Senat Mahasiswa Universitas Tenteng Sembako ke Jalan

Browse By

Senin siang, 21 Juli 2008, belasan mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana yang dikoordinir Senat Mahasiswa Universitas turun ke jalan. Beberapa menenteng kresek-kresek hitam. Yang lain memboyong kardus berisi kresek-kresek hitam. Mereka membagi diri jadi empat kelompok dan menyebar ke jalan Jenderal Sudirman, Diponegoro, Pattimura, dan Turen.

Kresek-kresek hitam yang mereka bawa adalah paket-paket sembako (sembilan bahan pokok — Red). Masing-masing paket berisi setengah kilo beras, setengah kilo gula pasir, dua bungkus mi instan, dan satu kemasan sabun colek. Total ada 137 paket yang mereka bawa dan bagikan gratis pada para tukang becak, sopir angkot, dan pengemis di empat jalan tersebut.

Dalam rangka apa?

“Ini dalam rangka ucapan syukur akhir periode SMU (Senat Mahasiswa Universitas — Red) tahun ini,” kata Selfina Alimbuto. Selfina adalah Bendahara Umum SMU sekaligus koordinator pembagian sembako.

Ide pembagian sembako muncul saat rapat evaluasi SMU, Kamis, 17 Juli 2008. Para fungsionaris SMU ingin membuat sesuatu yang beda pada akhir masa jabatan mereka, yang usai pada 18 Juli 2008. Semula, mereka ingin adakan ibadah pengucapan syukur. Lalu muncul wacana untuk berbakti sosial ke panti asuhan.

“Tapi karena di panti asuhan itu sudah sering orang-orang ke sana, jadi kita ganti (dengan) bakti sosial ke jalan,” terang Selfina.

Di jalan, para mahasiswa mendapat “sambutan hangat.” Ketika satu mahasiswa pemboyong kardus menyeberang jalan di depan bundaran Tamansari, para tukang becak dan sopir angkutan kota berlarian ke arahnya dan mengambil kresek-kresek dari dalam kardus. Waktu itu sekitar jam setengah dua siang. Jalan tidak sepi kendaraan.

Untung tak ada kecelakaan.

Kupon sembako
Menjelang Paskah tahun 2006, para pengurus OSIS SMA Kristen Petra 5 Surabaya ingin merayakan Paskah dengan berbakti sosial. Cara yang mereka tempuh sama dengan Senat Mahasiswa Universitas kali ini: bagi-bagi sembako gratis. Mereka membeli bahan-bahan kebutuhan pokok, lalu membaginya dalam paket-paket sembako yang dibungkus kresek hitam.

Tapi mereka tak menenteng paket-paket itu ke jalan.

Mereka mencetak kupon sejumlah dengan paket-paket sembako yang ada. “Kupon sembako” istilahnya. Berbekal kupon-kupon inilah mereka turun ke jalan, berbicara dengan orang-orang (tukang becak, penjaga warung, pemulung, pengemis), dan mengundang orang-orang itu datang ke sekolah sambil membawa kupon pada waktu yang sudah ditentukan. Di sekolah, kupon itu ditukar dengan paket sembako.

Para pengurus OSIS tersebut jadi tak perlu bawa beban yang relatif berat ketika turun ke jalan. Mereka juga tak menciptakan “antusiasme” masyarakat di tengah ramainya jalanan Surabaya. Sekolah pun jadi lebih “merakyat” karena banyak orang datang — tak hanya untuk ambil sembako, tapi juga jagongan dengan para siswa dan guru.

“Kita nggak kepikiran sampai situ kemarin,” kata Rambu Y. A. Sabaora, Ketua Umum Senat Mahasiswa Universitas.

“Kalo pakai kupon, nanti lebih repot karena harus urus cetaknya segala,” kata Selfina Alimbuto.

16 thoughts on “Senat Mahasiswa Universitas Tenteng Sembako ke Jalan”

  1. Saam Fredy says:

    Kepada teman-teman SMU dan BPMU 2007-2008,

    Terima kasih atas dukungan dan kerja sama yang baik selama ini antara teman-teman dan saya di BPHL UKSW. Banyak suka duka yang telah kita lewati. Semoga apa yang telah kita jalani dapat menjadi kenangan tersendiri untuk saling bersilahturahmi. Tetap semangat.

