Impian Ustadz Sakur

Browse By

Mendengar, melihat, mengetahui sosok ustadz, tak jauh arus bayangan bermuara akan manusia yang berdakwah lisan di masjid, mengisi pengajian, atau terlibat di “lembaga keagamaan.” Kalau ustadz-cum-jurnalis? Jarang ada.

Muhammad Sakur Mukhtar salah satunya. Laki-laki kelahiran 31 Desember 1967 di Montong Lisung, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), ini menjadi jurnalis bagi harian Lombok Post, majalah Pendidikan Peduli Masyarakat, Hidayatullah, Bestari, Hikmah, Variasari, Firdaus, tabloid Jum’at, buletin Aswaja, Gema, majalah dinding Sukma, dan beberapa media lokal maupun nasional lainnya.

Bagi Sakur, menulis termasuk caranya berdakwah.

Di rumah mungilnya, ia memiliki taman bacaan masyarakat (TBM) Alfala Good, kebun buku bersemainya ilmu yang dapat dipetik masyarakat. Gratisan!

***

Lahir dari pasangan H. Mukhtar (almarhum) dan Siti Jamilah, Sakur kecil mengenyam pendidikan formal Islami di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Montong Lisung, NTB, pada 1974. Ia kemudian lanjut ke Madrasah Tsanawiyah (MTs) Praya. Di sini, ia mulai jatuh hati pada dunia tulis-menulis. Awalnya, puisi.

Di tempat tinggalnya dahulu, sastra memang membumi. Melekat harmonis. Ia hidup di lingkungan yang cinta menulis.

“Untuk mengungkapkan rasa, pikiran, cinta itu melalui tulisan,” ujarnya pada saya, suatu siang Juni yang cerah, di rumahnya di daerah Kutowinangun, Tingkir, Salatiga.

Wawancara kami disemarakkan riuh anak-anak kecil kampung sekitar. Mereka bermain bebas di dalam rumah Sakur.

Di bangku MTs, puisi bikinan Sakur menembus media milik PT Kantor Pos, Sahabat Pena. Ia dapat honor Rp 17 ribu. Saat itu inflasi tak segila 1966, 1998, atau setidaknya pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 2008. Jadi cukup besar nilainya. Torehan emas pertama dalam sejarah hidup seorang Sakur.

“Bisa traktir untuk satu kelas temen gitu,” katanya.

Puisi yang tak terlupakan di hatinya hingga kini. Judulnya “Hati.”

Dan hati ini …
Kuserahkan padamu kini
Yang tinggal sebesar hati
Bawalah pergi
Jadikan mimpi

Hati yang telah lama membisu
Mengembang dalam pikiranku
Kini teriris kembali mencetak rindu
Tentang dirimu
Oh kasihku …

Puisi adalah manifestasi bentuk perasaan dekatnya dengan Tuhan. Kedekatan yang mengantarkannya tak pernah ketinggalan ibadah, bahkan memperbanyaknya. Puasa Senin-Kamis adalah hal biasa. Tabungan akhirat.

Puisi juga refleksi cinta Sakur terhadap sesama manusia. Terlebih semasa sekolah, ada pemisahan tempat tinggal dan belajar antara laki-laki dan perempuan. Keduanya tak diperkenankan berkomunikasi verbal dan tatap muka. Kebetulan, ia tinggal di pondok pesantren. Komunikasi, ya lewat tulisan.

“Cinta monyet istilahnya? Apa istilahnya? Pokoke tertarik,” candanya, mengenang masa puber.

Ia mengaku tergolong siswa “biasa” perihal akademik. Keikutsertaan pada beragam kegiatan, ketaatan, dan kemanutan terhadap ustadz atau ustadzah ikut meroketkan namanya, walau hanya di lingkup kelas. Ia “bintang kelas.” Mungkin banyak kaum Hawa yang tertarik dengannya, atau malah sebaliknya, sehingga ia begitu puitis.

Ia lanjut di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Praya pada 1983. Kegemaran menulisnya tidak luntur. Dakwah lisan juga mulai ia jalani dari satu masjid ke masjid lain, hingga ke daerah terpencil. Tak pernah terpikirkan oleh Sakur sebelumnya.

“Di pondok (pesantren) memang dituntut untuk bisa menjadi pionir di masyarakat,” ujar ustadz yang pernah mengisi mimbar agama Islam di beberapa stasiun radio lokal Salatiga.

Ia dakwah tak hanya di masjid. Tempat rekreasi seperti pantai dan hotel pun pernah. Sekarang, dakwah adalah rutinitasnya sehari-hari.

***

Sakur kemudian melanjutkan studi ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel, Mataram, NTB, pada 1987. Darah “mahasiswa sibuk” mengalir di tubuhnya. Tak tanggung-tanggung, ia terdaftar di dua organisasi ekstrauniversiter sekaligus!

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ia ikuti bersamaan.

Kedua organisasi ini tersohor di dunia aktivisme mahasiswa Indonesia. Momen terhangat, demonstrasi berjamaah antikenaikan harga BBM pada pertengahan 2008. Keduanya tak henti berteriak mempertanyakan kemana perginya nurani pemimpin bangsa. Muhammad Jusuf Kalla, Wakil Presiden Republik Indonesia, adalah alumnus HMI.

Keikutsertaan Sakur pada dua organisasi sekaligus mendapat sorotan dari “orang dalam” organisasi. Terlebih ia memangku posisi yang cukup penting, seksi dakwah di HMI dan sekretaris di PMII. Tapi Sakur punya argumen.

“Landasannya kan sama-sama Islam, jangan dipersoalkan,” kata Sakur.

Menurutnya, yang harus dipersoalkan adalah ketika amanat organisasi tidak diselesaikan dengan benar. Bukan perkara lambang, jaket, atau bendera yang menjadi masalah. Waduh …

Sakur tetap dapat layangan teguran perihal komitmen organisasi.

“Tidak bisa ditunjukkan dengan omongan,” kata lulusan Magister Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama, Solo, ini.

Menurutnya, komitmen tak bisa dinilai dari mulut manis seseorang. Harus disertai tindakan, praksis nyata. Dari situlah bisa dinilai. Klise, tapi begitulah adanya.

Sakur merasa tugas-tugas yang diembannya dari kedua organisasi itu terselesaikan baik. Bahkan, ia selalu berada pada garis terdepan di setiap aktivitas organisasi. Aktivitas bukan melulu demonstrasi. Bisa seminar ataupun perkemahan. Sampai-sampai ia dijuluki “HAMKA Muda” oleh kawan-kawan seperjuangannya karena caranya mengungkapkan pendapat.

HAMKA adalah akronim nama Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah (1908-1981), seorang ulama, penulis, dan aktivis politik yang jago pidato.

Kematangan diri ini yang mengantarkannya jadi jurnalis di harian Lombok Post. Ia bergabung setelah tamat kuliah pada 1991. Pekerjaan yang berhubungan erat dengan hobinya sejak MTs: menulis.

***

Akhir Desember 1993 digelar razia kendaraan bermotor serentak se-Indonesia. Sasarannya kelengkapan surat-surat kendaraan dan surat ijin mengemudi (SIM). Razia ini mengacu UULLAJ Nomor 14 Tahun 1992.

Kasak-kusuk mengenai SIM, dikenal mahal biaya dan ribet proses pembuatan. Ada mekanisme birokratis, tapi dibuat meliuk-liuk. Mau licin kayak belut? Siapkan uang lebih, dijamin lancar. Petugas pembuat SIM girang, konsumen senang, walau agak meradang, tapi suasana jadi tenang.

Punya SIM, lolos razia. Tak terkecuali “mobil kepunyaan Bos,” entah ada SIM atau tidak, setali tiga uang.

Yang tak punya? Tajamnya pisau bedah operasi razia lalu lintas dipastikan menghadang. Siapa kena? Rakyat kecil macam sopir angkutan umum yang tak ada biaya untuk membeli SIM. Jangankan SIM, untuk beli makan saja sudah ngos-ngosan.

Sakur menangkap fenomena ini. Ditulisnya dalam bentuk opini. Judulnya, ”Razia Diperketat Harga SIM Meroket, Fun Bike Melejit Lalu Lintas Macet.” Sekalian mengritik kemacetan lalu lintas dan hobi fun bike yang menggila di masyarakat NTB dari segi teologis. Opini ini diturunkan berseri, 17 dan 18 Desember 1993.

Saat itu adalah era kedigdayaan otoritarianisme Soeharto. Meminjam istilah Antonio Gramsci, hegemoni, kuasa mantan jenderal itu mencengkram semua lini kehidupan Indonesia. Tak segan, represi dilakukan untuk membungkam resistensi terhadapnya. Alasannya, “menjaga ketertiban negara.” Sedikit yang berani melawan.

Yang berani? Bersiaplah dipilihkan hukuman: diancam, ditangkap, dihilangkan, dipenjara, disiksa, dibuang, atau dibunuh. Benar atau salah, kebenaran tunggal tetaplah di tangan negara.

Sakur menggunakan penanya untuk mengritisi negara. Aparat negara disindir dalam opininya, bahkan digurui.

Apa yang terjadi? Bisa ditebak. Jadilah Sakur target penangkapan!

“Dicari serse (reserse kepolisian — Red) itu mas,” ujar Jumirah, istri Sakur.

Kala itu Sakur dan Jumirah baru saja menikah. Jumirah sedang mengandung buah cinta pertama mereka. Laily namanya.

Tiga kali reserse datang ke tempat tinggal pengantin baru ini. Mencari Sakur. Diciduklah si penulis opini.

Untungnya, Sakur tidak bernasib buruk seperti korektor Orde Baru lainnya. Di kantor polisi, ia hanya diinterogasi, diceramahi, diajak “bekerjasama” alias jangan menulis yang “mengganggu ketertiban.”

Seketika, saya teringat Wiji Thukul, penyair sekaligus aktivis Partai Rakyat Demokratik. Nasibnya buruk. Perlawanan radikal via sajak-sajak mengantarkannya ke penghilangan. Dianggap subversif. Tak seorangpun sanggup memastikan nasib peraih Yap Thiam Hien Award tahun 2002 itu sekarang: hidup atau mati?

Kasus belum selesai. Sakur diminta membuat “permohonan maaf.” Harus dimuat satu halaman koran penuh. Bila tidak, meja hijau menanti.

Namun Sakur ada di belakang pihak redaktur. Redaktur tak ingin memuat permohonan maaf pesanan aparat. Daripada rugi halaman, redaktur mencari cara. Dipersiapkanlah data-data untuk memperkuat tulisan bermasalah itu.

Usaha berhasil. Kasus itu menguap. Sepi dan dianggap selesai. Beruntung.

“Kalau bukan wartawan, dipukulin itu. Hehehe,” ujar Jumirah.

Beberapa bulan berikutnya, pada 1994, majalah Editor, Detik, dan Tempo dibredel. Hegemoni Soeharto menjinakkan para korektor. Mulut pers diplester. Mendung memayungi pilar demokrasi keempat Indonesia.

Setelah kasusnya dengan aparat, nama Sakur jadi lebih dikenal di kalangan orang-orang media NTB. Karyanya bertebaran di banyak media, terlebih setelah ia keluar dari Lombok Post. Tulisannya kemudian condong pada kajian Islam. Hingga hari ini.

***

Alfala Good. Nama yang lucu, pikir saya. Zaman sekarang orang kasih nama sesuatu kok aneh-aneh ya? Kalau ”Good” adalah kebaikan, lhah ”Alfala” apa maknanya?

Sakur adalah bapak tiga anak. Semua anaknya berkulit putih. Tingkahnya lincah. Orang Jawa bilang, pethakilan. Alfiana (5 tahun), Fathan (10 tahun) dan Laily (12 Tahun). Tebak, apa hubungan nama Alfala dengan nama ketiga anaknya?

TBM Alfala Good berdiri pada 2000, berbarengan dengan kepindahan Sakur dari Lombok ke Salatiga. TBM ini kelanjutan dari Perpustakaan Pilihan Terima Kasih, Lombok. Pun didirikan oleh Sakur. Kini perpustakaan itu belum tamat dan masih dikelola sanak keluarganya.

Sudah puluhan tahun Sakur hobi baca. Juga beli buku. Sama halnya dengan istrinya.

Buku-buku dikumpulkan sedikit demi sedikit. Perlahan tapi pasti, menyemarakkan sebuah kebun buku. Bila pasangan suami istri ini ada “rezeki,” sebagian disisihkan untuk beli buku. Hasilnya, sekarang bisa dipetik masyarakat secara gratis. Mahasiswa juga banyak yang berkunjung, seperti dari Keluarga Mahasiswa Islam Satya Wacana.

Bagi Sakur, ada tiga tujuan pendirian TBM ini. Pertama, memromosikan hobi gemar membaca dan menulis.

“Ada yang pintar baca, tapi gak bisa nulis. Ada yang gak bisa kedua-duanya,” jelas Sakur.

Menurutnya, seorang yang ingin hebat dalam menulis, haruslah gemar membaca buku. Bisik-bisik, karena koleksi bukunya seabrek, Sakur berniat mendirikan homeschooling.

Tujuan kedua, memberikan pemahaman bahwa ilmu tidak serta-merta hanya dapat digenggam di lembaga pendidikan formal. Bisa dimana saja, termasuk TBM ini.

Ketiga, memperluas wawasan pendidikan dan keagamaan masyarakat.

Walaupun Sakur adalah seorang Muslim, bukan berarti ketersediaan buku hanya mengenai Islam, Islam, dan Islam.

“Kalau pengen cari Alkitab, saya siapkan. Kalau mau cari buku Hindu, saya siapkan,” paparnya.

Anggota Majelis Paguyuban Kerukunan Umat Beragama Salatiga ini bukan tipe Muslim yang menutup diri terhadap kepercayaan non-Muslim.

Suatu kali, ia berbincang dengan seorang pegawai Departemen Pendidikan Nasional yang beragama Katolik.

“Bu, jenengan punya kitab berapa?” tanya Sakur.

“Cuma satu,” jawab pegawai itu.

“Oh, berarti ibu itu kurang. Harus lebih banyak,” tambah Sakur.

“Lho kenapa?” tanya pegawai itu.

“Seharusnya ibu di rumah juga punya Al-Quran. Biar tau agama orang lain seperti apa,” ucap Sakur.

Sakur kemudian memberikan satu buah Alkitab kepada pegawai tadi untuk keperluan pendidikan.

Menurutnya, dalam mencari ilmu tak boleh memagari diri. Tidak setuju bila “yang Islam baca buku Islam, yang Kristen baca buku Kristen.” Bisa-bisa, fanatisme akan terpupuk subur.

Bicara fanatisme, Sakur melihat ada dua sebab. Pertama, umat terlalu mengultuskan tokoh agama masing-masing. Apa yang tokoh agamanya katakan, diterima mentah-mentah. Kalau dibodohi, asal ikut saja. Nyungsep deh!

Sebab kedua, umat tidak paham betul terhadap agama yang dianutnya. Bila paham, niscaya akan terhindar dari fanatisme berlebihan.

Ia kemudian menjelaskan stigmatisasi negatif yang menyerang Islam. Islam acapkali diidentikkan dengan radikalisme, apalagi pascatragedi World Trade Center, 11 September 2001. Seketika, Islam seolah-olah adalah agama ”penjahat.” Muslim yang bercelana congklang (panjang tiga perempat kaki), berjanggut lebat, atau Muslimah bercadar, langsung dikira teroris.

“Itu tidak benar,” ucapnya.

“Semua agama itu mengajarkan kebajikan. Kebajikan yang dilandasi norma agamanya masing-masing,” ujar bapak yang juga berprofesi sebagai guru sekolah ini.

Kebajikan yang kerap disalahartikan umat yang fanatik.

Oleh karena itu, walau jumlahnya terbatas, Alfala menyediakan buku lintas agama untuk dibaca. Dan belakangan ini, Sakur juga menyimpan sebuah impian: punya karyawan tetap.

Tidak sesederhana itu. Rencananya, karyawan itu akan berkeliling dengan sepeda motor, membawa banyak buku, dan menawarkannya agar dibaca. Tentunya gratis. Sistem jemput bola.

Target konsumen awal adalah pedagang di pasar tradisional.

Kenapa?

Di pasar, terdapat pedagang yang dagangannya laris dan tidak laris. Yang tidak laris, banyak bengong, tidak berkegiatan apapun kecuali menawarkan paksa barang dagangan atau bergosip. Apalagi saat lihat larisnya dagangan orang lain. Uhhh …!

Untuk meminimalisir iri dan dengki, akan diberikan bahan bacaan.

“Bagaimana menjadi pedagang yang baik dan jujur” dan “pengusaha yang sukses” adalah contoh tema buku yang akan dipinjamkan Alfala.

Ada makna lain dari Alfala. Sakur bilang, Alfala asalnya dari bahasa Arab (aalaafun). Artinya seribu.

Alfala Good, seribu kebaikan?

Yodie Hardiyan, mahasiswa Fakultas Ekonomi

2 thoughts on “Impian Ustadz Sakur”

  1. STR says:

    Untuk Bos Yodie Hardiyan,

    Tulisan ini asli cakep banget. Asli mantab. Enak aku ngeditnya.

    Tapi ada dua catatan.

    Pertama untuk bagian ini.

    Menurutnya, yang harus dipersoalkan adalah ketika amanat organisasi tidak diselesaikan dengan benar. Bukan perkara lambang, jaket, atau bendera yang menjadi masalah. Waduh …

    Mungkin setelah kata “waduh” itu perlu diberi penjelasan. Kenapa waduh?

    Mulyani Hasan, wartawati cantik idolamu itu, dalam liputannya tentang penggerebekan Ultimus menulis “Alamak! Ia menyetarakan nama sebuah toko buku dengan ideologi tertentu.” Nah, jadi jelas kenapa kata “alamak” ditulis (karena ada penyetaraan ideologi dengan nama toko buku).

    Kedua untuk bagian ini.

    Saat itu adalah era kedigdayaan otoritarianisme Soeharto. Meminjam istilah Antonio Gramsci, hegemoni, kuasa mantan jenderal itu mencengkram semua lini kehidupan Indonesia. Tak segan, represi dilakukan untuk membungkam resistensi terhadapnya. Alasannya, “menjaga ketertiban negara.” Sedikit yang berani melawan.

    Hegemoni itu tak pakai represi. Kalau ada represi, berarti bukan hegemoni. Represi di sini disamadengankan dengan koersi.

    Ariel Heryanto sendiri pernah berpendapat, pemerintahan Orde Baru tidak bersifat hegemonik, tapi dominan. Ia melakukan dominasi.

    Tapi selain dua catatanku itu, artikel ini memang cakep. Cakep banget. Lebih cakep dari orangnya, mungkin. 😛

    Tetap menulis!

  2. Yodie says:

    Terima kasih Bos Satria, atas beberapa editanmu yang membenahi tulisan yang belepotan ini.

    Argumenku atas catatanmu, sudah kupaparkan waktu kita chattingan beberapa waktu lalu. Mau nulis lagi, males, hahaha.

    Sat, kapan tulisan literairmu keluar? Aku nunggu lho.

    Belum bosan dengan literair kan?

    Sebentar lagi aku akan kembali ke E-Time, membangun mutiara kecil itu, mengusapnya menjadi lebih bersinar. Tak sabar.

    Beri aku kabar, bila ada hal yang menarik, untuk dijamah. Perihal jurnalistik tentunya.

    C u friend….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *