Lulus tanpa ujian lisan di FBS

Telah dilihat 522 kali sejak 15 July 2008

SALATIGA — Sistem skripsi Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) beda dengan fakultas-fakultas lain di Universitas Kristen Satya Wacana. Tak ada ujian lisan sebagai syarat kelulusan. Sebagai gantinya, skripsi mahasiswa FBS akan dibaca dan diperiksa tiga dosen.

Pertama, skripsi akan dibaca dosen pembimbing. Pemilihan dosen ini harus menyesuaikan antara topik skripsi dan keahlian dosen yang dipilih. Proses bimbingan sendiri terbagi dalam tiga tahap: proposal writing, report writing, dan thesis. Masing-masing diselesaikan dalam satu semester.

Selanjutnya, skripsi akan dibaca second reader. Awalnya mahasiswa bebas menentukan second reader skripsi mereka dengan syarat harus sesuai antara topik skripsi dan kemampuan dosen pilihan. Namun, pada kenyataannya, banyak mahasiswa tidak memilih second reader berdasarkan kemampuan, melainkan hubungan antara mahasiswa dan dosen atau kemurahan hati dosen. Karenanya, Hendro Setiawan Husada, dekan FBS, memberi ketetapan. Mulai 11 Juni 2008, second reader ditentukan dekan sesuai penguasaan masing-masing dosen terhadap topik skripsi mahasiswa.

Format skripsi dan referensi akan diteliti Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Victoria Usadya Palupi, untuk terakhir kali sebelum nilai keluar. Format skripsi di FBS tidak dalam hard copy (kertas fisik — Red), melainkan soft copy (buku elektronik — Red). Format ini lebih praktis dan murah karena mahasiswa tidak perlu mencetak skripsi berkali-kali. Di samping itu, skripsi bentuk elektronik akan lebih sulit ditulis ulang mahasiswa lain karena tidak tersedia di perpustakaan.

Tidak adanya ujian lisan juga merupakan kepraktisan dalam pembuatan skripsi di FBS. Alasannya, tidak perlu menyediakan waktu khusus untuk ujian. Jumlah mahasiswa FBS yang lulus tiap periodenya dirasa terlalu banyak untuk diuji satu persatu.

Pelanggaran hak cipta atau plagiarisme adalah masalah utama dalam pembuatan skripsi. Begitu juga di FBS. Tidak adanya ujian lisan bukan berarti menambah kesempatan melakukan plagiarisme. Melalui tiga dosen (pembimbing, second reader, dan ketua program studi), pemeriksaan skripsi makin diperketat. Sejauh ini telah ditemukan satu mahasiswa yang melakukan plagiarisme dan diwajibkan mengulang dengan topik yang sama. Untuk selanjutnya, akan diberlakukan sanksi yang lebih berat dari sekadar penulisan ulang skripsi.

Tag: ,

19 komentar telah masuk. Apa pendapat anda?

Halaman: [2] 1 » Lihat Semua

  1. Komentar ke-19

    Saya sebagai anak FBS ingin menambahkan satu hal saja karena untuk masalah kesulitan-kesulitan skripsi di FBS sudah diulas oleh rekan-rekan saya di atas. Tambahan saya tersebut adalah bahwa perlu dicamkannya satu hal: kuliah di FBS tidak hanya masalah thesis saja, tetapi juga bagaimana menjadi guru bahasa Inggris yang kompeten. Kami dituntut untuk menjadi lulusan-lulusan yang profesional di bidang kami, yakni English Teaching. Mengajar juga bukanlah suatu hal yang mudah. Presentasi atau ujian skripsi saya rasa tidak sesulit mengajar, kalo memang kita benar-benar menguasai apa yang menjadi topik kita. Nah kalau mengajar itu kan suatu proses yang terjadi secara terus menerus, tidak hanya satu hari selesai. Teaching is an art! Mengajar adalah suatu seni! Ini yang harus banyak orang tahu. Sebagai seni, skill / ketrampilan sangatlah dibutuhkan. Oleh karena itu, saya yakin bahwa untuk menuju proses keprofesionalan kami tersebut (terampil dalam mengajar), kesulitan kami sudah pasti tidak hanya dititik-beratkan pada thesis saja, tetapi juga di bidang lainnya. Contoh konkretnya adalah teaching-practicum a.k.a. PPL. Sudah barang tentu para mahasiswa dari fakultas lain di UKSW juga sudah mengetahui tentang PPL kami yang saya yakin tidaklah mudah. Jika dibandingkan dengan fakultas lain, saya rasa PPL FBS itu lebih berbobot karena praktek kami benar-benar praktek. Tidak hanya magang yang nyantai. Sebagai calon guru, kami dituntut untuk bersikap profesional di dalam kami mengajar di sekolah-sekolah tujuan PPL. Sebelum kami ber-PPL, kami juga sudah dibekali dengan beberapa mata kuliah yang memampukan kami untuk membuat lesson plan atau rancangan pengajaran. Kompetensi anak-anak FBS akan sangat nampak di sana dan bisa langsung dinilai. Jadi tidak hanya teori dan teori saja, tetapi prakteknya juga benar-benar ditekankan dan diawasi dengan ketat. Masih mau bilang kuliah di FBS dan lulus dari FBS itu mudah? Not really lah…kalo memang masih beranggapan mudah, coba deh anda-anda sekalian praktek mengajar bahasa Inggris dulu di sekolah-sekolah formal…

    However, bila suatu saat di FBS diadakan ujian kelulusan, saya rasa juga tidak akan menjadi masalah. Namun untuk saat ini, saya rasa ujian skripsi tidaklah diperlukan karena tanpa ujian pun sudah nampak dengan jelas bagaimana kompentensi lulusan-lulusan FBS yang sebenarnya. Itu Mrs. Neny juga sudah memberikan contoh beberapa alumni FBS yang menunjukkan bahwa lulusan-lulusan FBS memang berkualitas dan mampu bersaing di dalam kancah dunia pekerjaan yang bergengsi. Tidak hanya menganggur dan mengganggur. Setidaknya dengan skill yang kami miliki, kami masih mampu mencari uang hanya dengan melakukan usaha kecil-kecilan seperti bimbingan belajar bahasa Inggris. Ada juga beberapa dari kami yang mampu mendapatkan uang hanya dengan membantu anak-anak dari fakultas lain yang membutuhkan bantuan men-translate bahan-bahan kuliah mereka. Apa tidak enak ini…??? :D

    Nah untuk masalah kesan ekslusifnya, saya rasa perlu diketahui juga bahwa ada suatu ungkapan yang mengatakan bahwa jika kita ingin menguasai suatu bahasa asing, kita harus mulai dengan menyukai hal-hal yang berhubungan dengan bahasa asing tersebut (CCU banget hehehe…). Nah karena fakultas kami adalah Fakultas Bahasa dan Sastra Inggris, jadi ya kami harus menyukai budaya bangsa Inggris sebagai pemilik bahasa yang kami pelajari tersebut. Dengan begitu kami akan semakin mampu untuk menguasai bahasanya. Bukannya mau bersombong ria, tetapi dengan kami bangga memakai bahasa Inggris di mana pun saat sesama anak FBS bertemu sudah tentu akan semakin meningkatkan kemampuan dan kepercayaan diri kami di dalam berbahasa Inggris. Bahasa kan dipelajari melalui practice and practice, nah kalo tidak mau praktek ya mana mungkin kami bisa menjadi English speaker yang semakin baik. Selain itu, sesuai dengan yang sudah saya katakan di atas, sudah barang tentu anak-anak FBS juga berpikiran terbuka seperti dengan orang-orang barat. Jikalau ada yang mau sharing or berdiskusi dengan kami-kami, saya rasa pastinya bisa diatur kok :wink:

    BRAVO E.D. - Faculty of Language and Literature of SWCU!!!

  2. Komentar ke-18

    waw FBS????

    aneh ya, kok ga pake ujian lisan????

    gimana bisa di buktiin mahasiswa itu yg susun sendiri skripsinya, ada garansinya ga?

    tahu gini, dulu aku masuk FBS aja….

    tapi konsep soft copy na keren abissssss….

    good luck 4 FBS

  3. Komentar ke-17

    a: Agak aneh ya,
    b: knapa aneh?
    a: ya iya, aneh aja… kamu ikutin ga bahasan diatas tentang ga adanya ujian lisan buat skripsi di FBS… menurut aq, kita kan 1 almamater, 1 naungan, yaitu UKSW… tapi kok kita malah melemahkan y… meremehkan saudaranya..
    b: dukungan dan saran, kuno banget kate2 lu!!!!
    a: ya iyasih, emang kedengarannya klasik banget!!! tapi itu yang kita butuhkan… ya itu masih menurutku sih!!!

    ow iy, buat kak sam. thanx for your advise that you gave to EDS long-long time ago.. i know that idea is brilliant for the shake of EDS UKSW (this name we always use in outside competition not “EDS FBS”, like IVED (Indonesian Varsities English Debating).

    But.. yupz… we still have many problems to make this idea comes true, like we still lack of member and link between each faculty in UKSW.. Since, we know that debate just not only need English but also many knowladge from different part of science as well..

    i’m quite surprised that there are many students from different faculty have good analyzing when they are commenting to each other about “hottest issues” that happen right now.. So, i hope in the future there are many people wanna join EDS UKSW, this absolutely for the good name of our university, UKSW… thanx

    Jadi kalo ada yang mau gabung EDS UKSW, please contact us:

    Sekar 085697383334
    Adit 085640746888

    ow y, for scientiarum, aku bisa minta bantuannya untuk buat artikel tentang EDS, ya dikit aj ga usah banyak-banyak yang penting EDS bisa ikutan mempromosikan dirinya.. thanx for ur help yupzz

  4. Komentar ke-16

    Salah satu kelebihan FBS dibanding fakultas serupa di universitas2 lain adalah skripsinya pakai bahasa Inggris sementara yang lain pakai bahasa Indonesia meskipun mereka belajar bahasa Inggris. Itu udah satu tingkat kesulitan tersendiri… Kalau itu dianggap masih kurang sulit… Saya jadi ingin berandai-andai… Bagaimana ya kalau diadakan oral exam / ujian lisan di FBS? Pakai bahasa Inggris pula… ;p

  5. Komentar ke-15

    banyak yang bilang FBS itu gampang lulusnyah…
    hahahhahha..

    itu hanya pendapat anda..
    saya engga akan komentar macem2, karena jelas tiap fakultas punya kebijakan sendiri2 dalam meluluskan mahasiswanya,,
    kalo terus mahasiswanya engga lulus2, itu bukan salah fakultas, karena itu udah tanggung jawab mahasiswanya,buat apa nyalahin fakultas lain kalo qtanya gak lulus2?

    saya rasa cara didik di fBS udah baik kok..
    namanya mahasiswa bahasa, ya wajib to ilmunya dipake..
    jadi klo mow minder jga gak ada gunanya, (lagipula kita ngomong pake bahasa orang, tiap fakultas juga blajar bahasa inggris kan?)
    tambahan,kami mahasiswa fbs juga gak minder waktu mahsiswa fakultas lain ngobrol pake topik mereka,,

    pokoknya intinya, ga usah sirik deh….
    hehehehhe

    KeEp RAwk

  6. Komentar ke-14

    Walahhh..mas Yusak…

    coba deh…Anda ikut kuliah di FBS 1 semester aj….
    nggak….2 mata kuliah aja deh…coba Anda ikut SYNTAX sama WOMLIT…n coba klo Anda bisa dapet nilai A dr 2 mata kuliah tadi…ato ga usah aneh2…yg dasar aj..yg diambil di semester 1..IC alias INTEGRATED COURSE 1…. Coba donk mas…buktikan klo Anda tu ga cuma bisa ngomong…
    Kmaren kn Clas Mild ke kampus qta..buktikan donk! TALK LESS - DO MORE…!
    (boro2 IC, Syntax, Womlit, dsb…LISTENING aja blum tentu lulus…:p)

    Anda ga tau apa2 soal intern di FBS makany jng asal ngomong…rasain dulu kayak gimana..baru kasih komentar.. Jd org tu jng asbun..asal bunyi… “I can’t believe it…” (klo mnurut IP)

    Mas Yusak nih aneh2 aj…stress bikin skripsi? ga lulus2? Klo emang ga mampu, jngan salahin fakultas lain donk… Lagian lihat ndiri klo di FE soal skripsi itu faktor penetuny dosen ato dr mahasiswa sendiri??

    N jangan salah, guys…
    di FBS qta ga cuma belajar literature lho…. qta punya Business English (Bu Neny, sy nyatut mata kuliah bu Nen lgi ya..^^), International Business & Marketing, malah qta juga punya Pop Culture (itu ada di mata kuliahny anak Fisipol klo ga salah)…

    Sekian.

    (buat Mas Yusak: Semoga lekas lulus.)

  7. Komentar ke-13

    Saya tidak mengatakan skripsi di FBS gampang.. tetapi tentunya dengan ujian lisan faktor penentu dalam asessment akan lebih banyak.. bukan hanya bahasa tulisan dan isi skripsi yang dinilai, tetapi juga meliputi penguasaan materi dari si asessee. Dan lagi, uji lisan sebenarnya melatih presentation skill dan contigency skill kita (buktinya..sebagian besar orang deg-degan karena gak tau penguji mo nanya apa).. penguasaan terhadap materi pun akan terlihat ketika ujian lisan dilakukan. Itu menurut saya loh..

    Saya sendiri tidak tahu apakah pertimbangan pihak manajemen fakultas memilih untuk tidak menggunakan uji lisan. Mungkin pertimbangannya competency (gabungan 3 faktor :skill, knowledge, dan attitude) lulusan FBS dapat diukur tanpa uji lisan.

    tapi terlepas dari metode ujian skripsinya..saya salut sama anak FBS .. Englishnya top abis! Jadi ketularan agak lancar English neh gara2 ngegebet anak FBS (jah..curhat colongan :D)

  8. Komentar ke-12

    wadaw…telat nimbrung nih…..gapapa telat, better than nothing. Kalo ada yang bilang skripsi di fbs gampang itu mungkin cuma akumulasi dari sebuah bentuk penyesalan dan kekecewaan. Kesannya anak FBS tu gampang bgt bikin skripsi, 2-3 trimester dah rampung…kenapa kok aku yang di fakultas X dah bertahun2 skripsi gak kelar2…hehehehehehe. Tapi jangan salah, skripsi di FBS is not as easy as it seems…mungkin temen dr fak laen mikir kalo skripsi dengan tema literature yang kebetulan mengupas film tu gampang..hmmmm…salah besar kawan.kita gak sembarangan milih filem n gak sembarangan milih apa yang mau dikupas dari film tu..itu baru dari cabang literature, belum lagi dari teaching methodology dan linguistic.
    Yang menbuat kita terlihat cepat mengerjakan skripsi kalo menurut aku adalah sistem mata kuliah yang teratur lewat flow chart dan sistem evaluasi yang dipakai di FBS. Mhs FBS tu dah mulai bikin rancangan skripsi di tahun ketiga mereka kuliah lewat writing 5. Masuk ke trimester sel;anjutanya akan ada kuliah yang berhubungan dengan writing 5. Jadi, ketika kita masuk ke skripsi kita udah punya bahan mentah dan referensi untuk skripsi.
    Jujur aja kalo menurut pengamatanku, mhs FBS yang sedang2 aja kaya aku gini butuh gak lebih dari 2 trimester untuk bikin skripsi asalkan kita mau rutin konsultasi ke pembimbing. Itupun kita masih dogodok habis2an ama dosen. Ganti ini itu, referensi gak valid, bahkan ganti topik karena topiknya dah pernah dipake ama orang….belum lagi kalo pembimbing pergi keluar negri…Jadi buat tmn yg komentar skripsi di FBS gampang hmmm…coba aja kuliah di FBS. Gak bakal rugi klo kamu nangis malam2 n bingung ngrampungin thesismu yg besok pagi harus diserahin ke dosen…

  9. Komentar ke-11

    Wah, ini mahasiswa (dan alumni) FBS begitu merasa diserang langsung keluar semua ya? :D

    Saya ikut nimbrung karena kebetulan mata kuliah saya disebut-sebut oleh oleh Zie (Research Methods—ResMeth – dan Computer Applications for Research – CAR ). Memang mata kuliah ini ada statistik kuantitatif sedikit tapi sebenarnya penekanannya bukan ke situ. Statistik cuma salah satu topik karena yang namanya riset kadang-kadang harus pakai statistik. Yang lebih ditekankan adalah metodologi (namanya juga Research METHODS, jadi harus ada METODOLOGI) dan supaya mahasiswa bisa merasakan bagaimana melakukan riset kecil-kecilan. Di CAR malah lebih terserah lagi, jadi kalau misalnya topik riset tidak perlu statistik kuantitatif ya tidak usah belajar statistik kuantitatif.

    Soal tidak ada ujian lisan, seperti sudah dibilang Pak Theo Litaay dan Schape, ya memang yang namanya evaluasi hasil belajar itu bisa macam-macam, tidak harus secara lisan. Soal ini silakan diskusi dengan mahasiswa atau dosen FKIP yang menggeluti masalah evaluasi pendidikan. Di FBS sendiri, yang mungkin agak beda dengan di Fakultas lain, bentuk evaluasi di beberapa mata kuliah bisa sangat macam-macam: ada yang portfolio, paper, proyek, debat (makanya ada English Debating Society – EDS), presentasi, bikin materi mengajar (fyi, lulusan FBS diharapkan jadi guru Bahasa Inggris), sampai terlibat sebagai pemeran atau kru pementasan drama! Di mata kuliah Business English saya malah tidak ada tes sama sekali. Yang ada malah evaluasi melalui pembuatan CV, surat lamaran, wawancara kerja, presentasi produk. Yang penting menurut saya, tujuan mata kuliah itu apa dan mahasiswa dituntut bisa apa setelah mengikuti mata kuliah itu. Kalau evaluasinya sesuai dengan tujuan perkuliahan dan standar kompetensi mahasiswa, ya mau bentuk macam apa, nggak masalah kan?

    Saya rasa mutu pendidikan di FBS lumayan. Lulusan FBS masih sangat laku dan dicari-cari, bukan hanya untuk menjadi guru tapi juga menjadi penerjemah (btw, penerjemah Harry Potter ke bahasa Indonesia itu lulusan FBS lho..), di LSM (ada alumni yang di Green Peace), di stasiun TV, di perusahaan ekspor impor, dan banyak bidang lain. Satu hal yang membedakan alumni FBS dengan alumni Fakultas lain mungkin karena dari awal sampai akhir masa kuliah mahasiswa dituntut untuk kreatif, mungkin karena bentuk evaluasi kami yang macam-macam itu. Tapi memang saya setuju dengan ebeSS, harus ada penilaian terhadap mutu pendidikan di FBS secara statistik, jadi tidak sekedar bangga jadi keluarga besar FBS dan menyorong-nyorongkan keunggulan tanpa didukung bukti dan fakta.

    Jangan sungkan sama anak FBS dong. Kami juga terbuka kok untuk diskusi dan ngobrol dengan mahasiswa Fakultas lain. Cuma karena di FBS belajarnya bahasa Inggris dan bahasa yang dipakai di perkuliahan dan di lingkungan akademik adalah bahasa Inggris, wajar saja kalau kami berusaha untuk memakai bahasa Inggris setiap saat setiap waktu. Kalau mau, saya punya beberapa mata kuliah di flearn (http://flearn.uksw.edu) yang bisa diakses oleh siapa pun. Siapa tahu Anda mendapat beberapa hal dari mata kuliah saya.

    Sudah saatnya orang Indonesia tidak ‘minder’ karena penguasaan bahasa Inggris yang masih perlu ditingkatkan. Salah satu caranya? Ya, pakailah terus menerus. Katanya ‘Allah bisa karena biasa’. Gitu kan?

Halaman: [2] 1 » Lihat Semua

Berikan pendapat anda. Bergabung dalam diskusi.

PERHATIAN. Setiap komentar akan melewati proses moderasi sebelum tampil. Silakan berkomentar dengan sopan dan bertanggungjawab. Komentar anonim atau alias tetap diperbolehkan, namun kami mengimbau agar anda sudi menunjukkan identitas asli. Komentar yang menyinggung isu SARA atau melanggar etika kesopanan tidak akan ditampilkan.

SPONSOR LINK