    Semoga Tuhan memberkati pelayanan kita semua.

    Salam,
    Saam Fredy
    (staf Jurnalis BPHL UKSW)

  2. tommy bernadus says:

    guys, untuk penulisan, teman-teman sudah bagus, cuma ada beberapa hal yang belum memenuhi kaidah jurnalistik……… seperti judul, harus huruf besar semua kecuali kata sambung misalnya yang, dan dll dll dll

    tommy bernadus
    jurnalis, tinggal di jakarta

  3. tommy bernadus says:

    oi satria, kalau nulis, strigt news, berita peristiwa, ada kaidah yang kurang kamu penuhi… okeiiiii usahakan jangan tanggal atau hari atau angka menjadi awal kalimat… okei brur??

  4. STR says:

    Mas Tommy yang baik,

    Sudah baca buku Sembilan Elemen Jurnalisme karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel? Tak ada kaidah jurnalisme yang mengatur soal besar kecilnya huruf pada judul dan penempatan tanggal/hari/angka pada kalimat. Itu cuma masalah gaya yang preferensinya boleh suka-suka.

    Pada rubrik “Berita” di Scientiarum, saya pakai judul dengan huruf besar-kecil karena saya ingin judul dibaca seperti “kalimat biasa.” Semacam taicing milik Tempo, tapi yang lebih ringkas. Dan bukan hanya Scientiarum yang lakukan ini. Kalau anda perhatikan, The Jakarta Post juga menulis judul berita sama seperti kami. Lalu apa alasannya judul harus besar semua?

    Saya beberapa kali ikut latihan jurnalisme. Pengajarnya macam-macam, mulai Andreas Harsono sampai Bambang Harymurti. Mulai Amarzan Loebis sampai Wina Armada Sukardi. Dan mereka tak pernah mempermasalahkan penempatan tanggal/hari/angka pada awal kalimat. Lalu apa dasarnya imbauan anda tersebut?

    Ayo kita diskusi. Terima kasih. 😀

    Satria Anandita
    Wartawan, memilih berbasis di Salatiga

  5. tommy bernadus says:

    pengalaman bos yang membuktikan, bukan pelatihan

  6. STR says:

    Susah memang ngomong sama orang yang udah “pengalaman.” Diajak diskusi aja keberatan.

    Lha apa wartawan macam Andreas Harsono dan Bambang Harymurti itu “kurang pengalaman?”

  7. tommy bernadus says:

    bung satria yang baik juga, bukan saya mau mengkritik atau tidak mau berdiskusi, ketika saya mencoba “bongkar-bongkar” memang anda yang paling lain sendiri. Yang lain menulis dengan huruf besar pada judul tulisan, sementara anda menulis dengan huruf kecil.

    trims….

  8. STR says:

    Bung Tommy,

    “Kritik itu konsultan gratis,” kata Arief Budiman, sebagaimana pernah ditulis Andreas Harsono dalam blognya. Jadi tak ada yang salah dengan kritik. Dan jujur, saya mengharapkan kritik, tapi kritik yang jelas.

    Komentar ke-4 saya lontarkan karena saya merasa kurang jelas dengan kritik Anda, terutama dengan pemahaman soal “kaidah jurnalistik yang benar.” Sebelumnya, Anda bilang pada saya bahwa “ada kaidah (jurnalistik) yang kurang kamu penuhi.” Nah, kaidah jurnalistik yang mana yang kurang saya penuhi? Yang seperti apa? Apa benar ada kaidah seperti itu? Maka saya mengajak Anda diskusi.

    Tapi pada komentar ke-5, saya rasa Anda mulai “menikam karakter.” Anda ingin menonjolkan “pengalaman” Anda yang memang jauh lebih banyak daripada saya — saya tahu Anda pernah jadi wartawan Sinar Harapan. Jadi, seakan-akan Anda ingin berkata, “Pengalamanku lebih banyak daripada kamu, maka kamu turutin aja nasihatku, kritikku, kataku.”

    Saya menjawab argumen “kaidah jurnalistik” komentar ke-2 dan ke-3 dengan argumen “kaidah jurnalistik” (dalam komentar ke-4). Tapi Anda menjawab argumen “kaidah jurnalistik” komentar ke-4 dengan argumen “pengalaman” (dalam komentar ke-5).

    Lihat? Anda membuat diskusi “keluar jalur.”

    Kalau Anda tetap ngeyel dengan argumen “pengalaman” Anda, maka seharusnya Anda tahu diri. Argumen yang saya lontarkan pada komentar ke-4 bukanlah hasil pemikiran saya sendiri. Saya mengutip Bill Kovach. Saya mengutip Andreas Harsono. Saya mengutip Bambang Harymurti. Beranikah Anda klaim diri Anda lebih “pengalaman” dari ketiga wartawan tersebut?

    Tapi bukan itu tujuan diskusi ini!

    Diskusi ini bukan untuk membuktikan siapa lebih “pengalaman” daripada siapa. Diskusi ini untuk membuktikan kaidah jurnalistik yang mana yang memang benar secara prinsip dan mana yang salah.

    Maka saya mengajak Anda diskusi.

    Tapi coba perhatikan lagi komentar Anda sebelum ini (komentar ke-7). Anda bilang bahwa “ketika saya mencoba ‘bongkar-bongkar’ memang anda yang paling lain sendiri. Yang lain menulis dengan huruf besar pada judul tulisan, sementara anda menulis dengan huruf kecil.

    Ini bukti bahwa Anda tak menyimak komentar saya (komentar ke-4) dengan baik.

    Bukankah sudah saya bilang, “Pada rubrik ‘Berita’ di Scientiarum, saya pakai judul dengan huruf besar-kecil karena saya ingin judul dibaca seperti ‘kalimat biasa.’ Semacam taicing milik Tempo, tapi yang lebih ringkas. Dan bukan hanya Scientiarum yang lakukan ini. Kalau anda perhatikan, The Jakarta Post juga menulis judul berita sama seperti kami.

    Itu artinya, saya tidak “yang paling lain sendiri.”

    Ketika menulis di rubrik “Berita,” saya menulis judul sama seperti judul-judul artikel lain pada rubrik tersebut — pakai huruf kecil, kecuali untuk nama (tempat/orang/organisasi/dsb) dan singkatan. Sebaliknya, ketika saya menulis di rubrik selain “Berita” saya akan menulis judul dengan huruf besar, kecuali untuk kata sambung. Rasionalisasi untuk hal ini telah saya sampaikan pada komentar ke-4 bukan?

    Dan lihat, argumen Anda pada komentar ke-7 menunjukkan inkonsistensi Anda dalam membangun argumen. Pada komentar ke-2 dan ke-3 Anda gunakan argumen “kaidah jurnalistik.” Pada komentar ke-5 Anda gunakan argumen “pengalaman.” Pada komentar ke-7 Anda gunakan argumen “lain sendiri.”

    Emang kenapa kalau saya (dan mungkin Scientiarum) “lain sendiri,” berbeda dari wartawan-wartawan (dan media-media) yang lain?

    Asal tetap berpedoman pada kaidah jurnalistik yang benar secara prinsip, saya pikir tak ada masalah.

    Terima kasih.

  9. Opha says:

    Urun Rembug.
    @ all : Memang kalo saya lihat penulisan-penulisan berita di SA oleh wartawan SA, agak berbeda dengan “lazimnya”. Saya tidak berani mengatakan itu tidak memenuhi “kaidah jurnalistik”. Sepengetahuan saya masalah teknis penulisan berita untuk konsumsi massa (media massa) memiliki ciri masing-masing. Akan tetapi untuk teknik penulisan, akan lebih tepat kalau kita coba menekankan pada kaidah-kaidah penggunaan tata bahasa yang baik. Utamanya, supaya informasi yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh pembaca tanpa terjadi bias makna ataupun arti.

    Jika secara pribadi saya amati, SA sedang mencoba membuat suatu garisnya sendiri, dengan membuat bangunan informasi dengan ciri-ciri tertentu. Hal ini saya anggap baik. Tetapi juga harus hati-hati, pada suatu titik akan menemukan resistensi. Wajar, karena sesuatu yang tidak “lazim”, bisa saja menghasilkan penolakan. Dan ini terbukti!!!!

  10. Dicky says:

    Excellent, sat 🙂

  11. obed says:

    saya pembaca awam, saya merasa tidak terganggu dengan ‘cara’ penulisan satria, mungkin karena media pages browser, tapi kalau dalam bentuk media cetak, mungkin akan terjadi masalah kecil, tapi selama tidak mengganggu isi dan maksud yang harus diterima pembaca saya pikir tidak masalah…
    btw luar biasa buat pengurus senat pensiun, dan proficiat buat senat yang menggantikan
    salam

  12. Gerald says:

    apa yang dilakukan oleh fungsionaris-fungsionaris SMU periode 07/08, merupakan suatu hal yang patut di contohi oleh LKF dan LKU yang berada di UKSW pada periode sekarang ini. perihal tentang tata cara pemberian Sembakonya sangat bagus, karena langsung kepada orang-orang yang membutuhkan, dan kenapa tata cara pemberiannya harus di permasalahkan yang penting diberikan dengan penuh keralaan dan tanpa paksaan itu yang penting………………………..

  13. DQ says:

    Para fungsionaris itu nampaknya bermaksud baik, tapi tidak dikelola dengan baik. Mungkin juga karena masih ditangani secara berpusat kepada diri mereka sendiri ketimbang berpusat kepada rakyat. Yang diinginkan adalah masyarakat melihat bahwa mereka bermaksud baik.
    Padahal rakyat miskin tidak butuh orang yang sekedar bermaksud baik (dalam perspektif pemberantasan kemiskinan, memang jadinya hanya “sekedar”), tetapi orang yang bermaksud baik dan secara baik menatanya. Karena kemiskinan hari ini tidak akan dihapus dengan pemberian sembako oleh pengurus LK UKSW.
    Oleh karena itu, sentilan SA memang sangat tepat dengan membandingkan pada apa yang dilakukan di Jawa Timur.
    Satu pertanyaan yang berkecamuk dalam benak saya adalah apa yang dilakukan melalui program LK UKSW mengenai pemberantasan kemiskinan? Pernah bikin seminar atau pelatihan bagi pemuda putus sekolah? atau mungkin program pemberian sembako yang berlangsung secara teratur dan berlanjut? Padahal sekarang ini kan Ditjen Dikti menyediakan banyak bantuan untuk program-program pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan mahasiswa (ada pejabatnya pernah ke UKSW gitu deh, ngomongin hal ini). Bisa ikut serta.
    Atau apakah LK UKSW pernah bikin lomba karya ilmiah yang berpusat pada isu pemberantasan kemiskinan?

  14. Theofransus Litaay says:

    Menarik juga ya isu ini sebenarnya, dibikin jadi program kerja saja.

  15. shinta says:

    pelaksanaan kegiatan bagi sembako kemaren bukan dengan tujuan untuk memberantas kemiskinan dan lain sebagainya. hal tersebut kami lakukan adalah bentuk ucapan syukur atas penyertaan yang maha kuasa selama satu tahun berjalan.
    kami melakukan ini dengan tulus dan berpikir bahwa bentuk ucapan syukur tidka harus dalam bentuk dan jaminan bahwa sembako itu mencukupi kebutuhan, jangankan hari ini untuk makan keluarga sehari juga kami tahu itu tidak cukup. tapi apalah untungnya ketika memaksakan diri harus atau sama dengan daerah yang lain. yang jelas pemmbagian sembako tepat pada sasarannya.
    pada saat pelaksanaan pun sambutan hangat dari para tukang becak dan yang lainnya sangat memuat lkami bahagia.
    trima kasih juga kepada teman2 yang melihat ini sebagai suatu hal yang baik tanpa meliha niominal tetapi melihat niat tulus.
    salam pembebasan.

  16. Febri says:

    @Tommy Bernadus : Trims atas masukannya

    @STR : Mungkin lebih baik kalau di jelaskan bila SA punya gaya sendiri. Oh yaa.. Buku tentang jurnalisme sangat banyak, bukan cuma karya kovach dan Tom R. Bahkan sebelum buku itu sudah ada buku yang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *