Tribal Fusion Ads

Poin, Apatisme, Kegiatan

Opini ini telah dilihat 1,229 kali sejak 8 August 2008

Lembaga Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana menerapkan sistem kartu poin sejak 2000. Inikah cara terbaik memotivasi mahasiswa untuk berkegiatan?

Malam itu hati Surya Probo Kusuma sumringah. Dia baru menang pemilihan langsung ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi periode 2008/2009. Dia berhasil mengungguli Irinues Sukma Anggara, yang setingkat lebih tinggi angkatannya.

Pemilihan langsung ketua Sema FE sebenarnya melanggar Ketentuan Umum Keluarga Mahasiswa, yang beramanat: ketua senat mahasiswa fakultas dipilih oleh badan perwakilan mahasiswa fakultas. Tapi Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ekonomi tetap ngotot, ketua Sema FE yang baru harus dipilih mahasiswa secara langsung. Selama beberapa hari, satuan tugas BPM FE masuk ke kelas-kelas kuliah, mengumpulkan suara mahasiswa.

“BPM (FE) sendiri juga berkaca, apakah selama ini sudah mampu merepresentasikan suara mahasiswa. Kan nggak to?” kata Yosua Yoga Wicaksono, Ketua Umum BPM FE. Dia berpendapat, pemilihan langsung membuat mahasiswa bisa menentukan pemimpinnya sendiri sesuai harapan.

Namun ada mahasiswa yang tak setuju dengan keputusan BPM FE. Mereka mempertanyakan legitimasi keputusan tersebut, juga mengritik integritas kedua kandidat.

“Mereka berdua munafik,” ujar Katarinus Andikaputra, mahasiswa FE angkatan 2003 yang pernah menjabat Sekretaris Umum Senat Mahasiswa Universitas. Menurut Andika, kedua kandidat sadar bahwa pemilihan langsung melanggar KUKM, tapi mereka justru mendukung pelanggaran tersebut dengan ikut proses pemilihan.

“Ini nggak sah ini.” Sudarwin Purba, salah seorang alumni FE, ikut berkomentar. Darwin adalah mantan Ketua Umum Sema FE, dua periode sebelum Surya.

Suara-suara tersebut sempat mengusik kesumringahan Surya, meski hanya sebentar. Para pemrotes rupanya bertindak sejauh di bibir saja.

Sekitar sejam kemudian, dua pesan singkat masuk ke telepon genggam Surya.

“Barusan terpilih, sudah ada mahasiswa mau ngurus poin,” bisik Surya pada saya, setelah membaca dua pesan tersebut. Malam itu, 23 Juli 2008, seusai penghitungan suara pemilihan ketua Sema FE, kami berkumpul di rumah satu teman dari Fakultas Pertanian. Ada rapat merancang organisasi Aliansi Mahasiswa Peduli Sampah bersama beberapa mahasiswa. Saya tak menyangka, permintaan pelayanan poin begitu cepat sampai pada Surya. Dan lebih tak menyangka lagi, permintaan tersebut begitu bertubi-tubi.

Pada 6 Agustus 2008 Surya kembali mengeluh. “Kemarin pas aku tes itu ada sepuluh SMS, enam missed call.” Semuanya minta pelayanan poin. Surya bilang, hampir seluruh waktunya di Sema FE tersita untuk poin.

***

Akhir Agustus 2008, Fakultas Ekonomi akan menyelenggarakan ujian sarjana. Semua prasyarat ujian — termasuk kartu poin — sudah harus terkumpul paling lambat 6 Agustus 2008. Rina Wiandani adalah salah satu peserta ujian tersebut. Dia mahasiswa FE angkatan 2004, mengambil program studi Manajemen.

Sistem kartu poin mulai berlaku di FE sejak 2000. Setiap mengikuti kegiatan kemahasiswaan, mahasiswa mendapat poin sesuai partisipasinya dalam kegiatan tersebut. Ada standar poin minimal — 250 poin — yang dipatok Lembaga Kemahasiswaan FE dan diwajibkan pada mahasiswa. Jika tak memenuhi standar, mahasiswa tak bisa maju ujian.

Semula Rina tak kuatir kekurangan poin. Meski tak pernah memeriksa administrasi kartu poinnya di kantor Sema FE, tapi dia merasa “cukup sering” ikut kegiatan Sema FE dan menyimpan sertifikat-sertifikatnya.

“Perkiraan saya, saya sudah punya poin sekitar dua ratus gitu.”

Setelah dicek di kantor Sema FE, ternyata poin Rina cuma 185. Dia terancam tak bisa maju ujian.

Singkat cerita, Rina lalu berusaha melobi para fungsionaris Sema FE. Dia kumpulkan sertifikat-sertifikat kegiatannya untuk memastikan jumlah poin. Rupanya ada kegiatan yang belum tercatat poinnya. Dari sini, Rina kemudian mendapat tambahan poin sebanyak limapuluh. Masih kurang limabelas poin lagi untuk bisa ujian.

Rina baru berhasil memenuhi standar 250 poin pada 5 Agustus 2008. Dia harus pontang-panting membuktikan bahwa dia pernah terlibat dalam beberapa kepanitiaan di luar kampus.

“Pokoknya saya berjuang.”

Tapi kenapa perjuangan tidak dilakukan dari awal kuliah? Kenapa menunggu terdesak dulu baru berjuang?

“Karena ada kewajiban sistem poin, jadi saya mikirnya poin terus. Empat tahun saya (kuliah) di sini belum pernah lihat kegiatan dari materi atau kualitas, selalu poin.”

“Jadi kalo ada dua kegiatan, yang satu materinya menarik tapi nggak ada poin, dan satunya lagi materinya nggak menarik tapi ada poin, saya pasti pilih yang ada poinnya.”

Motivasi Rina ada sepenuhnya pada poin. Dan motivasi “yang semata-mata poin” rupanya tak cukup membuatnya sadar diri untuk “memperjuangkan” poin sejak awal dengan rajin berkegiatan.

Pinkan Margaretha Indira, dosen Fakultas Psikologi, mengemukakan bahwa dalam teori motivasi dikenal motivasi ekstrinsik dan intrinsik. Motivasi ekstrinsik berasal dari luar individu, sedangkan yang intrinsik berasal dari dalam. Poin termasuk sumber motivasi ekstrinsik. Materi atau kualitas kegiatan juga termasuk sumber ekstrinsik. Tapi poin punya legitimasi dengan sistem kartu poin, sedangkan kualitas kegiatan? Toh berkualitas tidaknya kegiatan bukan prasyarat ujian. Yang penting mahasiswa ikut kegiatan, berkualitas atau tidak, tapi kartu poin bisa terisi, dan prasyarat pun terpenuhi. Ini membuat poin lebih kuat menarik mahasiswa, meski ketertarikan itu bersifat semu.

Berbeda dengan orang yang memang berkegiatan dengan motivasi intrinsik, dengan kesadaran diri sendiri. Tanpa susah payah dimotivasi pun mereka akan jalan.

“Orang bisa mulai dari motivasi ekstrinsik dulu, lalu berubah ke motivasi intrinsik,” jelas Pinkan.

Tapi untuk bisa seperti itu kegiatan harus benar-benar berkualitas, agar manfaatnya bisa dirasakan individu, dan menumbuhkan motivasi intrinsik.

“Ya.” Pinkan membenarkan.

***

Rudy Latuperissa dosen yang ramah. Dia dikenal dekat dengan mahasiswa. Mengobrol bareng di kafe, berdiskusi, adalah menunya sehari-hari jika jam istirahat tiba. Rudy adalah alumni FE, dan sekarang mengajar di Fakultas Teknologi Informasi. Bidang keahliannya perilaku organisasi. Rudy juga mantan aktivis LK FE. Dia pernah menjabat Ketua Umum Sema FE periode 2000/2001. Pada 6 Agustus 2008, saya makan siang bareng Rudy dan Surya, yang berlanjut dengan diskusi, tentu saja.

Saya menanyakan dasar konseptual sistem kartu poin pada Rudy. Menurut Rudy, pemberlakuan sistem tersebut berawal dari keinginan mengajak mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan humanistik seimbang dengan kemampuan profesional. Caranya dengan mengadakan kegiatan-kegiatan sebagai wahana pengembangan kemampuan tersebut. Namun jumlah mahasiswa FE saat itu sangat banyak. FE adalah fakultas “gemuk.”

“Saking gemuknya, banyak mahasiswa apatis (terhadap kegiatan),” kenang Rudy.

Setelah berstudi banding ke Universitas Kristen Petra, Surabaya, didapatlah satu model sistem yang dirasa cocok untuk meningkatkan motivasi mahasiswa mengikuti kegiatan. Di UKP, model itu disebut “point star.” Ketika diterapkan di UKSW, sebutannya berubah jadi “point card” atau “kartu poin.”

“Memang kesannya agak sedikit memaksa. Tapi pada akhirnya, akan memberi dampak yang positif juga buat mahasiswa,” jelas Eko Suseno, mantan aktivis LK FE yang ikut menggagas kartu poin. (Scientiarum, 10 Desember 2007)

Apakah apatisme mahasiswa murni bersumber dari dirinya sendiri? Rudy Latuperissa mengakui, LK sendiri mungkin turut berkontribusi atas apatisme tersebut.

“Mungkin LK terlalu eksklusif, prosedur-prosedurnya ribet, tujuan LK bias.”

“Jadi gimana ya caranya, untuk memoles LK (dan kegiatannya) itu biar bisa seperti wanita cantik, sehingga orang bisa tertarik datang untuk meminang tanpa harus dipaksa.”

Ya, bagaimana? Mungkin perlu evaluasi dulu?

“Tahun 2003 saya usul sistem itu dievaluasi,” kata Rudy. Menurut Rudy, tak hanya hal teknis yang harus dievaluasi. Konsepnya juga perlu disesuaikan dengan kondisi sekarang. Tapi rupanya usul Rudy tak dijalankan. “Sama, sampai sekarang juga belum (ada evaluasi),” sambung Surya.

Saya merinding. Sudah sekian tahun berlalu, tapi evaluasi tak juga berjalan. Apakah LK FE sudah merasa paling benar? Dalam hati saya berteriak, “LK FE fasis!”

***

Sebelum kemelut 1994, di Satya Wacana ada satu departemen pengelola matakuliah lintas disiplin ilmu, yakni Departemen Matakuliah Umum. Sayangnya departemen ini dibubarkan karena “alasan politis,” ujar Paulus Triarso. Triarso adalah staf Biro Kemahasiswaan, yang dulu sempat mengajar di DMU. DMU waktu itu disebut sebagai salah satu basis dosen yang tak setuju dengan rektorat pimpinan John Ihalauw.

“Saya ikut moratorium (menentang Ihalauw) waktu itu,” kata Triarso.

Apa istimewanya DMU?

“Materi-materi yang diajarkan di situ justru lebih matang, karena melibatkan banyak disiplin ilmu,” jelas Triarso. “Dan dosen-dosen harus lebih siap karena menghadapi banyak mahasiswa dengan latar belakang yang beragam dengan pola pikir berbeda-beda.”

Theofransus Alexander Litaay, alumni Fakultas Hukum angkatan 1989 yang kini mengajar di almamaternya, mengatakan pada saya bahwa perencanaan perkuliahan di DMU sangat baik. Theo mengaku tidak pernah melupakan isi matakuliah Etika Kristen yang diajarkan waktu itu — dulu tidak di bawah Fakultas Teologi. Materi perkuliahan di DMU “bahkan mampu memberikan banyak inspirasi kepada mahasiswa untuk melahirkan berbagai kegiatan bermutu melalui LK,” kenang Theo.

“Matakuliah umum (adalah) wajib pilihan. Jadi ada banyak matakuliah, dan ada sejumlah kredit minimal yang harus dipenuhi mahasiswa. Misalnya, karena DMU mewadahi kegiatan latihan karawitan, maka saya yang orang Ambon pun pernah belajar gamelan. Kemudian pada waktu LK mengadakan Pekan Ilmiah Mahasiswa, para peserta diajak untuk ’kursus kilat’ main gamelan. Ini komunikasi antarbudaya yang akan lama membekas dan berdampak positif.”

”Dan model perkuliahannya banyak diskusi.”

”Ada beberapa orang yang sangat menikmati matakuliah DMU.”

Menurut Theo, penanaman nilai humaniora dan penguatan kapasitas profesional mahasiswa saat itu bisa berjalan baik karena tidak hanya digantungkan pada LK. ”LK hanya satu bagian saja.” Di bagian lain ada DMU, Lembaga Penelitian Universitas, Lembaga Pengabdian Masyarakat, dan sebagainya.

Coba bandingkan dengan keadaan sekarang, dimana LK jadi tulang punggung bagi kegiatan-kegiatan penanaman nilai dan penguatan kapasitas.

Orang-orang di LK datang dan pergi. Sedangkan para konseptor DMU dulu relatif tetap. Dari segi keberlanjutan, kondisi LK tidak menguntungkan. Apalagi belum ada mekanisme pengelolaan pengetahuan yang sistematis, agar nafas dan semangat kegiatan dari periode ke periode tidak hilang.

”Itu satu Mas. Yang kedua, kualitas mahasiswa kita sekarang dengan yang dulu sudah beda jauh,” jelas Theo pada saya. Theo bilang, proses penerimaan mahasiswa di Satya Wacana dulu sangat selektif. Celah hanya ada bagi ”bibit-bibit unggul.”

”Modal sosial kita juga hancur pascakonflik (1994). Sekarang ini kita baru merajut kembali. Tapi kerusakan yang ditinggalkan sangat parah.”

Dalam kondisi serba parah itulah generasi Rudy Latuperissa dan Eko Suseno muncul, lalu memimpin LK. Mereka berada dalam posisi yang lebih sulit dari pendahulunya, tapi beban yang ditimpakan jauh lebih besar. Dan mereka memaksa mahasiswa ikut menanggung beban tersebut dengan sistem kartu poin. Kondisi ini jadi warisan turun-temurun, hingga Surya Probo Kusuma sekarang.

Tag: ,

46 komentar telah masuk. Apa pendapat Anda?

Halaman: [5] 4 3 2 1 » Lihat Semua

  1. Komentar no. 46

    Catatan saya:

    Dalam berbagai diskusi tentang model pendidikan, sudah banyak pakar menilai bahwa pendidikan di dalam dan di luar kelas perlu berkombinasi untuk mencapai hasil belajar yang efektif. Telah cukup banyak argumen dibangun yang mendorong pendekatan yang transdisiplin, termasuk melalu aktivitas penunjang. Itu mengapa model pendidikan liberal arts di Amerika tetap eksis sampai hari ini. Dalam model itu, mahasiswa yang aktif di kegiatan atletik, seni, dan macam2 aktivitas non akademik sama dihargainya dengan mereka yang berprestasi di dalam mata kuliah atau secara akademik. Kalau bisa excellent di kedua bidang itu dan ada cukup banyak contoh untuk yang kombinatif. Satu contoh, saya kaget juga mendengar bahwa gitaris kelompok musik Queen, Bryan May, ternyata seorang mahasiswa doktoral di bidang Fisika dan setelah sekian lama bertualang di dunia musik akhirnya menerima gelar PhD-nya setelah menyerahkan tesisnya berjudul: .”Radial Velocities in the Zodiacal Dust Cloud”. Luar biasa!!! Tahukan Anda juga dengan Bono, vokalis group U2 yang juga seorang penerima doktor honoraris di bidang hukum dari Keio University di Jepang dan Univ. of Pennsylvanya di AS karena aktivitas anti-kemiskinan dan masalah2 kemanusiaan lainnya? Coba simak lirik2 lagunya, betapa intelektual dan humanis orang ini. Jadi, be careful dengan pola pikir sempit kita tentang apa itu pendidikan/belajar dan kemampuan manusia.

    Debat kita soal wajib atau sukarela telah cukup panjang. Saya pendukung pendekatan sukarela, tetapi kondisi kita tidak memungkinkan untuk yang sukarela itu terjadi. Apakah harus dibiarkan? Di sisi lain, kami belajar justru dari para senior/alumni yang berhasil dan khususnya yang menekankan pentingnya kegiatan berorganisasi di masa kuliah. Justru ada di antara mereka yang tidak ‘cerdas-cerdas’ amat di bidang akademik waktu kuliah, tetapi sangat cerdas di tempat kerjanya dan berhasil. Ini menunjukkan ‘kegagalan’ model dan praktik pendidikan kita. Kesimpulan fatal yang bisa dibuat adalah percuma saja dididik. Namun, kita harus lebih berani menyiasati pendekatan pendidikan kita untuk mengatasi ‘kegagalan’ itu.

    Saya pernah menulis di bagian lain, bahwa saya sangat surprise sebuah college kecil, St Olaf, di sebuah kota kecil, Northfield, di Minnesota, AS dengan mahasiswa cuma 2900an memiliki lebih dari 150 organisasi kemahasiswaan, yang berorientasi akademik maupun non akademik. Artinya, mahasiswa mereka karena minatnya bisa membentuk organisasi untuk mewadahi aktivitas belajar mereka dan mereka sudah tunjukkan itu, sekitar 10 kali jumlah kita di FE yang di tahun 2005 jumlah mahasiswanya sama dengan mereka dan masih cukup jauh lebih banyak dari seluruh jumlah organisasi kemahasiswaan di UKSW yang jumlah mahasiswanya sekitar 5 kali dari jumlah mahasiswa St Olaf.

    Pertanyaannya lalu, kenapa begitu? Apakah aktivitas berorganisasi mereka tidak berbenturan dengan aktivitas kuliah mereka? Dugaan saya, kadang2 berbenturan. Misalnya, kalau pas ada pertandingan atletik di kampus St Olaf atau di kampus lain, pasti akan menabrak kuliah mereka. Apakah lalu si atlet berantakan kuliahnya? Mungkin. Namun, saya pernah menyaksikan dengan mata saya, seorang atlet mahasiswa (karena menyaksikan pertandingan lari di lintasan lari in-door nya St Olaf) belajar lama di perpustakaan (kebetulan saya duduk di meja yang berdekatan dengan ybs). Jika selama ini konotasi mereka yang aktif di kegiatan non akademik (organisasi kemahasiswaan atau jadi atlet, misalnya) seringkali peyot di kegiatan akademik dan seringkali bolos, tidak kumpul tugas, malas belajar etc, maka contoh anak itu adalah gambaran yang berbeda. Setahu saya, sejumlah aktivis kemahasiswaan yang sempat saya ajak omong-omong selama hidup 3 bulan lebih di St Olaf adalah mahasiswa2 yang juga baik prestasinya di bidang akademik. Jadi, dikotomi akademik versus non akademik dalam pandangan kita selama ini perlu dipatahkan atau ditinggalkan.

    Problem utama yang sampai hari ini saya concern dalam konteks pendidikan di universitas di Indonesia adalah terlalu banyaknya beban sks dan jumlah mata kuliah. Hampir tidak ada negara yang ’sehebat’ Indonesia dalam hal ini. Karena kondisinya yang demikian, untuk belajar serius saja (aktif membaca sebelum dan setelah kuliah untuk setiap mata kuliah, aktif menerima dan mengerjakan tugas, aktif berdiskusi di dalam dan luar kelas, etc..yang menjadi ciri2 deep learning) sudah sulit, apalagi mau kombinasi belajar (untuk mata kuliah) dan ‘belajar’ (melalui aktivitas2 penunjang). Ini saya pahami sebagai masalah serius dan sulit dipecahkan.

    Namun, proposal saya untuk merespon hal ini sudah saya sampaikan dalam bagian diskusi yang lain. 1) Dikti dituntut kurangi beban sks, hal yang sangat sulit. 2) Kurangi beban sks dalam satu term belajar (entah semester, trimester, dimester, atau apapun formatnya). Namun, karena sulit mencapai maksud itu dalam format semester, maka pilihan saya adalah trimester dan disertai dengan perombakan kurikulum secara radikal, termasuk dalam pengertian method of delivery-nya. Mata kuliah yang sedikit tetapi kegiatan belajar yang banyak adalah yang seharusnya kita pilih. Dan, kegiatan belajar yang dimaksud adalah termasuk belajar melalui aktivitas di luar kelas, misalnya mengikuti kelompok diskusi mahasiswa, menghadiri seminar, mengikuti lomba karya ilmiah, lomba debat, berorganisasi (apalagi mahasiswa manajemen), berolahraga, berkesenian, berkegiatan lingkungan (ingat concern CSR yang makin kental dewasa ini). Semua itu ada dan besar manfaatnya. Jangan gagal memahami dan menyesal kemudian hari. Kampus UKSW harus menjadi kampus yang ramai aktivitasnya, sama seperti ramainya pasar tradisional di pagi hari.

    Silahkan baca bukunya Howard Gardner Five Minds for the Future. Yang kita ingin bentuk adalah kapabilitas manusia, bukan sekedar nilai dan ada tidaknya pengalaman. Dan, kapabilitas yang disebut Gardner, dan para pakar lainnya, adalah sesuatu yang terbentuk dari dan karena kita sering beraktivitas dan merelevansikan pengetahuan kita dalam konteks hidup sehari-hari, sesederhana apapun itu. Ambil contoh, mahasiswa belajar budgeting, tetapi menyusun anggaran kepanitiaan lomba jalan sehat saja tidak becus. Mahasiswa belajar strategi pemasaran, tetapi gagal memromosikan kegiatan kemahasiswaannya dengan baik. Mahasiswa belajar kepemimpinan, tetapi memimpin sebuah panitia kecil saja dinilai otoriter dan tidak bertanggung jawab. Dan, masih banyak lagi irrelevansi seperti itu. Akankah kita tunggu sampai di dunia kerja dulu baru kita sadari?

  2. Komentar no. 45

    @sally hutapea
    saya setuju banget sama pendapat Anda. Sistem poin yg berlaku saat ini di UKSW benar2 memberatkan bagi mahasiswa yg memang pd dasarnya tdk suka berorganisasi. Memang saya menyadari ucapan Pak Umbu Rauta waktu orientasi dulu ada benarnya, bahwa di dunia kerja tidak hanya dilihat nilai2 kita saja, tp juga pengalaman berorganisasi, tp kalo dgn sistem poin begini jd berat juga, blm lagi hrs mikirin nilai2 dan tugas kuliah. Entah berapa taun lagi saya bisa lulus nih.

  3. Komentar no. 44

    Kalau jaman saya kuliah dulu (91-95) diterapkan sistem point card ini, bisa-bisa saya gak bisa maju skripsi karena jarang ikut kegiatan LK, hehe. Mestinya harus disadari tidak semua orang (mahasiswa) tertarik dengan kegiatan lembaga kemahasiswaan. Minat kan gak bisa dipaksa. Jaman saya kuliah dulu, kegiatan LK yang saya ikuti kadang-kadang menghabiskan energi karena seringnya rapat koordinasi yang seringkali gak jelas juntrungannya. Bahkan karena sibuk mempersiapkan ini itu (misalnya kalau akan mengadakan seminar, pertunjukan musik, PIM atau bazaar) panitia sering harus bolos kuliah dan akhirnya keteteran waktu tes tengah semester atau tes akhir semester. Akhirnya, mahasiswa yang serius belajar kebanyakan ‘ogah’ diajak masuk LK dan memilih jadi mahasiswa ‘pasif’ saja, yang penting cepat lulus, nilai bagus, dan cepat kerja. Meskipun demikian, saya bersyukur sempat berkecimpung di dunia LK walau sedikit. Pengalaman itu memberikan warna lain bagi kehidupan perkuliahan saya yang kadang2 cenderung rutin dan membosankan. Namun saya berempati pada teman2 mahasiswa yang saat ini terpaksa pontang-panting mengumpulkan point untuk sesuatu yang kurang diminati. Janganlah mahasiswa jadi korban, bahkan sampai puasa untuk membayar biaya seminar. Biarkan seleksi alam terjadi, fokuslah pada mahasiswa yang benar-benar berminat untuk berorganisasi dan mulailah dari mereka untuk memotivasi yang lain. Lebih baik sedikit tapi berkualitas daripada banyak tetapi terpaksa. Just my two cents untuk UKSWku tercinta.

  4. Komentar no. 43

    point card… wyuh… no comment.. (Daripada comment n kena sensor… :P)
    NB. Sebenarnya kalo kegiatannya ga bayar sih ga masalah yach…
    yang bikin masalah itu kan karena kegiatanya mahal2… kalo yang banyak duit sih no problemo.. tp.. buat yang pas2an (kaya aq nie… hiks)… sekali seminar = uang makan seminggu… wedew… bahkan kadang dibela2in puasa demi memenuhi poin… duh… sengsaranya…

  5. Komentar no. 42

    OK…
    Jika kita berbicara tentang IDEALISME.
    Sekarang idealisme apa yang dipegang oleh semua…atau kebanyakan mahasiswa UKSW???

    Saya percaya idealisme mahasiswa dulu akan berbeda dengan yang sekarang (saya salut dengan kakak2 mahasiswa dulu).

    Saya melihat sebenarnya bahwa dengan diterapkannya PC ini malah akan menciptakan sebuah idealisme baru: IDEALISME POINT CARD : “Apapun yang saya kerjakan hanya untuk memenuhi target Point semata”.

    Saya rasa yang perlu kita lihat sekarang ( untuk UKSW tercinta ini) adalah: Kita perlu belajar lagi mengenai Idealisme yang benar2 ideal untuk mahasiswa (tentunya jangan lagi dengan iming2 Point).

    God Bless

  6. Komentar no. 41

    @all saatnya menunjukkan prestasi…jadi adik-adik mahasiswa baru perlu dikasih teladan supaya ikut berprestasi..GBU

Halaman: [5] 4 3 2 1 » Lihat Semua

Berikan pendapat anda. Bergabung dalam diskusi.

SETUJU TAK SETUJU. Lapis-lapis kebenaran senantiasa mengalami penyempurnaan, lewat kritik dan koreksi. Anda bisa kirim kritik dan koreksi untuk artikel di atas lewat kolom komentar di bawah. Anda juga bisa menulisnya dalam sebuah artikel baru, atau surat pembaca, yang dikirim lewat form kontak yang tersedia. Redaksi berhak menyunting setiap naskah yang masuk sejauh tidak mengubah makna dan substansinya.

BACA SEMUA. Artikel di atas dan komentar di bawah adalah satu keutuhan. Jika hendak ikut diskusi, baca semua terlebih dahulu, agar pemahaman Anda utuh, dan komentar Anda tak keluar dari konteks pembicaraan.

UNJUK MUKA. Anda juga bisa tampilkan wajah atau logo Anda setiap kali berkomentar di sini. Mendaftarlah di Gravatar.com dan ikuti petunjuknya. Atau Anda masih ingin pakai anonimitas tanda tanya? :) Silakan ....

HARAP SABAR. Setiap komentar akan melewati proses moderasi sebelum tampil. Silakan berkomentar dengan sopan dan bertanggungjawab. Komentar anonim atau alias tetap diperbolehkan, namun kami mengimbau agar anda sudi menunjukkan identitas asli.

SPONSOR LINK