Poin, Apatisme, Kegiatan

Browse By

Lembaga Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana menerapkan sistem kartu poin sejak 2000. Inikah cara terbaik memotivasi mahasiswa untuk berkegiatan?

Malam itu hati Surya Probo Kusuma sumringah. Dia baru menang pemilihan langsung ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi periode 2008/2009. Dia berhasil mengungguli Irinues Sukma Anggara, yang setingkat lebih tinggi angkatannya.

Pemilihan langsung ketua Sema FE sebenarnya melanggar Ketentuan Umum Keluarga Mahasiswa, yang beramanat: ketua senat mahasiswa fakultas dipilih oleh badan perwakilan mahasiswa fakultas. Tapi Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ekonomi tetap ngotot, ketua Sema FE yang baru harus dipilih mahasiswa secara langsung. Selama beberapa hari, satuan tugas BPM FE masuk ke kelas-kelas kuliah, mengumpulkan suara mahasiswa.

“BPM (FE) sendiri juga berkaca, apakah selama ini sudah mampu merepresentasikan suara mahasiswa. Kan nggak to?” kata Yosua Yoga Wicaksono, Ketua Umum BPM FE. Dia berpendapat, pemilihan langsung membuat mahasiswa bisa menentukan pemimpinnya sendiri sesuai harapan.

Namun ada mahasiswa yang tak setuju dengan keputusan BPM FE. Mereka mempertanyakan legitimasi keputusan tersebut, juga mengritik integritas kedua kandidat.

“Mereka berdua munafik,” ujar Katarinus Andikaputra, mahasiswa FE angkatan 2003 yang pernah menjabat Sekretaris Umum Senat Mahasiswa Universitas. Menurut Andika, kedua kandidat sadar bahwa pemilihan langsung melanggar KUKM, tapi mereka justru mendukung pelanggaran tersebut dengan ikut proses pemilihan.

“Ini nggak sah ini.” Sudarwin Purba, salah seorang alumni FE, ikut berkomentar. Darwin adalah mantan Ketua Umum Sema FE, dua periode sebelum Surya.

Suara-suara tersebut sempat mengusik kesumringahan Surya, meski hanya sebentar. Para pemrotes rupanya bertindak sejauh di bibir saja.

Sekitar sejam kemudian, dua pesan singkat masuk ke telepon genggam Surya.

“Barusan terpilih, sudah ada mahasiswa mau ngurus poin,” bisik Surya pada saya, setelah membaca dua pesan tersebut. Malam itu, 23 Juli 2008, seusai penghitungan suara pemilihan ketua Sema FE, kami berkumpul di rumah satu teman dari Fakultas Pertanian. Ada rapat merancang organisasi Aliansi Mahasiswa Peduli Sampah bersama beberapa mahasiswa. Saya tak menyangka, permintaan pelayanan poin begitu cepat sampai pada Surya. Dan lebih tak menyangka lagi, permintaan tersebut begitu bertubi-tubi.

Pada 6 Agustus 2008 Surya kembali mengeluh. “Kemarin pas aku tes itu ada sepuluh SMS, enam missed call.” Semuanya minta pelayanan poin. Surya bilang, hampir seluruh waktunya di Sema FE tersita untuk poin.

***

Akhir Agustus 2008, Fakultas Ekonomi akan menyelenggarakan ujian sarjana. Semua prasyarat ujian — termasuk kartu poin — sudah harus terkumpul paling lambat 6 Agustus 2008. Rina Wiandani adalah salah satu peserta ujian tersebut. Dia mahasiswa FE angkatan 2004, mengambil program studi Manajemen.

Sistem kartu poin mulai berlaku di FE sejak 2000. Setiap mengikuti kegiatan kemahasiswaan, mahasiswa mendapat poin sesuai partisipasinya dalam kegiatan tersebut. Ada standar poin minimal — 250 poin — yang dipatok Lembaga Kemahasiswaan FE dan diwajibkan pada mahasiswa. Jika tak memenuhi standar, mahasiswa tak bisa maju ujian.

Semula Rina tak kuatir kekurangan poin. Meski tak pernah memeriksa administrasi kartu poinnya di kantor Sema FE, tapi dia merasa “cukup sering” ikut kegiatan Sema FE dan menyimpan sertifikat-sertifikatnya.

“Perkiraan saya, saya sudah punya poin sekitar dua ratus gitu.”

Setelah dicek di kantor Sema FE, ternyata poin Rina cuma 185. Dia terancam tak bisa maju ujian.

Singkat cerita, Rina lalu berusaha melobi para fungsionaris Sema FE. Dia kumpulkan sertifikat-sertifikat kegiatannya untuk memastikan jumlah poin. Rupanya ada kegiatan yang belum tercatat poinnya. Dari sini, Rina kemudian mendapat tambahan poin sebanyak limapuluh. Masih kurang limabelas poin lagi untuk bisa ujian.

Rina baru berhasil memenuhi standar 250 poin pada 5 Agustus 2008. Dia harus pontang-panting membuktikan bahwa dia pernah terlibat dalam beberapa kepanitiaan di luar kampus.

“Pokoknya saya berjuang.”

Tapi kenapa perjuangan tidak dilakukan dari awal kuliah? Kenapa menunggu terdesak dulu baru berjuang?

“Karena ada kewajiban sistem poin, jadi saya mikirnya poin terus. Empat tahun saya (kuliah) di sini belum pernah lihat kegiatan dari materi atau kualitas, selalu poin.”

“Jadi kalo ada dua kegiatan, yang satu materinya menarik tapi nggak ada poin, dan satunya lagi materinya nggak menarik tapi ada poin, saya pasti pilih yang ada poinnya.”

Motivasi Rina ada sepenuhnya pada poin. Dan motivasi “yang semata-mata poin” rupanya tak cukup membuatnya sadar diri untuk “memperjuangkan” poin sejak awal dengan rajin berkegiatan.

Pinkan Margaretha Indira, dosen Fakultas Psikologi, mengemukakan bahwa dalam teori motivasi dikenal motivasi ekstrinsik dan intrinsik. Motivasi ekstrinsik berasal dari luar individu, sedangkan yang intrinsik berasal dari dalam. Poin termasuk sumber motivasi ekstrinsik. Materi atau kualitas kegiatan juga termasuk sumber ekstrinsik. Tapi poin punya legitimasi dengan sistem kartu poin, sedangkan kualitas kegiatan? Toh berkualitas tidaknya kegiatan bukan prasyarat ujian. Yang penting mahasiswa ikut kegiatan, berkualitas atau tidak, tapi kartu poin bisa terisi, dan prasyarat pun terpenuhi. Ini membuat poin lebih kuat menarik mahasiswa, meski ketertarikan itu bersifat semu.

Berbeda dengan orang yang memang berkegiatan dengan motivasi intrinsik, dengan kesadaran diri sendiri. Tanpa susah payah dimotivasi pun mereka akan jalan.

“Orang bisa mulai dari motivasi ekstrinsik dulu, lalu berubah ke motivasi intrinsik,” jelas Pinkan.

Tapi untuk bisa seperti itu kegiatan harus benar-benar berkualitas, agar manfaatnya bisa dirasakan individu, dan menumbuhkan motivasi intrinsik.

“Ya.” Pinkan membenarkan.

***

Rudy Latuperissa dosen yang ramah. Dia dikenal dekat dengan mahasiswa. Mengobrol bareng di kafe, berdiskusi, adalah menunya sehari-hari jika jam istirahat tiba. Rudy adalah alumni FE, dan sekarang mengajar di Fakultas Teknologi Informasi. Bidang keahliannya perilaku organisasi. Rudy juga mantan aktivis LK FE. Dia pernah menjabat Ketua Umum Sema FE periode 2000/2001. Pada 6 Agustus 2008, saya makan siang bareng Rudy dan Surya, yang berlanjut dengan diskusi, tentu saja.

Saya menanyakan dasar konseptual sistem kartu poin pada Rudy. Menurut Rudy, pemberlakuan sistem tersebut berawal dari keinginan mengajak mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan humanistik seimbang dengan kemampuan profesional. Caranya dengan mengadakan kegiatan-kegiatan sebagai wahana pengembangan kemampuan tersebut. Namun jumlah mahasiswa FE saat itu sangat banyak. FE adalah fakultas “gemuk.”

“Saking gemuknya, banyak mahasiswa apatis (terhadap kegiatan),” kenang Rudy.

Setelah berstudi banding ke Universitas Kristen Petra, Surabaya, didapatlah satu model sistem yang dirasa cocok untuk meningkatkan motivasi mahasiswa mengikuti kegiatan. Di UKP, model itu disebut “point star.” Ketika diterapkan di UKSW, sebutannya berubah jadi “point card” atau “kartu poin.”

“Memang kesannya agak sedikit memaksa. Tapi pada akhirnya, akan memberi dampak yang positif juga buat mahasiswa,” jelas Eko Suseno, mantan aktivis LK FE yang ikut menggagas kartu poin. (Scientiarum, 10 Desember 2007)

Apakah apatisme mahasiswa murni bersumber dari dirinya sendiri? Rudy Latuperissa mengakui, LK sendiri mungkin turut berkontribusi atas apatisme tersebut.

“Mungkin LK terlalu eksklusif, prosedur-prosedurnya ribet, tujuan LK bias.”

“Jadi gimana ya caranya, untuk memoles LK (dan kegiatannya) itu biar bisa seperti wanita cantik, sehingga orang bisa tertarik datang untuk meminang tanpa harus dipaksa.”

Ya, bagaimana? Mungkin perlu evaluasi dulu?

“Tahun 2003 saya usul sistem itu dievaluasi,” kata Rudy. Menurut Rudy, tak hanya hal teknis yang harus dievaluasi. Konsepnya juga perlu disesuaikan dengan kondisi sekarang. Tapi rupanya usul Rudy tak dijalankan. “Sama, sampai sekarang juga belum (ada evaluasi),” sambung Surya.

Saya merinding. Sudah sekian tahun berlalu, tapi evaluasi tak juga berjalan. Apakah LK FE sudah merasa paling benar? Dalam hati saya berteriak, “LK FE fasis!”

***

Sebelum kemelut 1994, di Satya Wacana ada satu departemen pengelola matakuliah lintas disiplin ilmu, yakni Departemen Matakuliah Umum. Sayangnya departemen ini dibubarkan karena “alasan politis,” ujar Paulus Triarso. Triarso adalah staf Biro Kemahasiswaan, yang dulu sempat mengajar di DMU. DMU waktu itu disebut sebagai salah satu basis dosen yang tak setuju dengan rektorat pimpinan John Ihalauw.

“Saya ikut moratorium (menentang Ihalauw) waktu itu,” kata Triarso.

Apa istimewanya DMU?

“Materi-materi yang diajarkan di situ justru lebih matang, karena melibatkan banyak disiplin ilmu,” jelas Triarso. “Dan dosen-dosen harus lebih siap karena menghadapi banyak mahasiswa dengan latar belakang yang beragam dengan pola pikir berbeda-beda.”

Theofransus Alexander Litaay, alumni Fakultas Hukum angkatan 1989 yang kini mengajar di almamaternya, mengatakan pada saya bahwa perencanaan perkuliahan di DMU sangat baik. Theo mengaku tidak pernah melupakan isi matakuliah Etika Kristen yang diajarkan waktu itu — dulu tidak di bawah Fakultas Teologi. Materi perkuliahan di DMU “bahkan mampu memberikan banyak inspirasi kepada mahasiswa untuk melahirkan berbagai kegiatan bermutu melalui LK,” kenang Theo.

“Matakuliah umum (adalah) wajib pilihan. Jadi ada banyak matakuliah, dan ada sejumlah kredit minimal yang harus dipenuhi mahasiswa. Misalnya, karena DMU mewadahi kegiatan latihan karawitan, maka saya yang orang Ambon pun pernah belajar gamelan. Kemudian pada waktu LK mengadakan Pekan Ilmiah Mahasiswa, para peserta diajak untuk ’kursus kilat’ main gamelan. Ini komunikasi antarbudaya yang akan lama membekas dan berdampak positif.”

”Dan model perkuliahannya banyak diskusi.”

”Ada beberapa orang yang sangat menikmati matakuliah DMU.”

Menurut Theo, penanaman nilai humaniora dan penguatan kapasitas profesional mahasiswa saat itu bisa berjalan baik karena tidak hanya digantungkan pada LK. ”LK hanya satu bagian saja.” Di bagian lain ada DMU, Lembaga Penelitian Universitas, Lembaga Pengabdian Masyarakat, dan sebagainya.

Coba bandingkan dengan keadaan sekarang, dimana LK jadi tulang punggung bagi kegiatan-kegiatan penanaman nilai dan penguatan kapasitas.

Orang-orang di LK datang dan pergi. Sedangkan para konseptor DMU dulu relatif tetap. Dari segi keberlanjutan, kondisi LK tidak menguntungkan. Apalagi belum ada mekanisme pengelolaan pengetahuan yang sistematis, agar nafas dan semangat kegiatan dari periode ke periode tidak hilang.

”Itu satu Mas. Yang kedua, kualitas mahasiswa kita sekarang dengan yang dulu sudah beda jauh,” jelas Theo pada saya. Theo bilang, proses penerimaan mahasiswa di Satya Wacana dulu sangat selektif. Celah hanya ada bagi ”bibit-bibit unggul.”

”Modal sosial kita juga hancur pascakonflik (1994). Sekarang ini kita baru merajut kembali. Tapi kerusakan yang ditinggalkan sangat parah.”

Dalam kondisi serba parah itulah generasi Rudy Latuperissa dan Eko Suseno muncul, lalu memimpin LK. Mereka berada dalam posisi yang lebih sulit dari pendahulunya, tapi beban yang ditimpakan jauh lebih besar. Dan mereka memaksa mahasiswa ikut menanggung beban tersebut dengan sistem kartu poin. Kondisi ini jadi warisan turun-temurun, hingga Surya Probo Kusuma sekarang.

Satria Anandita, mahasiswa Fakultas Ekonomi

52 thoughts on “Poin, Apatisme, Kegiatan”

  1. Neil Rupidara says:

    Tulisan yang baik untuk mengajak berefleksi atas apa yang sudah dilakukan, bagaimana jika dilihat dari waktu sekarang bagaimana dan apa dan bagaimana pula yang harus dilakukan besok. Berikut catatan dari saya untuk maksud berefleksi itu tadi, dengan di antaranya memberi background pemikirannya.

    Point card di FE adalah sebuah pergumulan panjang bagaimana menangani pembinaan mahasiswa di FE, khusunya pasca konflik di UKSW yang membawa efek menurunnya dinamika kemahasiswaan di satu sisi dan efek penambahan daya tampung mahasiswa di FE juga sebagai sebuah fenomena pasca konflik. Kedua fenomena itu berhadapan dengan tuntutan profil lulusan baik pada level UKSW maupun FE yang seharusnya minimal sama atau bahkan harus lebih baik. Namun, kenyataannya seperti diklaim dalam tulisan, kita berhadapan dengan sistem seleksi mahasiswa baru yang tidak seperti apa yang biasanya. FE UKSW dulu adalah salah satu favorit bisa dilihat dari sudut jumlah pendaftar dan akhirnya lulusannya juga. Pergumulan ini yang mendorong FE untuk menyusun suatu strategi pembinaan mahasiswa secara komprehensif dan itu dipercayakan kepada satu tim yang berisikan PD3, wakil LK, dan beberapa dosen lain.

    Singkat saja, dokumen strategi itu mendorong fakultas untuk menyetujui keterlibatan mahasiswa secara sistematis, baik dalam kegiatan-kegiatan akademik di FE (pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat) maupun kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler. Di wilayah ekstrakurikuler inilah salah satunya kemudian oleh LK dilahirkanlah sistem point card (satu sisi lagi adalah kegiatan ekstrakurikuler wajib/KEKW yang kemudian berganti menjadi mata kuliah Kuliah Praktik). Kira-kita begitu ceritanya, sambil merujuk kembali ke paparan bung Rudy dan bung Seno.

    Cuma, bung Rudy keliru kalau mengatakan point card tidak pernah dievaluasi. Dalam beberapa tahun terakhir, FE dan LK FE setiap tahunnya mengevaluasi sistem point card. Salah satu opsi dalam evaluasi itu bahkan adalah: apakah perlu ditiadakan? Namun, pertimbangan2 yang ada akhirnya tidak mendukung dipilihnya opsi itu dan dilakukan sejumlah langkah penataan sistem pengelolaan point card. Cuma, mungkin penataan yang dilakukan belum mampu memberi jawaban yang kongruen atas masalah-masalah yang ada.

    Komentar ibu Pinkan baik dan itu selalu menjadi bahan pertimbangan bagi fungsionari LK FE saat ini. Sejak awal, sebetulnya itu sudah jadi bahan diskusi: bagaimana menghadirkan dan menyelenggarakan kegiatan bermutu dan bukan hanya itu ya proporsional dengan jumlah mahasiswa (ingat: yang dituju adalah pemenuhan profil lulusan dan yang dihadapi di saat itu adalah mahasiswa FE per angkatan sekitar 700 orang). Namun, pertimbangan rasional dan kemampuan implementasi masih selalu berjarak sehingga problematika yang sama dari waktu ke waktu tetap saja muncul, walaupun kalau mau dilihat kini FE cukup kaya dengan berbagai unit kegiatan mahasiswa, mulai dari kerohanian, olahraga, seni/budaya, lingkungan hidup, hingga yang ilmiah dan belakangan jumlah mahasiswa FE mengalami penurunan bertahap. LK FE sudah sejak awal dichallenge untuk memunculkan berbagai varian kegiatan dan membentuk unit-unit organisasi yang signifikan untuk menopang sistem ekstrakurikuler wajib ini. SEMA FE dinilai harus memiliki portofolio organisasi yang relatif lebih gemuk dibanding fakultas lain, tetapi memiliki ‘otonomi’ tertentu untuk cukup leluasa mengembangkan program2nya tetapi tetap juga memiliki komitmen kepatuhan pada garis koordinasi dan komando SEMA dalam menjaga arah program-program pengembangan kemahasiswaan di lingkungan FE (yang harus dipahami juga harus selaras juga dengan orientasi program di aras universitas yang dikoordinasikan oleh SMU yang semuanya harusnya lahir dari para wakil di BPMU dan BPMF, yang sebetulnya juga mendengar suara mahasiswa umumnya, di samping pertimbangan2 lain).

    Singkat cerita, sebagai sebuah bahan perbandingan.. ketika tahun 2005 saya berkesempatan ‘mondok’ 3 bulanan di St Olaf College, sebuah college Kristen di Northfield, sebuah kota pertanian kecil di negara bagian Minnesota, Amerika Serikat, saya sempat gumun: mengapa college dengan total mahasiswa cuma 2900an bisa punya organisasi mahasiswa lebih dari 150? Ini belum terhitung sebagian aktivitas minat yang tidak/belum mau diwadahi ke dalam organisasi ‘resmi’. Tentu karena ia ada pada level college atau bisa disetarakan universitas, maka range disiplin keilmuannya ya se-universitas sehingga kelompok2 kegiatan mahasiswa ini juga tersebar dari yang eksakta, social sciences, hingga arts and humanities. Ukuran college itu hampir setara dengan skala FE di saat itu. Tapi, jumlah organisasi kemahasiswaan di FE saya kira-kira tidak lebih dari 15 buah. Se-UKSW yang kira2 ada 11-12 ribu mahasiswa saja mungkin tidak ada 100an organisasi kemahasiswaan. Saya cuma bertanya dan membayangkan, “mengapa college kecil ini bisa demikian variatif dan kegiatan2nya sejauh saya ikuti dan diskusi dengan beberapa fungsionaris mereka kok kesan-nya keren-keren lha mengapa kita tidak bisa sama atau lebih dari mereka?” “Apa yang salah atau kurang dari kita sehingga masalah point card selalu itu dan itu saja?”

    Mudah-mudahan, generasi baru LK FE bisa lebih kreatif dan termotivasi untuk maju lebih baik dari yang lalu. Itulah fenomena organisasi yang belajar dan karenanya terus bertumbuh.

    Catatan: hmm… mengapa pemilihan pimpinan2 LK diindikasikan punya masalah legalitas? sebuah krisis di tubuh LK UKSW? Jika ada masalah kualitas representasi anggota, maka mestinya BPMF lah yang memerbaiki kualitas diri, termasuk komitmen menjadi wakil yang baik. Jangan-jangan, tindakan memindahkan kewenangan pemilihan ke anggota lalu hanya menempatkan BPMF jadi sekedar panitia pelaksana sebuah even, daripada menjadi wakil dari para mahasiswa? Ini tidak bermaksud untuk menilai pemilihan langsung jelek, tetapi rasionalitas ditempuhnya pemilihan langsung melegitimasi illegitimate-nya BPMF. Sebuah ‘gong kematian’ bagi eksistensi BPMF?

    Rekomendasi: rasanya LK UKSW perlu duduk kembali untuk melakukan proses evaluasi menyeluruh atas tatanan kelembagaannya dan memutuskan sesuatu yang dapat dijadikan pegangan ‘legal’ sementara sampai aturan baru tersusun lengkap: apapun isi aturan itu.

  2. dian ade permana says:

    masukan buat satria : dalam hati saya berteriak : LK FE FASIS

    satria, SA bukanlah bukan harianmu, tapi ini sebuah media yang akan dijadikan bagi pengembangan diri kita pembaca,,dan semua yang terlibat di dalam SA..
    ada baiknya,,sekali lagi,, ada baiknya,,segala unsur penilaian yang berasal dari subjektifitas penulis dihilangkan,,,ini demi independensi penulis agar tidak terlibat dalam berbagai kepentingan yang terdapat dari sumber berita.
    dan saya baca dari beberapa tulisan satria,,ada karakter yang menjadi ciri khas..berani dan lugas, tapi selalu memasukkan penilaian dari kacamata satria sendiri..ini sangat “berbahaya” baik untuk satria maupun media tempat satria bernaung….

    salam..

  3. Yodie Hardiyan says:

    Tole, Mawar dan Garong

    Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana (FE UKSW) itu fakultas berakreditasi A. Diagungkan sebagai salah satu FE terbaik di Indonesia. Mungkin, “orang luar” akan angguk-angguk kepala terhadap ketenaran FE UKSW.

    Begitukah? Bila kita bicara akreditasi, kita bicara kualitas. Kualitas pengaruhi pengolahan individu. Individu “matang” adalah output dari institusi pendidikan “yahud”. Kalau FE UKSW “yahud”, apa buktinya?

    Tak sedikit kasus mahasiswa yang tak kebagian kelas saat registrasi (SIASAT). Gaftar alir dalam katalog yang sepatutnya dipenuhi tak dapat terlaksana. Semrawut, karena jumlah mahasiswa overload! Kalau katanya berkualitas, jarang yang di perusahaan ternama ya? Kalaupun ada, rasionya bikin orang muntah!

    Argumentasinya, dosen dan ruang terbatas. Kalau memang itu alasannya, mengapa menerima mahasiswa banyak? Hanya sekedar “menyedot” dana dari mahasiswa? Mau dibawa kemana mahasiswa? Mau jadi apa kita? Apa guna kita bayar mahal Sumbangan Pokok Pendidikan dan Sistem Kredit Semester (SKS)?

    Kuliah itu bertujuan mencerdaskan diri. Anda merasa telah dibuat cerdas FE UKSW? Atau tambah TOLOL? Uang yang Anda bayar ke kampus sesuai dengan apa yang didapat? Anda merasa dilayani kampus? Tak usah mengumpat, silahkan Anda jawab di dalam hati saja!

    Proses pengolahan individu dalam perguruan tinggi dibagi dua macam pengembangan diri: hard dan soft skills. Hard skills bisa dijumpai di kelas kuliah, berkutat pada teori dan (seharusnya) aplikasi dari teori tersebut.

    Soft skills didapat melalui organisasi, kepanitiaan atau pengembangan bakat minat. Tujuannya tak buruk: dikomplementasikan dengan hard skills dalam proses “memanusiakan manusia” dalam kehidupan bermahasiswa. Tapi realita tak seindah wacana, apalagi di FE UKSW. Mengapa?

    Sebelum itu, saya ajak Anda kelana imajinasi. Kisah ini hanya fiksi belaka, bila ada kesamaan nama, tempat, pengalaman boleh salahkan penulis. Karena penulisnya hanya mahasiswa bodoh dari fakultas berakreditasi A di universitas swasta terbesar nomor sembilan Indonesia (Globe Magazine, 2007).

    Alkisah, ada seorang bernama Tole. Ia mahasiswa “biasa”, yang berkunjung ke kampus hanya untuk kuliah (baca: masuk kelas, dengar celoteh dosen, pulang, nongkrong dan menikmati seliwar-seliwer mahasiswi sexy di kampus).

    Ia lebih suka menenggak miras sebelum masuk kelas dibanding baca buku. Alasannya, ia kuliah hanya sebatas formalitas. “Disuruh orangtua dan asik banyak ceweknya” ujar Tole. Tole anak juragan air di Sumatera.

    Seolah mendapat wahyu, perlahan ia sadar. Ia tiba-tiba beranjak muak dengan gaya hidup yang sia-sia tersebut. Hatinya berontak. Ia ingin lakukan sesuatu, yang berguna, walau secuil. “Aku harus berubah” semangatnya.

    Ia tergerak menjadi organisatoris, agar ia bisa kembangkan diri. Ia berharap dengan masuk organisasi dapat membawanya keluar dari “neraka” kehidupan.

    Organisasi yang dipilih “spesialis” seminar dan training.

    Suatu kesempatan, organisasi itu membuat seminar. Seminar yang mendatangkan sebuah lembaga penelitian sosial, sebagai pembicara.

    Tole ketua panitia. Gerak awalnya, ia rekut panitia, membentuk kepanitiaan.

    Banyak mahasiswa mendaftar. Saat wawancara, ditanya “mengapa kamu daftar jadi panitia?” Seorang mahasiswi menjawab “cari pengalaman”.

    Jawaban itu terlontar dari mulut si mahasiswi. Secanggih apapun manusia, tak bisa membaca hati manusia lainnya. Begitu pula Tole, yang tak tahu sesungguhnya hati pelamar panitia tersebut..

    Mahasiswi itu diterima. Namanya Mawar.

    Saat rapat koordinasi dan teknis, konsep awal seminar masih buah pikiran Tole, tok. Ia siapkan untuk dilempar sebagai bahan masyarawah. Dalam budaya demokrasi, konsep tak boleh monopoli satu orang lantas digunakan. Harus ada dinamikan silang pendapat. Menentukan konsep hasil urun rembuk.

    Yang diharap tak sesuai. Para panitia terpilih kerap bisu, seolah tak tahu apa yang harus dikatakan. Panitia tak terrangsang untuk berpikir teoritis nan konseptual:, mengembangkan konsep si Tole.

    “Apa peduliku mikir konsep? Kan udah ada si Tole yang mikir?” gumam dalam hati Mawar.

    Mawar berkilah di batinnya.”Ah, paling peserta seminar yang datang cuma buat poin. Ngapain repot-repot mikirin konsep .”

    Seminarnya ada follow-up. Penelitian terjun ke lapangan. Alhasil, Tole berjuang berpikir sendirian, menyusun konsep dari A-Z.Panitia lain, hanya datang rapat diam menjahit mulut.

    Mawar menjadi panitia karena ia setahun lagi diprediksi ujian akhir. Mawar belum memenuhi minimum Humanistic Point yang ditetapkan sebagai syarat skripsi. Mawar ikut kepanitiaan hanya untuk poin.

    Poin adalah penanda, bahwa seorang mahasiswa telah ikut kegiatan panitia, seminar, bakat minat, atau organisasi. Poin wajib dikumpulkan, sebanyak 250 selama empat tahun, sebagai syarat skripsi.

    Kampusnya apa sih, kok kebijakannya nyeleneh? Nama kampusnya Universitas Kembalikan Sejarah, Titisan dan Wacana (UNIK SATWA).

    Tole sedih. Ia yang merubah diri ternyata tak didukung oleh lingkungannya. Ia tak menyangka, mahasiswa lain tak lebih baik darinya. Ia berpikir, mengapa mahasiswa di kampus yang punya nama sangat besar itu berpandangan pragmatis.

    Ia pasrah. Ia juga harus mengikuti ketentuan “menyediakan poin bagi mahasiswa”.Awalnya ia tak setuju. Ia tahu, ada akibat buruknya.

    Saat seminar,ratusan mahasiswa berbondong-bondong datang. Penampilan, mentereng seperti hendak ke pesta. Harga tiket seminar seharga Rp.20 ribu, dengan Professional Point sebesar 50. Mahasiswa bersuka cita karena dengan harga Rp.20 ribu, poin 50 digenggam

    Gedung tempat terselenggaranya seminar penuh. Antri tiket. Mahasiswa yang datang tak membawa notes atau buku referensi, tetapi IPod.

    Orang-orang dari lembaga penelitian sosial heran, -yang menjadi pembicara seminar heran-. Besar sekali animonya? Kok tidak bawa notes, malah IPod? “Ah, mungkin mereka bisa menyimpan materi di otak.” ujar lembaga penelitian tersebut.

    Pembicara seminar berbicara tentang “Genosida 1965: Pembantaian Orang-orang yang Dicap Komunis?”. Pembicara berapi-api berbicara di depan panggung. (Seharusnya) menjadi kesempatan langka yang didapat oleh peserta.

    Apa nyana. Peserta seminar di dalam gedung berhaha-hihi. Mereka tak peduli dengan pembicara di panggung. Ada yang sibuk dengan IPod, chatting via ponsel, bergosip atau tidur. Mereka tak peduli. Mereka tak hirau. Dunia mereka berbeda dengan dunia di panggung. Mereka seolah tercuci otaknya: “aku kesini buat absen dan dapat poin. Hah, ilmu pengetahuan? Gak penting banget sih?”

    Tole tak bisa apa-apa. Sebagai ketua panitia ia malu terhadap lembaga penelitian tersebut.

    Peserta seminar sebenarnya tak butuh tapi dipaksa penuhi poin. Sikap dan keinginan terkamuflase poin. Uang mereka terbuang untuk membeli poin. Poin mengaburkan segalanya.

    Sikap itu cerminkan rendahnya kualitas kampus. Kampus penuh formalisme dan simbol yang mengesampingkan substansi.

    Peserta seminar dipaksa oleh “tangan ajaib” agar bersikap “keren” –berbondong-bondong datang ke gedung seminar, agar diliput media-. Tak hanya seminar, kegiatan lainpun tampak ramai dan berjubel. Ingat sidang pembaca, hanya tampak!

    Keuntungannya: nama kampus jadi besar dan menarik calon mahasiswa masuk kampus tersebut agar berpikir: “Gilak, kampusnya keren banget, mahasiswanya aktif semua?”-

    Animo setiap kegiatan bikin kampus jadi terkenal. Masyarakat mengganggap mahasiswa UNIK SATWA haus ilmu.

    Garong tertarik dengan visualisasi kampus tersebut: hebat dan keren. Ia mendaftar dan diterima. Masuk UNIK SATWA tak perlu standarisasi, yang penting uang.

    Ia tak sadar ia telah dibodohi. Dibodohi UNIK SATWA lewat agenda hitam.

    Ia tak tahu calon kampus yang ia lihat begitu mewah, fasilitas lengkap dan penuh dinamika, ternyata busuk. Ia juga jadi tahu, mahasiswa UNIK SATWA tak tertarik dengan keilmuan. Di kampus itu, formalitas menjadi dewa dan disembah.

    Garong kecewa. Ia tak bisa temukan orang yang bisa diajak mendiskusikan Dipa Nusantara Aidit, tokoh yang menyita perhatiannya sejak SD. Ia juga tak tahu mengapa ia harus membakti diri pada Poin, padahal soft skills yang ditawarkan dari poin tersebut tak lebih baik ketika ia berkegiatan di luar kampus.

    Garong dan Tole sadar, kampusnya tak sekedar “memperkosa” mahasiswa. Lewat poin, mahasiswa disetel macam robot dan menghasilkan nama besar kampus. Nama besar yang tak berkonotasi positif itu, menjelma menjadi magnet menarik lulusan SMA untuk masuk ke sana.

    Agenda hitam itu, UNIK SATYA menyedot dana besar-besaran dari ribuan mahasiswa yang mendaftar.

    Momen itu sisakan tanda tanya, apakah timbal balik kampus untuk mahasiswa sudah mutualisme seyogyanya?

    Mawar tersedu menangis, sudah 50 perusahaan yang ia lamar tak diterima.

    Uang kuliah yang ia bayar tak bisa balik modal. Mawar, si output universitas besar, menjadi bodoh dan tak berkualitas. Ia sekarang cuma menjadi penjaga kios pulsa pasca lulus kuliah. Saat melamar kerja, Mawar kalah dari lulusan universitas yang “biasa-biasa” saja promosinya, tapi punya kualitas pendidikan yang yahud.

    Mawar tak seharum namanya. Tole menjadi wirausaha sukses,setelah ia memilih drop-out dari kampus. Garong jarang datang ke kampus, karena di rumah ia lebih tenang belajar dan terbebaskan dari jemu tak henti.*)

    Sudah selesai dibaca?

    Bagaimana poin di FE UKSW dibanding UNIK SATWA?

    Ah ternyata poin di FE UKSW itu baik-baik saja. Betul?

    • Bikin mahasiswanya jadi rajin seminar.

    • Bikin mahasiswanya jadi cerdas.

    • Bikin mahasiswanya jadi calon pemimpin.

    • Bikin mahasiswanya jadi creative minority.

    • Bikin hebat deh.

    • Ups, hayoooo bo’onk yach? Nakhal duech kamyuhhh…………………..

    “Aku akan bilang kalau perjuangan bukan saja melalui tulisan, puisi, buku, apalagi setajuk proposal! Perjuangan butuh keringat, pekikan suara, dan dentuman kata-kata. Kita bukan melawan seekor siput tapi buaya yang akan menerkam jika kita lengah.” (Che Guevara)

    Catatan Redaksi

    Makalah Tole, Mawar dan Garong ini disajikan bersamaan dengan Poin, Apatisme, Kegiatan karya Satria Anandita dalam diskusi terbatas mengaji sistem kartu poin oleh Lembaga Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana, Jumat, 8 Agustus 2008, di ruang ABX 103.

  4. STR says:

    Untuk Dian Ade Permana,

    Makasih buat masukannya Mas. Tapi saya ingin sedikit membantah. Bukan untuk ngeyel, tapi ayo kita diskusi. 😀

    Tulisan ini adalah opini. Apa saya tidak boleh pakai kacamata saya sendiri? Lagipula, tidak hanya kacamata sendiri yang saya pakai. Ada kacamata orang-orang lain juga. Mas Ade bisa bandingkan opini ini dengan opini lain, yang hanya berasal dari perenungan diri sendiri yang lebih subjektif, yang oleh Agus Sopian disebut “reportase dari lamunan.” Saya akan terus melakukan reportase lapangan dan wawancara jika saya menulis opini. Bukan untuk memperkuat kepentingan saya pribadi, tapi untuk memperluas wawasan saya tentang topik/fenomena yang saya komentari.

    Saya berteriak “LK FE fasis” bukan dengan asal saja. Saya punya argumentasi buat itu. Saya sudah tulis argumen tersebut pada artikel di atas. Dan saya bisa pertanggungjawabkan itu.

    Mas Ade sudah baca buku Sembilan Elemen Jurnalisme kan? Elemen kesembilan adalah: “Praktisi jurnalisme harus diperbolehkan mengikuti nurani mereka.” Argumen serta alasan-alasannya tentu bisa dibaca lengkap di buku tersebut. Logis dan realistis sekali, menurut saya.

    Lalu bagaimana seharusnya saya (dan orang lain) beropini jika Anda bilang “segala unsur penilaian yang berasal dari subjektivitas penulis dihilangkan?”

    Terima kasih.

  5. Cepero says:

    Untuk Satria dan Yodie .

    Dalam hati saya berteriak, “LK FE fasis!”
    terus terang saya juga berada pada saat angkatan 2000 mulai diterapkan sistem “Point Card”, dan menurut saya pribadi penerapan point card dahulu bertujuan baik untuk semua pihak, yaitu bagi Senat yang mengadakan acara dan mahasiswa FE yang menjadi peserta maupun panitia yang bertujuan mendapatkan point,
    1. Bagi Senat, dahulu di senat FE 99-2001 hampir tiap minggu ada kegiatan sehingga mudah bagi mahasiswa yang bertujuan mencari point untuk menjadi peserta ataupun panitia, sehingga tujuan diterapkannya point card antara lain Senat FE dituntut untuk tiap periode mengadakan kegiatan yang mengikut sertakan mahasiswa seperti bazzar, pentas seni, kambing cup, fakulty day & socev, Music, kegiatan UKM seperti volley & sepak Bola dan seminar-seminar tiap HMJ. sedangkan saya lihat mulai 2003- sekarang kegiatan senat hanya sedikit, tidak tahu apakah SDMnya ataukah mungkin ada kebijakan dari fakultas yang membatasi.
    2. Sedangkan tujuan bagi Mahasiswa Fe (dulunya..)pada umumnya pemberlakuan Point card adalah bagaimana membentuk mahasiswa FE yang tidak hanya mengerti mengenai mata kuliah tetapi juga tentang Organisasi, tentang bagaimana Team Work? bagaimana tanggungjawab? bagimana menyusun anggaran? dan etc.

    Jadi menurut saya LK FE itu tidak Fasis tapi kurang mengerti dan tanggap tentang tugasnya, jadi kalau TIDAK MAMPU mengadakan kegiatan untuk mengakomodasi kebutuhan mahasiswa tentang point card mendingan Point Card nya dihapuskan saja.

    (Tak sedikit kasus mahasiswa yang tak kebagian kelas saat registrasi (SIASAT). Gaftar alir dalam katalog yang sepatutnya dipenuhi tak dapat terlaksana. Semrawut, karena jumlah mahasiswa overload! Kalau katanya berkualitas, jarang yang di perusahaan ternama ya? Kalaupun ada, rasionya bikin orang muntah!)
    (Kuliah itu bertujuan mencerdaskan diri. Anda merasa telah dibuat cerdas FE UKSW? Atau tambah TOLOL? Uang yang Anda bayar ke kampus sesuai dengan apa yang didapat? Anda merasa dilayani kampus? Tak usah mengumpat, silahkan Anda jawab di dalam hati saja!)
    Saya itu heran… keliatannya kan penerimaan mahasiswa FE sekarang lebih sedikit dibandingkan penerimaan tahun 1997-2001, yang saya inget kalau nggak salah angkatan97 tu 600an orang, angkatan 98
    klau nggak salah 800 orang, trs angkatan 2000 tu kalau nggak salah hampir 900an, dan pada jaman itu kan dosen tidak sebanyak sekarang yang sudah banyak dosen-dosen baru, kok bisa masih aja ada kasus mahasiswa tidak kebagian kelas saat siasat ?? kalau nggak sistemnya .. ya kemungkinan mahasiswa jaman sekarang yang manja-manja kaya mas Yodie ya???

    terus Rasio orang yang bekerja di perusahaan ternama yang bikin muntah tuh gimana sih..?? kriteria ternama tuh seperti apa? Kalau maksud anda seperti Jarum,Bank Indonesia, Pura Group, RCTI, Matahari, BPK, Tiga Serangkai, Gramedia, Exxon Mobil, Tossa dll, saya cuma bisa berkata mata anda kurang terbuka mas, dan banyak diantara mereka yang dulunya panitia-panitia di organisasi bareng saya. dan mereka tidak pernah merasa tolol dan dibodohi oleh Fakultas Ekonomi, malah mereka bangga pernah menjadi satu keluarga di Senat Fakultas Ekonomi meskipun cuma di SMFE angkatan Seno sama Rudi.

    Kalau anda masih merasa kurang cerdas setelah membayar begitu banyaknya cobalah introspeksi.., jangan-jangan yang salah ada pada diri anda (maaf lo ya), Cuma saya mau ngomong kalu kita bayar banyak bukan berarti kita tidak berusaha, kita juga harus berusaha mas Yodie..dan berdoa

    Ora Et Labora

  6. STR says:

    Untuk Cepero,

    Terima kasih buat komentarnya.

    Anda tadi menulis, “Jadi menurut saya LK FE itu tidak Fasis tapi kurang mengerti dan tanggap tentang tugasnya, jadi kalau TIDAK MAMPU mengadakan kegiatan untuk mengakomodasi kebutuhan mahasiswa tentang point card mendingan Point Card nya dihapuskan saja.

    Nah, bukankah sikap yang demikian adalah fasisme?

    LK FE kurang mengerti dan tanggap tentang tugasnya. Mereka juga TIDAK MAMPU mengadakan kegiatan untuk mengakomodasi kebutuhan mahasiswa. Tapi mereka masih saja MEMAKSAKAN kehendak mereka (baca: point card atau kartu poin) kepada mahasiswa.

    Terima kasih.

  7. Saam Fredy says:

    Pendidikan seumur hidup, itu yang saya imani. Ruang dan waktu, bukan menjadi sekat yang membatasi. Berkuliah di UKSW, apalagi. Berkuliah di UKSW mungkin hanya 4/5 tahun saja, namun belajar adalah kewajiban seumur hidup.

    Beda orang, beda pemahaman tentang pendidikan. Ada yang memahami pendidikan hanya ada di sekolah formal, ada pula yang mengatakan lebih baik dunia tanpa sekolah. Saya hargai.

    Saya hanya mengambil 144 sks ketika berkuliah. Apakah itu cukup? dengan apa yang saya imani saya berkata itu tidak cukup, lalu apa yang saya lakukan, saya belajar terus dan terus. Dimana, kan cuma 144 sks? Dimana-mana, di jalan, di kos, di tempat teman, dll. Apakah itu membuat pintar?…Pintar….untuk apa berbicara tentang kepintarai pintar, apa sih makna kepintaran? jadilah manusia yang baik.

    Semakin banyak belajar, saya merasa semakin banyak saja yang harus saya pelajari. Intinya, semakin saya belajar semakin bodoh saya, karena semakin banyak yang harus saya baca dan pahami, tiap kali membuka sesuatu yang baru.

    Bagaikan padi, semakin berisi semakin menunduk….itu kiasan kata yang pernah saya dengar sewaktu kecil. Untuk apa kata berkata seperti itu? Kata Bu guru, “orang pandai harus mawas diri, rendah diri”. Apakah yang dikatakan Si Ibu itu benar, kok banyak ya orang pandai tapi tidak mau mawas diri dan rendah diri. Malah mereka tinggi hati dan tidak mau sadar akan hakikat hidupnya.

    Ada seorang teman berkata, “Ah, saya kan sudah bayar, jadi saya harus pintar”. Naif. Tidak ada yang bisa membeli kepintaran. Tidak ada yang bisa membeli ilmu. Tidak hari ini, tidak esok.

    Salam,
    Saam Fredy

  8. Saam Fredy says:

    (tulisan ini tidak terpisah dari tulisan saya dalam akuarium, yodie)

    Suatu saat saya bertanya kepada seorang senior yang menjabat sebagai pemimpin UKSW, “kenapa…?” Dia tidak mampu menjawab, dia hanya menjawab, “Itu bukan keinginan saya”, lalu keinginan siapa?

    Dia hanya dapat memberikan penjelasan seperti ini: Pendidikan untuk semua, siapapun bisa, tidak hanya saya dan kamu. “Ah semua orang juga tau,” aku berkata dalam hati. Lalu dia berkata kebih lanjut, “Mas, kita ini didirikan oleh gereja-gereja, sehingga apa yang kita lakukan tentu mereka punya andil bagian juga, tidak semena-mena kita di sini”. Maksudnya?

    “Apakah menurut Mas, yang kuliah di sini hanya mereka yang berduit?”, Saya menjawab, “Iya Pak, merekan semua berduit, lah wong kuliah di UKSW itu cukup memeras kantong,” ucap saya dengan rasa percaya diri.

    “Cara berfikir itu tidak salah, hanya belum mengali semua alternatif jawaban yang ada”, si Bapak itu berucap. “Menurut Mas, jika si anak tidak punya uang, tapi dia mau kuliah, bagaimana?”, “ya tidak bisa,” ucap saya. “Mas, bagi kita tidak bisa, tapi bagi gereja harus bisa”. ah jawaban apalagi nih?

  9. Opha says:

    Resistensi terhadap keberadaan point card di FE, kalo saya lihat sudah berlangsung semenjak di gulirkannya sistem ini. Ada banyak persoalan yang hinggap dan melekat. Mulai dari sudut pandang memaknai konsep keberadaan sistem ini, hingga persoalan teknis yang kerapkali mengundang kontroversi. Perlu diingat, tidak ada sebuah sistem pun di muka bumi ini yang sempurna / ideal ketika berlangsung dalam kurun waktu tertentu. Yang dibutuh perbaikan yang berkesinambungan dalam kerangka pembentukan sistem yang ideal.
    Orang yang mengidealkan “kebebasan” memungkinkan individu-individu memaknai segala sesuatu yang mengikat adalah sebuah pemaksaan. Namun sayangnya, dimuka bumi ini tidak ada satu ruang dan waktu yang benar otonom. Ini menandakan bahwa kita tidak dapat hidup dengan kebebasan yang mutlak untuk diri kita. Disekeliling kita hidup beraneka ragam warna dinamika dan sistem. Mau tidak mau kita harus bersinggungan dengannya.
    @ Kak Neil : Saya tidak mengikuti perkembangan selanjutnya keberadaan Point card setelah tahun 2003. Setahu saya dalam kurun waktu 3 tahun (setelah bergulirnya sistem) saya belum pernah melihat ada proses evaluasi formal. Tapi kalo memang sesudahnya telah dilakukan ya saya turut gembira, meski hasilnya belum maksimal. Butuh kerja keras untuk mengupayakan perbaikan.

  10. dian ade permana says:

    pro satria: iya,,kalo opini memang harus berdasar pada argumentasi kita..

    “Lagipula, tidak hanya kacamata sendiri yang saya pakai. Ada kacamata orang-orang lain juga. ..”
    tapi kalo memang ini berita atau reportase, tidak bisa memakai opini dari satria..meski kita mengalami sendiri kejadian yang akan kita laporkan..fakta-fakta tersebut harus kita dapatkan dari orang lain…
    satria adalah reporter/wartawan…jadi harus melaporkan kejadian..bukan terlibat dalam kejadian..

    Mas Ade sudah baca buku Sembilan Elemen Jurnalisme kan? Elemen kesembilan adalah: “Praktisi jurnalisme harus diperbolehkan mengikuti nurani mereka.” Argumen serta alasan-alasannya tentu bisa dibaca lengkap di buku tersebut. Logis dan realistis sekali, menurut saya.

    iya..saya sudah baca..tapi kepentingan pembaca harus tetap di kedepankan bukan?…ini elemen jurnalisme nomer berapa? maaf saya lupa…dan ketika penulis “terlibat dalam kepentingan pemberitaan” perimbangan berita menjadi bias…
    dan yang dipakai adalah nurani,,bukan pikiran,,
    jadi hemat saya..ketika menulis..lepaskanlah segala kepentingan…menulislah seperti reporter..bukan novelis…

    salam..

  11. Freedom (23.2003.xx6) says:

    huh…
    kok masalah point ini ga pernah selesai yah..
    perasaan dari gw baru masuk kul, sampai lulus, mlah sampe sekarang gw kerja n liat ini masalah di SA kok ga ada beres2nya??

    “Ada Apa Gerangan”????.
    Sapa yang salah? mahasiswa? LKFE? Fakultas?

    knp uda 8 tahun masalah ini masih ada??busyet, masih betah “LKFE” juga yah ngurusin beginian
    jujur aja gw ngerasa sistem poin itu ada baiknya n ada buruknya juga..
    baiknya = bisa buat kita mahasiswa ngikutin acara, seminar, kegiatan yang bermutu untuk persiapan ke kerja (walaupun sifatnya memaksa n ga jarang juga mahasiswa acuh tak acuh pada saat kegiatan tsb).
    buruknya = sifatnya memaksa mang kerjanya mahasiswa buat ngumpulin point? ga khan…, katanya nilai dari poin yang kita kumpulin bisa di konversi buat nilai KEKW, tapi mana implentasinya (padahal point gw klo di hitung2 bisa dapet A tuh), bukan sarana buat mengembangankan skil mahasiswa, tapi sarana pembodohan n penipuan mahasiswa

    Gw ngerasa apa yang uda di lakuin Fakultas dengan sistem point ini uda bagus, tapi Mbo y di revisi dong uda 8 tahun ni.
    Jujur aja Humanistik skill itu ptg bgt buat kita kerja nti, n gw uda ngerasaain itu ptg bgt..
    tapi kita juga ga bisa nyalahin fakultas, karena Fakultas uda berusaha bwt ngasih jalan ke kita (mahasiswa) buat dapetin apa yang di sebut dengan Humanistik n Profesional skill (walaupun esensinya mpe sekarang juga msih lom jelas). mau nyalahin mahasiswa juga ga bisa, karena sesuatu yang baik itu merupakan pilhan dari kita semua. bener ga? karena sesuatu yang di paksain itu ga bakal menghasilkan sesuatu yang bermutu.

    klo boleh kasih usulan, poin itu tetep ada tapi jangan di jadikan salah satu syarat buat kelulusan dan paksaan (kasihan mahasiswa), tapi jadi itu sebagai sarana buat pengembangan diri mahasiswa.

    Buat FE jangan pernah terbuai dengan jargon lama yang isinya selalu bilang klo kita salah satu Fakultas yang terbaik di Indonesia. tapi buat lah FE itu menjadi Fakultas Ekonomi yang Terbaik di Indonesia, mengalahakan UI, Untar, Atmajaya, n Fakultas2 lainnya.

    Akhir kata,
    kalo ada kata2 yang tidak berkenan tolong dimaafkan,
    Bravo FE, Vivi UKSW
    Saya Bangga dengan FE UKSW
    (23.2003.xx6)
    Alumnus FE 2007

  12. Neil Rupidara says:

    @ Rudi:
    ‘tul Rud.. niat hati tidak selalu kesampaian.. butuh kerja keras.. dan, itu tidak akan pernah selesai.. serta, dalam hal ini butuh kemerdekaan berpikir para pimpinan LK di FE.. supaya lebih kreatif.. fundamental.. berpikir besar… namun juga didorong semangat kuat untuk merealisasikannya… serta tidak lupa, berpikir khas dalam tatanan kelembagaan/kemasyarakatan ‘gaya UKSW’.

    @all”
    Saya tampaknya bukan penganut ‘pasar bebas’ dalam konteks ini.. saya menilai penting juga intervensi ‘pemerintah’ karena ‘pasar’ tidak selalu sempurna.. kalau pasarnya penuh orang macam STR saya tidak khawatir, mahasiswa seperti dia punya internal drive untuk melakukan apa yang ia mau dalam konteks mengembangkan diri.. malah pergi ciptakan sendiri apa yang ingin dikerjakan atau mimpinya… jadi, kasus dan cara pikir STR dan mahasiswa sejenis baik tetapi tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk ‘biarkanlah, kami tahu apa yang kami butuhkan dan kami bisa mendapatkannya sendiri.’ Jadi, saya ada pada jalan pikir Stiglitz, “market will not work well” … karena tidak semua orang ‘well informed’ (informasi bersifat asimetrik) dan karena itu ‘kondisi lepas kendali’ baru bisa dilakukan jika ‘surga’ (semua orang tahu apa yang baik dan melakukannya) sudah bisa kita hadirkan di ‘bumi’… Karena itu, sebagai aktor, kita harus constitute iklim dan aturan main kelembagaan yang mengatur para/semua pemain untuk bermain menurut tatanan nilai dan norma serta aturan yang berlaku… walau refleksi harus terus dilakukan untuk koreksi tatanan itu..

    Dalam banyak hal, penyesalan dan rasa syukur selalu datang belakangan.. Sebagai yang sudah berjalan duluan (senior), saya dan juga cukup banyak rekan senior lain selalu berkata ‘jangan ikut jalan kami’ bagi yang merasa tidak atau kurang gunakan waktu bermahasiswanya dengan baik, atau yang mengatakan ‘tidak akan rugi’ untuk berkubang keringat dan pikiran dalam dan melalui kegiatan2 kemahasiswaan.. cuma, imbauan selalu tinggal imbauan.. dan, bagi FE dengan size yang besar dan mahasiswa yang rata-rata mampu dan dapat berjalan menurut kehendak hatinya yang bebas (punya banyak pilihan bebas), imbauan itu bisa bermakna “anjing menggong, kafilah berlalu.” Di situlah salah satu alasan mengapa intervensi model point card diambil. Jadi, maaf bagi anda para mahasiswa, bukan tidak percaya pada anda, tetapi itulah tendensi perilaku manusia. Kalau mau sedikit alkitabiah, Paulus kira-kira berkata begini, “saya tahu (yang baik), tetapi bukan itu yang saya lakukan.. yang sebaliknya yang justru saya lakukan..” hmmm… manusiawi…. sangat manusiawi..

    Humanistik dan Profesional skills… ini tidak sulit dipahami tapi untuk paham apa maksud UKSW dengan dua istilah itu, maka coba tengoklah Skenario Pola Pembinaan Mahasiswa (SPPM) milik LK UKSW.. akan cukup jelas di sana.. prinsipnya, dalam pemahaman Satya Wacana, lulusannya adalah creative minority yang secara konseptual adalah orang yang memiliki karakter dan berilmu.. sehingga selalu mendatangkan perubahan baik di masyarakat sehingga masyarakat bergerak menuju kondisi yang lebih baik… “Pisau tidak tajam sendiri, tetapi dibuat tajam dan tetap diasah..” Kira-kira begitulah.. agar menjadi creative minority ya harus melatih dan membentuk diri menjadi, termasuk berpikir sebagai, creative minority.. dan ber-LK atau berkegiatan mahasiswa (karena seluruh program LK di UKSW berorientasi pada profil lulusan itu dan SPPM) adalah salah satu wadah yang baik untuk itu.. perkuliahan di UKSW juga harusnya demikian..

    Sekarang, ada apa dengan point card…? Jelas ada banyak soal… Di luar sikap keengganan untuk ‘mau capek’ berkegiatan atau memang pada diri beberapa teman ada sikap ‘saya bisa atur sendiri apa yang saya mau’ hal mana telah saya argue di atas mengapa ‘cara paksa’ terpaksa diambil.. maka beberapa persoalan muncul… Dari sisi mahasiswa di antaranya, karena orientasinya ngejar point dan bukannya mencari pengalaman, ketrampilan, pengetahuan, etc.., maka kegiatan-kegiatan seminar dipenuhi tapi pada ngomong sendiri… (upaya untuk reduce jumlah peserta dalam satu kegiatan)… karena terpaksa, tetapi biar ada point, mahasiswa CHEATING.. ada yang ‘membeli’ point (ada sejumlah kasus sudah dibuktikan dan pengetatan sistem dilakukan)… ada yang ‘santai dulu ah’ atau ‘who cares’ lalu belakangan kurang point padahal mau ujian (LK beberapa kali ngalah dan memberi tempat khusus bagi mereka2 ini… Dari sisi LK.. ada fungsionari ‘main mata’ dengan ‘menjual’ point (investigasi dilakukan, sanksi dikenakan).. sistem administrasi ‘jebol’ dan data base ‘berantakan’ (sudah dicoba ditata)..

    Namun, bagi saya yang esensial dari masalah point card adalah… sebelumnya, saya percaya bahwa pengalaman belajar di perguruan tinggi harus bermakna.. dan pengalaman belajar itu bersifat holistik… kegiatan dalam kelas dan luar kelas sama-sama menyumbang pembentukan hard maupun soft skills (kegiatan kemahasiswaan bukan cuma kebagian soft skills, dan sebaliknya kegiatan kuliah bukannya tidak bisa membentuk soft skills).. jika demikian, bagaimanakah cara LK FE agar mampu menghadirkan pengalaman belajar bagi rekan2 mahasiswanya, suatu pengalaman berharga (bermutu, bervariasi) yang tidak mungkin didapat di luar kampus.. Di era 70an, terkenal istilah bahwa KAMPUS itu adalah dunia BUKU, PESTA, dan CINTA… bagaimana mahasiswa zaman sekarang memaknai dunia-nya? Di zaman kami berkuliah, beberapa rekan memandang bahwa mahasiswa adalah INTELEKTUAL muda yang RADIKAL (pemikirannya fundamental, penuh idealisme), KREATIF (masih belum dibebani hal-hal yang ‘meracuni’ pikiran dan karenanya banyak batasan2 dibuat sehingga: “bisa atau iya, … tetapi…”).. dan mumpung masih mahasiswa jangan takut2, kalian masih ‘BEBAS dari SALAH..’ Pertanyaan-nya, bagaimana LK FE mewadahi hal-hal tersebut dalam pengalaman2 selama bermahasiswa agar pengalaman bermahasiswa adalah menyenangkan dan berguna bagi masa depan (ia tidak akan terulang kembali)?

    Dengan begitu, point card cuma mengatur atau tepatnya memberi ‘playing field’.. mahasiswa harus bermain di wilayah itu, tidak di luar.. begitulah kira-kira… Tetapi apa yang mau dimainkan (diharapkan yang bermutu dan bervariasi tadi), bagaimana memainkannya.. siapa terlibat, berapa lama satu fase permainan dllsbnya itu adalah ‘ruang otonomi’ anda.. Karena itu di depan saya katakan.. be creative lah… semangat tinggi sedikit lah… masa di zaman 80an UKSW bisa membuat kegiatan berskala Asia Tenggara plus, sekarang kok memble… FE UKSW pun tidak kurang-kurang membuat seminar2 dan kegiatan2 lain berskala nasional/regional di waktu lampau kenapa sekarang jarang… Padahal, ini kan zaman tanpa batas.. jejaring komunikasi mahasiswa bisa melewati batas-batas administrasi suatu wilayah.. termasuk negara… kenapa tidak bisa memanfaatkan jejaring2 seperti itu untuk kegiatan2 kemahasiswaan dan kepentingan mahasiswa? Semua itu cuma butuh .. out of the box thinking… berani dan kreatif dan semangat… Kadang ada yang beralasan duit tidak ada… tahukah teman2 dulu tidak jarang sebuah seminar nasional cuma bermodal 500.000 atau 1 juta?.. itu cuma cukup jadi modal untuk cair duit lagi, sama sekali bukan dana penyelenggaraan… namun, itu tidak mengurangi semangat, apalagi mutu kegiatan..

    Catatan akhir… rangsangan2 kritis yang diajukan beberapa rekan baiklah menjadi bahan koreksi diri.. terima kasih kepada mereka yang mau mengritik kekurangan atau ketidaktepatan konseptual maupun praktik… kita semua bepikir untuk maju bukan untuk tetap jalan di tempat atau bahkan mundur.. jadi, what’s next?

  13. DIDIT says:

    SEDIH deh, baca tulisan (a)dek (angkatanku) Yodie,
    Kalo pikiran mahasiswa FE kayak anda, ga ada BRAVO VIVA FE, VIVA UKSW lagi dong…!!

    Sebodoh-bodohnya, anda dan saya pasti punya visi (untuk hidup). Saya tidak akan bicara panjang lebar ataupun beranalogi masalah visi dengan anda, karena seharusnya seorang yang sudah lulus SMA/sederajatnya seperti anda haruslah bisa lebih berpikir sedikit dewasa untuk tidak MENYALAHKAN KEADAAN HANYA KARENA MALAS BERJUANG.

    Apa yang FE berikan untuk anda dan saya, atau apa yang anda dan saya berikan untuk FE…suatu saat biarlah waktu yang menjawabnya. Hujatan yg anda lontarkan ke FE saat ini, kelihatan sekali kalo anda MENYALAHKAN KEADAAN HANYA KARENA MALAS BERJUANG.

    Dongengnya bagus…lakonnya Yodie eh Tole yang happy endingnya jadi wirausaha sukses karena DO. tapi jd wirausaha kan butuh modal banyak yaa..untung bapaknya juragan air…pasti kaya raya…
    dan tau ga, wirausaha sukses tetap cari karyawan kayak saya, saya yang berkualitas tidak MENYALAHKAN KEADAAN HANYA KARENA MALAS BERJUANG.
    Kualitas FE yang saat ini anda pertanyakan…
    pikirkanlah…si Tole yang hanya bergantung sama bawahan…bawahan rencana resign pasti deh kelimpungan…
    Bersyukurlah…anda tidak hidup di generasi saya…
    seorang yang MENYALAHKAN KEADAAN HANYA KARENA MALAS BERJUANG, bisa apa ???

    Saya (benar-benar) berharap, anda adalah mahasiswa FE !!!
    bukan mengaku-aku mahasiswa FE…

    Didit (2398136)
    alumni FE UKSW Agst 2003
    kerja 4 taon di Evergreen Group, tp nganggur 1 taon dulu

  14. STR says:

    Untuk Dian Ade Permana,

    Saya sudah katakan, artikel ini adalah opini, bukan berita! Namun, dalam menulis opini, saya terlebih dahulu melakukan reportase dan wawancara untuk memperluas wawasan saya tentang hal yang saya komentari (dalam hal ini adalah LK FE, sistem kartu poin, dll). Jika anda perhatikan, kolumnis-kolumnis di media-media internasional (macam Noam Chomsky dan Thomas Friedman) juga melakukan reportase dan wawancara jika mereka menulis opini. Bandingkan dengan kolumnis-kolumnis yang mengisi suratkabar Kompas, Jawa Pos, atau media mainstream di Indonesia. Mereka semua menulis opini semata-mata dari perenungan diri mereka sendiri yang super subjektif. Agus Sopian, redaktur Jurnal Nasional, menyebut kolumnis-kolumnis tersebut “reporter dari lamunan.”

    Atau begini saja deh. Kalau Anda masih ngotot merasa saya punya kepentingan dengan artikel ini, tolong Anda tunjukkan apa kepentingan itu, dan baik buruknya bagi pembaca (pembaca yang mana?).

    Apakah saya tidak boleh mengatakan LK FE fasis, jika kenyataannya adalah demikian? Apakah teriakan hati saya bukan berasal dari nurani?

    Kalau ada seseorang merampas sesuatu dari orang lain, apakah saya tak boleh menulis orang tersebut sebagai perampok?

    Lalu apa beda nurani dan pikiran? Bisakah orang berpikir tanpa nurani, dan bernurani tanpa pikiran? Manusia itu secara utuh merasa, mengakal, dan mengada.

    ***

    Untuk Opha,

    Memang, tidak ada ruang dan waktu yang benar-benar otonom. Kebebasan mutlak juga merupakan sesuatu yang utopis. Tapi bukan itu masalahnya.

    Masalah terjadi ketika pemerintah terlalu mengatur kehidupan rakyatnya. Mengatur apa yang tak perlu. Fakultas sudah terlalu banyak mengatur pengembangan diri mahasiswa. Kurikulum yang kaku. Matakuliah yang tak penting. Dosen yang tak bisa mengajar. Kini LK juga ikut-ikutan mengatur dengan kewajiban sistem kartu poinnya. Padahal kegiatan-kegiatan LK sendiri, menurut saya sebagai mahasiswa, jarang yang bermutu.

    Jadi, apa yang tidak diatur fakultas dan LK sekarang? Semua diatur, semua diarahkan. Katanya mau bikin creative minority, tapi kebanyakan aturan. Kata “kebanyakan” harusnya diganti dengan “proporsional.” Dan itulah yang jadi tugas fakultas dan LK untuk berkomunikasi dengan mahasiswa dalam rangka menentukan batas-batas yang disebut “proporsional” tersebut. Jika tak mampu memenuhi tugas ini, ya mending nggak usah duduk di fakultas dan LK.

    ***

    Untuk Neil Rupidara,

    Pak, silakan saja jika paham “pasar bebas” tidak digunakan, asal pemerintah (dalam hal ini fakultas dan LK) tidak fasis dan bisa menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya (mahasiswa). Jangan paksa mahasiswa mengikuti orang yang tak bisa mereka ikuti dan hormati.

    Sistem kartu poin termasuk alat mobilisator partisipasi mahasiswa dalam kegiatan. Menurut Theo Litaay, “Kalau mau melakukan mobilisasi, maka mobilisator harus cukup kuat dengan pesan dan metode yang efektif. Sehingga tujuan atau nilai yang hendak ditanamkan memang dapat dicapai secara efektif dan membawa manfaat positif bagi peserta mobilisasi itu.”

    Saya sepakat dengan Stiglitz. Market won’t work well because it isn’t well informed, indeed. But the fascism of the government has made this condition worse. We need more, more, and more communication between the people and the government. A well-informed market will work well in a free trade area as well as in a ruled trade area.

    Terima kasih.

  15. Neil Rupidara says:

    @STR..

    Hmmm… memulai tanggapan saya.. satu pertanyaan sederhana soal apakah ada informasikan/tidak atau, misalnya, dibaca dan dipahami atau tidak.. untuk membedakan antara adanya supply informasi dan tidak bekerjanya aktor/individu dalam sistem, jadi selalu bukan soal sistem dan mekanisme2nya selalu… Begini, sejak masuk, mahasiswa mendapat Katalog (peta studinya 4 tahun).. juga, buku Peraturan Akademik (konstitusi sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi)… apakah itu dibaca? Saya khawatir kan tidak… Ini contoh sederhana.. dalam hal ini, informasi sudah ditangan.. tidak lagi asimetrik….. (sedikit meralat dan menambangkan pandangan sebelumnya soal asimetrik-nya informasi)…Tapi, fenomenanya.. untuk memahami dan menuntut hak dan memenuhi kewajibannya sebagai ‘warga negara’ secara akademik di UKSW/FE saja tidak sedikit mahasiswa yang tidak tahu.. Ini cuma contoh perilaku I don’t care.. bahkan untuk kepentingan dirinya sendiri!!!! Ini soal2 yang melekat pada aktor/individu dalam berpikir, bertindak… Jadi, the problem is much more complex, i guess…

    Pertanyaan kedua… di manakah kehidupan yang tidak diatur oleh sebuah institusi? Contoh sederhananya… untuk “bermain” di Scientiarum pun saya harus ikut aturan main Scientiarum… boks sudah disediakan… Harus isi Nama, Email (katanya: wajib diisi).. hanya URL yang bebas.. see? Tidak ada yang bebas… Tapi, saya tahu itu baik.. supaya ketika berkomunikasi di wilayahnya Scientiarum saya bukan seorang anonim.. dan, supaya “kehidupan” ber-SA pun lebih teratur.. bagaimana jika teman2 bebaskan kami semaunya saja? Saya kirim email ke mas STR.. lalu tugas mas STR untuk copy dan posting di SA? Bisa, tetapi kurang apik kan? Jadi, ini simple.. mari beri ruang untuk pahami dulu kenapa sebuah tatanan diperlukan.. di ruang2 mana ada tempat untuk bermanuver…

    Mari kita tengok point card sekarang… apa sih yang terlalu diatur Fakultas? Fakultas hanya meminta para mahasiswa agar selama bermahasiswa di UKSW ‘teguklah’ pengalaman berkegiatan mahasiswa melalui berbagai wadah kemahasiswaan yang disediakan.. Ini bukan saja baik bagi si mahasiswa, tetapi karena tuntutan profil lulusan… UKSW menginginkan lulusannya menjadi creative minority dan itu diterjemahkan menjadi kelompok kemampuan Professional dan Humanistic.. dan, itu dijabarkan lagi dalam 7 kadar.. Jika mengikuti aturan UKSW itu, maka setiap lulusan UKSW mestinya pernah mengecap kegiatan2 yang berisikan keseluruhan 7 kadar itu.. Namun, kan itu tidak diatur demikian.. melalui point card, FE cuma meminta 250 point dipenuhi selama 3 hingga sekian tahun berkuliah di FE.. yang dibagi ke dalam kelompok wajib kelembagaan (Orientasi Studi) serta pilihan2 bebas (proporsional Humanistik dan Profesional).. Adakah Fakultas mengatur mau ikut kegiatan apa, yang lain tidak boleh? Tidak, tidak sama sekali…

    Lebih jauh.. bayangkan, jika satu kegiatan 25 point.. 250 kegiatan hanya 10 kegiatan (bisa kurang kalau menjadi panitia atau fungsionaris LK).. 10 kegiatan dalam (dibagi rata-rata/normal) 4 tahun kuliah, maka ada 2 atau 3 kegiatan dalam 1 tahun.. kalau setiap semester ada kegiatan kemahasiswaan yang diikuti.. maka cuma 1 kegiatan 1 semester.. Come on.. apa sih yang berlebihan dengan itu? Dengan kenyataan, bahwa kegiatan2 itupun silahkan mahasiswa bebas pilih apa yang diminatinya, maka adakah Fakultas mengatur terlalu jauh? Be proportional juga dong dalam hal ini… Saya gumun… bagaimana mungkin ada mahasiswa yang kekurangan poin setelah kuliah 4 tahun… dengan model perhitungan di atas.. dan lagi, ada poin yang bisa didapat mahasiswa dari berkegiatan di luar FE, bahkan luar UKSW, termasuk kegiatan di kampung tempat tinggalnya (Karang Taruna, Pemuda Gereja, etc…)… so please deh.. jangan terlalu dibesar-besarkan.. sekali lagi ada ruang yang begitu besar bagi mahasiswa untuk atur dirinya sendiri dalam medan permainan besar yang ditata.. untuk suatu maksud..

    Memang, dulu tidak diatur-atur begitu… saya mulai kuliah 1990 dan tidak diatur-atur begitu.. tapi, mari lihat kondisi kemahasiswaan di UKSW in general dan specifically di FE.. penuh kegiatan (padahal, mahasiswanya paling banter 250 orang seangkatan).. Itupun, kalau dulu ngobrol2 dengan sesama mahasiswa aktivis LK Fakultas lain, tidak jarang ada celutukan.. “mahasiswa FE itu a-sosial..” ha ha ha.. masa’ sih.. padahal, ilmunya ilmu ekonomi, tentang pasar.. pasar adalah interaksi.. jadi, kalau a-sosial itu kan aneh.. Tapi, barangkali benar, cukup banyak mahasiswa FE dari kalangan berada… mereka bisa punya dan lakukan apa saja dalam konteks dirinya… Tetapi, bagaimana dengan ketrampilan dan kecerdasan emosional – sosialnya? Itu yang di-soal-jawab oleh sejumlah mahasiswa lain itu… Cukup banyak hal berubah drastis mulai 1995, khususnya di FE… walau ciri ‘a-sosial’nya itu ya tetap saja ada di situ… padahal, kita memasuki masa.. hampir segala sesuatu dilakukan dalam tim.. interaksi inter-individu penting.. dalam konteks UKSW, hal-hal begitu sejak dulu merupakan domain-nya kegiatan mahasiswa.. di sanalah mahasiswa ditempa.. Di sisi lain… karena student intake melompat drastis sejak 1995.. hal-hal di atas makin sulit dikendalikan.. kegiatan kuliah yang cukup besar mengandalkan kelas2 berukuran 150 – 200 mahasiswa menghiasi wajah FE.. ini bukannya membantu menjawab tantangan dan persoalan tadi, malah bikin tambah masalah.. Belakangan, para pencari dan pengguna lulusan (termasuk alumni FE sendiri) berkomentar… kok mutunya jadi begini? ada sih yang pinter, tapi pinter ‘gagap’ ketika turunkan konsepnya ke kenyataan.. ini tentu kritik menyeluruh pada seluruh kenyataan FE.. bukan soal dunia kemahasiswaan.. Tapi, dunia LK dan bidang kemahasiswaan di Fakultas soalnya adalah apa yang bisa dijawab dari sudut dunia kemahasiswaan? Dan, jawaban dunia kemahasiswaan bukan cuma point card.. tetapi juga masuk ke wilayah akademik.. mahasiswa perlu juga terlibat dalam kegiatan2 akademik Fakultas (dhi penelitian, pengabdian masyarakat)..

    Karena itu… Sat.. pahami konteks lahirnya point card… mengapa ada ide perlu diintervensi, dalam konteks saat itu… Lalu, seberapa jauh sih sebetulnya level intervensinya? Jangan sampai kita terlalu membesar-besarkannya.. Mahasiswa masih punya ruang yang terlalu besar untuk mengatur dirinya sendiri..

    OK, lalu, sekarang.. saya (sebagai pribadi, bekas mahasiswa, fungsionaris LK FE), tantang LK dan mahasiswa FE UKSW… duduk dan evaluasi secara kritis dan mendetail.. apakah solusi Anda? Sudah saatnya kah Point Card dihapus?

    Kami pernah mendiskusikan ini.. Sebagai Pembantu Dekan di saat itu saya mengundang LK FE dan bertanya… “Apakah kalian (pada LK saat itu) merasa bahwa solusi atas persoalan2 yang ada adalah mari kita hapus saja point card?” Tapi, diskusi2 kami waktu itu merekomendasikan, Tidak, tetapi mari perbaiki. Jadi, sebagai warga FE saya tanya Anda kembali…

    Catatan: begitu anda-anda lulus dari FE UKSW.. anda-anda bukan lagi hanya membawa nama Satria, Yodie, Neil dll.. anda bawa atribut kelembagaan.. FE UKSW.. di ‘kening’ anda… Karena itu, bisakah setiap mahasiswa membuat komitmen bahwa dirinya akan mencoba sebaik mungkin untuk ikut merepresentasi institusinya dengan baik, di samping itu juga baik bagi dirinya? Jangan kita buktikan lagi sinyalemen “kok begini sih?” Jika komitmen itu ada atau bisa dibuat.. mari usul FE (semoga pimpinan FE bisa terima) untuk cabut point card.. setiap mahasiswa (paling tidak mayoritas) akan sadar bahwa itu sudah tanggung jawabnya sendiri.. kan sudah dewasa.. Jika komitmen ini dipegang.. semua akan simple kok..

    Kecuali.. kecuali… STR atau teman lain menganggap bahwa “jangan atur apa mau kami… itu urusan kami.. kami mau jadi apa itu urusan kami..” jadi memang tidak ada urusan Fakultas/Universitas dengan apa mau-nya si mahasiswa… cuma sayangnya… menurut saya… untuk mau jadi apa pun sesuai cita-cita, anda sekarang masuk ke dalam suatu sistem.. suatu sistem jelas hidup karena ada elemen2 dan mekanisme2 bekerjanya… Universitas dan pendidikan tinggi, sebagai suatu sistem, secara konseptual bukan sekedar tempat produksi dan jual beli pengetahuan… Ia adalah tempat mendidik seseorang menjadi warga negara, komunitas terdidik, di samping profesional dalam bidangnya.. etc.. Jadi, ketika seseorang memutuskan masuk menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi, ya ia masuk dalam segala skenario pendidikan di perguruan tinggi itu.. Namun, jika memang mau main sekehendak hati sendiri, setiap orang masih punya ruang bebas untuk tidak memilih masuk ke perguruan tinggi.. apalagi UKSW.. apalagi FE.. apalagi progdi.. apalagi konsentrasi.. Catatan: dengan mengatakan ini, saya belum menilai sisi sebaliknya, tanggung jawab institusi untuk menyediakan pendidikan yang bermutu, dengan segala konsekuensinya, mohon ini dipegang dulu… Kalau masih belum bermutu.. “teriaklah” terus.. tuntut supaya lebih bermutu… jangan biarkan Fakultas, dosen seperti enak di zona kenyamanannya… tapi, siap juga terima konsekuensi dari yang disebut bermutu..

    Masih soal point card dan implikasinya pada penyediaan program2 kemahasiswaan yang cukup bervariasi dan bermutu.. hmm… Pahami dulu logika penyusunan program di lingkungan LK.. ini yang missing selama ini.. bahwa programnya LK adalah ekspresi aspirasi mahasiswa (dalam setting kelembagaan UKSW).. Program LK bukan cuma mau-mau-nya si pengurus.. Karena itu, kontrol si pengurus dong… Mekanisme berkehidupan kemahasiswaan di UKSW telah diatur dalam Ketentuan Umum Keluarga Mahasiswa (KUKM) UKSW.. KUKM sudah mengatur bagaimana fungsi dan peran lembaga kemahasiswaan… Mereka bukan milik pengurus, mereka ada karena ada mahasiswa, yang dalam filosofi UKSW punya kedudukan setara dengan dosennya dalam pengupayaan ilmu pengetahuan (berbasis keyakinan IMAGO DEI dan berprinsi UNIVERSITAS MAGISTRORUM ET SCHOLARIUM)… Karena itu, pertanyaannya, apa sih aspirasi mahasiswa FE UKSW agar diwadahi lembaganya melalui diadakannya kegiatan2 yang penting dan berguna bagi diri mahasiswa sendiri? Aspirasikan itu… tuntut itu pada LK… dan Itu rumah tangganya mahasiswa… Fakultas tidak punya urusan berlebihan dengan programnya LK itu.. Sebagai catatan: dalam pengalaman saya sebagai Pembantu Dekan, apa yang saya lakukan sebagai wakil Fakultas yang menjadi mitra LK adalah sebatas menjelaskan apa policies dan programs Fakultas (bahkan meminta agar HMJ meminta hal yang sama dari para Kaprogdi) dalam 1 tahun agar menjadi pertimbangan bagi penyusunan program LK dhi SEMA dan khususnya BPMFE.. Dengan tahu itu, barangkali dari situ kita bisa bekerja bersama dalam hal-hal yang beririsan, antara LK dan Fakultas.. Semuanya bagi kepentingan pembinaan/pengembangan mahasiswa, menyediakan apa yang ditangkap sebagai kebutuhan (bukan keinginan atau kemauan belaka)…

    Di waktu2 lampau, saya sempat sesekali ‘intervensi’ dengan penciptaan program baru yang diharapkan kemudian bisa diakomodasi oleh SEMA / HMJ ke lingkungan mereka (kalau sekedar ide tidak kurang-kurang)… ambil contoh dulu dibuat (itupun perancangan dan implementasinya dilakukan bersama LK dan sekelompok dosen) sebuah forum Dialog Ekonomi dibuat dengan model cafe di sore hari.. ada pakar diundang untuk menstimulasi dialog atas masalah ekonomi aktual dan ada cafe yang bisa menciptakan suasana forum dialog ekonomi itu menjadi santai tapi serius.. Mengapa harus intervensi beginian kalau LK FE lancar dan kreatif.. paling kan Fakultas cuma perlu suntik dana kan…. agar dinamika mahasiswa FE berjalan baik dan dari, oleh, dan untuk mahasiswa sendiri..

    Karena itu.. hei hei hei.. mahasiswa FE ada seribu berapa? Masa dari sekian banyak tidak bisa menghasilkan ide2 brilian, bahkan membentuk kelompok2 yang bisa membuat kegiatan2nya sendiri yang dinilainya baik? Coba perhatikan.. hampir semua kelompok kegiatan mahasiswa di FE saat ini adalah produk angkatan 80an dan 90an, di mana angkatan 2000an? Ingat, ini sudah 2008.. kita mau masuk dekade baru… KSP dan Mitra Gahana sudah ada di akhir 80an, KSM dibentuk pertama kali 91, KSA baru muncul belakangan (Progdi Akuntansi dimulai 1994)… Teater Tilar sekitar 94 (lupa persisnya)… EFC sekitar 93.. lalu disusul EVOC, EBC di paruh kedua 90an… Jadi, kebanyakan lahir di dekade 90an… 2000an? Mungkin ada Finger Kine Klub (apa malah akhir 90an? karena perintisnya adalah mahasiswa 90an), ada juga kelompok Jurnalistik kembali (dulu sudah ada dengan nama Dian Ekonomi, sudah ada dari awal tahun 80an dan menjadi ajang tulis menulis mahasiswa FE UKSW yang di antaranya mengantar sebagian mahasiswa penulis menjuarai lomba2 karya tulis ilmiah).. Jadi, kini justru sayalah yang harus bertanya.. kemana kalian hai mahasiswa FE.. pikiran kalian di dan ke mana? Ini pun sudah terlalu sering saya tanya dan tanya… tapi, responnya mana… masa sih tidak ada ide brilian mahasiswa FE zaman sekarang? Atau, apakah harus tunggu Fakultas intervensi lagi? Nanti dibilang terlalu mengatur..

    Setuju.. komunikasi dan komunikasi… ini contoh negatif lagi… sebagai wali studi sering saya katakan kepada mahasiswa walian saya.. saya ada di kantor saya… anytime kalau butuh saya, silahkan cek di kantor.. kalau tidak ada, mungkin ada urusan lain dan coba waktu lain.. tapi, seberapa sih yang datang, ngobrol2 apa saja dengan saya? adakah mereka memang tidak butuh konsultasi? ya baik lah.. kan mereka bisa baca aturannya dan paham.. tapi, jangan tanya ketika sudah kecekik masalah.. lari2nya ya wali studi… dan tidak jarang ‘air sudah di leher’, hampir tenggelam.. tapi, syukur masih mau datang dan sama-sama selesaikan masalah.. namun, secara umum, FE dan UKSW sejak awal sudah katakan.. ada wali studi dan itu ‘orang tua’ anda… tapi, catatan Fakultas menunjukkan bahwa lembaga perwalian hampir2 tidak berguna.. Tapi, coba bandingkan ini… dulu.. ini cerita lagi… ada seorang dosen yang harus mencari2 seorang mahasiswa yang dititip orang tuanya (karena selalu bermasalah), mencari sampai ke tempat main bilyar di Atrium sana.. pagi2 buta ditelpon orang tua ybs untuk mendengar keluhan mahasiswanya… ini dosen senior lho.. masih mau lakukan yang kayak begitu… bayangkan.. hanya demi beban moral dan tanggung jawab pendidik.. sang dosen yang pergi cari di tempat sebuah tempat bilyar, itupun setelah bertanya ke sana dan ke mari.. Ya, kesimpulannya, kita memang butuh komunikasi.. komunikasi adalah kuncinya… tapi, komunikasinya bukan satu arah, apalagi nunggu diatur ini dan itu…

    Namun, proses berkomunikasi juga mengalami distorsi2.. ambil contoh sepele… saya ingat persis tempo hari, entah sudah berapa banyak lembar informasi saya minta dipasang di papan2 pengumuman, ini kasus seputar RMK dan SIASAT… sebelum libur dan saat mahasiswa kembali dari liburan pengumuman itu tetap terpasang… Tetapi, tetap saja pada datang tanya apa yang sebetulnya sudah ditulis di sana.. Bahkan, sejumlah mahasiswa tetap saja melakukan kesalahan walau telah diinformasikan… Hal lain soal kurikulum.. fenomenanya hampir sama.. bahkan sudah ditambah keterangan… temui Dekan, Pembantu Dekan, Kaprogdi, wali studi etc… Tapi, kesalahan dan kesalahan yang direproduksi.. So what’s really wrong with us? Market doesn’t really work well… huh… hmmm.. walaupun itupun sudah dengan injeksi informasi (komunikasi)… masih kurang.. masih perlu lebih intens ya… atau ada soal I don’t care pada diri kita-kita sebagai aktor?

    Bagi saya, aktor/individu pun tidak selalu bermain pada perannya (banyak sudah studi tentang hal ini).. terlalu sering kita mengasumsikan aktor itu rasional… tapi, tidak sedikit orang juga menilai bahwa rasionalitas itu berbatas… Karena itu, baguslah individu seperti STR.. malah mau nuntut haknya untuk dapat pendidikan dengan proses yang bermutu, kurikulum yang bebas karena mahasiswa bisa atur dirinya, dosen yang juga bermutu, fasilitas yang baik dan lengkap etc… Di atas sikap seperti itu, saya dukung… Itu hak-hak mahasiswa… sadari dan tuntut… sampaikan ke Fakultas… tuntut BPMFE untuk menuntut Fakultas perhatikan dan perbaiki… Kalau ada ‘tensi’, mari kita duduk bicara… Hal macam begitu orang seperti saya tunggu dan tunggu… Namun, Fakultas juga kan berisi manusia2, yang punya kelemahan dan tidak jarang khilaf.. Tegur.. protes.. kalau perlu… kan katanya komunikasi..

    Di sisi lain, ada kewajiban2 mahasiswa juga… Ambil contoh.. Dosennya juga tidak jarang mengeluh.. “saya kasih bacaan, tidak satupun yang baca… saya tanya, pada diam semua” (ini pembahasaan kembali dari berbagai forum evaluasi PBM di FE)… akhirnya dosen seperti orang ini bisanya marah-marah.. bukan mengajar atau menjadi teman belajar.. ngambeg, perkuliahan terhenti… dan, ada ketegangan psikologis dalam relasi dosen – mahasiswa.. hmmm…. jika direnungkan.. benar juga si dosen… masa’ sih ilmu didapat tidak dari membaca? masa’ ilmu berkembang tidak dari dialog2 keilmuan, diskusi etc… kan Anda semua sudah pilih jadi mahasiswa (di FE lagi), bukan politisi, bukan olahragawan, bukan artis, etc… jadi, ada juga kewajiban menjadi mahasiswa… penuhilah..

    Soal kurikulum.. jika saya di Salatiga, saya pasti akan undang mas STR dkk.. mari kita diskusi dan debat.. apakah kurikulum di FE benar2 ‘mencekik’ mahasiswa dengan semua hal serba diatur..? Coba bandingkan dengan fakultas lain juga.. bandingkan juga dengan program2 pendidikan Ekonomi, Bisnis/Manajemen, dan Akuntansi di seluruh universitas Indonesia dan juga di muka bumi ini.. Hendaknya mas STR juga proporsional dengan membuka referensi2 tentang kurikulum pendidikan Ekonomi, Bisnis, dan Akuntansi.. jangan2 di UKSW mas STR akan kaget menemukan bahwa FE – lah yang paling fleksibel… jangan2 untuk ukuran di Indonesia, kesimpulannya FE UKSW jugalah yang paling fleksible… Namun, saya tidak mau mengatakan bahwa kita sudah memberi ruang kebebasan yang besar.. tidak.. masih belum sampai level itu… masih banyak hal perlu disempurnakan… masih perlu keberanian untuk memilih.. dllsbnya..

    Lebih dari itu, masih banyak hal perlu diperbaiki… karena banyak kurang2nya… Tidak dalam satu malam semua diselesaikan.. Namun, yang paling vital adalah bersuara-lah jika temui hal yang tidak Anda inginkan… Kita perlu mendapati kesediaan semua orang untuk menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan lebih dari itu ya mau memerbaikinya..

    O ya, bagi saya mahasiswa pun bisa aktif berperan dalam penggodogan kurikulum… Di sejumlah tempat yang pernah saya kunjungi, ada wakil mahasiswa dalam komite2 kurikulum… atau, organisasi kemahasiswaan terkait selalu punya akses untuk say something tentang kurikulum… saya kira dalam semangat LK dan mahasiswa adalah mitra kerja Fakultas (ingat IMAGO DEI dan UNIV MAGISTRORUM et SCHOLARIUM tadi), maka itu bukan hal yang tidak mungkin di UKSW dan khususnya di FE.. Cuma, kita semua perlu wujudkan itu… dan bagi anda… “isilah peluru.. marilah kita ‘berperang’ (maksudnya ya masuk dalam ruang2 dialog/debat substantif soal bidang keilmuan kita dan bagaimana baiknya mendeliver itu)…

    salam

  16. Edhi says:

    mengapa mahasiswa apatis dan tidak mau mengikuti kegiatan ? Mungkin justru pertanyaan ini yang lebih krusial untuk di pertanyakan dan carikan jawabannya. Ini bukan persoalan sekarang, tapi persoalan dari dulu.

    Beberapa persoalan mungkin sbb :

    Pertama, semakin bertambah banyaknya mahasiswa, membuat manajemennya juga semakin kompleks. Sebagai contoh : saya tumbuh di angkatan yang untuk pertama kalinya FE menerima 400 mhs, dan kemudian ada yang mengeluh mengapa angkatan kita tidak se kompak angkatan pak Neil Rupidara ?? Jelas saja, mengelola 200 kepala lebih mudah daripada 400 kepala !
    Pertanyaanya : Apakah program kerja LK di masa per angkatan 150 – 200 orang ; di bandingkan dengan saat mahasiswa sudah bengkak jadi 400 – 600 (bahkan 800) orang mahasiswa per angkatan ada beda yang significant ? Jangan sampai terjadi orangnya tambah banyak tapi wadahnya sama saja..

    Ke dua, sejauh mana kegiatan yang di lakukan itu menyentuh kebutuhan setiap orang untuk (dengan sukarela) terlibat ? Mengapa di masa lalu, saat Arief Budiman di pecat tiba-tiba ribuan mahasiswa berdemo, padahal sebagian besar dari mereka konon anak2 yang kita sebut “apatis” ? (I’m sorry, ini sekedar contoh ekstrem-nya). Terjadi suatu kegerakan di mana kepentingan mereka “tersentuh” , entah itu rasa keadilan, entah itu kekhawatiran terhadap kelangsungan study, atau bahkan sesederhana alasan “ikut-ikutan”, pointnya adalah akibat adanya persinggungan suatu peristiwa dengan “kepentingan” seseorang, pasti akan menimbulkan kegerakan secara sukarela. Bisa nggak kegiatan di ciptakan sampai menyentuh kepentingan mereka ? (yang terjadi adalah kepentingannya yang di ciptakan : dapat point supaya bisa ikut ujian, tetapi saya lebih setuju bila kepentingan itu datangnya dari “dalam diri” bukan dari luar, karena dengan landasan kesadaran hasilnya akan lebih optimal). Nah, ini tantangan untuk marketing-nya LK.. Konon kesalahan terbesar dari seorang marketer adalah merasa paling tahu apa yang di butuhkan konsumennya, tanpa pernah tanya kepada mereka !!!

    Ketiga, hal yang saya sadari sekarang (tapi tidak waktu bermahasiswa) adalah saat menjadi mahasiswa, kita seharusnya merubah paradigma belajar menjadi lebih luas, contohnya : dari “pengajar” sentris ke “ilmu” sentris yang menempatkan dosen sebagai fsilitator, dari “kelas sentris” menjadi kemandirian… kalau cara berpikirnya masih seperti “siswa” ya rugilah anda… bayarnya semua sama, mau dapat sedikit atau dapat banyak tergantung kita sendiri… makanya saya heran kalau berkegiatan itu = bermanfaat, kenapa harus di paksa-paksa ? It’s a matter of choice ! Tentu bilamana terjadi ketidaksempurnaan seperti kurangnya kelas, keterbatasan fasilitas, ya.. itu semua masalah teknis yang memang harus menjadi pemikiran pengelola universitas, silahkan di jadikan masukan dan di tuntut, tapi jangan di jadikan alasan untuk menurunkan mutu pribadi anda… Ingat, Internet jauh lebih pintar dari dosen anda ! Nilai ? Apa sih artinya ? Dengan 2,75 atau lebih sudah bisa jadi karyawan, kalau mau jadi pengusaha, tidak ada yang tanya IPK anda, tapi apa yang anda bisa lakukan untuk dapat uang ! Lha kalau di sediakan LK untuk belajar “praktek manajemen” secara gratis tidak di manfaatkan, ya salahnya sendiri dong.

    Ke empat, kembali ke aktif ber-LK dan ikut kegiatan dalam rangka mengatrol Humanistik skill anda, apa benar ?? Ya itu kembali ke masing2 kita juga, ada yang aktif tapi dapatnya capek doang, ada yang berkat aktif ber-LK, saat ini menjadi pemimpin yang handal… Semua orang bertumbuh, tapi ingat bukan sekedar medianya, yang terpenting orangnya itu sendiri, bisa belajar banyak atau mau capek doang ? Sayapun salah satu orang yang percaya bahwa pengalaman ber-LK dulu ikut membentuk saya.

    Kan sekarang yang di pusingkan, kalau ber-LK itu baik kenapa banyak yang cuek dan sampai harus di paksa2 ? baca dari atas lagi deh……. pusing juga gua, masalah klasik yang tak kunjung terselesaikan…

  17. dian ade permana says:

    satria:”..Atau begini saja deh. Kalau Anda masih ngotot merasa saya punya kepentingan dengan artikel ini, tolong Anda tunjukkan apa kepentingan itu, dan baik buruknya bagi pembaca (pembaca yang mana?)…

    satria..saya tidak menulis satria memiliki kepentingan..
    di rubrik ini, pada tulisan 11 Agustus 2008 saya menulis..”..ini demi independensi penulis agar tidak terlibat dalam berbagai kepentingan yang terdapat dari sumber berita…”

    saya tidak ngotot…kepentingan sumber berita dan kepentingan penulis..itu dua hal yang berbeda..dan saya rasa satria tahu mengenai itu..saya harap..satria tidak reaktif..

    mengenai baik dan buruk..itu tergantung implementasi kita terhadap isu..jangan terpancing!!!

    satria: “Apakah saya tidak boleh mengatakan LK FE fasis, jika kenyataannya adalah demikian? Apakah teriakan hati saya bukan berasal dari nurani?”

    boleh..satria boleh mengatakan apapun..selama itu adalah fakta..tapi, meski itu fakta,satria tidak bisa bersikap menghakimi..
    mungkin benar…LK FE FASIS sesuai teriakan hati dan nurani satria….

    salam

  18. wahyu prasetyo says:

    halo Pak neil, opa, str..
    pa kabarnya semuanya?

    kok topikya seru banget yah…
    masalah point card lagi yah..
    menurut saya di dalam permasalahan point card ini tidak ada seseoorang, sesuatu dan sebuah lembaga yang bisa di salahkan..
    karena pada esensi yang telah di terangkan oleh pak neil ttg sistem point card (waktu rapat dengan LKFE membahasa Point kira – kira pada tahun 2004) itu sangat bagus, karena dengan adanya sistem point tersebut dapat membantu mahasiswa dalam pengembangan dirinya untuk mempersiapkan jalan ke dalam dunia kerja yang dinamis. dan saya sudah merasakannya dan menerapkan secuil pengalaman yang saya dapatkan..

    apakah memang kondisi dari mahasiswa yang makin bersifat apatis dan individualis yang makin membuat masalah ini terus berkembangan? dalam hal ini saya tidak setuju dengan tulisan bahwa FE apatis.
    kondisi mahasiswa yang sperti itu yang makin memperkeruh suasana yang ada,karena fakultas dan LKFE sudah memberikan jalan keluar untuk memenuhi syarat 250 tersebut..

    lihat aja kegiatan2 yang dibuat oleh LKFE, fakultas dan bahkan klo mau sekedar dapet point kita bisa ikutin kegiatan dari fakultas yang lainnya (padahalan acarany kadang tidak bermanfaat buat kita mahasiswa fe).
    saya saja untuk mendapatkan point 250 ga sampai 1.5 tahun, kenapa yang laen tida bisa (ini di dapat dengan mengikuti kegiatan yang saya rasa cocok dengan skill dan kepribadian saya. jadinya kurang apalagi jalan yang diberikan LK dan fakultas kepada mahasiswa untuk memenuhi 250 point?
    hanya mahasiswa yang tidak memperdulikan dirinya, yang membuat dirinya sendiri merasakan kesusahan untuk memenuhi syarat tsb.
    saran saya, baik fakultas dan LKFE diharapkan dapat membuat kegiatan yang mampu memberikan kegiatan yang dapat memberikan pengembangan kepada mahasiwa dan Don`t money oriented, karena saya tahu FE dapat memberikannya. karena FE UKSW adlah fakultas yang terbaik yang pernah saya tempati, belajar dan berkembang.
    satu hal lagi jangan sampai masalah point ini menjadi masalah yang mengakar dan tidak ada habisnya, tapi kita harus bisa menyabut akar masalahnya, jangan cuma cabang masalahnya.

    BRAVO FE, VIVA UKSW
    I`M GLAD BE PART OF FE UKSW

  19. cepero says:

    STR:
    LK FE kurang mengerti dan tanggap tentang tugasnya. Mereka juga TIDAK MAMPU mengadakan kegiatan untuk mengakomodasi kebutuhan mahasiswa. Tapi mereka masih saja MEMAKSAKAN kehendak mereka (baca: point card atau kartu poin) kepada mahasiswa.

    Neil:
    Mari kita tengok point card sekarang… apa sih yang terlalu diatur Fakultas? Fakultas hanya meminta para mahasiswa agar selama bermahasiswa di UKSW ‘teguklah’ pengalaman berkegiatan mahasiswa melalui berbagai wadah kemahasiswaan yang disediakan.. Ini bukan saja baik bagi si mahasiswa, tetapi karena tuntutan profil lulusan… UKSW menginginkan lulusannya menjadi creative minority dan itu diterjemahkan menjadi kelompok kemampuan Professional dan Humanistic..

    @STR
    Nah STR coba anda bandingkan yang Fasis/Memaksa sama yang manjalankan?
    jadi pada pelaksanaan point card tu Senat LKFE hanya menjalankan dan mengatur aturan yang ada di Fakultas sebagai tugasnya sebagai lembaga kemahasiswaan..,meskipun yang pertama kali mencetuskan ini adalah LKFE (jaman Ketua Senat Pak Seno)

    Tetapi bagi saya aturan yang diterapkan oleh Fakultas ini baik dan saya setuju, pasti timbul dibenak anda, kenapa,,?
    Latar belakangnya begini, pada jaman saya tuh belum diberlakukan point card pada mahasiswa, jadi mahasiswanya mau atau tidak ikut kegiatan tu terserah mereka, tapi pada waktu pembukaan pendaftaran panitia misalnya dibatasi jumlah pendaftar hanya 30 orang yang mendaftar bisa sampai 200 orang, padahal pada waktu itu kami tdak mendapat kan keuntungan materiil dalam bentuk apapun bahkan kadang nombok ( waktu itu saya ketua wisuda Fakulter defisit 460rb ), tapi dari situ kami mendapatkan berbagai pelajaran misal bagaimana berorganisasi, bagaimana menyusun anggaran kerja, bagaimana bertanggung jawab terhadap suatu kewajiban/tugas yang diberikan kepada kami, dan kami mendapatkan teman-teman yang tidak hanya di satu angkatan saja, itu semua seperti praktek yang teorinya kami dapat di perkuliahan, dan keuntungan bagi saya pribadi yang bisa saya rasakan sampai sekarang adalah saya yang semula takut dan canggung kalau berbicara di depan orang banyak karena sering di rapat disuruh untuk presentasi anggaran maka saya mulai bisa menghilangkan kekurangan saya, dan itu berguna bagi saya waktu bekerja dimana kita dituntut untuk berbicara dan berkomunikasi baik dengan pribadi maupun dengan klien…

    Dan mengambil pendapat mas Yodie :
    Kuliah itu bertujuan mencerdaskan diri. Anda merasa telah dibuat cerdas FE UKSW? Atau tambah TOLOL? Uang yang Anda bayar ke kampus sesuai dengan apa yang didapat? Anda merasa dilayani kampus? Tak usah mengumpat, silahkan Anda jawab di dalam hati saja!

    terus terang saya bukan orang cerdas, jadi meskipun kita bayar mahal tetapi nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) adalah tergantung dengan kemampuan orangnya, dan saya termasuk dalam kemampuan pas-pasan, coba Mas STR bayangkan lulus dari FE Akuntansi dengan IP2,4, mau kerja dimana ???
    saya ceritakan sedikit pengalaman kerja saya dan hubungannya dengan kegiatan senat,
    saya lulus Agustus 2004, setelah 3 hari Ujian skripsi dan dinyatakan lulus saya langsung bekerja sebagai Junior Consultant di Jakarta (dikarenakan ada tawaran dari teman sesama panitia), karena ingin dekat Salatiga maka saya bekerja selama 7 bulan dan keluar februari 2005,.
    nganggur 1-2 bulan terus bulan Mei bekerja sebagai Supervisor Philips Men’s Division Jawa Tengah (Masuk karena pengalaman berorganisasi dan pengalaman dalam membuat Event yang saya dapat waktu kegiatan SMFE)
    Dan karena 2 pengalaman di atas saya direkruit oleh perusahaan lain lagi yang lebih menjanjikan.

    Ini saya ceritakan kepada anda supaya tahu bahwa inilah gunanya menjadi creative minority, jadi meskipun suatu saat kita menganggur karena IP rendah, tapi kita punya nilai plusnya, jadi kita masih mempunyai visi dan pandangan tentang masa depan kita

    @Kak Neil
    kak Neil masukan aja, coba kak Neil kasih masukan ke SMFE tentang Point Cardnya dan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan soalnya saya tahu kak Neil pada waktu menjabat PD III bisa kasih masukan yang bermanfaat buat SMFE, masak point bisa didapat dari kegiatan karang Taruna? (ke-valid-annya dan manfaatnya)

    Bravo FE dan Viva FE
    Salam…

  20. Neil Rupidara says:

    @all: Pertama, saya selalu melihat baik kritik mas STR, mas Yodie dll.. karena mereka sudah menunjukkan di depan mata kita ada something wrong.. jadi, ‘perdebatan’ ini hanya untuk membawa kita naik ke hal – hal yang lebih tajam menyoal letak persoalan.. serta keluar dengan solusi2 brilian… dari kalian sendiri, maunya siihh… saya sadari, bahwa paradigma yang kita masing-masing pakai sangat memengaruhi dan jalan berpikir kita bisa saling – silang alias gak ketemu. namun, mudah2an ada ruang refleksi bagi masing – masing.. secara khusus, mudah2an rekan2 yang baru mulai aktif di LK FE (SEMA, BPMF, HMJ2, dan KBM2) juga belajar dari tulisan mas STR dan diskusi2 yang kemudian berkembang darinya.

    @cepero: terima kasih sharing pengalamanmu dan kamu memberi satu bukti lagi bahwa pengalaman berorganisasi di masa bermahasiswa does matter.. sama seperti mas Edhy, rekan saya di LK dulu.. juga teman2 kami yang lainnya, bahkan banyak seniors sebelum kami..

    point card di FE memang berkonsentrasi pada pengembangan mahasiswa di dalam kampus dan khususnya di lingkungan FE.. namun, intinya adalah seorang mahasiswa memanfaatkan masa berkembangnya melalui berbagai pengalaman yang memerkaya diri.. kebijakan point card memang di-set-up dengan membuka peluang untuk dihargainya pengalaman lain ekstra kampus.. walau porsi itu kecil… cuma kecil maksudnya agar mahasiswa memang benar2 memanfaatkan kampus sebagai dapur pengembangan diri-nya.. ingat bahwa point card turun dari pikiran profil lulusan UKSW yang memanifestasi diri dalam SPPM.. karena itu, pengembangan diri yang dimaksud adalah versi UKSW.. bahwa ada banyak mahasiswa kita aktif juga di GMKI, PMKRI, ada juga yang di HMI, LMND dan macam2.. termasuk aktif jadi panwas pemilu…, dan seperti lalu saya katakan ada juga di pemuda gereja dan karang taruna.. ya kita harus juga berkenan memberi apresiasi terhadap pengalaman2 itu.. walau sekali lagi karena fokusnya pembinaannya di kampus, maka point untuk kegiatan yang di luar kampus tidak besar proporsinya..

    soal ide ke LK.. hmmm… sayang sekali, saya lagi jauh dari Salatiga.. lagi masuk “pertapaan” biar bisa jadi begawan ha ha ha… tapi, dulu pun ketika studi di Belanda, atau belakangan jalan2 belajar ke Amerika dan Australia pun komunikasi jarak jauh dengan beberapa teman LK tetap jalan.. tentu ya kalau mereka butuh atau ya kalau lagi kangen Salatiga dan FE ya saya yang mulai kontak tanya2 saja.. jadi, saya easy going saja deh soal obrolan2 sersan dengan teman2 LK.. tapi, ingat bahwa di kampus masih ada RIF yang koord. kemahasiswaan, SEN dan YEF yang juga bekas fungsionaris/pimpinan LK.. juga ada OPHA, ROCKY, YANI, TAMBS yang juga mantan orang2 penting LK di FE dan LKU walau sudah “membelot” (hahahaha..) ke FTI… masih juga ada banyak rekan2 dosen (fakultas lain) yang aktivis LK.. yang saya kira berkenan menjadi rekan diskusi… saya termasuk orang yang dibesarkan oleh LK FE dan LKU, termasuk melalui mekanisme sharing alias obrolan2 sersan dengan para seniors dulu di zaman kami.. jadi, saya kira mereka (LK FE) harus pro-aktif.. karena jadi fungsionaris apalagi pimpinan LK adalah tanggung jawab pelayanan.. bukan jadi bos… karena itu, ya manfaatkan kesempatan belajar dari orang lain, termasuk para seniors untuk maksud meningkatkan kualitas pelayanannya..

    @LK dan mahasiswa FE (semoga baca).. Saran pribadi saya… stretch your mind… perubahan dan inovasi hanya datang dari cara itu… supaya bisa begitu.. buka mata, buka telinga, buka hati… ada banyak contoh di sekeliling kita yang bisa dipelajari dan ditiru.. apalagi internet sudah membuka luasan pandang dan cakrawala berpikir …. saya pribadi punya banyak mimpi yang belum terjawab sampai hari ini, sekalipun sudah dari dulu di-share ke kawan2 mahasiswa.. I have a dream… setiap kelompok kecil mahasiswa yang meminati sesuatu hal kemudian mulai beraktivitas lalu mengorganisasi diri.. I have a dream.. di FE lalu kita akan melihat banyak kelompok2 kegiatan mahasiwa.. misalnya E-Business Society… Marketing Club… AIESEC Salatiga… Econometrician Club… Development for All… Chindia Observer… ClubGoGo (Good Governance).. Perempuan dan Bisnis… Klub Sepeda… dllsb.. semua adalah ekspresi minat2 mahasiswa, baik akademik, soal2 kesadaran sosial, budaya, politik, etc… Tidak ada yang larang, asal tidak merugikan orang lain saja kan.. Tentu nanti perlu dipikirkan bagaimana pembiayaannya.. Namun, setuju @Wahyu Prasetyo: jangan money oriented.. justru dorong kreativitas.. kondisi keterbatasan justru sering terbukti membuat orang kreatif… kelompok2 yang sudah established atau exist pun menawarkan variasi dan kualitas kegiatan yang lebih baik.. dan, buktikan bahwa “kami bisa!” dan itu juga untuk menjawab mas STR bahwa tidak semua diatur.. ehh… ya benar diatur, tetapi self-governance.. dan suatu saat akan tidak relevan lagi point-card karena tiada hari tanpa belajar, tanpa aktivitas, tanpa perkembangan… jika mahasiswa bisa ekspresikan diri seperti itu.. dosen juga akan tersedak, tidak benar2 siap bisa berabe… dan, mahasiswa sudah tidak butuh diceramahi lagi… mahasiswa butuh ruang bicara lebih banyak… butuh waktu penyelidikan konseptual dan empiris lebih intensif… dan, akhirnya FE benar2 means quality… Bravo FE.. Bravo FE… Bravo FE..!!!

  21. dian ade permana says:

    hehehehehehe……

    mahasiswa ber IP tinggi,,,setelah lulus…hanya akan berkecimpung didunia pendidikan,,meneruskan cita-cita mulia akademis..jadi dosen..atau apapun yang berhubungan dengan penjualan IP tinggi (kecuali opha..heheheheh….sori pha..dirimu adalah anti thesis dari teori ini)

    mahasiwa ber IP sedang..setelah lulus..akan bekerja di berbagai perusahaan,,menjadi manajer..mengabdi kepada pemilik modal..menjadi sales ijazah…dan mengutuk nasibnya,,,

    sementara..mahasiwa yang tidak lulus atau yang lulus setelah sekian lama menempuh pendidikan di universitas,,skripsi mandek,,mendapat peringatan beberapa kali,,menjadikan organisasi sebagai fakultas utama…setelah lulus..akan mendirikan perusahaannya sendiri… menampung para pemilik ijazah dengan reputasi mentereng..
    karena…bagi golongan ketiga ini…ijazah hanyalah pelengkap kehidupan,,sementara yang paling penting adalah semangat untuk terus hidup…

    apa yang ingin anda cari…memiliki poin…bersikap apatis…atau berkegiatan?

    salam

  22. wit says:

    Pemilihan langsung ketua Sema FE sebenarnya melanggar Ketentuan Umum Keluarga Mahasiswa, yang beramanat: ketua senat mahasiswa fakultas dipilih oleh badan perwakilan mahasiswa fakultas. Tapi Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ekonomi tetap ngotot, ketua Sema FE yang baru harus dipilih mahasiswa secara langsung. Selama beberapa hari, satuan tugas BPM FE masuk ke kelas-kelas kuliah, mengumpulkan suara mahasiswa.

    lho… sekarang pemilihan langsung tho????? wah baru tahu, saya pikir tetap seperti yang dulu…
    dulu jaman saya kuliah (waktu itu saya sempat sebentar jadi anggota BPMF dan kemudian di SEMA), saya masih ingat ketika suatu malam di salah satu ruang di gedung F, semua anggota BPMF mewawancarai calon-calon Ketua Senat untuk dipilih/ditentukan oleh BPMF. waktu itu, sebelumnya, calon ketua senat “hanya” berkampanye kepada mahasiswa, dan dari sana, ditambah hasil wawacara (waktu itu belum populer sebutan fit and proper test) antara lain BPMF akan menentukan pilihan.

    wah…. kayak pilkada langsung ya… yang katanya (ada yang berpendapat) melanggar Pancasila sila ke 4..,

  23. Edhi says:

    Neil said :
    ” soal ide ke LK.. hmmm… sayang sekali, saya lagi jauh dari Salatiga.. lagi masuk “pertapaan” biar bisa jadi begawan ha ha ha… tapi, dulu pun ketika studi di Belanda, atau belakangan jalan2 belajar ke Amerika dan Australia pun komunikasi jarak jauh dengan beberapa teman LK tetap jalan.. tentu ya kalau mereka butuh atau ya kalau lagi kangen Salatiga dan FE ya saya yang mulai kontak tanya2 saja.. jadi, saya easy going saja deh soal obrolan2 sersan dengan teman2 LK.. tapi, ingat bahwa di kampus masih ada RIF yang koord. kemahasiswaan, SEN dan YEF yang juga bekas fungsionaris/pimpinan LK.. juga ada OPHA, ROCKY, YANI, TAMBS yang juga mantan orang2 penting LK di FE dan LKU walau sudah “membelot” (hahahaha..) ke FTI… masih juga ada banyak rekan2 dosen (fakultas lain) yang aktivis LK.. yang saya kira berkenan menjadi rekan diskusi…”

    Neil, denga model “belajar dari kesalahan para seniors” ini saya kira akan membuat fungsionaris LK yang lagi aktif bisa mempertajam pemikiran & action mereka. Saat jaman semakin maju, harusnya yang belakangan lebih baik dari pendahulu… kalau sampai terjadi kemunduran, itu namanya melawan “hukum alam.” Jadi para seniors-pun mesti terbuka terhadap perubahan juga, jangan apriori yang lalu lebih baik, dan berpikir strategi yang sama (di masa lalu) akan membawa dampak yang sama (di masa kini).

    BTW, saya tertarik dengan statement ” …. tentu ya kalau mereka butuh atau ya kalau lagi kangen Salatiga dan FE…” Hmmm… ini curhat atau apa ? …ha… ha…. ha…. Padahal kalo sampeyan ngundang juga pada dateng lho .. Lha wong sama Parmoso saja saya masih sering ketemu !! Implisit saya menangkap ada PR besar di situ, yaitu kurangnya pemberdayaan alumni, padahal alumni masih menjadi bagian dari keluarga besar UKSW lho. Jaringan alumni yang kuat akan sangat besar manfaatnya, bukan saja untuk LK, tapi juga fakultas & universitas. Bukankah demikian ?

    Mungkin bisa di mulai dengan menghidupkan kembali milis FE-UKSW ??

    Salam,
    2191144

  24. surya says:

    Sistem Poin Card……..???

    Mahasiswa yang memiliki kehidupan yang bebas untuk berkreasi dikekang oleh adanya sistem Poin Card, bagaimana mahasiswa dapat memahami arti bermahasiswa jika pemaksaan terus terjadi. Di mana sebuah sistem yang memaksakan mahasiswa untuk harus terlibat dalam mekanisme tersebut.

    Pada masa sekarang ketika terjadi apatisme mahasiswa terhadap Lembaga Kemahasiswaan ataupun sebuah kegiatan dalam LK, bukan semata-mata kita harus langsung setuju-setuju saja menerapkan sistem Poin Card yang sudah turun temurun ini. Jika kita yang katanya berperan sebagai Lembaga Kemahasiswaan ini hanya meng-IYA-kan hal tersebut, tanpa menganalisis apa sih yang seharusnya perlu diperbaiki, saya rasa kita sebagai Lembaga Kemahasiswaan akan berada dalam zona kesenangan semata. Katanya kita mahasiswa yang diharapkan menjadi seorang yang creative minority? Di sinilah seharusnya kita tertantang untuk menjawab ke apatisan tersebut, bukan hanya berpangku pada sebuah sistem ini saja.

    Sebenarnya jika sistem Poin Card tidak ada apa masalahnya? Kegiatan tidak laku? Lembaga Kemahasiswaan Kosong? Jika itu terjadi berarti penyebab sebenarnya adalah bukan pada tidak adanya sistem poin ini, tetapi terletak pada kegiatan dan LK itu sendiri. Apakah Lembaga Kemahasiswaan sebuah lembaga yang bermanfaat atau tidak? Apakah kegiatan yang dilaksanakan bermanfaat dan menarik mahasiswa tidak? Di sinilah kita mahasiswa yang sadar dan peduli terhadap fenomena itu yang seharusnya mampu menjadi penggerak mahasiswa lainya. Menurut saya ”jika ingin mencari api, bawalah api”. Sama halnya jika kita menginginkan mahasiswa itu pandai, maka bawalah suatu kepandaian.

    Perlu diingat bahwa kebebasan yang paling mendasar yaitu kebebasan untuk memilih bagaimana kita harus menanggapi keadaan sekitar kita di mana kita menemukan diri kita sendiri.

    Oleh : Surya Probo Kusuma (Mahasiswa FE UKSW)

  25. Win says:

    Perlu duduk bersama dalam sebuah forum untuk merancang kembali skema pembinaan dan pengembangan mahasiswa khususnya di FE UKSW.

    Alumni FE UKSW

  26. Neil Rupidara says:

    @Edhi dan teman2 lain..

    jadi konsultan jarak jauh ed.. he he he… gak kok… itulah arti berteman… diskusi hal-hal yang bisa didiskusikan kapan saja, di mana saja.. apalagi era-nya internet…

    saya setuju soal peran alumni.. oleh karena itu, dalam beberapa tahun terakhir saya selalu berupaya panggil alumni untuk ngomong kepada mahasiswa baru… juga mendorong agar diundang di mata kuliah2 dan kegiatan2 ekstrakurikuler… ada sih beberapa teman yang sudah lakukan itu, tapi apa yang kami buat masih jauh dari besaran potensinya… mestinya kita bisa bicara sesuatu yang lebih sistematik dan powerful.. ada ide ed? saya kira teman2 pimpinan di FE di atas fakultas maupun progdi pasti akan senang jika relasi almamater – alumni makin diperkuat dengan banyak aktivitas nyata..

    setuju juga win… hal-hal beginian kan memang menuntut proses refleksi terus-menerus dan dari situ kan muncul gagasan2 perbaikan.. (karena itu terimakasih untuk STR dan Yodie yang sudah memancing diskusi dengan tulisan ‘kontroversial’nya)… itulah konsep perbaikan berkelanjutan dalam model2 kualitas… itu juga prinsip perubahan kelembagaan/organisasi secara evolusioner… saya pribadi senang sekali jika LK FE bisa datang dengan hal itu (konsep baru soal pengembangan mahasiswa).. dan, karena implikasinya akan lari ke Fakultas ya silahkan ngobrol2 sama Rif..

    Catatan: konsep yang melatari muncul-nya point card kan sudah berusia 8 tahunan.. karena itu, kita yang sudah kisut ini cuma bisa challenge LK dan mahasiswa FE sekarang… dan menanti buah pikir mereka… jika teman2 LK FE tahun 1999/2000 sudah datang dengan gagasan point card… lalu sekarang apa? apa idenya cuma mau point card dibubarkan? ha ha ha.. hampir mustahil, konsep point card justru sekarang diadopsi dan dikembangkan ke tingkat universitas menjadi sistem kredit keaktifan mahasiswa… bayangkan, inovasi pikir FE di awal 2000 baru diadopsi (dengan sejumlah pengembangan sistem operasional) di skala universitas 8 tahun kemudian (walau di FE tetap saja bermasalah dan mendatangkan pro-kontra dari tahun ke tahun ha ha ha)… dalam kacamata keunggulan kompetitif, mestinya FE sudah harus maju lebih baik lagi dengan konsep2nya… lalu apa konsepnya?

    jika mas surya mengatakan inti soal ada di kegiatan2 LK.. lalu konsep tentang aktivitas2 kemahasiswaan yang macam apa? saya menanti gagasan briliant-nya…

    tidak usah pikir soal laku atau tidak laku… (point card juga dulu lahir bukan untuk ‘jual’ kegiatan lk, tetapi lebih soal apa dan bagaimana mahasiswa bisa belajar lebih dari sekedar duduk, diam, nyatat, manggut2, hafal dan tulis kembali bahan kuliahnya… inti soalnya kan harusnya lebih ke soal variasi aktivitas dan delivery approach-nya, untuk menangkap ragam minat, dan soal mutunya (misalnya dari aras lokalan FE ke aras Jawa Tengah, nasional, internasional… atau ya soal kedalaman pembelajaran)..

    ini contoh saja berdasarkan observasi saya di beberapa universitas/college asing yang saya kunjungi… cuma ‘bermodal’ 4/5 orang pun kegiatan2 mereka tetap jalan… bahkan dari hasil wawancara saya kepada aktivis mereka, katanya “2-3 orang mahasiswa sepakat untuk bentuk satu organisasi kemahasiswaan pun kami layani..” itulah yang mas surya katakan sebagai kebebasan berekspresi… …luar biasa… antusiasme mahasiswanya dan dukungan college…

    namun, ada kegiatan yang dihadiri mahasiswa yang banyak tetapi tetap menawan dan bermutu… saya teringat mengikuti kegiatan kuliah umum dari seorang perempuan bekas administrator AS di era Jimmy Carter di college itu dan bekas legislator yang mendukung legalitas aborsi dan didebat ramai oleh seorang mahasiswa… luar biasa, dia bukan cuma manggut2, tapi mendebat seorang tokoh nasional.. angkat 4 jempol.. gitu dulu dong…! soal setuju tidak setuju sikap anak itu, itu soal lain.. tetapi keberanian dan kemampuan mengartikulasikan pikiran secara argumentatif.. hal beginian juga baru saya alami lagi beberapa hari lalu di mana 2 orang mahasiswa terlibat dalam satu debat publik bersama 2 orang dosen dan 2 orang penulis kenamaan Australian, bicara soal kebebasan menyampaikan pendapat.. luar biasa… nah, saya senang bahwa teman2 mahasiswa yang naik berdebat di SA tidak merasa sungkan tidak sependapat dengan saya.. atau siapapun… ini baik.. asal tetap menjaga posisi pada kekuatan argumentasi.. bukan sikap pokok’e..

    jadi apa yang dipentingkan adalah kualitas pembelajaran dari suatu aktivitas bagi mahasiswa yang menyukai dan mau terlibat di dalam-nya, itulah yang penting…

    di uksw sendiri, saya teringat pula dengan munculnya suatu klub diskusi isu2 metodologis yang diberi-nama Metodus.. ini sekelompok mahasiswa lintas fakultas… rasanya, mereka mulai dari sedikit orang, hingga akhirnya para dosen pun mau datang ikuti diskusi2 mereka yang menjadi ramai dan dinantikan cukup banyak orang.. sama juga dengan munculnya mitra gahana, teater tilar, ksp dan lain-lain… bermula dari ide segelintir mahasiswa entrepreneur.. lahirlah organisasi2 yang ada hidup dan jalankan saat ini…

    jadi soal kita di situ adalah (pembelajaran) apa yang bisa didapat dari situ.. bagaimana proses (interaksi antara orang)-nya.. mengapa (berpikir dan bertindak) ini dan bukan itu… nah, kalau sudah soal konsepsi kegiatan.. ya sumonggo deh.. itu porsi anda para mahasiswa untuk memikirkan dan memutuskannya.. Fakultas dan dosen mestinya harus siap mendukung… dari mas Edhi sebagai alumni pun rasanya saya cukup yakin bahwa alumni juga bisa berperan.. begitu kah?

  27. Edhi says:

    @Neil : ada ide ed? saya kira teman2 pimpinan di FE di atas fakultas maupun progdi pasti akan senang jika relasi almamater – alumni makin diperkuat dengan banyak aktivitas nyata..

    Mau yang paling sederhana, monggo, milis alumni : FE-UKSW@yahoogroups.com di aktifkan kembali, sebagai sarana komunikasi, ajang diskusi dan tukar informasi. At least lebih mudah merangsang orang untuk meluangkan waktu 5-10 menit di depan komputer, ketimbang mendatangkan orangya ke Salatiga kan? Mau duduk bersama & ngobrol bareng, begini juga boleh.

    Masalah kedua, semua setuju alumni harus di berdayakan, masalahnya siapa yang (mau) memberdayakan, dan dalam wadah apa ? Ambil contoh forum dialog FE dengan alumni sekian tahun yang lalu di GD Probowinoto, follow up-nya bagaimana ya ? Sebagai forum menurut saya sudah cukup baik, tapi follow up nya yang masih belum optimal (untuk tidak mengatakan “tidak ada”) .

    @ Neil : di uksw sendiri, saya teringat pula dengan munculnya suatu klub diskusi isu2 metodologis yang diberi-nama Metodus.. ini sekelompok mahasiswa lintas fakultas… rasanya, mereka mulai dari sedikit orang, hingga akhirnya para dosen pun mau datang ikuti diskusi2 mereka yang menjadi ramai dan dinantikan cukup banyak orang.. sama juga dengan munculnya mitra gahana, teater tilar, ksp dan lain-lain… bermula dari ide segelintir mahasiswa entrepreneur.. lahirlah organisasi2 yang ada hidup dan jalankan saat ini…

    Memang idealnya ya begini sih… masak orang mau berekspresi saja kok menunggu di wadahi… bikin forum sendiri dong. Adalah suatu kebodohan apabila kita menggantungkan nasib & keinginan kita kepada orang lain (entah itu teman, dosen, rektor, LK, dst). I can do it ! Jadi khususnya untuk teman2 mahasiswa, memang tugas LK untuk menyerap aspirasi dan mewadahi minat2 mahasiswa, sehingga terorganisir dan bernilai tambah, namun tidak ada salahnya membikin wadah sendiri, semacam forum diskusi, atau klub apa-lah… Sukur LK bisa menangkap aspirasi dan mewadahinya.

    Contoh sederhana, teman2 yang di jalur marketing, bisa bikin kelompok diskusi iklan, tinggal ngamatin iklan2 baru – diskusikan aspek2nya untuk mencari soul of the brand-nya, kompetisi di kategorinya, apa objective-nya…dst.. modalnya nonton TV saja kan, dan ilmu marketing anda lebih membumi, jangan belajar dari catatan dan fotokopian doang, … yang kita tonton di TV atau baca di Majalah, itulah realitanya – kekinian.
    Para penggemar tanaman hias, ya silahkan bikin klub Jemani 3 – 5 orang, diskusikan aspek “produksi”-nya dengan teman di FP & FB, diskusikan “market timing”nya kapan harus beli atau jual, jual indukan apa bibit, ke mana bisa jual, pada siapa bisa jual — jadi pinter ; dapat duit lagi…

    Point saya adalah alam, lingkungan sekitar, hobi, bisa tempat belajar yang terbaik… tinggal kemauan + sedikit imajinasi untuk memulainya ! Yang sulit adalah memberikan alasan yang tepat kan : why should I do this ? MAU APA TIDAK ? Soalnya ini hanya membuat anda “lebih pinter” saja… tapi tidak menjamin dapat point atau nilai A/B.

    Mau RACUN ? Kalau tujuan kuliahmu cuman cari nilai dan point, ya, strateginya lain. Kuliah di kebut aja 3 tahun (tinggal berguru dari kakak angkatan si dosen gayanya bagaimana, soal TTS/TAS-nya polanya bagaimana, perhatikan terutama topik2 yang dia keliatan sangat interest, karena kemungkinan besar soal test-nya juga itu.. he… he…), nanti semester akhir tinggal bikin skripsi + seminar untuk ngumpulin 250 point, kan semester akhir anda nganggur (skripsi standar gak pake mikir cuman modal “copy-paste” bisa di kerjakan dalam waktu 6 minggu saja, sisa waktu bisa untuk cari jodoh + beli point lewat seminar, duduk, datang diam, dapat point), ujian keringetan dikit karena skripsi di bikin gak pake mikir, dapet C udah cukuplah, anda lulus SE, sukur jadi pengusaha.. Efektif – Efisien (oops… ilmu ekonomi juga ternyata…)

    It your choice !

  28. DIDIT says:

    @STR,
    salut untuk anda, wawasan dan pemikiran luas di usia relatif muda. hanya saja, menurut saya, anda masih kayak botol aqua yang belum terisi penuh tapi tutupnya sudah tertutup rapat…(hehehe…bakalan dimuat ga yaa??), walaupun dikasih tambahan air dengan berbagai carapun percuma, airnya hanya terbuang sia-sia. Bisa saya lihat dari tanggapan anda kepada mas Dian Ade, mas Cepero, Opha dan kak Niel; masukan dan penjelasan semuanya tidak ada gunanya bagi anda kan ??

    Fakultas (disini sudah diwakili kak Niel), punya aturan&kebijakan sendiri masalah point card. Kenapa anda malah mencap LKFE fasis ??
    LKFE yang mana ? Senat or BPM or keduanya ?
    LKFE yang mana ? Jamannya Seno/Opha (saya juga ikut andil di dalamnya) or saat ini ??

    Senat or BPM jaman Seno/Opha bisa jadi “kompak” kalo anda katain “fasis” lho…
    Dan kayaknya perlu klarifikasi yang serius untuk masalah ini, karena perlu anda ketahui ketika anda mencap suatu lembaga secara sepihak, anda juga harus mempertanggungjawabkannya kepada semua individu-individu di dalam lembaga tsb.

    @Kak Niel,
    ada apa ini kak ?? FE sudah tidak ada “greget”nya lagi. Kegiatan-kegiatan mahasiswa sudah tidak serame dulu. Salah siapa ??
    mahasiswa sekarang yang manja-manja, dosen-dosen yang jaim sama mahasiswanya, atau fakultas yang mulai perhitungan kasih anggaran untuk Senat (hehehe…kok di jaman saya ga kayak gitu ya…)

    Bravo FE, Viva UKSW,
    From : Didit (2398136)

  29. Cepero says:

    Mau contoh FASIS yang terjadi barusan…
    ni….
    Aku ngirim comment ke SA tanggal 14 agustus di Opini Akuarium Oleh Yodie Hardiyan, dan disitu saya menanggapi comment dari Yogie, dan karena dicek dulu oleh Moderator saya nggak tau alasannya kok di masukkan tanggal 16 setelah ada comment dari Marapiu,andi dobleh, win dan terakhir Kak Neil, jd sepertinya saya menanggapi comment dari Kak Neil,……
    weleh…weleh….
    kalau comment saya ini juga nggak dimuat karena alasan tertentu, tolong email ke saya saja alasannya
    saya mau bertapa dulu, menghindari dunia yang penuh ke FASIS an ini….

  30. Neil Rupidara says:

    @Edhi
    Setuju dengan menghidupkan milis FE UKSW.. tapi saya bingung.. tempo hari Edhi forward berita Ikasatya tentang Kongres dan saya tidak terima sama sekali.. lalu, saya beberapa kali ngobrol dengan Nasyir dan Budi NR dan kayaknya milis itu sepi.. tidak ada suara selain kami.. Jadi, apakah ada 2 milis fe – uksw? kalau 2, maka perlu disatukan saja dan kita ramaikan… saya punya link ke angkatan 93… mereka bisa diundang… dari situ kita link lagi ke yang lain..

    @all:
    Tahun depan (tepatnya 5 Desember 2009) FE berusia 50 tahun (formal diikrarkan 5 Desember 1959, walau baru beroperasi Oktober 1960)… mestinya ada sesuatu yang berkesan yang harusnya dibuat… pimpinan FE lalu sudah rekomendasikan agar panitia-nya mulai dibentuk tahun ini untuk merancang acara2nya… namun, saya belum sempat ikuti perkembangan belakangan ini.. apakah sudah ada panitia atau belum.. mestinya yang ini jauh lebih besar, bermutu, meriah, berkesan.. dan karenanya perlu dipersiapkan dengan sangat matang.. mudah2an teman2 alumni bisa banyak yang datang dan ikut menyumbang sesuatu.. dan, mahasiswa pun ikut meramaikan dengan kegiatan2 kemahasiswaannya… juga yang luar biasa.. bukan biasa-biasa..

    Soal wadah alumni FE UKSW (PAFE?) yang sempat dideklarasikan di Ruang Probowinoto.. ya sayang juga bahwa akhirnya tidak aktif.. saya sempat tanya pak Adhi Soetardjo (yang juga diberi mandat dari forum itu) tempo hari.. tapi, ya gimana… kayaknya perlu digerakkan oleh yang muda2 saja dulu…

    Ini usul saja nih… dalam rangka dies 50 tahun itu, bagaimana kalo dipersiapkan suatu perayaan oleh atau versi Alumni dan bekerja sama dengan LK… bagaimana teman2 LK FE? Ada dialog ekonomi/bisnis, misalnya menghadirkan pak Soedhamek… pak Agus Suryono di Pemprov Jateng juga bisa diminta bicara… Ada juga pak Henry Sandee di kantor Bank Dunia di Jakarta… Ada Kwan Hwie Liong yang di kalangan LSM… Kita bicara kontribusi lembaga pendidikan ekonomi/bisnis dalam sendi2 perekonomian: potensi dan realita… Karena yang ngomong adalah alumni2 atau orang2 yang terkait dengan kiprah FE UKSW (melalui alumni-alumninya), maksudnya untuk melihat apa yang sudah ‘kita’ buat dan apa yang harus dibuat ke depan dan bagaimana memaksimalkan jejaring yang ada… jadi, kita bicara FE-UKSW-Network…

    Kalau mau berbau internasional, saya bisa ajak bicara orang2 di divisi/fakultas ku di Macquarie untuk datangkan satu professor dan beri satu materi soal global (asia-pasific, misalnya) economy outlook… dan memberi perspektif kerja sama lembaga pendidikan di kawasan dan itu bisa dijadikan momen penandatanganan MoU FE UKSW – Macquarie Univeristy misalnya… ini baru ide, tidak janji, tetapi sangat mungkin karena cikal bakal kerja sama itu sudah dibicarakan di awal tahun 2007 di Salatiga antara pimpinan FE dengan Associate Dean International Relations Division of EFS Macquarie dan studi-nya saya di Macquarie ini saya lihat sebagai salah satu bagian/hasil dari percakapan itu.. Itu berarti realisasi kerja sama yang lebih jauh sangat mungkin… dan itu bisa dimaterialisasikan via kehadiran professor Macquarie di acara akbar FE UKSW itu… semoga bisa (kalau yang di Salatiga mau menyiapkan dan mewujudkannya!)

    Kalau bisa, kita minta juga Gubernur Jateng juga bicara di depan… ini untuk mendapatkan dukungan politis bagi pengembangan FE ke depan… Kalau pemerintah pusat tampaknya sulit karena pemerintah baru baru terbentuk jadi pasti kesibukan politik masih tinggi..

    Lalu ada juga pertunjukan musik.. kalo musik kita minta misalnya Julius 90, Roni G 90, Yudi 90, Ferry 91 tampil.. Kalau bisa dihubungi ya group Schlenk (Maraloni Yalem) cs (88-89) yang suka nge-Beatles juga tampil.. entah angkatan yang lebih tua, saya tidak punya referensi apa2… ditambah beberapa group mahasiswa FE sekarang plus kegiatan2 pementasan lain oleh mahasiswa FE lainnya, seperti Teater Tilar (juga menghadirkan ‘para sepuh’ seperti Puguh ’90, Teguh ’92… kalo ada bintang tamu 1 ya oke banget tuh…

    Sponsor-nya Konimex… Pura (‘paksa’ si Amin ’90 untuk cari jalan)… Astro TV (Roni)… Kayu Manis (pak Mul).. Placindo (pak Yandoyo)… Bola (Celenk ’91)… Bank Mandiri (sudah ada MoU)… atau perusahaan2 apa saja yang ada alumni FE atau ada relasi.. yang penting dibuat meriah dan kita semua senang karena ikut memeriahkan Hut Emas FE UKSW… Harus diiklankan besar-besaran nih..

    Bagaimana teman-teman, apa cukup realistis?

  31. STR says:

    Untuk Cepero,

    Saya baru saja membaca komentar Anda di kolom moderasi Scientiarum. Anda protes soal komentar yang Anda kirim pada 14 Agustus 2008, namun baru muncul 16 Agustus 2008. Kebetulan, pada jangka waktu tersebut, sayalah yang memoderasi komentar-komentar masuk.

    Begini, sebelumnya saya minta maaf jika hal itu tidak menyenangkan Anda. Jika memang tanggal komentar berubah, saya tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi. WordPress (engine situs Scientiarum.com) tidak mengubah tanggal komentar secara otomatis. Saya pun tidak pernah mengubah tanggal komentar. Komentar yang dikirim pada 14 Agustus 2008 tetap akan tampil sesuai dengan timestamp-nya meskipun di-approve pada 16 Agustus 2008.

    Saya hanya mengubah isi komentar jika di dalamnya memuat pisuhan. Saya juga menambahkan catatan redaksi jika perlu. Atau, seperti yang baru saja saya lakukan, saya menghapus komentar Anda pada opini Poin, Apatisme, Kegiatan, yang berkata, “Sugeng enjang MERDEKA !!!” Komentar tersebut tidak saya tampilkan karena saya nilai tidak memberi kontribusi pada diskusi yang tengah berlangsung. Anda tentu boleh menyanggah penilaian saya. Mari kita diskusi.

    Sebagai informasi, Anda bisa menambahkan “for tag” pada komentar Anda agar pembaca yang lain tahu kepada siapa komentar Anda tujukan. Contoh, saya baru saja menambah “@ Yodie Hardiyan (komentar ke-11):” pada isi komentar Anda di opini Akuarium karya Yodie Hardiyan, agar orang lain tahu bahwa Anda mengirim komentar itu untuk memberi respon terhadap komentar Yodie pada 14 Agustus 2008.

    ***

    Untuk Didit,

    Terima kasih buat kritiknya.

    Saya memang kadang “tertutup rapat.” Tapi saya lebih sering pakai “filter ketat.”

    Soal fasisme, saya mencap LK FE fasis karena mereka (menurut Opha & Surya) tak pernah lakukan evaluasi diri. Saya minta maaf kalau ini bikin yang bersangkutan tersinggung. Tapi inilah persepsi saya terhadap LK FE. Anda tentu boleh berpendapat lain, dan membaginya kepada saya di sini agar persepsi saya berubah.

    ***

    Untuk Neil Rupidara,

    Saya mengerti dan sepakat jika tujuan point card adalah baik. LK FE ingin mengajak mahasiswa aktif berkegiatan (ekstrakurikuler), tidak hanya datang, duduk, dan diam di kelas kuliah. Saya amini itu. Namun, jika memang demikian tujuan yang hendak dicapai, saya tak setuju jika jalan yang ditempuh adalah dengan menerapkan sistem point card.

    Point card adalah sistem mobilisasi. Sekali lagi, menurut Theo Litaay, “Kalau mau melakukan mobilisasi, maka mobilisator harus cukup kuat dengan pesan dan metode yang efektif. Sehingga tujuan atau nilai yang hendak ditanamkan memang dapat dicapai secara efektif dan membawa manfaat positif bagi peserta mobilisasi itu.”

    Nah, jika sekarang mobilisator tidak cukup kuat (tak punya pesan dan metode yang efektif) bagaimana?

    Tujuan atau nilai yang hendak ditanamkan tak dapat tercapai. Manfaat positif pun urung didapat peserta mobilisasi. Peserta mobilisasi akhirnya enggan dengan mobilisasi selanjutnya.

    Dan itulah yang saya lihat dari LK FE dan kegiatannya. Mobilisator mereka lemah, tapi mereka menggunakan sistem point card yang memaksa untuk menutupi kelemahan tersebut.

    Dengan hormat kepada seluruh rekan saya di LK FE, evaluasi diri kalian dulu sebelum kalian memerintah kami.

    Bikin kegiatan yang bermutu. Bermutu tidak harus mahal. Coimbatore Krishna Rao Prahalad, profesor strategi korporasi dari University of Michigan, pernah bilang bahwa produk yang berkualitas dapat dihasilkan dengan murah jika ada definisi ulang proses produksi. Bikin kegiatan itu sesuai dengan kebutuhan.

    Contoh, saya pernah ikut debat akuntansi bikinan Kelompok Studi Akuntansi (kelompok saya juara 1 lho dan saya dapat predikat best speaker), tapi saya merasa tak dapat apa-apa dari debat itu, kecuali uang hadiah tentunya. Topik-topik yang didebatkan semua berada di awang-awang. Soal kasus Enron-lah, World Energy-lah, standarisasi profesi akuntan publiklah. Apa gunanya membahas topik-topik itu buat keberadaan saya sekarang?

    Saya pernah jadi fungsionaris BPM FE selama setahun di Komisi 3. Kerjanya main-main menjalin hubungan dengan unit-unit internal LK FE maupun LK-LK lain. Yah, yang ini lumayanlah. Waktu itu saya memang lagi butuh banyak teman biar tidak kesepian.

    Saya juga ikut Stock Exchange Game milik Kelompok Studi Manajemen. Membosankan. Saya duduk seharian di depan komputer sambil memperhatikan angka-angka yang tak jelas juntrungannya. Lalu apa gunanya SEG buat kehidupan saya sekarang?

    “Oh, mungkin tidak berguna sekarang. Tapi akan berguna di masa depan.” Mungkin kalian bisa bilang demikian. Maka jawab saya, “Besok saya akan mati!”

    Muhammad Izza Ahsin Sidqi, penulis Dunia Tanpa Sekolah, menyatakan hal-hal tersebut dengan analogi “menimba air dari sumur lalu menceburkannya kembali ke dalam sumur.” Saya mati-matian belajar materi debat KSA. Saya mati-matian mempelajari angka-angka yang muncul di SEG. Tapi sekarang saya lupa semua, karena pengetahuan tersebut tidak saya pakai. Saya tidak memakainya karena saya tidak butuh.

    Maka bikinlah kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.

    Mahasiswa butuh refreshing. Mahasiswa butuh lulus cepat. Mahasiswa butuh ijazah.

    Jelas butuh refreshing, wong kuliah bikin bosan dan bikin stres.

    Jelas butuh lulus cepat, wong kuliah mahal biaya.

    Jelas butuh ijazah, wong itu pengakuan formal untuk masuk dunia kerja.

    Ah, bukan-bukan. Mahasiswa itu butuhnya ilmu (ah mosok?). Mahasiswa butuh mastery learning (ah mosok?). Mahasiswa butuh deep learning (ah mosok?).

    Inikah zaman edan?

    Pengembangan mahasiswa — penanaman nilai humaniora dan penguatan kapasitas profesional — di tengah-tengah zaman edan tak bisa diserahkan semata-mata pada LK!

    Dengan demikian, usul saya konkret, Pak Neil.

    (1) HIDUPKAN LAGI DEPARTEMEN MATAKULIAH UMUM DAN KAWAN-KAWANNYA.
    (2) ADAKAN JAMINAN UNTUK MEMPERBAIKI PERENCANAAN PERKULIAHAN.

    Ayo kita buka mata bahwa dahulu, di UKSW, mobilisator mahasiswa untuk mengembangkan dirinya sangat kuat. Mobilisator tersebut tak perlu mewajibkan mahasiswa untuk ikut apa maunya. Justru mahasiswa yang sibuk mengikut dia. Karena dia memang menarik. Pesan dan metode yang dipunyainya efektif. Itu karena semua telah direncanakan dengan baik.

    Dan mobilisator tersebut adalah DMU, LPU, LPM, dkk. ”LK hanya satu bagian saja,” kata Theo.

    Saya juga sepakat dengan pendapat Pak Neil bahwa soft skill pun bisa didapat di ruang kuliah. Itulah kenapa saya usulkan perbaikan perencanaan perkuliahan. Angkat juga isu demokratisasi PBM kalau perlu.

    Jika usul ini tak bisa jalan, saya masih punya alternatif lain.

    (1) BUAT SATU MEKANISME PENGELOLAAN PENGETAHUAN YANG SISTEMATIS DI TUBUH LEMBAGA KEMAHASISWAAN.

    Argumennya, “agar nafas dan semangat kegiatan dari periode ke periode tidak hilang.” Ini untuk meningkatkan/menjaga mutu kegiatan dan organisasional LK sendiri.

    Jika kedua alternatif di atas bisa berjalan, saya yakin sistem point card bisa dipakai. Bukan lagi untuk memotivasi mahasiswa dalam berkegiatan, tapi hanya sebagai indikator keaktifan mahasiswa. Unsur pemaksaan bisa direduksi dengan unsur kemenarikan LK dan kegiatannya.

    Mungkin segitu dulu Pak Neil. Terima kasih sudah jadi dosen yang mau “nongkrong bareng” di SA dan merespon apa yang jadi buah pikir mahasiswa. Makin hari makin jarang dosen seperti Anda.

  32. Neil Rupidara says:

    @STR:

    Solusi DMU, LPM, etc adalah solusi lain di luar LK.. saya tidak punya persoalan dengan itu dan bahkan mendukung.. Kalau STR mau dan bisa cek dokumen Raker FE 2000, strategi pembinaan mahasiswa FE pun ‘menuntut’ Fakultas membuka keterlibatan mahasiswa di unit-unit seperti itu, tapi khususnya di lingkungan FE. Jadi, kita bicara PPIE, UPKM, Cemsed, atau unit akademik apapun yang suatu waktu bisa lahir. Namun, menempatkan pembinaan mahasiswa FE dalam konteks pembinaan mahasiswa UKSW, maka tentu makro-struktur di aras fakultas dan universitas juga menjadi penopang… bukan kontrol penuh LK… walau voice-nya harus diperdengarkan..

    Cuma, rasanya kita perlu mencari esensi-nya, bukan wujud fisiknya. Apa yang baik misalnya dari DMU adalah (menurut saya): 1) interdisciplinarity, 2) metode perancangan dan pelaksanaan perkuliahan (proses perancangan matang dalam tim dosen DMU, metode delivery menggabungkan model kuliah umum dengan tutorial, 3) update materi secara berkala secara sistematik.. Di dalamnya ada soal pilihan filsafat dan metode pendidikan orang dewasa… Ini kan masih bisa diupayakan… sekalipun DMU – model lama tidak ada, misalnya (tapi, pengelolaan matakuliah2 umum di aras universitas menghendaki dibentuknya lembaga sejenis DMU… saya pribadi mengusulkan nama DMU karena mengurusi mata kuliah umum atau general education curriculum… tetapi satgas dan pimpinan UKSW kayaknya lebih memilih nama lain).

    Cuma, menurut saya, dulu pun tidak semua mahasiswa merasakan bahwa DMU itu bermanfaat sebagaimana orang seperti bung Theo, atau saya, atau mahasiswa lain yang senang dengan-nya, sebagaimana STR sekarang… hanya mahasiswa2 yang memang suka bahwa perkuliahan adalah tempat bagi mahasiswa untuk mengonstruksi sendiri pengetahuan dan proses konstruksi itu terjadi dalam konteks kebersamaan dengan orang lain (social constructivism) lah yang menilai plus point DMU.. yang lain menganggapnya seperti kuliah di Fakultas-nya sendiri… Jadi, ia baik, bahkan sangat baik, tetapi tidak semua orang melihat manfaatnya..

    Ini sama saja dengan point card.. (lagi-lagi point card).. orang macam STR mengritik sebagai tidak berguna… tetapi orang lain yang barangkali ketika dibebaskan (boleh tidak ikut kegiatan ekstrakurikuler), maka tidak akan pernah ia mengenyam pengalaman berorganisasi, justru sebagian merasa karena point card-lah dia baru tahu bahwa itu (berkegiatan) benar2 bermanfaat.. Jadi, rasanya menyodorkan satu jenis solusi tidak-lah cukup ampuh.. kita butuh banyak solusi.. dan itulah salah satu argumentasi mendasar dalam ilmu manajemen.. there’s is no one best solution at all times.. atau tidak ada obat mujarab.. multi methods adalah solusi yang makin banyak dipilih… silahkan cek dalam literatur dan praktik manajemen.. namun, kembali ke saran lama Drucker… harus benar2 dideteksi/didiagnosa apa penyakitnya, baru pilih apa pula obatnya… Dalih saya selama ini… point card lahir (justru) karena apatisme kebanyakan mahasiswa FE terhadap aktivitas sosial/berorganisasi selama bermahasiswa.. jadi, kalau mereka disuruh pilih memang dia akan pilih seperti yang STR tulis: lulus cepat dan ijazah… tidur di kos lebih enak… dulu ada klaim hidup bermahasiswa di FE adalah kos – kampus/kuliah – kos – tempat makan – kos – kampus/kuliah… dan putar2 di situ terus… sebagian orang masih punya saran refreshing… ada yang main game sampe bodo, ada yang bilyaran sampe pagi, ada yang taruhan sepakbola sampe bangkrut.. wah macam2.. dalam konteks macam begitu-lah, saya lebih cenderung memilih jalan intervensionis.. karena ada market failure…

    Cuma, harapannya adalah… LK dhi SEMA dan lembaga eksekutif lain.. mampu memberi manfaat yang setimpal.. Jika pengondisian itu jalan (mahasiswa diminta berkegiatan, lalu kegiatan banyak dan bagus2).. lalu itu mengondisikan mahasiswa pada umumnya sehingga merasa bahwa berorganisasi atau berkegiatan kemahasiswaan adalah “our way of doing things here”… maka model ‘pemaksaan’ bisa dicabut… jadi, dalam hal ini point card adalah mekanisme untuk ‘membentuk bekerja-nya pasar’.. ia adalah a tool/instrumen untuk membentuk atau mengubah budaya… ia mengonstruksi minat dengan cara dipaksa atau dibiasakan (experiencing) terlebih dahulu (aneh ya… tapi nyata)… Witing tresno jalaran soko kulino… kalau tidak terbiasa, bagaimana ada minat?? kalau sudah ada minat/membudaya, baru kita tidak perlu aturan lagi… silahkan bandingkan dengan pembahasan tentang Controlling di literature Manajemen.. antara cultural/clan control vs. bureaucratic control.. silahkan lihat kasus2 perusahaan2 berbudaya kuat… justru aturan mereka yang utama adalah “tabrak aturan”… supaya bisa kreatif… tapi, kalau budaya pating pecotot.. lalu mau tabrak aturan, yang ada cuma chaos… anomie…

    Jadi, kita (sangat) bergantung pada kemampun mesin2 organisasi kita (yang berarti kita bergantung pada orang2 di dalamnya) untuk secara kreatif menggerakkan alam pikir anggota2nya dengan membiasakan mereka aktif dalam aktivitas-aktivitas-nya sendiri.. jelas butuh komunikasi… cuma komunikator yang genuine adalah produk itu sendiri… jadi kalau produk (dhi. proses2 berkegiatan dan manfaatnya) burang ‘bergizi’ ya jelas tidak akan mampu menggerakkan gerbong besar…

    Apakah STR benar bahwa, mesin itu (LK) tidak sanggup memobilisasi gerbong besar kepentingan tersebut…? jika benar… hmmm.. rekayasa sosial kita tampaknya mandeg… mandeg di masa di mana ukuran organisasi-nya justru jauh lebih kecil dibanding masa lahirnya point card… bukankah ini ironis…? salah apa-nya kalau begitu? “salah kepala dan hati” orang-orangnya…?

    Kalau gagal dan perlu diganti… persoalannya.. saya belum melihat ada skenario baru untuk itu… gagasan STR menghidupkan DMU etc.. (menyitir pendapat bung Theo).. adalah gagasan yang sementara ini masih out of control… yang under-control mahasiswa, yakni lembaga-nya sendiri justru dianggap out of control.. bahkan Sdr. Ketum SEMA FE juga berpandangan begitu.. jika dipandang begitu ya silahkan coba… ingat, kita semua sedang ditempatkan pada posisi sebagai pemimpin yang dalam konsepsi pak Noto (rektor I UKSW) adalah penggerak sosial (creative minority)… dengan cara apa SEMA mau dan mampu menggerakkan massa pasif-nya??? apakah justru dengan mem-bubar-jalankan point card yang selama ini jadi mesin utama-nya? jelas solusi ini akan menghilangkan beban SEMA yang pusing ngurusi tetek bengek administrasi point-card yang dikeluhkan STR dalam tulisannya (gambarkan ‘todongan’ pada Ketum SEMA sejak terpilih..).. tapi, solusi ini bukan atau belum menjadi sebuah solusi untuk memobilisasi massa pasif.. justru SEMA akan kehilangan grip untuk mobilisasi.. nah, di situlah apa yang saya tanyakan soal sistem atau skenario atau gagasan baru menurut saya tidak atau belum mendapat jawabannya… bisa jadi… ia berharap bisa menangkap burung di udara, punai di tangan dilepaskan…

    Demikian juga dengan solusi masuk ke wilayah teaching and learning… ini wilayah sulit lain… jika saya adalah orang yang tidak atau belum pernah bersentuhan dengan hal ini.. maka saya akan cuma OMDO.. tapi, sudah sejak 2005.. upaya2 yang kami tempuh untuk membongkar paradigma pedagogi di FE masih belum berbuah baik.. jadi, harapan mas STR masih bisa disebut jauh panggang dari api… ini kembali bersifat, memandang sesuatu yang out of control sebagai under control… sikap ini bahaya.. bukannya tidak mungkin… tetapi bisa membuat frustrasi karena ternyata yang dijumpai jauh kenyataan dari harapan…

    Namun, sebagai orang yang segaris pikir dengan usulan itu… saya saat ini cuma bisa mendorong.. agar teman2 mahasiswa juga pro-aktif untuk mendorong perubahan paradigma dan praktik pedagogi kita, bukan cuma di FE, tetapi di UKSW secara keseluruhan… contoh simak ini… di cukup banyak negara maju yang paradigma dan praktik pedagogi-nya sudah jauh lebih maju dari kita di Indonesia (termasuk UKSW) saja mereka punya Teaching and Learning Centre… punya grants untuk pengembangan metode2 pengajaran inovatif.. punya awards untuk teaching excellence… dosen2nya didorong dan terdorong untuk aktif mereview pengalamannya dan berupaya terus memerbaikinya… ada yang meminta ‘cuti’ untuk berburu ilmu atau menyepi untuk memikirkan secara khusus bagaimana cara membuat pembelajaran bisa lebih efektif..

    Bagaimana dengan yang ada di kita di Indonesia? Kebanyakan kita menganggap, kita sudah paling OK dan tahu banyak hal dalam mengajar.. Jadi, kalau ngomong tentang itu, “kita sudah tahu kok!” padahal, kalau mau dipotret.. maka (di luar penyimpangan2 oleh dosen ‘edan’) model wajah pengajaran kita cuma ada satu warna, teacher-centered!!! dosen-lah pusat, bukan mahasiswa..

    Karena itu, mas STR.. jadi, jangan jauh2 ke desain pendidikan di aras makro dulu (memberi ruang kebebasan yang lebih besar dalam pemilihan mata kuliah), orang yang day to day di kelas saja ruang bagi mahasiswa masih sangat sempit kok… Itupun, mahasiswa sendiri mana mau disuruh banyak baca, kerja banyak tugas, diskusi atau debat di kelas (bukan budaya kita?) etc.. Yang hari2an beginilah yang make up (membuktikan) rancangan makro-nya.. karena itu, saya katakan, jangan2 mas STR kaget mendapati bahwa kurikulum di FE sudah relatif lebih fleksible.. bahkan dibanding sekolah bisnis tertentu di luar negeri sekalipun.. cuma, ini cuma.. rancangan makro saja tidak cukup.. yang justru super penting adalah day to day interaction antara dosen dan mahasiswanya… kalau iklim ilmiah-nya kuat, ditandai dengan aktivitas belajar yang tinggi.. maka apa yang mas STR pikirkan baru bisa jalan… kalau kuliah terkesan, main pun bisa jadi sarjana… ya jangan harap deh.. di samping itu, masalah makro nasional kita di Indonesia adalah beban sks dan jumlah mata kuliah-nya memang kebanyakan…. (salah satu) yang paling tinggi di seluruh dunia???

    Dari diskusi ini… saya tidak melihat perbedaan arah/orientasi utama.. tetapi jelas ada beda pada pilihan cara mencapai sesuatu serta timing dan sequence-nya… mas STR merasa butuh lebih banyak kebebasan secara langsung… saya merasa intervensi sistemik masih perlu, sebelum mencapai fase yang mas STR cita-citakan itu… hal lain, rasanya kita cukup sepakat menilai ada ‘soal’ dengan aktor2/mesin2 organisasi sebagai mobilisator ide atau cita-cita… ini membuat sekalipun point card sudah berusia 8 tahun, ia seolah-olah jalan di tempat… Kalau ikut pikiran mas Ketum SEMA terpilih.. seolah-olah ide LK terpasung oleh sistem point card… padahal, sejarah (bisa) membuktikan bahwa itu sama sekali tidak benar (coba cek proses penyusunan program LK…)… mandeg-nya gagasan program di tubuh LK FE saya duga cuma soal kekurangberanian untuk membuat sesuatu lebih dari sekedar yang sudah ada… atau, ini soal kenyamanan untuk melakukan apa yang sudah biasa dilakukan…

    Di dunia kepersonaliaan/human resources/perburuhan, ada aturan2 tentang standar minimum.. perusahaan2 tertentu ‘terkunci’ hanya pada yang minimum dan kayaknya itu sudan berat minta ampun… bagaimana mungkin berharap mereka melakukan lebih? di sisi lain, perusahaan2 berjiwa pemenang justru melakukan lebih dari yang minimum itu.. yang minimum bisa dipenuhi, bahkan dilampaui… apakah melampaui yang minimum jadi beban? tidak, justru menjadi berkat… pekerja-nya happy… pekerja produktif… perusahaannya juga happy…

    Jadi, stretch your mind.. once again… stretch your mind…

    STR, di alinea tentang belajar mati-matian, tapi lalu lupa.. ini mudah untuk dijelaskan.. silahkan bongkar lagi soal otak, memori, prinsip2 pembelajaran… tapi.. who knows ya.. suatu waktu STR akhirnya bekerja di dunia pasar modal atau sesuatu yang terkait dengan itu… lalu, datang penyesalan: kenapa dulu saya lupakan itu ya…? jadi, ‘kemarin’ STR sudah membuktikan mampu ‘mengalahkan’ satu tantangan… tapi karena tidak menjiwai dan tidak dekat (tidak merasa butuh), hari ini ‘lewat’ sudah semuanya.. seolah-olah sia-sia… namun, kita tidak pernah tahu masa depan… kadang berputar seperti roda… Cuma, apa yang masih perlu dihargai dari sia-sianya hari kemarin itu adalah… ketika mas STR mau belajar, mas STR bisa… STR tahu bagaimana ia belajar.. He’s done it so well… dan jika besok butuh lagi.. Ia tahu apa yang bisa Ia lakukan… Itulah yang penting, learning how to learn… bukan memorising all..

    Soal UKSW zaman dahulu… ada banyak aspek tidak kongruen dengan UKSW hari ini… dulu UKSW size-nya tidak se-gede sekarang.. di belakang SPPM saja asumsi2 yang dipakai sudah tidak klop lagi dengan kenyataan UKSW hari ini… dulu pendaftar di UKSW berjubel tidak karuan… pendaftaran mahasiswa baru bisa ditutup dan UKSW sudah kecukupan mahasiswa sebelum waktunya… sekarang, kalau boleh kita perpanjang masa penerimaan maru… dulu, karena pendaftar banyak dan yang dipilih terbatas.. ya (sangat) selektif… FE UKSW pun sama, sangat selektif… dulu kultur organisasi di UKSW kuat… ini dibentuk dari kebiasaan pak Noto yang hampir setiap saat ngoceh/berkomunikasi tentang idealisme UKSW… sama, zaman pak Tarno sampai pak Willi saya kira juga demikian.. idealisme UKSW bukan cuma dibicarakan.. tetapi merasuki kepala dan tindakan warga UKSW… kini? hmmm… Jadi, kita bisa merentang banyak atribut2 kelembagaan yang membedakan masa lalu dari sekarang.. yang bagi saya, tidak lalu dengan mudah kita klaim… solusi kemarin = solusi hari ini..

    Tahun 1993, Ketum SMU dan tim-nya berkeliling dari unit ke unit (non pengajaran) di UKSW… berbicara dengan pengelola-nya, meminta agar unit-unit itu berupaya create program2 yang melibatkan mahasiswa.. bekerja sama dengan SMU dan SEMA2 yang barangkali membuat program terkait.. Ini menunjukkan bahwa tidak semua unit di UKSW secara sistematik punya program yang menargetkan mahasiswa dan menjadi bagian dari skenario pembinaan mahasiswa di UKSW… hal ini sejalan juga dengan ‘teriakan’ LK UKSW di zaman2 itu, agar unit2 di UKSW “mbok pelajari SPPM”!!!

    Jadi, saya setuju semangatnya mas STR… tapi, sekali lagi, tidak simple membandingkan masa lalu dengan sekarang.. ada banyak hal berubah… dan karena itu, solusi atau strategi kita di zaman sekarang juga perlu disesuaikan… apa yang baik dulu, baik untuk dilanjutkan bahkan ditingkatkan.. sesuai dengan kondisi zaman… di situlah saya kembali ke pertanyaan atau tantangan saya buat LK zaman sekarang “apa jawabmu” terhadap tantangan zaman-mu?

    Pak Noto sudah konsep-kan UNIVERSITAS MAGISTRORUM ET SCHOLARIUM.. ada kemitraan dosen dan mahasiswa… kata pak Willi Toisuta (Rektor UKSW di kala) pada saya dan Ketua BPMU Terpilih 1993 (didampingi Ketum SMU dan Ketua BPMU demisioner), “kalian (LK) adalah mitra kritis kami, pimpinan UKSW”… itu sebuah undangan yang luar biasa terhormat.. LK harus berpikir dan bertindak sebagai rekan-nya pimpinan Universitas.. jadi, LK harus juga berupaya untuk memahami hal2 strategik dalam pengelolaan pendidikan tinggi, di dalam segala keterbatasannya tentu saja.. Posisi ini jelas harus dimanfaatkan…

    Soal pengelolaan pengetahuan… zaman dulu tidak ada mesin pengetahuan modern seperti sekarang… yang ada cuma mulut, telinga, mata serta kaki dan tangan… cuma manusia itu berbudaya… dia melihat, mendengar, mengerjakan sesuatu dalam keselarasan sosialnya… (catatan: bisa saja ia membuat deviasi untuk menyuntik budaya baru)… ia transfer/terima pengetahuan lewat pengalaman2 hidup… tapi, dengan cara sederhana itu, kini STR klaim bahwa zaman dulu ‘lebih baik’ dan karena itu STR referring to the past… lalu, apakah mekanisme pengelolaan pengetahuan di zaman baheula itu lebih baik? Ya dan Tidak.. Ya, karena routines organisasi jalan (channels produksi dna transfer pengetahuan) dan ada sharing/learning culture-nya disertai kebebasan interpretasi… Jelas infrastruktur pengetahuannya kalah jauh dan karenanya jelas sekali banyak hal (baca: pengetahuan) bersifat implisit (tacit), hal mana kalau mengikuti saran pakar manajemen pengetahuan seperti Nonaka dan Takeuchi perlu dieksplisitkan (keunggulan zaman sekarang).. Kondisi seperti itu kemudian menggantungkan kekuatan pengelolaan pengetahuan pada interaksi sosial dan kekuatan interpretatif (kreativitas) aktor… Namun, kekurangan mesin2 sistematik super canggih pada zaman dulu dibanding zaman sekarang justru menunjukkan apa sih yang esensial- dari sebuah sistem pengelolaan pengetahuan.. yakni (bagi saya) interaksi sosial (lewat rutin organisasi) dan basis budaya sharing… bandingkan: http://www.weknow.ch/marco/A2003/ICEIS/Paper_030424.pdf

  33. herlif 2397049 says:

    @str

    Kalau saya baca tulisan anda, saya jadi bertanya sebenarnya apa cita” mu…? kalau kamu berminat jadi penulis politik praktis, jangan masuk Fakultas Ekonomi Satya Wacana. Kalau mau jadi praktisi ekonomi kelas wiraswasta, ga ada salahnya masuk FE UKSW, (untuk wiraswasta memang bukan gelar kesarjanaan yang dibutuhkan, akan tetapi lebih ke kerja keras, intuisi bisnis yang tepat, modal yang kuat dan sedikit keberuntungan). Kalau mau jadi praktisi, atau karyawan perusahaan atau Dosen. Jangan sia-siakan kesempatan kuliahmu, waktu ga berjalan mundur.
    Kalau memang kamu ga punya cita”, atau ga yakin dengan masa depan mu, jangan salahkan situasimu sekarang ini.
    System yang ada sekarang bukan di bangun bukan hasil kerja keras semalam. Di bangun dan di benahi oleh beliau” yang pernah menjadi mahasiswa (jadi bukan hanya melihat dari satu sudut pandang saja). FE UKSW adalah sebuah institusi, punya aturan, punya kebijakan. Dan yang pasti UKSW punya visi yang jelas . dengan bahasa lain, UKSW punya cita”, punya tujuan, bukan cuma punya opini.
    Kalau saya boleh beropini. Anda orang yang bingung dengan masa depannya, merasa berjalan di rel yang salah, kemudian menyalahkan keadaan.

    no offense

  34. Theofransus Litaay says:

    Beberapa waktu lalu saya membeli satu buku yang dijual di Periplus tentang “Soft Skill”. Sesudah membacanya, saya memahami dan makin yakin bahwa banyak orang berbicara tentang soft skill di UKSW tetapi pilihan untuk mengembangkannya sangat terbatas. LK bukanlah panacea, dia hanya satu sub-sistem dari beragam sub-sistem di kampus ini. Jadi, kalau keadaannya masih seperti sekarang, maka orang yang berkampanye tentang soft skill itulah yang perlu ditingkatkan pemahaman soft skill-nya. Jaman dulu tidak terkenal istilah tersebut, tapi para lulusan UKSW dipandang bagus oleh masyarakat. Sekarang kita gunakan istilah tersebut (nyaris sebagai slogan) dan lupa bahwa kita pernah berada di situ. Tabea!

  35. Regina Laura says:

    Sebelumnya saya sangat bangga ada forum seperti ini karena melalui forum2 seperti ini saya bisa mengup-date info terbaru dari kampus. Senang juga ada wadah bagi para mahasiswa yang senang menulis atau ingin mengungkapkan uneg2nya.

    Menanggapi tulisan STR diatas, rasanya memang tidak heran karena dari tahun ke tahun isu ini selalu menjadi topik yang kontroversial dan menarik untuk dibahas (kadang bosan juga knp tidak pernah selesai).
    Opini saya simple saja (karena tidak bakat menulis panjang): Menurut saya, betul seperti yang disampaikan sebelumnya bahwa mayoritas mahasiswa cenderung bersikap malas untuk beraktivitas di kampus, mereka lebih tertarik istirahat di kos, main game, etc, padahal kampus/ fakultas kita memiliki banyak sekali organisasi yang siap menampung para mahasiswanya untuk mengembangkan bakat dan minat mereka (walaupun mungkin memang belum ada UKM game hahahaha). Saya hanya menghimbau agar sebaiknya mulai sekarang mahasiswa mulai belajar untuk berorganisasi. Saya mengatakan begitu karena saya sekarang sudah bisa membuktikan bahwa dunia usaha sekarang lebih tertarik bagi mereka2 yang pernah memiliki pengalaman berorganisasi (dulu saya mungkin bisa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh para alumni, tapi sekarang saya benar2 menghadapinya). Bagi mereka dengan IPK yang >3 mungkin masih ada yang bisa diandalkan setidaknya untuk lolos seleksi tahap1. Tapi bagaimana dengan mereka yang IPK lebih rendah?? Saya sering kali memang kurang setuju jika orang beranggapan bahwa kalau IPKnya 3,5 keatas maka pintar, pada kenyataannya masih banyak faktor lain yang mungkin tidak mereka miliki. Saya hanya mengira-ira mungkin perusahaan menganggap bahwa mereka yang aktif di organisasi setidaknya punya nilai plus..

    Organisasi memang mengubah pola berpikir saya karena saya bisa belajar banyak hal, belajar untuk berpikir kritis, belajar untuk mengembangkan ide2 untuk menemukan solusi dari permasalahan2 yang terjadi, belajar untuk membuat keputusan dan bertanggungjawab atas keputusan itu, dll. Kalau ada orang yang bilang mereka tidak mendapat apa2 dari LK atau kegiatan2 yang mereka ikuti maka saya bisa bilang bahwa mereka mungkin kurang peka sehingga merasa seperti itu. Saya percaya bahwa dari setiap hal yang anda alami pasti ada hikmahnya, dari sana anda bisa belajar asalkan anda mau peka dan tidak menutup diri.

    Kalau mahasiswa merasa bahwa mereka dipaksa mengeluarkan uang untuk mengikuti kegiatan yang tidak memberikan manfaat bagi mereka itu arti yang menjadi masalah adalah kualitas dari kegiatan bukan sistemnya. Namun saya juga kurang setuju kalau serta merta tanggung jawab itu hanya dibebankan ke LK karena kondisinya akan seperti ini lagi yaitu ada ketidakpuasan disatu dan lain hal. Alangkah baiknya jika teman2 mahasiswa tidak hanya menuntut tapi juga memberikan kontribusi seperti memberikan ide2 konsep kegiatan, ikut aktif dalam kegiatan, dll. Saya percaya bahwa sebenarnya mahasiswa setuju dengan tujuan dibuatnya sistem PC (kami pernah mengadakan research tentang itu) hanya yang dipermasalahkan adalah sistemnya karena mereka dipaksa untuk ikut kegiatan namun tidak berkualitas, atau jumlah kegiatan tidak seimbang dengan kebutuhan mahasiswa. Oleh sebab itu menurut saya coba dipikirkan sekali lagi untuk menghapuskan PC karena kalau sistem itu tidak ada maka akan sangat memungkinkan kampus kita seperti kampus yang mati sepi dari aktivitas2 mahasiswa yang beranekaragam. Lalu LK ngapain ya??

    Saya rasa sebaiknya janganlah menuntut yang muluk2 karena mengubah yang baru itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi bukan berarti sya tidak emnginginkan perubahan, hanya saja tolong diperhitungkan lagi apakah emang sistem PC ini sudah tidak bisa mangakomodir kebutuhan mahasiswa? sebaiknya kita sama2 saling menghargai dan mencoba perjuangan teman2 yang lain karena dari yang saya baca, saya merasa bahwa LK menjadi pihak yang bertanggungjawab. Memang dilema disaat LK menjadi perwakilan mahasiswa namun dalam hal PC LK tampak seperti oposisi mahasiswa. Tapi saya percaya kalau teman2 bisa membuka pikiran seharusnya masalah ini tidak menjadi masalah yang tidak berkepanjangan. Jangan berpikir pesimis tapi berpikirlah optimis… Mumpung masih muda bersakit2lah dahulu dan bersenang-senang kemudian.

    Kalau menurut saya bukan sistem PC yang diganti namun LK harus mulai meningkatkan kreativitasnya untuk membuat konsep2 kegiatan yang inovatif atau mengemas kegiatan2 yang lama menjadi lebih indah dan berbobot. LK harus kompak donk… ^0^

  36. andi-dobleh says:

    @STR
    saya justru bingung dengan Anda.
    logika saya : kalau melakukan sesuatu, pasti ada tujuan yang hendak dicapai.
    Ketika Anda mengikuti kegiatan debat Akuntansi dan SEG, tujuan apa yang hendak dicapai? apakah tujuan anda sejalan dengan tujuan penyelenggara kegiatan?
    Kalau sejalan, dan ternyata tujuan anda tidak tercapai, oke bisa kita salahkan pihak penyelenggara.
    Kalau tidak sejalan, lha kok Anda sempet-sempetin ngikut kegiatan itu? IMO kalau seperti ini,Anda yang secara sadar telah membuang-buang waktu Anda sendiri….

    “MAKA BIKINLAH KEGIATAN YANG SESUAI DENGAN KEBUTUHAN MAHASISWA”
    saya pikir LK sudah BERUSAHA membuat kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Walaupun pasti tidak bisa sesuai dengan kebutuhan SEMUA mahasiswa.
    Saya sendiri selama ini hanya memperoleh manfaat dari 2 or 3 kegiatan dari sekitar 10 kegiatan yang pernah saya ikuti sebagai peserta selama menjadi mahasiswa. Padahal saya sudah berusaha menseleksi setiap kegiatan yang akan saya ikuti lho.
    dari kalimat STR di atas, anda mengasumsikan bahwa setiap mahasiswa sudah tau apa yang dibutuhkannya. Idealnya memang seperti itu, tapi bagaimana faktanya? saya kira TIDAK..

    MENGENAI Point Card(PC)
    IMO, dengan jangka waktu kuliah ideal 5 tahun(standar saya), pasti bisa mencari kegiatan-kegiatan yang bermutu dan sesuai dengan kebutuhan setiap individu.
    Perhitungan saya (menggunakan sistem PC FE):
    point minimal 250pt=50pt FacultyDay + 8x25pt(ikut kegiatan sebagai peserta).
    Pasti ada 8 kegiatan bermutu(dan sesuai kebutuhan individu) selama 5 tahun kuliah..

    Saya akui selama ini memang saya sependapat dengan STR bahwa LKFE fasis dengan memaksakan PC. tetapi saat ini saya menggeser pola pikir saya.

    PC itu memang perlu, bahkan perlu dipaksakan (diwajibkan). Tetapi kewajiban ini jangan selalu dikampanyekan. Yang perlu dikampanyekan adalah peningkatan kesadaran mahasiswa akan kebutuhan mereka sebagai mahasiswa.

    sekian dari saya

  37. schape09 says:

    well dunia LK kadang aneh…

    hehehehe….sedih juga….
    kegiatan cuma jadi ukuran
    yang berpendapat malah sering dicaci…

    yang kritis malah dibenci
    sama LK sendiri ato oknum LK?

    well…engga ngerti!!!!

  38. andi-dobleh says:

    @schape
    emang LK aneh.. itu lah selling point LK buat diriku..
    hehehehe

    komentarmu menunjuk pada siapa sih?
    sapa yang sering dicaci?
    sapa yang dibenci karena kritis?

    nek gak ngerti mbok ojo ngajak2 … =))

  39. Ricko says:

    @schape: Mas….masalahnya itu belum selesai-selesai to???

    @Surya :
    Sur, susah juga ya harus memposisikan diri di dua status yang berbeda…
    Sebagai mahasiswa yang merasa terkekang dan ingin menolak dengan adanya Point Card tersebut, dan juga sebagai Ketum SEMA yang mau gak mau harus melegalitaskan Point Card tersebut.

    @STR dan bang Neil:
    Bukannya sekarang sudah ada Departemen khusus yang mengurusi semua MKU di semua Fakultas???
    Pengen tahu aja bener apa gak sih, soalnya kata kaprogdi di Fakultasku (FTEK) sudah ada departemen khusus yang mengurusinya.

    @Semua:
    Saya rasa akan lebih menarik lagi kalau kita juga mulai melihat sistem Point Card yang juga sekarang diterapkan semua mahasiswa UKSW semenjak angkatan 2007.
    Kalau tidak salah Universitas melakukan sistem tersebut mengacu juga pada Point Card yang telah dilakukan oleh FE kan???

    Jika teman-teman FE sendiri mengalami kendala dengan PC, bagaimana dengan Fakultas lain yang notabene baru setahun menjalankan PC (angkatan 2007 dan sekarang masuk 2008).
    Lucu sekali kan kalau SEMA masing-masing fakultas sendiri harus kelabakan menangani PC seluruh mahasiswanya, apa perlu dibuat Departemen khusus dalam SEMA yang menangani PC???

    Entah apakah sistem PC yang teman2 FE lakukan benar-benar sudah terstruktur dengan baik, tapi akan menjadi masalah bagi teman-teman fakultas lain yang…maaf…merasa dipaksakan untuk mengikuti sistem PC.
    Apakah FE sendiri sudah melakukan evaluasi mengenai sistem tersebut dengan tentunya melibatkan semua mahasiswa FE (dan seharusnya ini akan menjadi tanggung jawab BPMFE)???
    Lucu sekali donk kalau Universitas menerapkan sistem yang serupa ke semua Fakultas tapi ternyata sistem tersebut tidak pernah dievaluasi dan hanya melihat dari satu sisi saja (sisi Fakultas tapi bukan sisi mahasiswa).

    Sebagai perbandingan:
    Saya (selaku BPMF) sempat bertanya ke beberapa teman angkatan 2007 mengenai PC dan jawaban mereka sistem tersebut terasa mubazir karena mereka sendiri setiap mengikuti kegiatan tidak pernah mempedulikan masalah point. Memang saya baru bertanya pada beberapa saja dan akan lebih baik jika kita menanyakan kesemua mahasiswa untuk mendapatkan hasil yang lebih valid.
    Saat ini memang mahasiswa angkatan 2007 belum mendapatkan kendala seperti teman2 FE yang terpaksa menunda ujian karena kurang pointnya. Tapi sebaiknya kita perlu mengantisipasinya, supaya kendala tersebut tidak terjadi di kalangan mahasiswa fakultas lain.

    Untuk masalah PC ini sendiri saya hanya bisa ber-refleksi pada teman2 FE karena kalianlah yang sudah lebih berpengalaman menjalankan sistem tersebut.

    Saya sendiri???
    Sebenarnya masa bodoh….lha wong saya sendiri gak pernah terikat dengan sistem macam itu…hanya kasihan saja pada adek-adek angkatan yang nantinya bakal terpontang-panting menjalankan sistem tersebut.

    Bravo FE (Fakultas Elektro – Fakultas Ekonomi) Bravo UKSW!!!

    God Bless
    Ricko FTEK – angkatan 2006

  40. Pinkan M. Indira says:

    @ STR :
    Apresiasi dariku untuk kesediaan dan ketekunanmu memfasilitasi forum diskusi seperti ini. Keep doing it ya…karena perubahan yang signifikan tidak pernah terjadi dengan instan, persistensi dan kesabaran akan menjadi kuncinya.

    @herlif 2397049 :
    “Kalau saya boleh beropini. Anda orang yang bingung dengan masa depannya, merasa berjalan di rel yang salah, kemudian menyalahkan keadaan.”

    Saya pikir terlalu dini untuk dapat membuat opini di atas, karena jika dalam kehidupan ini seseorang dinilai HANYA berdasarkan tulisannya – yang adalah ekspresi dari olah pikirnya – maka kebebasan berpikir manusia akan terhambat, sehingga tidak muncul inovasi atau penemuan baru yang membawa kepada kehidupan yang lebih baik. ‘Kebingungan’ tidak selalu negatif, seringkali ‘kebingungan’ merupakan awal dari perbaikan keadaan.

    “Kalau saya baca tulisan anda, saya jadi bertanya sebenarnya apa cita” mu…? kalau kamu berminat jadi penulis politik praktis, jangan masuk Fakultas Ekonomi Satya Wacana. Kalau mau jadi praktisi ekonomi kelas wiraswasta, ga ada salahnya masuk FE UKSW”

    Dua pemaknaan saat saya membaca kalimat di atas (kalau tidak tepat, mohon diklarifikasi ya) :
    Pertama, tampaknya mulai terjadi ‘ekslusivitas ilmu’ ya…saya dan sahabat dekat saya, suka berdiskusi tentang bagaimana sekarang ini ilmu jadi komoditi eksklusif. Apa salahnya kalau saya misalnya yang ada di Fakultas Psikologi, memiliki ketertarikan untuk memahami tentang pemrograman komputer, karena saat itu saya membutuhkan pengetahuan tentang hal tersebut.
    Kedua, anda beranggapan bahwa FE UKSW hanya mencetak praktisi ekonomi kelas wiraswasta, yang belum memiliki ketajaman untuk menjadi pengamat politik praktis dengan perspektif ekonomi misalnya ?

    @Bung Neil :
    “… dulu kultur organisasi di UKSW kuat… ini dibentuk dari kebiasaan pak Noto yang hampir setiap saat ngoceh/berkomunikasi tentang idealisme UKSW… sama, zaman pak Tarno sampai pak Willi saya kira juga demikian.. idealisme UKSW bukan cuma dibicarakan.. tetapi merasuki kepala dan tindakan warga UKSW… kini? hmmm… Jadi, kita bisa merentang banyak atribut2 kelembagaan yang membedakan masa lalu dari sekarang.. yang bagi saya, tidak lalu dengan mudah kita klaim… solusi kemarin = solusi hari ini..”

    Saya setuju, kita tidak bisa menyelesaikan permasalahan hari ini dengan strategi kemarin.
    Membayangkan UKSW dulu (seperti paragraf di atas) membuat saya “iri”, selama hampir 2 tahun di UKSW, saya tidak merasakan atmosfer itu. Idealisme, Visi Misi, tampaknya menjadi bahasan yang tidak lagi menarik banyak orang. Jadinya, kita ini seperti kapal besar yang berjalan dengan arah yang tidak menentu di tengah samudra luas. Ada awak kapal yang masih berusaha mengecek peta perjalanan dan kompas, supaya tidak salah arah; tapi banyak juga yang merasa aman-aman saja, sepanjang mesin kapal masih berdengung, bahan bakar masih ada, yang penting kapal berjalan, meski mungkin kalau dilihat dari helikopter, ternyata kapalnya berputar-putar saja di tengah samudra itu, atau justru mengarah ke tujuan yang berbeda dari tujuan awal yang diamanatkan saat masih di daratan.

    @all :
    Menurut saya, sistem kredit poin tidak sepenuhnya buruk. Seperti yang dikutip STR di artikel, motivasi ekstrinsik individu dapat berubah menjadi motivasi intrinsik, tentu tidak seperti membalikkan tangan, tetapi melalui proses perubahan yang memerlukan jangka waktu tertentu. Jadi, evaluasi yang menyeluruh terhadap komponen-komponen sebuah sistem perlu dilakukan secara kontinu. Tidak hanya dari peraturan-peraturannya, tetapi juga dari aspek karakteristik individu-individu yang terlibat di dalamnya (seluruh sivitas akademika). Kalau dulu, mahasiswa UKSW tanpa dipacu dengan poin, sudah aktif, ternyata sekarang karakterisitik mahasiswanya berbeda, harus dipancing dulu baru jalan, artinya, bisa jadi sistem kredit poin merupakan solusi. Hanya saja, jangan mengandalkan hanya kepada sistem kredit poin untuk menumbuhkan keaktifan mahasiswa. Aspek lain yang sebenarnya memiliki kesempatan lebih besar daripada kegiatan LK dan sistem kredit poin, adalah proses belajar mengajar di kelas yang difasilitasi oleh dosen. Artinya, dosen memiliki peluang lebih banyak untuk ikut menumbuhkan keaktifan mahasiswa. Aktif, inisiatif dalam individu, berkaitan dengan karakternya. Nah, pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama jawabannya : sejauh mana dosen-dosen di UKSW menyadari perannya sebagai role model karakter dari mahasiswanya? atau kita masih akan bertahan dengan mekanisme pertahanan diri bahwa tugas dosen adalah mentransfer ilmu SAJA, terpisah dari KARAKTER?
    Kalau sekarang kita menemukan mental mahasiswa yang orientasinya adalah hasil saja – misal untuk memperoleh poin, maka datang ke seminar, tetapi sibuk dengan ipod, ngobrol atau tidur – mungkin saja mental itulah yang diperolehnya di kelas, yang penting memperoleh nilai, caranya bisa apa saja.
    Jadi, mengevaluasi diri dari berbagai perspektif, tidak berfokus hanya kepada MASALAH saja (dalam hal ini kredit poin) tetapi melihat ‘beyond’, luas dan juga detil.

    Menemukan keseimbangan, dan bukan meloncat dari satu ekstrim ke ekstrim lain, itu lebih bijaksana. Daripada berdebat apakah sistem kredit poin harus ada atau tidak, bagaimana kalau kita mengkajinya dari berbagai perspektif sehingga akhirnya menemukan titik imbang?

    Thank you….Be bless!
    P.M. Indira, Fak. Psikologi

  41. ricky says:

    @all saatnya menunjukkan prestasi…jadi adik-adik mahasiswa baru perlu dikasih teladan supaya ikut berprestasi..GBU

  42. Ricko says:

    OK…
    Jika kita berbicara tentang IDEALISME.
    Sekarang idealisme apa yang dipegang oleh semua…atau kebanyakan mahasiswa UKSW???

    Saya percaya idealisme mahasiswa dulu akan berbeda dengan yang sekarang (saya salut dengan kakak2 mahasiswa dulu).

    Saya melihat sebenarnya bahwa dengan diterapkannya PC ini malah akan menciptakan sebuah idealisme baru: IDEALISME POINT CARD : “Apapun yang saya kerjakan hanya untuk memenuhi target Point semata”.

    Saya rasa yang perlu kita lihat sekarang ( untuk UKSW tercinta ini) adalah: Kita perlu belajar lagi mengenai Idealisme yang benar2 ideal untuk mahasiswa (tentunya jangan lagi dengan iming2 Point).

    God Bless

  43. J@zzmine says:

    point card… wyuh… no comment.. (Daripada comment n kena sensor… :P)
    NB. Sebenarnya kalo kegiatannya ga bayar sih ga masalah yach…
    yang bikin masalah itu kan karena kegiatanya mahal2… kalo yang banyak duit sih no problemo.. tp.. buat yang pas2an (kaya aq nie… hiks)… sekali seminar = uang makan seminggu… wedew… bahkan kadang dibela2in puasa demi memenuhi poin… duh… sengsaranya…

  44. sally hutapea says:

    Kalau jaman saya kuliah dulu (91-95) diterapkan sistem point card ini, bisa-bisa saya gak bisa maju skripsi karena jarang ikut kegiatan LK, hehe. Mestinya harus disadari tidak semua orang (mahasiswa) tertarik dengan kegiatan lembaga kemahasiswaan. Minat kan gak bisa dipaksa. Jaman saya kuliah dulu, kegiatan LK yang saya ikuti kadang-kadang menghabiskan energi karena seringnya rapat koordinasi yang seringkali gak jelas juntrungannya. Bahkan karena sibuk mempersiapkan ini itu (misalnya kalau akan mengadakan seminar, pertunjukan musik, PIM atau bazaar) panitia sering harus bolos kuliah dan akhirnya keteteran waktu tes tengah semester atau tes akhir semester. Akhirnya, mahasiswa yang serius belajar kebanyakan ‘ogah’ diajak masuk LK dan memilih jadi mahasiswa ‘pasif’ saja, yang penting cepat lulus, nilai bagus, dan cepat kerja. Meskipun demikian, saya bersyukur sempat berkecimpung di dunia LK walau sedikit. Pengalaman itu memberikan warna lain bagi kehidupan perkuliahan saya yang kadang2 cenderung rutin dan membosankan. Namun saya berempati pada teman2 mahasiswa yang saat ini terpaksa pontang-panting mengumpulkan point untuk sesuatu yang kurang diminati. Janganlah mahasiswa jadi korban, bahkan sampai puasa untuk membayar biaya seminar. Biarkan seleksi alam terjadi, fokuslah pada mahasiswa yang benar-benar berminat untuk berorganisasi dan mulailah dari mereka untuk memotivasi yang lain. Lebih baik sedikit tapi berkualitas daripada banyak tetapi terpaksa. Just my two cents untuk UKSWku tercinta.

  45. Anton says:

    @sally hutapea
    saya setuju banget sama pendapat Anda. Sistem poin yg berlaku saat ini di UKSW benar2 memberatkan bagi mahasiswa yg memang pd dasarnya tdk suka berorganisasi. Memang saya menyadari ucapan Pak Umbu Rauta waktu orientasi dulu ada benarnya, bahwa di dunia kerja tidak hanya dilihat nilai2 kita saja, tp juga pengalaman berorganisasi, tp kalo dgn sistem poin begini jd berat juga, blm lagi hrs mikirin nilai2 dan tugas kuliah. Entah berapa taun lagi saya bisa lulus nih.

  46. Neil Rupidara says:

    Catatan saya:

    Dalam berbagai diskusi tentang model pendidikan, sudah banyak pakar menilai bahwa pendidikan di dalam dan di luar kelas perlu berkombinasi untuk mencapai hasil belajar yang efektif. Telah cukup banyak argumen dibangun yang mendorong pendekatan yang transdisiplin, termasuk melalu aktivitas penunjang. Itu mengapa model pendidikan liberal arts di Amerika tetap eksis sampai hari ini. Dalam model itu, mahasiswa yang aktif di kegiatan atletik, seni, dan macam2 aktivitas non akademik sama dihargainya dengan mereka yang berprestasi di dalam mata kuliah atau secara akademik. Kalau bisa excellent di kedua bidang itu dan ada cukup banyak contoh untuk yang kombinatif. Satu contoh, saya kaget juga mendengar bahwa gitaris kelompok musik Queen, Bryan May, ternyata seorang mahasiswa doktoral di bidang Fisika dan setelah sekian lama bertualang di dunia musik akhirnya menerima gelar PhD-nya setelah menyerahkan tesisnya berjudul: .”Radial Velocities in the Zodiacal Dust Cloud”. Luar biasa!!! Tahukan Anda juga dengan Bono, vokalis group U2 yang juga seorang penerima doktor honoraris di bidang hukum dari Keio University di Jepang dan Univ. of Pennsylvanya di AS karena aktivitas anti-kemiskinan dan masalah2 kemanusiaan lainnya? Coba simak lirik2 lagunya, betapa intelektual dan humanis orang ini. Jadi, be careful dengan pola pikir sempit kita tentang apa itu pendidikan/belajar dan kemampuan manusia.

    Debat kita soal wajib atau sukarela telah cukup panjang. Saya pendukung pendekatan sukarela, tetapi kondisi kita tidak memungkinkan untuk yang sukarela itu terjadi. Apakah harus dibiarkan? Di sisi lain, kami belajar justru dari para senior/alumni yang berhasil dan khususnya yang menekankan pentingnya kegiatan berorganisasi di masa kuliah. Justru ada di antara mereka yang tidak ‘cerdas-cerdas’ amat di bidang akademik waktu kuliah, tetapi sangat cerdas di tempat kerjanya dan berhasil. Ini menunjukkan ‘kegagalan’ model dan praktik pendidikan kita. Kesimpulan fatal yang bisa dibuat adalah percuma saja dididik. Namun, kita harus lebih berani menyiasati pendekatan pendidikan kita untuk mengatasi ‘kegagalan’ itu.

    Saya pernah menulis di bagian lain, bahwa saya sangat surprise sebuah college kecil, St Olaf, di sebuah kota kecil, Northfield, di Minnesota, AS dengan mahasiswa cuma 2900an memiliki lebih dari 150 organisasi kemahasiswaan, yang berorientasi akademik maupun non akademik. Artinya, mahasiswa mereka karena minatnya bisa membentuk organisasi untuk mewadahi aktivitas belajar mereka dan mereka sudah tunjukkan itu, sekitar 10 kali jumlah kita di FE yang di tahun 2005 jumlah mahasiswanya sama dengan mereka dan masih cukup jauh lebih banyak dari seluruh jumlah organisasi kemahasiswaan di UKSW yang jumlah mahasiswanya sekitar 5 kali dari jumlah mahasiswa St Olaf.

    Pertanyaannya lalu, kenapa begitu? Apakah aktivitas berorganisasi mereka tidak berbenturan dengan aktivitas kuliah mereka? Dugaan saya, kadang2 berbenturan. Misalnya, kalau pas ada pertandingan atletik di kampus St Olaf atau di kampus lain, pasti akan menabrak kuliah mereka. Apakah lalu si atlet berantakan kuliahnya? Mungkin. Namun, saya pernah menyaksikan dengan mata saya, seorang atlet mahasiswa (karena menyaksikan pertandingan lari di lintasan lari in-door nya St Olaf) belajar lama di perpustakaan (kebetulan saya duduk di meja yang berdekatan dengan ybs). Jika selama ini konotasi mereka yang aktif di kegiatan non akademik (organisasi kemahasiswaan atau jadi atlet, misalnya) seringkali peyot di kegiatan akademik dan seringkali bolos, tidak kumpul tugas, malas belajar etc, maka contoh anak itu adalah gambaran yang berbeda. Setahu saya, sejumlah aktivis kemahasiswaan yang sempat saya ajak omong-omong selama hidup 3 bulan lebih di St Olaf adalah mahasiswa2 yang juga baik prestasinya di bidang akademik. Jadi, dikotomi akademik versus non akademik dalam pandangan kita selama ini perlu dipatahkan atau ditinggalkan.

    Problem utama yang sampai hari ini saya concern dalam konteks pendidikan di universitas di Indonesia adalah terlalu banyaknya beban sks dan jumlah mata kuliah. Hampir tidak ada negara yang ‘sehebat’ Indonesia dalam hal ini. Karena kondisinya yang demikian, untuk belajar serius saja (aktif membaca sebelum dan setelah kuliah untuk setiap mata kuliah, aktif menerima dan mengerjakan tugas, aktif berdiskusi di dalam dan luar kelas, etc..yang menjadi ciri2 deep learning) sudah sulit, apalagi mau kombinasi belajar (untuk mata kuliah) dan ‘belajar’ (melalui aktivitas2 penunjang). Ini saya pahami sebagai masalah serius dan sulit dipecahkan.

    Namun, proposal saya untuk merespon hal ini sudah saya sampaikan dalam bagian diskusi yang lain. 1) Dikti dituntut kurangi beban sks, hal yang sangat sulit. 2) Kurangi beban sks dalam satu term belajar (entah semester, trimester, dimester, atau apapun formatnya). Namun, karena sulit mencapai maksud itu dalam format semester, maka pilihan saya adalah trimester dan disertai dengan perombakan kurikulum secara radikal, termasuk dalam pengertian method of delivery-nya. Mata kuliah yang sedikit tetapi kegiatan belajar yang banyak adalah yang seharusnya kita pilih. Dan, kegiatan belajar yang dimaksud adalah termasuk belajar melalui aktivitas di luar kelas, misalnya mengikuti kelompok diskusi mahasiswa, menghadiri seminar, mengikuti lomba karya ilmiah, lomba debat, berorganisasi (apalagi mahasiswa manajemen), berolahraga, berkesenian, berkegiatan lingkungan (ingat concern CSR yang makin kental dewasa ini). Semua itu ada dan besar manfaatnya. Jangan gagal memahami dan menyesal kemudian hari. Kampus UKSW harus menjadi kampus yang ramai aktivitasnya, sama seperti ramainya pasar tradisional di pagi hari.

    Silahkan baca bukunya Howard Gardner Five Minds for the Future. Yang kita ingin bentuk adalah kapabilitas manusia, bukan sekedar nilai dan ada tidaknya pengalaman. Dan, kapabilitas yang disebut Gardner, dan para pakar lainnya, adalah sesuatu yang terbentuk dari dan karena kita sering beraktivitas dan merelevansikan pengetahuan kita dalam konteks hidup sehari-hari, sesederhana apapun itu. Ambil contoh, mahasiswa belajar budgeting, tetapi menyusun anggaran kepanitiaan lomba jalan sehat saja tidak becus. Mahasiswa belajar strategi pemasaran, tetapi gagal memromosikan kegiatan kemahasiswaannya dengan baik. Mahasiswa belajar kepemimpinan, tetapi memimpin sebuah panitia kecil saja dinilai otoriter dan tidak bertanggung jawab. Dan, masih banyak lagi irrelevansi seperti itu. Akankah kita tunggu sampai di dunia kerja dulu baru kita sadari?

  47. Jabon Agus says:

    Di mana-mana yang namanya kritis memang bakal dibenci, itu mau gak mau, kritik itu by default memang menyakitkan, artinya rata2 orang sakit dikritik, hanya orang2 terpilih lah yg rela dikritik atau bahkan justru senang dikritik.
    Akhirnya sebagai salah satu solusi untuk mengkritisi bukan dengan cara kritikan frontal tapi masuk dari dalam… smart

  48. Asrofi says:

    masuk ke dalam? maksudnya gimana mas Jabon Agus?

  49. Jabon says:

    wow.. marem… puas baca artikelnya…..

  50. masmuh says:

    Ingat…. Jabatan adalah amanat, kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *