Lulus Tanpa Ujian Lisan di FBS

Browse By

Sistem skripsi Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) beda dengan fakultas-fakultas lain di Universitas Kristen Satya Wacana. Tak ada ujian lisan sebagai syarat kelulusan. Sebagai gantinya, skripsi mahasiswa FBS akan dibaca dan diperiksa tiga dosen.

Pertama, skripsi akan dibaca dosen pembimbing. Pemilihan dosen ini harus menyesuaikan antara topik skripsi dan keahlian dosen yang dipilih. Proses bimbingan sendiri terbagi dalam tiga tahap: proposal writing, report writing, dan thesis. Masing-masing diselesaikan dalam satu semester.

Selanjutnya, skripsi akan dibaca second reader. Awalnya mahasiswa bebas menentukan second reader skripsi mereka dengan syarat harus sesuai antara topik skripsi dan kemampuan dosen pilihan. Namun, pada kenyataannya, banyak mahasiswa tidak memilih second reader berdasarkan kemampuan, melainkan hubungan antara mahasiswa dan dosen atau kemurahan hati dosen. Karenanya, Hendro Setiawan Husada, dekan FBS, memberi ketetapan. Mulai 11 Juni 2008, second reader ditentukan dekan sesuai penguasaan masing-masing dosen terhadap topik skripsi mahasiswa.

Format skripsi dan referensi akan diteliti Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Victoria Usadya Palupi, untuk terakhir kali sebelum nilai keluar. Format skripsi di FBS tidak dalam hard copy (kertas fisik — Red), melainkan soft copy (buku elektronik — Red). Format ini lebih praktis dan murah karena mahasiswa tidak perlu mencetak skripsi berkali-kali. Di samping itu, skripsi bentuk elektronik akan lebih sulit ditulis ulang mahasiswa lain karena tidak tersedia di perpustakaan.

Tidak adanya ujian lisan juga merupakan kepraktisan dalam pembuatan skripsi di FBS. Alasannya, tidak perlu menyediakan waktu khusus untuk ujian. Jumlah mahasiswa FBS yang lulus tiap periodenya dirasa terlalu banyak untuk diuji satu persatu.

Pelanggaran hak cipta atau plagiarisme adalah masalah utama dalam pembuatan skripsi. Begitu juga di FBS. Tidak adanya ujian lisan bukan berarti menambah kesempatan melakukan plagiarisme. Melalui tiga dosen (pembimbing, second reader, dan ketua program studi), pemeriksaan skripsi makin diperketat. Sejauh ini telah ditemukan satu mahasiswa yang melakukan plagiarisme dan diwajibkan mengulang dengan topik yang sama. Untuk selanjutnya, akan diberlakukan sanksi yang lebih berat dari sekadar penulisan ulang skripsi.

25 thoughts on “Lulus Tanpa Ujian Lisan di FBS”

  1. STR says:

    Format skripsi di FBS tidak dalam hard copy (kertas fisik — Red), melainkan soft copy (buku elektronik — Red). Format ini lebih praktis dan murah karena mahasiswa tidak perlu mencetak skripsi berkali-kali.

    Sepakat deh.

    Di samping itu, skripsi bentuk elektronik akan lebih sulit ditulis ulang mahasiswa lain karena tidak tersedia di perpustakaan.

    Tapi jadi lebih gampang ditulis ulang dosen?

    Tidak adanya ujian lisan juga merupakan kepraktisan dalam pembuatan skripsi di FBS. Alasannya, tidak perlu menyediakan waktu khusus untuk ujian. Jumlah mahasiswa FBS yang lulus tiap periodenya dirasa terlalu banyak untuk diuji satu persatu.

    Emang ada berapa banyak mahasiswa?

    Untuk selanjutnya, akan diberlakukan sanksi yang lebih berat dari sekadar penulisan ulang skripsi.

    Sukses ya ….

  2. Theofransus Litaay says:

    Ini bentuk yang biasa saja terjadi di negara lain. Di Amerika Serikat ada juga sekolah hukum yang tidak mensyaratkan thesis. Yang penting adalah memelihara mutu pendidikan melalui proses pendidikannya. Saya sudah lihat beberapa kasus di UKSW, orang bisa lulus dengan skripsi yang tidak bermutu hanya karena dosen merasa kasihan melihat wajah mahasiswa yang memelas..he he he..
    Mungkin juga karena kita terlalu mendewa-dewakan pendidikan S1 ini, seakan-akan kalau gelar sarjana itu sudah hebat, padahal itu baru Bachelor, belum Master degree. Kalau jaman sistem Belanda dulu, lulus S1 itu setara dengan lulusan BA, di luar negeri lulusan S1 gelarnya BA, B.Sc, dll. Jadi sebenarnya setara dengan Sarjana Muda jaman Belanda. Tapi kalau lihat kondisi sekarang, ada orang bikin kartu nama saja sertakan titel akademiknya meskipun cuma SH. *smile and laugh*

  3. yusak says:

    ternyata …
    pantesan dari dulu FBS lulusnya gampang ya,
    akhirnya ketauan kalau gak mutu skripsinya.

    tahun 2000-an banyak yang stress bikin skripsi (terutama FE & FTJE),
    kenapa dulu gue masuknya ke FE ya?
    hehehe, gak gak, bercanda koq …

    maju terus FE.

  4. schape says:

    sow?

    finnaly, ada juga yang ngebahas soal ‘skripsi tanpa ujian lisan’
    emang dilema juga, di satu sisi kemampuan kelulusan di Indonesia ditentukan lewat ujian lisan, namun di sisi lain kemajuan ilmu pendidikan tidak melulu harus dengan cara2 penilaian yang konvensional, kuno dan bersifat tradisi.

    FBS memang paling aneh di antara fakultas lain, tapi harus diakui mereka juga paling kreatif, terutama dalam hal pengajaran.
    sayangnya kadang terkesan ekslusif (karena kemana2 berbahasa inggris-ato kadang menonjolkan sisi ke-inggris-annya), atau bernuansa british…so kadang saya dan teman2 mlongo sambil liatin orang ngomong dengan ‘wasweswoswasweswos’ plus kedengarannya kebanyakan bunyi ‘s’ daripada huruf2 yang lain…mungkin saya harus menyaingi dengan bunyi2an ular…
    “ssshhhhh……sssshhhhh…..sssshhhhhhhhhh…..”

    terlepas dengan berbagai pro dan kontra persoalan ujian skripsi, FBS tetap memberikan warna lain di dunia pendidikan di UKSW. (Mungkin) FBS bisa memberikan gambaran pendidikan tinggi yang lebih baik dan tepat sasaran. Perbedaan jangan sampai jadi keangkuhan.

    semoga, FBS tetep menjaga profil kelulusannya dengan baik. mungkin engga menggunakan ujian lisan, tapi dengan metode lain yang lebih baik.
    saya aja sungkan meh ngobrol dengan teman2 FBS, nda taw knapa…hehehe…

    tetep semangat!!!
    gbu

    nb: saya meh ajak kerjasama dengan EDS nie, meh diskusi dengan bahasa inggris. hweee….

  5. ebeSS says:

    seorang mahasiswi FBS yang sudah lulus, dulu pada saat menyusun skripsi, terlihat kesulitan terbesarnya adalah statistik!
    ternyata sebagian besar temannya malah tidak menggunakan statistik . . .
    bagaimana kalau penggunaan statistik diwajibkan, walaupun tanpa ujian lisan . . . ?
    prinsipnya jangan sampai menghindari statistik, ujian lisan hanya untuk cari gampangnya.
    fe yang menggunakan statistik dan ujian lisan saja masih ada kasus plagiat skripsi . . . 😛

  6. Zie says:

    buat ebeSS… kalo masalah statistik, di FBS malah ada makulnya lhow… Namanya Research Method dan CAR (Computer Application for Research). Emang ga khusus bahas SPSS sih, tapi disitu kita diajari pake SPSS, untuk mengerjakan quantitative reasearch. Masalahnya, ada skripsi yang bahas lingustik yang lebih quantitative research, ada juga yang cenderung membahas literature (qualitative research). Kalau literature yang dibahas, ga ada itung2annya… (setau syaa sih gitu…). Kan interpretasi sesuatu, jadi apa coba yang diitung pake statistika-statistikan? ^_^

    buat schape… kalo anak FBS ngomong pake bahasa inggris bukan berarti kita eksklusif, mas… Tuntutan… Namanya juga belajar bahasa inggris, jadi harus coba diaplikasikan dalam hidup. Mana bisa lancar bahasa inggrisnya kalo cuma pakai bahasa inggris di dalam kelas saja?? Knapa sungkan, mas? Kan sama-sama lagi belajar.. LAgian kita di UKSW sama-sama bayar pake duit kan? Hehe… Masalah EDS, boleh tu kerjasamanya. Coba aja hubungi SEMA FBS…

    buat yusak… Jangan salah, mas. Kita lulusnya juga ga gampang. Ujian lisan boleh ditiadakan, tapi ada tahap-tahap yang harus dilalui sebelum dinyatakan lulus. Kan sudah dijelaskan juga, harus lewat pembimbing, second reader, kaprogdi. Dulu pernah ada kejadian menimpa teman saya yang 5 juli kemarin wisuda. Pembimbing menyetujui skripsinya, second reader pun setuju, eh, kaprogdi menyatakan data kurang valid dan harus mendata ulang. Mau ga mau harus ulang penelitiannya lagi dong… Walaupun tidak ada ujian lisa, tetep ga gampang, mas lulusnya… Ga ada ujian lisan juga ga berarti ga mutu. Banyak juga yang pake ujian lisan aja ga mutu kok… Setuju dengan Theofransus Litaay, banyak dosenmeluluskan karena lihat tampang melas waktu ujian lisan…

    buat STR… Ada berapa ya? Wisuda 5 juli kemarin (if I’m not mistaken…) ada 45. Nhah, masalahnya, experts di FBS terbatas, mas… Jadi kalo diuji satu-satu, ntar jadinya capek dweh…!

  7. yosafat says:

    Pingin Klarifikasi beberapa hal:

    pertama
    Yusak: “ternyata …
    pantesan dari dulu FBS lulusnya gampang ya,
    akhirnya ketauan kalau gak mutu skripsinya.”

    Keberatan Sir (tersinggung niy)! Sebagai orang yang terpelajar, kita harus memberikan bukti (evidence) ketika memberikan penilaian terhadap suatu hal sebagai bentuk tanggung jawab kita. Sama halnya dengan menilai skripsi FBS mutu atau tidak, dibutuhkan indikator2 yang logis dan berterima. Bukan dengan asas asal – asalan.
    Berbicara tentang bidang ilmu apa yang susah ataupun yang cenderung gampang, ya tergantung minat, bakat, kecintaan, dan keuangan (mungkin). tidak ada patokan yang bisa dipake untuk mengukur itung – itungan (Akuntansi) lebih gampang daripada penguasaan bahasa (baik lesan maupun tertulis), ataupun sebaliknya.

    kedua:
    “…sayangnya kadang terkesan ekslusif..”

    Keekslusifitasan anak – anak FBS dibidang apa ya? kurang begitu jelas. memang harus diakui kadang sebagai manusia kita menerapkan prinsip ‘ gebyah uyah’, overgeneralisation. jadi ya maklum.
    kalau merasa ‘excluded’ gara – gara anak FBS ngomong pake Bahasa Inggris, ya mari bergabung ngomong pake bahasa Inggris biar merasa ‘included’.
    tapi harus di akui dari perspektif saya, mahasiswa KURA _ KURA (kuliah rapat-kuliah rapat), cukup banyak temen2 FBS yang KUPU _KUPU (Kuliah Pulang-Kuliah Pulang), jadi mungkin terkesan anak FBS Eksklusif. tapi ya begitulah keadaannya.

    ketiga:
    “…saya meh ajak kerjasama dengan EDS nie…”

    kebetulan saya Program Coordinator-nya EDS, jadi mari kita bekerja sama (ditunggu). jujur qta ngiri mas Universitas tetangga, biasanya Kompetisi yang sering kita ikuti seperti IVED (Indonesian Varsities English Debate) di dominasi anak hukum/ HI. jarang ada debater yang dari fakultas jenis FBS (pendidikan bahasa Inggris) kaya Di EDS UKSW. hipotesis anak – anak EDS: ya mungkin anak – anak hukum atau fakultas lain lum tau ada keg macam ini.
    terakhir anak hukum yang gabung EDS cuma Mas adith ( lupa angkatan berapa, pokokna angkatan 2000-an awal. pernah ngajar Di Fakultas Hukum sekarang nerusin S2 di UI).

    okay… thanks,

  8. ebeSS says:

    @ zie
    terimakasih tanggapannya . . saya malah sangat berkepentingan dengan berkualitasnya fbs.
    karena keponakan saya yang cantik dah dua tahun ini kul disitu . . . 😉
    dari sekolah lab sw, biaya sekolah sama sekali tidak bisa dikatakan murah . .
    sekarang kul di fbs, samimawon. tapi bagaimanapun tentu papa mamanya sama harapannya dengan saya.
    klo beauty dari sononya sih tinggal ini itu sedikit, tapi klo brain, bright and behaviornya, kualitas fbs sangat besar pengaruhnya. nggak percaya? pakai statistik regresi berganda . . . . lho kok?!
    jadi fbs dah ada matkul stat ya . . . bagus itu! cuman . . . . . . . untuk pengukuran kualitas nggak ada stat nya?
    masak seee . . . . . . dulu fe juga pernah dalam tahapan itu, jadi penekanan hanya pada stat u kuantitas.
    kita menyebutnya stat parametrik . . . . . akhirnya banyak juga kok yang pake stat non par . . . iya itu ternyata ada stat u kualitas, jadi profile ada statnya . . . kek miss world lah . . . . beauty kan bisa ditambah var lain.
    ehmmm . . . ini zie yang di friendster itu ya . . . enggak, keponakan saya tanya, angkatan 2005 . . 😛

  9. xnandix says:

    wah2… makin susah aja skripsi di FBS…FYI (for your information) skripsi di FBS tidak semudah yang anda bayangkan. Benar kata temen2 di atas yang bilang skripsi ( we called it thesis) di FBS tu susah. Saya hampir setahun lebih mengerjakan thesis saya dulu (disamping dosen saya perfeksionis, contentnya juga susah). Padahal saya ambil yang literature (yang kata orang2 paling gampang karena hanya bahas ngalor ngidul katanya, tapi ternyata lebih susah daripada research atau case study). Senang juga mendengar kabar baik ini, dengan begitu, kualitas lulusan FBS bisa tetap dijaga.

    cheers…

  10. Saam Fredy says:

    Ikutan,

    Lulus dari FBS tidak semudah yang anda bayangkan, i was there, believe me. Untuk teman-teman di EDS, pernah saya singgung dalam sesi latihan EDS “long time ago”, bahwa EDS butuh dukungan semacan “libang”. Karena saya melihat bahwa, teman-teman di FBS, masih berkutat pada bidang ilmu-nya sendiri. Itu tidak baik, apalagi anda di EDS.

    Litbang akan membantu rekan-rekan debaters untuk memberikan informasi, teori, dll sehubungan dengan tema/topik debat. Jajaran litbang tidak perlu bisa berbahasa inggris, sehingga anak dari berbagai fakultas bisa ikut ambil bagian (terutama teman-teman di FH, Fisipol, dan FSM).

    ok deh, met berjuang.

    Salam,
    Saam Fredy
    (alumni FBS, sekarang bekerja di BPHL UKSW)

  11. Neny Isharyanti says:

    Wah, ini mahasiswa (dan alumni) FBS begitu merasa diserang langsung keluar semua ya? 😀

    Saya ikut nimbrung karena kebetulan mata kuliah saya disebut-sebut oleh oleh Zie (Research Methods—ResMeth – dan Computer Applications for Research – CAR ). Memang mata kuliah ini ada statistik kuantitatif sedikit tapi sebenarnya penekanannya bukan ke situ. Statistik cuma salah satu topik karena yang namanya riset kadang-kadang harus pakai statistik. Yang lebih ditekankan adalah metodologi (namanya juga Research METHODS, jadi harus ada METODOLOGI) dan supaya mahasiswa bisa merasakan bagaimana melakukan riset kecil-kecilan. Di CAR malah lebih terserah lagi, jadi kalau misalnya topik riset tidak perlu statistik kuantitatif ya tidak usah belajar statistik kuantitatif.

    Soal tidak ada ujian lisan, seperti sudah dibilang Pak Theo Litaay dan Schape, ya memang yang namanya evaluasi hasil belajar itu bisa macam-macam, tidak harus secara lisan. Soal ini silakan diskusi dengan mahasiswa atau dosen FKIP yang menggeluti masalah evaluasi pendidikan. Di FBS sendiri, yang mungkin agak beda dengan di Fakultas lain, bentuk evaluasi di beberapa mata kuliah bisa sangat macam-macam: ada yang portfolio, paper, proyek, debat (makanya ada English Debating Society – EDS), presentasi, bikin materi mengajar (fyi, lulusan FBS diharapkan jadi guru Bahasa Inggris), sampai terlibat sebagai pemeran atau kru pementasan drama! Di mata kuliah Business English saya malah tidak ada tes sama sekali. Yang ada malah evaluasi melalui pembuatan CV, surat lamaran, wawancara kerja, presentasi produk. Yang penting menurut saya, tujuan mata kuliah itu apa dan mahasiswa dituntut bisa apa setelah mengikuti mata kuliah itu. Kalau evaluasinya sesuai dengan tujuan perkuliahan dan standar kompetensi mahasiswa, ya mau bentuk macam apa, nggak masalah kan?

    Saya rasa mutu pendidikan di FBS lumayan. Lulusan FBS masih sangat laku dan dicari-cari, bukan hanya untuk menjadi guru tapi juga menjadi penerjemah (btw, penerjemah Harry Potter ke bahasa Indonesia itu lulusan FBS lho..), di LSM (ada alumni yang di Green Peace), di stasiun TV, di perusahaan ekspor impor, dan banyak bidang lain. Satu hal yang membedakan alumni FBS dengan alumni Fakultas lain mungkin karena dari awal sampai akhir masa kuliah mahasiswa dituntut untuk kreatif, mungkin karena bentuk evaluasi kami yang macam-macam itu. Tapi memang saya setuju dengan ebeSS, harus ada penilaian terhadap mutu pendidikan di FBS secara statistik, jadi tidak sekedar bangga jadi keluarga besar FBS dan menyorong-nyorongkan keunggulan tanpa didukung bukti dan fakta.

    Jangan sungkan sama anak FBS dong. Kami juga terbuka kok untuk diskusi dan ngobrol dengan mahasiswa Fakultas lain. Cuma karena di FBS belajarnya bahasa Inggris dan bahasa yang dipakai di perkuliahan dan di lingkungan akademik adalah bahasa Inggris, wajar saja kalau kami berusaha untuk memakai bahasa Inggris setiap saat setiap waktu. Kalau mau, saya punya beberapa mata kuliah di flearn (http://flearn.uksw.edu) yang bisa diakses oleh siapa pun. Siapa tahu Anda mendapat beberapa hal dari mata kuliah saya.

    Sudah saatnya orang Indonesia tidak ‘minder’ karena penguasaan bahasa Inggris yang masih perlu ditingkatkan. Salah satu caranya? Ya, pakailah terus menerus. Katanya ‘Allah bisa karena biasa’. Gitu kan?

  12. andreas gurugendeng says:

    wadaw…telat nimbrung nih…..gapapa telat, better than nothing. Kalo ada yang bilang skripsi di fbs gampang itu mungkin cuma akumulasi dari sebuah bentuk penyesalan dan kekecewaan. Kesannya anak FBS tu gampang bgt bikin skripsi, 2-3 trimester dah rampung…kenapa kok aku yang di fakultas X dah bertahun2 skripsi gak kelar2…hehehehehehe. Tapi jangan salah, skripsi di FBS is not as easy as it seems…mungkin temen dr fak laen mikir kalo skripsi dengan tema literature yang kebetulan mengupas film tu gampang..hmmmm…salah besar kawan.kita gak sembarangan milih filem n gak sembarangan milih apa yang mau dikupas dari film tu..itu baru dari cabang literature, belum lagi dari teaching methodology dan linguistic.
    Yang menbuat kita terlihat cepat mengerjakan skripsi kalo menurut aku adalah sistem mata kuliah yang teratur lewat flow chart dan sistem evaluasi yang dipakai di FBS. Mhs FBS tu dah mulai bikin rancangan skripsi di tahun ketiga mereka kuliah lewat writing 5. Masuk ke trimester sel;anjutanya akan ada kuliah yang berhubungan dengan writing 5. Jadi, ketika kita masuk ke skripsi kita udah punya bahan mentah dan referensi untuk skripsi.
    Jujur aja kalo menurut pengamatanku, mhs FBS yang sedang2 aja kaya aku gini butuh gak lebih dari 2 trimester untuk bikin skripsi asalkan kita mau rutin konsultasi ke pembimbing. Itupun kita masih dogodok habis2an ama dosen. Ganti ini itu, referensi gak valid, bahkan ganti topik karena topiknya dah pernah dipake ama orang….belum lagi kalo pembimbing pergi keluar negri…Jadi buat tmn yg komentar skripsi di FBS gampang hmmm…coba aja kuliah di FBS. Gak bakal rugi klo kamu nangis malam2 n bingung ngrampungin thesismu yg besok pagi harus diserahin ke dosen…

  13. Yoyok 2003 says:

    Saya tidak mengatakan skripsi di FBS gampang.. tetapi tentunya dengan ujian lisan faktor penentu dalam asessment akan lebih banyak.. bukan hanya bahasa tulisan dan isi skripsi yang dinilai, tetapi juga meliputi penguasaan materi dari si asessee. Dan lagi, uji lisan sebenarnya melatih presentation skill dan contigency skill kita (buktinya..sebagian besar orang deg-degan karena gak tau penguji mo nanya apa).. penguasaan terhadap materi pun akan terlihat ketika ujian lisan dilakukan. Itu menurut saya loh..

    Saya sendiri tidak tahu apakah pertimbangan pihak manajemen fakultas memilih untuk tidak menggunakan uji lisan. Mungkin pertimbangannya competency (gabungan 3 faktor :skill, knowledge, dan attitude) lulusan FBS dapat diukur tanpa uji lisan.

    tapi terlepas dari metode ujian skripsinya..saya salut sama anak FBS .. Englishnya top abis! Jadi ketularan agak lancar English neh gara2 ngegebet anak FBS (jah..curhat colongan :D)

  14. Wei says:

    Walahhh..mas Yusak…

    coba deh…Anda ikut kuliah di FBS 1 semester aj….
    nggak….2 mata kuliah aja deh…coba Anda ikut SYNTAX sama WOMLIT…n coba klo Anda bisa dapet nilai A dr 2 mata kuliah tadi…ato ga usah aneh2…yg dasar aj..yg diambil di semester 1..IC alias INTEGRATED COURSE 1…. Coba donk mas…buktikan klo Anda tu ga cuma bisa ngomong…
    Kmaren kn Clas Mild ke kampus qta..buktikan donk! TALK LESS – DO MORE…!
    (boro2 IC, Syntax, Womlit, dsb…LISTENING aja blum tentu lulus…:p)

    Anda ga tau apa2 soal intern di FBS makany jng asal ngomong…rasain dulu kayak gimana..baru kasih komentar.. Jd org tu jng asbun..asal bunyi… “I can’t believe it…” (klo mnurut IP)

    Mas Yusak nih aneh2 aj…stress bikin skripsi? ga lulus2? Klo emang ga mampu, jngan salahin fakultas lain donk… Lagian lihat ndiri klo di FE soal skripsi itu faktor penetuny dosen ato dr mahasiswa sendiri??

    N jangan salah, guys…
    di FBS qta ga cuma belajar literature lho…. qta punya Business English (Bu Neny, sy nyatut mata kuliah bu Nen lgi ya..^^), International Business & Marketing, malah qta juga punya Pop Culture (itu ada di mata kuliahny anak Fisipol klo ga salah)…

    Sekian.

    (buat Mas Yusak: Semoga lekas lulus.)

  15. saya ini gembala sapi says:

    banyak yang bilang FBS itu gampang lulusnyah…
    hahahhahha..

    itu hanya pendapat anda..
    saya engga akan komentar macem2, karena jelas tiap fakultas punya kebijakan sendiri2 dalam meluluskan mahasiswanya,,
    kalo terus mahasiswanya engga lulus2, itu bukan salah fakultas, karena itu udah tanggung jawab mahasiswanya,buat apa nyalahin fakultas lain kalo qtanya gak lulus2?

    saya rasa cara didik di fBS udah baik kok..
    namanya mahasiswa bahasa, ya wajib to ilmunya dipake..
    jadi klo mow minder jga gak ada gunanya, (lagipula kita ngomong pake bahasa orang, tiap fakultas juga blajar bahasa inggris kan?)
    tambahan,kami mahasiswa fbs juga gak minder waktu mahsiswa fakultas lain ngobrol pake topik mereka,,

    pokoknya intinya, ga usah sirik deh….
    hehehehhe

    KeEp RAwk

  16. dreamer says:

    Salah satu kelebihan FBS dibanding fakultas serupa di universitas2 lain adalah skripsinya pakai bahasa Inggris sementara yang lain pakai bahasa Indonesia meskipun mereka belajar bahasa Inggris. Itu udah satu tingkat kesulitan tersendiri… Kalau itu dianggap masih kurang sulit… Saya jadi ingin berandai-andai… Bagaimana ya kalau diadakan oral exam / ujian lisan di FBS? Pakai bahasa Inggris pula… ;p

  17. Sekar UKSW says:

    a: Agak aneh ya,
    b: knapa aneh?
    a: ya iya, aneh aja… kamu ikutin ga bahasan diatas tentang ga adanya ujian lisan buat skripsi di FBS… menurut aq, kita kan 1 almamater, 1 naungan, yaitu UKSW… tapi kok kita malah melemahkan y… meremehkan saudaranya..
    b: dukungan dan saran, kuno banget kate2 lu!!!!
    a: ya iyasih, emang kedengarannya klasik banget!!! tapi itu yang kita butuhkan… ya itu masih menurutku sih!!!

    ow iy, buat kak sam. thanx for your advise that you gave to EDS long-long time ago.. i know that idea is brilliant for the shake of EDS UKSW (this name we always use in outside competition not “EDS FBS”, like IVED (Indonesian Varsities English Debating).

    But.. yupz… we still have many problems to make this idea comes true, like we still lack of member and link between each faculty in UKSW.. Since, we know that debate just not only need English but also many knowladge from different part of science as well..

    i’m quite surprised that there are many students from different faculty have good analyzing when they are commenting to each other about “hottest issues” that happen right now.. So, i hope in the future there are many people wanna join EDS UKSW, this absolutely for the good name of our university, UKSW… thanx

    Jadi kalo ada yang mau gabung EDS UKSW, please contact us:

    Sekar 085697383334
    Adit 085640746888

    ow y, for scientiarum, aku bisa minta bantuannya untuk buat artikel tentang EDS, ya dikit aj ga usah banyak-banyak yang penting EDS bisa ikutan mempromosikan dirinya.. thanx for ur help yupzz

  18. dev says:

    waw FBS????

    aneh ya, kok ga pake ujian lisan????

    gimana bisa di buktiin mahasiswa itu yg susun sendiri skripsinya, ada garansinya ga?

    tahu gini, dulu aku masuk FBS aja….

    tapi konsep soft copy na keren abissssss….

    good luck 4 FBS

  19. Felis_domesticus says:

    Saya sebagai anak FBS ingin menambahkan satu hal saja karena untuk masalah kesulitan-kesulitan skripsi di FBS sudah diulas oleh rekan-rekan saya di atas. Tambahan saya tersebut adalah bahwa perlu dicamkannya satu hal: kuliah di FBS tidak hanya masalah thesis saja, tetapi juga bagaimana menjadi guru bahasa Inggris yang kompeten. Kami dituntut untuk menjadi lulusan-lulusan yang profesional di bidang kami, yakni English Teaching. Mengajar juga bukanlah suatu hal yang mudah. Presentasi atau ujian skripsi saya rasa tidak sesulit mengajar, kalo memang kita benar-benar menguasai apa yang menjadi topik kita. Nah kalau mengajar itu kan suatu proses yang terjadi secara terus menerus, tidak hanya satu hari selesai. Teaching is an art! Mengajar adalah suatu seni! Ini yang harus banyak orang tahu. Sebagai seni, skill / ketrampilan sangatlah dibutuhkan. Oleh karena itu, saya yakin bahwa untuk menuju proses keprofesionalan kami tersebut (terampil dalam mengajar), kesulitan kami sudah pasti tidak hanya dititik-beratkan pada thesis saja, tetapi juga di bidang lainnya. Contoh konkretnya adalah teaching-practicum a.k.a. PPL. Sudah barang tentu para mahasiswa dari fakultas lain di UKSW juga sudah mengetahui tentang PPL kami yang saya yakin tidaklah mudah. Jika dibandingkan dengan fakultas lain, saya rasa PPL FBS itu lebih berbobot karena praktek kami benar-benar praktek. Tidak hanya magang yang nyantai. Sebagai calon guru, kami dituntut untuk bersikap profesional di dalam kami mengajar di sekolah-sekolah tujuan PPL. Sebelum kami ber-PPL, kami juga sudah dibekali dengan beberapa mata kuliah yang memampukan kami untuk membuat lesson plan atau rancangan pengajaran. Kompetensi anak-anak FBS akan sangat nampak di sana dan bisa langsung dinilai. Jadi tidak hanya teori dan teori saja, tetapi prakteknya juga benar-benar ditekankan dan diawasi dengan ketat. Masih mau bilang kuliah di FBS dan lulus dari FBS itu mudah? Not really lah…kalo memang masih beranggapan mudah, coba deh anda-anda sekalian praktek mengajar bahasa Inggris dulu di sekolah-sekolah formal…

    However, bila suatu saat di FBS diadakan ujian kelulusan, saya rasa juga tidak akan menjadi masalah. Namun untuk saat ini, saya rasa ujian skripsi tidaklah diperlukan karena tanpa ujian pun sudah nampak dengan jelas bagaimana kompentensi lulusan-lulusan FBS yang sebenarnya. Itu Mrs. Neny juga sudah memberikan contoh beberapa alumni FBS yang menunjukkan bahwa lulusan-lulusan FBS memang berkualitas dan mampu bersaing di dalam kancah dunia pekerjaan yang bergengsi. Tidak hanya menganggur dan mengganggur. Setidaknya dengan skill yang kami miliki, kami masih mampu mencari uang hanya dengan melakukan usaha kecil-kecilan seperti bimbingan belajar bahasa Inggris. Ada juga beberapa dari kami yang mampu mendapatkan uang hanya dengan membantu anak-anak dari fakultas lain yang membutuhkan bantuan men-translate bahan-bahan kuliah mereka. Apa tidak enak ini…??? 😀

    Nah untuk masalah kesan ekslusifnya, saya rasa perlu diketahui juga bahwa ada suatu ungkapan yang mengatakan bahwa jika kita ingin menguasai suatu bahasa asing, kita harus mulai dengan menyukai hal-hal yang berhubungan dengan bahasa asing tersebut (CCU banget hehehe…). Nah karena fakultas kami adalah Fakultas Bahasa dan Sastra Inggris, jadi ya kami harus menyukai budaya bangsa Inggris sebagai pemilik bahasa yang kami pelajari tersebut. Dengan begitu kami akan semakin mampu untuk menguasai bahasanya. Bukannya mau bersombong ria, tetapi dengan kami bangga memakai bahasa Inggris di mana pun saat sesama anak FBS bertemu sudah tentu akan semakin meningkatkan kemampuan dan kepercayaan diri kami di dalam berbahasa Inggris. Bahasa kan dipelajari melalui practice and practice, nah kalo tidak mau praktek ya mana mungkin kami bisa menjadi English speaker yang semakin baik. Selain itu, sesuai dengan yang sudah saya katakan di atas, sudah barang tentu anak-anak FBS juga berpikiran terbuka seperti dengan orang-orang barat. Jikalau ada yang mau sharing or berdiskusi dengan kami-kami, saya rasa pastinya bisa diatur kok 😉

    BRAVO E.D. – Faculty of Language and Literature of SWCU!!!

  20. dedengkot_Fbs says:

    Lulus tanpa ujian lisan tapi Akreditasi FBS A+…

  21. mangan_tahu says:

    hmmmm…ujian lesan ya… hmmm…

    gni y mas mbak… d fbs tuh, bwt theses (skripsi) aj bth waktu satu thn.. tuh udh praturan. karena kan emg udh di bagi2… proposal 1 semster, report, 1 smester, theses 1 semester. jd mlh mungkin dgn sistem dwisemester, ank2 fbs mlh bs tambah lama lg nyelesein skripsinya… palagi pake bhs inggris… apa ga stress.. baca buku inggris, nulis inggris, bimbingan inggris… mlh mw ujian inggris… kita udh susah susah bwt skripsi, dpt nilai jelek ato ga jadi lulus cm gr2 ujian lesan kan ga lucu… apalagi jumlah sks d fbs udh termasuk plg bnyak d uksw, hampir 150.. bayangin, pa ga stress tuh… mkanya, alo jd mw ada ujian lisan, sy merasa sedikit tdk setuju… kasihan yg msh angkatan br… alo aku c, jelas udh ga bkal ngrasain ujian lesan… moga2 aja ya… hahahahaha..AMIEN…

    bravo ED…no other way than fight…. bravo 04….

  22. kritisssss says:

    ga ada
    ujian lisan???? tak pikir dl…..
    kl dl pas aq di sastra inggris di semarang, yang paling sulit adalah ujian lisannya.krn dr situ akan ketauan kualitas dr mahasiswa tsb. Boleh2 aja ga ada ujian lisan, tp kan ntar kasihan ma lulusannya. Jd ga kompeten,gitu loh….trus, aq lihat sekarang kualitas mahasiswa FBS menurun, ga spt dl. IP sich tinggi tp kl diminta jelasin grammar aja ga bisa…ada buktinya tuh! Lihat aja anak PPL, payah smua…..

  23. Joy says:

    To : Mangan_Tahu

    kalau anda kasian dengan mahasiswa karena mereka harus . saranin aja mereka untuk gak kuliah di FBS. itu semua sudah resiko Bos.
    Kita mahasiswa tentu cari enaknya, tapi apa kata dunia jika lulusan FBS UKSW ternyata tidak dapat terjun kedunia kerja. ingat nama UKSW adalah bagian dari tanggung jawab mahasiswa.

    mengetahui/menilai skripsi itu tidak cukup dari hasil skripsinya aja, perlu diketahui dengan uang — tanpa menulis secoretpun kita dapat menghasilkan skripsi.

  24. STR says:

    “Universities such as Satya Wacana Christian University and the University of Indonesia are well known for their reputation of producing top graduates in English language and literature.”

    The Jakarta Post

    Should English be taught at primary level?

    Mochamad Subhan Zein, Jakarta | Sat, 11/15/2008 10:58 AM | Opinion

    English has been very influential in Asia’s language educational policies and practices for the past couple of years. Assuming children’s superiority in language learning over that of adults, many Asian countries believe that introducing English to primary students is considerably important to ensure their success.

    Whereas English is a compulsory subject in Singapore and the Philippines, the language has been used as a medium of instruction for teaching mathematics and science at primary levels in Malaysia since 2003. The same policy is also implemented by India and Pakistan who use English as an official language and introduce it to the children.

    Together with China, Taiwan, Vietnam and South Korea, Japan is committed to providing access to primary levels students to learn English.

    We cannot see the same enthusiasm in Indonesia, however. There is no foreign language policy during this time that can equip children with English in order to take part in the global competition. That means English is inaccessible to most Indonesian children.

    Early foreign language learning programs need to be introduced as a means of giving every child access — whether by making English a compulsory subject or by using it as a medium of instruction.

    Before the policy is established, it is therefore worth considering questions such as: When will we introduce it? What kind of curriculum can be implemented? What kind of teaching method is better? How many teachers are needed? How can we recruit them? How can we make sure they are good enough to teach?

    If a policy is introduced, we also need to consider the consequences to the maintenance of the national language. Is there any harm caused to the vernaculars? What about the learning facilities and materials? What are the considerations in terms of financial matters? Is it affordable? How many contact hours should be provided?

    Of all those questions, the major challenge that appears in the implementation of the policy is providing enough qualified teachers.

    Because the quality of the teachers determines the quality of the students, it is reasonable to rely on language teacher education or teacher training.

    When that kind of teacher training program can be provided is a serious concern for the program’s continuity. There is no point in providing such a program if there is no continuity, because it will not cater to teachers’ emerging understanding of the nature of language teaching and learning. It is expected that the training initiated will produce qualified teachers who can provide rich language learning experiences and facilitate oral language acquisition for the learners.

    Another issue that should also be addressed is the number of teachers needed. Providing enough English teachers to 135,768 public primary schools from Aceh to Papua is very difficult, given the fact that many schools in rural areas do not have English teachers at all. Here it is worth noting the possibility of hiring native English speakers to provide rich learning experiences and interactions.

    Although employing native speakers may appear to be a big financial expense, this idea is affordable. A possible strategy is to initiate exchange student programs or scholarship programs with English-speaking countries, i.e., the United States, the UK, Australia, Canada and New Zealand.

    In exchange for their time devoted to part-time teaching at primary levels, participants of the program can study at an Indonesian university and obtain full exemption of tuition fees. They also could receive a good monthly stipend as a living allowance.

    With this program in place, not only would it ensure the opportunity for students to have a rich experience with native English speakers but it also would be an innovative way to market Indonesian tourism potential to foreigners.

    On the other hand, recruiting local teachers remains a priority.

    Universities such as Satya Wacana Christian University and the University of Indonesia are well known for their reputation of producing top graduates in English language and literature. Other universities which offer English majors such as The State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta and Yogyakarta National University can also take part. Those universities can initiate cooperation with the government to contribute to the availability of qualified English teachers who are likely to be near-native.

    Under a contractual or even full-time employment basis, the newly hired local teachers could be placed in Indonesia’s rural areas to provide rich learning opportunities for the children.

    Having examined the importance of English in globalization, a serious action that can equip children with English is necessary to be taken. Once the political will is there, consideration in providing enough qualified teachers deserves full attention, and perhaps the most serious attention.

    The writer is an Associate Lecturer at the School of Arts and Humanities, The State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta. He is currently enrolled a postgraduate program in TESOL at the University of Canberra, Australia. He can be reached at freemark2twain@yahoo.com.

  25. Cal says:

    @yusak: bagaimana mungkin anda bisa menyimpulkan kwalitas skrispsi anak FBS sebelum anda membacanya?
    walaupun tanpa ujian lisan, kwalitas skripsi yang kami tulis tetap terjaga, contoh ketika kami harus mengajukan proposal
    semuanya diuji dan kalau memang kami blum siap proposal itu tidak akan dinilai dan mahsiswa tidak bisa melanjutkan ke level selanjutnya
    (sekedar informasi di FBS tidak ada questionnaire buatan sendiri yang digunakan untuk melakukan survey seperti di fakultas anda)
    dan bahasa yang kami pakai bukan bahasa Indonesia pasaran seperti yang anda dan taman-taman anda pakai dalam skripsi kalian
    everything should be written in formal English
    read our thesis first then post your comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *