Senat Mahasiswa Universitas tenteng sembako ke jalan
Telah dilihat 391 kali sejak 23 July 2008SALATIGA — Senin siang, 21 Juli 2008, belasan mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana yang dikoordinir Senat Mahasiswa Universitas turun ke jalan. Beberapa menenteng kresek-kresek hitam. Yang lain memboyong kardus berisi kresek-kresek hitam. Mereka membagi diri jadi empat kelompok dan menyebar ke jalan Jenderal Sudirman, Diponegoro, Pattimura, dan Turen.
Kresek-kresek hitam yang mereka bawa adalah paket-paket sembako (sembilan bahan pokok — Red). Masing-masing paket berisi setengah kilo beras, setengah kilo gula pasir, dua bungkus mi instan, dan satu kemasan sabun colek. Total ada 137 paket yang mereka bawa dan bagikan gratis pada para tukang becak, sopir angkot, dan pengemis di empat jalan tersebut.
Dalam rangka apa?
“Ini dalam rangka ucapan syukur akhir periode SMU (Senat Mahasiswa Universitas — Red) tahun ini,” kata Selfina Alimbuto. Selfina adalah Bendahara Umum SMU sekaligus koordinator pembagian sembako.
Ide pembagian sembako muncul saat rapat evaluasi SMU, Kamis, 17 Juli 2008. Para fungsionaris SMU ingin membuat sesuatu yang beda pada akhir masa jabatan mereka, yang usai pada 18 Juli 2008. Semula, mereka ingin adakan ibadah pengucapan syukur. Lalu muncul wacana untuk berbakti sosial ke panti asuhan.
“Tapi karena di panti asuhan itu sudah sering orang-orang ke sana, jadi kita ganti (dengan) bakti sosial ke jalan,” terang Selfina.
Di jalan, para mahasiswa mendapat “sambutan hangat.” Ketika satu mahasiswa pemboyong kardus menyeberang jalan di depan bundaran Tamansari, para tukang becak dan sopir angkutan kota berlarian ke arahnya dan mengambil kresek-kresek dari dalam kardus. Waktu itu sekitar jam setengah dua siang. Jalan tidak sepi kendaraan.
Untung tak ada kecelakaan.
Kupon sembako
Menjelang Paskah tahun 2006, para pengurus OSIS SMA Kristen Petra 5 Surabaya ingin merayakan Paskah dengan berbakti sosial. Cara yang mereka tempuh sama dengan Senat Mahasiswa Universitas kali ini: bagi-bagi sembako gratis. Mereka membeli bahan-bahan kebutuhan pokok, lalu membaginya dalam paket-paket sembako yang dibungkus kresek hitam.
Tapi mereka tak menenteng paket-paket itu ke jalan.
Mereka mencetak kupon sejumlah dengan paket-paket sembako yang ada. “Kupon sembako” istilahnya. Berbekal kupon-kupon inilah mereka turun ke jalan, berbicara dengan orang-orang (tukang becak, penjaga warung, pemulung, pengemis), dan mengundang orang-orang itu datang ke sekolah sambil membawa kupon pada waktu yang sudah ditentukan. Di sekolah, kupon itu ditukar dengan paket sembako.
Para pengurus OSIS tersebut jadi tak perlu bawa beban yang relatif berat ketika turun ke jalan. Mereka juga tak menciptakan “antusiasme” masyarakat di tengah ramainya jalanan Surabaya. Sekolah pun jadi lebih “merakyat” karena banyak orang datang — tak hanya untuk ambil sembako, tapi juga jagongan dengan para siswa dan guru.
“Kita nggak kepikiran sampai situ kemarin,” kata Rambu Y. A. Sabaora, Ketua Umum Senat Mahasiswa Universitas.
“Kalo pakai kupon, nanti lebih repot karena harus urus cetaknya segala,” kata Selfina Alimbuto.

Komentar ke-15
13 August 2008 13:18
Perambah
pelaksanaan kegiatan bagi sembako kemaren bukan dengan tujuan untuk memberantas kemiskinan dan lain sebagainya. hal tersebut kami lakukan adalah bentuk ucapan syukur atas penyertaan yang maha kuasa selama satu tahun berjalan.
kami melakukan ini dengan tulus dan berpikir bahwa bentuk ucapan syukur tidka harus dalam bentuk dan jaminan bahwa sembako itu mencukupi kebutuhan, jangankan hari ini untuk makan keluarga sehari juga kami tahu itu tidak cukup. tapi apalah untungnya ketika memaksakan diri harus atau sama dengan daerah yang lain. yang jelas pemmbagian sembako tepat pada sasarannya.
pada saat pelaksanaan pun sambutan hangat dari para tukang becak dan yang lainnya sangat memuat lkami bahagia.
trima kasih juga kepada teman2 yang melihat ini sebagai suatu hal yang baik tanpa meliha niominal tetapi melihat niat tulus.
salam pembebasan.
Komentar ke-14
5 August 2008 17:36
Perambah
Menarik juga ya isu ini sebenarnya, dibikin jadi program kerja saja.
Komentar ke-13
4 August 2008 13:33
Perambah
Para fungsionaris itu nampaknya bermaksud baik, tapi tidak dikelola dengan baik. Mungkin juga karena masih ditangani secara berpusat kepada diri mereka sendiri ketimbang berpusat kepada rakyat. Yang diinginkan adalah masyarakat melihat bahwa mereka bermaksud baik.
Padahal rakyat miskin tidak butuh orang yang sekedar bermaksud baik (dalam perspektif pemberantasan kemiskinan, memang jadinya hanya “sekedar”), tetapi orang yang bermaksud baik dan secara baik menatanya. Karena kemiskinan hari ini tidak akan dihapus dengan pemberian sembako oleh pengurus LK UKSW.
Oleh karena itu, sentilan SA memang sangat tepat dengan membandingkan pada apa yang dilakukan di Jawa Timur.
Satu pertanyaan yang berkecamuk dalam benak saya adalah apa yang dilakukan melalui program LK UKSW mengenai pemberantasan kemiskinan? Pernah bikin seminar atau pelatihan bagi pemuda putus sekolah? atau mungkin program pemberian sembako yang berlangsung secara teratur dan berlanjut? Padahal sekarang ini kan Ditjen Dikti menyediakan banyak bantuan untuk program-program pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan mahasiswa (ada pejabatnya pernah ke UKSW gitu deh, ngomongin hal ini). Bisa ikut serta.
Atau apakah LK UKSW pernah bikin lomba karya ilmiah yang berpusat pada isu pemberantasan kemiskinan?
Komentar ke-12
2 August 2008 20:15
Perambah
apa yang dilakukan oleh fungsionaris-fungsionaris SMU periode 07/08, merupakan suatu hal yang patut di contohi oleh LKF dan LKU yang berada di UKSW pada periode sekarang ini. perihal tentang tata cara pemberian Sembakonya sangat bagus, karena langsung kepada orang-orang yang membutuhkan, dan kenapa tata cara pemberiannya harus di permasalahkan yang penting diberikan dengan penuh keralaan dan tanpa paksaan itu yang penting………………………..
Komentar ke-11
2 August 2008 7:43
Perambah
saya pembaca awam, saya merasa tidak terganggu dengan ‘cara’ penulisan satria, mungkin karena media pages browser, tapi kalau dalam bentuk media cetak, mungkin akan terjadi masalah kecil, tapi selama tidak mengganggu isi dan maksud yang harus diterima pembaca saya pikir tidak masalah…
btw luar biasa buat pengurus senat pensiun, dan proficiat buat senat yang menggantikan
salam