Anarkisme
Telah dilihat 261 kali sejak 15 July 2008Bila anda masih menyamakan anarkisme dengan aksi-aksi brutal Front Pembela Islam atau kelakuan brutal suporter sepakbola di Indonesia, buku ini sangat pantas anda baca. Kata “anarkisme” memang terlanjur lekat dengan semua aksi-aksi brutal. Mulai dari presiden, pembawa berita di televisi, sampai penjual gado-gado berada dalam satu pemahaman kata. Sedikitnya literatur anarkisme — dalam bahasa Indonesia khususnya — menyebabkan banyaknya kesalahan dalam mengartikan kata tersebut. Buku ini adalah satu dari sedikit literatur berbahasa Indonesia mengenai anarkisme.
Dalam buku ini, Sean M. Sheehan menuturkan kembali sedikit sejarah gerakan anarkis. Pertalian erat anarkisme dengan sosialisme juga dipisahkan dengan sangat dalam oleh perdebatan klasik antara Karl Marx dengan Mikhail Bakunin dalam Sidang Internasionale I di Den Haag, Belanda, pada 1872.
Anarkisme global yang dibahas dalam buku ini juga menjelaskan proses lahirnya neoanarkisme pasca-Seattle 1999. Lalu pemaparan mengenai kekuasaan negara, dimana anarkisme berarti ketiadaan pemimpin. Etimologi kata itu menandai hal yang khas dari anarkisme, yakni penolakan terhadap kebutuhan akan otoritas tersentral dalam negara, satu-satunya bentuk yang kita kenal saat ini.
Dengan gaya tulisan yang lugas dan hasil terjemahan yang mudah dibaca, buku ini lebih dari cukup untuk mengetahui sejarah panjang anarkisme dan juga perjalanannya hingga sekarang. Agar tahu bahwa anarkisme bukanlah kekacauan tak berdasar, melainkan sebuah hasrat perlawanan untuk kehidupan yang lebih baik. Dalam buku ini juga dijelaskan benang merah anarkisme dengan gaya hidup budaya populer seperti film dan musik. Juga keterkaitan anarkisme dengan seni rupa dan sastra. Lalu keterkaitannya dengan aliran filsafat dan sistem kepercayaan, juga psikologi dan seks. Juga penjelasan perbedaan kebebasan anarkisme dengan neoliberalisme.
Yang juga menarik dari buku ini adalah banyaknya slogan-slogan hasil grafiti maupun selebaran kaum anarkis dari setiap jaman, yang bisa membuat kita berpikir ulang mengenai hasrat dan gairah hidup. Bahwa hidup bukan sekadar lahir, sekolah, banting tulang cari uang, menikah, punya anak, lalu mati.
Anggaplah hasratmu sebagai kenyataan!

Komentar ke-1
15 July 2008 2:21
Perambah
Rudy “Opha” Latuperissa juga pernah mempermasalahkan ini di blognya (soal penyamaan yang salah kaprah untuk anarkisme dan vandalisme). Klik di sini!
Komentar ke-2
16 July 2008 9:30
Perambah
Saya memaknainya pen-salahkaprah-an ini sebagai konflik ideologi. Satu sisi ingin mendominasi, disisi lain ingin mematahkan kemapanannya.
Komentar ke-3
16 July 2008 9:44
Perambah
inilah wajah anarkisme di indonesia
masih ingat kan dengan peristiwa2 HAM yang tidak pernah selesai ?
apakah anarki telah menggeser budaya indonesia yang katanya memakai budaya “timur” yang penuh keramah an ini ?
Komentar ke-4
31 July 2008 10:04
Perambah
@ yusak : maksud dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan itu bagaimana? saya belum bisa memahami dengan baik, terutama pertanyaan yang diajukan tersebut untuk memecahkan persoalan apa?
Anarki tidak ada kaitannya dengan budaya Indonesia, karena anarki menurut saya adalah sebuah ideologi ataupun falsafah hidup bagi sebagian individu maupun kelompok.
Wajah Anarkisme Indonesia itu yang bagaimana? saya belum pernah mendengar Anarkisme di Indonesia, meski yang mengaku banyak.
Komentar ke-5
12 August 2008 9:59
Perambah
Masih ingat tulisan “FTJE” warna oranye di lapangan basket??
Masih ingat peristiwa “kerusuhan” lab skripsi??
Anarkisme & Vandalisme memang sudah jodoh
Komentar ke-6
1 September 2008 14:23
Perambah
tulisan fyje itu memang vandal…tapi belum tentu anarkis…saya rasa terlalu berlebihan jika dibilang jodoh…kadang anarkisme memakai vandal untuk menyampaikan sebuah pesan, tapi kalo tulisannya tidak ada pesannya, ya itu cuma sekedar vandal..setidaknya o\itu menurut saya..
trims