hadir.

Yang diperlukan sekarang adalah kejelian untuk menelanjangi strategi bujuk rayu yang ada dimana-mana. Sebuah kejernihan berpikir untuk dapat membedakan antara yang nyata dan palsu, mana yang substansif dan bukan sekadar polesan luar belaka. Kejernihan yang dapat menyingkap makna yang sebenarnya di balik semua permainan tanda. Sehingga kita tidak melulu menjadi korban bujukan dan rayuan. Karena, pada akhirnya, bujuk rayu dan godaan ditakdirkan untuk terus membayang-bayangi kehidupan manusia yang semakin hari semakin kompleks.

YESAYA SANDANG
Mahasiswa Pascasarjana Departemen Filsafat Universitas Indonesia
Alumni Fakultas Hukum UKSW

Tag: , ,

28 komentar telah masuk. Apa pendapat anda?

Halaman: [3] 2 1 » Lihat Semua

  1. Komentar ke-28

    halow….sodara seperjuangan,,saya baru saja membaca tulisannya..
    tulisan yang menarik bila di lihat untuk kondisi kekinian dimana, peradaban manusia yang sudah terkontaminasi dan di salah artikan, sehingga mengakibatkan bengan mudahnya itu terdoktrin dan menjadi makanan yang menyenangkan dan mengasikan bila di nikmati. hahahaha……

    tapi memang tulisannya memang bagus……
    saya jg posisi kerja di jakarta skarang…..
    minta no hp dong……
    neh no hp w…..081914302697….
    di tunggu bahan diskusi selanjutnya ok……
    Tuhan berkati…..

  2. Komentar ke-27

    Thx kak, saya setuju.

    Ada sedikit catatan dari saya, “tidak memiliki rasionalitas” yang saya maksud, adalah kurangnya informasi yang diterima oleh masyarakat. Dengan kata lain sama dengan yg kak neil maksudkan kertertinggalan.

    Sehingga tidak memiliki rasionalitas, bukan berarti 100% tidak memilikinya.

  3. Komentar ke-26

    @Yesaya: Trims Yes atas penjelasannya. Sukses selalu.

  4. Komentar ke-25

    Yes, terima kasih atas tanggapannya. Saya stop dulu di situ, karena Baudrillard bukan ‘wilayah’ saya. Nanti pelan2 baca dulu, biar sedikit lebih paham. Tapi, apa yang Yes sajikan sudah mulai membantu dalam memahami Baudrillard oleh pikiran pemula seperti saya, ha ha ha.. Sukses!

    Geritz, mungkin bukan tidak punya rasionalitas, tetapi memiliki versi lain dari rasionalitas (barat) itu. Jadi, kalau yang disebut rasional itu adalah mengikuti cara pikir barat yang memang mendominasi dunia, maka peralihan ke sistem berpikir itu perlu terjadi, walau mungkin promosi cara pandang lokal juga penting. Catatan: ingat juga bahwa rasionalitas juga memiliki keterbatasannya. Secara teoritis, para ahli seputar teori perilaku/tindakan dan khususnya terkait pengambilan keputusan sudah menolak penilaian berlebihan atas rasionalitas karena justru tidak jarang terjadi hal-hal irasional dalam keputusan dan tindakan manusia. Buku Batas Nalar-nya Donald Calne juga barangkali baik untuk mengajak kita menempatkan diri dalam penghargaan yang proporsional pada kekuatan rasio, karena ia juga bisa jadi senjata perusak, ketika tidak digawangi oleh perangkat nilai/norma moral (sumber kesadaran) yang tepat. Tulisan (pak Menristek?) di wp.netscience.com bagus untuk dibaca, di samping bukunya sendiri. Namun, ketertinggalan kita di dunia ilmu pengetahuan dan teknologi adalah sebuah kenyataan yang harus dikejar. Di situ saya sepakat, kita kalah!

  5. Komentar ke-24

    sambungan komen yg kemarin…
    Mengenai rasionalitas, ini yang tidak dimiliki oleh masyarakat kita…

  6. Komentar ke-23

    Halo..K’Theo, Kalau menurut saya posisi JB lebih kepada kajian ekosospol dan mass media. Kontribusi penting Baudrillard dalam ranah filsafat postmo mencakup kajian-kajiannya terhadap budaya konsumerisme, serta tesisnya tentang konsep simulation dan hyperreality. Bagi saya pribadi, kajian JB ini membuka cakrawala lain dalam melihat persoalan-persoalan sosial-politik ditengah-tengah masyarakat kontemporer dewasa ini. Dan yang saya dapati dari penerawangan diri ( pinjam istilahnya Bung Jerry :D ) melalui pemikirannya JB adalah, ada baiknya untuk waspada dan tetap menjaga kejerninah berpikir terhadap segala sesuatu yang mampir kehadapan kita. Mungkin ada yang punya pandangan lain?

  7. Komentar ke-22

    Halo K’Neil trims buat catatan-catatannya, Saya sependapat dengan K’Neil! Kalau sepemahaman saya Baudrillard memang hendak menjelaskan fenomena konsumerisme dan dampak advance technology ditengah-tengah masyarakat Amerika dan Eropa pada saat itu (Sebuah amatan Sosiologis). Sehingga dengan demikian dapat dipahami pula bahwa hubungan antara pemikiran struktruralisnya Saussure dan analisis ekonomi politik Marxian merupakan hubungan kritis. Pada Saussure misalnya yang menekankan pada hubungan penanda dan petanda melalui kesepakatan makna, dikritisi oleh Baudrillard. Baginya hubungan itu tidak lagi merupakan sebuah kesepakatan, melainkan ditentukan secara sewenang-wenang dan dikendalikan (saudara Yulius banyak memberi komentar soal hal tersebut). Sedangkan pada Marx, penjelasannya tentang nilai komoditas berdasarkan kegunaan tidak lagi dapat menjelaskan fenomena branding misalnya. Dari sinilah muncul revolusi nilai. Lebih jauh masih dalam kaitannya dengan Marx, Baudrillard dalam Consumer Society (1998, 190) berpendapat bahwa akibat dari pergeseran nilai tersebut, manusia tetap teralienasi (sebuah tema yang menetap dalam pemikiran NeoMarxian). Hanya teralienasinya diri manusia sekarang karena ia terjebak dalam ritus-ritus konsumtif. Memang tidak dapat dipungkiri pula bahwa terdapat banyak pengaruh lainnya dalam khasanah pemikiran Baudrillard. Hanya saja sejauh pembacaan saya (bisa saja ngaco atau masih kurang bacanya ?) kedua tokoh ini yang paling kentara corak pembahasan dan perluasannya (kalo boleh nambah satu lagi lah Marshall McLuhan terkait dengan kajiannya tentang media elektronik yang saya kurang paham betul karena belum pernah mencicipinya).

    Kalau ditanya apakah dia pembela otonomi dan rasionalitas individu yang kecewa berat dengan ketidakmampuan manusia menghalau pengaruh2 eksternal, jujur saja saya tidak menemukan jawaban yang eksplisit sejauh membaca Baudrillard (mohon masukannya). Lantas yang nyata apa? Kalau kebenaran adalah apa yang harus ditertawakan. Inilah Baudrillard, provokatif penuh dengan tanda tanya. Kalau Marx menggugat Feurbach dengan salah satu tesisnya para filsuf tidak lebih dari pada sekedar menafsirkan dunia dengan berbagai cara, padahal yang terpenting adalah mengubahnya. Maka bagi sebagian kalangan ada yang mengatakan bahwa Baudrillard menggagasnya menjadi yang terpenting adalah membuatnya jadi lebih enigmatic (Anthony Elliot, 2001, 195). Setelah memetakan serta membedah persoalannya lalu ia sambung ke persoalan lain lagi. Sejauh saya membaca karyanya yang Seduction pun saya tidak menemukan ending dimana ada jalan keluar yang ditawarkannya. Ia hanya mengakhirinya dengan perayaan akan takdir bujuk rayu yang selalu ada. Maka saya kemudian berpandanga bahwa berpikir lebih jernih sebagai bagian dari usaha untuk keluar dari jebakan bujuk rayu yang menjadi sebagian moda-moda yang dibawa oleh revolusi nilai tersebut. Terlalu simplistis mungkin. Walaupun begitu, saya kira itu salah satu langkah awal membuka keran kesadaran, dan mulai mengidentifikasi hasrat-hasrat yang ada dalam diri, tanpa berpretensi mengklaim ada satu kebenaran tunggal. Dalam hemat saya paling tidak keluar dari perangkap bujuk rayu merupakan pintu masuk menuju pembahasan tentang kebenaran tanpa ada hegemoni. Karena bagi saya pertanyaan pentingnya adalah,bagaimana individu tersebut dapat keluar dari bujukrayu yang tidak dapat dihindarinya lagi?

  8. Komentar ke-21

    Saya setuju dengan Reza, saat ini sangat banyak bujuk rayu yang mengelilingi kita. Oleh karena itu kita harus menggunakan rasionalitas. Memang rasionalitas pun digunakan oleh para pembujuk. Namun ia pun berguna dalam menghadapi bahaya dari bujuk rayu (menggunakan rasionalitas lho..). Rasionalitas digunakan dalam menganalisa apa yang baik dan apa yang buruk…

Halaman: [3] 2 1 » Lihat Semua

Berikan pendapat anda. Bergabung dalam diskusi.

PERHATIAN. Setiap komentar akan melewati proses moderasi sebelum tampil. Silakan berkomentar dengan sopan dan bertanggungjawab. Komentar anonim atau alias tetap diperbolehkan, namun kami mengimbau agar anda sudi menunjukkan identitas asli. Komentar yang menyinggung isu SARA atau melanggar etika kesopanan tidak akan ditampilkan.

SPONSOR LINK